Minggu, 05 Juli 2026

Menekan Populasi Kucing: Pendekatan Gabungan Pasif dan Aktif adalah Solusi Paling Ideal

Ilustrasi menekan populasi kucing dengan dua pendekatan. Aktif dan pasif.

Oleh: Priono Subardan - Pemerhati Masalah Hewan

InfoMedokanAyu - Populasi kucing, terutama kucing liar, telah menjadi perhatian serius di berbagai daerah.

Kegelisahan warga terhadap keberadaan kucing tak bertuan yang berkeliaran bukan tanpa alasan, mengingat dampaknya terhadap kesehatan dan kenyamanan lingkungan. 

Namun, solusi yang ditawarkan tidak boleh sekadar represif, melainkan harus humanis dan berkelanjutan.

Berdasarkan pengamatan dan praktik di lapangan, kebijakan yang paling ideal untuk menekan populasi kucing adalah gabungan antara pendekatan pasif dan pendekatan aktif. Bukan memilih salah satu secara eksklusif. 

Kombinasi ini terbukti lebih efektif, menjangkau lebih banyak sasaran, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesejahteraan hewan.

Pemerintah, dalam hal ini, dituntut untuk berperan ganda: menyediakan fasilitas publik yang mudah diakses sekaligus terjun langsung ke lapangan. 

Urgensi kebijakan ini pernah diulas dalam tulisan berjudul "Warga Resah Kucing Tak Bertuan Berkeliaran, Ini Ancaman Kesehatan dan Solusi Humanis yang Ditawarkan", yang dimuat oleh InfoMedokanAyu.blogspot.com pada 5 Juli 2026.

Berikut adalah perbandingan kedua pendekatan berdasarkan implementasi di sejumlah kota.

Pendekatan Pasif (Menunggu Warga Membawa Kucing)

· Bentuk Kebijakan: Pemerintah membuka pendaftaran dan menyediakan layanan sterilisasi gratis atau bersubsidi di pusat kesehatan hewan (Puskeswan) pada periode tertentu.

· Keunggulan: Memberikan kemudahan akses dan meringankan biaya bagi pemilik kucing peliharaan.

Hal ini mendorong partisipasi aktif warga dalam mengendalikan populasi hewan peliharaannya.

· Kelemahan: Kurang efektif untuk menangani kucing liar. Hewan ini tidak memiliki pemilik yang secara sukarela akan membawanya ke klinik.

Kota Surabaya telah menjalankan pendekatan ini secara terjadwal, dan menjadi salah satu contoh layanan publik yang patut diapresiasi.

PENDEKATAN AKTIF (Pemerintah Menjangkau Lapangan)

· Bentuk Kebijakan: Menggunakan metode Trap-Neuter-Return (TNR), di mana tim gabungan yang terdiri atas dokter hewan, komunitas pecinta hewan, dan relawan menangkap, mensterilkan, lalu mengembalikan kucing liar ke habitat asalnya.

· Keunggulan: Ini merupakan solusi paling efektif dan manusiawi untuk menangani populasi kucing liar secara langsung. 

Pelaksanaannya dapat didasarkan pada laporan warga atau penjangkauan rutin ke pasar dan permukiman padat.

· Kelemahan: Membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks serta keterlibatan berbagai pihak, sehingga menuntut sumber daya dan perencanaan yang matang.

SURABAYA BERGERAK AKTIF
Pemerintah Kota Surabaya telah menunjukkan komitmennya melalui program TNR yang terstruktur dan kolaboratif.

Meskipun begitu, program ini masih tergolong baru dan kapasitasnya terbatas. 

Oleh karena itu, kesan "kurang" kerap muncul jika dibandingkan dengan konsistensi komunitas swasta atau kota lain yang memiliki program lebih masif. 

Namun, langkah ini tetaplah kemajuan positif yang patut didukung, dan ke depan diharapkan kuota serta frekuensi kegiatannya dapat ditingkatkan.

PENDEKATAN GABUNGAN: Praktik Terbaik Terbukti Berhasil

Perpaduan antara pendekatan pasif dan aktif bukanlah sekadar teori.

Praktik terbaik ini telah berhasil diterapkan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta. 

Pada tahun 2025, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan sterilisasi hingga 21.000 ekor kucing melalui strategi berikut:

1. Menyediakan layanan sterilisasi gratis di puskeswan.

2. Melakukan penjangkauan aktif dengan metode TNR di lokasi-lokasi rawan kucing liar.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan penuh dari pemerintah daerah, komunitas pencinta hewan, dan para dokter hewan.

Sinergi ketiga pilar inilah yang menjadi kunci utama.

 "Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui kanal-kanal resmi pemerintah daerah atau komunitas pegiat hewan setempat."

BILA HARUS MEMILIH, Mana yang Lebih Prioritas?

Jika dipaksa untuk memilih di antara keduanya, pendekatan aktif (TNR) memiliki urgensi yang lebih tinggi dalam menekan populasi secara signifikan, dengan alasan:

· Kucing liar merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan populasi.

· Tanpa penangkapan dan sterilisasi langsung, program pasif hanya akan menjangkau sebagian kecil populasi (terutama kucing peliharaan).

Namun perlu diingat, program TNR tanpa didukung fasilitas sterilisasi gratis untuk warga akan berjalan lambat, karena kapasitas tim di lapangan terbatas.

Sebaliknya, layanan gratis tanpa jangkauan aktif hanya akan menyelesaikan separuh masalah.

Inti dari kebijakan yang ideal adalah keseimbangan: Pemerintah harus menyediakan fasilitas yang mudah diakses, sekaligus hadir secara langsung di tengah masyarakat. 

Satu tanpa yang lain tidak akan menghasilkan dampak maksimal. 

Hanya dengan pendekatan gabungan yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan, kita dapat mengelola populasi kucing secara manusiawi dan efektif demi kesehatan serta kenyamanan bersama.

DukaCita, Bapak "Robert Sadrach" Warga RT03 RW08 Medokan Asri Utara Meninggal Dunia Hari Ini Pk.16.10 WIB

 

TURUT BERDUKA CITA YANG MENDALAM

Keluarga besar warga RT 03 RW 08 Medokan Asri Utara - khususnya, dan  Medokan Ayu - umumnya  menyampaikan rasa duka yang tulus atas berpulangnya:

ROBERT SADRACH 

Lahir : Surabaya, 19 Oktober 1947

Telah dipanggil Tuhan pada hari Minggu, 5 Juli 2026, pukul 16.10 WIB di kediamannya.

"Kami kehilangan seorang bapak, tetangga, dan sahabat yang ramah.
Semasa hidup, beliau lebih akrab disapa Pak Robert. 
Kami semua mengenang kebaikan hatinya—terutama kesediaannya selalu hadir mendampingi setiap warga RW 08 yang berpulang. 
Ketulusannya tak akan kami lupakan."

Kepada anak-anak almarhum:
Saudara Marco dan Saudari Ivo beserta keluarga,
Kami turut berduka sedalam-dalamnya. 
Semoga Tuhan memberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Rumah Duka
Jl. Medokan Asri Utara Blok N No. 42 RT 03 RW 08, Medokan Ayu, Surabaya

Pemakaman
Selasa, 7 Juli 2026, di Makam Umum Keputih, Surabaya.

Rumah Duka. foto Ketua RT03 RW08 Medokan Asri Utara Bapak Sunu Wahjoto

Bagi umat Katolik, mari kita doakan bersama:
"Ya Tuhan, berilah istirahat kekal kepada hamba-Mu Robert, dan semoga terang abadi menyinarinya. Semoga ia beristirahat dalam damai. Amin."

Selamat jalan, Pak Robert.
Kami berdoa, semoga arwahmu diterima di sisi Bapa di surga.

(InfoMedokanAyu)




Warga Resah Kucing Tak Ber-tuan Berkeliaran, Ini Ancaman Kesehatan dan Solusi Humanis yang Ditawarkan

Ilustrasi pengendalian populasi kucing

InfoMedokanAyu – Kegelisahan melanda sejumlah warga di berbagai lingkungan perkotaan Surabaya, termasuk di Medokan Ayu, Rungkut. Penyebabnya bukan sekadar pemandangan, melainkan maraknya populasi kucing liar yang bebas tanpa pengawasan kesehatan yang memadai. Malah ada yang melahirkan di area Masjid.

Kondisi yang tampak sepele ini nyatanya menyimpan sederet ancaman serius. Mulai dari risiko penularan penyakit hingga terganggunya kenyamanan dan keseimbangan ekosistem setempat.

Para ahli dan pegiat lingkungan menyoroti bahwa permasalahan ini bukan sekadar persoalan bau atau pemandangan. 

Dampak dari populasi kucing yang tak terkendali dapat menjalar ke berbagai sendi kehidupan, menimbulkan potensi konflik sosial hingga pencemaran lingkungan yang berkelanjutan. 

Berikut sejumlah risiko utama yang wajib dipahami oleh setiap warga:

Risiko Kesehatan (Zoonosis)
Kepadatan populasi kucing tanpa vaksinasi jelas meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia. 

Beberapa penyakit yang patut diwaspadai antara lain:

· Toksoplasmosis: Ditularkan melalui kotoran kucing, infeksi ini sangat berbahaya, terutama bagi ibu hamil karena dapat mengancam janin.

· Gangguan Pernapasan: Bau amonia dari penumpukan urin dan kotoran kucing dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu kambuhnya penyakit asma.

· Rabies: Penyakit mematikan akibat gigitan hewan ini tetap menjadi ancaman nyata jika populasi kucing tidak terjaga vaksinasinya.

Polusi Lingkungan
Penumpukan kotoran yang tidak dikelola dengan baik mencemari tanah dan berpotensi meresap ke sumber air bersih.

Kandungan amonia yang tinggi juga mampu mengubah tingkat keasaman (pH) tanah, yang berakibat pada matinya tanaman di sekitar.

Gangguan Kenyamanan & Konflik Sosial
Suara ribut saat musim kawin, kucing yang masuk pekarangan tetangga, hingga kebiasaan buang air sembarangan kerap memicu gesekan antarwarga. Ketentraman lingkungan pun terganggu.

Ketidakseimbangan Ekosistem
Kucing adalah predator alami
Jika populasinya meledak, mereka akan mengancam keberadaan burung, reptil kecil, dan serangga di lingkungan sekitar, mengganggu rantai makanan yang sudah terbentuk.

💡 Solusi Jangka Panjang dan Humanis
Menanggapi keresahan ini, para pemerhati hewan dan dinas terkait menekankan pentingnya orientasi solusi jangka panjang yang manusiawi, bukan tindakan represif.

Berikut langkah-langkah yang disarankan untuk warga:

· Sterilisasi Massal (Kunci Utama): 
Metode ini dinilai paling efektif dan etis untuk menghentikan ledakan populasi.

Sterilisasi terbukti mampu mengurangi perilaku agresif, mencegah perkelahian, serta meredam suara bising saat musim kawin. 

Warga dapat berkoordinasi dengan Dinas Peternakan atau komunitas pecinta hewan untuk menggelar bakti sosial sterilisasi gratis. 

Sebagai informasi, Pemerintah Kota Surabaya secara rutin menyediakan layanan sterilisasi gratis di klinik hewan kawasan Surabaya Utara.

· Vaksinasi: Pastikan semua kucing, baik peliharaan maupun komunitas liar yang dirawat, telah divaksin rabies. 

Langkah ini vital untuk memutus rantai penularan penyakit.
· Pembatasan Jumlah dan Kebersihan: Kesadaran pemilik untuk membatasi jumlah peliharaan dan rutin membersihkan kandang atau area kotoran sangat menentukan keberhasilan pengelolaan lingkungan yang sehat.

Peran Damkar dan Pendekatan Evakuasi
Menyoal bantuan dari Pemadam Kebakaran (Damkar), secara teknis unit ini memang berwenang membantu evakuasi hewan dalam kondisi darurat, seperti saat kucing terjebak di sumur atau di atas pohon tinggi.

Namun untuk kasus populasi berlebih, seperti ditemukannya puluhan ekor dalam satu rumah, pendekatan utama bukanlah evakuasi massal. 

Pemerintah dan para ahli menegaskan bahwa langkah yang tepat adalah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan komunitas pegiat satwa untuk menjalankan program sterilisasi dan vaksinasi. 

Hal ini penting demi menjaga keseimbangan antara manajemen populasi dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (red)

Sabtu, 04 Juli 2026

Mengalah karena Allah: Antara Kemuliaan Ukhuwah dan Kewajiban Melawan Maksiat

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Sikap mengalah sering dianggap sebagai kelemahan, padahal dalam perspektif Islam, mengalah yang dilandasi niat benar adalah perbuatan mulia. Sebaliknya, memaksakan kehendak sendiri tanpa mau mengalah karena kesombongan adalah sikap yang keliru dan tercela.

Hal itu dibenarkan oleh Ustadz Syamsudin, seraya menegaskan dengan catatan mengalah selama kehendak Allah dimaksud adalah rida-Nya dan tetap menjalankan kewajiban.

Ustadz Syamsudin. Dokumentasi ketika di PT Perhutani, Surabaya.

Ustadz yang dikenal putra Medokan Ayu-salah satu Imam tetap dan pengisi kajian di Masjid Asasul Amal, Medokan Asri Utara ini juga menegaskan, bahwa kemuliaan mengalah memiliki batasan syariat. 

Sikap itu hanya terpuji selama tetap dalam koridor rida Allah dan tidak menyebabkan pelalaian terhadap kewajiban. 

Mengalah justru menjadi wujud keimanan yang tinggi, asalkan dilandasi niat ikhlas dan pemahaman yang sesuai dengan tuntunan agama.

Dalam Islam, sikap “kalah” atau mengalah karena Allah memiliki beberapa dimensi penting yang perlu dibedakan secara cermat.

Pertama, jika yang dimaksud adalah mengalah demi menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan menghindari perpecahan, maka ini sangat terpuji.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Kedua, jika yang dimaksud adalah tawakal—berserah diri setelah berusaha maksimal—maka itu termasuk akhlak mulia. 

Kita wajib berikhtiar sungguh-sungguh, lalu hasil akhir kita serahkan sepenuhnya kepada ketetapan Allah.

Ketiga, inilah poin paling krusial. Perlu disadari bahwa mengalah tidak boleh dilakukan dalam perkara maksiat atau kemungkaran. 

Jika menyangkut hak Allah—seperti meninggalkan kewajiban atau membiarkan kemungkaran terjadi—maka kita wajib bersikap tegas, bukan mengalah. 

Begitu pula jika mengalah berarti merendahkan martabat diri secara berlebihan hingga mendzalimi diri sendiri, hal itu tidak dianjurkan.

Keempat, dalam perkara muamalah yang menyangkut hak pribadi atau harta, mengalah demi ketenangan hati justru berpahala besar. 

Allah SWT menyukai orang-orang yang pemaaf dan lapang dada.

Mengapa Mengalah dalam Maksiat Dilarang?
Mengalah dalam maksiat berarti merelakan terjadinya pelanggaran terhadap hukum Allah, baik dengan ikut serta, berdiam diri, atau bahkan membenarkannya. Sikap ini dilarang keras karena beberapa alasan mendasar.

Prioritas Ketaatan
Ketaatan kepada Allah harus diutamakan di atas segalanya, termasuk di atas kepatuhan kepada atasan, teman, atau keluarga.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Sang Khalik.” (HR. Ahmad). 

Jadi, ketika ada perintah maksiat, jawaban yang tepat adalah penolakan tegas, bukan mengalah.

Dosa Diam dan Menyetujui
Orang yang diam terhadap kemungkaran padahal mampu meluruskannya turut menanggung dosa. 

Dalam QS. Al-Maidah ayat 79, Allah mencela Bani Israel karena “mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka perbuat.” 

Diam dalam situasi ini adalah bentuk pengabaian tanggung jawab sosial yang fatal.

Merusak Hati dan Keimanan
Kompromi dengan dosa secara perlahan mematikan nurani. Setiap kali seseorang mengalah dalam maksiat, hatinya semakin keras dan rentan menerima dosa berikutnya. 

Inilah yang disebut dengan “noktah hitam” dalam hati sebagaimana diisyaratkan dalam hadits.

Kehilangan Keberkahan Hidup
Meskipun mengalah dalam maksiat terlihat “damai” sesaat, justru hal itu menghilangkan pertolongan Allah. 

Sebaliknya, orang yang berani menolak maksiat meskipun mendapat tekanan, akan Allah beri jalan keluar dan kemuliaan, sebagaimana dijanjikan dalam QS. At-Thalaq ayat 2–3.

Contoh Konkret Situasi yang Tidak Boleh Dikalahi
Untuk memperjelas, berikut beberapa situasi di mana wajib bersikukuh, bukan mengalah:

Diajak menyembunyikan bukti kecurangan di tempat kerja. Kita harus menolak, meskipun berisiko dimusuhi.

Diminta berbohong kepada orang tua atau pasangan demi “menjaga perasaan”. Kebohongan tetap haram; sampaikan kebenaran dengan cara bijak tetapi tetap jujur.

Ditekan untuk tidak menjalankan ibadah wajib (seperti salat atau puasa) karena alasan acara keluarga atau pekerjaan. Ibadah tidak bisa ditunda hanya karena tuntutan duniawi.

Dibiarkan melihat atau menyebarkan gosip dan fitnah. Kita wajib mencegahnya, atau setidaknya menyatakan ketidaksetujuan secara gamblang.

Yang Boleh Dikalahi (Sebagai Pembanding)
Di luar ranah maksiat, dianjurkan mengalah dalam urusan-urusan berikut:

Hak pribadi seperti harta, jabatan, atau prestise. Misalnya, jika ada potongan gaji yang tidak sesuai, kita bisa memaafkan demi kedamaian.

Pendapat duniawi yang tidak terkait syariat, seperti perbedaan selera makanan atau gaya bekerja. Mengalah di sini justru mempererat kebersamaan.

Ego dan amarah. Menahan diri dan tidak membalas penghinaan adalah perbuatan terpuji yang dicintai Allah.

Bagaimana Jika Terpaksa di Bawah Tekanan?
Jika seseorang berada dalam posisi terpaksa dan mengkhawatirkan keselamatan dirinya, maka berlaku prinsip darurat sebagai berikut:

Hati wajib menolak dan membenci maksiat itu. Ini adalah batas minimal iman yang tidak boleh gugur.

