Sabtu, 07 November 2026

Sorotan Minggu Ini: Kabar Nasional & Dampaknya bagi Warga Medokan Ayu


Rubrik “Kabar Nasional untuk Warga” — Edisi Minggu, 8 November 2026. Rubrik ini hadir setiap Minggu, dan dikemas dengan “kacamata lokal”

InfoMedokanAyu - Warga Medokan Ayu yang budiman, isu nasional sering kali terasa jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, beberapa peristiwa pekan ini menyimpan dampak yang perlu kita sigapi bersama, mulai dari harga pangan di pasar hingga keamanan lingkungan dan perlindungan keluarga. 

Berikut rangkuman dan poin-poin yang perlu kita perhatikan.

Harga Pangan: Mahalnya Ayam dan Minyakita di Pasar Medokan Sawah

Berita nasional tentang aksi Women's March Jakarta yang menuntut penurunan harga bahan pokok ternyata bukan isu yang jauh dari kita. 

Di Pasar Medokan Sawah-Medokan Ayu, pada Selasa, 13 Oktober 2026 harga daging ayam dan Minyakita memang tercatat melambung. 

Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono bahkan melakukan sidak dan menemukan harga ayam mencapai Rp35.000–Rp40.000 per kilogram, jauh di atas harga dari peternak sekitar Rp19.000. Sementara Minyakita dijual hingga Rp21.000 per liter, padahal HET-nya Rp15.700. 

Di pasar Soponyono Rungkut pada awal November tercatat harga Rp 16.000 hingga Rp 17.000/liter.

Yang perlu disigapi warga:

  • Cermati harga saat belanja. Jika menemukan harga jauh di atas HET, warga dapat melaporkannya ke Satgas Pangan atau pemerintah kelurahan agar ditindaklanjuti.
  • Manfaatkan pasar murah. Pemerintah dan beberapa lembaga memang pernah menggelar operasi pasar di Medokan Ayu. Pantau informasi dari kelurahan atau RW masing-masing.
  • Perkuat ketahanan pangan rumah. Warga Perumahan Kosagrha telah membuktikan bahwa lahan tidur bisa disulap menjadi kebun produktif. Langkah kecil ini bisa menjadi penyangga saat harga pangan nasional bergejolak.

Perlindungan Perempuan dan Anak: Belajar dari Kasus Madiun dan Medokan Ayu

Kementerian PPPA menyerukan penguatan perlindungan perempuan dan anak menyusul kasus kekerasan yang menewaskan seorang ibu dan anaknya di Madiun. 

Seruan ini relevan dengan pengalaman kita sendiri: kasus balita luka di daycare kawasan Medokan Ayu dan kasus anak penyandang disabilitas di Tambak Medokan Ayu sempat menjadi perhatian.

Yang perlu disigapi warga:

  • Perkuat komunikasi keluarga. Jangan ragu melapor jika mengetahui atau mengalami kekerasan. Satgas PPA Kelurahan Medokan Ayu dan layanan PUSPAGA tersedia untuk mendampingi.
  • Awasi layanan penitipan anak. Jika menggunakan jasa daycare, pastikan izin, SOP pengasuhan, dan pengawasan sesuai standar perlindungan anak.
  • Aktif di Posyandu Keluarga. Posyandu di Medokan Ayu tidak hanya melayani balita, tetapi juga remaja, dewasa, dan lansia. Jadikan ruang ini untuk saling mengingatkan dan mendeteksi dini risiko kekerasan dalam rumah tangga.

Penembakan di Pidie: Menjaga Kondusivitas, Menolak Provokasi

Insiden penembakan di Pidie, Aceh, yang menimbulkan korban jiwa telah mendorong Komnas HAM untuk menyelidiki secara independen. 

Meski peristiwanya jauh dari Surabaya, pesan yang perlu kita ambil adalah pentingnya menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum pasti.

Yang perlu disigapi warga:

  • Saring informasi dari media sosial. Kasus pembakaran camp pekerja di Tambrauw juga diwarnai imbauan polisi agar masyarakat tidak terprovokasi hoaks. Kebiasaan cek fakta sebelum menyebarkan informasi adalah bentuk nyata menjaga keamanan lingkungan kita.
  • Perkuat ronda dan komunikasi antarwarga. Keamanan lingkungan Medokan Ayu selama ini ditopang oleh kebersamaan warga, Babinsa, dan pos kamling. Jangan biarkan isu nasional yang memanas merusak suasana guyub yang sudah terbangun.

