![]() |
| Ilustrasi |
InfoMedokanAyu — Tetangga, sekaligus keluarga besar Medokan Ayu sekalian.
Sebentar lagi musim hujan tiba. Setiap kali hujan deras turun lama, kita tahu apa yang terjadi. Air keluar dari saluran, meluap ke jalan, kadang sampai halaman, malah masuk rumah.
Kita sudah sering mengalaminya bersama di Medokan Ayu.
Biasanya kita melihatnya sebagai masalah teknis: saluran tersumbat, air tidak lancar, hujan terlalu besar. Itu benar, dan tetap perlu ditangani.
Namun izinkan saya melalui artikel singkat ini menawarkan satu cara membaca yang lain — bukan untuk menggantikan cara kita yang biasa, melainkan untuk menambah sisi pandang.
Air sebagai Cermin
Orang Jawa punya kebiasaan lama bernama ilmu titen — mengamati tanda-tanda alam yang berulang untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi. Misalnya, kalau hujan tak berhenti lebih dari satu jam, itu tanda untuk waspada.
Dalam cara pandang ini, air yang meluap bukan sedang "marah". Air tidak punya maksud. Yang dibaca justru pesannya untuk kita: bahwa ada yang tidak lagi tertampung, ada jalur yang tidak lagi berfungsi. Air menjadi cermin — bukan cermin wajah, melainkan cermin tatanan.
Sungai yang Kehilangan Kolamnya
Ada ungkapan lama Jawa: "Kali ilang kedhunge" — sungai yang kehilangan kolamnya. Kedhung adalah cekungan di sungai tempat air mengendap dan sampah terurai. Kalau kolam itu hilang, air tidak punya tempat berhenti, dan akhirnya meluap ke tepian.
Dulu, kedhung juga diibaratkan sebagai pamong — orang tua atau sesepuh yang menjadi tempat orang bercerita, tempat masalah diendapkan sebelum meluap.
Kalau pamong-nya hilang, keluhan dan persoalan tidak punya tempat menampung, dan akhirnya meluap juga.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Baca?
Kalau kita pakai cara pandang ini, air yang meluap ke jalan bisa dibaca sebagai tanda yang tidak bersuara. Bukan air yang protes, melainkan alam yang memberi isyarat — dan kita yang diajak membacanya.
Isyaratnya bisa bermacam-macam: saluran yang perlu dibersihkan bersama, ruang air yang perlu dikembalikan, atau mungkin juga kebiasaan kita bersama yang perlu ditata ulang.
Saya Ingin Mendengar dari Tetangga
Saya menulis ini bukan untuk mengajari, karena saya juga masih belajar. Justru saya ingin bertanya:
- Apakah di Medokan Ayu ada cara membaca tanda alam seperti ini yang diwariskan orang tua dulu?
- Pernahkah ada cerita atau pepatah lokal tentang air, hujan, atau saluran?
- Menurut pengalaman tetangga, apa "pesan" yang paling sering muncul saat air meluap?
Silakan chat kami di WhatsApp: 0895-3052-6789. Mungkin dari cerita-cerita kecil itu, kita bisa belajar membaca lingkungan kita dengan lebih peka — bukan hanya lewat teknis, tetapi juga lewat kearifan yang sudah ada di antara kita.
Salam,
Halaman terkait banjir:





.jpg)







.jpg)



