Senin, 22 Juni 2026

Genangan Air Bermanfaat: Ciptakan Udara Lembap & Cegah DBD dengan Ikan Pemakan Jentik


InfoMedokanAyu - Selama ini, genangan air kerap dipandang sebagai biang kerok masalah kesehatan—tempat favorit nyamuk berkembang biak sekaligus ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Persepsi itu perlu diluruskan. Tidak semua genangan harus dibuang atau dikuras habis.

Dengan pendekatan yang cerdas dan ramah lingkungan, genangan air justru bisa disulap menjadi solusi ganda: menjaga kelembapan udara di sekitar rumah sekaligus menjadi habitat bagi ikan-ikan kecil yang siap menjadi “petugas kesehatan” keluarga.

Kelembapan dan Pengendalian Nyamuk dalam Satu Wadah
Keberadaan ikan dalam wadah air tidak hanya efektif membersihkan jentik nyamuk. 

Penguapan dari permukaan air juga membantu menciptakan udara yang lebih lembap di lingkungan sekitar—nilai yang sangat berharga terutama di tengah cuaca panas ekstrem atau musim kemarau yang membuat udara kering dan gerah. 

Dengan cara ini, dspat diperoleh dua manfaat sekaligus: risiko penularan DBD dapat ditekan secara alami tanpa bahan kimia, dan kenyamanan di dalam rumah pun meningkat berkat sirkulasi udara yang lebih sejuk.

Empat Ikan Andalan untuk Tugas Kesehatan Rumahan
Tidak semua ikan cocok dijadikan pemakan jentik. Berikut empat jenis ikan unggulan yang terbukti ampuh, mudah dipelihara, dan masing-masing memiliki kelebihan tersendiri.

Ikan Cupang (Betta splendens)
Ikan Cupang adalah bintang utama dalam perburuan jentik. 

Sebuah sumber menjelasan, cupang mampu melahap hingga 89 jentik hanya dalam waktu 6 jam—angka yang melampaui kemampuan ikan Guppy.

Kehebatannya tidak berhenti di situ: Cupang sangat tangguh, mampu bertahan di volume air kecil dan kadar oksigen rendah.
Ini cocok untuk wadah mini sekalipun.

Perlu diingat, karena sifatnya yang sangat teritorial, sebaiknya isi setiap wadah dengan satu ekor Cupang saja untuk menghindari perkelahian yang bisa berakibat fatal.

Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Guppy adalah pilihan paling populer dan mudah ditemukan di pasaran, termasuk di sekitar Medokan Ayu.

Ia mampu memakan puluhan jentik per jam. Ini menjadikan sebagai andalan banyak rumah. 

Nilai tambahnya, Guppy hadir dalam warna-warni cantik dan harga yang terjangkau. Fungsi pun ganda sebagai ikan hias sekaligus pembersih jentik. 

Berbeda dengan Cupang ataubGuppy adalah ikan sosial yang lebih aktif dan rakus berburu saat berada dalam kelompok. 

Oleh karena itu, peliharalah beberapa ekor sekaligus dalam satu wadah agar mereka saling memicu naluri berburu.

Harga Guppy di RT02 RW01 Rp 10rbu, bisa mendapatkan 5 ekor.

Ikan Cere (Gambusia affinis)
Jika mencari predator paling “gahar”, Ikan Cere adalah jawabannya. 

Dikenal sebagai pemakan jentik paling agresif. Ikan ini sangat andal. Mudah berkembang biak, dan tidak rewel terhadap kondisi air. 

Ikam Cere paling cocok ditempatkan di wadah berukuran sedang hingga besar, seperti kolam hias atau tandon air. Dengan ruang gerak yang luas memungkinkan Cere berburu dengan maksimal.

Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax)
Ikan Kepala Timah adalah alternatif unggul bagi yang sulit menemukan Cupang atau Guppy di daerah setempat. 

Dikenal sebagai ikan pemakan jentik (larvivorous fish) yang efektif dan tangguh. Mampu bertahan di berbagai kondisi air dan tetap bersemangat memburu larva nyamuk. Pilihan ini sangat tepat sebagai cadangan andalan kapan pun dibutuhkan.


Panduan Memilih dan Merawat Ikan Pemakan Jentik
Agar ikan-ikan ini bekerja optimal, ada beberapa hal sederhana namun penting yang perlu diperhatikan.

Sesuaikan dengan Ukuran Genangan
Untuk wadah kecil seperti pot bunga, vas, atau tempayan hias, pilihlah Cupang atau Guppy. 

Satu ekor Cupang saja sudah cukup efektif memberantas jentik di volume air terbatas. 

Sementara itu, untuk wadah besar seperti bak mandi, tandon air, atau kolam kecil, semua jenis ikan di atas dapat bekerja dengan sangat baik—bahkan Ikan Cere dan Kepala Timah akan menunjukkan performa terbaiknya di ruang yang lebih luas.

Perhatikan Jumlah Ikan
Pada wadah kecil, cukup isi dengan satu ekor Cupang agar terhindar dari perkelahian antarsesama yang sifatnya teritorial. 

Untuk Guppy, justru dianjurkan memelihara beberapa ekor sekaligus. Mereka adalah ikan sosial yang lebih aktif dan rakus berburu jentik saat berada dalam kelompok. 

Penempatan jumlah yang tepat akan menghindarkan stres pada ikan sekaligus memaksimalkan tugas mereka.

Beri Pakan Tambahan
Jentik alami yang ada di dalam wadah mungkin tidak mencukupi kebutuhan harian ikan, terutama jika populasi jentik mulai menipis. 

Berikan pakan tambahan secara rutin, seperti pelet halus, cacing sutra, atau kutu air. 

Dengan asupan gizi yang cukup, ikan akan tetap sehat, aktif, dan daya makan terhadap jentik pun tetap maksimal. 

Ikan yang kenyang dan bergizi juga lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.


Ubah Pandangan, Ciptakan Solusi
Alih-alih menguras setiap genangan atau menganggapnya sebagai musuh, kini saatnya mengubah sudut pandang. 

Dengan langkah sederhana ini, genangan yang dulu dihindari justru berubah menjadi sekutu kesehatan: udara di sekitar rumah menjadi lebih lembap, jentik nyamuk lenyap dimakan habis, dan keluarga pun terlindungi dari ancaman DBD. 

Semua itu bermula dari satu wadah air kecil yang dikelola dengan bijak dan keberanian untuk mencoba.

Mari mulai dari sekarang. Satu ekor ikan, satu genangan, selamatkan keluarga dari DBD. (red)

Dukung Program PSN! Kolam Ikan & Aquarium: Investasi Sejuk untuk Rumah Sehat Bebas Nyamuk


InfoMedokanAyu - Keberadaan akuarium dan kolam ikan di sekitar rumah bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan investasi kenyamanan yang luar biasa—terlebih di tengah teriknya musim panas seperti saat ini. 

Selain mempercantik hunian, keduanya mendukung program Gerakan Kader Surabaya Hebat (KSH) dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). 

Namun, kunci utamanya adalah pemilik wajib melengkapi keduanya dengan pompa sirkulasi atau air mancur kecil. 

"Itu sangat mendukung program PSN, yang menjauhkan dari kasus Demam Berdarah (DB)", Tegas Lurah Medokan Ayu Zainal Abidin, S.Sol.

Oksigenasi tinggi ini efektif mencegah jentik nyamuk berkembang biak sekaligus menjaga air tetap jernih dan sehat.


🐠 KOLAM IKAN: Oase Penyejuk di Halaman Rumah
Kolam hias di musim kemarau adalah investasi kenyamanan yang tak ternilai. 

Saat cuaca panas terik, kolam bukan sekadar pajangan, melainkan benar-benar berfungsi sebagai "AC alami" dan oase penyejuk bagi penghuni rumah.

🌿 Perawatan Optimal Kolam di Musim Panas
Untuk menjaga fungsi dan estetika kolam, perhatikan hal-hal berikut:

Tambahkan tanaman air seperti eceng gondok atau teratai—berfungsi menaungi permukaan air, mengurangi penguapan berlebih, dan menghambat pertumbuhan lumut.

