Jumat, 02 Oktober 2026

Sungai Kebon Agung Terancam: Pendangkalan dan Sampah Ancam Banjir Medokan Ayu

Menyusuri sungai Kebon Agung dari Kampung Nelayan menuju Ekowisata Mangrove yang ditandai batas jembatan paling Timur.
Kaki jembatan ini juga menghambat sampah yang balik keluar ketika banjir rob menyusut.
Ketika banjir rob, terowongan jembatan tertutup. Perahu tidak bisa melewatinya.

InfoMedokanAyu — Sungai Kebon Agung yang membentang sekitar 1 km dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove memerlukan penanganan serius. Kondisi ini mendesak untuk mencegah banjir yang mengancam warga Medokan Ayu, Penjaringan, dan Surabaya Selatan pada umumnya.

Hal tersebut terungkap setelah penelusuran langsung sungai Kebon Agung, mulai dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove pada Rabu, 30 September 2026. 

Sungai ini menerima limpahan air dari kawasan Rungkut Industri dan Kuntisari, sehingga volumenya terus meningkat saat hujan.

Penelusuran berangkat dari kampung nelayan arah Timur

Permasalahan Utama
Permasalahan utama di kawasan tersebut adalah banyaknya pohon liar yang tumbuh di pinggir sungai dan menjorok ke badan sungai. Selain itu, sungai mengalami pendangkalan yang cukup signifikan. 

Kondisi ini terlihat jelas saat penelusuran subgat ketika air laut surut bersama Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki", Sumardi.

Kondisi semakin diperparah dengan posisi kaki jembatan Ekowisata Mangrove yang menancap di tengah sungai. 

Hal ini memperlambat sampah untuk kembali keluar ketika air laut surut. Sampah yang didominasi eceng gondok masuk ke Sungai Kebon Agung dan memenuhi aliran hingga sekitar 2 km, terbawa arus air laut ketika rob.

Penelusuran sungai Kebon Agung mendekati Ekowisata Mangrove 

Risiko yang Mengintai
Risiko yang harus dihindarkan adalah pepohonan yang menjorok ke sungai. Ketika musim hujan, selalu ada pohon yang roboh. Pohon dan ranjing yang jatuh ke sungai sangat menghambat aliran air menuju laut.

Selain itu, badan sungai di sisi Utara dan Selatan masih berupa tanah dan belum berplengseng sebagaimana sungai modern pada umumnya. 

Kapasitas pendangkalan sungai perlu ditinjau oleh pihak yang berwenang. 

Kembali menuju Kampung Nelayan

Pengerukan terakhir dilakukan sekitar 6 tahun silam, itupun hanya pada sisi selatan sungai.

Pengerukan Sungai Kebon Agung antara Kampung Nelayan hingga Ekowisata Mangrove terakhir dilakukan ketika Lurah Medokan Ayu dijabat Ahmad Yardo Wifaqo, S.A.P., M.A.P.

Salah satu pohon roboh sebelum musim hujan, dan aliran air pada posisi normal.

Dampak Banjir Rob
Sebagai catatan, ketika banjir rob dari kondisi terkini air surut mencapai titik terendah, bisa naik setinggi 2 meter lebih. 

Tingginya air rob menutup badan jembatan Ekowisata Mangrove paling bawah.

Bertolak dari disain jembatan mangrove yang ada saat ini, bila banjir rob mencapai puncaknya, bukan hanya perahu nelayan penghantar wisata pemancing yang tak bisa melewatinya, perahu nelayan pencari kepiting pun terdampak dan harus menunggu volume air sungai menurun.

Jika kondisi air normal, perahu pengantar pemancing terpaksa harus melaju zig-zag, dan anak buah kapal (ABK) harus sering merundukkan badan agar tidak tersangkut ranting.

Ketika air surut, para nelayan memanfaatkan memperbaiki perahu dan perangkat nelayan. Tampak Bapak Slamet, nelayan senior, Lebih dari 70 tahun, sedang memperbaiki Bubu Naga, perangkat kepiting dan ikan dilaut.

Harapan Warga
Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan ini. 

Normalisasi sungai, pengerukan sedimen, penataan pohon di bantaran sungai, serta pembangunan plengsengan menjadi kebutuhan mendesak demi mencegah banjir yang terus mengancam kawasan Medokan Ayu dan sekitarnya.


Halaman terkait nelayan: