Senin, 08 Juni 2026

Petani Mangrove: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian

Basori ketua kelompok Tani Mangrove Bahari - Gunung Anyar menunjukkan bibit bakau yang telah berusia 7 bulan.

InfoMedokanAyu - Kelompok Tani Mangrove di Surabaya saat ini menghadapi prospek yang spekulatif dan berisiko tinggi. Mereka hanya mengandalkan "pemberian kesempatan" tanpa adanya komitmen pembelian yang pasti. Padahal, risiko kerugian sangat besar jika bibit tidak laku hingga melewati usia 7 bulan.

Demikian disampaikan oleh Basori, Ketua Kelompok Tani Mangrove Bahari - Gunung Anyar, Surabaya sebagai penyedia bibit bakau. Sementara itu, di Medokan Ayu, belum terdapat Kelompok Tani serupa.

KETERBATASAN KEPASTIAN PASAR
Basori menceritakan, kelompoknya hanya diberi kesempatan untuk melakukan pembibitan dan penanaman. Pendapatan mereka berasal dari penjualan bibit dan jasa penanaman, yang biasanya dibeli oleh perusahaan yang peduli pada pelestarian mangrove.

Beberapa tahun lalu, usaha ini sempat lancar. Permintaan bibit bakau cukup tinggi untuk keperluan restorasi, reboisasi, atau program CSR perusahaan. 

Kelompok yang beranggotakan 13 orang itu juga siap menanamkan bibit, sehingga risiko kematian akibat kesalahan tanam dapat dihindari. Harga bibit siap tanam berikut penanaman sekitar Rp8.000 per pohon.

RISIKO STUNTING SETELAH 7 BULAN
Kondisi saat ini sangat berbeda. Pembelian bibit sangat terbatas, bahkan hingga usia 7 bulan. Padahal, petani telah menanggung biaya produksi seperti media tanam, polibag, dan perawatan selama 7 bulan.

Sosok Basori

Bibit bakau tidak tahan lama jika sudah siap tanam. Akar dapat keluar dari polibag dan mengalami stunting, yang ditandai dengan:
· Tanaman tidak dapat berkembang optimal
· Batang menjadi pendek dan kecil
· Daun menguning atau rontok

Akibatnya, bibit menjadi kurang sehat dan tingkat keberhasilan tanam rendah. Tanpa pembeli yang jelas setelah 7 bulan, risiko bibit mengalami stunting sangat tinggi sehingga nilainya menurun drastis.

Sementara itu, kondisi Ekowisata Mangrove Surabaya dapat dibaca dengan klik "Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu"

Selengkapnya perubahan status pengelola dapat disimak dengan klik "BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya sebagai Tempat Hiburan dan Aset Riset Strategis"

KEPRIHATINAN PETANI & KEBUTUHAN POHON
Basori mengaku prihatin dengan kondisi pembibitan saat ini.

"Kadang bibit masih usia 5 bulan, keluarga petani sudah menjerit butuh uang belanja. Terpaksa saya harus berupaya mencarikan," tuturnya.

Padahal, luas area tanam mangrove yang perlu disentuh masih besar. Kawasan Gunung Anyar yang sudah banyak ditanami masih membutuhkan sekitar 7.000 pohon. Sementara Medokan Ayu memiliki kebutuhan lebih besar lagi.

Sejak ekowisata mangrove berdiri, hanya pada tahun 2024 Medokan Ayu ditanami dua kali dengan total 1.500 pohon, itupun banyak yang mati. Diperkirakan kawasan Medokan Ayu masih membutuhkan 100.000 pohon.

Secara keseluruhan, ruang ekowisata Mangrove Medokan Ayu paling luas.

Berdasarkan data Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, luas area mangrove Medokan Ayu mencapai 16 hektare (Ha) dan Gunung Anyar 11 hektare (Ha). 

Sebagai informasi tambahan, luas total KRM Surabaya yang merupakan gabungan mangrove Gunung Anyar, Medokan Ayu, dan Wonorejo adalah 34 hektare.

KESIMPULAN
Kelompok tani bakau di Gunung Anyar dan kebutuhan area tanam di Medokan Ayu (total sekitar 107.000 pohon) menunjukkan potensi besar, namun tanpa kepastian pasar dan komitmen pembelian, usaha pembibitan bakau tetap berisiko tinggi dan spekulatif. (red)


BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya sebagai Tempat Hiburan dan Aset Riset Strategis

Prasasti tertanda Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri saat peresmian sebagai Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia. Saat itu beliau Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sampai kini.
 
InfoMedokanAyu - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) saat ini memosisikan Ekowisata Mangrove Surabaya tidak sekadar sebagai tempat liburan, melainkan sebagai aset riset strategis untuk masa depan kota yang berkelanjutan. Kesimpulan ini diperoleh setelah diketahui posisi BRIDA terhadap kawasan tersebut sebagai pengelola utama dan pengubah haluan strategis.

Sejak resmi beroperasi sebagai perangkat daerah mandiri pada awal Januari 2026, BRIDA secara struktural telah menaungi kawasan ini dan mengubah fokus utamanya.

LANDASAN HUKUM & STRUKTUR
Perubahan ini didasari oleh Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 55 Tahun 2025 yang secara resmi memindahkan pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) ke bawah naungan BRIDA.

· Kepala BRIDA: Saat ini dijabat oleh Agus Imam Sonhaji.

· Struktur: UPT Kebun Raya Mangrove menjadi bagian integral dari BRIDA dengan tugas teknis yang mencakup konservasi, riset, dan pengelolaan.

FOKUS BARU: Dari Wisata ke Riset
Perubahan ini mengubah paradigma kawasan Mangrove Surabaya secara fundamental.

Fokus Utama:  Destinasi ekowisata dan rekreasi (lama), Pusat riset & konservasi berstandar internasional (kini)

Fungsi Strategis: Pendidikan lingkungan bagi wisatawan (lama),  Living laboratory (laboratorium hidup) serta pusat studi blue carbon (karbon biru) (kini)

Target: Peningkatan jumlah pengunjung,  Mitigasi perubahan iklim dan potensi ekonomi karbon bagi kota (kini)

MODEL KOLABORASI "Heptahelix"
Untuk menjalankan mandat ilmiah ini, BRIDA tidak bekerja sendiri. Mereka menginisiasi model kolaborasi baru yang lebih luas, yaitu Heptahelix, yang melibatkan 7 unsur:

1. Pemerintah
2. Akademisi (perguruan tinggi)
3. Dunia usaha
4. Masyarakat
5. Media
6. Komunitas
7. Pengguna (user)

BRIDA berperan sebagai "agregator" atau penghubung, memastikan riset dari kampus dapat dihilirisasi menjadi kebijakan atau produk nyata yang bermanfaat bagi warga.

PENGEMBANGAN MULTIFUNGSI
Meskipun fokus bergeser ke riset, BRIDA bersama DKPP tetap mengembangkan fungsi lain, seperti:

· Ketahanan pangan: Mengembangkan padi biosalin dan sistem silvofishery (budidaya ikan di kawasan mangrove) sebagai sumber pangan alternatif.

· Pendukung kebijakan: Hasil riset BRIDA akan menjadi basis data untuk mengatasi persoalan kota, seperti banjir dan perubahan iklim.

PENGELOLA SEBELUMNYA
Sebelumnya Ekowisata mangrove di Surabaya dikelola dalam dua periode utama: awalnya berbasis masyarakat, kemudian berubah menjadi pengelolaan resmi oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui dinas terkait.

Periode Perintis (sekitar 2010–2012)
Pada fase ini, pengelolaan sepenuhnya digerakkan oleh masyarakat karena adanya kekhawatiran terhadap kerusakan hutan mangrove.

· Penggagas & pengelola awal: Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Nirwana bersama Kelompok Tani setempat.

· Motif awal: Kesadaran untuk menyelamatkan kawasan dari penebangan liar dan abrasi. Mereka mulai membuka akses untuk edukasi secara informal.

· Ciri pengelolaan: Swadaya, belum terstruktur secara formal, dan memanfaatkan peran aktif warga sekitar.

