InfoMedokanAyu – Sebutan "Kampung Nelayan" di Medokan Ayu mungkin sering terdengar. Namun, tahukah bahwa istilah ini memiliki makna yang jauh berbeda dari yang dibayangkan banyak orang?
Kampung Nelayan Medokan Ayu bukanlah kawasan pemukiman tempat para nelayan bertempat tinggal. Lebih tepatnya, adalah sebuah tempat berkumpul yang hidup selama 24 jam, mengikuti irama pasang surut air laut.
![]() |
| Di depan Gubug Istirahat, selalu ada nelayan. Foto: Wasis. |
Di lokasi inilah para nelayan bertemu, beristirahat, dan bersiap—baik sebelum berangkat maupun sesudah kembali dari melaut.
Tak heran jika kawasan ini juga menjadi lokasi strategis untuk menambatkan perahu-perahu mereka.
![]() |
| Gubug Istirahat di siang hari |
Dari Gubug Istirahat hingga Musala: Jejak Perkembangan Sejak 2020
Eksistensi Kampung Nelayan Medokan Ayu semakin terasa sejak tahun 2020.
Saat itu, bertepatan dengan awal pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) membangun "gubug istirahat" bagi para nelayan.
Bangunan semi permanen ini menjadi tempat singgah yang nyaman bagi mereka yang hendak berangkat atau baru saja kembali dari laut.
Perkembangan tak berhenti di situ. Pada tahun 2023, sebuah musala berdiri, diinisiasi oleh tokoh Medokan Ayu, Arif Fathoni.
Kelengkapan tempat wudhu dan tandon air pun turut dibantu oleh Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, setelah beliau meninjau langsung kondisi Kampung Nelayan.
![]() |
| Paling ujung Barat Warkop |
Semangat Baru: Warung Kopi, Penerangan, dan Senyum Para Nelayan
Tahun 2023 menjadi titik balik yang membahagiakan bagi para nelayan.
Pada tahun itu sebuah warung kopi didirikan atas inisiatif seorang nelayan, menjadi tempat ngobrol santai sambil menikmati aneka makanan dan minuman. Suasana pun semakin hidup.
Yang lebih menggembirakan, penerangan listrik dari PLN mulai menyala.
Jika dulu kawasan ini gelap, kini berubah terang.
Bahkan saat ini, kehadiran Penerangan Jalan Umum (PJU) membuat Kampung Nelayan terang benderang.
Senyum para nelayan pun tak bisa disembunyikan.
Harapan dan Tantangan yang Masih Membentang
Atas kemajuan ini para nelayan bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Namun, mereka juga menyadari masih ada beberapa kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi.
Kebutuhan air bersih dari PDAM, misalnya, masih harus dibeli dari mobil tangki.
Selain itu, akses jalan utama menuju Kampung Nelayan masih berupa tanah—sangat kontras dengan kondisi jalan di sisi selatan sungai yang sudah berpaving.
![]() |
| Pada jembatan akhir Medokan Sawah Timur, lurus 100M (tampak mobil) disitulah Kampung Nelayan. Bila belok kanan melintasi jembatan, itu arah ke Ekowisata Mangrove. |
Regenerasi dan Dinamika Kelompok Usaha Bersama
Satu hal yang membanggakan, Kampung Nelayan kini didominasi oleh generasi muda. Mayoritas berusia di bawah 40 tahun, membawa semangat dan ide-ide baru.
Sebelumnya, di kawasan ini hanya ada satu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan bernama "Sumber Rejeki" dengan anggota maksimal 25 orang, yang diketuai oleh Sumardi.
Kini, telah terbentuk pula KUB serupa dengan nama "Pinggir Karang", diketuai oleh Mochamad Acep Bahrudin, dengan 13 anggota. KUB baru ini sedang dalam proses pengurusan badan hukum.
Simbol Perjuangan dan Kolaborasi
Dengan segala dinamika dan perkembangannya, Kampung Nelayan Medokan Ayu bukan sekadar tempat berkumpul.
Kampung Nelayan ini adalah simbol perjuangan, kolaborasi, dan harapan baru bagi para nelayan di kawasan ini.
Mari kita dukung terus kemajuan nelayan!





.jpg)
.jpg)













.jpg)










.jpg)









