Senin, 06 April 2026

Satu Meja, Seribu Makna: Refleksi Halalbihalal RT01 RW06 di Grahameru 5 April 2026

Foto bareng.  Ketua RT01 RW06 Medokan Asri Barat Achmad Zainudin (belakang berdiri deretan dari kiri ke-12), dan Ketua Panitia acara IG Sudjatmiko (ke-15) foto bersama warga. Foto oleh Ace.

HALALBIHALAL RT01 RW06 Medokan Asri Barat tidak hanya menekankan kebersamaan, tetapi juga simbolisme setiap hidangan yang memperkuat nilai silaturahmi, keberagaman, dan rasa syukur.

Hal itu sebagai acara RT01 RW06 Medokan Asri Barat - Medokan Ayu yang berlangsung di Graha Mahameru, Ruang Kerinci Rinjani Lantai 2, Jl. Jemursari 73, Surabaya, pada Minggu, 5 Maret 2026.

Lokasi RW06 ini di kawasan YKP Medokan Ayu yang didalamnya terdapat SD Medokan Ayu II/ 615. Sementara jumlah warga di RT01 kawasan ini 60KK.

InfoMedokanAyu melihat acara ini bukan sekadar makan bersama, melainkan ritual sosial yang menguatkan persaudaraan.

Pemilihan menu beragam—dari appetizer hingga buah potong—menunjukkan bahwa warga menghargai keberagaman cita rasa, sebagaimana mereka menghargai keberagaman pribadi di lingkungannya.


Semangat ini memperkuat identitas RT01 RW06 Medokan Asri Barat sebagai lingkungan yang tidak hanya feast (pesta makan), tetapi juga fun (gembira) dan fair (adil).

Menu dan Makna
Appetizer: Cocktail Salad  
Pembuka segar dan berwarna-warni, melambangkan keberagaman warga (suku, profesi, usia) yang dipersatukan dalam satu wadah RT/RW.

Soup: Sop Jagung Asparagus
Hangatnya kuah menggambarkan kehangatan silaturahmi yang mencairkan perbedaan. 

Jagung dan asparagus melambangkan kesuburan dan harapan akan keberkahan rezeki.




Ramah tamah

Main Course Chicken: Ayam Gr Szechuan
Rasa Szechuan yang sedikit pedas dan gurih menggambarkan dinamika kehidupan warga—ada suka, ada tantangan, tetapi tetap nikmat dijalani bersama.

Main Course Dori/Gurami: Gurami Gr Typhoon
Ikan gurami dengan saus "Typhoon" (badai) melambangkan ketangguhan warga menghadapi masalah sekaligus simbol rezeki yang melimpah.

Vegetable: Cap Cay Goreng
Sayuran beragam dalam satu piring menggambarkan gotong royong dan keseimbangan dalam hidup bermasyarakat.

Rice/Noodles: Nasi Goreng Truffle
Sederhana namun istimewa—kebersamaan yang sederhana (nasi goreng) dimuliakan dengan cita rasa tinggi (truffle).

Side Dish: Martabak
Berlapis-lapis melambangkan kasih sayang dan maaf yang saling diberikan. 

Isiannya yang padat menggambarkan eratnya hubungan antarwarga.

Steam Rice
Nasi putih sebagai sumber energi utama melambangkan pondasi hidup yang kokoh (iman dan takwa), tulus dan apa adanya.

Refreshment: Es Teller
Kesegaran campuran buah melambangkan kebahagiaan dan rasa syukur yang beraneka ragam, disajikan dingin untuk meredakan panasnya salah sangka.

Kerupuk & Sambal
Kerupuk renyah sebagai pelengkap penambah semangat; sambal sebagai pengingat bahwa hidup tak selalu manis—ada rasa pedas (ujian) yang membuat kebersamaan lebih terasa.

Minuman: Mineral Water, Ice Lemon Tea, Es Jeruk
. Air mineral = kesucian hati setelah saling memaafkan.

. Es lemon tea = penyegar hubungan yang sedikit asam (kesalahan) namun manis (maaf).

. Es jeruk = kehangatan dan keceriaan.

Buah Potong
Penutup manis dan segar sebagai simbol bahwa setelah halalbihalal, semua kembali dalam keadaan bersih, segar, dan penuh kebaikan, seperti buah yang matang pada musimnya.

Di antara hadirin menjawab kuis pertanyaan


Di antara 10 penerima hadiah kuis pertanyaan

Makna Game: Kuis Berhadiah & Undian di Bawah Kursi
Makna dari game ini selaras dengan menu konsumsi:
Game Menjawab Pertanyaan dari Panitia
· Silaturahmi bukan hanya makan bersama, tetapi juga mengasah pikiran dan mengingat nilai kebersamaan.

· Pertanyaan seputar tetangga, sejarah RT, atau nilai Ramadan melatih kepedulian dan pengetahuan sosial warga.

· Hadiah bagi penjawab benar → simbol bahwa setiap orang yang aktif dan berani berkontribusi mendapat keberkahan lebih.

Semua hadirin tampak berdiri. Mencocokan nomor berhadiah, yang ditempelkan panitia di bagian bawah kursi

Hadiah Keberuntungan dengan Nomor Undian di Bawah Kursi
· Kesetaraan total: Semua warga (tua, muda, kaya, biasa) memiliki peluang sama karena tak tahu di kursi mana nomor undian berada.

· Letak di bawah kursi → simbol bahwa rezeki atau kebaikan bisa datang dari tempat paling tidak terduga, bahkan dari bawah kita sendiri (rendah hati).

Antara lain penerima hadiah voucher atas keberuntungannya.

· Menemukan nomor undian mengajarkan kita untuk selalu siap terhadap berkah yang datang tiba-tiba.

Hubungan dengan Menu Mewah (Truffle, Typhoon, Es Teller, dll):

Elemen Acara Makna Utama Keterkaitan dengan Menu

Game kuis Aktif, cerdas, berani Kontras dengan appetizer & soup yang lembut → keseimbangan kelembutan hati dan ketajaman pikiran.

Undian di bawah kursi Kesetaraan & kejutan Mirip Es Teller (campuran isi) → tak tahu rasa mana yang akan didapat pertama kali.

Hadiah keberuntungan yg Rezeki tak terduga Seperti Nasi Goreng Truffle → nasi biasa jadi istimewa karena tambahan tak terduga.


  Terkait pelaksanaan Halalbihalal ini, InfoMedokanAyu telah menurunkan beberapa tulisan. 

Ragam tulisan itu dimaksud antara lain dirilis dengan judul:








(InfoMedokanAyu)



Tak Mewah Tapi Bermakna: Halalbihalal RT10 RW02 yang Digerakkan oleh Perempuan

Halalbihalal. Warga RT10 RW02 Medokan Ayu bersalam-salaman. Foto/ video oleh Marly-Suami Ketua RT.

WARGA RT10 RW02 Medokan Ayu menggelar acara Halalbihalal pada Minggu malam, 5 April 2026, di kawasan Fasum RT10- berdekatan dengan Mushola Al-Fattah. Acara tersebut berlangsung sarat makna, baik dari segi sosial, budaya, maupun nilai kebersamaan.

Pesan utama yang patut direnungkan: kebersamaan dan kerukunan tidak diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dari niat tulus dan kepedulian semua pihak, terutama peran para ibu yang menjadi penggerak utamanya.


Rangkaian kata di "backdrop" yang terbaca semua hadirin

Seperti disampaikan Ny. Weli Astutik, Ketua RT10 RW02, bahwa keberlangsungan acara ini berkat dukungan penuh kaum ibu, termasuk sumber pembiayaannya.


"Ibu-ibu di sini semangat bergotong royong. Secara bersama-sama urunan untuk menyelenggarakan halalbihalal," ujar ketua RT yang berprofesi sebagai guru ini.




Bersalam-salaman


Secara riil, acara ini memang bukan sekadar makan bersama, melainkan perwujudan nilai-nilai luhur:

· Spiritual – Saling memaafkan dan membersihkan hati.


· Sosial – Memperkuat ikatan warga, gotong royong, dan inklusivitas (dewasa dan anak).


· Budaya – Melestarikan tradisi halalbihalal khas warga kampung yang sederhana namun kental rasa kekeluargaan.


· Ekonomis – Pengelolaan dana urunan yang efisien dan merata.



Halalbihalal: Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Halalbihalal adalah tradisi khas Indonesia pasca-Idul Fitri yang bertujuan saling memaafkan dan menguatkan tali persaudaraan.