Tingkatkan volume air karena penguapan terjadi lebih cepat saat suhu tinggi.

Pasang aerator atau air mancur untuk sirkulasi air yang sehat dan bebas jentik—ini adalah langkah krusial dalam mendukung program PSN. Nyamuk tidak akan bertelur di air yang bergerak.

🌡️ Ragam Manfaat Utama Kolam Ikan
Keberadaan kolam ikan memberikan manfaat berlapis bagi penghuni rumah.

Pertama, sebagai pendingin alami melalui efek evaporasi. Proses penguapan air menyerap panas di udara, sehingga suhu mikro di area teras atau taman dapat turun hingga 2–5°C.

Kedua, kolam berfungsi melembapkan udara. Uap air dari kolam menambah kelembapan di sekitarnya. Pernapasan pun terasa lebih lega. Kulit juga tidak cepat kering akibat paparan terik matahari.

Ketiga, dari sisi psikologis, kolam memberikan efek relaksasi atau yang dikenal dengan istilah Blue Mind. 

Melihat air atau mendengar gemericik air mancur memicu respons relaksasi, menurunkan detak jantung dan stres akibat "panas batin".

Keempat, untuk kolam di luar rumah, ia menjadi magnet satwa liar, yakni tempat minum bagi burung, kupu-kupu, atau capung yang kehausan. Ini menambah ekosistem alami yang menyejukkan mata.

Memberi minum hewan liar adalah amalan mulia.

Kelima, yang tak kalah penting, kolam dengan sirkulasi yang baik menjadi benteng pertahanan rumah terhadap wabah Demam Berdarah.

Air yang mengalir dan beroksigenasi tinggi tidak akan dijadikan sarang oleh nyamuk Aedes aegypti. Inilah wujud nyata dukungan warga terhadap program PSN.

🐟 AKUARIUM: Pendingin Ruangan & Terapi Mata
Keberadaan akuarium di dalam rumah saat cuaca panas memiliki manfaat ganda: menurunkan suhu ruangan sekaligus memberikan efek menenangkan bagi penghuninya.

⚠️ Catatan Penting: PSN & Kesehatan Ikan
Agar akuarium tidak bertentangan dengan program PSN yang bertujuan menjauhkan dari wabah Demam Berdarah, wajib melengkapi akuarium dengan aerator untuk memastikan sirkulasi dan oksigenasi air tetap optimal. 

Air yang mengalir dan bergerak tidak disukai nyamuk untuk bertelur. Jadi, memasang aerator bukan hanya menyelamatkan ikan, tetapi juga menyelamatkan keluarga dari risiko DBD.

🌡️ Manfaat Utama Aquarium
Akuarium memiliki dua keunggulan utama di musim panas.

Pertama, sebagai pendingin alami ruangan. Air di dalam aquarium yang menguap secara perlahan menyerap panas dan melembapkan udara sekitar, menciptakan sensasi ruangan lebih sejuk tanpa biaya listrik tambahan.

Kedua, memberikan efek psikologis yang menenangkan. 

Gerakan ikan yang lambat dan riak air di permukaan terbukti secara ilmiah menurunkan stres, tekanan darah, dan detak jantung—menjadi terapi mata yang sempurna di tengah rutinitas yang melelahkan.

Ketiga, keberadaannya tentu menambah nilai estetika dan ketenangan dalam ruangan, menjadikan sudut rumah terasa lebih hidup dan asri.

💡 Tips Perawatan Akuarium Saat Cuaca Panas
Agar akuarium tetap berfungsi optimal tanpa membahayakan ikan, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, letakkan aquarium di tempat teduh dan hindari sinar matahari langsung agar manfaat pendinginan maksimal serta suhu air tidak melonjak.

Kedua, jaga suhu air tetap stabil, idealnya di kisaran 24–27°C untuk ikan tropis, dengan memantau termometer secara rutin.

Ketiga, buka penutup akuarium secara berkala untuk melancarkan sirkulasi udara dan melepaskan panas berlebih, sehingga ikan tidak kekurangan oksigen.

Keempat, gunakan kipas tambahan atau chiller jika diperlukan untuk menjaga suhu tetap ideal di tengah cuaca ekstrem.

Kelima, rutin bersihkan akuarium dan ganti air sebagian untuk menjaga kualitas air. Pembersihan rutin ini juga menjadi langkah preventif untuk memastikan tidak ada genangan atau kotoran yang berpotensi menjadi sarang nyamuk di sekitar akuarium.


🌟 Kesimpulan
Aquarium dan kolam ikan adalah investasi kenyamanan sekaligus kesehatan di tengah cuaca panas. 

Dengan perawatan tepat—termasuk sirkulasi air, penambahan tanaman, dan pengaturan suhu—keduanya dapat menjadi sumber kesejukan alami yang aman bagi semua, baik bagi penghuni rumah maupun ekosistem di dalamnya.

Ingatlah: kenyamanan ini tidak boleh mengorbankan kesehatan ikan atau lingkungan sekitar. 

Justru, dengan perawatan ekstra di musim panas, akuarium dan kolam dapat menjelma menjadi garda terdepan dalam gerakan PSN. 

Air yang bersirkulasi, ikan yang sehat, dan lingkungan yang terawat adalah kombinasi sempurna untuk hunian yang sejuk, nyaman, dan terbebas dari nyamuk Demam Berdarah. 

Dengan begitu, tidak hanya menciptakan oase yang menyejukkan—secara fisik maupun psikologis—tetapi juga aktif berkontribusi pada kesehatan lingkungan sekitar.

"Sejuk rumah, sehat lingkungan, nyaman keluarga—dukung PSN dimulai dari halaman sendiri!" (red).


Wadah Minum Burung dan PSN: Aman untuk Hobi, Sehat untuk Semua


InfoMedokanAyu - Merawat burung kicau adalah hobi yang menenangkan dan penuh kebahagiaan. Namun, di balik kicauan merdu dan keindahan bulu, tersimpan tanggung jawab kesehatan yang kerap luput dari perhatian: kebersihan wadah minum burung.

Mengganti air minum burung setiap hari, Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S.Sos menegaskan, bukan sekadar ritual perawatan rutin—itu langkah strategis dalam mendukung gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sekaligus mencegah merebaknya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Artikel ini mengupas tuntas mengapa kebersihan wadah minum sangat krusial, bagaimana siklus hidup nyamuk bekerja, serta menawarkan solusi kolaboratif antara penghobi burung dan Kader Surabaya Hebat (KSH) demi kesehatan bersama. 

Tulisan ini lahir dari keluhan yang disampaikan kader kepada Weblog lingkungan InfoMedokanAyu tentang masih adanya penghobi burung yang "ngeyel" dan meremehkan fakta bahwa air minum burung bisa menjadi media subur bagi jentik nyamuk.

Lurah Medokan Ayu yang dirumahkan juga memelihara burung perkutut dan ayam hias "serama" memaklumi "kengeyelan" itu, terutama yang telah mempratikkan penggantian air minum setiap hari.


🦟 Potensi Jentik di Sangkar Burung: Fakta Ilmiah
Banyak penghobi mungkin tidak menyadari bahwa gelas minum di sangkar peliharaan bisa menjadi sumber persembunyian nyamuk yang berbahaya.

Bertentangan dengan anggapan umum, nyamuk Aedes aegypti—vektor utama DBD—justru lebih menyukai air bersih dan tergenang untuk bertelur. 

Wadah minum burung yang berisi air jernih adalah tempat ideal bagi nyamuk betina. Sekali bertelur, satu ekor nyamuk betina mampu meletakkan 100–150 butir telur, yang berarti hanya dalam beberapa hari, satu wadah bisa menjadi sarang puluhan calon nyamuk dewasa.

Pahami Siklus Hidup Nyamuk untuk Menentukan Batas Aman
Mengetahui siklus hidup nyamuk adalah kunci untuk menentukan seberapa sering kita harus mengganti air.

Telur Aedes aegypti memiliki kemampuan luar biasa: dapat menetas menjadi jentik hanya dalam 2 hari setelah terendam air. Setelah menetas, jentik tumbuh selama 6–8 hari sebelum menjadi pupa. 

Tahap pupa berlangsung 2–4 hari hingga akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap terbang. Total waktu dari telur hingga dewasa hanya sekitar 7–10 hari.

Lantas, seberapa ideal frekuensi penggantian air?

· Jika kita mengganti air setiap 2–3 hari sekali, siklus tersebut sudah terputus sebelum telur sempat menetas. Ini masih tergolong aman.

· Namun, untuk tingkat perlindungan maksimal dan bebas risiko, mengganti air setiap hari adalah cara paling efektif—menjamin tidak ada telur atau jentik yang sempat berkembang.

Perlu ditekankan: imbauan Pemkot Surabaya dan KSH untuk mengganti air seminggu sekali hanyalah standar minimum bagi masyarakat umum. Bagi penghobi burung, standar ini justru berisiko tinggi karena membiarkan air menggenang selama 7 hari—cukup bagi jentik untuk tumbuh menjadi nyamuk dewasa yang siap menularkan DBD.

🏙️ Peran KSH dan Meluruskan Perdebatan
Di Surabaya, KSH berperan vital sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam pencegahan DBD. Tugas mereka meliputi:

· Pemeriksaan rutin ke rumah-rumah warga, termasuk memeriksa tempat penampungan air dan wadah minum burung.

· Sosialisasi dan edukasi; jika ditemukan jentik, mereka akan mengingatkan warga untuk segera membersihkan dan memberikan penjelasan pencegahan.

Perdebatan yang kerap terjadi antara penghobi dan petugas kesehatan sebenarnya lahir dari perbedaan perspektif mengenai frekuensi pembersihan. 

Namun pada hakikatnya, hobi merawat burung dan upaya pencegahan DBD adalah dua hal yang sejalan, bukan bertentangan.

Imbauan "satu minggu sekali" dari pemkot adalah batas minimal bagi warga awam. Bagi penghobi yang sadar risiko, standar tersebut sudah seharusnya ditingkatkan menjadi pembersihan harian demi perlindungan maksimal—bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.


💡 Solusi Praktis: Menjaga Hobi dan Kesehatan Bersama
Agar kesenangan berkicau mania selaras dengan upaya kesehatan lingkungan, berikut beberapa solusi sederhana namun berdampak besar yang bisa langsung diterapkan:

1. Jadikan penggantian air sebagai rutinitas harian. Lakukan setiap pagi bersamaan dengan pemberian pakan, agar terbiasa dan tidak terlewat.

2. Kuras dan gosok wadah hingga bersih. Mengganti air saja tidak cukup. Gosok gelas minum dengan sikat atau spons setiap kali mengganti air untuk membuang telur nyamuk yang mungkin menempel kuat di dinding gelas.

3. Patuhi kesepakatan minimal mingguan. Setidaknya, lakukan pembersihan total seminggu sekali sebagai bentuk kepatuhan minimum, namun tetaplah melakukan penggantian harian di luar itu.

4. Bangun kolaborasi, bukan konfrontasi. Terimalah kunjungan KSH sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan bersama. Jika petugas menemukan jentik, jangan tersinggung—jadikan sebagai evaluasi untuk memperbaiki pola perawatan burung.

5. Pilih wadah dengan desain anti-nyamuk. Gunakan tempat minum yang memiliki tutup atau bentuk sirip yang mempersulit nyamuk masuk dan bertelur di dalamnya.

6. Edukasi sesama penghobi. Bagikan informasi ini kepada komunitas kicau mania agar semakin banyak penghobi yang sadar akan pentingnya kebersihan wadah minum.

📝 Kesimpulan
Potensi jentik nyamuk di gelas minum burung adalah fakta ilmiah yang tidak bisa diabaikan. 

Mengganti air dan membersihkan wadah secara rutin adalah cara terbaik untuk menikmati hobi tanpa dihantui kekhawatiran akan kesehatan.

Dengan kesadaran dan tindakan nyata—mengganti air setiap hari, menggosok wadah, serta bersinergi dengan para kader kesehatan—kita tidak hanya menjaga burung kesayangan tetap sehat dan prima, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pemberantasan DBD di lingkungan sekitar.

Ingatlah selalu: menjaga kebersihan tempat minum burung adalah cerminan penghobi yang bertanggung jawab. Kebersihan dimulai dari hal kecil, dan kesehatan bersama adalah hasil dari kerja sama kita semua.

Mari jadikan hobi berkicau sebagai bagian dari gerakan sehat, bukan sumber masalah. (red)


Kamis, 18 Juni 2026

Breaking News: Selamat Ulang Tahun, H. Nawawi Ahmad - Tokoh Rujukan Medokan Ayu!



InfoMedokanAyu – Kabar bahagia menyelimuti seluruh warga Kelurahan Medokan Ayu, khususnya warga RW03 yang menjadikan salah satu putra terbaiknya sebagai rujukan. 

Di tengah kesibukan masyarakat, tokoh yang pernah memimpin Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini genap bertambah usia pada hari ini, 17 Juni 2026.

Pria yang disegani dan menjadi tokoh rujukan warga ini adalah Bapak H. Nawawi Ahmad, warga asli RW03 Medokan Ayu yang perjalanan kepemimpinannya dimulai dari tingkat paling bawah, yakni sebagai Ketua RW03 selama dua periode, yaitu 2000–2006. 

Dedikasinya sebagai ketua RW menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya di tingkat kelurahan hingga kemudian dipercaya memimpin LPMK Medokan Ayu selama tiga periode masa bakti, yaitu 2010–2013, 2013–2016, dan 2019–2022. 

Walikota Surabaya Tri Rismaharini ke Medokan Ayu pada 2011 diapit H. Nawawi Ahmad, S.Ag (Sisi kiri) dan Ny. Anis Wahjuni, S.Pd. PAUD-istri yang senantiasa mendukung sang Suami, berkegiatan kemasyarakatan, yang ketua LPMK. 

Total lebih dari satu dekade beliau mengabdikan diri, menjadikannya salah satu tokoh dengan masa jabatan terlama dan paling berpengaruh dalam sejarah Medokan Ayu.

Gebrakan Berani di Tingkat RW
Di masa kepemimpinannya sebagai Ketua RW03, H. Nawawi Ahmad menorehkan gebrakan yang cukup berani pada zamannya. 

Beliau berhasil menggolkan masa bakti ketua RT dan RW di wilayahnya secara maksimal (dua periode)—sebuah kebijakan yang pada saat itu belum diatur secara ketat oleh pemerintah kota. 

Langkah ini secara tidak langsung membatasi dirinya sendiri sebagai ketua RW yang hanya dapat menjabat hingga dua periode, karena ia sendiri yang menerapkan aturan pembatasan masa jabatan di wilayahnya. 

Rekam jejak Walikota dalam kunjungan kerja di Medokan Ayu.

Sikap transparan dan komitmen pada aturan ini justru menjadikannya sosok yang dihormati. Ia tidak hanya membuat aturan untuk orang lain, tetapi juga menaatinya dengan konsekuen.

Mengenal Sosok di Balik Kepemimpinan
Lahir pada 17 Juni 1967, tahun ini beliau genap memasuki usia 59 tahun. 

Dalam tradisi astrologi Timur, beliau ber-shio Kambing Elemen Api. Shio Kambing sendiri dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, halus, dan sangat peduli terhadap orang lain. 

Dikombinasikan dengan elemen Api, sosoknya menjadi lebih berani, bersemangat, dan tidak ragu mengambil inisiatif untuk kebaikan bersama.

Karakter inilah yang sangat terlihat dalam keseharian beliau. 

Aktivitas LPMK tercetak pada kalender

Sebagai pemimpin, H. Nawawi Ahmad dikenal terbuka terhadap segala usulan dan masukan dari warga, tidak pernah merasa tinggi hati, dan selalu mendengar aspirasi siapa pun tanpa memandang latar belakang. 

Tidak heran jika hingga kini, warga Medokan Ayu masih dengan leluasa mendatanginya untuk sekadar curhat, meminta nasihat, atau menyampaikan gagasan pembangunan.

Sikap terbuka dan kepeduliannya yang tulus itulah yang membuatnya begitu dicintai hingga saat ini.

Deretan Prestasi Gemilang dari Tingkat RW Hingga Kelurahan.

Ragam kegiatan kemasyarakatan yang bertumpuk terlihat pada kalender.

Di bawah komando beliau sepanjang tiga periode kepemimpinan LPMK, Medokan Ayu mencatatkan segudang prestasi membanggakan. 

Puncaknya, kelurahan ini berhasil menyabet Juara 1 Lomba Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Kota Surabaya. 

Tidak hanya berhenti di situ, semangat kebersamaan yang ia kobarkan membawa Medokan Ayu melaju ke tingkat Provinsi Jawa Timur dan meraih Juara 3.

Tak hanya di tingkat kelurahan, pada tahun 2015, H. Nawawi Ahmad juga mencatatkan prestasi di tingkat kota sebagai Juara Harapan Lomba BBGRM.


Hal itu membuktikan bahwa semangat kebersamaan yang ia tanamkan telah membuahkan hasil dari level RW hingga kelurahan.

Prestasi-prestasi tersebut menjadi bukti nyata dedikasi dan konsistensinya dalam membangun sinergi antara pemerintah kelurahan dan seluruh elemen masyarakat.

Tetap Menjadi Rujukan Warga

Hingga saat ini, meskipun tidak lagi menjabat, sosok H. Nawawi Ahmad tetap menjadi rujukan utama warga Medokan Ayu, khususnya RW03, dalam berbagai hal kemasyarakatan. 

Tidak ada kata lelah untuk terus turun tangan demi kepentingan masyarakat banyak. 


Salah satu wujud nyata kepeduliannya yang paling fenomenal adalah perawatan jembatan legendaris yang menjadi akses vital menuju Lapangan Reformasi serta lingkungan Sekolah MIN dan MTSN. 

Baginya, jembatan itu bukan sekadar beton dan besi, melainkan simbol penghubung masa depan generasi muda Medokan Ayu.

Keluarga yang Sederhana dan Harmonis
Di balik kesibukannya mengabdi untuk warga, beliau adalah kepala keluarga yang hangat. H. Nawawi Ahmad dikaruniai tiga orang putri. 

Putri sulungnya telah menikah dan memberinya seorang cucu laki-laki yang menjadi buah hati keluarga. 

Tak kalah istimewa, sang istri merupakan sosok pendidik berdedikasi sebagai guru di TK Al Fajar, turut mencerdaskan anak-anak bangsa sejak usia dini.


Medokan Ayu Bangga Padamu!
Atas nama seluruh keluarga besar LPMK Medokan Ayu, Karang Taruna, PKK, warga RW03, serta seluruh warga Medokan Ayu, kami mengucapkan:

Selamat Ulang Tahun, Bapak H. Nawawi Ahmad!

Terima kasih atas dedikasi dari tingkat RW hingga kelurahan, jiwa kepemimpinan yang berani dan transparan, serta kasih sayang yang tak pernah putus untuk Medokan Ayu. 

Bapak Zainul Abidin, S.Sos (paling kanan), Lurah Medokan Ayu saat ini menyempatkan bertandang ke Rumah H. Nawawi Ahmad, S.Ag.

Semoga panjang umur, sehat selalu, dan keluarga diberikan kebahagiaan serta keberkahan yang melimpah. 

Medokan Ayu bangga padamu! 
(red)


Senin, 15 Juni 2026

Catatan Redaksi: Ketika Kepercayaan Lebih Berharga dari Agunan


CATATAN REDAKSI - Cerita Pak Hadi di Medokan Ayu ini bukan sekadar liputan inspiratif tentang seorang mantan sopir yang kini memiliki ambulans.

Lebih dari itu, ini adalah kritik sosial yang hidup terhadap dua hal sekaligus: sistem ekonomi yang mencekik dan terkikisnya modal sosial di perkotaan.

Ada tiga hal yang membuat redaksi merasa perlu menyoroti kisah ini secara khusus:

1. Pinjaman Tanpa Bunga: "Keajaiban" yang Seharusnya Biasa

Fakta bahwa seorang warga bersedia meminjamkan uang tanpa bunga dan bahkan mempersilakan Pak Hadi "menggesek kartu kredit sesuai kebutuhan" terdengar seperti dongeng di era ekonomi neokapitalis. 

Namun, justru di sinilah letak ironinya: praktik yang seharusnya lumrah dalam masyarakat timur ini kini terasa "ajaib" karena kita terlalu terbiasa dengan bunga bank, agunan, dan prosedur berbelit.

Redaksi menilai, kisah ini mengingatkan kita bahwa ekonomi kerakyatan sejati tidak membutuhkan instrumen ribawi. Yang dibutuhkan hanyalah kepercayaan dan ketulusan—dua komoditas yang sayangnya kian langka.

2. Ambulans Rakyat vs Komersialisasi Duka

Ketika rumah sakit memasang tarif Rp350 ribu untuk antar jenazah dalam kota, kehadiran Pak Hadi yang hanya mematok "sukarela" bukan sekadar alternatif murah.

Ini adalah perlawanan terhadap komersialisasi atas momen-momen paling rentan dalam hidup manusia.

Redaksi mengapresiasi keberanian moral Pak Hadi untuk tidak memanfaatkan situasi duka.

Namanya "orang berduka, kemampuan ekonominya berbeda-beda"—kalimat sederhana yang mengandung kesadaran kelas yang tajam.

3. Model Sosial yang Layak Direplikasi

Cerita ini membuktikan bahwa solusi atas masalah publik tidak selalu harus datang dari pemerintah atau lembaga formal.

Seorang mantan sopir partai, seorang tetangga dermawan, dan warga yang percaya—mereka menciptakan ekosistem pertolongan yang lebih responsif daripada birokrasi.

Redaksi mendorong agar Pemkot Surabaya, atau setidaknya para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan kelurahan, melihat model ini sebagai sesuatu yang layak diduplikasi. 

Bantuan teknis seperti perawatan kendaraan atau akses bensin bersubsidi akan sangat membantu memperkuat inisiatif semacam ini.

Penutup Redaksi:
Kisah Pak Hadi bukanlah tentang "orang miskin yang baik hati"—narasi yang kerap meromantisisasi kemiskinan. 

Ini adalah tentang sistem alternatif yang terbukti bekerja: pinjaman tanpa bunga, gotong royong berbasis kepercayaan, dan layanan publik yang lahir dari inisiatif warga.

Semoga cerita dari parkiran makam RW02 Medokan Ayu ini tidak berhenti sebagai artikel inspiratif, tetapi menjadi gerakan.

Karena saat kota semakin mahal dan hati semakin keras, justru dari tempat-tempat "rendah" seperti inilah kita belajar bahwa urip iku pancen kudu urup—hidup itu harus saling menghidupi. 

Redaksi memberi apresiasi setinggi-tingginya.

Pinjaman Tanpa Bunga dan Hati Mulia: Cerita Pak Hadi, Sopir Partai yang Kini Punya Ambulans Siaga di Medokan Ayu

Pak Ah. Khusnul Hadi dan ambulans, usai antar jenazah ke makam Keputih, Surahaya

InfoMedokanAyu - Di tengah hiruk-pikuk Surabaya yang serba cepat dan berbiaya tinggi, ada satu cerita "lokal" yang jarang terjadi. 

Bukan soal mall atau kafe kekinian, melainkan soal sebuah ambulans berwarna putih yang selalu setia parkir di area makam RW02, Medokan Ayu. 

Itu bukan sekadar mobil jenazah biasa. Ini adalah kisah ekonomi kerakyatan berbasis kepercayaan, tolong-menolong, dan keyakinan bahwa urip iku urup (hidup itu saling menghidupi).