Lisan tidak perlu mengucapkan persetujuan. Jika terpaksa mengucapkan kata-kata yang samar, pastikan itu bukan merupakan pembenaran atas dosa.

Perbuatan diminimalisasi sekadar untuk menghindari bahaya fisik, lalu segera cari jalan keluar—seperti pindah lingkungan, meminta nasihat ulama, atau bertobat.

Perlu dipahami bahwa ini bukanlah “mengalah” dalam makna merelakan kemungkaran, melainkan strategi darurat dengan tetap menjaga kemurnian hati dan keyakinan.

Kesimpulan
Mengalah adalah sikap yang sangat mulia jika menyangkut urusan pribadi dan duniawi semata, serta diniatkan semata-mata karena mencari rida Allah. 

Namun, mengalah dalam urusan hukum Allah dan kemaksiatan adalah bentuk pengkhianatan terhadap iman. 

Perbedaan keduanya sangat jelas: mengalah yang benar justru mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan mengalah pada kemaksiatan hanya akan menjauhkan seorang hamba dari rahmat-Nya. (red)


Kamis, 02 Juli 2026

Ketika Seorang Janda Ajarkan Makna Kekayaan Sejati (Kisah Nyata)

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Itu yang dipegang oleh sosok ibu janda—tak mau disebut namanya—yang diketahui telah berbuat "penyelamatan" terhadap sejumlah orang, meski dirinya tak berlebih secara ekonomi.

Saya menuliskan kisah nyata ini bukan untuk membuat pembaca terharu. Penulisannya karena kisah ini telah mewarnai hidup saya. Sebagai penulis percaya, juga bisa mewarnai cara kita memaknai kebaikan, keikhlasan, dan kekayaan sejati.

Penulis ingin bercerita tentang seorang perempuan luar biasa, yang juga warga Medokan Ayu. Seorang janda yang tidak pernah penulis bayangkan akan menjadi di antara guru kehidupan—dan mungkin pula, bagi yang membaca kisah ini.

Penulis mengenal almarhum suaminya. Mereka tidak dikaruniai anak, namun cinta mereka begitu sempurna sehingga cukup menjadi keluarga bagi satu sama lain.

Suatu hari, takdir berkata lain. Sang suami berpulang. Meninggalkan duka yang mendalam, rumah yang dulu hangat, dan yang paling berat: hutang yang mendekati jatuh tempo.

Rumah yang dulu hangat kini terasa dingin. Di tengah badai duka, ia memilih untuk tidak roboh. (Ilustrasi)

BAGIAN 1: KETIKA BADAI DATANG BERUNTUN
Tagihan dari bank itu datang bagai petir di siang bolong—hanya satu minggu setelah kepergian suaminya. Bank memberi waktu enam bulan. Hal itu sangat menyesakkan bagi seorang perempuan yang baru kehilangan sandaran hidup.

Di sisi lain, uang sepeserpun tak dimiliki. Sesuai statusnya memang ibu rumah tangga. Sementara, bulan-bulan berikutnya wajib membayar listrik, air, dan mengangsur cicilan utang bank.

Dalam kekalutannya itu, suatu malam ia menoleh ke foto almarhum suami. Ia mendekap foto itu. Lalu ia melihat "kotak duka" di sudut ruangan. Didekatinya kotak itu, lalu dibuka, dan dihitungnya uang di sana. 

Sempat kaget pula. Terkumpul Rp45 juta. Ini harus dicukupkan hingga enam bulan, sambil menunggu penjualan rumah yang telah diputuskan.

Rumah yang mereka bangun bersama pun terpaksa dijual. Hampir putus asa. Telah lima bulan, belum ada calon pembeli. Namun ia memilih untuk tidak roboh. Kepasrahan kepada-Nya makin menguat.

Dalam hening kamar di malam hari, ia menggenggam erat keyakinannya. Air mata mengalir, tapi doa terus terucap. 

Ia menyerahkan segala urusannya kepada Sang Pemilik Hidup, kepada Dzat yang tidak pernah ingkar janji.

Keajaiban pum itu datang. Bukan di awal, bukan di tengah—melainkan di saat paling kritis. Sehari sebelum batas akhir pelunasan, seorang pembeli rumah hadir dengan tawaran yang sesuai—yang ia yakini karena pertolongan-Nya.

Rumah itu terjual. Sebagian untuk melunasi utang, sisanya dibelikan rumah—separuh dari luas sebelumnya. 

Namun bagi ibu janda ini, rumah mungil itu terasa lebih luas dari istana. Karena di sanalah ia belajar bahwa Tuhan tidak pernah terlambat. Ia datang di waktu yang paling tepat.

BAGIAN 2: KETIKA DOA MENJAWAB DENGAN CARA YANG TIDAK TERDUGA
Kini ia tinggal di rumah mungil itu. Tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan tetap. Di usianya yang tak lagi muda, ia kembali bersimpuh di atas sajadah.

"Ya Allah, berikanlah saya pekerjaan. Saya tidak meminta kemewahan, hanya cukup untuk menyambung hidup."

Namun yang datang bukanlah surat panggilan kerja. Bukan tawaran posisi. Bukan gaji bulanan. 

Yang datang justru seorang ibu muda—seseorang yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya. 

Wajah ibu muda berputra dua itu menggambarkan kepasrahan yang memilukan. Matanya sembab, tangannya gemetar. Ia sedang tercekik utang puluhan juta rupiah. 

Motornya—satu-satunya andalan untuk mencari nafkah—telah ditarik paksa oleh pemberi pinjaman.

Ibu janda kita itu terenyuh. Meski kantongnya tipis, hatinya teramat luas. Tanpa pikir panjang, ia memberikan sepeda motor Honda miliknya—satu-satunya kendaraan yang ia punya. Dipinjami, dipakai, dengan satu tujuan: meringankan beban si ibu muda agar tetap bisa bekerja.

Bahkan lebih dari itu. Dengan bantuan dari berbagai kenalan yang tergerak hatinya, perlahan utang ibu muda itu pun lunas. 

Ibu janda itu bertindak seperti jembatan emas—menyalurkan kebaikan yang datang kepadanya lalu mengalir ke orang lain yang lebih membutuhkan.

Meski kantongnya tipis, hatinya teramat luas. Ia memberikan satu-satunya motor miliknya agar si Ibu Muda bisa kembali bekerja. Ilustrasi.

BAGIAN 3: SAAT KEBAIKAN DIBALAS "PENGKHIANATAN"
Lambat laun, pinjaman berbunga yang mencekik ibu muda itu lunas. Namun bukannya mengembalikan motor dengan rasa syukur—motor Honda itu justru dijualnya.

Di sinilah banyak orang marah bila mendengarnya. Kecewa. Menyesal. Bahkan mengutuki.

Penulis bertanya pada sang ibu Janda, "Bu, apa Ibu tidak kecewa?"

Ia tersenyum. Senyum yang tidak saya sangka-sangka. Lalu ia berkata:

"Awalnya sedih. Tapi ketika saya melihat kondisi keluarganya yang terpuruk, saya berpikir: dia lebih membutuhkan uang itu daripada motor saya."

Rasa kecewa pun sirna, digantikan oleh keikhlasan yang terdalam. Bahkan lebih dari itu—dengan hati yang bersih, ia memanjatkan doa yang membuat saya terperangah:

"Ya Allah, jika ini jalan-Mu, berikanlah saya 'order' lagi. Kirimkan padaku orang yang sedang kesulitan, agar saya bisa membantu."

Luar biasa. Bukannya berhenti, meski telah dipecundangi, ia justru meminta untuk terus menjadi saluran kebaikan. Bukannya sakit hati, ia justru makin tergerak.

Di sanalah penulis belajar: Orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki banyak harta, melainkan yang memiliki banyak ruang di hatinya untuk berbagi.

BAGIAN 4: KETIKA DOA KEDUA TERJAWAB LEBIH CEPAT
Doanya terjawab dengan cepat—dan dengan cara yang semakin menegaskan kuasa Tuhan.

Ia dipertemukan dengan Mrs. B, teman kuliahnya. Dahulu, Mrs. B adalah seorang pejabat pusat—berpengaruh, disegani, dan secara ekonomi jauh lebih mapan dari ibu janda.

Namun siapa sangka, roda kehidupan berputar. Kini, justru Mrs. B yang sedang terjerat masalah keuangan yang pelik. Sebelumnya terjerumus iming-iming investasi. Utang pun melilitnya.

Dalam kondisi itu, ibu janda inilah yang hadir untuk membantunya. Bukan dengan menggurui. Bukan dengan menghakimi. Bukan dengan berkata, "Kamu dulu kaya, sekarang begini?" 

Ia justru turun tangan menyelesaikan persoalan itu dengan caranya yang khas: penuh ketulusan, tanpa beban, dan tanpa pamrih.

Kebaikan yang ia tebar, di antaranya membantu ibu muda, telah kembali kepadanya—dari arah yang tidak pernah ia duga. Transferan mengalir dari sosok-sosok yang pernah dikenalnya. Ia pun menangisi atas kemuliaan-Nya.