Periode Pengelolaan Resmi & Status Kebun Raya (2018–sekarang)
Melalui legalitas formal, Pemerintah Kota (Pemkot) mengambil alih kendali.

· Pengelola utama: Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
· Unit khusus: Dibentuk UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya (berdasarkan Perwali Nomor 41 Tahun 2023) yang mengelola secara profesional dengan 57 personel.

· Peran tokoh kunci:
  · Tri Rismaharini: Saat menjabat Wali Kota, ia memprakarsai pembangunan skala besar pada 2018 dan menggandeng LIPI.

  · Eri Cahyadi: Meneruskan pembangunan hingga peresmian resmi sebagai Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia pada 26 Juli 2023.

MODEL PENGELOLAAN KINI
Saat ini, meskipun naungan utama ada di DKPP, pemerintah menjalankan model kolaborasi agar tetap memberdayakan warga:

· Peran masyarakat: Masyarakat sekitar tetap dilibatkan dalam operasional (misalnya mengelola perahu, UMKM) untuk kesejahteraan ekonomi.
· Bantuan riset: BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) membantu aspek penelitian dan pengembangan koleksi mangrove.

KESIMPULAN
Pengelolaan ekowisata mangrove Surabaya berevolusi dari inisiatif rakyat (FKPM) menjadi aset strategis kota (DKPP & UPT Kebun Raya Mangrove) dengan status Kebun Raya resmi pada tahun 2023, dan kini memasuki babak baru sebagai pusat riset di bawah BRIDA. (red)

Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu

Busem Medokan Ayu dilihat dari puncak Menara di Ekowisata Mangrove Gunung Anyar.
InfoMedokanAyu - Sesampainya di kawasan Mangrove Surabaya, tepatnya di Gunung Anyar dan Medokan Ayu, sebuah bangunan baru langsung menyambut. 

Berada tak jauh dari area parkir, bangunan itu berfungsi sebagai loket tiket anyar, menggantikan posisi lama yang kini terletak sekitar seratus meter dari lokasi sebelumnya. 

Pintu masuk "terhalang" pembangunan loket. Sementara langsung belok kanan masuk lewat lahan parkir. Tarif pakir Rp 5.000/ motor.

Di seberang bekas loket lama, pembangunan gedung pertemuan tengah berlangsung.

Pembangunan Gedung Pertemuan lokasi sebrang loket masuk. Tiket masuk Rp 15ribu/ orang.

Tanpa terasa, perjalanan kami yang dimulai pukul sembilan pagi itu masih belum mengeluarkan keringat, tetapi azan zuhur sudah berkumandang.

Demikian perjalanan mengunjungi Ekowisata Mangrove Surabaya, khususnya di Gunung Anyar, berhimpitan dengan Medokan Ayu, yang lokasinya pesisir Timur Surabaya.

Nuansa hutan mangrove memang tidak tertandingi. Apalagi di kota, di mana terik matahari di ruang terbuka begitu menyengat. Kawasan mangrove lain. 

Menjumpai peta pengembangan bila masuk lsngsung belok kanan, lewat sisi Barat gedung utama.

Gedung Utama Ekowisata Mangrove Surabaya - Gunung Anyar.


Bibit Mangrove

Pepohonan bakau yang tinggi menetralkan panas pantai, menjadikannya teduh dan nyaman. 

Berjalan menyusuri geladak berpapan pun terasa aman; jalan setapak itu bertumpu pada penyangga beton yang kokoh. 

Jalanan geladak kayu berpenyanggah beton

Pagar terawat. Yang rapuh, digantikan.

Di sepanjang geladak, tersedia pula tempat foto plus pemandangan apik, lengkap dengan kursi-kursi yang disediakan pengelola.

Jenis mangrove pun terbaca jelas pada label yang ditempelkan di pohonnya.

BANGAU
Namun, ada yang menarik dari kesunyian siang itu. Karena kedatangan kami sekitar pukul sembilan, burung-burung kecil sudah memilih bersembunyi di balik rimbun dedaunan bakau. 

Tak ada kicau riuh seperti kabar dari mereka yang datang lebih pagi. Yang tersisa hanyalah seekor bangau—atau mungkin kuntul—berdiri diam di dahan mangrove bagian timur. 


Bulunya putih bersih, paruhnya runcing, matanya awas memandang ke arah air yang mulai surut. 

Kadang ia mengepakkan sayap malas, lalu kembali diam. Sesekali, bangau lain terbang rendah melintasi atas geladak kami, tanpa suara, hanya bayangan putih yang meluncur pelan.

Tarif berperahu. Bisa diketahui, bila masuk ke gazebo penunggu perahu dan mendongak. Tarif menempel di atap gazebo.

BERPERAHU RP 20.000
Ekowisata ini juga menyediakan wisata berperahu menuju muara, yang membutuhkan waktu 45 menit sampai tujuan.

Disiini tarif berperahu, dibedakan berdasarkan kewarganegaraaan. WNI Rp 20.
000, WNA Rp 40.000. 

Perahu berkapasitas 6 orang dewasa.

MENARA
Sebelum berjalan terlalu jauh menyusuri geladak, penulis sempat menaiki menara pandang. 

Dari atas, pemandangan benar-benar berbeda. Hamparan ekowisata Mangrove Medokan Ayu terbentang dari ketinggian.

Sisi utara memperlihatkan panorama wisata air yang luas. Dari atas menara, mata penulis tertuju pada Busem. 


Busem di Mangrove Medokan Ayu

Busem tampak seperti pusat kegiatan ekowisata air di lokasi Mangrove Medokan Ayu. Namun riilnya, kawasan sekitar Busem tampak sepi. Tak terlihat orang hilir mudik, tiada anak-anak berlarian.

Saya agak bertanya-tanya. Tempatnya bagus, udaranya teduh, spot fotonya apik. Tapi mengapa sepi? 

Sepertinya ekowisata ini kurang promosi. Padahal, banyak papan petunjuk di jalan menuju lokasi. Hanya saja, masyarakat sekitar UPN—di jalanan menuju mangrove—banyak yang belum tahu tentang Mangrove Surabaya.

Ini semacam ironi: potensi besar, namun tidak siap dikelola sebagai ekowisata. 

Riilnya memang tidak ada warga lokal yang dilibatkan pada pengelolaaan Mangrove ini.

Untuk Masyarakat Gunung Anyar, ada yang dilibatkan. Khususnya 13 orang, yang aktif pembibitan bakau, dibawah ketua kelompok Petani bakau.

Kini merekapun prihatin, silahkan klik "Petani Bakau: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian"

Sementara di Medokan Ayu belum ada yang dilibatkan.

Penulis berdiri cukup lama di atas menara, menikmati angin yang lebih kencang dari bawah, tetapi juga merasakan semacam sayu. Tempat sebagus ini layak ramai.

Seusai menyusuri ketinggian menara pengamatan, penulis turun dan berjumpa dengan rombongan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. 

Mahasiswa UPN jurusan Fakultas Pertanian usai melakukan "penyulaman" - menggantikan tanaman Mangrove yang mati.

Mereka adalah mahasiswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, yang tengah menggelar kegiatan penanaman mangrove di kawasan konservasi pesisir. 

Mereka tidak sekadar menanam, tetapi melakukan penyulaman—mengganti tanaman mangrove yang mati agar ekosistem kembali pulih. Semangat mereka patut diacungi jempol.

MANGROVE MEDOKAN AYU
Menuju mangrove Medokan Ayu difasilitasi jembatan. Lokasinya sekitar sekitar 150M ke arah Timur dari loket.

Disana dilengkapi wisata air di area Busem. Juga ada Wahana ATV, yang singkatan dari All-Terrain Vehicle, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut kendaraan segala medan. 

ATV itu bentuknya mirip sepeda motor dengan empat roda besar dan kasar (seperti ban traktor). Dikendarai dengan cara diduduki dan setang seperti motor biasa.

Wahana ATV biasanya digunakan untuk:
· Menjelajahi jalur tanah/lumpur di kawasan mangrove yang tidak bisa dilalui mobil biasa.
· Melintasi medan tidak rata, seperti kubangan lumpur, jalan berbatu, tanjakan, atau genangan air dangkal.
· Rekreasi off-road dengan sensasi menantang namun tetap aman karena kecepatannya terkontrol.

Cara menggunakannya: cukup duduk, pegang setang, gunakan gas dan rem seperti motor, tapi karena rodanya empat, tidak perlu menjaga keseimbangan. Tersedia untuk 1 atau 2 orang (double ATV).

HARGA MAKANAN DI AREA TIDAK AKRAB KANTONG MAHASISWA
Namun, di sela-sela kegiatan, terlihat pemandangan yang cukup memprihatinkan. 

Kafetaria-lokasi stan makanan minuman yang sepi, di hari Minggu 7 Juni 2026

Usai acara, beberapa mahasiswa melahap jatah nasi kotak di luar area, seperti di lokasi parkir yang terbuka. 

Bahkan, sebagian memilih membawa pulang makanannya tanpa sempat menyantapnya di tempat, terutama para mahasiswi. 

Ketika saya tanyakan mengapa mereka tidak makan di dalam area yang sudah tersedia tempat cukup layak, seorang mahasiswa menjawab dengan nada kecewa, "Tidak enak, Pak. Soalnya di sini pengunjung dilarang membawa bekal dan melahapnya di dalam area."

Benar saja. Bapak Arif, warga YKP Medokan Ayu yang kebetulan sedang berjalan-jalan, membenarkan aturan tersebut. 

Menurutnya, sejak beberapa waktu lalu, ketika mengajak jalan-jalan cucu di area ini, pihak petugas melarang pengunjung menyantap bekal bawaan dari rumah. Jika lapar, pengunjung diwajibkan membeli makanan yang dijual di dalam area.

"Masalahnya, harga makanan di dalam area jauh lebih mahal dibanding makanan yang sama di luar," ujar pengunjung lain. 

Lalu dibandingkan dengan kawasan lain. "Beda dengan Taman Harmoni Sukolilo. Di sana, lebih baik tidak usah bawa bekal karena harga makanan di dalam area relatif murah, seimbang dengan yang dijual pedagang kaki lima di luar. Ragamnya juga banyak," jelasnya.

Perbedaan kebijakan antara dua kawasan wisata alam ini menarik dicermati. 

Di satu sisi, larangan membawa bekal mungkin diterapkan untuk mendukung omzet pelaku UMKM di dalam area. 

Namun di sisi lain, jika harga jual tidak bersaing dan ketersediaan pangan terbatas, pengunjung—termasuk mahasiswa yang sedang berkegiatan konservasi—justru merasa dirugikan.

Maka, judul pada tulisan ini disajikan demikian, dengan alasan silahkan klik Makna Judul 'Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu'

PERMATA TERPENDAM
Setelah berbincang dengan mahasiswa dan Bapak Arif, penulis kembali menyusuri geladak seorang diri. 

Suasana terasa lebih sunyi dari yang kubayangkan—bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena minimnya pengunjung. Namun justru di situlah keistimewaan sekaligus kesedihannya. 

Tidak ada ramai suara, tiada hiruk-pikuk. Hanya debur air surut, gesekan daun bakau, dan sesekali suara kepiting kecil yang berlarian di antara akar-akar napas yang menjulang.

Disempatkan duduk di salah satu kursi kayu dekat gardu pandang. Angin laut bertiup tipis, membawa bau tanah basah dan garam.

Waktu terasa lambat. Mungkin jika datang lebih pagi—pukul enam atau tujuh—suasana akan berbeda. Atau mungkin jika promosinya gencar, tempat ini tak akan sesepi ini. 

Tapi untuk hari itu, pukul sembilan sudah cukup. Sepi pun jadi saksi: kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu adalah permata yang masih terpendam

Ia tidak perlu ramai untuk terasa hidup. Namun alangkah sayangnya jika keindahan seperti ini hanya dinikmati oleh segelintir orang—dan bangau-bangau yang setia menunggu.

Semoga pengelola kawasan mangrove ini dapat mengevaluasi kebijakan tersebut. Sebab, kenyamanan pengunjung dan keterjangkauan harga adalah bagian penting dari keberlanjutan wisata edukatif seperti ini. 

Terlebih ketika yang datang adalah generasi muda yang peduli lingkungan, sudah sepantasnya mereka mendapat pelayanan yang mendukung, bukan justru menyulitkan.

HALUAN BARU: Dari WiSATA KE RISET
Namun, catatan dan masukan ini kiranya lebih cocok untuk periode sebelum tahun 2026. Kini, fokus telah berubah. 

Sejak Januari 2026, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) resmi menjadi pengelola utama sekaligus pengubah haluan strategis kawasan ini.

Jika sebelumnya Mangrove Surabaya berfungsi sebagai destinasi ekowisata dan rekreasi, kini beralih menjadi pusat riset dan konservasi berstandar internasional

Keberadaan Mangrove Surabaya memang sempat membingungkan, terutama terkait fungsi dan pengelolaannya. 

Kini, kawasan ini tidak lagi berada di bawah kelola masyarakat atau kemudian Pemerintah Kota secara langsung. Mulai Januari 2026, ia berada di bawah naungan BRIDA.

Selengkapnya tentang pengelolaan Mangrove silahkan klik BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya Sebagai Tempat Hiburan dan Asek Riset Strategis.

Sebuah babak baru. Semoga arah yang lebih terukur membawa kebaikan bagi ekosistem, riset, dan masyarakat sekitarnya. (red)

Selasa, 02 Juni 2026

Saat Dolar Menguat, Jangan Asal Kredit: Ini Paling Aman untuk Memenuhi Kebutuhan Motor atau Mobil


InfoMedokanAyu - Jika memiliki dana tunai, membeli kendaraan bekas secara kontan adalah pilihan paling aman. Jika dana terbatas tetapi kebutuhan kendaraan mendesak, sewa jangka pendek lebih bijak dlketimbang kredit baru. Hindari kredit di tengah tekanan penguatan dolar AS.

Demikian analisis dari InfoMedokanAyu – Weblog komunitas Kelurahan Medokan Ayu, yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pemenuhan kebutuhan kendaraan di tengah fluktuasi dolar AS.

Dalam kondisi nilai tukar dolar AS menguat, pemenuhan kebutuhan kendaraan bermotor (motor atau mobil) memerlukan kehati-hatian ekstra. 

Jika Anda memiliki dana tunai, membeli kendaraan bekas secara kontan merupakan langkah paling aman dan minim risiko.

Sementara itu, bagi yang dana terbatas namun butuh kendaraan segera, opsi sewa jangka pendek lebih disarankan dibandingkan mengambil kredit baru.

Analisis ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul:
"Ketika Dolar AS Menguat: Waspadai 3 Risiko Utama di Tengah Kredit Motor-Mobil"

Mengapa Dolar AS Menguat Berpengaruh?

Ketika dolar AS menguat, harga komponen impor, termasuk untuk motor dan mobil, cenderung naik. Dampaknya, harga unit baru maupun bekas ikut terdongkrak. 

Oleh karena itu, strategi pembiayaan kendaraan perlu disesuaikan.

Pertimbangan Singkat:

1. Kredit Baru – Risiko Terbesar
 Suku bunga kredit kendaraan biasanya naik seiring inflasi dan kebijakan bank sentral. 

Total cicilan bisa membengkak jauh lebih mahal dibandingkan skenario normal. 

Risiko ini paling tinggi dirasakan konsumen saat dolar sedang kuat.

2. Beli Kontan Bekas – Paling Disarankan
Harga kendaraan bekas memang ikut naik, tetapi tidak setinggi lonjakan total biaya kredit. 

Dengan pembelian kontan, tidak menanggung beban bunga, dan nilai residu kendaraan bekas cenderung lebih stabil.

3. Sewa (Leasing Operasional) – Opsi Jangka Pendek
Sewa bisa menjadi solusi untuk kebutuhan 1–2 tahun karena tidak memerlukan modal besar, dan risiko depresiasi ditanggung oleh lessor (perusahaan leasing). 

Namun, perlu diingat bahwa total biaya sewa dalam jangka panjang tetap lebih tinggi dibandingkan membeli bekas secara tunai.

Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi saat dolar AS menguat, keputusan cerdas adalah menghindari utang baru berbunga tinggi dan memilih opsi yang paling fleksibel sesuai kemampuan likuiditas.

Redaksi InfoMedokanAyu – weblog komunitas Kelurahan Medokan Ayu

Ketika Dolar AS Menguat: Waspadai 3 Risiko Utama di Tengah Kredit Motor-Mobil


InfoMedokanAyu - Sedang menjalani kredit motor atau mobil, lalu nilai tukar dolar AS melonjak terhadap rupiah? Kekhawatiran itu wajar. Meskipun nominal angsuran bulanan dalam rupiah tampak tidak berubah, ada tiga risiko besar yang perlu diwaspadai.

Artikel ini disusun oleh redaksi InfoMedokanAyu – weblog komunitas Kelurahan Medokan Ayu – sebagai bahan pertimbangan warga sebelum terlambat menyadari dampaknya.


3 Risiko Utama Jika Dolar AS Menguat

1. Risiko Kenaikan Suku Bunga (Paling Nyata)
Perusahaan pembiayaan (leasing) banyak meminjam dana dalam dolar AS. Ketika dolar naik, biaya dana mereka membengkak.

· Dampak untuk Peminjam: Bunga untuk kontrak baru pasti naik. Untuk kredit berjalan, jika kontrak Anda menggunakan bunga mengambang (floating), maka cicilan bulanan bisa naik di tengah jalan.

· Tips: Segera buka kontrak Peminjam. Cek apakah bunga bersifat fixed (tetap) atau floating (mengambang).

2. Risiko Harga Jual Turun (Residual Value)

Dolar naik → ekonomi melambat → daya beli turun → pasar mobil bekas lesu.

· Dilema: Jika Anda terpaksa menjual kendaraan di tengah jalan (misal karena PHK atau darurat), harga jualnya bisa jauh lebih rendah dari sisa utang pokok.

· Akibat: Anda akan kesulitan "tutup buku" lebih awal karena hasil penjualan tidak menutup sisa kredit.

3. Ketika Dolar AS Menguat: Waspadai 3 Risiko Utama di Tengah Kredit Motor-Mobil

Risiko ini terutama untuk kredit dengan:
· Bunga rendah di awal (subsidi)
· Skema Balloon Payment (uang tebusan di akhir)

Penyebab: Produsen otomotif sangat bergantung pada komponen impor. Jika dolar terus menguat, biaya produksi melonjak. Meski jarang, bisa saja kebijakan administrasi atau penutupan kredit berubah di akhir masa kontrak.

STATUS SUKU BUNGA KONTRAK: WAJIB DIPANTAU
Saat ini (data terbaru), pabrikan seperti Toyota dan Honda masih berusaha menahan harga mobil baru. Sebagian leasing juga belum menaikkan bunga.

Tapi, jika dolar bertahan tinggi dalam jangka panjang, tekanan kenaikan suku bunga kredit tidak bisa dihindari.

Yang Bisa Dilakukan Sekarang:
1. Cek kontrak – Apakah bunga Fixed atau Floating?
2. Jika Floating, segera sisihkan dana darurat minimal setara 6 bulan cicilan untuk antisipasi kenaikan di masa depan.

SKENARIO EKSTREM: Jika Dolar Tembus Rp20.000
Berikut ilustrasi jika dolar AS meroket dari Rp15.000 ke Rp20.000 (atau lebih) di tengah masa kredit, dengan asumsi kontrak menggunakan bunga mengambang (floating).

Kondisi Normal (2 Tahun Lalu)
· Budi beli mobil Rp300 juta. DP Rp60 juta → sisa utang Rp240 juta.
· Tenor: 4 tahun, bunga 6% mengambang.
· Cicilan: ±Rp5,8 juta/bulan. Gaji: Rp15 juta/bulan.
· Rasio cicilan/pendapatan: 39% (masih aman).

Krisis Datang: Dolar Meroket >30%
· Rupiah terpuruk → BI menaikkan suku bunga acuan dari 6% → 14%.

· Karena bunga kredit Budi floating, suku bunganya ikut naik ke 14%.

Beban Budi Membengkak
· Setelah 1 tahun, sisa utang: Rp190 juta, sisa tenor 3 tahun.

· Cicilan baru dengan bunga 14%: menjadi Rp6,5 juta/bulan.

· Tambahan beban: Rp700 ribu/bulan → total tambahan >Rp25 juta selama sisa kredit.

Bukan Hanya Cicilan yang Naik
· Harga BBM, listrik, bahan pokok (gandum, kedelai, pupuk) ikut naik.

· Tagihan bulanan Budi membengkak Rp1–2 juta hanya untuk kebutuhan dasar.

Pendapatan Justru Terjepit
· Ekonomi lesu → perusahaan Budi efisiensi, lembur dipangkas.

· Gaji bersih turun menjadi Rp12 juta/bulan.

· Rasio cicilan/pendapatan melonjak dari 39% → 54% (belum termasuk biaya hidup).

Jebakan "Utang Lebih Besar dari Harga Jual"
· Budi panik dan ingin menjual mobil.

· Daya beli anjlok → mobil bekas laku hanya Rp140 juta.

· Sisa utang masih Rp190 juta → kekurangan Rp50 juta yang harus dibayar sendiri.

Akhir Cerita (Skenario Terburuk)
· Budi telat bayar → denda menumpuk → leasing tarik paksa mobil.

· Mobil dilelang hanya Rp120 juta.

· Sisa utang Rp190 juta → Budi masih berutang Rp70 juta ke leasing.

· Mobil hilang, utang tetap ada. Nama Budi tercatat buruk di SLIK OJK.

· Dampak: Bertahun-tahun kesulitan mengajukan KPR, pinjaman pribadi, bahkan kartu kredit.

Satu-satunya Tameng
Kisah Budi adalah risiko ekstrem yang nyata jika:
· Kontrak kredit menggunakan bunga mengambang (floating),

· Dan dolar AS benar-benar meroket dalam waktu singkat.

Pastikan kontrak kredit kendaraan menggunakan suku bunga tetap (fixed) hingga lunas.

Jika tidak, segera siapkan dana darurat minimal 6 bulan cicilan sebagai bantalan.

Redaksi InfoMedokanAyu – weblog komunitas Kelurahan Medokan Ayu

Senin, 01 Juni 2026

Medokan Ayu: Darurat Risiko Majemuk – Banjir, Kebakaran, Narkoba, dan Krisis Lingkungan


InfoMedokanAyu - Kelurahan Medokan Ayu memiliki profil risiko bencana yang kompleks. Ancaman utama didominasi oleh banjir (genangan dan rob), disusul oleh risiko kebakaran, kerawanan sosial (penyalahgunaan narkoba), serta berbagai tantangan lingkungan hidup. Demikian potret data Medokan Ayu berdasarkan informasi terkini per Juni 2026.

Mengapa Risiko Banjir di Medokan Ayu Dikategorikan Tinggi?

Berdasarkan data resmi Pemerintah Kota Surabaya, Kecamatan Rungkut – yang menaungi Medokan Ayu – masuk dalam kategori Tingkat Bahaya Banjir Tinggi dengan Kapasitas Rendah. Akibatnya, Tingkat Risiko Banjir ditetapkan TINGGI.

Memahami Frasa Kunci: "Bahaya Tinggi, Kapasitas Rendah"
Frasa ini adalah inti dari analisis risiko bencana. Risiko tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar atau sering bencana terjadi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam menghadapinya.

1. Tingkat Bahaya Banjir Tinggi
   · Makna: Dari sisi ancaman fisik, wilayah ini memang sangat rawan banjir, baik karena faktor alam maupun lingkungan.

   · Penyebab: Curah hujan ekstrem, wilayah cekungan, kedekatan dengan sungai, sistem drainase buruk, serta pasang air laut (rob).

   · Implikasi: Hampir setiap hujan deras, genangan signifikan pasti terjadi, dengan ketinggian dan durasi yang mengganggu.