Parkir sejenak usai antar jenazah dan cek ambulans sebelum masuk "garasi"

Sosok di Balik Setir
Ambulans Suzuki APV putih itu adalah milik Ah. Khusnul Hadi (54). Sosok ini kelahiran Jember dan pernah mengabdi sebagai mantan sopir pribadi Ketua DPW PKB Jatim, almarhum Cak Anam era Presiden Gus Dur.

Pak Hadi panggilannya, kini adalah "warga asli" Medokan Ayu. Ia pindah dan menikah dengan Ida Khaidaroh, seorang guru MIN setempat, pada tahun 2000. 

Pasangan ini tinggal di Jl. Putra Bangsa III Blok A No.3B, RT09 RW02, bersama dua putri cemerlang: satu sedang S2 Pendidikan, satu lagi semester 3 Kebidanan di Unair.

Usai cek tuntas, ambulans bergeser ke "garasinya".

Berawal dari Rumput di Makam
Awal kegigihan Pak Hadi justru lahir dari aktivitas merawat makam mertua di makam Islam RW02 Medokan Kampung.

Makam ini peruntukannya seluruh warga YKP Rungkut, RW04 Koshagra, dan RW01 Medokan Sawah.

Karena rajin menanam rumput dan membersihkan makam hingga terlihat asri, warga lain mulai meminta bantuannya, merawat makam keluarga mereka. 

Dari sinilah Pak Hadi akrab dengan duka. Ia sering mendengar keluhan warga: "Pak, cari ambulans susah, apalagi malam hari."

Kepedihan itu sangat dipahami oleh Sosok Hadi - kedua orang tuanya telah dipanggil olehNYA.

Ambulans masuk "garasi" menunggu permintaan layanan 

Mimpi VS Realita (Kijang Short yang Tak Terduga)
Berbekal niat mulia, Pak Hadi ingin punya ambulans. Namun, dana Rp15 juta yang dipinjamkan ke temannya tak kunjung kembali. Hingga di tahun 2023, temannya menawarkan opsi: "Bayar pakai Kijang Short '92 saja, Pak."

Kijang 1992 yang semula hendak digunakan sebagai ambulans

Dengan cat mengelupas dan pajak mati 3 tahun, Pak Hadi menerimanya. Ia habiskan uang untuk menghidupkankan pajak, memodifikasi kabin (ditambah panjang kepentingan keranda 40 cm), dan mengecat ulang menjadi putih layaknya ambulans. Nasib baik pun mulai menghampiri.

"Keajaiban" Pinjaman Tanpa Bunga
Saat Kijang itu sedang dimodif, seorang warga Medokan Ayu (yang tidak disebut namanya) datang memberi saran:
"Pak, mending beli yang lebih muda. Biar tidak repot perawatan."

Tak hanya saran, warga tersebut memberikan pinjaman tanpa bunga. Bahkan dipersilakan menggesek kartu kredit sesuai kebutuhan. 

Kijang yang telah dimodifikasi menjadi mobil keluarga, ketika Takbir keliling mampu mengangkut 20 anak dan sound system diatasnya.

Pun demikian, Pak Hadi berkomitmen mengembalikan dengan cara diangsur. Tidak boleh lengah.

Ia pun mencari mobil. Hingga akhirnya ditemukan Suzuki APV 2013 dengan kilometer rendah. Mobil itulah yang menjadi ambulans andalan Medokan Ayu hingga kini.

(Catatan: Kijang short yang sudah dimodif tetap dipakai keluarga dan untuk kegiatan takbir keliling. Hemat biaya!)

Makna "Ambulans Rakyat"
Apa bedanya dengan ambulans RS atau Dinas? Pak Hadi tidak pernah memasang tarif untuk warga Medokan Ayu. 

Meskipun ambulans rumah sakit memasang harga Rp350 ribu untuk dalam kota, Pak Hadi hanya mematok "seikhlasnya". 

Alasannya sederhana: "Namanya orang berduka, kemampuan ekonominya berbeda-beda."

Ulustrasi manfaat lain ambulans bagi warga Medokan Ayu

Manfaat Luar Biasa bagi Medokan Ayu:

Siaga 24 Jam (Termasuk Tengah Malam): Pernah ada yang telepon jam 02.00 WIB? Langsung diantar ke RS.

Bisa Antar Jenazah ke Luar Kota: Karena mobilnya APV yang mesinnya sehat, warga tak perlu cari ambulans antar kota, mahal.

Penyeimbang Harga Pasar: Keberadaan ambulans ini mencegah pihak luar mematok tarif tinggi karena warga punya alternatif.

Bukan Hanya Jenazah: Dalam kondisi darurat (sakit keras tapi tak ada transportasi), ambulans ini siap mengantar ke rumah sakit.

Modal Sosial, Bukan Kapitalis: Ini adalah bisnis sosial murni. Lahir dari pinjaman tanpa bunga (bebas riba), sehingga warga meyakini usahanya membawa berkah.

Mata Air Segar
Cerita ini seperti mata air segar di tengah persaingan ekonomi yang kerap kering akan nilai tolong-menolong.

Ini bukan soal Pak Hadi, tapi bagaimana seorang mantan sopir, seorang tetangga dermawan yang meminjamkan uang tanpa bunga, dan warga yang percaya, menciptakan sebuah ekosistem kemanusiaan.

Ini sekaligus tolok ukur. Masyarakat Medokan Ayu memiliki "cerita baik" yang layak menjadi contoh: 

"bahwa gotong royong tidak harus melalui lembaga formal, cukup dimulai dari parkiran makam dan hati yang ikhlas."

Informasi Kontak (untuk warga yang membutuhkan):
📞 Pak Hadi / Ida Khaidaroh
📍 Jl. Putra Bangsa III Blok A No.3B, RT09 RW02, Medokan Ayu
📱 WA: 0851-0362-1894

(Red)

Minggu, 14 Juni 2026

🚨 BUKAN AMBULANS BIASA! SIAGA 24 JAM DI MEDOKAN AYU 🚨

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Warga Medokan Ayu punya "senjata rahasia" untuk kegawatdaruratan:
🚑 Sebuah Suzuki APV
🕰️ Siaga siang-malam
📍 Markasnya di makam RW 02 Medokan Kampung

Ini bukan layanan dari pemerintah atau perusahaan besar. Ini murni dari warga, oleh warga, untuk warga. 

Ekonomi kerakyatan berbasis percaya dan tolong-menolong BENERAN ADA!

📢 CERITA LENGKAPNYA KAMI TURUNKAN SEBENTAR LAGI. JANGAN SAMPAI KETINGGALAN!

Selasa, 09 Juni 2026

Pengunjung Soroti Kekurangan Ekowisata Mangrove Surabaya: Medsos Kurang Kekinian hingga Beragam Harga Terlalu Mahal


InfoMedokanAyu – Ekowisata Mangrove Surabaya, salah satu destinasi wisata alam andalan Kota Pahlawan, masih menyisakan sejumlah catatan penting dari para pengunjung.


Usai membaca berita itu seorang pengunjung, yang warga Medokan Asri Utara, Yeremia Santoso yang kerap datang ke lokasi, menyampaikan berbagai usulan perbaikan agar tempat wisata ini mampu menjawab kebutuhan wisatawan masa kini.

Dua anak dari Bapak Yeremia Santoso menyempatkan mencari buku bacaan ketika Perpustakaan Keliling mampir ke Ekowisata Mangrove Surabaya.

Pasangan Yeremia dan Nyonya, yang sesama aktif di dunia Pendidikan ini, menyayangkan bila Ekowisata Mangrove Surabaya, pengelolanya kurang mumpuni. Padahal menarik dari sisi edukasi.

"Minimal per 3 bulan, anak-anak ngajak kesana. Anak2 ku suka banget itu spot ATV, spot kolam bebek, Spot playground pasir dan spot doctor fish", kata Yeremia, yang anak pertama putra 7 tahun dan kedua putri usia 5 tahun.

Beliau antara lain menyoroti:
Pertama, dari sisi promosi, akun media sosial Ekowisata Mangrove Sutabaya dinilai kurang relevan dengan tren kekinian. 

