Sabtu, 03 Oktober 2026

Sosok Bernyawa Rangkap: Abdul Ghofur (57), Warga RW 13 Medayu Utara Tetap Aktif Melaut

Tanda kuning lokasi perahu nelayan Abdul Ghofur terbalik.

InfoMedokanAyu - Abdul Ghofur (57), warga RW 13 Medayu Utara, di kalangan nelayan Medokan Ayu populer dengan sebutan “sosok bernyawa rangkap”. Pria yang memiliki putri tunggal ini masih aktif melaut hingga hari ini.

Hampir setahun lalu, ia mengalami kecelakaan di laut. Ketika itu, ia mengangkat hasil tangkapan serta alat tangkap ikan “bubu naga” sekitar 1 km di sisi timur mercusuar, yang menjadi batas pantai. 

Sekitar pukul 16.00, hasilnya luar biasa: sekitar 50 kg udang berhasil dimasukkan ke perahunya yang berukuran sekitar 80 cm x 12 meter.

Tiba-tiba angin gelonggong (istilah nelayan) dari arah selatan bertiup. Seperti biasa, angin yang sering muncul bersama hujan itu diikuti gelombang yang terus datang. 

Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan

Gelombang pun masuk ke perahu tiga kali. Kemalangan tak terhindarkan. Perahu kemasukan air hingga penuh, lalu tenggelam dan terbalik.

Ketika itu, ia tidak panik. Ia menyelam untuk mengambil ponsel yang berada di dalam timba berukuran 5 kg tertutup rapat, di bawah perahu yang terapung dalam posisi terbalik. 

Dalam situasi kalut dan terus mengingat keluarga, ia menaiki perahu terbalik itu—menurut perhitungannya, cara aman untuk menelepon bantuan ke kampung nelayan.

Timba dibuka, ponsel diambil. Timba tidak dibuang; tetap digunakan untuk melindungi ponsel, apalagi langit mulai meredup, mendung. 

Permintaan bantuan ke kampung nelayan diterima oleh teman yang biasa bercanda dengannya, yakni Ketua Kelompok Usaha (KUB) Nelayan “Sumber Rejeki” Medokan Ayu, Sumardi.

Ia merasa lega. Apalagi teman bercandanya ini dikenal sebagai sosok peduli. Ia percaya sepenuhnya bantuan pasti datang. 

Usai menelepon, ponsel dimasukkan lagi ke dalam timba, dan hujan pun turun.

Sambil menunggu bantuan, perahu yang ditumpanginya terdorong angin ke timur, makin menjauh dari pantai. Saat itu, ia terjatuh dua kali lagi dari perahu karena desakan ombak.

Sementara itu, kampung nelayan sedang ramai. Para nelayan menyelamatkan perahu masing-masing dari guyuran hujan lebat; jika dibiarkan, perahu bisa tenggelam karena penuh air hujan. 

Ketua KUB, Sumardi, yang menerima permintaan bantuan, tergopoh-gopoh karena perahunya sendiri perlu diamankan dari air hujan.

Setelah memastikan sejenak bahwa di lokasi korban belum hujan dan korban aman—duduk di atas perahu terbalik—Sumardi melanjutkan pengamanan perahunya, lalu berangkat mengevakuasi.

Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan

“Saat itu hujan lebat. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Begitu juga ketika di laut,” katanya.

Ia menambahkan, saat evakuasi ia membawa perahu lebih besar yang biasa digunakan untuk mengantar pemancing. 

Setibanya di lokasi, Sumardi bertemu Abdul Ghofur—pria yang menempuh masa SMP dan SMA di Bangil, Pasuruan. Saat itu, Abdul Ghofur telah diselamatkan nelayan lain. Belum lama berada di perahu penolong awal, ia berpindah ke perahu Sumardi.

Namun, yang berpindah hanya dirinya dan ponsel. Hasil tangkapan sudah ambyar di laut karena perahu terbalik. 

Perahu itu pun ditinggalkan dan dipasangi jangkar pinjaman dari perahu penolong pertama. 

Saat itu perahu tidak bisa ditarik karena cuaca buruk dan posisinya terbalik. Lebih baik ditinggalkan; besoknya diambil lagi.

“Saya lihat Pak Ghofur gemetar kedinginan. Maklum, basah kuyup. Lalu saya beri rokok untuk menghangatkan. Gitu, lalu ya tersenyum,” kata Sumardi, mengomentari teman bercandanya.