Di lingkungan RT/RW, acara ini mempererat hubungan antarwarga yang mungkin jarang bertemu atau pernah berselisih.

Di antara remaja menikmati hidangan

Di antara menu sajian

Minuman kemasan panitia menyediakan 15 pack 

Slogan "Guyub Rukun Saklawase" (rukun selamanya) yang tercetak di tas kemasan konsumsi diusung mempertegas cita-cita ini.

Sumber Dana dari "Urunan Para Ibu": Gotong Royong dan Peran Perempuan

Dana dari iuran para ibu menunjukkan dua hal penting: pertama, gotong royong masih hidup di tingkat warga;

Para ibu menyiapkan konsumsi

kedua, peran sentral ibu-ibu dalam menggerakkan kegiatan sosial dan budaya di kampung. Mereka tidak hanya menyumbang dana, tetapi juga mengorganisir konsumsi.


Beda Konsumsi Dewasa & Anak/Remaja: Perhatian dan Inklusivitas

Perbedaan menu mencerminkan kearifan lokal:
· Menu dewasa lebih kompleks: nasi kotak dengan lauk daging, hati, acar, telur, sambal goreng kentang, serta tambahan kerupuk udang.

Ketua Panitia yang akrab dipanggil Pak Irwan

· Menu anak/remaja lebih sederhana: nasi ayam paketan dengan air minum merek Cleo (khusus anak), sementara dewasa mendapat Aquaviva.


Maknanya: menghargai perbedaan usia dan selera, serta memastikan semua kalangan menikmati acara dengan nyaman.


Pembawa acara Latif Ahmad Fauzan


Tausiah oleh Dr. Drs.  Soehardjupri, M.Si.

Sajian Tambahan: Kue Tradisional dan Kekinian
Kue rol, cake, lemper, dan pisang coklat disajikan untuk dinikmati bersama di tempat, menambah suasana santai dan hangat.

Keberagaman kue (basah, gurih, manis) melambangkan keragaman warga yang tetap rukun.

Kerupuk Udang: "Bumbu Kebersamaan" yang Sarat Simbol


Kehadiran kerupuk udang pada konsumsi dewasa justru memperkaya makna simbolis.


Kerupuk udang adalah lauk pendamping sederhana yang kerap hadir di meja makan saat Lebaran atau hajatan di kampung.


Kehadirannya menunjukkan bahwa panitia (para ibu) ingin memberikan rasa "nikmat kecil" yang membangkitkan kenangan masa kecil atau suasana kumpul keluarga.


Doa oleh Ustadz Saneman

Dengan adanya kerupuk udang, konsumsi dewasa terasa lebih khas, sederhana namun "lengkap" di lidah orang dewasa.


Ini membuktikan, kebahagiaan sejati dalam halalbihalal tidak perlu mewah; cukup dengan nasi kotak berisi lauk bergizi.


Kerupuk udang menjadi ekstra-sebagai 'bumbu kebersamaan' yang menguatkan rasa guyub rukun saklawase.


Kerupuk juga bisa dimaknai sebagai "penyempurna" hidangan, seperti halnya silaturahmi menyempurnakan ibadah puasa dan Idul Fitri.


Dari sisi ekonomis, kerupuk udang relatif murah namun memberi kesan istimewa—para ibu tetap bisa menghadirkan kebahagiaan lewat detail kecil, dengan dana urunan yang terbatas.


Mereka layak mendapat apresiasi karena kreatif mengombinasikan lauk praktis dengan sentuhan tradisional.


Menariknya, anak-anak dan remaja tidak mendapat kerupuk udang. Perbedaan ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa orang dewasa lebih menghargai "ekstra rasa" sebagai pelengkap, sementara anak-anak lebih fokus pada kepraktisan.


Dengan demikian, ini bukan diskriminasi, melainkan penyesuaian selera dan kebutuhan.


Ketua RT10 RW02 Ny. Weli Astutik


Melengkapi Ragam Berita Halalbihalal di InfoMedokanAyu


Acara ini turut melengkapi beragam liputan Halalbihalal yang ditanyangkan oleh InfoMedokanAyu.


Beberapa tulisan yang telah dirilis antara lain:








- "Kembali ke Fitrah: Halalbihalal Berbalut Gotong Royong dan Kearifan Lokal di RT11 RW02 Medokan Kampung–Medokan Ayu"


Juru foto/ video - dokumentasi acara Sumarli-juga suami dari ketua RT10 RW02.

Kesimpulan:

Halalbihalal di RT10 RW02 Medokan Ayu membuktikan bahwa tradisi sederhana berbasis urunan dan gotong royong ibu-ibu mampu menghadirkan makna spiritual, sosial, budaya, dan ekonomis secara utuh.


Nilai "Guyub Rukun Saklawase" bukan sekadar slogan, melainkan terasa dalam setiap sendok nasi, renyah kerupuk, dan senyum tulus warganya.


- InfoMedokanAyu

Minggu, 05 April 2026

Kembali ke Fitroh”: Halalbihalal Berbalut Gotong Royong dan Kearifan Lokal di RT11 RW02 Medokan Kampung–Medokan Ayu

Bapak-bapak Warga RT11 RW02 Medokan Kampung-Medokan Ayu menikmati menu Halalbihalal dalam kebersamaan.
Foto oleh Hariyadi-Warga RT11 RW02

PADA SABTU MALAM, 4 April 2026, warga RT11 RW02 Medokan Kampung–Medokan Ayu menggelar acara halalbihalal dengan tema penuh makna: “Kembali ke Fitroh.” 

Pada acara itu bukan sekadar makan-minum bersama, melainkan ritual sosial yang merekatkan hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (sesama tetangga) secara sederhana, inklusif, dan sarat simbol kearifan lokal.

Ibu-ibu seksi sibuk menyiapkan hidangan.

Sebagian tampak ibu-ibu menikmati hidangan

Ketua RT11, Eddy Agus Subekti yang eks personil AURI ini menjelaskan bahwa seluruh kegiatan bersumber dari swadaya masyarakat. 

“Kas RT hanya menambahi saja,” ujarnya. Tentu, ini bisa dimaknai semangat gotong royong menjadi tulang punggung acara, bukan iuran wajib atau sponsor luar.

Ketua RT11 RW02 Eddy Agus Subekti, yang alumni SMA Negeri 3 Surabaya saat menyampaikan sambutan.

Selain santap bersama, acara juga dimeriahkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Rohadi Effendy. Tausiah ini memperkuat pesan spiritual dari tema “kembali ke fitroh.”

Adapun Makna di Balik Setiap Unsur Acara, sebagai berikut:

Tema “Kembali ke Fitroh”
Fitroh berarti kesucian alami manusia. 

Tema ini mengajak warga saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam dan kesalahan—seperti bayi yang baru lahir. Ini sejalan dengan esensi Idulfitri setelah sebulan berpuasa.

Menu Soto Daging ala Jember
Soto daging khas Jember (berisi daging sapi, tauge, dan bumbu khas) melambangkan kehangatan dan kebersamaan. 

Proses mengolah daging dari mentah menjadi lezat diibaratkan sebagai upaya memperbaiki diri. 

Menu ini juga bisa menjadi penghormatan bagi warga yang berasal dari atau terinspirasi oleh kuliner Jember.

Tiga sosok penting di acara ini. Ketua Takmir Mushola setempat Heri Purwanto (paling kanan), Ketua RT11 RW02 Eddy Agus Subekti (Tengah), dan Ustadz Rohadi Effendi warga setempat (paling kiri atau sisi kanan ketua RT)

Aneka Minuman
· Air kemasan gelas – Praktis, higienis, dan merata untuk semua.

· Es cao (dari cincau hitam) – Menyegarkan, melambangkan kesejukan hati usai saling memaafkan.

· Wedang uwuh – Minuman rempah khas yang namanya berarti “sampah”, namun isinya rempah-rempah mulia. 

Filosofinya: hal yang tampak sederhana atau biasa bisa sangat berharga—mirip silaturahmi antarwarga.

· Es sirup – Manis dan sederhana, menggambarkan kegembiraan.

Keragaman minuman ini menunjukkan akomodasi terhadap berbagai usia dan selera, dari anak-anak hingga lansia.

Sumber Dana: Swadaya Masyarakat + Kas RT
Inilah inti gotong royong. 

Warga tidak hanya datang menikmati, tetapi ikut menyumbang (uang, tenaga, atau bahan). Kas RT hanya pelengkap. 

Hal itu bermaknakan: kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Acara ini benar-benar milik semua warga.

TRADISI LOKAL
Halalbihalal di RT11 RW02 Medokan Kampung–Medokan Ayu membuktikan bahwa tradisi lokal, semangat berbagi, dan nilai-nilai keagamaan bisa bersatu dalam kemasan yang hangat dan merakyat.

 “Kembali ke Fitroh” bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata memaafkan, berkumpul, dan merawat kebersamaan—semangkuk soto, segelas wedang uwuh, dan setulus hati.

-InfoMedokanAyu



Semarak Halalbihalal 2026 PKK RW02 Medokan Ayu: Lontong Balap dan Tahu Campur Jadi Primadona

PKK RW02 Medokan Kampung-Medokan Ayu melangsungkan Halalbihalal didepan rumah wakil ketua RW02 Didik Tri Winarno. Foto saat menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Foto oleh Ny. Miftachul Janah

LONTONG Balap dan Tahu Campur menjadi primadona dalam semarak Halalbihalal PKK RW02 Medokan Kampung - Medokan Ayu, Minggu pagi tadi.

Bertolak dari lensa budaya setempat, kedua hidangan ini dipilih bukan hanya karena kelezatannya, tetapi juga karena pesan simbolis di baliknya. 

Lontong Balap dan Tahu Campur sarat makna filosofis yang selaras dengan semangat halalbihalal yang hangat di bulan Syawal.

Hadirin berdatangan

Terkait pelaksanaan Halalbihalal ini, InfoMedokanAyu telah menurunkan beberapa tulisan. 

Ragam tulisan itu dimaksud antara lain dirilis dengan judul:






Pada Selasa, 4 April lalu, InfoMedokanAyu juga menurunkan tulisan berjudul "KSH RW02 Refleksikan Halalbihalal Lewat Menu yang Dinikmati Bersama".

Menyanyikan lagu wajib PKK

Menyanyikan lagu wajib "Indonesia Raya"

Sementara itu, acara Halalbihalal 2026 PKK RW02 yang berlokasi di depan rumah Wakil Ketua RW02, Didik Tri Winarno, mengusung menu Lontong Balap dan Tahu Campur.

Wakil Ketua RW02 Medokan Kampung Didik Tri Winarno mengikuti acara berlangsung.


Ramah tamah

Secara simbolik, kedua hidangan ini menyatakan makna sebagai berikut.

Lontong Balap: Simbol Maaf dan Kesederhanaan

· Makna Filosofis "Lontong": Nama "lontong" dipercaya sebagai singkatan dari "olone dadi kothong" (kejelekan menjadi kosong). 

Ini melambangkan proses menghapus kesalahan dan memberi kesempatan kedua, selaras dengan inti halalbihalal, yaitu saling memaafkan dan memulai lembaran baru.

· Semangat "Balap": Kata "balap" merujuk pada semangat para penjual tempo dulu yang bergerak cepat agar tidak kehilangan pembeli. 

Hal ini melambangkan semangat pantang menyerah dan kegigihan, mengingatkan untuk terus berlari meraih hal positif usai Idulfitri.

· Jiwa "Suroboyoan": Karakternya yang sederhana, lugas, dan apa adanya merefleksikan kepribadian warga Surabaya. 

Menyajikan lontong balap dapat dimaknai sebagai simbol penerimaan yang tulus dan tanpa pretensi di antara warga RW.

Hadirin bersalam-salaman

Tahu Campur: Simbol Kebersamaan dalam Keberagaman
· Makna Filosofis "Campur": Filosofi "campur" mewakili kekayaan dan keberagaman, melambangkan bersatunya warga RW dengan berbagai latar belakang untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.

· Transformasi "Tahu": Proses perubahan kedelai menjadi tahu mengajarkan tentang kemampuan beradaptasi dan bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik pasca-Ramadan.

· Nilai Kebersamaan: Perpaduan harmonis berbagai elemen seperti tahu, lontong, dan sayuran menjadi simbol indah dari kebersamaan dan gotong royong khas PKK.