2. Kapasitas Rendah
   · Makna: Kemampuan pemerintah setempat dan warga untuk mencegah, mengurangi, serta menanggulangi banjir masih lemah.

   · Indikator: Kurangnya pompa air, tanggul, sistem peringatan dini, minimnya logistik evakuasi, rendahnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungan, serta lemahnya koordinasi tanggap darurat.

   · Implikasi: Warga dan fasilitas umum sangat rentan. Banjir kecil pun bisa berdampak besar karena tidak ada sistem antisipasi.

3. Gabungan Keduanya → Risiko TINGGI
   · Logika sederhana: Bahaya tinggi + Kapasitas rendah = Risiko tinggi.

   · Makna tersirat: Di Medokan Ayu, setiap kejadian banjir akan dengan mudah menimbulkan kerugian besar (kerusakan rumah, lumpuhnya aktivitas, penyakit) karena ketidakmampuan menghadapinya.

Kesimpulan prioritas: Upaya tidak boleh hanya fokus pada mengurangi bahaya (misalnya membangun infrastruktur), tetapi juga meningkatkan kapasitas (menyediakan pompa, pelatihan evakuasi, edukasi warga). 

Tanpa peningkatan kapasitas, bahaya yang sama akan terus menghasilkan risiko tinggi.

Rincian Risiko di Medokan Ayu

1. Risiko Banjir & Genangan (Prioritas Utama)

Status Resmi: Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kota Surabaya 2019-2023, Kecamatan Rungkut masuk dalam Tingkat Bahaya Banjir Tinggi dan Tingkat Risiko Banjir Tinggi. 

Sangat tidak mendukung dengan tingkat kerentanan penduduk tergolong rendah, dibebani lagi oleh kapasitas penanganan yang rendah. Ini memperparah dampak.

PENYEBAB UTAMA GENANGAN:

· Kapasitas Saluran Drainase Tidak Memadai: Saluran Kali Kebon Agung tidak mampu menampung debit banjir periode ulang 10 tahun (peristiwa banjir berulang setiap per sekitar 10 tahun), menyebabkan luberan di pemukiman padat. 

Kemiringan dasar saluran yang landai memperlambat aliran air.

· Banjir Rob: Kawasan pesisir Tambak Medokan Ayu (bagian dari Pantai Timur Surabaya/Pamurbaya) masuk Kawasan Rawan Bencana Banjir Rob.

· Faktor Lingkungan: Alih fungsi hutan mangrove menjadi pemukiman atau tambak mengurangi daya serap air. 

Tinggi mangrove yang tersisa hanya 0,5-1 meter, tidak optimal menahan abrasi.

Dampak: Genangan setiap musim hujan, terjadi di sejumlah lokasi. 

Upaya Mitigasi yang Direncanakan:

1. Perbesaran dimensi saluran di pemukiman menjadi 0,8m x 1m.
2. Pembangunan kolam retensi di lahan FID 54 (luas 43.050 m²) dengan sistem pompa.
3. Restorasi mangrove oleh UPN Veteran Jatim bersama masyarakat.

Mitigasi dalam konteks ini merupakan upaya pencegahan sebelum peristiwa menjadi bencana.

2. RISIKO KEBAKARAN
Insiden Terkini (Juli 2025): Kebakaran rumah di Jl. Wonoayu akibat korsleting listrik pada pompa air. 

Area tengah rumah luluh lantak, mobil pikap terbakar. Kepadatan bangunan dan akses sempit menyulitkan pemadaman.

Faktor Risiko: Bangunan berhimpitan, instalasi listrik tidak standar, akses darurat terbatas.

Jalanan juga banyak diberikan semacam "gundukan", merupakan rintangan bagi angkutan berat, mobil Damkar yang bermuatan air.

Kapasitas Lokal: Gotong royong warga tinggi. Terbukti berhasil mengevakuasi kendaraan (L300 PickUp), namun minim hidran dan jalur evakuasi khusus.

3. RISIKO SOSIAL: ZONA MERAH NARKOBA
Status: Medokan Ayu termasuk 24 kelurahan rawan narkoba di Surabaya dan masuk kategori Zona Merah (pernyataan Lurah setempat, 2023).

Pola: Sasaran utama anak dan remaja (usia pertama pakai rata-rata 19-20 tahun). Jenis dominan: ganja (59,1%), sabu (23,8%), dextro, ekstasi, dan pil koplo. 

Kondisi ini masih ditengarahi sebagai kawasan yang rawan penyalahgunaan narkoba yang menimpa anak-anak.

Upaya Penanganan: Sosialisasi P4GN oleh BNN, patroli Polsek Rungkut, peran aktif orang tua dan karang taruna.

4. RESIKO LINGKUNGAN & TATA RUANG

Konflik Lahan Konservasi: Sebagian wilayah Medokan Ayu masuk Kawasan Konservasi Pamurbaya yang seharusnya tidak boleh dibangun. 

Pemkot belum membebaskan lahan seluas 2.494 hektare, namun melarang IMB.

Dampaknya: warga nekat membangun tanpa izin. Ini berisiko penertiban dan sulit akses PDAM.

Abrasi & Kerusakan Mangrove: Luas hutan mangrove di kawasan Gunung Anyar Tambak mencapai 47,9 hektare. Namun riilnya banyak yang gundul. 

Abrasi pantai mengancam jika restorasi tidak segera dilakukan.

REKOMENDASI MITIGASI
Mitigasi-upaya pencegahan sebelum terjadi bencana.

Untuk Warga:
· Banjir: Tinggikan lantai rumah, siapkan pompa portabel, simpan dokumen penting di tempat aman dan menjaga kelancaran saluran drainase.

· Kebakaran: Rutin cek instalasi listrik, sediakan APAR, buat jalur evakuasi.

· Narkoba: Aktifkan poskamling, laporkan ke BNN/Polisi jika ada indikasi penyalahgunaan.

Untuk Pemerintah & Pemangku Kepentingan:
1. Percepat realisasi kolam retensi FID 54 dan normalisasi Kali Kebon Agung.

2. Sediakan pompa portabel di titik rawan banjir (RW 01, 03).

3. Intensifkan sosialisasi bahaya narkoba di sekolah dan rumah ibadah.

4. Selesaikan konflik lahan konservasi dengan kompensasi atau relokasi warga.

5. Lakukan restorasi mangrove minimal 10 hektare per tahun.

Redaksi Weblog InfoMedokanAyu 

Minggu, 31 Mei 2026

Ular Piton Tidak Berbahaya jika Tak Diganggu, Warga Medokan Ayu Tidak Panik

 

InfoMedokanAyu - Meskipun ular piton (sanca batik) berulang kali muncul di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, masyarakat setempat tidak panik. Mereka memahami bahwa ular ini tidak akan menyerang manusia kecuali diganggu.

Pun demikian bila ada peristiwa ulang, yang perlu digaris bawahi "Bukan Panik, Tepat Lapor: Rahasia Warga Medokan Ayu Menghadapi Ular Piton"

Sebagaimana peristiwa pernah terjadi, dan ada warga setempat yang digigit ular piton. Berita itu dirilis dengan judul "Waspada Tanpa Panik: Menyikapi Kemunculan Ular Piton di Sekitar Kita"

Bahkan, di Pulau Jawa belum pernah tercatat manusia menjadi korban fatal akibat serangan ular piton. 

Kondisi ini tidak terlepas dari kombinasi tiga faktor utama: sistem penanganan profesional yang terstruktur, kesadaran masyarakat yang tinggi, serta faktor biologis ular itu sendiri.

Saat dievakuasi, ular piton umumnya ditemukan dalam keadaan perut kenyang, berisi hewan peliharaan seperti ayam.

Sistem Penanganan Satwa Liar yang Terintegrasi
Surabaya memiliki sistem Emergency Handling for Wildlife yang terintegrasi.

Damkar bertindak sebagai eksekutor cepat, sementara edukasi yang berkelanjutan membuat warga tidak panik dan tidak main hakim sendiri. 

Hal ini berbeda dengan daerah terpencil di luar Jawa. Akses ke layanan darurat sulit, sehingga konflik antara manusia dan ular kerap berakhir tragis.

