InfoMedokanAyu - Belajar melepas—baik jabatan, cinta, atau gengsi—adalah perjalanan spiritual yang mengubah sakit menjadi ibadah dan kehilangan menjadi kedekatan dengan-Nya.
Dua tokoh menyetujui dan membenarkan renungan ini, yaitu Ustaz Syamsudin dari RW02 Medokan Ayu, dan seorang tokoh masyarakat yang pernah menjabat tiga periode (2010-2016, 20l9-2022) sebagai ketua LPMK (kini LPMK) Medokan Ayu, H. Ahmad Nawawi, S.Ag.
Mereka sepakat bahwa melepas bukanlah tindakan kehilangan, melainkan bentuk kepasrahan tertinggi yang justru mengantarkan seseorang pada kedamaian batin dan pengakuan akan kebesaran Tuhan.
Pandangan mereka semakin dikuatkan oleh landasan teologis yang konkret dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dalam perspektif agama—khususnya Islam, namun juga relevan secara universal—makna melepas dapat ditelusuri melalui sejumlah ayat dan hadis yang menjadi pijakan spiritual.
Melepas = Ibadah: 5 Landasan Spiritual yang Membebaskan Jiwa
1. Melepas sebagai Tawakal — Bukan Pasrah, tapi Pasrah Total setelah Ikhtiar
"Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran: 159)
Makna: Melepas "hak" kita atas hasil. Kita bekerja, berjuang, dan berdoa—lalu kita lepaskan ekspektasi di hadapan-Nya.
Ini adalah pengakuan bahwa akal kita terbatas, sedangkan ilmu Allah Maha Luas.
Inilah ibadah paling agung: menyerahkan keputusan kepada Yang Maha Tahu.
2. Melepas sebagai Zuhud — Bukan Membenci Dunia, tapi Tidak Terikat Hati
"Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya itu, pasti akan menemui kamu.'" (QS. Al-Jumu'ah: 8)
Makna: Zuhud bukanlah meninggalkan jabatan atau harta, melainkan melepas keterikatan hati terhadapnya.
Jabatan halal, tetapi jika ia membuat kita lupa salat, lupa keadilan, atau lupa keluarga—maka melepasnya adalah penyelamatan jiwa.
Ini ibadah mujahadah: melawan ego yang selalu ingin "diakui."
3. Melepas sebagai Ikhlas dan Sedekah — Memberi yang Paling Berharga
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)
Makna: Jabatan, kekuasaan, dan gengsi adalah "harta" nonmateri yang paling dicintai manusia.
Ketika melepasnya karena Allah—mengundurkan diri demi prinsip, atau memberi kesempatan pada orang lain—itu adalah sedekah jariyah bagi integritas Anda.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan berinfak kepadamu." (HR. Bukhari-Muslim).
4. Melepas sebagai Ridha — Menerima Takdir dengan Senyum
"Tidak ada satu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya." (QS. Al-Hadid: 22)
Makna: Melepas adalah bentuk rida. Ketika jabatan lepas, itu bukan "kegagalan" tapi "pengalihan" dari Allah ke sesuatu yang lebih baik.
Umar bin Khattab berkata: "Aku tidak peduli dengan keadaan yang menimpaku—jika baik, aku bersyukur; jika buruk, aku bersabar."
Inilah ibadah hati yang mengangkat derajat seorang hamba.
5. Melepas sebagai Cinta (Mahabbah) — Bukti Cinta Sejati kepada-Nya
"Katakanlah, 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu.'" (QS. Ali 'Imran: 31)
Makna: Melepas jabatan atau kedudukan yang kita cintai—karena takut melanggar perintah-Nya atau karena ingin menjaga keadilan—adalah bukti cinta yang sejati.
Cinta duniawi berkata: "Pertahankan!" Cinta Ilahi justru berbisik: "Lepaskan jika itu menghalangimu menjangkau-Ku."
Dua Jalan Melepas: Terpaksa atau Sadar?
Dalam perjalanan melepas, ada dua jalan yang dilalui seorang hamba.
Pertama, melepas karena keterpaksaan—dipecat, dimusuhi, atau tergeser.
Ini menjadi ujian kesabaran yang menguji keteguhan iman. Allah menguji, dan kesabaran itu sendiri adalah ibadah.
Kedua, melepas karena kesadaran—mengundurkan diri demi prinsip, meninggalkan kedudukan karena takut melanggar perintah-Nya.
Ini menjadi ibadah yang terpilih, karena lahir dari kesadaran penuh. Allah memuliakan pilihan ini.
Keduanya mulia di sisi-Nya. Namun, kesadaran mengubah rasa sakit menjadi pahala.
Sedangkan keterpaksaan mengubahnya menjadi ujian yang mengangkat derajat.
Keduanya adalah jalan menuju-Nya, hanya dengan tingkatan yang berbeda.
Melepas = Pembebasan
Filosofi ini bukan pesimisme, melainkan pembebasan.
Pembebasan dari tirani ego yang selalu ingin berkuasa. Pembebasan dari tirani manusia yang takut pada penilaian orang. Pembebasan dari tirani masa depan yang takut miskin atau takut tak dihormati.
Dengan melepas, kita berkata:
"Ya Allah, aku kembalikan semua amanah ini kepada-Mu. Jika Engkau ambil, itu karena Engkau sayang padaku. Jika Engkau beri lagi, itu karena Engkau uji kesiapanku."
Ikhlas Mendalam
Dalampada itu, kedua tokoh itu menggaris bawahi, yang mendasar keberhasilan melepas dari inti renungan ini dimilikinya nilai ikhlas mendalam.
Ikhlas bukan sekadar pelengkap, melainkan nadi yang mengaliri setiap helaan napas kepasrahan.
Tanpanya, melepas hanya menjadi gerakan fisik yang menyisakan kepahitan; dengannya, melepas menjelma menjadi kidung ruhani yang merdu di keheningan jiwa.
"Ikhlas ini ibadah yang memiliki tingkatan tertinggi", kata H. Ahmad Nawawi, yang asli putra Wonayu, dan dikenal dengan panggilan "Awi" di masa bocah.
Baginya, ikhlas adalah batu uji yang membedakan antara melepas karena terpaksa dengan melepas karena mencintai Allah.
"Ketika engkau mampu melepas sesuatu yang sangat engkau cintai, padahal engkau masih sanggup menggenggamnya—itulah tanda bahwa ikhlas telah meresap hingga ke sumsum hatimu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca, mengenang saat ia sendiri harus turun dari kursi ketua LPMK yang telah didudukinya tiga periode berturut-turut.
Ahmad Nawawi ini teman yang kenal dekat menyebutnya sebagai Ustadz Humanis atau Ustadz Kemanusiaan. Maklum beliau sempat menekuni jurusan Dakwah ketika masih mahasiswa IAIN.
Beliau aktif di kegiatan kemasyarakatan. Ketika sebagai ketua LPMK, tampak kegiatannya peduli lingkungan—yang turut pula dalam penyaluran bantuan bencana Semeru. Namun, semua itu tidak pernah ia gembar-gemborkan.
"Kalau saya ceritakan semua, itu bukan sedekah lagi, namanya pajangan," kelakarnya sambil tersenyum. Maka ketika masa jabatannya usai, ia pergi dengan senyum yang sama seperti saat ia datang: tanpa beban, tanpa dendam, tanpa keinginan untuk dikenang.
Dalam kaitannya dengan ikhlas dan melepas, Ahmad Nawawi menyitir Hadits tentang Hakikat Ikhlas. Dalam hadits qudsi itu, Allah berfirman, "Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai" (HR al-Qazwini).
Ini menunjukkan bahwa kedalaman ikhlas adalah anugerah istimewa dari Allah. "Maka siapa yang diberikan rahasia ini, sungguh ia telah mendapatkan karunia yang tak ternilai—lebih berharga dari jabatan mana pun di dunia ini," lanjut Nawawi dengan suara lirih namun menancap.
Baginya, hadits ini bukan sekadar teks, melainkan pengalaman yang telah ia rasakan.
Ketika ia melepas jabatan, ia justru merasakan kedekatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—seakan-akan Allah berbisik, "Inilah rahasia-Ku, Aku titipkan padamu."
Sementara itu, Ustadz Syamsudin menegaskan dengan bahasa sehari-hari, intinya ikhlas itu beramal tidak dilihat manusia. Semuanya diniatkan karena Allah semata. Tidak butuh pujian dari manusia dan tidak pula takut dihina manusia.
Beliau adalah figur yang telah membuktikan sendiri bagaimana melepas gengsi ketika harus mengajar di majelis taklim yang hanya dihadiri tiga orang jamaah, namun tetap bersemangat seperti mengisi di hadapan ribuan orang.
"Hati orang ikhlas antara dipuji dan di-bully itu sama saja. Pandangan dia hanya Allah semata harapan hidupnya", kata Ustadz Syamsudin pengisi kajian tetap di Masjid Asasul A'mal RW08 Medokan Asri Utara.
Baginya, pujian dan hinaan hanyalah dua sisi dari koin yang sama—sama-sama tidak bernilai di hadapan Allah. Yang bernilai adalah niat yang bersih dan langkah yang konsisten di jalan-Nya.
Kedua tokoh ini lalu merenungkan kembali lima landasan spiritual yang telah mereka sepakati. Tawakal, zuhud, sedekah, rida, dan cinta—kelimanya, kata mereka, tidak akan sempurna tanpa ikhlas.
Ikhlaslah yang mengubah tawakal menjadi ketenangan, zuhud menjadi kebebasan, sedekah menjadi keberkahan, rida menjadi kebahagiaan, dan cinta menjadi kerinduan yang tak pernah padam.
"Seperti garam bagi masakan," ucap Ustadz Syamsudin meminjam perumpamaan. "Tanpa ikhlas, semua amal itu hambar. Dengan ikhlas, ia menjadi lezat di mata Allah, meskipun pahit di mata manusia."
Mereka berdua pun mengajak setiap insan yang mendengar renungan ini untuk tidak terburu-buru menilai melepas sebagai kekalahan. "Lihatlah dengan mata hati," pesan Ahmad Nawawi.
"Ketika engkau melepas sesuatu karena Allah, sesungguhnya Allah sedang memelukmu. Dan ketika Allah memelukmu, apa lagi yang engkau takutkan?" Ustadz Syamsudin mengamini dengan tambahan, "Jabatan datang dan pergi, harta bertambah dan berkurang, nama naik dan turun—tetapi ikhlas, jika ia telah bersemayam di hati, ia akan menjadi teman sejati yang tidak pernah meninggalkanmu, bahkan ketika semua orang telah pergi."
Maka di penghujung perbincangan mereka, kedua tokoh itu menyimpulkan bahwa melepas bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu gerbang menuju babak baru yang lebih dekat dengan Sang Pemilik Segala.
Melepas adalah pengakuan bahwa kita hamba, dan Tuhan adalah Pemilik. Dan pengakuan itu, jika diiringi ikhlas, akan mengubah setiap helaan napas menjadi dzikir, setiap detak jantung menjadi tasbih, dan setiap langkah menjadi perjalanan menuju maqam tertinggi seorang hamba: maqam di mana ia tidak lagi melihat dirinya, tetapi hanya melihat Tuhannya.
Inilah puncak makrifat yang mereka saksikan bersama—bukan dalam kitab atau mimbar, tetapi dalam sunyi hati yang telah terlatih melepas.
Puncak Makrifat
Kepemilikan hanyalah ilusi. Yang benar-benar memiliki hanyalah Allah.
Maka melepas adalah pengakuan paling jujur: kita hanyalah pengelola sementara. Dan pengakuan itu—adalah ibadah paling jujur.
"Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156)
🌸 Maka lepaskanlah—bukan karena kalah, tapi karena kau tahu siapa yang benar-benar berkuasa.
- Redaksi








.jpg)


.jpg)
.jpg)












.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