Namun, Sumardi mengakui ketenangan yang melekat pada sosok Abdul Ghofur saat itu luar biasa.

“Ketenangan dalam musibah perahu terbalik, saat sendirian dan dihempas angin gelonggong dari arah selatan, itulah yang menyelamatkannya,” katanya.

Dalam gelap seusai Magrib, Sumardi dan Abdul Ghofur tiba di kampung nelayan.

Kini perahunya berganti agak besar menjadi 800Cm x 160Cm. Sebelumnya 1200 Cm x 80 Cm.

Abdul Ghofur menunggu air sungai naik, untuk mengambil perangkap "Bubu Naga" dan Hasilnya.

PARALAYANG
Minggu lalu, Abdul Ghofur kembali bernasib sial. Saat air surut, ia hendak mengangkat badong—perangkap kepiting yang telah dipasang—di muara. 

Pengambilan itu wajib. Bila tidak, ikan atau kepiting yang terperangkap berisiko mati atau dimasuki binatang lain karena air surut.

Karena perahu tidak bisa menepi, Abdul Ghofur turun dan langsung ambles terbenam hingga setinggi dada. 

Di situ ia tidak bisa bergerak dan meminta bantuan lagi. Lagi-lagi Ketua KUB membantunya.

“Saya tertawa melihatnya. Pak Ghofur melihat saya datang, masih bisa tersenyum,” katanya.

Caranya, ia dievakuasi dengan ditarik perahu.

“Saya lemparkan tali untuk dipegangnya. Jadi seperti paralayang. Pak Ghofur memegang tali, lalu ditarik perahu. Tampak seperti terbang, tengkurap di atas lumpur,” katanya.

Di lingkungan nelayan ini, Abdul Ghofur—yang lahir di Undaan, Surabaya, dan lulus SD di Surabaya—tergolong anggota pra-lansia. 

Ia menetap di RT 01 RW 13 Medayu Utara sejak 2008 dan bergabung sebagai nelayan sejak tiga tahun silam, yakni setelah pensiun sebagai pegawai Es Krim Campina.

Semoga evakuasi musibah di laut segera ditangani dengan seksama, terutama setelah bantuan perahu bot dari Polairud hadir.


Halaman terkait nelayan:

Jumat, 02 Oktober 2026

Mengenal Sungai Kebon Agung: Saluran Drainase Utama yang Menyelamatkan Penjaringan Sari dan Medokan Ayu dari Banjir

Sungai Kebon Agung berada di depan kampus UPN. Sekaligus batas Gunung Anyar dan Medokan Ayu.

InfoMedokanAyu -- Sungai Kebon Agung adalah saluran drainase utama di Surabaya yang membentang sepanjang 11 kilometer dengan lebar berkisar 7–12 meter. Sungai ini melintas di depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur dan membelah kawasan ekowisata mangrove antara Medokan Ayu dan Gunung Anyar.

Artikel seputar Sungai Kebon Agung ini dirilis mengingat tujuh (7) warga Medokan Ayu, di antaranya ketua RT mempertanyakan di mana sebenarnya lokasi sungai tersebut. 

Pertanyaan itupun wajar muncul. Ini mengingat tak semua warga Medokan Ayu, memahami sisi "pojok" wilayah kelurahannya, meski sungai itu pernah dilihatnya.

Keberadaan sungai itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan urat nadi pengendalian banjir bagi kawasan Penjaringan Sari dan Medokan Ayu yang langganan tergenang.

Gambar dari Pintu Timur UPN menghadap ke Timur, tampak lebar sungai sisi Timur UPN mengecil.

Lokasi dan Profil Geografis
Secara geografis, Sungai Kebon Agung terletak di Surabaya bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Jambangan, dan bermuara di sisi laut Surabaya bagian timur di Kecamatan Rungkut.

Dari sisi barat ke timur, sungai ini berada di sisi selatan Jl. Jemur Andayani, membelah kawasan Rungkut Industri, lalu terus menembus kawasan depan UPN "Veteran" Jawa Timur .

Sungai ini dilengkapi dengan dua rumah pompa utama, yaitu Pompa Kutisari dan Pompa Kebon Agung, yang berperan mengatur debit air.

Pompa Kebon Agung telah dinyatakan optimal dalam operasionalnya, meskipun kawasan Wisma Penjaringan masih terdampak pasang air laut.

Peran Strategis di Kawasan UPN Rungkut
Sungai Kebon Agung secara langsung melintasi depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur, menjadikannya batas alami kawasan pendidikan tersebut. 