Warga tersebut menyarankan pengelola untuk mulai menggandeng selebgram lokal guna memperluas jangkauan pemasaran dan menarik minat generasi muda.

Bapak Yeremia Santoso mendampingi si kecil membaca buku milik Perpustakaan Keliling.

Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola dinilai belum profesional. 

Warga ini mengusulkan agar para petugas mengenakan seragam yang lebih otentik—menyerupai konsep di Taman Safari—serta lebih ramah dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berkomunikasi dengan pengunjung.

Ketiga, fasilitas keamanan di kawasan tersebut dirasa masih kurang, terutama jika dibandingkan dengan destinasi wisata alam di luar kota seperti Trawas, Pacet, atau Batu.

Pengunjung mengharapkan adanya petugas yang siaga di titik-titik rawan, termasuk di kawasan jembatan kayu yang tidak berpagar.

"Dengan begitu, jika ada pengunjung yang terpeleset atau jatuh—apalagi anak-anak— bisa segera mendapatkan pertolongan," ujar warga tersebut.

Dua putra Bapak Yeremia Santoso usai baca buku, kembali ke keinginan awal datang ke Ekowisata Mangrove, bermain di kolam bebek.

Keempat, dari sisi kuliner, jenis makanan yang tersedia di foodcourt dinilai kurang otentik dan kurang variatif. 

Warga berharap tersedia lebih banyak pilihan makanan khas atau unik yang bisa menjadi daya tarik tersendiri, dengan harga dan menu yang dapat menyesuaikan dengan referensi di luar kawasan.

Kelima, masalah yang paling krusial menurut warga adalah harga sewa sarana transportasi di dalam kawasan, seperti sepeda listrik dan mobil listrik, yang dinilai terlalu mahal. 

"Ini cukup krusial jika mau menyasar anak muda masa kini yang malas berjalan kaki, juga para lansia," ujarnya. 

Harga yang terlalu tinggi dinilai dapat menghalangi minat wisatawan untuk menikmati kawasan secara maksimal.

Para pengunjung berharap pengelola Ekowisata Mangrove Surabaya segera menindaklanjuti masukan ini demi meningkatkan kualitas layanan dan daya saing destinasi wisata alam kebanggaan Surabaya. (red)

Senin, 08 Juni 2026

Petani Mangrove: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian

Basori ketua kelompok Tani Mangrove Bahari - Gunung Anyar menunjukkan bibit bakau yang telah berusia 7 bulan.

InfoMedokanAyu - Kelompok Tani Mangrove di Surabaya saat ini menghadapi prospek yang spekulatif dan berisiko tinggi. Mereka hanya mengandalkan "pemberian kesempatan" tanpa adanya komitmen pembelian yang pasti. Padahal, risiko kerugian sangat besar jika bibit tidak laku hingga melewati usia 7 bulan.

Demikian disampaikan oleh Basori, Ketua Kelompok Tani Mangrove Bahari - Gunung Anyar, Surabaya sebagai penyedia bibit bakau. Sementara itu, di Medokan Ayu, belum terdapat Kelompok Tani serupa.

KETERBATASAN KEPASTIAN PASAR
Basori menceritakan, kelompoknya hanya diberi kesempatan untuk melakukan pembibitan dan penanaman. Pendapatan mereka berasal dari penjualan bibit dan jasa penanaman, yang biasanya dibeli oleh perusahaan yang peduli pada pelestarian mangrove.

Beberapa tahun lalu, usaha ini sempat lancar. Permintaan bibit bakau cukup tinggi untuk keperluan restorasi, reboisasi, atau program CSR perusahaan. 

Kelompok yang beranggotakan 13 orang itu juga siap menanamkan bibit, sehingga risiko kematian akibat kesalahan tanam dapat dihindari. Harga bibit siap tanam berikut penanaman sekitar Rp8.000 per pohon.

RISIKO STUNTING SETELAH 7 BULAN
Kondisi saat ini sangat berbeda. Pembelian bibit sangat terbatas, bahkan hingga usia 7 bulan. Padahal, petani telah menanggung biaya produksi seperti media tanam, polibag, dan perawatan selama 7 bulan.

Sosok Basori

Bibit bakau tidak tahan lama jika sudah siap tanam. Akar dapat keluar dari polibag dan mengalami stunting, yang ditandai dengan:
· Tanaman tidak dapat berkembang optimal
· Batang menjadi pendek dan kecil
· Daun menguning atau rontok

Akibatnya, bibit menjadi kurang sehat dan tingkat keberhasilan tanam rendah. Tanpa pembeli yang jelas setelah 7 bulan, risiko bibit mengalami stunting sangat tinggi sehingga nilainya menurun drastis.

Sementara itu, kondisi Ekowisata Mangrove Surabaya dapat dibaca dengan klik "Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu"

Selengkapnya perubahan status pengelola dapat disimak dengan klik "BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya sebagai Tempat Hiburan dan Aset Riset Strategis"

KEPRIHATINAN PETANI & KEBUTUHAN POHON
Basori mengaku prihatin dengan kondisi pembibitan saat ini.

"Kadang bibit masih usia 5 bulan, keluarga petani sudah menjerit butuh uang belanja. Terpaksa saya harus berupaya mencarikan," tuturnya.

Padahal, luas area tanam mangrove yang perlu disentuh masih besar. Kawasan Gunung Anyar yang sudah banyak ditanami masih membutuhkan sekitar 7.000 pohon. Sementara Medokan Ayu memiliki kebutuhan lebih besar lagi.

Sejak ekowisata mangrove berdiri, hanya pada tahun 2024 Medokan Ayu ditanami dua kali dengan total 1.500 pohon, itupun banyak yang mati. Diperkirakan kawasan Medokan Ayu masih membutuhkan 100.000 pohon.

Secara keseluruhan, ruang ekowisata Mangrove Medokan Ayu paling luas.

Berdasarkan data Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, luas area mangrove Medokan Ayu mencapai 16 hektare (Ha) dan Gunung Anyar 11 hektare (Ha). 

Sebagai informasi tambahan, luas total KRM Surabaya yang merupakan gabungan mangrove Gunung Anyar, Medokan Ayu, dan Wonorejo adalah 34 hektare.

KESIMPULAN
Kelompok tani bakau di Gunung Anyar dan kebutuhan area tanam di Medokan Ayu (total sekitar 107.000 pohon) menunjukkan potensi besar, namun tanpa kepastian pasar dan komitmen pembelian, usaha pembibitan bakau tetap berisiko tinggi dan spekulatif. (red)


BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya sebagai Tempat Hiburan dan Aset Riset Strategis

Prasasti tertanda Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri saat peresmian sebagai Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia. Saat itu beliau Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sampai kini.
 
InfoMedokanAyu - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) saat ini memosisikan Ekowisata Mangrove Surabaya tidak sekadar sebagai tempat liburan, melainkan sebagai aset riset strategis untuk masa depan kota yang berkelanjutan. Kesimpulan ini diperoleh setelah diketahui posisi BRIDA terhadap kawasan tersebut sebagai pengelola utama dan pengubah haluan strategis.

Sejak resmi beroperasi sebagai perangkat daerah mandiri pada awal Januari 2026, BRIDA secara struktural telah menaungi kawasan ini dan mengubah fokus utamanya.

LANDASAN HUKUM & STRUKTUR
Perubahan ini didasari oleh Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 55 Tahun 2025 yang secara resmi memindahkan pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) ke bawah naungan BRIDA.

· Kepala BRIDA: Saat ini dijabat oleh Agus Imam Sonhaji.

· Struktur: UPT Kebun Raya Mangrove menjadi bagian integral dari BRIDA dengan tugas teknis yang mencakup konservasi, riset, dan pengelolaan.

FOKUS BARU: Dari Wisata ke Riset
Perubahan ini mengubah paradigma kawasan Mangrove Surabaya secara fundamental.

