Rabu, 06 Mei 2026

Sambut Hari Raya Iduladha 1447 H, Musala Ar-Rifai Adakan Kajian Manajemen Kurban

Ustadz M. Heru Abdur Ro'ufur Rochim - Pemateri Fiqih Kurban menguraikan kajiannya. Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

InfoMedokanAyu - Menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H, Musala Ar-Rifai mengadakan Kajian Manajemen Kurban di Jl. Medokan Kampung No. 23, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya pada Selasa, 5 Mei, mulai pukul 19.00 WIB.

Kegiatan ini sebagai upaya agar kegiatan ibadah kurban di musala mendatang dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam.


Kajian itu diberikan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya.

Materi yang dibahas:
1. Fikih Kurban
2. Pengenalan pisau dan asah bila
3. Handling (Penanganan Hewan)
4. Teknik menyembelih

Sekitar 50 peserta dengan seksama memperhatikan uraian. Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Pengurus musala berharap dengan adanya kegiatan tersebut, proses ibadah kurban nanti dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam.

Sebagian peserta kajian menyimak dari teras musala. Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Acara itu dihadiri sekitar 50 orang.
Ketua Takmir Musala Ar-Rifai: H. Sunarto.

Menurut Achmad Sobirin, Ketua RT 01 RW 02 yang juga anggota Juleha, kerja sama ini erat kaitannya dengan bulan bakti bagi Juleha menyambut Iduladha tahun 1447 H.

Pada bulan bakti ini, Juleha melaksanakan kajian kurban hampir setiap hari Sabtu dan Minggu keliling di masjid atau musala di kota Surabaya.


Kegiatan yang lebih besar akan mengadakan kajian manajemen kurban di Masjid Al-Akbar, Jl. Masjid Al-Akbar Timur No. 1, Pagesangan, Kec. Jambangan, Surabaya, Jawa Timur 60233, pada Minggu, 10 Mei 2026.

"Dalam kajian ini yang bisa diambil: pahami hukumnya, kuasai tekniknya, dan amalkan ilmunya," katanya mengingatkan.

Ustadz Lukman Arif Hakim pemateri teknik sembelih. Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Ustadz H. Yulianto (kemeja putih) tentang perobohan hewan kurban. Foto: Didik Tri Winarno

Ketua Takmir H. Sunarto (kiri) menerima cinderamata (pisau Sembelih) dari JULEHA kota Surabaya. 
Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Harus Diperhatikan
Kajian ini sangat penting mengingat ada hal-hal yang harus diperhatikan:

1. Mematuhi syariat Islam – Memastikan penyembelihan sesuai ketentuan agama: hewan halal, menyebut nama Allah, menghadap kiblat, serta memutuskan saluran makanan, minuman, dan dua urat leher (tiga saluran) dengan pisau tajam.

2. Menjaga kehalalan dan kualitas daging – Penyembelihan yang benar membuat darah keluar sempurna (tidak beku), daging lebih bersih, tahan lama, dan halal dikonsumsi.

3. Menghindari azab pada hewan – Melarang penyiksaan hewan; pelatihan mengajarkan cara yang paling tidak menyakitkan (tidak menumpulkan pisau, tidak menyembelih di depan hewan lain, tidak menarik urat leher sebelum putus).

4. Keselamatan petugas dan kebersihan – Teknik memegang hewan dengan benar, posisi aman, serta menjaga alat dan tempat tetap steril (mencegah kontaminasi silang).

5. Ibadah yang sempurna – Pelatihan membuat proses kurban tidak sekadar ritual, tetapi bernilai ibadah yang diterima, karena niat ikhlas dipadu dengan amal teknis yang benar (sesuai hadis: "Allah mewajibkan ihsan dalam segala hal; jika kalian menyembelih, perbaikilah sembelihan").

Ramah tamah. Foto: Ustadz Nugroho Adi-JULEHA

Jadi, pelatihan penyembelihan bukan sekadar teknis, tetapi bagian dari menjaga hak Allah (ketaatan), hak hewan (kesejahteraan), serta hak penerima daging (kesehatan).

- InfoMedokanAyu


Selasa, 05 Mei 2026

Menjaga Nyaman Bersama di Medokan Ayu: Masalah Pintu dan Anjing Lepas Bebas Solusi Sederhana dari Kita


InfoMedokanAyu - Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya – lingkungan yang hangat, mayoritas muslim, dan penuh kebersamaan. Tapi akhir-akhir ini, ada dua kebiasaan kecil yang tanpa sadar mulai mengganggu kenyamanan warga: pintu yang sering dibiarkan terbuka dan anjing peliharaan lalu lepas bebas di jalanan.

Itu terjadi di salah satu kawasan Medokan Ayu, yang lalu warga mengabari penulis, yang juga aktif di InfoMedokanAyu.

Kaget juga. Hal itu tentu erat kaitannya dengan tulisan-tulisan dibuatnya di Medsos seperti yang berjudul Wajib Tahu! Risiko dan Aturan Hukum Membiarkan Anjing Tanpa Tali di Jalanan: Dari Perda hingga KUHP "



Bukan maksud mencari kesalahan, mari kita lihat sebagai pengingat bersama. Karena nyaman itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua tetangga di sekitar.

Lupa Menutup Pintu, Bisa Berdampak Besar
Mungkin kita berpikir, "Ah, hanya sebentar, tidak apa-apa." Tapi pintu yang terbuka – baik rumah maupun pagar – tanpa sadar bisa menimbulkan rasa kurang aman bagi warga lain. Apalagi jika ada anak kecil yang lewat, atau orang asing yang masuk tanpa diketahui.

Menutup pintu bukan hanya menjaga keselamatan rumah kita, tapi juga memberikan ketenangan bagi lingkungan. Tetangga jadi tidak waswas, dan rasa saling jaga pun tumbuh.

Anjing Lepas: Bukan Soal Benci, Tapi Soal Hak Rasa Nyaman
Kita sadar, tidak semua warga memelihara anjing. Tapi yang perlu kita pahami bersama: tidak semua warga juga nyaman dengan anjing yang berkeliaran bebas.

Ada yang punya pengalaman buruk masa kecil, ada yang benar-benar fobia karena tidak pernah akrab dengan anjing sejak kecil. Dan di lingkungan mayoritas muslim, secara kultural pula memang anjing tidak terbiasa dilepas di area publik.

Ini bukan masalah "suka atau tidak suka", melainkan masalah hak setiap warga untuk merasa aman di jalannya sendiri.

Ketika anjing lepas tanpa pengawasan, warga yang takut jadi enggan keluar rumah. Anak-anak jadi waswas bermain di halaman. Ibu-ibu yang mau ke warung jadi pilih memutar jalan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Solusinya sederhana, dan sangat mungkin dilakukan bersama:
· Pastikan pintu dan pagar selalu tertutup – terutama jika di dalam rumah ada anjing peliharaan. Jangan menggantungkan pada "mudah-mudahan kabur".

· Jika memelihara anjing, jangan dilepas bebas di jalan. Gunakan tali atau kandang, dan pastikan pagar rumah tidak bisa diterobos anjing.

· Saling mengingatkan dengan cara yang baik. Bukan dengan protes keras, tapi tegur sapa yang santun: "Maaf, ya, Pintunya terbuka tadi, agak bikin kaget tetangga."

· Bagi yang takut, tidak perlu malu menyampaikan. Sampaikan ke RT/RW atau langsung ke pemilik dengan sopan. Komunikasi lebih baik daripada diam dan kesal sendiri.

Medokan Ayu untuk Semua
Kita semua ingin lingkungan yang adem, rukun, dan nyaman. Masalah pintu terbuka dan anjing lepas bukan hal besar jika kita mau sama-sama sadar.

Tidak perlu saling menyalahkan. Cukup perbaiki kebiasaan kecil, dan rasakan perubahannya.

Mari jaga lingkungan kita. Karena rumah yang nyaman dimulai dari tetangga yang saling peduli.

oleh Priono Subardan - warga Medokan Ayu

#Medokan Ayu
#Rungkut
#Surabaya
#Kenyamanan lingkungan
#Ketertiban umum
#Anjing peliharaan
#Keamanan lingkungan
#Hidup rukun
#Etika bertetangga
#Warga Muslim
#Medokan Ayu
#Kenyamanan bersama
#Anjing lepas
#Keamanan lingkungan
#Hidup rukun

Dukacita, Bapak Hermawan Adi Prasetyo (51) Meninggal Dunia, Senin 4 Mei 2026, sekitar Pk. 02.00 WIB

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Warga RW09 Medayu Utara RT03 RW09  — Medokan Ayu 


HERMAWAN ADI PRASETYO 

Lahir : Surabaya, 30 Juli 1975

Memenuhi panggilanNYA di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta pada Senin, 4 Mei 2026, sekitar Pk 02.00 WIB.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua putri.