Air sungai ini pernah diteliti memiliki potensi sebagai sumber air baku alternatif, meskipun memerlukan pengolahan lanjutan sebelum layak dikonsumsi .

Sungai Ini Penting bagi Penjaringan Sari dan Medokan Ayu
Kawasan Medokan Ayu dan Penjaringan Sari secara topografis berada di dataran rendah dengan kemiringan saluran yang cukup landai, sehingga aliran air menuju muara cenderung lambat. 

Kondisi ini diperparah oleh perubahan tata guna lahan yang signifikan: kawasan Surabaya timur yang dahulu berupa lahan terbuka kini telah berkembang menjadi daerah perumahan padat, mengurangi daerah resapan air.

Ketika hujan deras turun dalam durasi panjang, kapasitas Sungai Kebon Agung kerap tidak memadai, menyebabkan air meluber ke jalanan. 

Pada November 2025, hujan lebat selama lebih dari empat jam membuat aliran sungai tidak mampu menampung air, dan banjir pun melanda Jalan Penjaringan Sari. 

Warga setempat mengonfirmasi bahwa sungai memang sudah tidak dapat menampung debit air lagi .

Faktor lain yang memperberat beban sungai ini adalah banjir rob. Genangan air laut yang masuk melalui casement saluran Kebon Agung dan avour Wonorejo menyebabkan genangan di bagian tengah dan hilir saluran, terutama di kawasan Wisma Penjaringan .

Sebagai gambaran skala permasalahan, hasil pemodelan drainase menunjukkan bahwa diperlukan pelebaran saluran primer menjadi 8–15 meter dengan kedalaman 3 meter, serta penambahan 5 unit pompa berkapasitas 5 m³/detik dan 3 unit pompa berkapasitas 1,5 m³/detik agar sistem drainase Kebon Agung mampu mengalirkan debit banjir.

Tantangan dan Kondisi Terkini
Kualitas air Sungai Kebon Agung menghadapi tekanan berat dari limbah domestik, kegiatan laundry, dan industri di sekitarnya.

Penelitian bahkan menemukan 544 partikel yang diduga mikroplastik di permukaan air sungai ini, dengan bentuk fiber/filamen mendominasi hingga 69,3%.

Kualitas air yang kurang baik itu, ditandai pula oleh para nelayan ogah pasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, lebih baik di muara.

Bila memasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, risiko tinggi. "Kepiting tertahan diperangkap agak lama, mati", kata seorang nelayan.

Dari sisi kapasitas, sedimentasi di sebagian besar saluran menjadi penyebab utama berkurangnya daya tampung sungai. 

Pemerintah Kota Surabaya melalui DSDABM terus melakukan normalisasi, pelebaran, dan penertiban bangunan liar di sempadan sungai. 

Normalisasi sedimen skala besar difokuskan di saluran Avour Wonorejo, Kebon Agung, Pegirian, Kali Tebu, dan Semolowaru. 

Fenomena Unik: Semburan Gas Misterius
Pada Oktober 2025, muncul fenomena tak biasa di aliran Sungai Kebon Agung kawasan Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar: semburan air bercampur gas yang menarik perhatian warga. 

Pakar geofisika ITS menduga fenomena tersebut berasal dari gas alami bawah tanah, bukan dari kebocoran pipa utilitas. 

Secara geologis, Surabaya tersusun dari lapisan lempung dan endapan tebal yang memang menyimpan gas dan hidrokarbon, sehingga beberapa titik di Surabaya Timur memang rawan muncul semburan serupa. Fenomena ini dinyatakan tidak berbahaya bagi warga sekitar.

Kesimpulan
Sungai Kebon Agung bukan sekadar saluran air biasa. Ia adalah penyelamat bagi ribuan warga Penjaringan Sari dan Medokan Ayu dari ancaman banjir yang datang silih berganti—baik dari luapan air hujan maupun rob air laut. 

Menjaga kapasitas dan kualitas sungai ini berarti menjaga keselamatan dan kenyamanan hidup warga Surabaya timur.


Halaman terkait nelayan:

Sungai Kebon Agung Terancam: Pendangkalan dan Sampah Ancam Banjir Medokan Ayu

Menyusuri sungai Kebon Agung dari Kampung Nelayan menuju Ekowisata Mangrove yang ditandai batas jembatan paling Timur.
Kaki jembatan ini juga menghambat sampah yang balik keluar ketika banjir rob menyusut.
Ketika banjir rob, terowongan jembatan tertutup. Perahu tidak bisa melewatinya.