Kebaikan yang ditebar kembali kepadanya dari arah yang tidak disangka. Ia menjadi jembatan emas bagi sesama. Ilustrasi

BAGIAN 5: PELAJARAN HIDUP YANG MENGUBAH SEGALANYA
Kisah ini mengajarkan kita lima kebenaran fundamental yang sering kita lupakan:

1. Kekayaan Sejati Ada di Luasnya Hati, Bukan Tebalnya Dompet
Ibu ini tidak punya pekerjaan, namun ia memberikan motor. Ia tidak punya penghasilan, namun ia menjadi penolong. Ia miskin secara materi, namun terkaya secara jiwa.

Pernahkah kita merasa "belum cukup" untuk berbagi? Ibu janda ini mengajarkan bahwa kita tidak perlu menunggu kaya untuk memberi. Kita hanya perlu memiliki hati yang kaya.

2. Ketegaran Bukanlah Ketiadaan Rasa Takut, Melainkan Keberanian untuk Berserah
Ia memilih pasrah—bukan menyerah—kepada Tuhan. Itu membuatnya kokoh di saat badai menggulung. Ia tidak melawan takdir, namun ia juga tidak diam. Ia berdoa, ia berusaha, dan ia menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

3. Ikhlas Adalah Obat dari Luka Pengkhianatan
Saat motornya dijual oleh peminjam, ia tidak memilih dendam. Ia memilih mengerti. Dengan itu, hatinya lega. Bahkan, ia meminta "order" baru untuk terus membantu.

Coba bayangkan: jika ia memilih marah dan dendam, mungkin ia akan berhenti memberi. Ia juga tidak akan pernah menjadi saluran kebaikan bagi Mrs. B. 

Kemarahan hanya akan memutus rantai kebaikan. Keikhlasan justru memperpanjang rantai itu, sehingga kebaikan tak kehilangan manfaatnya.

4. Bantuan Sering Kali Datang dalam Bentuk Tidak Kita Duga
Ibu janda itu berdoa minta pekerjaan, tapi Tuhan mengirimkan orang yang membutuhkan pertolongan. 

Namun hal itu diterimanya sebagai "pekerjaan" terbaik yang Tuhan berikan kepadanya: menjadi saluran kebaikan bagi sesama.

Berapa banyak dari kita yang meminta sesuatu kepada Tuhan, tapi ketika jawaban datang dalam bentuk yang berbeda, kita kecewa? Padahal mungkin Tuhan sedang memberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita minta.

5. Kebaikan Adalah Investasi yang Tidak Pernah Rugi
Meski kadang dibalas dengan ketidakberterimaan, kebaikan tetap akan kembali—mungkin bukan dari orang yang kita tolong, tetapi dari jalan lain yang tak terduga. Itu keyakinan yang melekat.

Ibu janda ini tidak pernah membayangkan bahwa kebaikannya kepada ibu muda yang dibantu akan membawanya pada kesempatan membantu Mrs. B. 

Ia tidak pernah menyangka bahwa keikhlasannya akan membuat doanya terkabul dengan cara yang jauh lebih indah.

MARI KITA RENUNGKAN
Seberapa sering kita menahan kebaikan karena takut kecewa?

Seberapa sering kita berhenti memberi karena takut tidak dihargai?

Seberapa sering kita berkata, "Ah, nanti saja kalau aku sudah kaya"?

Ibu janda ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak perlu menunggu kaya. Kebaikan adalah jalan menuju kekayaan hati.

Sarannya, mulailah dari hal kecil. Pinjamkan telinga untuk mendengar keluhan teman. Berikan senyuman untuk menghibur yang sedang sedih. Sisihkan rezeki, sekecil apa pun, untuk berbagi. Luangkan waktu untuk mendoakan orang lain.

"Karena siapa tahu, dari kebaikan kecilmu, lahir keajaiban besar bagi orang lain—dan pada akhirnya, bagimu sendiri", ia menegaskan.

Seperti ibu janda itu, mari kita menjadi saluran kebaikan yang tak pernah kering. Karena air yang mengalir tak pernah basi. Semakin kita memberi, semakin lapang jiwa kita. Semakin kita ikhlas, semakin dekat kita dengan-Nya.

PENUTUP: JANJI YANG TERWUJUD
Kisah nyata ini adalah bukti hidup bahwa firman-Nya bukanlah sekadar bacaan—melainkan janji yang terwujud bagi mereka yang teguh dan tulus:

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Talaq: 2-3)

Ibu janda ini tidak pernah menyangka bahwa rezekinya berupa "orderan dari-Nya", lalu didatangkan-Nya seorang ibu muda yang terlilit utang. Ia tidak pernah membayangkan bahwa akan datang "order berikutnya" dari seorang teman lama yang terpuruk. 

Namun itulah cara Tuhan bekerja—mewujudkan nilai kemanfaatan seorang hamba dari arah yang tidak kita duga.

Dari situ pulalah Allah menunjukkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah atas kebutuhan hidup ibu janda, yang selalu dipenuhi oleh-Nya tepat pada waktunya.

AJAKAN UNTUK ANDA
Jika kisah ini menyentuh hati, saya mengajak pembaca untuk melakukan satu hal sederhana hari ini:

Jadilah saluran kebaikan.
Temukan satu orang yang bisa kita bantu hari ini. Bisa dengan materi, bisa dengan doa, bisa hanya dengan mendengarkan keluh kesahnya. 

Jangan tunda kebaikan. Bila kita tunda hari ini, mungkin adalah jawaban doa yang sedang ditunggu oleh orang lain.

Percayalah: Tuhan tidak pernah lupa pada hamba-Nya yang menjadi saluran kasih bagi sesama.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)

Bagikan kisah ini jika terinspirasi. Siapa tahu, tulisan sederhana ini bisa menjadi saluran kebaikan bagi orang lain—seperti ibu janda itu yang menjadi saluran kebaikan bagi sejumlah orang.

Tulisan ini disusun dengan penuh kekaguman untuk seorang perempuan luar biasa yang mengajarkan arti kekayaan sejati.

Selesai.

Oleh : Priono Subardan



Menabur Kebaikan di Tengah Kekurangan: Kisah Seorang Janda di Medokan Ayu yang Menjadi Penyelamat Warga


InfoMedokanAyu - Hari ini, kita akan berbagi sebuah kisah nyata yang mungkin akan mengubah cara pandang kita tentang arti kekayaan dan kemampuan.

Kami, redaksi InfoMedokanAyu, mendapatkan cerita inspiratif dari salah satu warga kita yakni seorang sosok janda yang di atas kertas tidak berkemampuan secara ekonomi. Namun, siapa sangka, justru dialah yang menjadi penyelamat bagi warga-warga lainnya yang terjerat masalah utang.

Kisah Seorang Janda, Kisah Ketulusan

Dari cerita yang kami himpun, sang tokoh utama adalah seorang ibu yang kesehariannya mungkin tidak jauh berbeda dengan kita. Secara ekonomi, beliau bisa dibilang pas-pasan. Namun, Kekurangan materi sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk berbuat lebih. 

Di tengah kondisi yang serba terbatas, ia justru bergerak untuk membantu sesama warga yang sedang kesulitan ekonomi.

Aksi mulia ini adalah tentang solidaritas sosial yang nyata, di mana seorang janda yang secara ekonomi pas-pasan justru mampu menjadi penolong bagi banyak orang. 

Ini adalah sebuah kontradiksi yang indah: di satu sisi, ia mungkin dianggap tidak "mampu", namun di sisi lain, ia memiliki "kekayaan" hati yang luar biasa untuk meringankan beban orang lain.

Menyelamatkan Hutang, Menyelamatkan Asa

Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa sang janda ini berperan penting dalam membantu menyelesaikan masalah keuangan warga, khususnya terkait dengan utang piutang. 

Meskipun tidak memiliki modal besar, ia menggunakan berbagai cara yang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang benar-benar peduli, mungkin dengan menjadi perantara yang baik, memberikan solusi, atau bahkan menggunakan sumber daya pribadinya yang terbatas untuk meringankan beban warga lainnya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa status sosial, label "janda", atau keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjadi pahlawan bagi lingkungannya. 

Terlebih lagi, isu soal utang dan keuangan seringkali menjadi beban berat yang dapat menghancurkan kehidupan sosial dan ekonomi seseorang.

Dengan aksinya, beliau telah menunjukkan bahwa kepedulian dan keinginan untuk membantu adalah kunci untuk mengatasi masalah bersama. 

Ini adalah bukti nyata bahwa lingkungan sosial yang saling membantu dapat menjadi kekuatan besar untuk bangkit dari keterpurukan.

Inspirasi untuk Kita Semua

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Bahwa tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik dan membantu sesama. 

Bahwa kekayaan sejati bukanlah diukur dari harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang kita berikan untuk orang lain. 

Terima kasih kepada sosok janda hebat ini dan semua pihak yang telah berbagi cerita.

Mari kita jadikan Medokan Ayu sebagai lingkungan yang semakin harmonis dan penuh makna.

InfoMedokanAyu – Media Komunitas untuk Warga Medokan Ayu.

Pantas disimak, mari kita gaungkan kebaikan ini! Segera  laporan itu hendak diturunkan.