Erupsi Gunung Dukono: Waspada Dampak Abu Vulkanik

Gunung Dukono di Maluku Utara erupsi pada Sabtu (7/11) dengan kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter, dan warga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 4 km dari kawah. Meski lokasinya jauh, abu vulkanik dapat berdampak pada kesehatan pernapasan dan penerbangan.

Yang perlu disigapi warga:

  • Jika memiliki keluarga atau kerabat yang akan bepergian via udara, pantau informasi maskapai terkait potensi gangguan jadwal.
  • Jaga kesehatan pernapasan. Bagi warga Medokan Ayu yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan, tetap waspada terhadap perubahan kualitas udara, terutama jika abu vulkanik terbawa angin.

Pesan Utama
Berita nasional bukan sekadar tontonan. Dari harga ayam di pasar Medokan Sawah-Medokan Ayu, perlindungan anak di lingkungan terdekat, hingga menjaga ketenangan menghadapi isu yang memanas—semuanya punya titik singgung dengan kehidupan kita sebagai warga. 

Mari sikapi dengan cermat, tenang, dan tetap mengedepankan kebersamaan.

InfoMedokanAyu — merajut informasi dan potensi kawasan Medokan Ayu, dari isu lokal hingga nasional yang berdampak nyata.

Jumat, 06 November 2026

Masjid Imaduddin Awali Rapat Perdana Persiapan Peringatan Isra Mi'raj 2027

Rapat perdana peringatan Isra Mi'raj masjid Imaduddin pada Jumat, 6 November untuk gebyar pada 2027. Foto: Didik Tri Winarno

InfoMedokanAyu - Masjid Imaduddin, yang beralamat di Jl. Masjid 132, Medokan Kampung, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, pada Jumat, 6 November ini telah mengawali rapat perdana persiapan peringatan Isra Mi'raj yang rencananya akan digelar gebyarnya pada 16 Januari 2027.

Pada rapat perdana yang ketua RW Bapak Ahnad Ro'in, S.Pd.I. ini, pertemuan berlangsung dengan mengundang seluruh ketua RT 01 sampai RT 12 RW 02 Medokan Kampung, Medokan Ayu. 


Dalam kepanitiaan, H. Moch. Nadir, SH., MH. dipercaya sebagai Ketua Panitia, sementara KH. Lukman Syafi'i dari Blitar dijadwalkan hadir sebagai pembicara.

H. Moch. Nadir, SH., MH. 

Dari persiapan yang panjang ini, tampak acara yang digelar oleh Masjid Imaduddin, tempat ibadah tertua di Medokan Ayu, ingin memberikan yang terbaik.

Di antara peserta rapat perdana. Foto: Didik Tri Winarno


Makna dan Hikmah Isra Mi'raj

Peringatan Isra Mi'raj bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum spiritual yang sarat makna bagi umat Islam.

Peristiwa agung ini merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam, di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan salat bagi umat Islam, karena salat adalah tiang agama.

Isra Mi'raj mengajarkan umat Islam untuk merefleksikan nilai-nilai ibadah sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupan.

Peringatan ini menjadi momen untuk memperkuat keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. 

Hal itu juga sekaligus pengingat akan pentingnya kesabaran dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Selain dimensi vertikal (hablun minallah), Isra Mi'raj juga mengandung pesan sosial yang kuat. Yakni bagaimana hubungan dengan Tuhan berimplikasi pada hubungan persaudaraan sesama manusia (hablun minan nas).

Dengan persiapan matang yang telah dimulai oleh Masjid Imaduddin, diharapkan peringatan Isra Mi'raj nanti tidak hanya menjadi acara seremonial semata.

Peringatan ini diharapkan benar-benar mampu menghadirkan nilai-nilai spiritual yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Medokan Ayu.