InfoMedokanAyu — Sungai Kebon Agung yang membentang sekitar 1 km dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove memerlukan penanganan serius. Kondisi ini mendesak untuk mencegah banjir yang mengancam warga Medokan Ayu, Penjaringan, dan Surabaya Selatan pada umumnya.

Hal tersebut terungkap setelah penelusuran langsung sungai Kebon Agung, mulai dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove pada Rabu, 30 September 2026. 

Sungai ini menerima limpahan air dari kawasan Rungkut Industri dan Kuntisari, sehingga volumenya terus meningkat saat hujan.

Penelusuran berangkat dari kampung nelayan arah Timur

Permasalahan Utama
Permasalahan utama di kawasan tersebut adalah banyaknya pohon liar yang tumbuh di pinggir sungai dan menjorok ke badan sungai. Selain itu, sungai mengalami pendangkalan yang cukup signifikan. 

Kondisi ini terlihat jelas saat penelusuran subgat ketika air laut surut bersama Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki", Sumardi.

Kondisi semakin diperparah dengan posisi kaki jembatan Ekowisata Mangrove yang menancap di tengah sungai. 

Hal ini memperlambat sampah untuk kembali keluar ketika air laut surut. Sampah yang didominasi eceng gondok masuk ke Sungai Kebon Agung dan memenuhi aliran hingga sekitar 2 km, terbawa arus air laut ketika rob.

Penelusuran sungai Kebon Agung mendekati Ekowisata Mangrove 

Risiko yang Mengintai
Risiko yang harus dihindarkan adalah pepohonan yang menjorok ke sungai. Ketika musim hujan, selalu ada pohon yang roboh. Pohon dan ranjing yang jatuh ke sungai sangat menghambat aliran air menuju laut.

Selain itu, badan sungai di sisi Utara dan Selatan masih berupa tanah dan belum berplengseng sebagaimana sungai modern pada umumnya. 

Kapasitas pendangkalan sungai perlu ditinjau oleh pihak yang berwenang. 

Kembali menuju Kampung Nelayan

Pengerukan terakhir dilakukan sekitar 6 tahun silam, itupun hanya pada sisi selatan sungai.

Pengerukan Sungai Kebon Agung antara Kampung Nelayan hingga Ekowisata Mangrove terakhir dilakukan ketika Lurah Medokan Ayu dijabat Ahmad Yardo Wifaqo, S.A.P., M.A.P.

Salah satu pohon roboh sebelum musim hujan, dan aliran air pada posisi normal.

Dampak Banjir Rob
Sebagai catatan, ketika banjir rob dari kondisi terkini air surut mencapai titik terendah, bisa naik setinggi 2 meter lebih. 

Tingginya air rob menutup badan jembatan Ekowisata Mangrove paling bawah.

Bertolak dari disain jembatan mangrove yang ada saat ini, bila banjir rob mencapai puncaknya, bukan hanya perahu nelayan penghantar wisata pemancing yang tak bisa melewatinya, perahu nelayan pencari kepiting pun terdampak dan harus menunggu volume air sungai menurun.

Jika kondisi air normal, perahu pengantar pemancing terpaksa harus melaju zig-zag, dan anak buah kapal (ABK) harus sering merundukkan badan agar tidak tersangkut ranting.

Ketika air surut, para nelayan memanfaatkan memperbaiki perahu dan perangkat nelayan. Tampak Bapak Slamet, nelayan senior, Lebih dari 70 tahun, sedang memperbaiki Bubu Naga, perangkat kepiting dan ikan dilaut.

Harapan Warga
Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan ini. 

Normalisasi sungai, pengerukan sedimen, penataan pohon di bantaran sungai, serta pembangunan plengsengan menjadi kebutuhan mendesak demi mencegah banjir yang terus mengancam kawasan Medokan Ayu dan sekitarnya.


Halaman terkait nelayan:


Kamis, 01 Oktober 2026

Putra Medokan Ayu, Muhammad Sarmuji, Resmi Menjabat Menteri Perindustrian RI


Profil Lengkap Muhammad Sarmuji


Identitas Pribadi
Muhammad Sarmuji lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 10 Juni 1974. Ia resmi dilantik sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita.