Sabtu, 27 Juni 2026

Bukan Solusi, Menaikkan Jalan Malah Perparah Risiko Banjir di Medokan Ayu


InfoMedokanAyu – Kebijakan menaikkan jalan untuk mengatasi banjir di kawasan Medokan Ayu dinilai kontraproduktif dan justru merugikan warga. Pasalnya, peninggian jalan tanpa solusi terpadu hanya akan memindahkan risiko banjir ke pemukiman warga.

Berita ini terkait menyoroti kebijaksanaan kontraproduktif dalam mengatasi banjir, sebagaimana kejadian Selasa, 23 Juni dan 16 Mei lalu.

Ketua RW 08 Medokan Asri Utara, Dodik Widodo, yang alumni ITS, mengungkapkan keprihatinannya. 

Menurutnya, jika jalan ditinggikan sementara permukaan tanah terus menurun, maka selisih ketinggian antara jalan dan rumah akan semakin besar. 

Hal itu mengakibatkan air hujan akan mengalir dari jalan masuk ke halaman dan rumah warga, bukannya mengalir ke saluran drainase. 

Bahkan jika rumah ditinggikan sekarang, beberapa tahun kemudian posisinya akan kembali lebih rendah dari jalan karena tanah terus mengalami penurunan.

Fakta penurunan muka tanah (land subsidence) di Surabaya memang tidak bisa diabaikan. Media massa telah berulang mengingatkannya, dengan melansir hasil riset.

Data terbaru dari riset tahun 2023 menunjukkan bahwa penurunan tanah di wilayah pesisir utara dan timur Surabaya mencapai angka 0,2 hingga 83,3 milimeter per tahun. 

Kawasan Rungkut, yang mencakup Medokan Ayu, pada titik tertentu, tercatat mengalami penurunan hingga 28 sentimeter per tahun. Sumber Jawa Pos, Sabtu, 31 Mei 2025.

Sebagai perbandingan, hasil penelitian pakar Geomatika ITS, Teguh Hariyanto, pada 2011 menunjukkan angka yang berbeda. 

Penelitian yang dilakukan pada Februari–September 2011 itu, yang juga dirilis Kompas mencatat penurunan tanah di Surabaya bagian timur sekitar 3–5 mm per tahun, timur laut 5–8 mm per tahun, dan utara 8–14 mm per tahun. 

Namun, hasil ini masih bersifat relatif karena merupakan penelitian pertama dan membutuhkan waktu minimal 5 tahun untuk mencapai hasil absolut.

EKSTRAKSI TANAH
Dua penyebab utama amblesnya tanah adalah ekstraksi air tanah yang berlebihan dan beban pembangunan infrastruktur yang masif. 

Hal itu ditekan lagi oleh kombinasi tekanan dari bawah (penyedotan air tanah) dan dari atas (beban pembangunan) yang membuat kondisi tanah semakin tidak stabil. 

Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase yang tidak optimal dan sedimentasi di sepanjang pesisir yang mengurangi kapasitas aliran air.

H. Nawawi Ahmad tokoh Medokan Ayu, dalam postingannya di WA Grup Warga Medokan Ayu mengatakan, terjadinya banjir di wilayah ini secara masif dimulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. 

Apalagi lima tahun terakhir, ini yang paling parah. Padahal sebelumnya tidak pernah banjir sama sekali.

Jadi kesimpulannya," tegasnya yang ditemui terkait postingan itu, "normalisasi saluran, idealnya baik primer (pemukiman) maupun sekunder (Sungai Avur), minimal dalam satu tahun sekali harus diadakan".

Nawawi juga menggarisbawahi terkait normalisasi yang dilihatnya. Malah ada pemukiman yang tragis dan miris. Selama lima tahun tidak ada kegiatan pengerukan, dan selokan itu tertutup. "Karena tidak menampung, air 'memilih' mengalir lewat jalanan. Surutnya pun lama", tandanya.


Sementara itu, Ali Yusa, Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, pernah menekankan perlunya pendekatan terpadu untuk mengatasi krisis ini. 

Langkah-langkah yang harus diambil antara lain pengendalian ekstraksi air tanah, perbaikan sistem drainase, penanganan sedimentasi, serta pengawasan berbasis teknologi seperti GPS dan InSAR.

Berdasarkan data citra satelit tahun 2009, total luas kawasan bakau di Surabaya mencapai 577.455 hektare, dengan rincian 466.965 hektare masih baik, 72.929 hektare rusak, dan 37.562 hektare rusak berat. 

Hutan bakau di kawasan ini terbukti mampu menahan intrusi air laut dan mencegah abrasi.

Sementara itu, terkait mangrove, InfoMedokanAyu merilis berita dengan judul "Petani Mangrove: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian" (silahkan klik judulnya).

Dengan kompleksitas permasalahan ini, kebijakan menaikkan jalan bukanlah solusi akar masalah. 

Solusi yang tepat harus menyentuh penyebab utama, yaitu penurunan muka tanah, perbaikan drainase, serta pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

H. Nawawi Ahmad, tokoh Medokan Ayu, menegaskan, keputusan teknis seperti peninggian jalan juga harus didasarkan pada standar ukur yang akurat dan dilakukan oleh ahlinya, bukan sekadar perkiraan, serta hanya diterapkan di kawasan tertentu yang membutuhkan.

Menanggapi pendapat bahwa mengatasi banjir perlunya pengelolaan yang terpadu, Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S.Sos., tidak menampik. "Memang dibutuhkan pengertian bersama," katanya. (red)

Rabu, 24 Juni 2026

Sungai Avur dan Kebon Agung Kian Dangkal, Selasa 23 Juni Medokan Ayu Banjir Lagi

Sekitar jembatan sungai Avur Medokan Ayu, batas RW02 dan RW03 ini tahun 1980-an juga lokasi parkir sekitar 15 perahu nelayan.

InfoMedokanAyu - Dulu, Sungai Avur adalah urat nadi. Di era 1980-an, perahu-perahu nelayan berlabuh di sekitar jembatan perbatasan RW02 dan RW03. Pak Kuwat, warga RW03, gang Musala masih ingat betul: ada sekitar lima belas perahu bersandar disana setiap hari.

Pak Kuwat sendiri kerap berperahu meniti arus untuk mencari kayu api-api di ujung Timur.

Kayu-kayu itu dibawanya ke Wonoayu dengan dihanyutkan ke sungai ketika arus laut pasang. Kayu diikat per sekitar dua ratus lima puluh batang.

Kondisi sungai Avur potret dari dekat arah ke Timur di atas jembatan perbatasan RW02 dan RW03.

Selanjutnya, pak Kuwat yang telah pulih dari serangan stroke ini tinggal menunggu di tepi sungai dekat makam RW03. Kayu-kayu itu untuk tiang rambatan tanaman sayur kacang panjang.

Saat itu Sungai itu hidup, dalam, dan bisa diandalkan.

Namun waktu tak pernah berhenti. Pemukiman di wilayah timur merambat, rumah-rumah berdiri rapat, dan sungai perlahan kehilangan ruangnya. 

Endapan tanah menumpuk, dasar sungai naik, dan perahu-perahu itu satu per satu tak bisa lagi melintas. Hingga akhirnya, lenyap. Tak ada lagi pangkalan. Tak ada lagi kayu api-api yang ditunggu. Yang tersisa hanya aliran yang terengah-engah.

Kondisi sungai Avur sisi Barat jembatan batas RW02 dan RW03

Kini, di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, sungai itu lebih seperti parit panjang yang kehabisan napas. 

Setiap kali hujan turun, air sangat lambat mengalir—malah meluap, menggenang, dan sungai pun tenggelam.

Menurut H. Nawawi Ahmad, tokoh masyarakat setempat, masalahnya bukan sekadar hujan. 

"Sungai ini sudah dangkal. Normalisasi harus rutin, tapi pengerukan hanya aman di tengah. Pinggirnya? Terlalu dekat dengan tembok rumah warga. Kalau digali, bisa ambrol."

Banjir pun menghampiri rumah H. Nawawi Ahmad di jl. Wonoayu 127A.

Dan di hilir, persoalan menumpuk. Kali Kebon Agung yang membentang di depan UPN tak lebih baik—tersumbat eceng gondok dan sedimen tebal. 

Di beberapa titik, saat banjir tiba, sungai tak terlihat lagi. Air menyatu dengan daratan, seolah batas antara saluran dan pemukiman telah hapus. 

Itu tanda jelas: kapasitas tampung sudah berada di titik kritis.

Lahan terbuka yang dulu menyerap air kini berganti menjadi perumahan padat. Sementara itu, laut tetap pasang, setia menghambat aliran sejak puluhan tahun lalu. Tapi dulu, sungai masih kuat menahan. Kini, ia tak sanggup.

Banjir juga masuk rumah salah satu warga di RT06 RW02. Banjir datang bersama udang-udang yang berlarian.

Bukan air hujan yang bersalah. Tapi hilangnya kedalaman, hilangnya resapan, dan hilangnya konsistensi perawatan. 

Sungai Avur tak lagi menampung—ia hanya menunggu, sampai banjir berikutnya datang lagi.

Avur: istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Belanda yaitu afvoer yang artinya pembuangan air atau saluran air. 