Senin, 26 Oktober 2026

Sungai Bingung di Medokan Ayu: Antara Kebutuhan dan Kelalaian Perawatan

Kondisi selokan sekaligus pembatas depo sampah dan pemukiman warga RT 01 RW 02. Endapannya sangat tebal

InfoMedokanAyu — Menyambut musim hujan yang semakin dekat, keberadaan saluran air yang membatasi kawasan Perumahan YKP dengan RW 01 dan RW 02 di Medokan Ayu, Surabaya, menjadi sorotan.

Untuk RW 03 dan Perumahan YKP, batas wilayah tidak berupa selokan. Namun, selokan di Jl. Wonoayu perlu mendapat perhatian. Sudah lebih dari lima tahun selokan tertutup itu belum pernah dikeruk endapannya.

Kondisi selokan, sekaligus batas perumahan YKP dan RW 01. Gambar dipotret dari posisi belakang TK Al Fajar. Selokan ini tembus ke Sungai besar Kebon Agung - pembatas Medokan Ayu dan Gunung Anyar.

Sepanjang kurang lebih satu kilometer, selokan yang menjadi batas Perumahan YKP, RW 01, dan RW 02 — yang semula memiliki lebar hampir 2 meter — kini sebagian telah menyempit hingga tersisa hanya 1 meter. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga akan menurunnya fungsi drainase kawasan.

Menurut H. Nawawi Ahmad, pemerhati masalah banjir di Medokan Ayu, kondisi selokan tersebut terkesan kumuh dan boleh dikatakan tidak terawat. 

Pada perkembangannya, saluran itu pun dinilai tidak mampu lagi mengalirkan air dari curah hujan. Akibatnya, ketika hujan lebat mengguyur, sebagaimana tahun lalu air meluber ke jalanan dan mengganggu aktivitas warga.

Atas kondisi yang memprihatinkan itu, Sudirno Sanjaya, warga YKP MA2 RW 07 yang pernah menjadi pengurus LKMK pada periode kepengurusan 2010–2016 dan 2019–2022, menamakan selokan tersebut sebagai "Sungai Bingung." 

Masih ada hasil kerukan di glansing yang tertinggal di selokan pintu masuk depo sampah. Ini mengurangi kelancaran aliran air menuju sungai Avoer, Medokan Ayu.

Penamaan itu menggambarkan kondisi ironi: keberadaannya sangat dibutuhkan, tetapi perawatannya sangat kurang, sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal.

Penyempitan saluran dari sekitar 2 meter menjadi 1 meter di sepanjang hampir satu kilometer menunjukkan persoalan yang tidak ringan. 

Selain mengurangi kapasitas tampung air, kondisi ini berpotensi memperparah genangan saat musim hujan. 

Warga berharap ada perhatian serius dari pihak terkait — baik pemerintah kelurahan, kecamatan, maupun dinas terkait — untuk melakukan normalisasi dan perawatan rutin agar "Sungai Bingung" kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur drainase bukan sekadar pelengkap kawasan, melainkan bagian penting dari sistem pengendalian banjir. 

Tanpa perawatan yang konsisten, saluran yang semula dirancang untuk mengalirkan air justru menjadi sumber masalah bagi warga di sekitarnya.

Selokan RW 02 dan Perumahan YKP GPA

Sementara itu, selokan batas RW 02 dan Perumahan YKP Griya Pesona Asri (GPA) telah menjalani normalisasi pada 26 Juli 2026. 

Normalisasi itu dilakukan melalui kerja bakti oleh warga RT 01 RW 02. Kini kondisi aliran air sudah lancar. Kegiatan kerja bakti tersebut terlihat pada foto-foto di bawah ini.








Artikel ini dikembangkan dari laporan warga mengenai kondisi selokan di Medokan Ayu, Surabaya.

Artikel terkait Banjir:



Sabtu, 24 Oktober 2026

Panas 32°C di Medokan Ayu, dan Hati yang Belajar Tidak Mengeluh


InfoMedokanAyu (Esai Inspiratif) - Siang itu, berdasarkan informasi cuaca suhu di Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya mencapai 32°C dengan kelembapan 57%. Angka itu mungkin terdengar biasa di layar ponsel. Tetapi bagi Rara, warga Medokan Ayu, angkanya terasa seperti undangan untuk mengeluh seharian.

“Panas sekali. 32 derajat, lembap pula. Kipas tidak membantu. Kenapa sih Surabaya harus sepanas ini?” keluhnya sambil membuka pintu rumah. Udara siang langsung menyambutnya seperti hawa dari oven.