Berikut adalah penyebab utama mengapa Surabaya aman dari serangan hewan liar:

Garda Terdepan: Pasukan Damkar Super Cepat
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya bertindak layaknya layanan darurat 24 jam untuk satwa liar.

· Kecepatan respons ekstrem: Dalam satu kejadian, laporan ular di Rungkut diterima pukul 00.45 WIB, dan petugas tiba hanya 6 menit kemudian. 

Evakuasi ular di Manyar hanya memakan waktu 7 menit dari laporan. Kecepatan ini mencegah potensi konflik berkepanjangan antara warga dan ular.

· Nomor darurat khusus: Warga cukup menghubungi Call Center 112 tanpa perlu mencari nomor instansi lain.

· Kesiapan penuh: Petugas selalu siang dan malam, siap menangani ular yang bersembunyi di mesin mobil maupun kandang ayam.

Jaring Pengaman: Kolaborasi Lintas Instansi
Penanganan ular di Surabaya tidak dilakukan sendiri oleh Damkar. Ada sistem ekosistem yang solid:

· Koordinasi rutin: Pemerintah kota secara resmi menggandeng Balai Besar KSDA Jawa Timur, BPBD, Satpol PP, hingga dokter hewan dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk membahas strategi penanganan satwa liar.

· Standar operasi (SOP): Ada mekanisme baku mulai dari evakuasi oleh Damkar, penyerahan resmi ke KSDA, hingga pelepasliaran ke habitat aman.

Kedewasaan Masyarakat: Tidak Bertindak Ceroboh
Masyarakat Surabaya, termasuk Medokan Ayu dan Rungkut, telah memahami bahwa melawan piton sendiri sangat berbahaya.

· Sadar bahaya: Warga tahu bahwa piton sepanjang 3 meter tidak bisa ditangkap oleh satu orang, bahkan oleh pegiat reptil sekalipun.

· Lapor, bukan lawan: Alih-alih memancing ular, warga segera mengisolasi area dan menghubungi Damkar.

Berdasarkan berbagai referensi, piton sebenarnya tidak menjadikan manusia sebagai target mangsa utama. Jika dibiarkan dan tidak diganggu, piton cenderung tidak akan menyerang.

Faktor Ekstra: "Selera Makan" Ular Piton
Dari sisi alamiah, piton yang dievakuasi Damkar umumnya masih dalam keadaan kenyang.

· Prioritas hewan peliharaan: Mayoritas laporan menyebut piton sedang memangsa ayam atau bersarang di tumpukan sampah.

· Butuh waktu lama: Piton memerlukan waktu sekitar satu bulan untuk mencerna mangsa besar.

Saat ditemukan Damkar, piton cenderung dalam kondisi perut buncit, energi terkuras untuk mencerna, sehingga ia tidak agresif terhadap manusia di sekitarnya.

HANYA DI LUAR JAWA DITEMUKAN KORBAN FATAL
Menelusuri data yang tersedia, tidak ditemukan kasus korban jiwa akibat serangan ular piton di Pulau Jawa. 

Publikasi mengenai insiden dengan korban luka parah (misalnya gigitan) di Tuban dan Pekalongan memang tercatat, namun kasus fatal yang dilaporkan semuanya terjadi di luar Jawa.

Kasus fatal yang tercatat di Indonesia umumnya menimpa transmigran asal Jawa di luar Pulau Jawa:

· Rasmin (63 tahun), asal Jawa Tengah – Dimangsa ular piton sepanjang 7 meter di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (2023). Saat ditemukan, kepala korban sudah hampir tertelan.

· Akbar (25 tahun) – Ditemukan tewas di dalam perut ular piton 7 meter di Mamuju, Sulawesi Barat (2017).

· Odjo Buka (transmigran asal Jawa) – Ditelan ular piton 6 meter di Sulawesi Tengah (1978). Jenazahnya ditemukan utuh di dalam perut ular yang dibelah warga.

· La Dusu (52 tahun) & Nurdin (57 tahun) – Meninggal akibat lilitan ular piton di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (2025).


Kesimpulan:
Dengan sistem penanganan yang cepat, kolaborasi lintas instansi, kesadaran masyarakat yang matang, serta karakteristik alami ular piton yang tidak agresif terhadap manusia, wilayah Surabaya—termasuk Medokan Ayu—terbukti aman. 

Kuncinya: tidak panik, tidak mengganggu, dan segera melapor ke pihak berwenang call center 112. (red)

Sabtu, 30 Mei 2026

Waspada Tanpa Panik: Menyikapi Kemunculan Ular Piton di Sekitar Kita


InfoMedokanAyu – Warga Kelurahan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya khususnya di kawasan Medayu Utara Gang XXX, baru-baru ini dikejutkan dengan kemunculan seekor ular piton yang masuk ke pemukiman. 

Ular Piton di Medayu Utara GG XXX

Kejadian itu menjadi peringatan bagi seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim hujan dan cuaca ekstrem.

Selain itu, di Medokan Ayu pula di kawasan lain dekat pemukiman di area tambak yang tak lagi di fungsikan, ditemukan piton.

Seorang warga terkena sasaran gigitan Piton ketika melakukan evakuasi. Foto: Ainurrizal Hamid

Sehari sebelumnya, ditemukan piton di salah satu wilayah bekas tambak dekat pemukiman. Foto: jepank

Di antara tambak sebagian memang telah beralih fungsi menjadi pemukiman. Nama kawasan pemukiman nya pun menyelipkan istilah tambak, menjadi "Tambak Medokan Ayu". Disana telah berdiri beberapa RT.

MENCEGAH ULAR MASUK RUMAH
Untuk mencegah ular masuk ke dalam rumah, beragam referensi menyarankan dua langkah sederhana namun efektif, perlu dilakukan.

Pertama, membersihkan tumpukan barang di dalam dan sekitar rumah. Itu karena ular piton menyukai tempat yang gelap dan lembab. 

Kedua, menyemprotkan cairan berbau menyengat seperti lantai, kapur barus, atau minyak kayu putih di sudut-sudut rumah, halaman, serta saluran air. 

Aroma menyengat tersebut terbukti lebih ampuh mengusir ular dibandingkan garam.

Di Jl. Rungkut Madya - sekitar jembatan Purimas sisi Barat, juga tampak Piton berenang. Foto: Jacky Arentes

BUKAN KEJADIAN PERTAMA
Peristiwa kemunculan ular piton bukan kali ini saja terjadi di Medokan Ayu. 

Warga Medayu Utara tentu masih ingat pada September 2020, saat seekor ular piton betina sepanjang 5 meter ditemukan bersarang di atap rumah warga. 

Berkat pertolongan tim pemadam kebakaran, ular tersebut berhasil dievakuasi tanpa menimbulkan korban. 

Hal itu membuahkan arti, kewaspadaan warga perlu terus dijaga secara berkelanjutan.

PENJELASAN ILMIAH: BUKAN HAL GAIB
Dari sudut pandang ilmiah, kemunculan ular piton di permukiman bukanlah pertanda mistis. 

Kawasan Medokan Ayu dulunya adalah daerah rawa. Ular piton merupakan penghuni asli kawasan ini jauh sebelum perumahan berdiri. 

Ular masuk rumah biasanya karena mengejar mangsa seperti tikus, ayam, atau kucing peliharaan, serta mencari tempat yang hangat dan lembab. 

Dalam perspektif agama Islam, hewan seperti ular adalah makhluk alam biasa yang harus disikapi secara rasional dan waspada, bukan dianggap sebagai titisan atau pertanda gaib.

SUDUT PANDANG PRIMBON JAWA
Sebagai tambahan wawasan, bagi warga yang mempercayai Primbon Jawa, kemunculan ular piton di pemukiman sering diartikan sebagai peringatan. 

Peringatan itu dimaksudkan agar lebih hati-hati dalam mengambil keputusan, terutama soal bisnis, investasi, atau utang-piutang.

Selain itu, bisa juga dianggap sebagai simbol perlawanan bahwa mungkin akan ada rintangan atau konflik yang cukup berat.