Dalam konteks tata air wilayah Surabaya dan sekitarnya, avur merujuk pada saluran atau anak sungai yang berfungsi sebagai drainase pembuangan akhir untuk mengalirkan genangan air menuju ke hilir atau sungai utama. (red)

Senin, 22 Juni 2026

Genangan Air Bermanfaat: Ciptakan Udara Lembap & Cegah DBD dengan Ikan Pemakan Jentik


InfoMedokanAyu - Selama ini, genangan air kerap dipandang sebagai biang kerok masalah kesehatan—tempat favorit nyamuk berkembang biak sekaligus ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Persepsi itu perlu diluruskan. Tidak semua genangan harus dibuang atau dikuras habis.

Dengan pendekatan yang cerdas dan ramah lingkungan, genangan air justru bisa disulap menjadi solusi ganda: menjaga kelembapan udara di sekitar rumah sekaligus menjadi habitat bagi ikan-ikan kecil yang siap menjadi “petugas kesehatan” keluarga.

Kelembapan dan Pengendalian Nyamuk dalam Satu Wadah
Keberadaan ikan dalam wadah air tidak hanya efektif membersihkan jentik nyamuk. 

Penguapan dari permukaan air juga membantu menciptakan udara yang lebih lembap di lingkungan sekitar—nilai yang sangat berharga terutama di tengah cuaca panas ekstrem atau musim kemarau yang membuat udara kering dan gerah. 

Dengan cara ini, dspat diperoleh dua manfaat sekaligus: risiko penularan DBD dapat ditekan secara alami tanpa bahan kimia, dan kenyamanan di dalam rumah pun meningkat berkat sirkulasi udara yang lebih sejuk.

Empat Ikan Andalan untuk Tugas Kesehatan Rumahan
Tidak semua ikan cocok dijadikan pemakan jentik. Berikut empat jenis ikan unggulan yang terbukti ampuh, mudah dipelihara, dan masing-masing memiliki kelebihan tersendiri.

Ikan Cupang (Betta splendens)
Ikan Cupang adalah bintang utama dalam perburuan jentik. 

Sebuah sumber menjelasan, cupang mampu melahap hingga 89 jentik hanya dalam waktu 6 jam—angka yang melampaui kemampuan ikan Guppy.

Kehebatannya tidak berhenti di situ: Cupang sangat tangguh, mampu bertahan di volume air kecil dan kadar oksigen rendah.
Ini cocok untuk wadah mini sekalipun.

Perlu diingat, karena sifatnya yang sangat teritorial, sebaiknya isi setiap wadah dengan satu ekor Cupang saja untuk menghindari perkelahian yang bisa berakibat fatal.

Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Guppy adalah pilihan paling populer dan mudah ditemukan di pasaran, termasuk di sekitar Medokan Ayu.

Ia mampu memakan puluhan jentik per jam. Ini menjadikan sebagai andalan banyak rumah. 

Nilai tambahnya, Guppy hadir dalam warna-warni cantik dan harga yang terjangkau. Fungsi pun ganda sebagai ikan hias sekaligus pembersih jentik. 

Berbeda dengan Cupang ataubGuppy adalah ikan sosial yang lebih aktif dan rakus berburu saat berada dalam kelompok. 

Oleh karena itu, peliharalah beberapa ekor sekaligus dalam satu wadah agar mereka saling memicu naluri berburu.

Harga Guppy di RT02 RW01 Rp 10rbu, bisa mendapatkan 5 ekor.

Ikan Cere (Gambusia affinis)
Jika mencari predator paling “gahar”, Ikan Cere adalah jawabannya. 

Dikenal sebagai pemakan jentik paling agresif. Ikan ini sangat andal. Mudah berkembang biak, dan tidak rewel terhadap kondisi air. 

Ikam Cere paling cocok ditempatkan di wadah berukuran sedang hingga besar, seperti kolam hias atau tandon air. Dengan ruang gerak yang luas memungkinkan Cere berburu dengan maksimal.

Ikan Kepala Timah (Aplocheilus panchax)
Ikan Kepala Timah adalah alternatif unggul bagi yang sulit menemukan Cupang atau Guppy di daerah setempat. 

Dikenal sebagai ikan pemakan jentik (larvivorous fish) yang efektif dan tangguh. Mampu bertahan di berbagai kondisi air dan tetap bersemangat memburu larva nyamuk. Pilihan ini sangat tepat sebagai cadangan andalan kapan pun dibutuhkan.


Panduan Memilih dan Merawat Ikan Pemakan Jentik
Agar ikan-ikan ini bekerja optimal, ada beberapa hal sederhana namun penting yang perlu diperhatikan.

Sesuaikan dengan Ukuran Genangan
Untuk wadah kecil seperti pot bunga, vas, atau tempayan hias, pilihlah Cupang atau Guppy. 

Satu ekor Cupang saja sudah cukup efektif memberantas jentik di volume air terbatas. 

Sementara itu, untuk wadah besar seperti bak mandi, tandon air, atau kolam kecil, semua jenis ikan di atas dapat bekerja dengan sangat baik—bahkan Ikan Cere dan Kepala Timah akan menunjukkan performa terbaiknya di ruang yang lebih luas.

Perhatikan Jumlah Ikan
Pada wadah kecil, cukup isi dengan satu ekor Cupang agar terhindar dari perkelahian antarsesama yang sifatnya teritorial. 

Untuk Guppy, justru dianjurkan memelihara beberapa ekor sekaligus. Mereka adalah ikan sosial yang lebih aktif dan rakus berburu jentik saat berada dalam kelompok. 

Penempatan jumlah yang tepat akan menghindarkan stres pada ikan sekaligus memaksimalkan tugas mereka.

Beri Pakan Tambahan
Jentik alami yang ada di dalam wadah mungkin tidak mencukupi kebutuhan harian ikan, terutama jika populasi jentik mulai menipis. 

Berikan pakan tambahan secara rutin, seperti pelet halus, cacing sutra, atau kutu air. 

Dengan asupan gizi yang cukup, ikan akan tetap sehat, aktif, dan daya makan terhadap jentik pun tetap maksimal. 

Ikan yang kenyang dan bergizi juga lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.


Ubah Pandangan, Ciptakan Solusi
Alih-alih menguras setiap genangan atau menganggapnya sebagai musuh, kini saatnya mengubah sudut pandang. 

Dengan langkah sederhana ini, genangan yang dulu dihindari justru berubah menjadi sekutu kesehatan: udara di sekitar rumah menjadi lebih lembap, jentik nyamuk lenyap dimakan habis, dan keluarga pun terlindungi dari ancaman DBD. 

Semua itu bermula dari satu wadah air kecil yang dikelola dengan bijak dan keberanian untuk mencoba.

Mari mulai dari sekarang. Satu ekor ikan, satu genangan, selamatkan keluarga dari DBD. (red)

Dukung Program PSN! Kolam Ikan & Aquarium: Investasi Sejuk untuk Rumah Sehat Bebas Nyamuk


InfoMedokanAyu - Keberadaan akuarium dan kolam ikan di sekitar rumah bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan investasi kenyamanan yang luar biasa—terlebih di tengah teriknya musim panas seperti saat ini. 

Selain mempercantik hunian, keduanya mendukung program Gerakan Kader Surabaya Hebat (KSH) dalam upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). 

Namun, kunci utamanya adalah pemilik wajib melengkapi keduanya dengan pompa sirkulasi atau air mancur kecil. 

"Itu sangat mendukung program PSN, yang menjauhkan dari kasus Demam Berdarah (DB)", Tegas Lurah Medokan Ayu Zainal Abidin, S.Sol.

Oksigenasi tinggi ini efektif mencegah jentik nyamuk berkembang biak sekaligus menjaga air tetap jernih dan sehat.


🐠 KOLAM IKAN: Oase Penyejuk di Halaman Rumah
Kolam hias di musim kemarau adalah investasi kenyamanan yang tak ternilai. 

Saat cuaca panas terik, kolam bukan sekadar pajangan, melainkan benar-benar berfungsi sebagai "AC alami" dan oase penyejuk bagi penghuni rumah.

🌿 Perawatan Optimal Kolam di Musim Panas
Untuk menjaga fungsi dan estetika kolam, perhatikan hal-hal berikut:

Tambahkan tanaman air seperti eceng gondok atau teratai—berfungsi menaungi permukaan air, mengurangi penguapan berlebih, dan menghambat pertumbuhan lumut.

Tingkatkan volume air karena penguapan terjadi lebih cepat saat suhu tinggi.

Pasang aerator atau air mancur untuk sirkulasi air yang sehat dan bebas jentik—ini adalah langkah krusial dalam mendukung program PSN. Nyamuk tidak akan bertelur di air yang bergerak.

🌡️ Ragam Manfaat Utama Kolam Ikan
Keberadaan kolam ikan memberikan manfaat berlapis bagi penghuni rumah.

Pertama, sebagai pendingin alami melalui efek evaporasi. Proses penguapan air menyerap panas di udara, sehingga suhu mikro di area teras atau taman dapat turun hingga 2–5°C.

Kedua, kolam berfungsi melembapkan udara. Uap air dari kolam menambah kelembapan di sekitarnya. Pernapasan pun terasa lebih lega. Kulit juga tidak cepat kering akibat paparan terik matahari.

Ketiga, dari sisi psikologis, kolam memberikan efek relaksasi atau yang dikenal dengan istilah Blue Mind. 