Hari-hari berikutnya, keluhan Rara hampir tidak berubah. Ia mengeluh saat berangkat kerja, mengeluh saat listrik mati, mengeluh saat keringat membasahi baju, dan mengeluh lagi saat malam terasa gerah. 


Di media sosial, isinya tentang cuaca Medokan Ayu yang panas. Awalnya teman-teman menanggapi. Lama-lama mereka hanya membaca diam-diam. 

Rara sendiri merasa lelah, tetapi ia belum tahu harus berbuat apa selain mengeluh.

Suatu sore, saat suhu kembali terasa menyengat, Rara melihat Bu Salma, tetangganya, sedang menyiram tanaman di pot-pot kecil dengan air bekas cucian beras. 

Peluh di dahi Bu Salma juga mengalir. Namun tangannya tenang, dan wajahnya tidak menunjukkan rasa kesal.

“Bu, tidak panas? Saya sudah tidak tahan,” kata Rara.

Bu Salma tersenyum. “Panas, Nak. Saya juga kepanasan. Tapi kalau saya mengeluh seharian, tanaman tetap butuh air, dan hati saya justru tambah kering.”

Rara terdiam.

Bu Salma melanjutkan, “Cuaca di Medokan Ayu ini tidak bisa saya suruh berubah. Yang bisa saya lakukan adalah menyesuaikan diri. Saya bangun lebih pagi, menyiram tanaman sebelum matahari terik, memakai air seperlunya, dan berbagi air untuk tanaman kecil agar halaman tidak terlalu gersang. Sisanya saya pasrahkan.”


Malam itu, Rara tidak menulis keluhan baru di media sosial. Ia duduk di teras, menikmati angin malam yang akhirnya datang. 

Ia mulai sadar, seharian ia sibuk melawan panas dengan kata-kata. Tetapi panasnya tidak berkurang. Yang bertambah justru rasa kesal, lelah, dan tidak tenang.

Besoknya, Rara mencoba hal kecil. Ia bangun lebih pagi dan membuka jendela lebar-lebar sebelum matahari naik. Ia menyiapkan air minum untuk keluarganya. 

Saat siang terasa menyengat, ia tidak langsung mengeluh. Ia bertanya pada diri sendiri, “Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

Ia memindahkan tempat duduk ke bagian rumah yang lebih sejuk. Ia menutup gorden saat matahari tepat di atas kepala. Ia berbagi air minum dengan tukang bangunan di dekat rumah. Dan setiap malam, ia menulis tiga hal yang masih bisa disyukuri: angin yang datang, air yang masih tersedia, keluarga yang sehat, dan malam yang lebih dingin.

Perubahan itu tidak langsung membuat Medokan Ayu sejuk. Suhu 32°C dengan kelembapan 57% tetap terasa menyengat. Debu tetap beterbangan. Tetapi hati Rara perlahan berbeda. 

Ia mulai melihat bahwa di tengah panas, masih ada tetangga yang berbagi air, langit senja yang jingga, dan malam yang membawa kesejukan. 


Ia mulai memahami bahwa mengeluh memang melegakan sesaat, tetapi jika menjadi kebiasaan, ia justru menjauhkan diri dari syukur dan ketenangan.

Suatu siang, temannya bertanya, “Kamu tidak panas lagi?”

Rara menjawab, “Masih. Info cuaca di Medokan Ayu tetap menunjukkan 32°C dan kelembapan 57%. Tapi saya tidak mau menghabiskan energi hanya untuk mengeluh. Panasnya sama, tetapi hati saya bisa memilih untuk tetap tenang.”

Musim kemarau mengajarkan Rara satu hal: tidak semua yang tidak nyaman harus diselesaikan dengan keluhan. 

Kadang, yang perlu diubah bukan cuacanya, melainkan cara kita menyikapinya. Karena keluhan yang terus berulang bisa membuat kita buta pada hal-hal kecil yang masih layak disyukuri—dan menjauhkan kita dari ketenangan yang sebenarnya bisa kita rawat, bahkan di tengah panasnya Medokan Ayu.

Pesan cerita:

Mengeluh boleh, tetapi jangan biarkan ia menjadi kebiasaan. 

