InfoMedokanAyu - Secara umum, rata-rata Angka Bebas Jentik (ABJ) nyamuk di Medokan Ayu berada di angka 99,07%. Capaian ini telah melampaui standar target nasional Kementerian Kesehatan yang menetapkan ambang minimal 95%.
Meski demikian, kondisi ini tetap patut diwaspadai. Volume nyamuk yang berkeliaran dirasakan tinggi oleh warga. Para satpam malam pun harus rajin cablek-cablek mengusir nyamuk.
Bahkan didalam masjid Asasul A'mal yang ber-AC itu, sosok Jamaah Nashr Rahman dan Indratmodjo berkomentar. "Sekarang nyamuk suka ke masjid", katanya sambil garuk-garuk.
RT 03 RW 10 pun pada Minggu, 4 Oktober lalu mengadakan fogging mandiri, demi warga untuk tidak disatroni nyamuk.
Yusep Priambodo, A.Md.KL staf Puskesmas Medokan Ayu menegaskan, nyamuk yang berkeliaran malam itu jenis Culex. "Tidak berbahaya. Tapi, mengganggu juga dan bikin bentol-bentol", katanya.
Hasil PSN Minggu ke-38: Gambaran Makro yang Cukup Baik
Hasil kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pada Minggu ke-38 bulan September 2026 mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan secara makro cukup baik dalam mengontrol jentik nyamuk.
Data yang diperoleh pada periode tersebut:
· Total rumah: 9.448 unit
· Rumah diperiksa: 6.475 unit
· Cakupan pemeriksaan: 68,53%
· Rumah positif jentik: 60 unit
· ABJ keseluruhan: 99,07%
![]() |
| A: Jumlah Rumah, B: Rumah Diperiksa, C: Rumah Positif Jentik, D: ABJ (%), E: Cakupan Pemeriksaan (%) |
Titik Rawan: RW 14 dan RW 02
Bertolak dari temuan angka ABJ, terdapat Titik Rawan—area yang menuntut perhatian khusus.
RW 14: Kasus Terbanyak, ABJ Terendah
Kawasan ini menjadi wilayah dengan kasus positif jentik terbanyak (10 rumah) sekaligus mencatatkan ABJ terendah (97,84%).
Wilayah ini memerlukan prioritas utama penanganan dan edukasi kebersihan lingkungan.
RW 02 (Medokan Kampung): Cakupan Rendah, Risiko Terselubung
Kawasan Medokan Kampung ini memiliki jumlah rumah terbanyak (2.735 rumah) dengan kasus positif yang cukup tinggi (8 rumah positif).
Selain itu, cakupan pemeriksaan di RW ini masih tergolong rendah (45,23%), sehingga potensi risiko penularan terselubung perlu diantisipasi.
Cakupan Pemeriksaan: Kesenjangan Antar RW
Dari data yang berhasil dihimpun, terdapat kesenjangan cakupan pemeriksaan antar RW:
Kategori RW Cakupan
Optimal RW 12 99,66%
Optimal RW 04 98,82%
Perlu Perhatian RW 02, RW 08, RW 01 Di bawah 60%
Rekomendasi Intervensi
1. Intervensi Intensif di RW 14 dan RW 02
Perlu segera dilakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara menyeluruh di kedua wilayah ini untuk menekan populasi jentik.
2. Perluasan Cakupan Pemeriksaan
Petugas Pemantau Jentik (Jumantik) perlu meningkatkan cakupan pemeriksaan di wilayah yang persentase pemeriksaannya masih di bawah 70%, agar data pemantauan lebih akurat dan representatif.
3. Edukasi Berkelanjutan
Menggalakkan kembali penyuluhan kepada warga di seluruh RW—khususnya area dengan ABJ di bawah 98,5%—mengenai pentingnya menutup, menguras, dan mendaur ulang tempat penampungan air secara rutin.
Mengapa Nyamuk Masih Banyak Beterbangan?
Keluhan warga tentang banyaknya nyamuk yang berkeliaran di malam hari dapat dipahami.
Dari data yang ada, kondisi ini sebenarnya bisa dijelaskan oleh beberapa faktor:
Faktor 1: ABJ Hanya Mengukur Jentik, Bukan Nyamuk Dewasa
Angka ABJ yang tinggi sekitar 99,07% memang terlihat bagus. Namun angka ini hanya menunjukkan sedikitnya rumah yang ditemukan jentik saat diperiksa, bukan berarti populasi nyamuk dewasa benar-benar rendah.
Nyamuk dewasa tetap bisa terbang dari tempat lain dan menggigit warga, meskipun di rumah-rumah tidak ditemukan jentik.
Faktor 2: Cakupan Pemeriksaan yang Belum Menyeluruh
Rata-rata cakupan pemeriksaan hanya sekitar 68,53%. Artinya, masih ada sekitar 31% rumah yang belum diperiksa.
Rumah-rumah yang belum diperiksa ini, di antaranya bisa menjadi sumber jentik yang tidak terdeteksi.
Dengan kata lain, angka ABJ yang tinggi bisa menyesatkan karena tidak semua rumah benar-benar dicek.
![]() |
| Ilustrasi: Rerimbunan |
Faktor 3: Peran Rerimbunan Pohon
Rerimbunan pohon ikut berpengaruh, tetapi bukan sebagai penyebab utama. Pohon yang rimbun menciptakan lingkungan yang lembap, gelap, dan sejuk—menjadi tempat istirahat yang nyaman bagi nyamuk dewasa, terutama jenis Culex dan Anopheles.
Selain itu, daun yang jatuh, lubang pohon, ketiak daun, dan pelepah pisang bisa menampung air dan menjadi tempat berkembang biak alami. Jadi, pohon rimbun lebih berperan sebagai tempat istirahat nyamuk dewasa dan tempat berkembang biak tambahan, bukan satu-satunya penyebab.
Faktor 4: Tempat Perkembangbiakan yang Tidak Terpantau
Tempat perkembangbiakan yang sering luput dari pemeriksaan meliputi:
· Saluran air
· Ban bekas
· Pot
· Talang
· Kolam
· Septik tank
· Pelepah pisang
Nyamuk juga bisa datang dari luar wilayah karena kemampuan terbangnya mencapai 100–200 meter, atau terbawa angin dan kendaraan.
Musim hujan mempercepat munculnya genangan baru, dan mobilitas warga turut membawa nyamuk atau jentik.
Selain itu, jentik yang berada di tempat gelap dan sulit dijangkau bisa lolos dari pemeriksaan.
Fogging yang hanya membunuh nyamuk dewasa juga tidak menyentuh jentik, sehingga populasi bisa pulih kembali.
Kesimpulan dan Langkah ke Depan
Penyebaran nyamuk yang masih terasa banyak kemungkinan besar disebabkan oleh cakupan pemeriksaan yang masih rendah (sekitar 68,53%), sehingga banyak sumber jentik yang belum terdeteksi.
Rerimbunan pohon memperparah keadaan karena menambah tempat istirahat nyamuk dewasa dan tempat berkembang biak alami.
Untuk mengatasinya, diperlukan langkah-langkah berikut:
- Tingkatkan cakupan pemeriksaan hingga di atas 90%
- Periksa tempat-tempat tersembunyi di luar rumah
- Lakukan fogging dan larvasida secara bersamaan
- Bersihkan rimbunan pohon dan genangan air secara rutin
Mari bersama menjaga Medokan Ayu tetap sehat dan bebas nyamuk. PSN 3M Plus bukan sekadar slogan—ini adalah tanggung jawab kita bersama.
Oleh: Priono Subardan







.jpg)






.jpg)







.jpg)