Melihat air atau mendengar gemericik air mancur memicu respons relaksasi, menurunkan detak jantung dan stres akibat "panas batin".

Keempat, untuk kolam di luar rumah, ia menjadi magnet satwa liar, yakni tempat minum bagi burung, kupu-kupu, atau capung yang kehausan. Ini menambah ekosistem alami yang menyejukkan mata.

Memberi minum hewan liar adalah amalan mulia.

Kelima, yang tak kalah penting, kolam dengan sirkulasi yang baik menjadi benteng pertahanan rumah terhadap wabah Demam Berdarah.

Air yang mengalir dan beroksigenasi tinggi tidak akan dijadikan sarang oleh nyamuk Aedes aegypti. Inilah wujud nyata dukungan warga terhadap program PSN.

🐟 AKUARIUM: Pendingin Ruangan & Terapi Mata
Keberadaan akuarium di dalam rumah saat cuaca panas memiliki manfaat ganda: menurunkan suhu ruangan sekaligus memberikan efek menenangkan bagi penghuninya.

⚠️ Catatan Penting: PSN & Kesehatan Ikan
Agar akuarium tidak bertentangan dengan program PSN yang bertujuan menjauhkan dari wabah Demam Berdarah, wajib melengkapi akuarium dengan aerator untuk memastikan sirkulasi dan oksigenasi air tetap optimal. 

Air yang mengalir dan bergerak tidak disukai nyamuk untuk bertelur. Jadi, memasang aerator bukan hanya menyelamatkan ikan, tetapi juga menyelamatkan keluarga dari risiko DBD.

🌡️ Manfaat Utama Akuarium
Akuarium memiliki dua keunggulan utama di musim panas.

Pertama, sebagai pendingin alami ruangan. Air di dalam aquarium yang menguap secara perlahan menyerap panas dan melembapkan udara sekitar, menciptakan sensasi ruangan lebih sejuk tanpa biaya listrik tambahan.

Kedua, memberikan efek psikologis yang menenangkan. 

Gerakan ikan yang lambat dan riak air di permukaan terbukti secara ilmiah menurunkan stres, tekanan darah, dan detak jantung—menjadi terapi mata yang sempurna di tengah rutinitas yang melelahkan.

Ketiga, keberadaannya tentu menambah nilai estetika dan ketenangan dalam ruangan, menjadikan sudut rumah terasa lebih hidup dan asri.

💡 Tips Perawatan Akuarium Saat Cuaca Panas
Agar akuarium tetap berfungsi optimal tanpa membahayakan ikan, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, letakkan aquarium di tempat teduh dan hindari sinar matahari langsung agar manfaat pendinginan maksimal serta suhu air tidak melonjak.

Kedua, jaga suhu air tetap stabil, idealnya di kisaran 24–27°C untuk ikan tropis, dengan memantau termometer secara rutin.

Ketiga, buka penutup akuarium secara berkala untuk melancarkan sirkulasi udara dan melepaskan panas berlebih, sehingga ikan tidak kekurangan oksigen.

Keempat, gunakan kipas tambahan atau chiller jika diperlukan untuk menjaga suhu tetap ideal di tengah cuaca ekstrem.

Kelima, rutin bersihkan akuarium dan ganti air sebagian untuk menjaga kualitas air. Pembersihan rutin ini juga menjadi langkah preventif untuk memastikan tidak ada genangan atau kotoran yang berpotensi menjadi sarang nyamuk di sekitar akuarium.


🌟 Kesimpulan
Aquarium dan kolam ikan adalah investasi kenyamanan sekaligus kesehatan di tengah cuaca panas. 

Dengan perawatan tepat—termasuk sirkulasi air, penambahan tanaman, dan pengaturan suhu—keduanya dapat menjadi sumber kesejukan alami yang aman bagi semua, baik bagi penghuni rumah maupun ekosistem di dalamnya.

Ingatlah: kenyamanan ini tidak boleh mengorbankan kesehatan ikan atau lingkungan sekitar. 

Justru, dengan perawatan ekstra di musim panas, akuarium dan kolam dapat menjelma menjadi garda terdepan dalam gerakan PSN. 

Air yang bersirkulasi, ikan yang sehat, dan lingkungan yang terawat adalah kombinasi sempurna untuk hunian yang sejuk, nyaman, dan terbebas dari nyamuk Demam Berdarah. 

Dengan begitu, tidak hanya menciptakan oase yang menyejukkan—secara fisik maupun psikologis—tetapi juga aktif berkontribusi pada kesehatan lingkungan sekitar.

"Sejuk rumah, sehat lingkungan, nyaman keluarga—dukung PSN dimulai dari halaman sendiri!" (red).


Wadah Minum Burung dan PSN: Aman untuk Hobi, Sehat untuk Semua


InfoMedokanAyu - Merawat burung kicau adalah hobi yang menenangkan dan penuh kebahagiaan. Namun, di balik kicauan merdu dan keindahan bulu, tersimpan tanggung jawab kesehatan yang kerap luput dari perhatian: kebersihan wadah minum burung.

Mengganti air minum burung setiap hari, Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S.Sos menegaskan, bukan sekadar ritual perawatan rutin—itu langkah strategis dalam mendukung gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sekaligus mencegah merebaknya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Artikel ini mengupas tuntas mengapa kebersihan wadah minum sangat krusial, bagaimana siklus hidup nyamuk bekerja, serta menawarkan solusi kolaboratif antara penghobi burung dan Kader Surabaya Hebat (KSH) demi kesehatan bersama. 

Tulisan ini lahir dari keluhan yang disampaikan kader kepada Weblog lingkungan InfoMedokanAyu tentang masih adanya penghobi burung yang "ngeyel" dan meremehkan fakta bahwa air minum burung bisa menjadi media subur bagi jentik nyamuk.

Lurah Medokan Ayu yang dirumahkan juga memelihara burung perkutut dan ayam hias "serama" memaklumi "kengeyelan" itu, terutama yang telah mempratikkan penggantian air minum setiap hari.


🦟 Potensi Jentik di Sangkar Burung: Fakta Ilmiah
Banyak penghobi mungkin tidak menyadari bahwa gelas minum di sangkar peliharaan bisa menjadi sumber persembunyian nyamuk yang berbahaya.

Bertentangan dengan anggapan umum, nyamuk Aedes aegypti—vektor utama DBD—justru lebih menyukai air bersih dan tergenang untuk bertelur. 

Wadah minum burung yang berisi air jernih adalah tempat ideal bagi nyamuk betina. Sekali bertelur, satu ekor nyamuk betina mampu meletakkan 100–150 butir telur, yang berarti hanya dalam beberapa hari, satu wadah bisa menjadi sarang puluhan calon nyamuk dewasa.

Pahami Siklus Hidup Nyamuk untuk Menentukan Batas Aman
Mengetahui siklus hidup nyamuk adalah kunci untuk menentukan seberapa sering kita harus mengganti air.

Telur Aedes aegypti memiliki kemampuan luar biasa: dapat menetas menjadi jentik hanya dalam 2 hari setelah terendam air. Setelah menetas, jentik tumbuh selama 6–8 hari sebelum menjadi pupa. 

Tahap pupa berlangsung 2–4 hari hingga akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap terbang. Total waktu dari telur hingga dewasa hanya sekitar 7–10 hari.

Lantas, seberapa ideal frekuensi penggantian air?

· Jika kita mengganti air setiap 2–3 hari sekali, siklus tersebut sudah terputus sebelum telur sempat menetas. Ini masih tergolong aman.

· Namun, untuk tingkat perlindungan maksimal dan bebas risiko, mengganti air setiap hari adalah cara paling efektif—menjamin tidak ada telur atau jentik yang sempat berkembang.

Perlu ditekankan: imbauan Pemkot Surabaya dan KSH untuk mengganti air seminggu sekali hanyalah standar minimum bagi masyarakat umum. Bagi penghobi burung, standar ini justru berisiko tinggi karena membiarkan air menggenang selama 7 hari—cukup bagi jentik untuk tumbuh menjadi nyamuk dewasa yang siap menularkan DBD.

🏙️ Peran KSH dan Meluruskan Perdebatan
Di Surabaya, KSH berperan vital sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam pencegahan DBD. Tugas mereka meliputi:

· Pemeriksaan rutin ke rumah-rumah warga, termasuk memeriksa tempat penampungan air dan wadah minum burung.

· Sosialisasi dan edukasi; jika ditemukan jentik, mereka akan mengingatkan warga untuk segera membersihkan dan memberikan penjelasan pencegahan.

Perdebatan yang kerap terjadi antara penghobi dan petugas kesehatan sebenarnya lahir dari perbedaan perspektif mengenai frekuensi pembersihan. 

Namun pada hakikatnya, hobi merawat burung dan upaya pencegahan DBD adalah dua hal yang sejalan, bukan bertentangan.

Imbauan "satu minggu sekali" dari pemkot adalah batas minimal bagi warga awam. Bagi penghobi yang sadar risiko, standar tersebut sudah seharusnya ditingkatkan menjadi pembersihan harian demi perlindungan maksimal—bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.


