Minggu, 04 Oktober 2026

Membaca Air yang Meluap ke Jalan — Sebuah Cara Pandang

Ilustrasi 

InfoMedokanAyu — Tetangga, sekaligus keluarga besar Medokan Ayu sekalian.

Sebentar lagi musim hujan tiba. Setiap kali hujan deras turun lama, kita tahu apa yang terjadi. Air keluar dari saluran, meluap ke jalan, kadang sampai halaman, malah masuk rumah.

Kita sudah sering mengalaminya bersama di Medokan Ayu.

Biasanya kita melihatnya sebagai masalah teknis: saluran tersumbat, air tidak lancar, hujan terlalu besar. Itu benar, dan tetap perlu ditangani.

Namun izinkan saya melalui artikel singkat ini menawarkan satu cara membaca yang lain — bukan untuk menggantikan cara kita yang biasa, melainkan untuk menambah sisi pandang.

Air sebagai Cermin
Orang Jawa punya kebiasaan lama bernama ilmu titen — mengamati tanda-tanda alam yang berulang untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi. Misalnya, kalau hujan tak berhenti lebih dari satu jam, itu tanda untuk waspada.

Dalam cara pandang ini, air yang meluap bukan sedang "marah". Air tidak punya maksud. Yang dibaca justru pesannya untuk kita: bahwa ada yang tidak lagi tertampung, ada jalur yang tidak lagi berfungsi. Air menjadi cermin — bukan cermin wajah, melainkan cermin tatanan.

Sungai yang Kehilangan Kolamnya
Ada ungkapan lama Jawa: "Kali ilang kedhunge" — sungai yang kehilangan kolamnya. Kedhung adalah cekungan di sungai tempat air mengendap dan sampah terurai. Kalau kolam itu hilang, air tidak punya tempat berhenti, dan akhirnya meluap ke tepian.

Dulu, kedhung juga diibaratkan sebagai pamong — orang tua atau sesepuh yang menjadi tempat orang bercerita, tempat masalah diendapkan sebelum meluap. 

Kalau pamong-nya hilang, keluhan dan persoalan tidak punya tempat menampung, dan akhirnya meluap juga.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Baca?
Kalau kita pakai cara pandang ini, air yang meluap ke jalan bisa dibaca sebagai tanda yang tidak bersuara. Bukan air yang protes, melainkan alam yang memberi isyarat — dan kita yang diajak membacanya.

Isyaratnya bisa bermacam-macam: saluran yang perlu dibersihkan bersama, ruang air yang perlu dikembalikan, atau mungkin juga kebiasaan kita bersama yang perlu ditata ulang.

Saya Ingin Mendengar dari Tetangga
Saya menulis ini bukan untuk mengajari, karena saya juga masih belajar. Justru saya ingin bertanya:

  • Apakah di Medokan Ayu ada cara membaca tanda alam seperti ini yang diwariskan orang tua dulu?
  • Pernahkah ada cerita atau pepatah lokal tentang air, hujan, atau saluran?
  • Menurut pengalaman tetangga, apa "pesan" yang paling sering muncul saat air meluap?

Silakan chat kami di WhatsApp: 0895-3052-6789. Mungkin dari cerita-cerita kecil itu, kita bisa belajar membaca lingkungan kita dengan lebih peka — bukan hanya lewat teknis, tetapi juga lewat kearifan yang sudah ada di antara kita.

Salam,
Halaman terkait banjir:

Ketika Selokan "Muntah" ke Jalan: Renungan Drainase dan Beban yang Tak Tertampung di Medokan Ayu

Warga di Jl. Putra Bangsa Gang 3, RT03 RW02 Mdokan Ayu kerja bhakti swadaya. Foto dokumentasi, April 2025.

Air yang Meluber: Bukan Sekadar Salah Jalan

InfoMedokanAyu - Air yang meluber dari selokan ke jalan adalah tanda bahwa sesuatu sudah melebihi kapasitasnya—baik secara teknis (drainase) maupun secara makna (beban, emosi, sistem yang gagal). 

Ia bukan sekadar air yang salah jalan, tapi air yang terpaksa keluar karena jalurnya sudah tidak bisa menampung lagi.

Inilah yang perlu kita pahami bersama, terutama bagi kita yang tinggal di Medokan Ayu.

Medokan Ayu dan Ancaman Setiap Hujan
Beberapa bulan lagi, musim hujan akan kembali. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kita di Medokan Ayu harus selalu was-was. 

Ketika hujan lebat turun, di banyak sudut kawasan kita, air justru meluber dari selokan ke jalanan—bukan mengalir sebagaimana mestinya.

Pemandangan itu mungkin sudah akrab. Tapi justru karena akrab, kita sering lupa bertanya: mengapa?

Ilustrasi: yang terlupakan

Tiga Hal yang Sering Terlupakan

1. Selokan sudah tidak mampu menampung
Ini tanda kapasitas drainase terlampaui. Entah karena hujan ekstrem, sedimentasi yang menumpuk, atau sampah yang menyumbat aliran.

2. Sistem drainase gagal berfungsi
Bukan karena airnya "nakal", tapi karena saluran yang seharusnya menjadi jalur utama justru "muntah" ke luar. 

Itu artinya, ada kegagalan infrastruktur yang perlu kita sadari bersama.

3. Air mencari keseimbangan
Prinsip bejana berhubungan: kalau satu titik penuh, air akan naik dan keluar ke permukaan yang lebih rendah atau lebih luas. 

Itu hukum alam yang tidak bisa ditawar.

Ilustrasi: Makna di balik genangan

Makna di Balik Genangan
Secara simbolis, fenomena ini juga berbicara tentang kita:

Kelebihan yang tidak tertampung
Sesuatu yang seharusnya tersalurkan dengan rapi, tapi karena kapasitasnya sudah jenuh, akhirnya tumpah ke ruang publik. 

Itu bisa menggambarkan emosi, beban, atau masalah yang dipendam terlalu lama—akhirnya meluap ke tempat yang tidak seharusnya.

Kegagalan sistem yang tersembunyi
Selokan itu "tidak terlihat", di bawah tanah. 
Ketika ia meluber ke jalan, apa yang tersembunyi jadi terlihat. 

Artinya: masalah yang diabaikan—karena tidak kelihatan—akhirnya memaksa diri untuk terlihat.

Batas yang terlampaui
Air yang keluar dari jalurnya menandakan bahwa batas sudah dilewati. Baik batas kapasitas, batas kesabaran, atau batas kemampuan menahan.

Yang tertutup tidak selalu lebih baik
Ironi: selokan dibuat tertutup supaya rapi dan aman, tapi justru ketika penuh, ia meluber ke jalan yang terbuka.

Sistem yang "disembunyikan" malah menimbulkan masalah yang lebih kelihatan.

Ilustrasi: bukan hanya tugas pemerintah

Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Memahami pentingnya saluran drainase bukan hanya tugas pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai warga Medokan Ayu.

Beberapa langkah sederhana yang bisa kita mulai:

· Tidak membuang sampah ke selokan — kebiasaan kecil yang berdampak besar.

· Melaporkan saluran yang tersumbat — jangan tunggu sampai meluber.

· Ikut kerja bakti membersihkan drainase — terutama menjelang musim hujan.

· Edukasi tetangga dan keluarga — kesadaran kolektif dimulai dari lingkaran terdekat.

Ilustrasi 

Pesan Utama
Air yang meluber ke jalan bukan sekadar masalah teknis. Ia adalah cermin: tentang kapasitas yang terbatas, sistem yang perlu diperbaiki, dan batas yang sudah terlampaui.

Medokan Ayu layak untuk lebih siap.
Mari mulai dari hal kecil, dari saluran di depan rumah kita, dari kesadaran bahwa apa yang tersembunyi tidak bisa selamanya diabaikan.

Karena ketika hujan turun—dan itu pasti akan turun—kita tidak ingin hanya was-was. Kita ingin siap.




Sabtu, 03 Oktober 2026

Sosok Bernyawa Rangkap: Abdul Ghofur (57), Warga RW 13 Medayu Utara Tetap Aktif Melaut

Tanda kuning lokasi perahu nelayan Abdul Ghofur terbalik.

InfoMedokanAyu - Abdul Ghofur (57), warga RW 13 Medayu Utara, di kalangan nelayan Medokan Ayu populer dengan sebutan “sosok bernyawa rangkap”. Pria yang memiliki putri tunggal ini masih aktif melaut hingga hari ini.

Hampir setahun lalu, ia mengalami kecelakaan di laut. Ketika itu, ia mengangkat hasil tangkapan serta alat tangkap ikan “bubu naga” sekitar 1 km di sisi timur mercusuar, yang menjadi batas pantai. 

Sekitar pukul 16.00, hasilnya luar biasa: sekitar 50 kg udang berhasil dimasukkan ke perahunya yang berukuran sekitar 80 cm x 12 meter.

Tiba-tiba angin gelonggong (istilah nelayan) dari arah selatan bertiup. Seperti biasa, angin yang sering muncul bersama hujan itu diikuti gelombang yang terus datang. 

Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan

Gelombang pun masuk ke perahu tiga kali. Kemalangan tak terhindarkan. Perahu kemasukan air hingga penuh, lalu tenggelam dan terbalik.

Ketika itu, ia tidak panik. Ia menyelam untuk mengambil ponsel yang berada di dalam timba berukuran 5 kg tertutup rapat, di bawah perahu yang terapung dalam posisi terbalik. 

Dalam situasi kalut dan terus mengingat keluarga, ia menaiki perahu terbalik itu—menurut perhitungannya, cara aman untuk menelepon bantuan ke kampung nelayan.

Timba dibuka, ponsel diambil. Timba tidak dibuang; tetap digunakan untuk melindungi ponsel, apalagi langit mulai meredup, mendung. 

Permintaan bantuan ke kampung nelayan diterima oleh teman yang biasa bercanda dengannya, yakni Ketua Kelompok Usaha (KUB) Nelayan “Sumber Rejeki” Medokan Ayu, Sumardi.

Ia merasa lega. Apalagi teman bercandanya ini dikenal sebagai sosok peduli. Ia percaya sepenuhnya bantuan pasti datang. 

Usai menelepon, ponsel dimasukkan lagi ke dalam timba, dan hujan pun turun.

Sambil menunggu bantuan, perahu yang ditumpanginya terdorong angin ke timur, makin menjauh dari pantai. Saat itu, ia terjatuh dua kali lagi dari perahu karena desakan ombak.

Sementara itu, kampung nelayan sedang ramai. Para nelayan menyelamatkan perahu masing-masing dari guyuran hujan lebat; jika dibiarkan, perahu bisa tenggelam karena penuh air hujan. 

Ketua KUB, Sumardi, yang menerima permintaan bantuan, tergopoh-gopoh karena perahunya sendiri perlu diamankan dari air hujan.

Setelah memastikan sejenak bahwa di lokasi korban belum hujan dan korban aman—duduk di atas perahu terbalik—Sumardi melanjutkan pengamanan perahunya, lalu berangkat mengevakuasi.

Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan

“Saat itu hujan lebat. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Begitu juga ketika di laut,” katanya.

Ia menambahkan, saat evakuasi ia membawa perahu lebih besar yang biasa digunakan untuk mengantar pemancing. 

Setibanya di lokasi, Sumardi bertemu Abdul Ghofur—pria yang menempuh masa SMP dan SMA di Bangil, Pasuruan. Saat itu, Abdul Ghofur telah diselamatkan nelayan lain. Belum lama berada di perahu penolong awal, ia berpindah ke perahu Sumardi.

Namun, yang berpindah hanya dirinya dan ponsel. Hasil tangkapan sudah ambyar di laut karena perahu terbalik. 

Perahu itu pun ditinggalkan dan dipasangi jangkar pinjaman dari perahu penolong pertama. 

Saat itu perahu tidak bisa ditarik karena cuaca buruk dan posisinya terbalik. Lebih baik ditinggalkan; besoknya diambil lagi.

“Saya lihat Pak Ghofur gemetar kedinginan. Maklum, basah kuyup. Lalu saya beri rokok untuk menghangatkan. Gitu, lalu ya tersenyum,” kata Sumardi, mengomentari teman bercandanya.

Namun, Sumardi mengakui ketenangan yang melekat pada sosok Abdul Ghofur saat itu luar biasa.

“Ketenangan dalam musibah perahu terbalik, saat sendirian dan dihempas angin gelonggong dari arah selatan, itulah yang menyelamatkannya,” katanya.

Dalam gelap seusai Magrib, Sumardi dan Abdul Ghofur tiba di kampung nelayan.

Kini perahunya berganti agak besar menjadi 800Cm x 160Cm. Sebelumnya 1200 Cm x 80 Cm.

Abdul Ghofur menunggu air sungai naik, untuk mengambil perangkap "Bubu Naga" dan Hasilnya.

PARALAYANG
Minggu lalu, Abdul Ghofur kembali bernasib sial. Saat air surut, ia hendak mengangkat badong—perangkap kepiting yang telah dipasang—di muara. 

Pengambilan itu wajib. Bila tidak, ikan atau kepiting yang terperangkap berisiko mati atau dimasuki binatang lain karena air surut.

Karena perahu tidak bisa menepi, Abdul Ghofur turun dan langsung ambles terbenam hingga setinggi dada. 

Di situ ia tidak bisa bergerak dan meminta bantuan lagi. Lagi-lagi Ketua KUB membantunya.

“Saya tertawa melihatnya. Pak Ghofur melihat saya datang, masih bisa tersenyum,” katanya.

Caranya, ia dievakuasi dengan ditarik perahu.

“Saya lemparkan tali untuk dipegangnya. Jadi seperti paralayang. Pak Ghofur memegang tali, lalu ditarik perahu. Tampak seperti terbang, tengkurap di atas lumpur,” katanya.

Di lingkungan nelayan ini, Abdul Ghofur—yang lahir di Undaan, Surabaya, dan lulus SD di Surabaya—tergolong anggota pra-lansia. 

Ia menetap di RT 01 RW 13 Medayu Utara sejak 2008 dan bergabung sebagai nelayan sejak tiga tahun silam, yakni setelah pensiun sebagai pegawai Es Krim Campina.

Semoga evakuasi musibah di laut segera ditangani dengan seksama, terutama setelah bantuan perahu bot dari Polairud hadir.


Halaman terkait nelayan:

Jumat, 02 Oktober 2026

Mengenal Sungai Kebon Agung: Saluran Drainase Utama yang Menyelamatkan Penjaringan Sari dan Medokan Ayu dari Banjir

Sungai Kebon Agung berada di depan kampus UPN. Sekaligus batas Gunung Anyar dan Medokan Ayu.

InfoMedokanAyu -- Sungai Kebon Agung adalah saluran drainase utama di Surabaya yang membentang sepanjang 11 kilometer dengan lebar berkisar 7–12 meter. Sungai ini melintas di depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur dan membelah kawasan ekowisata mangrove antara Medokan Ayu dan Gunung Anyar.

Artikel seputar Sungai Kebon Agung ini dirilis mengingat tujuh (7) warga Medokan Ayu, di antaranya ketua RT mempertanyakan di mana sebenarnya lokasi sungai tersebut. 

Pertanyaan itupun wajar muncul. Ini mengingat tak semua warga Medokan Ayu, memahami sisi "pojok" wilayah kelurahannya, meski sungai itu pernah dilihatnya.

Keberadaan sungai itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan urat nadi pengendalian banjir bagi kawasan Penjaringan Sari dan Medokan Ayu yang langganan tergenang.

Gambar dari Pintu Timur UPN menghadap ke Timur, tampak lebar sungai sisi Timur UPN mengecil.

Lokasi dan Profil Geografis
Secara geografis, Sungai Kebon Agung terletak di Surabaya bagian selatan, tepatnya di Kecamatan Jambangan, dan bermuara di sisi laut Surabaya bagian timur di Kecamatan Rungkut.

Dari sisi barat ke timur, sungai ini berada di sisi selatan Jl. Jemur Andayani, membelah kawasan Rungkut Industri, lalu terus menembus kawasan depan UPN "Veteran" Jawa Timur .

Sungai ini dilengkapi dengan dua rumah pompa utama, yaitu Pompa Kutisari dan Pompa Kebon Agung, yang berperan mengatur debit air.

Pompa Kebon Agung telah dinyatakan optimal dalam operasionalnya, meskipun kawasan Wisma Penjaringan masih terdampak pasang air laut.

Peran Strategis di Kawasan UPN Rungkut
Sungai Kebon Agung secara langsung melintasi depan kampus UPN "Veteran" Jawa Timur, menjadikannya batas alami kawasan pendidikan tersebut. 

Air sungai ini pernah diteliti memiliki potensi sebagai sumber air baku alternatif, meskipun memerlukan pengolahan lanjutan sebelum layak dikonsumsi .

Sungai Ini Penting bagi Penjaringan Sari dan Medokan Ayu
Kawasan Medokan Ayu dan Penjaringan Sari secara topografis berada di dataran rendah dengan kemiringan saluran yang cukup landai, sehingga aliran air menuju muara cenderung lambat. 

Kondisi ini diperparah oleh perubahan tata guna lahan yang signifikan: kawasan Surabaya timur yang dahulu berupa lahan terbuka kini telah berkembang menjadi daerah perumahan padat, mengurangi daerah resapan air.

Ketika hujan deras turun dalam durasi panjang, kapasitas Sungai Kebon Agung kerap tidak memadai, menyebabkan air meluber ke jalanan. 

Pada November 2025, hujan lebat selama lebih dari empat jam membuat aliran sungai tidak mampu menampung air, dan banjir pun melanda Jalan Penjaringan Sari. 

Warga setempat mengonfirmasi bahwa sungai memang sudah tidak dapat menampung debit air lagi .

Faktor lain yang memperberat beban sungai ini adalah banjir rob. Genangan air laut yang masuk melalui casement saluran Kebon Agung dan avour Wonorejo menyebabkan genangan di bagian tengah dan hilir saluran, terutama di kawasan Wisma Penjaringan .

Sebagai gambaran skala permasalahan, hasil pemodelan drainase menunjukkan bahwa diperlukan pelebaran saluran primer menjadi 8–15 meter dengan kedalaman 3 meter, serta penambahan 5 unit pompa berkapasitas 5 m³/detik dan 3 unit pompa berkapasitas 1,5 m³/detik agar sistem drainase Kebon Agung mampu mengalirkan debit banjir.

Tantangan dan Kondisi Terkini
Kualitas air Sungai Kebon Agung menghadapi tekanan berat dari limbah domestik, kegiatan laundry, dan industri di sekitarnya.

Penelitian bahkan menemukan 544 partikel yang diduga mikroplastik di permukaan air sungai ini, dengan bentuk fiber/filamen mendominasi hingga 69,3%.

Kualitas air yang kurang baik itu, ditandai pula oleh para nelayan ogah pasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, lebih baik di muara.

Bila memasang perangkap kepiting di sungai Kebon Agung, risiko tinggi. "Kepiting tertahan diperangkap agak lama, mati", kata seorang nelayan.

Dari sisi kapasitas, sedimentasi di sebagian besar saluran menjadi penyebab utama berkurangnya daya tampung sungai. 

Pemerintah Kota Surabaya melalui DSDABM terus melakukan normalisasi, pelebaran, dan penertiban bangunan liar di sempadan sungai. 

Normalisasi sedimen skala besar difokuskan di saluran Avour Wonorejo, Kebon Agung, Pegirian, Kali Tebu, dan Semolowaru. 

Fenomena Unik: Semburan Gas Misterius
Pada Oktober 2025, muncul fenomena tak biasa di aliran Sungai Kebon Agung kawasan Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar: semburan air bercampur gas yang menarik perhatian warga. 

Pakar geofisika ITS menduga fenomena tersebut berasal dari gas alami bawah tanah, bukan dari kebocoran pipa utilitas. 

Secara geologis, Surabaya tersusun dari lapisan lempung dan endapan tebal yang memang menyimpan gas dan hidrokarbon, sehingga beberapa titik di Surabaya Timur memang rawan muncul semburan serupa. Fenomena ini dinyatakan tidak berbahaya bagi warga sekitar.

Kesimpulan
Sungai Kebon Agung bukan sekadar saluran air biasa. Ia adalah penyelamat bagi ribuan warga Penjaringan Sari dan Medokan Ayu dari ancaman banjir yang datang silih berganti—baik dari luapan air hujan maupun rob air laut. 

Menjaga kapasitas dan kualitas sungai ini berarti menjaga keselamatan dan kenyamanan hidup warga Surabaya timur.


Halaman terkait nelayan:

Sungai Kebon Agung Terancam: Pendangkalan dan Sampah Ancam Banjir Medokan Ayu

Menyusuri sungai Kebon Agung dari Kampung Nelayan menuju Ekowisata Mangrove yang ditandai batas jembatan paling Timur.
Kaki jembatan ini juga menghambat sampah yang balik keluar ketika banjir rob menyusut.
Ketika banjir rob, terowongan jembatan tertutup. Perahu tidak bisa melewatinya.

InfoMedokanAyu — Sungai Kebon Agung yang membentang sekitar 1 km dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove memerlukan penanganan serius. Kondisi ini mendesak untuk mencegah banjir yang mengancam warga Medokan Ayu, Penjaringan, dan Surabaya Selatan pada umumnya.

Hal tersebut terungkap setelah penelusuran langsung sungai Kebon Agung, mulai dari Kampung Nelayan hingga kawasan Ekowisata Mangrove pada Rabu, 30 September 2026. 

Sungai ini menerima limpahan air dari kawasan Rungkut Industri dan Kuntisari, sehingga volumenya terus meningkat saat hujan.

Penelusuran berangkat dari kampung nelayan arah Timur

Permasalahan Utama
Permasalahan utama di kawasan tersebut adalah banyaknya pohon liar yang tumbuh di pinggir sungai dan menjorok ke badan sungai. Selain itu, sungai mengalami pendangkalan yang cukup signifikan. 

Kondisi ini terlihat jelas saat penelusuran subgat ketika air laut surut bersama Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki", Sumardi.

Kondisi semakin diperparah dengan posisi kaki jembatan Ekowisata Mangrove yang menancap di tengah sungai. 

Hal ini memperlambat sampah untuk kembali keluar ketika air laut surut. Sampah yang didominasi eceng gondok masuk ke Sungai Kebon Agung dan memenuhi aliran hingga sekitar 2 km, terbawa arus air laut ketika rob.

Penelusuran sungai Kebon Agung mendekati Ekowisata Mangrove 

Risiko yang Mengintai
Risiko yang harus dihindarkan adalah pepohonan yang menjorok ke sungai. Ketika musim hujan, selalu ada pohon yang roboh. Pohon dan ranjing yang jatuh ke sungai sangat menghambat aliran air menuju laut.

Selain itu, badan sungai di sisi Utara dan Selatan masih berupa tanah dan belum berplengseng sebagaimana sungai modern pada umumnya. 

Kapasitas pendangkalan sungai perlu ditinjau oleh pihak yang berwenang. 

Kembali menuju Kampung Nelayan

Pengerukan terakhir dilakukan sekitar 6 tahun silam, itupun hanya pada sisi selatan sungai.

Pengerukan Sungai Kebon Agung antara Kampung Nelayan hingga Ekowisata Mangrove terakhir dilakukan ketika Lurah Medokan Ayu dijabat Ahmad Yardo Wifaqo, S.A.P., M.A.P.

Salah satu pohon roboh sebelum musim hujan, dan aliran air pada posisi normal.

Dampak Banjir Rob
Sebagai catatan, ketika banjir rob dari kondisi terkini air surut mencapai titik terendah, bisa naik setinggi 2 meter lebih. 

Tingginya air rob menutup badan jembatan Ekowisata Mangrove paling bawah.

Bertolak dari disain jembatan mangrove yang ada saat ini, bila banjir rob mencapai puncaknya, bukan hanya perahu nelayan penghantar wisata pemancing yang tak bisa melewatinya, perahu nelayan pencari kepiting pun terdampak dan harus menunggu volume air sungai menurun.

Jika kondisi air normal, perahu pengantar pemancing terpaksa harus melaju zig-zag, dan anak buah kapal (ABK) harus sering merundukkan badan agar tidak tersangkut ranting.

Ketika air surut, para nelayan memanfaatkan memperbaiki perahu dan perangkat nelayan. Tampak Bapak Slamet, nelayan senior, Lebih dari 70 tahun, sedang memperbaiki Bubu Naga, perangkat kepiting dan ikan dilaut.

Harapan Warga
Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan ini. 

Normalisasi sungai, pengerukan sedimen, penataan pohon di bantaran sungai, serta pembangunan plengsengan menjadi kebutuhan mendesak demi mencegah banjir yang terus mengancam kawasan Medokan Ayu dan sekitarnya.


Halaman terkait nelayan:


Kamis, 01 Oktober 2026

Putra Medokan Ayu, Muhammad Sarmuji, Resmi Menjabat Menteri Perindustrian RI


Profil Lengkap Muhammad Sarmuji


Identitas Pribadi
Muhammad Sarmuji lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 10 Juni 1974. Ia resmi dilantik sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita.

Pendidikan
Pendidikan dasar hingga menengah Sarmuji seluruhnya ditempuh di Surabaya, dengan latar belakang kedekatan yang kuat terhadap kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya:

· SDN Medokan Ayu 270, Surabaya (lulus 1986)
· SMPN 17 Surabaya (lulus 1989)
· SMAN 16 Surabaya (lulus 1992)
· Universitas Jember, S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi (lulus 2000)
· Universitas Indonesia, Magister Administrasi/Administrasi Bisnis (2005–2006)

Karier Organisasi dan Politik
Karier politik Sarmuji dimulai dari organisasi mahasiswa, berkembang ke struktur partai, hingga akhirnya masuk kabinet:

Tahap Organisasi Mahasiswa dan Kepemudaan:
· 1996–1998: Ketua Koperasi Mahasiswa Universitas Jember
· 1998–2000: Ketua HMI Cabang Jember
· 2001–2002: Ketua Bidang PPN HMI Pusat
· 2003–2009: Wakil Sekretaris Jenderal AMPI Pusat
· 2008–2011: Ketua KNPI Pusat
· 2010–2015: Sekretaris Jenderal AMPG Pusat

Karier di DPR RI:
Sarmuji terpilih sebagai anggota DPR RI selama tiga periode berturut-turut, mewakili Dapil Jawa Timur VI (meliputi Blitar, Kediri, Trenggalek, Tulungagung), dengan perolehan suara yang terus meningkat:

· 2014: 57.586 suara
· 2019: 137.110 suara
· 2024: 183.045 suara

Selama di DPR, ia pernah bertugas di;
  • Komisi VI (membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN), 
  • Komisi IX (ketenagakerjaan, kesehatan), dan 
  • Komisi XI (keuangan). 
Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) dan Wakil Ketua Komisi VI.

Jabatan di Partai Golkar:
· 2020–2025: Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur
· 2024–2029: Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar
· 2024–2026: Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI

Keterkaitan dengan Komunitas
Sarmuji memiliki keterkaitan personal yang erat dengan komunitas Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. 

Kediamannya beralamat di Jl. Wonoayu No. 185, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. 

Prioritas Kebijakan sebagai Menteri Perindustrian
Setelah dilantik, Sarmuji menyatakan akan menjadikan sektor industri sebagai daya ungkit pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, dengan memprioritaskan industri padat karya seperti sepatu dan tekstil.


Berita terkait :

Selasa, 29 September 2026

Waspada! 'Ain versi Islam: Pandangan Hasad Bisa Membahayakan, Bahkan Lewat Foto dan Khayalan

Ilustrasi

InfoMedokanAyu — Dalam ajaran Islam, terdapat satu bahaya gaib yang sering kali diabaikan, padahal dampaknya bisa sangat nyata: 'Ain, yaitu pengaruh pandangan hasad (dengki) dari seseorang yang dengki, yang dapat membahayakan orang yang dipandang.

Hal itu dibenarkan oleh Ustadz Syamsudin, S.Ag, keluarga pendiri Masjid Imaduddin, tempat ibadah tertua di Medokan Ayu, yang berlokasi di Medokan Kampung RW02.

Maka, adalah wajib setiap individu membekali diri sebagai perlindungan. 

Perlindungan terbaik adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan tawakkal pada-Nya, serta selalu merutinkan dzikir setiap hari agar diri dan anak-anak kita selamat dari orang yang hasad.

Hanya kepada Allah tempat berlindung, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Falaq, berlindung dari kejelekan orang yang hasad ketika ia hasad.

Perbanyak dzikir dan tawakkal. Perlindungan terbaik hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jatuh Sakit tanpa Sebab
Bahaya ini tidak main-main. Misalnya, seorang anak kecil yang dipandang dengan penuh kedengkian bisa tiba-tiba jatuh sakit atau terus-menerus menangis tanpa sebab yang jelas.

Namun, tahukah bahwa 'Ain tidak hanya terjadi melalui penglihatan langsung? Hasad ternyata bisa menular melalui gambar, foto, bahkan sekadar khayalan.


Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma'ad (4: 153) menjelaskan:

"'Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh 'ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa 'ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat."

Penjelasan ini diperkuat oleh Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah yang menegaskan:

"Dari sini terlihat bahwa 'ain bisa ditimbulkan dengan melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah 'ain. Kita memohon pada Allah keselamatan." (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

Sumber topik: bbg-alilmu.com