Pendidikan
Pendidikan dasar hingga menengah Sarmuji seluruhnya ditempuh di Surabaya, dengan latar belakang kedekatan yang kuat terhadap kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya:

· SDN Medokan Ayu 270, Surabaya (lulus 1986)
· SMPN 17 Surabaya (lulus 1989)
· SMAN 16 Surabaya (lulus 1992)
· Universitas Jember, S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi (lulus 2000)
· Universitas Indonesia, Magister Administrasi/Administrasi Bisnis (2005–2006)

Karier Organisasi dan Politik
Karier politik Sarmuji dimulai dari organisasi mahasiswa, berkembang ke struktur partai, hingga akhirnya masuk kabinet:

Tahap Organisasi Mahasiswa dan Kepemudaan:
· 1996–1998: Ketua Koperasi Mahasiswa Universitas Jember
· 1998–2000: Ketua HMI Cabang Jember
· 2001–2002: Ketua Bidang PPN HMI Pusat
· 2003–2009: Wakil Sekretaris Jenderal AMPI Pusat
· 2008–2011: Ketua KNPI Pusat
· 2010–2015: Sekretaris Jenderal AMPG Pusat

Karier di DPR RI:
Sarmuji terpilih sebagai anggota DPR RI selama tiga periode berturut-turut, mewakili Dapil Jawa Timur VI (meliputi Blitar, Kediri, Trenggalek, Tulungagung), dengan perolehan suara yang terus meningkat:

· 2014: 57.586 suara
· 2019: 137.110 suara
· 2024: 183.045 suara

Selama di DPR, ia pernah bertugas di;
  • Komisi VI (membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN), 
  • Komisi IX (ketenagakerjaan, kesehatan), dan 
  • Komisi XI (keuangan). 
Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) dan Wakil Ketua Komisi VI.

Jabatan di Partai Golkar:
· 2020–2025: Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur
· 2024–2029: Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar
· 2024–2026: Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI

Keterkaitan dengan Komunitas
Sarmuji memiliki keterkaitan personal yang erat dengan komunitas Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. 

Kediamannya beralamat di Jl. Wonoayu No. 185, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. 

Prioritas Kebijakan sebagai Menteri Perindustrian
Setelah dilantik, Sarmuji menyatakan akan menjadikan sektor industri sebagai daya ungkit pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, dengan memprioritaskan industri padat karya seperti sepatu dan tekstil.


Berita terkait :

Selasa, 29 September 2026

Waspada! 'Ain versi Islam: Pandangan Hasad Bisa Membahayakan, Bahkan Lewat Foto dan Khayalan

Ilustrasi

InfoMedokanAyu — Dalam ajaran Islam, terdapat satu bahaya gaib yang sering kali diabaikan, padahal dampaknya bisa sangat nyata: 'Ain, yaitu pengaruh pandangan hasad (dengki) dari seseorang yang dengki, yang dapat membahayakan orang yang dipandang.

Hal itu dibenarkan oleh Ustadz Syamsudin, S.Ag, keluarga pendiri Masjid Imaduddin, tempat ibadah tertua di Medokan Ayu, yang berlokasi di Medokan Kampung RW02.

Maka, adalah wajib setiap individu membekali diri sebagai perlindungan. 

Perlindungan terbaik adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan tawakkal pada-Nya, serta selalu merutinkan dzikir setiap hari agar diri dan anak-anak kita selamat dari orang yang hasad.

Hanya kepada Allah tempat berlindung, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Falaq, berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad.

Perbanyak dzikir dan tawakkal. Perlindungan terbaik hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jatuh Sakit tanpa Sebab
Bahaya ini tidak main-main. Misalnya, seorang anak kecil yang dipandang dengan penuh kedengkian bisa tiba-tiba jatuh sakit atau terus-menerus menangis tanpa sebab yang jelas.

Namun, tahukah bahwa 'Ain tidak hanya terjadi melalui penglihatan langsung? Hasad ternyata bisa menular melalui gambar, foto, bahkan sekadar khayalan.


Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma'ad (4: 153) menjelaskan:

"'Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh 'ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa 'ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat."

Penjelasan ini diperkuat oleh Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah yang menegaskan:

"Dari sini terlihat bahwa 'ain bisa ditimbulkan dengan melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah 'ain. Kita memohon pada Allah keselamatan." (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

Sumber topik: bbg-alilmu.com




Bukan Cari Proyek, Tapi Berkah: Kisah Pak Sudharma, Ketua RT06/RW12 yang Menabung untuk Warga

Acara leadership dan outbond di Kebun Teh Wonosari, Lawang  minggu lalu.