Hadir ketika usai acara sie kebersihan lingkungan Susilo (paling kanan), ditemani Ketua RW01 Supangin (tengah) dan seorang tokoh pendatang Rachwanto (paling kiri)

-InfoMedokanAyu 

Sabtu, 04 April 2026

KSH RW02 Refleksikan Halalbihalal Lewat Menu Dinikmati Bersama

Halalbihalal tim KSH RW02 Medokan Kampung - Medokan Ayu. 
Foto/Video oleh Ny. Miftachul Jannah - KSH RT03 RW02 - Istri dari ketua RT03 RW02-Teguh Santoso

MENU dalam acara Halalbihalal tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan sarat makna simbolik yang merefleksikan akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam, terutama tentang silaturahmi, pengampunan, dan kebersamaan.

Demikian Halalbihalal komunitas KSH RW02  berlangsung pagi tadi di Balai RW setempat dan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB.

Foto/Video oleh Ny. Miftachul Jannah

Secara keseluruhan, acara itu dapat dimaknai melalui tiga menu utama yang mengajak hadirin untuk:

1. Mengupas kesalahan (lontong kikil),
2. Membulatkan niat memperbaiki silaturahmi (bakso dan lontong sayur),
3. Menyegarkan kembali hubungan persaudaraan (es Manado).

Hal ini sejalan dengan esensi halalbihalal sebagai tradisi khas Jawa-Islam untuk merayakan Idul Fitri sebagai momentum fitrah (kembali suci).

Ibu wakil ketua RW02 Ny. Munirtim membuka acara. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

LONTONG 
Istilah dan filosofi "Lontong (Olone Wes Ontong)" merupakan tradisi budaya Jawa yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi dakwah Islam melalui pendekatan simbolik.

· Istilah ini muncul sejak abad ke-15 dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi dakwah Wali Songo di Pulau Jawa.

· "Olone Wes Ontong" atau variannya seperti "Olone dadi kotong" secara harfiah berarti "kejelekannya sudah tidak ada atau hilang".

Ini melambangkan proses penyucian diri di mana segala dosa, kesalahan, dan sifat buruk telah terhapus, serta menjadi simbol permohonan maaf di hari kemenangan.

Ramah tamah. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

KIKIL
· Budaya Jawa: Kikil (kulit sapi) melambangkan kata “kikil” yang berarti ‘dikupas’ atau ‘dibersihkan dari lapisan luar’. 

Dalam filosofi Jawa, ini mengajak untuk mengupas ego dan kesalahan lahiriah.

Lontong yang padat melambangkan keteguhan hati setelah dibersihkan.

· Islam: Mengajarkan pentingnya penyucian jiwa dan saling memaafkan (mohon maaf lahir batin), seperti mengupas “kulit” dosa yang tampak.

Halalbihalal sekaligus evaluasi dan persiapan Posga pada 06 April 2026. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

BAKSO & LONTONG SAYUR
· Budaya Jawa: Bakso yang bulat melambangkan kebulatan tekad untuk memperbaiki hubungan. 

Lontong sayur dengan kuah santan menggambarkan kerukunan yang “lembut” dan menyatu dalam keberagaman (sayur campur).

· Islam: Kebersamaan dalam halalbihalal mencerminkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman). 

Santan dalam sayur dimaknai sebagai rahmat yang melumerkan hati, sementara bakso menjadi simbol keikhlasan karena bentuknya yang sederhana dan tanpa sudut.

Rangkaian acara oleh Didik Tri Winarno

ES MANADO
· Budaya Jawa: Meski bernama “Manado”, minuman segar berisi campuran buah dan cendol ini melambangkan keragaman yang tetap dingin, manis, dan menyegarkan—seperti masyarakat RW02 yang heterogen namun rukun setelah bersalaman. 

Nama “Manado” dapat menjadi pengingat akan persaudaraan lintas suku (Jawa dan Manado) di lingkungan tersebut.

· Islam: Kesegaran es melambangkan segarnya hati setelah saling memaafkan, sebagaimana sabda Nabi bahwa orang yang memaafkan akan dimuliakan Allah.

Campuran bahan (kelapa muda, alpukat, kolang-kaling) juga mengisyaratkan keberkahan dari keberagaman yang halal dan baik (thayyib).

Acara pagi itu juga dihadiri tamu undangan ibu Muniroh - ibu Ketua PKK RW02 dan Ibu Tri Nurjanah koordinator Lapangan KSH wilayah timur.

- InfoMedokanAyu