Saat menghadapi panasnya musim kemarau—atau masalah hidup lainnya—cobalah berhenti sejenak, cari satu hal yang bisa disyukuri, dan ambil satu langkah kecil yang bisa dilakukan. Karena ketenangan tidak selalu datang dari keadaan yang berubah, tetapi dari hati yang belajar bersyukur dan bertindak.

Semoga esai inspiratif ini menjadi pengingat kecil bagi warga Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya—dan siapa pun yang sedang belajar menjalani panas hidup dengan hati yang lebih tenang.

Salam hangat,


Kamis, 22 Oktober 2026

Waspada Musim Hujan: Jejak Pasca-Banjir sebagai Indikator Praktis Menemukan Titik Lemah Drainase


InfoMedokanAyu — Musim hujan tak lama lagi akan datang. Namun, kegiatan antisipasi banjir kerap belum terlihat gregetnya. Padahal, pencegahan jauh lebih baik daripada respons darurat setelah banjir terjadi. Sebelum genangan dan banjir berulang, warga dan pemangku kepentingan perlu melakukan penilaian cepat terhadap titik-titik rawan.


Salah satu cara paling praktis adalah memperhatikan jejak-jejak pasca-banjir. Setelah hujan lebat dan air menyusut, jejak yang tertinggal di permukaan dapat menjadi indikator awal yang mudah dipahami tanpa memerlukan data teknis. 

Indikator visual ini cocok untuk penilaian cepat dan mudah dipahami masyarakat umum.

Namun, untuk memastikan penyebabnya—apakah karena kapasitas drainase kurang, pemeliharaan buruk, atau tata ruang yang tidak mendukung—tetap diperlukan pengecekan teknis.

Pencegahan Lebih Baik?

Banjir sering kali ditangani setelah terjadi. Karung pasir, pompa darurat, dan evakuasi memang penting, tetapi sifatnya reaktif. 

Pencegahan melalui pembersihan drainase, perbaikan saluran, dan penguatan tata ruang lebih murah, lebih aman, dan mengurangi risiko kerugian.

Jika kegiatan antisipasi belum terlihat gregetnya, jejak pasca-banjir bisa menjadi alarm awal. 

Jejak itu menunjukkan di mana titik lemah drainase berada dan seberapa serius masalah yang harus ditangani sebelum hujan berikutnya.

Indikator Paling Mudah Dipahami Pasca-Banjir


1. Garis endapan lumpur atau sampah di dinding, pagar, atau batang pohon

Ini indikator visual paling jelas. Garis cokelat khas endapan lumpur pada dinding rumah, tiang listrik, atau pagar menunjukkan seberapa tinggi air pernah naik dan berapa lama air menggenang. Endapan yang tebal biasanya menandakan genangan berlangsung lama. Indikator ini mudah dipahami siapa saja.

2. Sampah dan sedimen menumpuk di mulut saluran atau gorong-gorong

Setelah air surut, periksa mulut drainase, gorong-gorong, atau parit. Jika masih tersumbat sampah, ranting, atau lumpur padat, itu bukti langsung bahwa pemeliharaan drainase buruk—dan menjelaskan mengapa genangan lama surut.


3. Parit atau saluran masih penuh atau mengalir lambat

Jika setelah hujan berhenti beberapa jam saluran drainase masih penuh atau air mengalir sangat lambat, itu tanda kapasitas tidak memadai atau ada penyumbatan. Kondisi ini mudah diamati dan dipahami.

4. Bekas genangan di permukaan beraspal atau beton

Noda air, lumut, atau lapisan lumpur tipis di jalan dan paving yang mengering menunjukkan area yang paling lama tergenang. Ini petunjuk titik lemah drainase.


5. Sisa material atau bekas karung pasir dan peralatan darurat

Jika setelah banjir surut masih ada karung pasir, pompa darurat, atau peralatan yang ditinggalkan, itu menunjukkan respons darurat bersifat reaktif, bukan antisipatif.


6. Kerusakan berulang pada titik yang sama

Jika warga sekitar dapat menunjukkan bahwa “setiap hujan lebat, titik ini pasti tergenang”, itu indikator sosial yang sangat kuat. 

Hal ini menunjukkan masalah struktural yang tidak pernah ditangani, bukan sekadar hujan ekstrem.