InfoMedokanAyu - Kisah Pak Sudharma Wahyu Adiwijaya ini dapat dimaknai sebagai pengabdian total dalam beberapa dimensi. Beliau adalah sosok bapak berputra dua, dengan anak sulung yang masih duduk di kelas 2 MTsN 3 Surabaya.

Dalam pendekatan shio, Pak Sudharma yang bershio Kambing memang memiliki apresiasi estetika dan kreativitas yang kuat, serta sering kali sukses dalam pelayanan sosial. 

Karakter itu tampak pada cara ia menata program RT, membangun balai, dan merawat kebersamaan warga.

Info dan data terkait kiprah Ketua RT06/RW12 ini bukan diperoleh langsung dari yang bersangkutan. InfoMedokanAyu memperolehnya dari masyarakat dan lingkungan, yang ditandai oleh aktivitas warga di lingkungan RT ini yang begitu menonjol

Karena itu, berita ini tidak dibangun dari klaim pribadi, melainkan dari pantulan kehidupan sosial yang tampak sehari-hari. 

Acara leadership dan outbond minggu lalu.

Warga menyaksikan sendiri bagaimana Pak Sudharma hadir dalam kegiatan RT, menampung keluhan, dan mencari solusi bersama. 

Dari sanalah kesan sebagai ketua RT yang mengabdi, bukan mencari proyek, tumbuh secara alami.

Dari beragam info dan data tersebut, InfoMedokanAyu kemudian memilah dan merajutnya menjadi berita yang memaknai pengabdian total dalam kisah Pak Sudharma.

Dalam proses kurasi itu, InfoMedokanAyu berusaha menempatkan kisah Pak Sudharma dalam konteks yang lebih luas: sebagai contoh kepemimpinan lingkungan yang berbasis gotong royong, literasi, dan pemberdayaan. 

Acara outbond dan off-road minggu lalu

Rangkaian informasi yang berserak dari warga kemudian dirajut menjadi narasi yang tidak hanya menonjolkan sosoknya, tetapi juga semangat kolektif yang ia hidupkan.

Yang menjadi pijakan awal dari berita ini adalah bahwa di tengah kebutuhan keluarga yang tentu tidak sedikit, beliau justru memilih untuk menyisihkan separuh gajinya bagi warga.

Menariknya, beliau ternyata berlatar belakang sebagai seorang jurnalis. 

Sang istri, Renny, juga seorang jurnalis yang kini sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan aktif menggiatkan pengelolaan hidroponik serta Bank Sampah.

Jadi, semangat pelayanan dan literasi sudah menjadi napas keluarga ini.

Ketua RT06/RW12 Sudharma Wahyu Adiwijaya 

Pengabdian Tanpa Pamrih (Altruisme Murni)
Sebagai bapak dua anak yang masih kecil, seharusnya gaji itu bisa sepenuhnya dialokasikan untuk keluarga. Namun, beliau menyisihkan 50 persen gajinya selama hampir 4 tahun untuk kepentingan warga.

Tidak mengambil sepeser pun uang kas RT untuk membangun balai. Tidak meminta sumbangan ke warga. Ini adalah bentuk kesukarelaan tanpa ekspektasi imbalan, esensi dari pelayanan publik sejati.

Bagi seorang jurnalis yang terbiasa melihat dan menuliskan ketimpangan, beliau memilih tidak sekadar melaporkan, tetapi turun tangan langsung menjadi solusi.

Pengorbanan Finansial Nyata
Bukan sekadar retorika, gajinya benar-benar dipotong setengah. Uang itu ditabung, lalu dikembalikan ke warga dalam bentuk fasilitas dan program.

Bagi seorang ayah dengan dua putra yang masih dalam masa pertumbuhan, dan istri yang sedang menempuh S3, keputusan ini bukan perkara mudah. Ini adalah transfer kesejahteraan dari pribadi ke kolektif.

Visi Pembangunan Berkelanjutan
Setiap tahun ada capaian berbeda. Tahun pertama membangun balai RT sebagai infrastruktur dasar.

Tahun kedua membelikan jilbab untuk ibu-ibu PKK dan baju batik untuk bapak-bapak, membangun identitas dan kebersamaan.

Tahun ketiga membelikan seragam gamis sebagai baju wajib PKK, menjaga konsistensi program.