Fokus Utama:  Destinasi ekowisata dan rekreasi (lama), Pusat riset & konservasi berstandar internasional (kini)

Fungsi Strategis: Pendidikan lingkungan bagi wisatawan (lama),  Living laboratory (laboratorium hidup) serta pusat studi blue carbon (karbon biru) (kini)

Target: Peningkatan jumlah pengunjung,  Mitigasi perubahan iklim dan potensi ekonomi karbon bagi kota (kini)

MODEL KOLABORASI "Heptahelix"
Untuk menjalankan mandat ilmiah ini, BRIDA tidak bekerja sendiri. Mereka menginisiasi model kolaborasi baru yang lebih luas, yaitu Heptahelix, yang melibatkan 7 unsur:

1. Pemerintah
2. Akademisi (perguruan tinggi)
3. Dunia usaha
4. Masyarakat
5. Media
6. Komunitas
7. Pengguna (user)

BRIDA berperan sebagai "agregator" atau penghubung, memastikan riset dari kampus dapat dihilirisasi menjadi kebijakan atau produk nyata yang bermanfaat bagi warga.

PENGEMBANGAN MULTIFUNGSI
Meskipun fokus bergeser ke riset, BRIDA bersama DKPP tetap mengembangkan fungsi lain, seperti:

· Ketahanan pangan: Mengembangkan padi biosalin dan sistem silvofishery (budidaya ikan di kawasan mangrove) sebagai sumber pangan alternatif.

· Pendukung kebijakan: Hasil riset BRIDA akan menjadi basis data untuk mengatasi persoalan kota, seperti banjir dan perubahan iklim.

PENGELOLA SEBELUMNYA
Sebelumnya Ekowisata mangrove di Surabaya dikelola dalam dua periode utama: awalnya berbasis masyarakat, kemudian berubah menjadi pengelolaan resmi oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui dinas terkait.

Periode Perintis (sekitar 2010–2012)
Pada fase ini, pengelolaan sepenuhnya digerakkan oleh masyarakat karena adanya kekhawatiran terhadap kerusakan hutan mangrove.

· Penggagas & pengelola awal: Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Nirwana bersama Kelompok Tani setempat.

· Motif awal: Kesadaran untuk menyelamatkan kawasan dari penebangan liar dan abrasi. Mereka mulai membuka akses untuk edukasi secara informal.

· Ciri pengelolaan: Swadaya, belum terstruktur secara formal, dan memanfaatkan peran aktif warga sekitar.

Periode Pengelolaan Resmi & Status Kebun Raya (2018–sekarang)
Melalui legalitas formal, Pemerintah Kota (Pemkot) mengambil alih kendali.

· Pengelola utama: Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
· Unit khusus: Dibentuk UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya (berdasarkan Perwali Nomor 41 Tahun 2023) yang mengelola secara profesional dengan 57 personel.

· Peran tokoh kunci:
  · Tri Rismaharini: Saat menjabat Wali Kota, ia memprakarsai pembangunan skala besar pada 2018 dan menggandeng LIPI.

  · Eri Cahyadi: Meneruskan pembangunan hingga peresmian resmi sebagai Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia pada 26 Juli 2023.

MODEL PENGELOLAAN KINI
Saat ini, meskipun naungan utama ada di DKPP, pemerintah menjalankan model kolaborasi agar tetap memberdayakan warga:

· Peran masyarakat: Masyarakat sekitar tetap dilibatkan dalam operasional (misalnya mengelola perahu, UMKM) untuk kesejahteraan ekonomi.
· Bantuan riset: BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) membantu aspek penelitian dan pengembangan koleksi mangrove.

KESIMPULAN
Pengelolaan ekowisata mangrove Surabaya berevolusi dari inisiatif rakyat (FKPM) menjadi aset strategis kota (DKPP & UPT Kebun Raya Mangrove) dengan status Kebun Raya resmi pada tahun 2023, dan kini memasuki babak baru sebagai pusat riset di bawah BRIDA. (red)

Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu

Busem Medokan Ayu dilihat dari puncak Menara di Ekowisata Mangrove Gunung Anyar.
InfoMedokanAyu - Sesampainya di kawasan Mangrove Surabaya, tepatnya di Gunung Anyar dan Medokan Ayu, sebuah bangunan baru langsung menyambut. 

Berada tak jauh dari area parkir, bangunan itu berfungsi sebagai loket tiket anyar, menggantikan posisi lama yang kini terletak sekitar seratus meter dari lokasi sebelumnya. 

Pintu masuk "terhalang" pembangunan loket. Sementara langsung belok kanan masuk lewat lahan parkir. Tarif pakir Rp 5.000/ motor.

Di seberang bekas loket lama, pembangunan gedung pertemuan tengah berlangsung.

Pembangunan Gedung Pertemuan lokasi sebrang loket masuk. Tiket masuk Rp 15ribu/ orang.

Tanpa terasa, perjalanan kami yang dimulai pukul sembilan pagi itu masih belum mengeluarkan keringat, tetapi azan zuhur sudah berkumandang.

Demikian perjalanan mengunjungi Ekowisata Mangrove Surabaya, khususnya di Gunung Anyar, berhimpitan dengan Medokan Ayu, yang lokasinya pesisir Timur Surabaya.

Nuansa hutan mangrove memang tidak tertandingi. Apalagi di kota, di mana terik matahari di ruang terbuka begitu menyengat. Kawasan mangrove lain. 

Menjumpai peta pengembangan bila masuk lsngsung belok kanan, lewat sisi Barat gedung utama.

Gedung Utama Ekowisata Mangrove Surabaya - Gunung Anyar.


Bibit Mangrove

Pepohonan bakau yang tinggi menetralkan panas pantai, menjadikannya teduh dan nyaman. 

Berjalan menyusuri geladak berpapan pun terasa aman; jalan setapak itu bertumpu pada penyangga beton yang kokoh. 

Jalanan geladak kayu berpenyanggah beton

Pagar terawat. Yang rapuh, digantikan.

Di sepanjang geladak, tersedia pula tempat foto plus pemandangan apik, lengkap dengan kursi-kursi yang disediakan pengelola.

Jenis mangrove pun terbaca jelas pada label yang ditempelkan di pohonnya.

BANGAU
Namun, ada yang menarik dari kesunyian siang itu. Karena kedatangan kami sekitar pukul sembilan, burung-burung kecil sudah memilih bersembunyi di balik rimbun dedaunan bakau. 

Tak ada kicau riuh seperti kabar dari mereka yang datang lebih pagi. Yang tersisa hanyalah seekor bangau—atau mungkin kuntul—berdiri diam di dahan mangrove bagian timur. 


Bulunya putih bersih, paruhnya runcing, matanya awas memandang ke arah air yang mulai surut. 

Kadang ia mengepakkan sayap malas, lalu kembali diam. Sesekali, bangau lain terbang rendah melintasi atas geladak kami, tanpa suara, hanya bayangan putih yang meluncur pelan.

Tarif berperahu. Bisa diketahui, bila masuk ke gazebo penunggu perahu dan mendongak. Tarif menempel di atap gazebo.

BERPERAHU RP 20.000
Ekowisata ini juga menyediakan wisata berperahu menuju muara, yang membutuhkan waktu 45 menit sampai tujuan.

Disiini tarif berperahu, dibedakan berdasarkan kewarganegaraaan. WNI Rp 20.
000, WNA Rp 40.000. 

Perahu berkapasitas 6 orang dewasa.

MENARA
Sebelum berjalan terlalu jauh menyusuri geladak, penulis sempat menaiki menara pandang. 

Dari atas, pemandangan benar-benar berbeda. Hamparan ekowisata Mangrove Medokan Ayu terbentang dari ketinggian.

Sisi utara memperlihatkan panorama wisata air yang luas. Dari atas menara, mata penulis tertuju pada Busem. 


Busem di Mangrove Medokan Ayu

Busem tampak seperti pusat kegiatan ekowisata air di lokasi Mangrove Medokan Ayu. Namun riilnya, kawasan sekitar Busem tampak sepi. Tak terlihat orang hilir mudik, tiada anak-anak berlarian.