Indikator Ini Mudah Dipahami?

Semua indikator tersebut berbasis pengamatan langsung, baik visual maupun pengalaman warga. Tidak diperlukan data curah hujan, kapasitas pompa, atau peta drainase. 

Cukup berjalan keliling kawasan setelah air surut, dan jejak-jejak ini langsung memberi gambaran apakah antisipasi banjir di kawasan tersebut masih rendah.

Langkah Cepat Sebelum Musim Hujan

  • Bersihkan saluran dan gorong-gorong dari sampah serta sedimen.
  • Catat titik-titik yang berulang kali tergenang.
  • Koordinasikan perbaikan drainase dengan pengurus lingkungan atau instansi terkait.
  • Hindari membuang sampah ke saluran air.
  • Dorong perbaikan permanen, bukan hanya respons darurat saat banjir datang.
Dengan mengenali jejak pasca-banjir sejak sekarang, masyarakat dapat lebih waspada dan mendesak perbaikan drainase sebelum musim hujan tiba. 

Pencegahan bukan sekadar wacana; ia adalah tindakan yang lebih baik daripada menunggu banjir datang dan menyesal setelahnya.

 Oleh : Priono Subardan

Artikel terkait Banjir:





Minggu, 18 Oktober 2026

Majlis Dzikir dan Maulid Lengkap di Langgar Besar Miftahul Huda Medokan Ayu: Ribuan Jamaah Membludak hingga 2.500 Orang

Bapak Hendro Fridiyanto dari TNI dan Bapak Sofian Maulana, S.H., dari Kepolisian mewakili kesatuannya hadir pada acara Majlis Dzikir.

InfoMedokanAyu — Sebuah acara "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lenigkap telah berlangsung di Langgar Besar Miftahul Huda, Jl. Wonoayu, RT03/RW03, Medokan Ayu, Surabaya, pada malam Sabtu, 17 Oktober 2026. 

Acara ini diperkirakan dihadiri 750 orang. Namun, panitia menyiapkan konsumsi hingga 4 kali lipat, mengingat pengalaman acara serupa di tempat lain yang pesertanya membengkak.

Ketua RW08 Bapak Khusen (kiri) turut menyambut dan membagikan konsumsi kepada hadirin.

Hadirin mulai berdatangan

Pada acara semalam, peserta yang hadir sebelum Maghrib masih sedikit, sekitar 300 orang. Namun, pada pukul 19.30, jumlah peserta yang hadir mengalir deras. Hingga acara berakhir pukul 22.00, diperkirakan yang hadir sekitar 2.500 orang.

Malam itu, peserta yang hadir dengan rombongan menggunakan angkutan kota relatif banyak. Bahkan, ada pula rombongan yang hadir dengan menggunakan mobil pickup. 

Salah satunya mobil pickup "koperasi desa" yang bak belakangnya berisikan ibu-ibu jamaah, antara lain datang dari Kecamatan Krembangan.

Di antara peserta hadir dengan mobil bak terbuka, dengan penumpang penuh.

Antusiasme Warga dan Kehadiran Para Kyai
Karena kegiatan ini merupakan yang pertama berlangsung di Medokan Ayu, warga setempat juga antusias. 

Terlihat yang hadir bukan hanya warga Medokan Ayu, tetapi juga dari kecamatan-kecamatan lain. 

Pun para kyai banyak hadir. Termasuk KH. Mas'ad Azayah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amiroh yang terletak di kawasan Penjaringan Sari, Rungkut, Surabaya. 

Bertemu pula dengan KH. Machrus dan Ustadz Ahmad Nawawi, dari keluarga Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad, Medokan Kampung RW02.

Ketua RW 10 Bapak Ekky Widya Prananta dan Ketua RW 01 Bapak Supangin turut mensukseskan acara.

Juga tidak ketinggalan para Ketua RW di Medokan Ayu banyak hadir.  Ketua RW 11 Bapak Kasban terlihat di jl. KUD. Sementara ketua RW01 Supangin tampak bebarengan dengan ketua RW10 Okky Widya Prananta.

Menurut ketua pelaksana acara, H. Nawawi Ahmad, yang juga mantan ketua LPMK, acara ini sengaja dibuat lengkap. "Ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sarana pendidikan spiritual bagi jamaah untuk mencintai Nabi dan para wali," katanya.