Tahun keempat mengadakan training leadership ke Kebun Teh Wonosari, Lawang, dengan fasilitator outbond dan off-road ke Bukit Si Kuneer, sebuah investasi pada pengembangan sumber daya manusia. 

Pada tahun keempat itu pula, rombongan sebanyak 13 orang pengurus berangkat menggunakan Hiace. Antara lain pengurus RT, pengurus PKK, pengurus Bank Sampah, pengurus hidroponik, dan KSH.

Acara leadership dan outbond minggu lalu

Kepemimpinan yang Memberdayakan
Beliau tidak sekadar memberi barang. Di tahun keempat, beliau berinvestasi pada kapasitas warga melalui pelatihan leadership dan outbond. Ini membangun modal sosial dan kemandirian warga.

Semangat ini sejalan dengan apa yang dilakukan istrinya, Renny, yang aktif menggiatkan hidroponik dan Bank Sampah di lingkungan sekitar.

Keduanya adalah bentuk pemberdayaan berbasis pengetahuan dan keterampilan.

Makna Sosial-Politik
Di tengah stigma bahwa ketua RT mencari proyek, kisah ini menjadi kontra-narasi.

Beliau menunjukkan bahwa jabatan RT bisa dijalankan sebagai ibadah sosial.

Ini menantang paradigma bahwa pengabdian harus dibayar.

Sebagai jurnalis, Pak Sudharma paham betul bagaimana citra publik terbentuk, dan ia memilih membangun citra itu lewat tindakan nyata, bukan pencitraan.

Nilai Filosofis
Gaji bukan hak untuk dinikmati, tapi amanah untuk dikelola. Ini mirip dengan konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani, gotong royong dalam bentuk modern, dan sedekah produktif yang tidak konsumtif.

Bagi seorang bapak berputra dua, ini juga menjadi warisan nilai yang tak ternilai bagi anak-anaknya.

Terlebih dengan latar keluarga jurnalis dan akademisi, nilai-nilai integritas, literasi, dan keberpihakan pada masyarakat menjadi fondasi yang kokoh.

Dampak Jangka Panjang
Warga merasa dihargai sehingga partisipasi meningkat. Tercipta kepercayaan pada pemimpin. Kisah ini sekurang-kurangnya bisa menjadi role model bagi RT lain.

Dan bagi anak sulungnya yang masih kelas 2 MTsN 3 Surabaya, kelak ia akan tumbuh dengan teladan bahwa seorang pemimpin adalah pelayan, bukan pencari penghidupan dari jabatannya.

Sementara sang istri, Renny, terus menempuh pendidikan tertinggi sambil mengembangkan hidroponik, menunjukkan bahwa keluarga ini memang keluarga yang tumbuh bersama masyarakat.

Lebih Baik Ber-Manfaat
Pengabdian total seperti ini bermakna pengorbanan diri secara sadar dan konsisten untuk kesejahteraan kolektif, tanpa menuntut balasan, dengan visi pemberdayaan yang terencana.

Di tengah tanggung jawab sebagai bapak dua putra, suami dari seorang akademisi dan jurnalis, serta dirinya sendiri seorang jurnalis, Pak Sudharma memilih jalan pelayanan yang jarang ditempuh orang.

Ini adalah bentuk nyata dari "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain", bukan sekadar slogan, tapi praktik selama 4 tahun.

Senin, 28 September 2026

Dari Setir ke Jaring: Ketika Satu Pintu Tertutup, Laut Membuka Jalan Rezeki Baru

Ilustrasi

Kisah nyata dari Medokan Ayu, Surabaya—tentang keberanian berpindah jalur dan membuktikan bahwa rezeki tidak pernah benar-benar hilang

InfoMedokanAyu - Di Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, pagi tidak lagi selalu dimulai dengan suara klakson angkot. Di tepi air, beberapa pria sibuk menyiapkan perahu dan jaring.

Salah satu di antara mereka dulu adalah pengemudi angkutan kota. Yakni sosok Sumardi (51). Sejak 2018, ia dipercaya menjadi Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu.

Wakilnya, Titok Warsito (45) pun bukan orang sembarangan. Warga RT02/RW01 ini pernah bekerja di pabrik selama tujuh tahun.

Tahun ini, KUB itu kembali kedatangan 13 anggota baru, rata-rata berusia di bawah 40 tahun. Para nelayan muda ini, konsentrasi utama sebagai pendamping wisatawan yang berhobi memancing di laut. Hari-hari khusus mereka menangkap ikan dan kepiting.

