 |
Ilustrasi
|
InfoMedokanAyu - Surabaya seringkali dipandang sebagai kota metropolitan yang identik dengan gedung-gedung tinggi, pelabuhan sibuk, dan aktivitas industri yang tak pernah tidur.
Namun, di sisi timur kota, tepatnya di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, masih tersimpan kehidupan pesisir yang lekat dengan tambak, mangrove, dan hasil laut.
Kondisi geografis inilah yang membentuk mata pencaharian sebagian warganya sebagai nelayan, petambak, dan pencari hasil laut sejak silam.
Salah satu aktivitas yang menonjol dan menjadi fokus dalam berita ini adalah penangkapan kepiting bakau.
Bagi sebagian warga, kepiting bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga penanda identitas dan sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun.
Bapak Sumardi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", menyatakan bahwa terdapat 25 nelayan kepiting di Medokan Ayu yang tergabung dalam wadah yang ia kendalikan sejak tahun 2018.
 |
| Bapak Sumardi ketua KUB Sumber Rejeki |
Dari jumlah tersebut, 23 anggota telah memiliki perahu sebagai prasarana menangkap kepiting.
Sementara 2 anggota lainnya belum memilikinya dan aktif sebagai nelayan darat—pencari kepiting di kawasan tambak.
Menariknya, di antara para anggota terdapat dua sosok senior berusia sekitar 70 tahun, yaitu Bapak Djaimin dan Bapak Slamet, yang telah menekuni usaha ini sejak masa bujang.
Bapak Djaimin bahkan dikenal sebagai "raja kepiting" berkat hasil tangkapannya yang melimpah.
Aktivitas menangkap kepiting biasanya mengikuti irama pasang surut air laut.
Saat air surut, para nelayan menyusuri lumpur, mencari kepiting di lubang-lubang, memasang bubu (perangkap), atau menggunakan jaring.
 |
| Perangkap kepiting "bubu naga" yang banyak dijual di pasar online |
Ada yang melakukannya pada pagi hari, sore, bahkan malam hari.
Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul atau langsung kepada pembeli.
Bagi sebagian warga, kepiting menjadi sumber penghasilan utama; bagi sebagian lain, menjadi penghasilan tambahan di samping mengantar wisatawan memancing dengan perahu.
Meski demikian, kehidupan nelayan kepiting tidak lepas dari berbagai tantangan.
Perubahan cuaca, pencemaran perairan, alih fungsi lahan, berkurangnya area mangrove, serta pembangunan kawasan pesisir dapat memengaruhi hasil tangkapan.
Harga yang tidak stabil, keterbatasan modal, dan akses pasar juga menjadi persoalan tersendiri yang harus dihadapi para nelayan.
 |
| Perahu untuk pencari Kepiting. |
Tulisan ini merupakan langkah awal untuk mengenal Medokan Ayu dan kepiting, sekaligus bekal untuk menelusuri lebih dalam:
- bagaimana nelayan kepiting di Medokan Ayu menjalani pekerjaannya,
- bagaimana strategi mereka menghadapi tantangan,
- serta potensi apa yang dapat dikembangkan.
Tulisan bernuansa kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan pesisir, dan perumusan kebijakan yang berpihak pada warga nelayan.
Dengan memahami kehidupan mereka, berarti pula tidak hanya melihat kepiting sebagai komoditas, tetapi juga sebagai penanda identitas dan sumber penghidupan kampung pesisir kawasan Medokan Ayu.
Lihat halaman terkait: