Selasa, 22 September 2026

Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 2. Habis)

Ilustrasi 

Hidup Mengikuti Irama Air

InfoMedokanAyu - Dalam keseharian, sebagian warga Medokan Ayu hidup mengikuti irama air.

Pagi bisa dimulai dengan memeriksa tambak, memberi pakan, atau menyiapkan bandeng untuk diasap. 

Siang dipakai untuk memperbaiki jaring, bubu, atau perahu. 

Sore hingga malam, sebagian nelayan turun ke lumpur mencari kepiting.

Perempuan dan keluarga sering terlibat dalam pengolahan hasil—mulai dari membersihkan ikan, mengasap bandeng, hingga memasarkan produk. 

Anak-anak tumbuh melihat bagaimana air, lumpur, dan asap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah identitas Medokan Ayu terbentuk: kampung pesisir yang sebagian warganya sampai kini hidup dari tambak, mangrove, bandeng, dan kepiting.

Perahu-perahu nelayan

Tantangan yang Tak Pernah Surut
Meski begitu, kehidupan nelayan bandeng dan kepiting tidak selalu mudah.

Harga yang berfluktuasi, musim yang tidak menentu, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

"Kini perahu nelayan sebanyak 23 buah sudah saatnya diremajakan", kata Bapak Pujiono sekretaris Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu.

Bagi pembudidaya bandeng, tantangannya menyangkut kualitas air, pakan, dan penyakit ikan. 

Bagi penangkap kepiting, tantangannya menyangkut pasang surut, cuaca, dan berkurangnya area mangrove.

Akses pasar yang lebih luas juga masih menjadi pekerjaan rumah. Di sisi lain, pembangunan kawasan pesisir dan perubahan tata guna lahan bisa mengancam ruang hidup tambak dan mangrove.

Semua itu membuat warga dituntut adaptif: mengatur waktu tangkap, mencari pasar alternatif, atau mengembangkan budidaya dan olahan agar penghasilan tetap berjalan.


Potensi Menanti Dikembangkan
Namun justru di situlah potensi Medokan Ayu terletak.

Kampung ini bisa dikembangkan sebagai pusat kuliner dan edukasi pesisir. Bandeng asap dan kepiting bakau dapat menjadi ikon yang saling melengkapi.

Wisatawan bisa diajak melihat tambak, mengenal budidaya bandeng, menyusuri mangrove, dan memahami cara nelayan menangkap kepiting. 

Produk olahan seperti bandeng asap, abon bandeng, kerupuk, hingga olahan kepiting bisa memperkuat ekonomi.

Dengan pendampingan, digital marketing, dan dukungan kebijakan—Medokan Ayu tidak hanya dikenal sebagai kampung bandeng, tetapi juga kampung kepiting.


Pesan Utama: Denyut yang Tak Boleh Berhenti
Medokan Ayu adalah pengingat bahwa Surabaya masih menyimpan denyut kehidupan pesisir.

Di tengah pertumbuhan warga yang kian membengkak, kampung ini berdiri sebagai bukti bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan. 

Bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas—mereka adalah simbol kerja, ketekunan, dan harapan.

Selama asap masih mengepul dari dapur-dapur warga, selama lumpur masih melekat di kaki para nelayan—selama itu pula Medokan Ayu akan terus hidup, bernapas, dan menginspirasi.

Medokan Ayu: Kampung Bandeng dan Kepiting di Pesisir Timur Surabaya—sebuah kisah tentang alam, kerja, dan identitas yang tak pernah kehilangan arah.  

Halaman sebelumnya.




Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 1, dari 2)


InfoMedokanAyu - Di tengah gemuruh metropolis Surabaya yang tak pernah tidur, sebuah kampung di sisi timur masih menjaga ritme kehidupan yang berbeda. Ia mengikuti pasang surut, bukan jam kantor. Ia berbicara tentang lumpur dan asap, bukan beton dan kaca.

Di sana, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas; di sana tersimpan potensi ekonomi yang menanti untuk digeluti.

Medokan Ayu—sebuah nama yang kini kian sering disebut, seiring pertumbuhan warganya yang terus membengkak dan kisahnya yang semakin menginspirasi.


Ketika Kota Bertemu Pesisir
Surabaya sering dibayangkan sebagai kota metropolitan yang penuh gedung pencakar langit, pelabuhan sibuk, dan kendaraan yang tak henti berlalu. 

Namun di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, ada dunia lain yang masih bernapas dengan tenang.

Di sini, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas dagang. Keduanya adalah dua nama yang menyimpan cerita tentang kerja keras, rasa, dan identitas warga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


Bandeng: Asap yang Mengepul, Harapan yang Terus Membara
Medokan Ayu dikenal luas karena bandengnya—terutama bandeng tambak dan olahan bandeng asap yang telah menjadi ikon kuliner.

Berbeda dengan kepiting, bandeng di sini merupakan hasil budidaya. Mulai dari benih atau nener, pembesaran di kolam tambak, hingga panen—semuanya melibatkan tangan-tangan warga sendiri.

Aroma asap yang khas dari dapur-dapur warga sudah lama menjadi penanda kampung ini. Bandeng kemudian dijual segar ke pasar, diolah menjadi bandeng asap yang menggoda, atau diubah menjadi aneka makanan olahan yang memperkaya cita rasa Nusantara.

Bagi banyak keluarga, bandeng bukan sekadar ikan dagangan. Ia adalah sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi—sebuah warisan yang terus dijaga dan dikembangkan seiring bertambahnya warga yang menggantungkan hidup dari tambak.
 

Kepiting: Keberanian di Balik Lumpur
Namun Medokan Ayu tidak berhenti pada bandeng. Di balik tambak dan lumpur, ada wajah lain yang sama pentingnya: kepiting bakau.

Umumnya nelayan di Medokan Ayu juga dikenal sebagai penangkap kepiting, terutama kepiting bakau yang hidup di area mangrove. 

Berbeda dengan bandeng yang dibudidayakan, kepiting diperoleh dari tangkapan alam—dari mangrove, saluran air, dan area tambak.

Aktivitas ini mengikuti irama pasang surut. Saat air surut, nelayan menyusuri tambak, saluran, atau area mangrove. 

Ada yang memasang bubu-perangkap kepiting, ada yang menggunakan jaring, dan tidak sedikit yang mencari langsung ke lubang-lubang lumpur.

Kadang mereka berangkat pagi, sore, bahkan malam hari. Hasil tangkapan lalu dijual ke pengepul atau langsung ke pembeli. 

Kepiting adalah lumpur yang melekat di kaki, hasil keberanian menanti pasang surut.


Dua Jalur, Satu Ekosistem
Bandeng dan kepiting sama-sama berasal dari alam pesisir Medokan Ayu, tetapi melalui jalur yang berbeda.

Bandeng dikelola lewat budidaya tambak, sedangkan kepiting diambil dari alam sebagai hasil tangkapan. Keduanya bertemu pada ekosistem yang sama: tambak, saluran air, dan mangrove.

Karena itu, kehidupan sebagian warga Medokan Ayu sangat bergantung pada kondisi lingkungan. 

Jika air bersih, mangrove terjaga, dan tambak terawat—bandeng tumbuh baik dan kepiting pun melimpah.

Sebaliknya, jika perairan tercemar, alih fungsi lahan terus terjadi, atau mangrove berkurang—hasil budidaya dan tangkapan ikut terancam.

Inilah yang membuat kampung ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal menjaga keseimbangan alam.

Halaman selanjutnya.


Terkait link Bandeng:

Kepiting Bakau Medokan Ayu: Komoditas Emas Warga Pesisir Menjelang Imlek 2026

Tren harga kepiting bakau.

K9DeWa - Kepiting bakau memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Permintaan pasar, baik dari restoran seafood, pengepul, maupun konsumen langsung, membuat kepiting menjadi komoditas yang menjanjikan bagi warga pesisir.

Harga kepiting saat ini sekitar Rp50 ribu per kilogram. "Kebetulan pula, bulan Agustus–September dikenal sebagai masa pertumbuhan bagi kepiting. Jadi ukuran kepiting masih kecil-kecil," kata Bapak Sumardi, ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", ketika ditemui di kampung nelayan Medokan Ayu, berdekatan kawasan Mangrove Gunung Anyar.

Kepiting Bakau. Foto: wikipedia

"Memasuki bulan Oktober dan seterusnya, ukuran kepiting sudah pada besar," lanjut ketua KUB "Sumber Rejeki", yang aktif menekuni penangkapan kepiting dengan perahu.

Bulan-bulan tersebut dikenal sebagai Bulan Kepiting Emas, yakni saat harga mencapai puncaknya, yaitu sekitar Januari–Februari.

Pada 2026, harga puncak diprediksi terjadi saat Imlek 2026, yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.

Pada puncak harga itu, 3 ekor kepiting bertelur dihargai sekitar Rp500 ribu. Untuk kepiting jantan kelas super, 3 ekor mencapai Rp400–450 ribu.

Bertumpuk "Badong" perangkap kepiting di mangrove pada Agustus-September di Kampung Nelayan, Medokan Ayu

Oleh sebab itu, para pengepul banyak melakukan penggemukan selama 15 hari sebelum Imlek.

Kini, katanya, kepiting kecil bisa terjual dengan harga Rp50–80 ribu per kilogram.

Cara penggunaan "Badong" di sekitar Mangrove. Pada bagian tengah, ada bambu untuk menggantungkan "Badong" sekaligus menancapkannya.


Lihat halaman terlait:


Kepiting Bakau Medokan Ayu: Antara Komoditas, Identitas, dan Harapan Kampung Pesisir Surabaya

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Surabaya seringkali dipandang sebagai kota metropolitan yang identik dengan gedung-gedung tinggi, pelabuhan sibuk, dan aktivitas industri yang tak pernah tidur. 

Namun, di sisi timur kota, tepatnya di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, masih tersimpan kehidupan pesisir yang lekat dengan tambak, mangrove, dan hasil laut. 

Kondisi geografis inilah yang membentuk mata pencaharian sebagian warganya sebagai nelayan, petambak, dan pencari hasil laut sejak silam.

Salah satu aktivitas yang menonjol dan menjadi fokus dalam berita ini adalah penangkapan kepiting bakau. 

Bagi sebagian warga, kepiting bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga penanda identitas dan sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun.

Bapak Sumardi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", menyatakan bahwa terdapat 25 nelayan kepiting di Medokan Ayu yang tergabung dalam wadah yang ia kendalikan sejak tahun 2018. 

Bapak Sumardi ketua KUB Sumber Rejeki

Dari jumlah tersebut, 23 anggota telah memiliki perahu sebagai prasarana menangkap kepiting.

Sementara 2 anggota lainnya belum memilikinya dan aktif sebagai nelayan darat—pencari kepiting di kawasan tambak.

Menariknya, di antara para anggota terdapat dua sosok senior berusia sekitar 70 tahun, yaitu Bapak Djaimin dan Bapak Slamet, yang telah menekuni usaha ini sejak masa bujang. 

Bapak Djaimin bahkan dikenal sebagai "raja kepiting" berkat hasil tangkapannya yang melimpah.

Aktivitas menangkap kepiting biasanya mengikuti irama pasang surut air laut. 

Saat air surut, para nelayan menyusuri lumpur, mencari kepiting di lubang-lubang, memasang bubu (perangkap), atau menggunakan jaring. 

Perangkap kepiting "bubu naga" yang banyak dijual di pasar online

Ada yang melakukannya pada pagi hari, sore, bahkan malam hari. 

Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul atau langsung kepada pembeli. 

Bagi sebagian warga, kepiting menjadi sumber penghasilan utama; bagi sebagian lain, menjadi penghasilan tambahan di samping mengantar wisatawan memancing dengan perahu.

Meski demikian, kehidupan nelayan kepiting tidak lepas dari berbagai tantangan. 

Perubahan cuaca, pencemaran perairan, alih fungsi lahan, berkurangnya area mangrove, serta pembangunan kawasan pesisir dapat memengaruhi hasil tangkapan. 

Harga yang tidak stabil, keterbatasan modal, dan akses pasar juga menjadi persoalan tersendiri yang harus dihadapi para nelayan.

Perahu untuk pencari Kepiting.

Tulisan ini merupakan langkah awal untuk mengenal Medokan Ayu dan kepiting, sekaligus bekal untuk menelusuri lebih dalam: 
- bagaimana nelayan kepiting di Medokan Ayu menjalani pekerjaannya, 
- bagaimana strategi mereka menghadapi tantangan, 
- serta potensi apa yang dapat dikembangkan. 

Tulisan bernuansa kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan pesisir, dan perumusan kebijakan yang berpihak pada warga nelayan.

Dengan memahami kehidupan mereka, berarti pula tidak hanya melihat kepiting sebagai komoditas, tetapi juga sebagai penanda identitas dan sumber penghidupan kampung pesisir kawasan Medokan Ayu.


Lihat halaman terkait:

Minggu, 13 September 2026

Haul Sesepuh Ponpes Tarbiyatul Aulad, Warisan Tradisi yang Terus Dijaga

Ust. H. Machrus Yusuf Manan menyampaikan sambutan penuh hikmah pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pondok pesantren yang diasuhnya.

InfoMedokanAyu — Di balik semaraknya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad Medokan Ayu, tersimpan makna mendalam yang jarang diketahui banyak orang. 

Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga menjelang pukul 11.00 WIB itu sekaligus menjadi momen haul para sesepuh pondok.

Haul tersebut mengenang jasa para sesepuh, antara lain Ustadz KH. Hamzah Murtadho, KH. Abdullah Manan, dan Ustadz Yusuf Manan. 

Mereka adalah tokoh-tokoh yang meletakkan fondasi pendidikan dan keagamaan di pondok yang kini diasuh oleh Ust. H. M. Machrus itu.

Ziarah kubur sebagai rangkaian menjelang Peringatan Haul KH. Yusuf Manan, KH. Abdullah Manan, dan KH. Hamzah Murtado

Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad berlokasi di Jalan Medokan Ayu gang masjid, tepatnya di RW 02, Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya. 

Pondok ini memiliki sekitar 500 santri aktif dengan sistem pendidikan diniyah klasikal (setara Ula, Wustho, Ulya) yang berfokus pada kitab kuning, Al-Qur'an, dan gramatika Arab.

Tradisi yang diwariskan para sesepuh masih terus dijaga hingga kini. 

Ziarah kubur sebagai rangkaian menjelang Peringatan Haul KH. Yusuf Manan, KH. Abdullah Manan, dan KH. Hamzah Murtado

Beberapa kegiatan rutinnya meliputi Majelis Ilmu yang dilaksanakan setiap hari, Jam'iyyatul Muta'allimin (majelis pembacaan Maulid Dibaiyah dari rumah ke rumah), Jamaah Istighosah & Nariyah setiap Rabu malam ba'da Maghrib, serta ekstrakurikuler seperti Banjari Gestra/Geswa Nada dan HITTA (Himpunan Teater PPTA).

Yang menarik, pondok ini sangat lekat dengan masyarakat sekitar Medokan Ayu. Banyak alumninya aktif menjadi pengurus masjid, remaja masjid, hingga terlibat dalam komunitas suporter BOMS (Bonek Medokan Ayu Soerabadja). 

Para anggota komunitas tersebut turut serta dalam kepanitiaan acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) di pondok dan Masjid Imaduddin, serta terlibat dalam kegiatan sosial seperti berbagi zakat dan qurban.

Pondok ini juga berperan dalam melestarikan tradisi keagamaan setempat, seperti perayaan Suroan yang diisi dengan doa bersama, tahlil, dan sedekah makanan untuk warga Medokan Ayu. 

Kebersamaan para santriwati usai merias diri, bersiap menampilkan yang terbaik pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pengasuhnya diketahui merupakan alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.

Haul ini menjadi pengingat bahwa apa yang dinikmati warga Medokan Ayu hari ini adalah buah dari perjuangan para sesepuh. 

Di antara para peserta yang mengikuti gladi bersih menyambut Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu sore, 12 September 2026.

Semoga tradisi ini terus terjaga dan menjadi berkah bagi seluruh masyarakat. (Red)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Tarbiyatul Aulad, Santri Jadi Pelaksana Utama

Burhanudin Habibi, santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad, diberi kepercayaan menjadi Ketua Pelaksana Utama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga menjadi ladang amal dan pembelajaran kepemimpinan.

InfoMedokanAyu — Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad yang menyatu dengan Masjid Imaduddin, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh semarak, Minggu pagi. Acara berlangsung sejak pukul 07.00 hingga menjelang pukul 11.00 WIB.

Yang istimewa, seluruh rangkaian acara dijalani dan dikelola oleh para santri. Mulai dari laporan ketua panitia, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, hingga penampilan musik shalawat, semuanya digarap oleh para santri pondok.

Sejak pagi, para santri telah mengawali kegiatan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. 

Suara merdu yang mengademkan di tengah cuaca panas itu menandai dimulainya acara, sekaligus mengingatkan warga sekitar untuk segera hadir. 


Pembacaan ayat suci Al-Qur'an ini murni tanpa iringan musik apa pun. Intonasi yang ditandai dengan tajwid begitu menggugah hati para hadirin.

Gema musik di babak selanjutnya pun menghibur, mengiringi shalawatan. 



Ketika hadirin mulai mengikuti dengan berdiri - Mahallul Qiyam sangat terasa nilai kerukunan begitu terjaga di Medokan Ayu.



Shalawatan adalah kegiatan melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggunakan rebana, dan sangat menghibur. 


Musiknya rancak, enak didengarkan meski dari dekat. Panggung musik yang dimainkan para santri tertata rapi, persis di depan panggung utama, dengan perangkat musik era kini, elektrik, termasuk kendangnya.


Acara kemudian diwarnai dengan pemberian tali asih kepada para santri berprestasi dari berbagai tingkatan oleh Ust. H. Moch. Umar, S. Ag., M. Pd


Memasuki babak selanjutnya, ditandai dengan sambutan dari pengasuh pondok, H. Machrus Yusuf Manan. 

Waktu menunjukkan pukul 10.00 saat ustadz pemberi tausiah pun hadir. Beberapa saat kemudian, beliau tampil memberikan tausiah yang menekankan nilai-nilai kerukunan dengan gaya kocaknya. Acara ditutup dengan doa bersama.

KH. Syahroni Fadlan, kiai kharismatik asal Sidoarjo, yang akrab dikenal dengan sebutan "Kyai Gendeng".

Semoga peringatan Maulid Nabi ini semakin mempererat kebersamaan seluruh warga pondok dan masyarakat Medokan Ayu, serta meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. 


(Red)



  .

Jumat, 11 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (6-akhir)

Ilustrasi

Penutup: Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu
Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di antara dua makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun.

Makam Pahlawan di utara, Makam Sayyid Zein di Makam Islam RW02 selatan, dan Imaduddin—yang pernah berbentuk musala dan kini menjadi masjid—adalah tiga sisi dari keping sejarah yang sama.

Hal itu secara tidak langsung, simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan, yang dirintis Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun—dilanjutkan putranya KH. 

Abdullah Manan, besannya KH. Hamzah Murtadlo, dan cucunya KH. Yusuf Manan yang memugar musala menjadi masjid pada 1962.

Perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang menjodohkan putra dan putri mereka—bukan sekadar urusan personal, melainkan strategi cerdas untuk membangun jaringan dakwah dan perjuangan yang kokoh. 

Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh individu, tetapi oleh ikatan-ikatan sosial yang diperkuat lintas generasi.

Makam keluarga Mbah Sayyid Zein. Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi makam keluarga Masjid Imaduddin, rumah ibadah perintis di Medokan Ayu, pada Rabu, 9 September 2026, usai Ashar.


Seruan: Menggali Lebih Dalam
Sudah saatnya menggali lebih dalam melalui riset arsip dan wawancara generasi tua, membuka arsip kolonial dan catatan keluarga, mendokumentasikan sejarah lisan sebelum sesepuh berpulang, dan menjadikan Masjid Imaduddin sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. 

Agar tahun berdirinya musala dan tahun perubahan menjadi masjid tidak terus menjadi tanda tanya. 

Agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi, dan jasa Sayyid Zein, KH. Abdullah Manan, KH. Hamzah Murtadho, serta KH. Yusuf Manan tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi sebagai teladan hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.

Ringkasan Data Penting
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun wafat pada Selasa, 19 Maret 1889 (17 Rajab 1306 H). Makamnya di Makam Islam RW02, 300 meter selatan Imaduddin. 

Musala didirikan sebelum 1889, kemungkinan 1870-an–1880-an, saat Sayyid Zein masih hidup. 

Faktor administratif izin pendirian musala adalah keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara yang telah ada sebelum musala berdiri. 

Makam Islam RW02 belum ada pada masa pendirian musala, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

KH. Abdullah Manan adalah putra tunggal Sayyid Zein. Lahir sekitar 1880-an, wafat 1999. 

Sayyid Zein berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho dari Kendalsari dengan cara menjodohkan putranya KH. Abdullah Manan dengan putri KH. Hamzah Murtadho, Salamah. Dari pernikahan ini lahirlah KH. Yusuf Manan pada 1940.

Tiga pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi—gugur sebelum 1940 dan dimakamkan di sisi utara musala, kurang dari 100 meter. Kini menjadi Makam Pahlawan.

Tahun 1962 menjadi tonggak penting: musala berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan.

Silsilah Keluarga
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun berputra KH. Abdullah Manan. Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho (Kendalsari) dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah. 

Dari pernikahan ini lahir KH. Yusuf Manan (1940)—yang pada 1962 memugar musala menjadi masjid—dan generasi selanjutnya. Sayyid Zein wafat 1889, dimakamkan di Makam Islam RW02 selatan.

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (5)

Ilustrasi

Bab 7: Refleksi—Musala sebagai Simbol Perjuangan dan Kontinuitas
Dari rentetan fakta terbatas namun saling menguatkan, dapat ditarik benang merah yang kuat.

Pertama, Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—adalah faktor penentu bagi pengurusan izin resmi pendirian musala di masa kolonial. 

Keberadaannya menjadi syarat administratif yang dipenuhi Sayyid Zein saat mengajukan izin. Makam Islam RW02 di selatan belum ada pada masa itu, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

Kedua, Makam Islam RW02 di selatan adalah makam keluarga Sayyid Zein, yang baru ada setelah ia wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga pendiri—bukan faktor penentu izin pendirian musala.

Ketiga, Musala Imaduddin didirikan Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan dekade 1870-an–1880-an, saat putranya masih bocah. 

Itu menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua di Surabaya Timur, yang berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun sebelum akhirnya menjadi masjid pada 1962.

Keempat, perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menunjukkan bahwa perjuangan dan dakwah di kawasan ini tidak hanya dilakukan secara individu, melainkan melalui strategi keluarga dan jaringan ulama yang saling mendukung.

Kelima, pemugaran musala menjadi masjid oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 menandai babak baru dalam sejarah Imaduddin. 

Dari rintisan Sayyid Zein yang sederhana, tempat ibadah ini tumbuh menjadi masjid yang kokoh—monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama di utara, peran sentral Sayyid Zein di selatan sebagai pendiri, serta kontinuitas perjuangan dari generasi ke generasi melalui jaringan keluarga yang diperkuat oleh perbesanan antarulama.

Kesimpulan Historis: Kapan Musala Berdiri, Kapan Menjadi Masjid?
Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi tahun wafat Sayyid Zein (1889) sebagai batas akhir, kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat para pahlawan gugur sebelum 1940, memberi petunjuk kuat bahwa musala berdiri pada akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, sekitar 1870-an–1880-an.

Tempat ibadah ini berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun, hingga akhirnya pada 1962 berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein.

Keberadaan dua makam di dua sisi berbeda—Makam Pahlawan di utara sebagai faktor administratif izin pendirian, dan Makam Islam RW02 di selatan sebagai makam keluarga pendiri—semakin memperkuat narasi bahwa musala ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak akhir abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi masjid pada 1962.

Penelusuran lebih lanjut masih dibutuhkan melalui arsip kolonial Belanda, catatan lisan sesepuh kampung, serta dokumen keluarga—terutama untuk memastikan angka tahun pasti pendirian musala dan detail proses pemugaran 1962.


Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (4)

Sempat kaget melihat poster yang menempel di tembok di Musala Ar Rivai di Medokan Kampung. Disana disamping tertulis Nama KH. Yusuf Manan, dan KH. Abdul Manan, ada pula KH. Murtadho, yang pasti siapapun bakal mengetahui bila membaca artikel ini

Bab 6: Tonggak 1962—Dari Musala Menjadi Masjid
Inilah inti penelusuran artikel ini: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Dari berbagai jejak yang berhasil dirangkai, dapat disimpulkan bahwa Imaduddin telah berdiri sebagai musala sejak akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, pada dekade 1870-an hingga 1880-an. 

Selama puluhan tahun—melintasi pergantian abad, masa perjuangan kemerdekaan, hingga awal kemerdekaan—tempat ibadah ini tetap berbentuk musala kecil yang sederhana.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1962. Pada tahun inilah musala tersebut berubah bentuk menjadi masjid. Perubahan ini dipugar—dalam arti dibangun ulang dan diperbesar—oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun, putra KH. Abdullah Manan dan Hj. Salamah. 

KH. Yusuf Manan lahir pada 1940, sehingga pada 1962 ia berusia sekitar 22 tahun—usia muda yang penuh semangat untuk melanjutkan estafet perjuangan kakeknya.

Dengan demikian, rentang waktu Imaduddin sebagai musala berlangsung kurang lebih 70 hingga 80 tahun, yaitu dari sekitar 1870-an–1880-an hingga 1962. Barulah setelah 1962, tempat ibadah ini menyandang status masjid hingga sekarang.

Pemugaran oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan juga penanda kematangan sebuah rintisan spiritual yang telah ditanam Sayyid Zein hampir satu abad sebelumnya. 

Estafet kepemimpinan—dari Sayyid Zein ke KH. Abdullah Manan, lalu ke KH. Yusuf Manan—menunjukkan kontinuitas yang kuat dalam menjaga dan mengembangkan sarana ibadah ini.




 

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (2)

Alias KH. Hamzah Murtadho, ulama karismatik dari Kendalsari.

InfoMedokanAyu - Makam ini menjadi saksi perlawanan rakyat Surabaya terhadap agresi Belanda. Keberadaannya yang sudah ada sejak sebelum musala berdiri menjadikannya faktor penentu bagi izin pendirian musala di masa kolonial. 

Pemerintah Hindia Belanda menerapkan regulasi ketat terhadap pendirian rumah ibadah. Salah satu syaratnya adalah adanya makam di dekat lokasi yang akan dijadikan tempat ibadah. 

Makam Pahlawan di sisi utara inilah yang menjadi pintu masuk administratif bagi Sayyid Zein untuk mengajukan izin pendirian musala.

Makam Islam RW02 terletak di sisi selatan musala, sekitar tiga ratus meter jaraknya. Di kompleks inilah Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya dimakamkan. 

Makam ini baru ada setelah Sayyid Zein wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga yang dihormati hingga kini. Kawasan ini juga sebagai pemakaman umum.

Makam Nyai Hj. Aminah alias M. Wayah istri dari KH. Hamzah Murtadho di pesarean umum Kendalsari.

Karena baru ada setelah wafatnya Sayyid Zein, makam ini tidak mungkin menjadi faktor penentu izin pendirian musala yang dirintis saat Sayyid Zein masih hidup.

Dua makam yang berbeda lokasi ini, utara dan selatan musala, menyimpan narasi yang saling melengkapi tentang perjalanan panjang perjuangan dan dakwah di Medokan Ayu.

Bab 2: Sayyid Zein—Sosok Sentral di Balik Musala
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun adalah tokoh berdarah Arab yang tidak hanya dikenal sebagai hartawan, tetapi juga santri dan tokoh masyarakat yang disegani. 

Pada zamannya, ia adalah figur berpengaruh—baik karena garis keturunan, kharisma pribadi, maupun posisi ekonomi yang mapan. 

Makam KH. Hamzah Murtadho dan Istri, tampak dari sudut lain

Kharisma dan pengaruhnya menjadikannya motor penggerak utama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk pendirian sarana ibadah.

Sayyid Zein memiliki putra bernama KH. Abdullah Manan. Dalam rangka memperkuat jaringan keluarga dan dakwah, Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho—seorang ulama terpandang dari Kendalsari—dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo yang bernama Salamah binti Hamzah Murtadho. 

Dari situ, terjalinlah hubungan perbesanan yang erat antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho. 

Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi Makam KH. Hamzah Murtadho dan Istri.

Jaringan itu menjadi fondasi sosial yang kuat bagi kegiatan keagamaan dan perjuangan di Medokan Ayu.





Nama Alias dan Makam Palsu: Strategi Penting Perang Gerilya

Seperti Yai Tolo Ternyata KH. Hamzah Murtadho

InfoMedokanAyu - Banyak nama alias dan makam palsu, sebelum kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, ternyata hal yang lumrah.

Seperti Yai Tolo—ternyata itu KH. Hamzah Murtadho—yang erat kaitannya dengan Masjid Imaduddin, Medokan Kampung RW02, Medokan Ayu.

Hal itu dipahami ketika menulis 
Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid?

Nama alias bagi generasi era digital memang dianggap hal aneh. Bahkan pula dibuat agar tampak keren, hebat. Bambang diganti BambanQ, Agus dikerenkan AguZ.

Tapi bagi generasi lampau, itu strategi perang gerilya. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan.

Itu akal untuk mengelabui musuh, menjadikan nama alias dan makam palsu sebagai senjata penting dalam melindungi diri dari ancaman penjajah.

Penggunaan nama alias dan bahkan "pemakaman" oleh tokoh spiritual pada masa Agresi Belanda memang merupakan bagian dari strategi penyamaran dan kamuflase untuk melindungi diri dan kelancaran perjuangan gerilya.

Penggantian Nama (Alias):
Untuk menyamarkan identitas asli dari intelijen Belanda (PID) dan menghindari penangkapan. 

Contohnya, Ki Gede Kemangi (nama asli Sokerto Wongso Dikromo) dan Kiai Mojo (nama asli Muslim Muhammad Halifah).

Pembuatan Makam Palsu:
Digunakan untuk mengelabui Belanda agar mengira tokoh tersebut telah meninggal, sehingga pengawasan dilonggarkan. 

Cerita Patih Djojodigdo di Blitar bahkan menyebut ia bisa "hidup kembali" setelah dieksekusi—yang merupakan kiasan atas keberhasilan kamuflase ini.

Di balik strategi ini, ada beberapa alasan kuat mengapa tokoh spiritual sangat membutuhkannya:

Target Prioritas Belanda:
Mereka adalah pemimpin spiritual dan panglima perang yang disegani, memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan massa, sehingga menjadi incaran utama.

Peran Vital dalam Gerilya:
Menjadi otak strategi, guru spiritual pasukan, dan markas di pesantren yang aman dari kecurigaan Belanda.

Begitulah, sebuah nama yang disembunyikan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kecerdikan. 

Yai Tolo hanyalah satu dari sekian banyak tokoh yang namanya tersembunyi di balik samaran—namun jejak perjuangannya tetap abadi, melekat pada masjid dan kampung yang pernah ia jaga.

Dan sejarah, pada akhirnya, selalu menemukan cara untuk mengungkap kebenaran: bahwa di balik setiap nama palsu, ada nyawa yang dipertaruhkan untuk kemerdekaan.

Medokan Ayu, jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Kamis, 10 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (3)

Makam KH. Abdullah Manan, yang olehNYA diberikan umur lebih dari 100 tahun.

InfoMedokanAyu - Berdasarkan data makam, Sayyid Zein wafat pada hari Selasa, 19 Maret 1889, bertepatan dengan 17 Rajab 1306 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Makam Islam RW02, sekitar tiga ratus meter di sisi selatan Musala Imaduddin. Di lokasi yang sama, juga dimakamkan keluarganya.

Dengan tanggal wafat Sayyid Zein yang jelas, kita dapat menarik batas maksimal pendirian musala: harus terjadi sebelum 1889. 

Untuk mempersempit rentang waktu, kita merujuk pada putra tunggalnya, KH. Abdullah Manan, yang wafat pada 1999. Jika ia lahir sekitar 1880-an, maka pada masa pendirian musala ia masih bocah dan mungkin menyaksikan perjuangan ayahnya.

Dua skenario logis muncul:
Skenario pertama, yang paling kuat secara historis, adalah musala didirikan oleh Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan besar akhir 1870-an hingga pertengahan 1880-an. 

Pada masa itu, Sayyid Zein masih hidup, dan Makam Pahlawan di sisi utara telah ada sebagai syarat administratif izin pendirian. 

Skenario kedua, yang kurang didukung bukti, adalah musala didirikan oleh generasi penerus setelah Sayyid Zein wafat sebagai amal jariyah. 

Pendirian musala sebelum 1889 oleh Sayyid Zein adalah skenario yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Makam istri KH. Abdullah Manan, di pesarean keluarga di makam Islam RW02 Medokan Kampung.

Bab 3: Peran Jaringan Keluarga dalam Pemakaman Tiga Pejuang
Di Makam Pahlawan sisi utara, terdapat tiga nisan berjajar rapat. Ketiganya adalah ulama sekaligus pejuang yang gugur dalam perlawanan terhadap agresi Belanda. 

Keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—menunjukkan bahwa kompleks pemakaman ini telah menjadi bagian penting dari lanskap Medokan Kampung sejak awal. 

Makam inilah yang kemudian menjadi syarat administratif bagi Sayyid Zein saat mengajukan izin pendirian musala di masa kolonial.

Sangat dimungkinkan bahwa generasi penerus Sayyid Zein—KH. Abdullah Manan dan mertuanya KH. Hamzah Murtadho—berperan penting dalam merawat dan menjaga kompleks Makam Pahlawan di sisi utara musala. 

Hal ini memperkuat dugaan bahwa jaringan keluarga yang terbentuk melalui perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho tidak hanya berperan dalam pendirian sarana ibadah, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom tradisi pemakaman para pejuang di kawasan tersebut.

Hubungan perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menjadi bukti nyata bagaimana ikatan keluarga diperkuat demi kelangsungan dakwah dan perjuangan. 

Perjodohan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan strategi sosial untuk membangun jaringan ulama yang solid di kawasan Surabaya Timur.
Bab 4: Jejak Generasi Kedua dan Isyarat Tahun
KH. Yusuf Manan, generasi kedua dari perintis musala, adalah putra KH. Abdullah Manan dan cucu Sayyid Zein. Ia lahir pada 1940, saat gelora kemerdekaan mulai bergema—lima tahun kemudian Indonesia merdeka.

Fakta kelahiran ini memberi isyarat penting: para pahlawan di sisi utara telah gugur sebelum 1940. 

Musala Imaduddin yang berdiri sejak akhir abad ke-19 berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan.

Bab 5: Tiga Nisan Berjajar di Sisi Utara
Di Makam Pahlawan sisi utara, tiga nisan berjajar sangat rapat. KH. Asmadi adalah guru atau ulama senior dengan peran sentral dalam bimbingan spiritual dan kepemimpinan perjuangan. 

KH. Hardjo, muridnya, turut serta dalam perlawanan fisik dan dimakamkan di sisi guru. KH. Kunawi, juga murid, berjuang bersama di Tambak Oso dan Medokan Ayu.

Sayangnya, pada nisan tidak ada tulisan selain nama. Tak tercantum tahun kelahiran atau wafat. Ketiadaan data ini menyulitkan penelusuran kronologi. 

Namun dari berbagai isyarat—kelahiran KH. Yusuf Manan pada 1940 dan fakta mereka gugur dalam agresi Belanda—dapat dipastikan mereka gugur sebelum kemerdekaan.

Silsilah KH. Hamzah Murtadho

Pemerintah Kota Surabaya memberikan pengakuan resmi terhadap makam ini. Peresmian Makam Pahlawan menjadi bukti bahwa perjuangan ketiga tokoh diakui negara. 

Ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Medokan Ayu, bahwa sejarah perjuangan di kampung mereka bukan sekadar cerita lisan, melainkan bagian dari sejarah resmi bangsa.





Rabu, 09 September 2026

Estafet Kepengurusan Masjid Imanuddin: Sinergi Lintas Generasi

Kepengurusan Masjid Imaduddin saat ini.

InfoMedokanAyu - Secara umum, kepengurusan di masjid ini terbilang cukup hidup dan dinamis. 

Estafet kepemimpinan masjid berlangung dengan begitu terjaga dibawahnya garis Sayyid Zein. Diawali oleh putra tunggal KH.  H Abdullah manan. Kemudian sang cucu  KH Yusuf Manan, dan kini oleh Cicit H Machrus. 
KH Abdullah Manan Zen

Sementara itu, dari kalangan generasi muda, tampil sebagai pengurus antara lain Ust. Dr. H. Mustain Yusuf, Ust. H. Tolkha Yusuf, dan Ust. H. Umar Yusuf.
KH Yusuf manan Zen

Selain mereka, terdapat pula nama-nama seperti Ust. Syamsuddin, Ust. Nawawi, Ust. Abdullah Isa, Ust. Fadholi, serta masih banyak pengurus lain yang akan disebutkan menyusul.