Namun demikian, primbon hanyalah mitos dan keyakinan. Yang terpenting adalah menjadikannya pengingat untuk lebih bijak, bukan larut dalam ketakutan berlebihan.

HARUS DISIKAPI SECARA BIJAK
Peringatan dari kemunculan ular piton, baik secara ilmiah maupun primbon, mengarah pada satu kesimpulan: seluruh warga wajib menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan bersama. 

Kewaspadaan itu bukan hanya warga sekitar lokasi tempat ular ditemukan, melainkan semua warga. 

Hal itu mengingat, ular bisa berpindah-pindah. Lingkungan kumuh dan banyak tikus menjadi undangan bagi ular, serta lubang got, saluran air, dan semak belukar yang tak terawat dapat menjadi sarang potensial.

Jika melihat ular besar, warga dilarang keras menangani sendiri. Segera laporkan ke ketua RT atau RW setempat, Linmas atau petugas keamanan lingkungan, atau pemadam kebakaran melalui nomor 112.

MENGENAL KARAKTERISTIK ULAR PITON
Agar tidak panik dan tahu cara menghadapinya, warga perlu mengenal ciri-ciri ular piton yang juga dikenal sebagai ular sanca. 

Ular ini tidak berbisa, tetapi senjata utamanya adalah lilitan otot super kuat yang disebut konstriktor. 

Gigi ular piton panjang dan tajam, digunakan untuk mencengkeram mangsa.

Keunikan lainnya adalah rahangnya yang super elastis, mampu menelan mangsa yang lebih besar dari kepalanya.

Ular piton dilengkapi sensor panas di bibirnya untuk mendeteksi mangsa berdarah panas di malam hari. 

Habitat aslinya meliputi rawa, hutan, perkebunan, bahkan selokan pemukiman.

Kemampuan adaptasi sangat tinggi, dan mampu berpuasa berbulan-bulan setelah memangsa besar. 

Jenis yang sering ditemukan di Medokan Ayu adalah sanca batik, yang merupakan pemegang rekor ular terpanjang di dunia. Bisa mencapai lebih dari 10 meter.

MARI SALING BERGANDENG TANGAN
Kemunculan ular piton di Medokan Ayu adalah pengingat alami bahwa kita hidup berdampingan dengan satwa liar. 

Dengan lingkungan yang bersih, got yang tertutup, populasi tikus yang terkendali, serta komunikasi yang baik antarwarga, risiko ular masuk rumah dapat diminimalisir. 

Mari bersama-sama menjaga lingkungan kita, saling mengingatkan, saling membantu, dan tidak ragu melapor jika melihat hal mencurigakan.

Tetap waspada, tetap sehat, dan selalu jaga kebersihan lingkungan.

Redaksi Weblog Kelurahan Medokan Ayu

Jumat, 29 Mei 2026

Dekati dan Pahamkan: Jangan Bunuh Empati Alami Anak saat Menolak Lihat Hewan Disembelih

 

InfoMedokanAyu - Tak jarang kita jumpai anak-anak di bawah usia delapan tahun yang antusias meminta ditemani melihat sapi dan kambing di area penyembelihan hewan kurban. 

Namun, ketika proses penyembelihan tiba, sebagian dari mereka hanya sempat melirik—lalu berlari menjauh karena takut atau kasihan pada hewan yang dilihatnya.

Situasi ini sangat wajar. Justru ini pertanda baik: anak memiliki empati alami. Tidak semua anak seusianya menyimpan kepekaan seperti itu. Karena itu, jangan bunuh empati tersebut.

Yang perlu dilakukan ketika anak memohon ditemani melihat proses penyembelihan:

· Jelaskan secara singkat sebelum ke lokasi:
    "Nanti ada sapi atau kambing yang disembelih supaya dagingnya bisa dimakan dan dibagikan ke orang yang membutuhkan."

· Tawarkan pilihan yang membuatnya merasa aman:
    Lihat dari kejauhan, atau lihat sebentar lalu pergi.

Saat anak berlari setelah melihat:

· Jangan memaksa anak kembali ke lokasi, apalagi mengolok ketakutannya.

· Hindari kalimat seperti "Jangan pengecut" atau "Lihat lagi sana"—ini bisa mematikan empati alaminya.

· Validasi perasaannya:
    "Kamu merasa kasihan atau sedih, ya? Wajar kok, sayang sama hewan itu."

· Peluk atau genggam tangannya, lalu ajak ke tempat yang lebih tenang.

· Jelaskan dengan tenang:
    "Memang agak kaget ya melihatnya. Tapi ini dilakukan cepat agar hewan tidak sakit lama, dan dagingnya berguna untuk banyak orang."

Pendekatan jangka panjang:

· Setelah kejadian, diskusikan asal makanan dan alasan penyembelihan: untuk kebutuhan, bukan karena senang menyakiti.

· Jika anak mulai tertarik, tunjukkan sisi positifnya: daging kurban memberi makan keluarga yang berkurban dan berbagi kepada tetangga.

· Jangan paksa anak menyaksikan lagi di kesempatan berikutnya. Hormati ritme kesiapannya.

Yang perlu diingat: anak berlari bukan tanda lemah, melainkan tanda hatinya masih bersih. 

Maka, melindungi empatinya lebih penting daripada "membiasakan" anak dengan kekerasan. 

Seiring bertambahnya usia dan pemahaman, ia akan belajar membedakan antara kebutuhan dan kekejaman.

RAGAM: Dampak Buruk Konten pada Kejiwaan Anak
Selain pengalaman langsung, anak juga rentan terpapar kontak buruk dari media sosial dan internet. 

Beragam tayangan yang tidak mempertimbangkan risiko bagi generasi mendatang dapat berdampak serius pada kejiwaan anak, antara lain:

Kekerasan eksplisit – Tayangan perkelahian, penyiksaan, atau kekerasan rumah tangga tanpa konteks penyelesaian yang mendidik.

Konten seksual – Adegan pornografi, rayuan daring (grooming), atau bahasan seksual tidak sesuai usia.

Perundungan (bullying) – Video ejekan, hujatan, atau pengucilan yang bisa ditiru sebagai perilaku normal.

Tantangan berbahaya – Tren seperti blackout challenge, makan deterjen, atau aksi ekstrem yang membahayakan fisik.

Konten kebencian & diskriminasi – Ujaran rasis, SARA, atau ajaran intoleransi terhadap kelompok tertentu.

Eksploitasi anak – Konten yang menjadikan anak sebagai korban atau pelaku kekerasan, seksual, atau pekerja ilegal.

Anonimitas beracun – Kolom komentar tanpa moderasi yang penuh ancaman, makian, atau tekanan psikologis.

Konten tidak sehat tentang tubuh – Promosi standar tubuh ekstrem, diet berbahaya, atau glorifikasi gangguan makan.

Gaming berlebihan & mikrotransaksi – Game dengan sistem loot box predator atau konten yang memicu kecanduan tanpa batasan waktu.

Hoaks & manipulasi informasi – Konten menyesatkan, teori konspirasi, atau ajakan membenci institusi (sekolah, orang tua, polisi).

Peran orang tua:
· Mendampingi anak saat mengakses internet.

· Menggunakan fitur parental control.

· Mengajarkan literasi digital sejak dini.

· Meminta anak melaporkan jika melihat konten yang mengganggu.

Jika anak sudah terlanjur terpapar konten buruk, diskusikan tanpa menghakimi, lalu batasi akses dan beri pemahaman ulang tentang nilai-nilai yang benar.

Oleh : Priono Subardan
Admin media ini, juga Praktisi & Pembuat Konten di Rasa1Jiwa, K9Dewa dan Media lain.
Artikel terkait masalah sosial ini adalah bagian dari program #EdisiBerbagi, diharapkan mewarnai pencarian solusi.

Kamis, 28 Mei 2026

Etika Unggah Momen Kurban: Hindari Tampilkan Darah Muncrat dan Adegan Penyembelihan Eksplisit


InfoMedokanAyu: Dalam hal siaran ada etika, yang perlu diperhatikan beberapa hal:

Sensitivitas publik: Tidak semua orang nyaman melihat gambar darah atau penyembelihan secara eksplisit, baik karena alasan psikologis, agama (misalnya pandangan tentang aurat atau kemuliaan hewan kurban), maupun trauma.

Kebijakan platform media sosial: Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Twitter (X) umumnya melarang konten grafis kekerasan terhadap hewan jika tampak sadis atau tidak dalam konteks edukasi/agama yang wajar. 

Darah muncrat yang terlalu eksplisit bisa dihapus atau dibatasi masa tayangnya.

Etika berbagi:
   · Tampilkan momen penyembelihan secara proporsional, tidak perlu fokus pada darah yang menyembur.

   · Lebih baik unggah foto hewan sebelum disembelih, proses dengan sudut tidak vulgar, atau momen setelahnya (pengulitan, pemotongan daging).

   · Beri peringatan sensitif (trigger warning) jika tetap ingin menampilkan gambar darah.

Syarat syar'i: Dalam Islam, menyembelih hewan tidak dilarang untuk diabadikan, namun tidak dianjurkan menampilkan darah secara berlebihan karena bisa mengurangi rasa hormat terhadap hewan kurban dan mengganggu yang melihat.

Kesimpulan: Sebaiknya hindari menampilkan darah muncrat secara gamblang. Jika tetap ingin berbagi momen kurban, pilih sudut yang lebih edukatif dan humanis, serta tambahkan peringatan konten sensitif.

- oleh: Priono Subardan - admin weblog komunitas Medokan Ayu.

Jumat, 22 Mei 2026

Raya Medokan Ayu Tengah sisi Utara Sungai Tutup Sementara


InfoMedokanAyu - Raya Medokan Asri Tengah sisi Utara Sungai menjalani perbaikan. Yakni pemasangan crosing box culvert arah ke sungai avour (samping pos).

Pemasangan itu, sebagai upaya penggantian saluran lama, yang dibuat langsung ditempat dan sebagian titik sudah ambrol.

Jalanan itu ditutup mulai hari ini jumat tgl 22 mei 2026 pukul 21.00 wib sd hari minggu tgl 24 mei 2026 (guna pengeringan cor) 

Itu Informasi yang disampaikan Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S. Sos, pada Jumat Malam (22/5) menindaklanjuti info dari petugas DSDABM untuk jalan 

Lurah memohon kerjasama warga semua untuk tidak melewati jalan tersebut selama 3 (tiga) hari mulai jumat - minggu. Disarankan mencari jalan alternatif lainnya. 

Kurun waktu itu untuk pematangan finishing pengecoran box culvert.

Senin jalan sudah bisa dilewati lagi.

Waspada Jentik Nyamuk! Medokan Ayu Zero Kasus DBD, tapi ABJ Belum 100%


InfoMedokanAyu – Periode Januari hingga Mei 2026, Kelurahan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya mencatat nol kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kabar ini menggembirakan sekaligus menjadi peringatan serius, mengingat data terakhir bulan Mei lalu di semua RW ditemukan jentik nyamuk.

Hal itu diungkapkan Lurah Medokan Ayu, Zainul Abidin, S.Sos., pada gelaran Gebyar Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di RW 07, Medokan Asri Tengah (MA2), Jumat (22/5) pagi tadi.

Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S. Sos., memberikan apresiasi aktivitas Pemberantasan Nyarang Nyamuk (PSN) dampingi ibu dan Ketua RW07 Ilham. Paling kiri Ibu RW, dan Paling Kanan staf Puskesmas Yusep Priambodo, A.Md.KL. 
Foto : Didik Tri Winarno

Lurah menegaskan, kabar menggembirakan itu terbaca dari data yang dihimpun Puskesmas Medokan Ayu.

"Prestasi ini harus kita pertahankan. Target kita sampai akhir tahun 2026, Medokan Ayu bisa benar-benar zero kasus DBD," tegas Zainul Abidin di hadapan warga.

Namun, di balik nihilnya kasus DBD, hasil pemeriksaan jentik nyamuk pada kegiatan PSN minggu ke-19 bulan Mei 2026 sebagaimana data dari Puskesmas yang dibidangi Yusep Priambodo, A.Md.KL., menyebutkan di semua RW justru ditemukan fakta mengejutkan: tidak ada satu pun kawasan di Medokan Ayu yang mencapai Angka Bebas Jentik (ABJ) 100 persen.

KSH-PSN RW07.  Foto : Didik Tri Winarno

Meskipun rata-rata ABJ seluruh RW masih di atas batas minimal yang ditoleransi, yakni 95 persen, temuan jentik di sejumlah rumah tetap menjadi sinyal bahaya.

"Harus diwaspadai. Medokan Ayu ini kawasan pinggiran sisi Timur Surabaya, yang merupakan jalur lintasan buangan banjir dari kota. Kondisi ini sangat rawan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," ujar Lurah Zainul.

Foto bersama. Foto : Didik Tri Winarno

Berikut rincian hasil pemeriksaan jentik nyamuk per RW di Lingkungan Kelurahan Medokan Ayu, Mei 2026:

· RW 01: Rumah diperiksa 650, positif jentik 2 → ABJ 99,69%

· RW 02.A: Diperiksa 396, positif 2 → ABJ 99,49%
· RW 02.B: Diperiksa 835, positif 6 → ABJ 99%

· RW 03: Diperiksa 561, positif 5 → ABJ 99,11%

· RW 04: Diperiksa 420, positif 4 → ABJ 98%

· RW 05: Diperiksa 255, positif 2 → ABJ 99,21%

· RW 06: Diperiksa 243, positif 6 → ABJ 98%

· RW 07: Diperiksa 195, positif 3 → ABJ 98,5%

· RW 08: Diperiksa 290, positif 2 → ABJ 99,31%

· RW 09: Diperiksa 225, positif 2 → ABJ 99,11%

· RW 10: Diperiksa 475, positif 2 → ABJ 99,5%

· RW 11: Diperiksa 307, positif 5 → ABJ 98%

· RW 12: Diperiksa 295, positif 3 → ABJ 98,98%

· RW 13: Diperiksa 250, positif 2 → ABJ 99,2%

· RW 14: Diperiksa 465, positif 12 → ABJ 97,41% (terendah)

· RW 15: Diperiksa 406, positif 5 → ABJ 98,76%

Dari data tersebut, RW 14 mencatat ABJ terendah yaitu 97,41% dengan temuan 12 rumah positif jentik, sementara RW 02.B memiliki jumlah rumah terbanyak yang diperiksa (835 rumah) dengan 6 temuan jentik.


Lurah Medokan Ayu mengimbau seluruh kader jumantik dan warga untuk tidak lengah. "PSN harus terus digalakkan. Satu jentik saja di satu rumah, bisa menjadi sumber ledakan kasus DBD, apalagi dengan kondisi geografis Medokan Ayu yang rawan banjir kiriman," pungkasnya.

Warga diharapkan terus menerapkan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang barang bekas, serta menghindari gigitan nyamuk) guna mempertahankan zero kasus DBD hingga akhir tahun 2026.

Pada acara itu, hadir pula dari Kelurahan Medokan Ayu staf Uji Siswanto, dan Rendra. Kasie Kesra Muhammad Arsadhani, S. Kep. M.M, tidak hadir, yang bersangkutan sedang menunaikan haji.

Dari Puskesman Yusep Priambodo dan Prima. Sementara, kepala Puskesmas dr. Dini Octavia Sitaresmi, sedang menjalankan ibadah haji.

Ketua RW07 Ilham, bersama pengurus Purbo menyaksikan pengumunan IKD, yang hari itu ditempelkan oleh Eko Harto Dianto petugas staf DLH yang diperbantukan sebagai petugas penyelia balai RW 10 (ke-3 dari kiri) dibantu Sarwo Tekad staf seksi pembangunan dan ketertiban Kelurahan Medokan Ayu. Foto : Didik Tri Winarno

IKD adalah singkatan dari Identitas Kependudukan Digital. Berbentuk aplikasi di smartphone yang dikembangkan oleh Dukcapil Kemendagri untuk memudahkan masyarakat mengakses layanan publik tanpa perlu membawa KTP fisik.
(red)