Saya agak bertanya-tanya. Tempatnya bagus, udaranya teduh, spot fotonya apik. Tapi mengapa sepi? 

Sepertinya ekowisata ini kurang promosi. Padahal, banyak papan petunjuk di jalan menuju lokasi. Hanya saja, masyarakat sekitar UPN—di jalanan menuju mangrove—banyak yang belum tahu tentang Mangrove Surabaya.

Ini semacam ironi: potensi besar, namun tidak siap dikelola sebagai ekowisata. 

Riilnya memang tidak ada warga lokal yang dilibatkan pada pengelolaaan Mangrove ini.

Untuk Masyarakat Gunung Anyar, ada yang dilibatkan. Khususnya 13 orang, yang aktif pembibitan bakau, dibawah ketua kelompok Petani bakau.

Kini merekapun prihatin, silahkan klik "Petani Bakau: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian"

Sementara di Medokan Ayu belum ada yang dilibatkan.

Penulis berdiri cukup lama di atas menara, menikmati angin yang lebih kencang dari bawah, tetapi juga merasakan semacam sayu. Tempat sebagus ini layak ramai.

Seusai menyusuri ketinggian menara pengamatan, penulis turun dan berjumpa dengan rombongan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. 

Mahasiswa UPN jurusan Fakultas Pertanian usai melakukan "penyulaman" - menggantikan tanaman Mangrove yang mati.

Mereka adalah mahasiswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, yang tengah menggelar kegiatan penanaman mangrove di kawasan konservasi pesisir. 

Mereka tidak sekadar menanam, tetapi melakukan penyulaman—mengganti tanaman mangrove yang mati agar ekosistem kembali pulih. Semangat mereka patut diacungi jempol.

MANGROVE MEDOKAN AYU
Menuju mangrove Medokan Ayu difasilitasi jembatan. Lokasinya sekitar sekitar 150M ke arah Timur dari loket.

Disana dilengkapi wisata air di area Busem. Juga ada Wahana ATV, yang singkatan dari All-Terrain Vehicle, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut kendaraan segala medan. 

ATV itu bentuknya mirip sepeda motor dengan empat roda besar dan kasar (seperti ban traktor). Dikendarai dengan cara diduduki dan setang seperti motor biasa.

Wahana ATV biasanya digunakan untuk:
· Menjelajahi jalur tanah/lumpur di kawasan mangrove yang tidak bisa dilalui mobil biasa.
· Melintasi medan tidak rata, seperti kubangan lumpur, jalan berbatu, tanjakan, atau genangan air dangkal.
· Rekreasi off-road dengan sensasi menantang namun tetap aman karena kecepatannya terkontrol.

Cara menggunakannya: cukup duduk, pegang setang, gunakan gas dan rem seperti motor, tapi karena rodanya empat, tidak perlu menjaga keseimbangan. Tersedia untuk 1 atau 2 orang (double ATV).

HARGA MAKANAN DI AREA TIDAK AKRAB KANTONG MAHASISWA
Namun, di sela-sela kegiatan, terlihat pemandangan yang cukup memprihatinkan. 

Kafetaria-lokasi stan makanan minuman yang sepi, di hari Minggu 7 Juni 2026

Usai acara, beberapa mahasiswa melahap jatah nasi kotak di luar area, seperti di lokasi parkir yang terbuka. 

Bahkan, sebagian memilih membawa pulang makanannya tanpa sempat menyantapnya di tempat, terutama para mahasiswi. 

Ketika saya tanyakan mengapa mereka tidak makan di dalam area yang sudah tersedia tempat cukup layak, seorang mahasiswa menjawab dengan nada kecewa, "Tidak enak, Pak. Soalnya di sini pengunjung dilarang membawa bekal dan melahapnya di dalam area."

Benar saja. Bapak Arif, warga YKP Medokan Ayu - Medokan Asri Utara  yang kebetulan sedang berjalan-jalan, membenarkan aturan tersebut. 

Menurutnya, sejak beberapa waktu lalu, ketika mengajak jalan-jalan cucu di area ini, pihak petugas melarang pengunjung menyantap bekal bawaan dari rumah. Jika lapar, pengunjung diwajibkan membeli makanan yang dijual di dalam area.

"Masalahnya, harga makanan di dalam area jauh lebih mahal dibanding makanan yang sama di luar," ujar pengunjung lain. 

Lalu dibandingkan dengan kawasan lain. "Beda dengan Taman Harmoni Sukolilo. Di sana, lebih baik tidak usah bawa bekal karena harga makanan di dalam area relatif murah, seimbang dengan yang dijual pedagang kaki lima di luar. Ragamnya juga banyak," jelasnya.

Perbedaan kebijakan antara dua kawasan wisata alam ini menarik dicermati. 

Di satu sisi, larangan membawa bekal mungkin diterapkan untuk mendukung omzet pelaku UMKM di dalam area. 

Namun di sisi lain, jika harga jual tidak bersaing dan ketersediaan pangan terbatas, pengunjung—termasuk mahasiswa yang sedang berkegiatan konservasi—justru merasa dirugikan.

Maka, judul pada tulisan ini disajikan demikian, dengan alasan silahkan klik Makna Judul 'Sepi di Atas Menara, Pahit di Bawah Aturan: Catatan dari Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu'

PERMATA TERPENDAM
Setelah berbincang dengan mahasiswa dan Bapak Arif, penulis kembali menyusuri geladak seorang diri. 

Suasana terasa lebih sunyi dari yang kubayangkan—bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena minimnya pengunjung. Namun justru di situlah keistimewaan sekaligus kesedihannya. 

Tidak ada ramai suara, tiada hiruk-pikuk. Hanya debur air surut, gesekan daun bakau, dan sesekali suara kepiting kecil yang berlarian di antara akar-akar napas yang menjulang.

Disempatkan duduk di salah satu kursi kayu dekat gardu pandang. Angin laut bertiup tipis, membawa bau tanah basah dan garam.

Waktu terasa lambat. Mungkin jika datang lebih pagi—pukul enam atau tujuh—suasana akan berbeda. Atau mungkin jika promosinya gencar, tempat ini tak akan sesepi ini. 

Tapi untuk hari itu, pukul sembilan sudah cukup. Sepi pun jadi saksi: kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu adalah permata yang masih terpendam


Ekowisata Mangrove sepertinya tidak perlu ramai untuk terasa hidup. Namun alangkah sayangnya jika keindahan seperti ini hanya dinikmati oleh segelintir orang—dan bangau-bangau yang setia menunggu.

Semoga pengelola kawasan mangrove ini dapat mengevaluasi kebijakan tersebut. Sebab, kenyamanan pengunjung dan keterjangkauan harga adalah bagian penting dari keberlanjutan wisata edukatif seperti ini. 

Terlebih ketika yang datang adalah generasi muda yang peduli lingkungan, sudah sepantasnya mereka mendapat pelayanan yang mendukung, bukan justru menyulitkan.

HALUAN BARU: Dari WiSATA KE RISET
Namun, catatan dan masukan ini kiranya lebih cocok untuk periode sebelum tahun 2026. Kini, fokus telah berubah. 

Sejak Januari 2026, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) resmi menjadi pengelola utama sekaligus pengubah haluan strategis kawasan ini.

Jika sebelumnya Mangrove Surabaya berfungsi sebagai destinasi ekowisata dan rekreasi, kini beralih menjadi pusat riset dan konservasi berstandar internasional

Keberadaan Mangrove Surabaya memang sempat membingungkan, terutama terkait fungsi dan pengelolaannya. 

Kini, kawasan ini tidak lagi berada di bawah kelola masyarakat atau kemudian Pemerintah Kota secara langsung. Mulai Januari 2026, ia berada di bawah naungan BRIDA.

Selengkapnya tentang pengelolaan Mangrove silahkan klik BRIDA: Ekowisata Mangrove Surabaya Sebagai Tempat Hiburan dan Asek Riset Strategis.

Sebuah babak baru. Semoga arah yang lebih terukur membawa kebaikan bagi ekosistem, riset, dan masyarakat sekitarnya. (red)