PIJAT untuk balita usia 1–5 tahun ternyata bukan hanya soal membuat si Kecil rileks. Lebih dari itu, pijat balita adalah investasi nyata bagi tumbuh kembang optimal anak.
Ini catatan penting bagi para orang tua maupun simbah yang ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati dan cucunya.
Bagi warga Medokan Ayu, menemukan sosok ahli pijat balita tidaklah sulit. Di RW02 Medokan Kampung-Medokan Ayu, ada seorang warga yang telah memberikan perhatian serius di bidang ini.
 |
| Widianingsih |
Dialah Widianisih, anggota KSH (Kader Surabaya Hebat) RW02, yang mewarisi keahlian pijat balita secara turun-temurun.
Keahlian ini pertama kali dipraktikkan oleh sang Nenek yang berasal dari Tulungagung, kemudian diteruskan oleh sang Ibu yang lahir dan besar di Medokan Ayu.
Saat sang ibu memijat balita, Widianisih kecil sering mendampingi. Bahkan, sang ibu sempat berwasiat, "Kamu harus bisa melanjutkan apa yang Ibu lakukan."
Pada 2019, sang ibu dipanggil oleh-Nya. Kegiatan memijat pun vakum. Tak pernah lagi terdengar suara bocah rewel yang datang hendak dipijat.
Barulah pada tahun 2021, ibu dua anak ini mulai mempraktikkan wasiat sang ibu. "Tentu atas dukungan keluarga pula", katanya.
Saat itu, putri sulungnya mulai beranjak dewasa. Kini masuk SMP dan putra keduanya sudah masuk TK B.
Sejak itu, tamu pun mulai berdatangan kembali. Hingga kini, tak sedikit warga yang meminta bantuan pijat untuk anak atau cucu mereka yang masih balita.
Sesungguhnya, pada praktiknya bukan pijat balita. Makin dikenal pula, juga melayani pijat anak-anak, remaja dan dewasa putri. Predikat pun melebar, setelah diketahui "ternyata bisa pijat semua kalangan", ceritanya.
Sosok Widianisih
Widyanisih (36 tahun) dikenal sebagai pribadi yang berani, cerdas, dan berpendirian keras. Ia mandiri dalam bertindak dan ulet mencapai tujuan.
Ibu Widia—sapaan akrabnya—adalah sosok yang supel dan mudah membuat orang tua maupun anak merasa nyaman.
Karakter itu juga membuatnya aktif dalam kegiatan KSH. Tak heran, ia merasa cocok dengan karakter shio Kuda yang melilitnya: lincah, aktif, dan bersemangat.
Cara Menghubungi
Bagi warga yang ingin memohon bantuan pijat untuk balita, Bu Widia sangat mudah ditemui. Bisa langsung menghubungi via WhatsApp di nomor 0838-5680-3831. Atau datang langsung ke rumahnya di Medokan Kampung Gg. MIN No.79, RT04 RW02, Medokan Kampung – Medokan Ayu. Beliau asli arek Medokan Kampung, jadi tak sulit mencari rumahnya.
Manfaat Utama Pijat Balita
Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari pijat balita secara rutin:
Meningkatkan Kualitas Tidur – Pijat membantu merilekskan tubuh, meningkatkan produksi melatonin, dan mengurangi stres sehingga si Kecil tidur lebih nyenyak. Tidur berkualitas sangat penting bagi tumbuh kembangnya.
Meredakan Keluhan Fisik – Membantu melancarkan pencernaan (kembung, sembelit), meredakan sakit tumbuh gigi, nyeri otot, serta membantu perbaikan kondisi eksim pada kulit.
Merangsang Pertumbuhan & Nafsu Makan – Sentuhan pijat merangsang hormon pertumbuhan dan sistem pencernaan, yang dapat meningkatkan nafsu makan serta membantu optimalisasi berat dan tinggi badan.
Menunjang Perkembangan Motorik – Rangsangan pada saraf dan otot membantu melatih refleks dan koordinasi gerak, mendukung kemampuan motorik kasar seperti berjalan.
Mengurangi Stres & Cemas – Sentuhan lembut menenangkan sistem saraf, menurunkan hormon stres (kortisol), dan membuat balita lebih rileks, terutama saat rewel atau cemas.
Menguatkan Ikatan Orang Tua & Anak – Pijat yang sesekali dilakukan sendiri oleh orang tua menjadi momen spesial membangun kedekatan emosional dan rasa aman pada anak.
Pijat Balita dalam Perspektif Islam
Hubungan antara pijat balita dan nilai-nilai keislaman terletak pada integrasi nilai spiritual ke dalam praktik pengasuhan anak.
Ini bukan sekadar terapi fisik, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan aktualisasi ibadah.
Berikut tiga poin utama keterkaitan tersebut:
Pijat sebagai Media Internalisasi Nilai Agama
Dalam berbagai pelatihan di lembaga Islam, pijat bayi dan balita diajarkan sebagai sarana menanamkan nilai spiritual:
· Dilandasi niat ibadah – Merawat anak dengan niat karena Allah dipandang sebagai wujud nyata tauhid sehari-hari.
· Diiringi lantunan Al-Qur'an – Pemijatan dianjurkan sambil memperdengarkan ayat suci Al-Qur'an untuk menciptakan ketenangan.
· Teknik Thibbun Nabawi – Beberapa pelatihan mengajarkan teknik pijat berdasarkan pengobatan ala Nabi, yang diakui dalam tradisi Islam.
Sinergi Orang Tua dan Guru di Sekolah Islam
Pendidikan agama tak hanya di kelas, tetapi juga melalui pengasuhan fisik. Sekolah dan orang tua memiliki tanggung jawab bersama dalam membina akhlak dan kesehatan anak.
Lembaga seperti Program Studi PIAUD UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, misalnya, mengadakan workshop pijat bayi untuk membekali calon guru TK atau pendiri daycare Islami.
Pemberdayaan Kader Kesehatan dari Organisasi Islam
Pelatihan pijat bayi banyak digerakkan oleh sayap perempuan organisasi Islam besar:
· 'Aisyiyah (Muhammadiyah) – Aktif memberdayakan kader kesehatan untuk mengajarkan teknik pijat sebagai penguatan ikatan emosional ibu dan anak.
· Salimah (Persaudaraan Muslimah) – Menyelenggarakan workshop seperti "Salimah Belajar Islam" (Sabil@) yang membahas pijat bayi sebagai bekal stimulasi dini bagi para ibu.
Widianingsih dan Pendidikan Islami
Menariknya, bagi Widianingsih, pendidikan bernuansa Islami telah menjadi pilihan sejak awal.
Sejak SD ia bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MIN), kemudian SMP di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)—keduanya di Medokan Ayu. Saat SLTA, ia melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA) TANADA Wadung Asri, Sidoarjo.
Pendidikan Islami yang ia tempuh sejak dini turut membentuk karakternya yang gigih, supel, dan berdedikasi dalam membantu sesama, termasuk melalui keahlian pijat balita yang kini menjadi berkah bagi lingkungan sekitarnya.
Penutup
Pijat balita bukanlah sekadar pijatan biasa. Di tangan Widianisih, pijat menjadi perpaduan antara keahlian turun-temurun, nilai kesehatan modern, dan napas keislaman yang menyejukkan.
Bagi warga Medokan Ayu dan sekitarnya, ini adalah kesempatan untuk memberikan investasi tumbuh kembang optimal bagi si Kecil, sambil tetap menjaga nilai-nilai luhur keluarga dan agama. (red)