💡 Solusi Praktis: Menjaga Hobi dan Kesehatan Bersama
Agar kesenangan berkicau mania selaras dengan upaya kesehatan lingkungan, berikut beberapa solusi sederhana namun berdampak besar yang bisa langsung diterapkan:

1. Jadikan penggantian air sebagai rutinitas harian. Lakukan setiap pagi bersamaan dengan pemberian pakan, agar terbiasa dan tidak terlewat.

2. Kuras dan gosok wadah hingga bersih. Mengganti air saja tidak cukup. Gosok gelas minum dengan sikat atau spons setiap kali mengganti air untuk membuang telur nyamuk yang mungkin menempel kuat di dinding gelas.

3. Patuhi kesepakatan minimal mingguan. Setidaknya, lakukan pembersihan total seminggu sekali sebagai bentuk kepatuhan minimum, namun tetaplah melakukan penggantian harian di luar itu.

4. Bangun kolaborasi, bukan konfrontasi. Terimalah kunjungan KSH sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan bersama. Jika petugas menemukan jentik, jangan tersinggung—jadikan sebagai evaluasi untuk memperbaiki pola perawatan burung.

5. Pilih wadah dengan desain anti-nyamuk. Gunakan tempat minum yang memiliki tutup atau bentuk sirip yang mempersulit nyamuk masuk dan bertelur di dalamnya.

6. Edukasi sesama penghobi. Bagikan informasi ini kepada komunitas kicau mania agar semakin banyak penghobi yang sadar akan pentingnya kebersihan wadah minum.

📝 Kesimpulan
Potensi jentik nyamuk di gelas minum burung adalah fakta ilmiah yang tidak bisa diabaikan. 

Mengganti air dan membersihkan wadah secara rutin adalah cara terbaik untuk menikmati hobi tanpa dihantui kekhawatiran akan kesehatan.

Dengan kesadaran dan tindakan nyata—mengganti air setiap hari, menggosok wadah, serta bersinergi dengan para kader kesehatan—kita tidak hanya menjaga burung kesayangan tetap sehat dan prima, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pemberantasan DBD di lingkungan sekitar.

Ingatlah selalu: menjaga kebersihan tempat minum burung adalah cerminan penghobi yang bertanggung jawab. Kebersihan dimulai dari hal kecil, dan kesehatan bersama adalah hasil dari kerja sama kita semua.

Mari jadikan hobi berkicau sebagai bagian dari gerakan sehat, bukan sumber masalah. (red)


Kamis, 18 Juni 2026

Breaking News: Selamat Ulang Tahun, H. Nawawi Ahmad - Tokoh Rujukan Medokan Ayu!



InfoMedokanAyu – Kabar bahagia menyelimuti seluruh warga Kelurahan Medokan Ayu, khususnya warga RW03 yang menjadikan salah satu putra terbaiknya sebagai rujukan. 

Di tengah kesibukan masyarakat, tokoh yang pernah memimpin Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini genap bertambah usia pada hari ini, 17 Juni 2026.

Pria yang disegani dan menjadi tokoh rujukan warga ini adalah Bapak H. Nawawi Ahmad, warga asli RW03 Medokan Ayu yang perjalanan kepemimpinannya dimulai dari tingkat paling bawah, yakni sebagai Ketua RW03 selama dua periode, yaitu 2000–2006. 

Dedikasinya sebagai ketua RW menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya di tingkat kelurahan hingga kemudian dipercaya memimpin LPMK Medokan Ayu selama tiga periode masa bakti, yaitu 2010–2013, 2013–2016, dan 2019–2022. 

Walikota Surabaya Tri Rismaharini ke Medokan Ayu pada 2011 diapit H. Nawawi Ahmad, S.Ag (Sisi kiri) dan Ny. Anis Wahjuni, S.Pd. PAUD-istri yang senantiasa mendukung sang Suami, berkegiatan kemasyarakatan, yang ketua LPMK. 

Total lebih dari satu dekade beliau mengabdikan diri, menjadikannya salah satu tokoh dengan masa jabatan terlama dan paling berpengaruh dalam sejarah Medokan Ayu.

Gebrakan Berani di Tingkat RW
Di masa kepemimpinannya sebagai Ketua RW03, H. Nawawi Ahmad menorehkan gebrakan yang cukup berani pada zamannya. 

Beliau berhasil menggolkan masa bakti ketua RT dan RW di wilayahnya secara maksimal (dua periode)—sebuah kebijakan yang pada saat itu belum diatur secara ketat oleh pemerintah kota. 

Langkah ini secara tidak langsung membatasi dirinya sendiri sebagai ketua RW yang hanya dapat menjabat hingga dua periode, karena ia sendiri yang menerapkan aturan pembatasan masa jabatan di wilayahnya. 

Rekam jejak Walikota dalam kunjungan kerja di Medokan Ayu.

Sikap transparan dan komitmen pada aturan ini justru menjadikannya sosok yang dihormati. Ia tidak hanya membuat aturan untuk orang lain, tetapi juga menaatinya dengan konsekuen.

Mengenal Sosok di Balik Kepemimpinan
Lahir pada 17 Juni 1967, tahun ini beliau genap memasuki usia 59 tahun. 

Dalam tradisi astrologi Timur, beliau ber-shio Kambing Elemen Api. Shio Kambing sendiri dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, halus, dan sangat peduli terhadap orang lain. 

Dikombinasikan dengan elemen Api, sosoknya menjadi lebih berani, bersemangat, dan tidak ragu mengambil inisiatif untuk kebaikan bersama.

Karakter inilah yang sangat terlihat dalam keseharian beliau. 

Aktivitas LPMK tercetak pada kalender

Sebagai pemimpin, H. Nawawi Ahmad dikenal terbuka terhadap segala usulan dan masukan dari warga, tidak pernah merasa tinggi hati, dan selalu mendengar aspirasi siapa pun tanpa memandang latar belakang. 

Tidak heran jika hingga kini, warga Medokan Ayu masih dengan leluasa mendatanginya untuk sekadar curhat, meminta nasihat, atau menyampaikan gagasan pembangunan.

Sikap terbuka dan kepeduliannya yang tulus itulah yang membuatnya begitu dicintai hingga saat ini.

Deretan Prestasi Gemilang dari Tingkat RW Hingga Kelurahan.

Ragam kegiatan kemasyarakatan yang bertumpuk terlihat pada kalender.

Di bawah komando beliau sepanjang tiga periode kepemimpinan LPMK, Medokan Ayu mencatatkan segudang prestasi membanggakan. 

Puncaknya, kelurahan ini berhasil menyabet Juara 1 Lomba Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) tingkat Kota Surabaya. 

Tidak hanya berhenti di situ, semangat kebersamaan yang ia kobarkan membawa Medokan Ayu melaju ke tingkat Provinsi Jawa Timur dan meraih Juara 3.

Tak hanya di tingkat kelurahan, pada tahun 2015, H. Nawawi Ahmad juga mencatatkan prestasi di tingkat kota sebagai Juara Harapan Lomba BBGRM.


Hal itu membuktikan bahwa semangat kebersamaan yang ia tanamkan telah membuahkan hasil dari level RW hingga kelurahan.

Prestasi-prestasi tersebut menjadi bukti nyata dedikasi dan konsistensinya dalam membangun sinergi antara pemerintah kelurahan dan seluruh elemen masyarakat.

Tetap Menjadi Rujukan Warga

Hingga saat ini, meskipun tidak lagi menjabat, sosok H. Nawawi Ahmad tetap menjadi rujukan utama warga Medokan Ayu, khususnya RW03, dalam berbagai hal kemasyarakatan. 

Tidak ada kata lelah untuk terus turun tangan demi kepentingan masyarakat banyak. 


Salah satu wujud nyata kepeduliannya yang paling fenomenal adalah perawatan jembatan legendaris yang menjadi akses vital menuju Lapangan Reformasi serta lingkungan Sekolah MIN dan MTSN. 

Baginya, jembatan itu bukan sekadar beton dan besi, melainkan simbol penghubung masa depan generasi muda Medokan Ayu.

Keluarga yang Sederhana dan Harmonis
Di balik kesibukannya mengabdi untuk warga, beliau adalah kepala keluarga yang hangat. H. Nawawi Ahmad dikaruniai tiga orang putri. 

Putri sulungnya telah menikah dan memberinya seorang cucu laki-laki yang menjadi buah hati keluarga. 

Tak kalah istimewa, sang istri merupakan sosok pendidik berdedikasi sebagai guru di TK Al Fajar, turut mencerdaskan anak-anak bangsa sejak usia dini.


Medokan Ayu Bangga Padamu!
Atas nama seluruh keluarga besar LPMK Medokan Ayu, Karang Taruna, PKK, warga RW03, serta seluruh warga Medokan Ayu, kami mengucapkan:

Selamat Ulang Tahun, Bapak H. Nawawi Ahmad!

Terima kasih atas dedikasi dari tingkat RW hingga kelurahan, jiwa kepemimpinan yang berani dan transparan, serta kasih sayang yang tak pernah putus untuk Medokan Ayu. 

Bapak Zainul Abidin, S.Sos (paling kanan), Lurah Medokan Ayu saat ini menyempatkan bertandang ke Rumah H. Nawawi Ahmad, S.Ag.

Semoga panjang umur, sehat selalu, dan keluarga diberikan kebahagiaan serta keberkahan yang melimpah. 

Medokan Ayu bangga padamu! 
(red)