InfoMedokanAyu
Merajut Info Potensi Kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. (hosting & server Google)
Rabu, 15 April 2026
Ledakan Besar Mengintai, Jauhi Bakar Sampah di Atas Jaringan Gas!
Selasa, 14 April 2026
Waspada bagi Pemilik Hewan Berbulu: Risiko Kutu Meningkat akibat Panas dan Tekanan El Nino
Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
Catatan: Sering keluar rumah, kontak dengan tanah/rumput.
Jenis Hewan: Kucing luar ruangan
Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
Catatan: Sama seperti anjing, plus bisa membawa kutu masuk rumah.
Tingkat Resiko: Sedang
Catatan: Risiko tetap ada jika kutu terbawa lewat sepatu/pakaian penghuni rumah.
Tingkat Resiko: Rendah–Sedang
Catatan: Jika kandang bersih dan tidak kontak langsung dengan luar ruangan, risikonya lebih kecil. Tapi tetap bisa terkena kutu dari jerami/rebon kotor.
Tingkat Resiko: Rendah
Catatan: Kutu mamaria jarang menyerang burung, tapi ada jenis tungau khusus burung yang juga meningkat di cuaca panas.
Senin, 13 April 2026
Inovasi Silaturahmi ala KSH RW08 Medokan Asri Utara: Restoran Lokal, Menu Pilihan Warga
![]() |
| Bersama ibu RW08 Ny. Latifah Ariebowo (paling depan). |
![]() |
| Versi beda |
![]() |
| Siap menikmati hidangan sesuai diidamkan. |
![]() |
| Ketua RW08 Dodik Widodo, selalu menyemangati. |
Minggu, 12 April 2026
Halalbihalal Zero Waste RW05 Medokan Asri Barat: Bersih Hati, Bersih Lingkungan, Tak Repotkan Warga
Sebagaimana berlangsung sore tadi (11/4), acara silaturahmi pasca-Ramadan ini disajikan dengan konsep nol sampah yang telah menjadi budaya, bukan sekadar gimmick.
Dalam acara halalbihalal sore itu, RW05 menyajikan menu lontong kikil, lontong sate, hingga lontong cap gomek yang inklusif secara budaya.
Menu itu masih ditambahkan aneka snack dan minuman segar seperti es kuwut serta buah jeruk bali. Warga menikmati kebersamaan tanpa meninggalkan kotoran.
Lebih dari Sekadar Acara Tahunan
Halalbihalal di RW05 Medokan Asri Barat bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah pernyataan budaya, komitmen lingkungan, dan model kepemimpinan yang melayani.
Setiap menu yang dihadirkan—lontong kikil, lontong sate, hingga lontong cap gomek yang merepresentasikan toleransi budaya Tionghoa—bukan pilihan acak.
Semua adalah makanan lokal, merakyat, dan sarat identitas Surabaya.
Dari semua kegiatah yang paling membedakan adalah prinsip nol sampah yang selalu diterapkan. Bukan sekali, tapi rutin.
Itu sebuah komitmen. Artinya, warga RW05 telah membangun sistem: takaran pas, wadah ramah lingkungan, dan kesadaran kolektif bahwa acara ramai tidak boleh meninggalkan residu.
Sumber dana dari RT dan RW sendiri menegaskan kemandirian. Tidak ada iuran khusus, tidak ada warga yang merasa terbebani.
Pengurus RT/RW mengelola kas dengan baik, lalu mengembalikannya untuk kemaslahatan bersama.
Hasilnya? Sebuah halalbihalal yang benar-benar bersih: hati dibersihkan dengan saling memaafkan, lingkungan bersih tanpa sampah, dan hubungan sosial bersih dari utang-piutang biaya acara.
RW05 membuktikan bahwa kebersamaan yang sederhana, lokal, dan mandiri justru paling kaya makna.
Niat Baik, Hasil Luar Biasa
RW05 Medokan Asri Barat dalam berhalalbihalal secara tak langsung mengajarkan satu hal: acara tidak perlu mewah, tidak perlu menyisakan sampah, dan tidak perlu merepotkan warga.
Itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan maaf dan kebersamaan.(red)
Sabtu, 11 April 2026
Nasi Mandi dan Maafan: Halalbihalal RW07 Medokan Asri Tengah yang Tak Terlupakan
![]() |
| Pembina Ta'mir Masjid Al-Azis Djoko Dewantoro |
![]() |
| Ketua Ta'mir Masjid Al-Azis H. Mochtar |
![]() |
| Hadirin |
![]() |
| Seksi sibuk menyiapkan hidangan |
· Antusiasme warga yang memenuhi tempat duduk menandakan bahwa halalbihalal bukan sekadar ritual, melainkan momen yang dinanti untuk melepas kerinduan, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat solidaritas warga.
Dengan suksesnya acara ini, diharapkan semangat saling memaafkan dan kebersamaan terus terjaga di lingkungan RW07 sepanjang tahun. (red)
-
Senin, 06 April 2026
Satu Meja, Seribu Makna: Refleksi Halalbihalal RT01 RW06 di Grahameru 5 April 2026
![]() |
| Foto bareng. Ketua RT01 RW06 Medokan Asri Barat Achmad Zainudin (belakang berdiri deretan dari kiri ke-12), dan Ketua Panitia acara IG Sudjatmiko (ke-15) foto bersama warga. Foto oleh Ace. |
![]() |
| Ramah tamah |
![]() |
| Di antara hadirin menjawab kuis pertanyaan |
![]() |
| Di antara 10 penerima hadiah kuis pertanyaan |
· Letak di bawah kursi → simbol bahwa rezeki atau kebaikan bisa datang dari tempat paling tidak terduga, bahkan dari bawah kita sendiri (rendah hati).
![]() |
| Antara lain penerima hadiah voucher atas keberuntungannya. |
Terkait pelaksanaan Halalbihalal ini, InfoMedokanAyu telah menurunkan beberapa tulisan.
Ragam tulisan itu dimaksud antara lain dirilis dengan judul:
Tak Mewah Tapi Bermakna: Halalbihalal RT10 RW02 yang Digerakkan oleh Perempuan
Pesan utama yang patut direnungkan: kebersamaan dan kerukunan tidak diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dari niat tulus dan kepedulian semua pihak, terutama peran para ibu yang menjadi penggerak utamanya.
![]() |
| Rangkaian kata di "backdrop" yang terbaca semua hadirin |
Seperti disampaikan Ny. Weli Astutik, Ketua RT10 RW02, bahwa keberlangsungan acara ini berkat dukungan penuh kaum ibu, termasuk sumber pembiayaannya.
"Ibu-ibu di sini semangat bergotong royong. Secara bersama-sama urunan untuk menyelenggarakan halalbihalal," ujar ketua RT yang berprofesi sebagai guru ini.
Secara riil, acara ini memang bukan sekadar makan bersama, melainkan perwujudan nilai-nilai luhur:
· Spiritual – Saling memaafkan dan membersihkan hati.
· Sosial – Memperkuat ikatan warga, gotong royong, dan inklusivitas (dewasa dan anak).
· Budaya – Melestarikan tradisi halalbihalal khas warga kampung yang sederhana namun kental rasa kekeluargaan.
· Ekonomis – Pengelolaan dana urunan yang efisien dan merata.
Halalbihalal: Silaturahmi dan Saling Memaafkan
![]() |
| Di antara menu sajian |
![]() |
| Ketua Panitia yang akrab dipanggil Pak Irwan |
· Menu anak/remaja lebih sederhana: nasi ayam paketan dengan air minum merek Cleo (khusus anak), sementara dewasa mendapat Aquaviva.
Maknanya: menghargai perbedaan usia dan selera, serta memastikan semua kalangan menikmati acara dengan nyaman.
![]() |
| Pembawa acara Latif Ahmad Fauzan |
![]() |
| Tausiah oleh Dr. Drs. Soehardjupri, M.Si. |
Kerupuk Udang: "Bumbu Kebersamaan" yang Sarat Simbol
Kehadiran kerupuk udang pada konsumsi dewasa justru memperkaya makna simbolis.
Kerupuk udang adalah lauk pendamping sederhana yang kerap hadir di meja makan saat Lebaran atau hajatan di kampung.
Kehadirannya menunjukkan bahwa panitia (para ibu) ingin memberikan rasa "nikmat kecil" yang membangkitkan kenangan masa kecil atau suasana kumpul keluarga.
![]() |
| Doa oleh Ustadz Saneman |
Dengan adanya kerupuk udang, konsumsi dewasa terasa lebih khas, sederhana namun "lengkap" di lidah orang dewasa.
Ini membuktikan, kebahagiaan sejati dalam halalbihalal tidak perlu mewah; cukup dengan nasi kotak berisi lauk bergizi.
Kerupuk udang menjadi ekstra-sebagai 'bumbu kebersamaan' yang menguatkan rasa guyub rukun saklawase.
Kerupuk juga bisa dimaknai sebagai "penyempurna" hidangan, seperti halnya silaturahmi menyempurnakan ibadah puasa dan Idul Fitri.
Dari sisi ekonomis, kerupuk udang relatif murah namun memberi kesan istimewa—para ibu tetap bisa menghadirkan kebahagiaan lewat detail kecil, dengan dana urunan yang terbatas.
Mereka layak mendapat apresiasi karena kreatif mengombinasikan lauk praktis dengan sentuhan tradisional.
Menariknya, anak-anak dan remaja tidak mendapat kerupuk udang. Perbedaan ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa orang dewasa lebih menghargai "ekstra rasa" sebagai pelengkap, sementara anak-anak lebih fokus pada kepraktisan.
Dengan demikian, ini bukan diskriminasi, melainkan penyesuaian selera dan kebutuhan.
![]() |
| Ketua RT10 RW02 Ny. Weli Astutik |
Melengkapi Ragam Berita Halalbihalal di InfoMedokanAyu
Acara ini turut melengkapi beragam liputan Halalbihalal yang ditanyangkan oleh InfoMedokanAyu.
Beberapa tulisan yang telah dirilis antara lain:
![]() |
| Juru foto/ video - dokumentasi acara Sumarli-juga suami dari ketua RT10 RW02. |
Kesimpulan:
Halalbihalal di RT10 RW02 Medokan Ayu membuktikan bahwa tradisi sederhana berbasis urunan dan gotong royong ibu-ibu mampu menghadirkan makna spiritual, sosial, budaya, dan ekonomis secara utuh.
Nilai "Guyub Rukun Saklawase" bukan sekadar slogan, melainkan terasa dalam setiap sendok nasi, renyah kerupuk, dan senyum tulus warganya.
- InfoMedokanAyu
-
Dio dan Megawati resmi sebagai suami istri PEMUDA Medayu Utara Dio Novandra Wibawa menikahi bintang voli Megawati Megatron, salah satu atlet...
-
Rambu pemberitahuan Jembatan tertutup 12 jam, pada 5 Oktober terpasang sore ini. RAMBU pemberitahuan tutup 12 jam jembatan 'Legendari...
-
DITENGARAI akibat arus pendek dari pompa air, rumah ukuran sekitar 10x25 di Jl. Wonoayu No. 197 — RT03 RW03 Medokan Ayu — mengalami k...







