Ia menambahkan, acara ini sekaligus memperkuat ikatan sosial keagamaan di lingkungan Medokan Ayu, Surabaya. Disadari, dukungan masyarakat sejak persiapan sangat berarti. Tanpa dukungan warga, kegiatan ini tak berarti apa pun.

Berjejal angkutan kota pengantar jamaah dari berbagai kecamatan.

Acara "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lengkap itu terlihat dari susunan acaranya secara detail:

1. Tawasulan
2. Pembacaan Surat Yasin
3. Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
4. Mahallul Qiyam
5. Sambutan-sambutan
6. Ceramah Agama oleh KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag.
7. Doa

Susunan acara itu, mengisyaratkan sebagai rangkaian ibadah tradisional Islam yang khas dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan komunitas Islam tradisional di Jawa, dengan makna inti untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara (tawasul), memuliakan Nabi Muhammad SAW, serta meneladani para wali Allah.

Secara keseluruhan, acara ini menggabungkan tiga dimensi: memohon berkah, mengenang dan merenung, serta mempererat silaturahmi.

Makna Spesifik dari Setiap Bagian Acara

1. Tawasulan (Tawasul)
Ini adalah pembuka seluruh acara. Tawasul berarti "mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara." 

Dalam tradisi ini, jamaah menyebutkan nama Nabi, para wali, atau ulama saleh seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan keyakinan bahwa melalui kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Allah, doa akan lebih mudah dikabulkan. 

Tujuannya bukan menyembah perantara, melainkan menjadikan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sesi pembacaan Yasin

Saat pembacaan Yasin, jamaah hadir mulai mengalir.

2. Pembacaan Surat Yasin
Dalam tradisi Islam Nusantara, Surat Yasin disebut sebagai "jantung Al-Qur'an." 

Membacanya pada acara seperti ini biasanya dimaksudkan untuk mengharap berkah dan ampunan, mendoakan arwah (jika dikaitkan dengan haul), serta memohon ketenangan hati dan kemudahan urusan bagi jamaah yang masih hidup. 

Ini juga merupakan bentuk interaksi langsung dengan Al-Qur'an sebagai media ibadah.

Diatas jalanan lebar 6M, jamaah putri berlesehan panjang di selatan Panggung

Jamaah di utara panggung yang memanjang hingga 100 M lebih.

3. Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Ini adalah kegiatan membaca riwayat hidup (biografi), akhlak mulia, dan karamah (keajaiban) seorang wali besar dalam Islam, Syekh Abdul Qadir al-Jailani. 

Maknanya bukan sekadar membaca cerita, tetapi mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam, memohon berkah dan syafaat melalui beliau (sebagai bagian dari tawasul), serta meneladani kesalehan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Mahallul Qiyam

4. Mahallul Qiyam (Berdiri)
Ini momen paling khidmat dalam acara Maulid. Ketika pembacaan riwayat sampai pada kelahiran Nabi Muhammad SAW, seluruh jamaah berdiri sambil melantunkan shalawat. 

Berdiri ini bukanlah rukun ibadah yang wajib, melainkan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi. 

Diyakini bahwa pada saat itu Nabi Muhammad SAW "hadir" secara spiritual dalam majelis tersebut, sehingga berdiri adalah wujud penyambutan dan penghormatan kepada beliau. 

Pada momen Mahallul Qiyam ini, seluruh peserta dzikir di depan panggung memperoleh percikan minyak wangi.

H. Nawawi Ahmad, Ketua Pelaksana Acara menyampaikan sambutan ucapan terima kasih kepada warga.

5. Sambutan-sambutan
Bagian ini bersifat sosial dan organisasi. Di antara tokoh yang memberikan sambutan adalah ketua pelaksana acara, H. Nawawi Ahmad, sekaligus pengurus langgar. 

Makna dari sambutan H. Nawawi Ahmad adalah menyampaikan rasa terima kasih kepada jamaah, serta menjelaskan pentingnya acara ini bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat di lingkungan Medokan Ayu tersebut.

KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag., memberikan pencerahan

6. Ceramah Agama
Ini adalah inti penyampaian ilmu. KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag., yang merupakan Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, hadir sebagai penceramah. Sosok Mubarok ini juga sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fitrah Kedinding, Surabaya.

