InfoMedokanAyu -- Sungai Kebon Agung adalah saluran drainase utama di Surabaya yang membentang sepanjang 11 kilometer dengan lebar berkisar 7–12 meter. Sungai ini melintas di depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur dan membelah kawasan ekowisata mangrove antara Medokan Ayu dan Gunung Anyar.
Artikel seputar Sungai Kebon Agung ini dirilis mengingat tujuh (7) warga Medokan Ayu, di antaranya ketua RT mempertanyakan di mana sebenarnya lokasi sungai tersebut.
Pertanyaan itupun wajar muncul. Ini mengingat tak semua warga Medokan Ayu, memahami sisi "pojok" wilayah kelurahannya, meski sungai itu pernah dilihatnya.
Keberadaan sungai itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan urat nadi pengendalian banjir bagi kawasan Penjaringan Sari dan Medokan Ayu yang langganan tergenang.
![]() |
| Gambar dari Pintu Timur UPN menghadap ke Timur, tampak lebar sungai sisi Timur UPN mengecil. |
Lokasi dan Profil Geografis
Secara geografis, Sungai Kebon Agung terletak di Surabaya bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Jambangan, dan bermuara di sisi laut Surabaya bagian timur di Kecamatan Rungkut.
Dari sisi barat ke timur, sungai ini berada di sisi selatan Jl. Jemur Andayani, membelah kawasan Rungkut Industri, lalu terus menembus kawasan depan UPN "Veteran" Jawa Timur .
Sungai ini dilengkapi dengan dua rumah pompa utama, yaitu Pompa Kutisari dan Pompa Kebon Agung, yang berperan mengatur debit air.
Pompa Kebon Agung telah dinyatakan optimal dalam operasionalnya, meskipun kawasan Wisma Penjaringan masih terdampak pasang air laut.
Peran Strategis di Kawasan UPN Rungkut
Sungai Kebon Agung secara langsung melintasi depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur, menjadikannya batas alami kawasan pendidikan tersebut.
Air sungai ini pernah diteliti memiliki potensi sebagai sumber air baku alternatif, meskipun memerlukan pengolahan lanjutan sebelum layak dikonsumsi .
Sungai Ini Penting bagi Penjaringan Sari dan Medokan Ayu
Kawasan Medokan Ayu dan Penjaringan Sari secara topografis berada di dataran rendah dengan kemiringan saluran yang cukup landai, sehingga aliran air menuju muara cenderung lambat.
Kondisi ini diperparah oleh perubahan tata guna lahan yang signifikan: kawasan Surabaya timur yang dahulu berupa lahan terbuka kini telah berkembang menjadi daerah perumahan padat, mengurangi daerah resapan air.
Ketika hujan deras turun dalam durasi panjang, kapasitas Sungai Kebon Agung kerap tidak memadai, menyebabkan air meluber ke jalanan.
Pada November 2025, hujan lebat selama lebih dari empat jam membuat aliran sungai tidak mampu menampung air, dan banjir pun melanda Jalan Penjaringan Sari.
Warga setempat mengonfirmasi bahwa sungai memang sudah tidak dapat menampung debit air lagi .
Faktor lain yang memperberat beban sungai ini adalah banjir rob. Genangan air laut yang masuk melalui casement saluran Kebon Agung dan avour Wonorejo menyebabkan genangan di bagian tengah dan hilir saluran, terutama di kawasan Wisma Penjaringan .
Sebagai gambaran skala permasalahan, hasil pemodelan drainase menunjukkan bahwa diperlukan pelebaran saluran primer menjadi 8–15 meter dengan kedalaman 3 meter, serta penambahan 5 unit pompa berkapasitas 5 m³/detik dan 3 unit pompa berkapasitas 1,5 m³/detik agar sistem drainase Kebon Agung mampu mengalirkan debit banjir.
Tantangan dan Kondisi Terkini
Kualitas air Sungai Kebon Agung menghadapi tekanan berat dari limbah domestik, kegiatan laundry, dan industri di sekitarnya.
Penelitian bahkan menemukan 544 partikel yang diduga mikroplastik di permukaan air sungai ini, dengan bentuk fiber/filamen mendominasi hingga 69,3%.
Kualitas air yang kurang baik itu, ditandai pula oleh para nelayan ogah pasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, lebih baik di muara.
Bila memasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, risiko tinggi. "Kepiting tertahan diperangkap agak lama, mati", kata seorang nelayan.
Dari sisi kapasitas, sedimentasi di sebagian besar saluran menjadi penyebab utama berkurangnya daya tampung sungai.
Pemerintah Kota Surabaya melalui DSDABM terus melakukan normalisasi, pelebaran, dan penertiban bangunan liar di sempadan sungai.
Normalisasi sedimen skala besar difokuskan di saluran Avour Wonorejo, Kebon Agung, Pegirian, Kali Tebu, dan Semolowaru.
Fenomena Unik: Semburan Gas Misterius
Pada Oktober 2025, muncul fenomena tak biasa di aliran Sungai Kebon Agung kawasan Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar: semburan air bercampur gas yang menarik perhatian warga.
Pakar geofisika ITS menduga fenomena tersebut berasal dari gas alami bawah tanah, bukan dari kebocoran pipa utilitas.
Secara geologis, Surabaya tersusun dari lapisan lempung dan endapan tebal yang memang menyimpan gas dan hidrokarbon, sehingga beberapa titik di Surabaya Timur memang rawan muncul semburan serupa. Fenomena ini dinyatakan tidak berbahaya bagi warga sekitar.
Kesimpulan
Sungai Kebon Agung bukan sekadar saluran air biasa. Ia adalah penyelamat bagi ribuan warga Penjaringan Sari dan Medokan Ayu dari ancaman banjir yang datang silih berganti—baik dari luapan air hujan maupun rob air laut.
Menjaga kapasitas dan kualitas sungai ini berarti menjaga keselamatan dan kenyamanan hidup warga Surabaya timur.