Para anggota baru ini bergabung dengan KUB Nelayan "Karang Pinggir", yang diketuai generasi muda Mochamad Acep Bahrudin, dengan wakil ketua mochammad arifin

Pemandangan itu bukan sekadar cerita perubahan pekerjaan. Hal ini adalah bukti bahwa ketika satu pintu ekonomi menutup, selalu ada pintu lain yang bisa dibuka.

Ketika Jalan Raya Tak Lagi Menjanjikan
Sejak sekitar 2016, Sumardi turun dari sopir angkot, trayek JTK. Pekerjaan ini telah ditekuninya sekitar 20 tahun, sejak 1994.

Ia beralih setelah melihat sang mertua, Mbah Djaimin—yang nelayan—justru memperoleh hasil jauh lebih baik dibanding pengemudi angkot. Mbah Djaimin, yang di komunitasnya dikenal sebagai Raja Kepiting, adalah salah satu anggota nelayan senior.

Pada 2016 itu, Sumardi mulai ikut ber-nelayan. SIM A sebagai pengemudi pun ditanggalkan di rumah.

Ternyata hasilnya mengagetkan. Maka ditekuninya sampai kini. Malah pada 2010, Sumardi—yang putra satu-satunya pegawai PLN ini—dari nelayan bisa membeli tanah di RT12 RW01, yang kemudian dibangun dan ditempati sekarang.

Pada 2016, usaha angkot di Surabaya memang kian tidak menarik. Data Dinas Perhubungan Kota Surabaya menunjukkan jumlah angkutan darat terus merosot:

· 10.202 kendaraan pada 2016
· 1.999 kendaraan pada 2020
· Sekitar 500 angkot tersisa pada 2023, tersebar di 58 trayek—dan banyak di antaranya tidak lagi aktif

Penumpang berpindah ke transportasi online, Suroboyo Bus, dan Trans Semanggi Suroboyo. Armada angkot pun menua, izin dan KIR bermasalah, sementara pendapatan sopir semakin tipis.

Bagi banyak pengemudi, bertahan di angkot terasa seperti menahan perahu bocor di tengah arus.

Namun, di tengah kesulitan itu, sebagian orang memilih tidak menyerah. Mereka mencari jalan baru. Dan laut, bagi warga Medokan Ayu, menjadi jawaban.

Komunitas yang Menguatkan, Bukan Sekadar Pelarian
Peralihan itu tidak berjalan sendiri. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memberikan bantuan berupa mesin perahu, paket perahu, dan jaring gillnet. Ada pula rencana pembangunan SPBU khusus nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Dukungan itu membuat profesi nelayan bukan lagi sekadar pelarian, melainkan alternatif yang tumbuh dan membuktikan diri.

Mereka tidak hanya berganti pekerjaan. Mereka membangun komunitas. KUB "Sumber Rejeki" menjadi wadah untuk saling menguatkan, berbagi hasil, dan menatap masa depan.

Mantan sopir angkot, mantan pekerja pabrik, dan anak-anak muda di bawah 40 tahun kini berdiri di garis yang sama: mencari rezeki di laut.

Tentu, menjadi nelayan tidak selalu mudah. Ada gelombang, cuaca, dan harga ikan yang naik-turun. 

Tetapi di situ ada harapan. Di situ ada keberanian. Di situ ada bukti bahwa ketika angkot surut, bukan berarti kehidupan ikut berhenti.

Pelajaran dari Medokan Ayu: Rezeki Hanya Berpindah Jalur
Kisah Medokan Ayu mengajarkan satu hal: ekonomi boleh sulit, satu usaha boleh redup, tetapi rezeki tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah jalur:
Dari setir ke jaring.
Dari jalan raya ke laut.
Dari angkot ke perahu.
Dari pekerja pabrik menjadi nelayan.

Maka, jika hari ini merasa usaha sedang terhimpit, jangan cepat putus asa. Belajarlah dari mereka yang berani beralih. 

Beranilah mencari jalan baru, bergabung dengan komunitas, dan memanfaatkan dukungan yang ada.

Ingat! Ketika satu pintu tertutup, pintu lain bisa terbuka—asalkan kita mau melangkah dan tidak berhenti percaya pada kebesaran-Nya bahwa selalu ada pengganti.

Pesan Utama:
Adalah telah terbukti. Di setiap kesulitan, selalu ada jalan yang menanti untuk ditemukan.