Dalam ceramahnya, Ustadz Mubarok memfokuskan uraian singkat tentang majelis dzikir, mengingat waktu yang terbatas. 

Ustadz Mubarok menekankan, majelis dzikir bukan alat untuk sukses dunia (karier, harta, jabatan), melainkan jalan pembinaan spiritual agar umat Muslim mencapai tujuan hakiki mereka, yaitu kebahagiaan di akhirat dan kedekatan dengan Allah. 

Dengan demikian, majelis dzikir membantu masyarakat Muslim berhasil memenuhi cita-citanya yang bukan duniawi, yakni bahwa majelis dzikir berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan ukhrawi (akhirat), bukan tujuan materiil atau keduniaan.

7. Doa Penutup
Acara ditutup dengan doa bersama. Ini adalah puncak dari semua rangkaian: memohon kepada Allah agar berkah dari bacaan Yasin, Manaqib, dan shalawat yang telah dilantunkan dapat memberikan manfaat (seperti kesehatan, rezeki, keselamatan, dan ampunan), serta mendoakan para ulama, leluhur, dan seluruh jamaah yang hadir.

Anggota pengamanan Banser Putri turut menyukseskan acara.

Kesimpulan
Acara pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026 di Langgar Besar Miftahul Huda ini adalah sebuah "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lengkap. 

Ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sarana pendidikan spiritual bagi jamaah untuk mencintai Nabi dan para wali, serta memperkuat ikatan sosial keagamaan di lingkungan Medokan Ayu, Surabaya.

Antusiasme jamaah yang membengkak dari perkiraan awal 750 orang menjadi sekitar 2.500 orang—bahkan panitia menyiapkan konsumsi 4 kali lipat—menjadi bukti kuatnya ikatan sosial keagamaan warga. 

Kehadiran para kyai, termasuk KH. Mas'ad Azayah, serta para ketua RW di Medokan Ayu, menambah semarak dan khidmat acara pertama kali di wilayah ini.


Sabtu, 17 Oktober 2026

Khotmil Qur’an Digelar Usai Subuh, Harapan Besar untuk Kesuksesan Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW dan Manaqib Kubro di Medokan Ayu

Sabtu, 17 Oktober 2026. Usai subuh dilanjut Khotmil Qur’an dalam rangkaian persiapan akhir Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW dan Manaqib Kubro digelar malam nanti. Foto: Didik Tri Winarno

InfoMedokanAyu – Khotmil Qur’an dalam rangkaian Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW dan Manaqib Kubro digelar pagi ini, Sabtu, 17 Oktober 2026, di Langgar Besar Miftahul Huda, Medokan Ayu, Surabaya. Kegiatan ini dimulai sejak usai Salat Subuh dan berlangsung dengan khidmat.

Khotmil Qur’an menjadi bagian penting dari rangkaian acara sebelum puncak Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW dan Manaqib Kubro. Panitia menaruh harapan besar agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, aman, dan khusyuk, serta memberikan manfaat bagi para jamaah yang hadir.

Khotmil Qur'an

Malam sebelumnya, Jumat, 16 Oktober 2026, panitia telah melakukan persiapan akhir, terutama penataan sound system dan lampu-lampu. Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan acara dapat berlangsung optimal, mengingat perkiraan jamaah yang hadir dapat membengkak lebih dari 750 orang.

Sebelumnya, persiapan acara telah mencapai tahap optimal. Panggung utama telah berdiri, lahan parkir telah disiapkan bekerja sama dengan RW 08 Medokan Asri Utara, antara lain dengan pendayagunaan lahan parkir Masjid Asasul A’mal. Konfirmasi tamu bermobil yang akan hadir juga tercatat mencapai 50 unit.

Kebersamaan menyambut majlis dzikir, Jumat, 16 Oktober 2026

Dengan rangkaian persiapan yang telah dilakukan, panitia berharap Majlis Dzikir Maulidurrasul SAW dan Manaqib Kubro dapat berjalan lancar, aman, dan khusyuk, serta memberikan manfaat bagi seluruh jamaah.

Dengan bergotong royong, persiapan tuntas hingga mendekati pukul 24.00. Termasuk penataan sound system dan lampu-lampu.

(*)