Jenazah diberangkatkan ke rumah duka Surabaya dan sampai tujuan sekitar pk. 16.00 WIB.

Rumah duka/ Rumah Orang Tua Bapak H. Subagiyo - Ibu Hj. Istu Ningati
Jl. Medayu Utara III/ 47, RT03 RW09 — Medokan Ayu.

PEMAKAMAN
Makam Medayu Utara — Medokan Ayu.
(Sekitar Pk.17.00)

Semoga Almarhum husnul khotimah dan diterima semua amal ibadahnya serta diampuni segala dosanya oleh Allah SWT.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.
Aamiin ya rabbal alamin

Di rumah duka

Persiapkan mengantar jenazah ke pemakaman, disholatkan dulu di Masjid setempat At-Taqwa.



Di masjid At-Taqwa


Menuju Makam


Ketua RW09 Agus Suwardi dan Ketua RW03






 
Redaksi. 
Terima kasih kepada segenap warga peduli, memberikan info, juga mengirimkan foto di rumah duka maupun di pemakaman ke media komunitas warga InfoMedokanAyu

Terutama terima kasih disampaikan kepada Bapak Agus Suwardi - Ketua RW09, Didik Tri Winarno - Wakil ketua RW02 - dan Ibu Puji, serta Ibu Eva - KSH RW09

Info menumbuhkan rasa persaudaraan dan membangun kawasan bisa klik disini Info Masukan 







Minggu, 03 Mei 2026

Kampung Markisa, Hadirkan Potensi Ekonomi, Sejuk dan Asri dari Kawasan Pantai Medokan Ayu



Oleh: Priono Subardan

InfoMedokanAyu - Konsep "Kampung Markisa" dengan rambatan melengkung antar rumah warga  tidak hanya mendatangkan cuan, tapi juga membawa banyak manfaat lingkungan. Tanaman rambat efektif menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, asri, alami menyaring polusi, menciptakan potensi ekonomi dan sekaligus menguatkan nilai kerukunan antar warga.

Menciptakan lingkungan seperti itu, khususnya di gang-gang sempit atau yang tak mungkin dilalui truk besar, bukan hal aneh.  Beberapa tempat telah menerapkannya.

Rincian perubahan pada lingkungan:

1. Menyejukkan Udara · Penghalang Panas (Green Curtain): Kerapatan daunnya bertindak sebagai "tirai hijau"yang menghalangi sinar matahari langsung, mengurangi panas yang masuk ke rumah hingga 1.8°C dan menghemat pemakaian listrik kipas hingga 59%.

· Pelepas Uap Air (Evapotranspirasi): Proses penguapan air dari daun markisa membantu menurunkan suhu udara di sekitarnya.

· Penghasil Oksigen dan Peredam Kebisingan: Daun markisa juga membantu menyegarkan udara dan meredam suara bising.

2. Mempercantik & Mengasrikan Lingkungan
· Identitas Visual: Tumbuhan hijau yang rindang membedakan kampung dan membuatnya tampak lebih hidup.

· Daya Tarik Estetika: Padu padan dengan elemen lain seperti mural dinding 3D memperkuat nuansa artistik.

· Kebanggaan Warga: Perubahan signifikan dari kampung kumuh menjadi asri, hijau, dan bersih berpotensi meraih penghargaan lingkungan.

3. Menyaring Polusi Udara & Air
· Filter Udara Alami: Dikenal sebagai tanaman anti-polusi yang menyerap polutan berbahaya di udara.

· Pengelolaan Air Limbah: Biasanya dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), yang mengolah air limbah rumah tangga untuk menyiram tanaman atau mencuci.

4. Manfaat Tambahan Tak Terduga
· Hidup Jadi Lebih Hemat: Menekan penggunaan AC sekaligus panen buah segar untuk dimakan atau dijual.

· Lingkungan Jadi Lebih Hidup: Bunga markisa yang cantik menarik serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu, membantu menjaga keseimbangan alam.

POTENSI EKONOMI
Konsep kebun markisa yang saling berhadapan dengan rambatan melengkung antar rumah memiliki potensi ekonomi yang besar. 

Beberapa program serupa di Indonesia membuktikan bahwa potensi ini bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Manfaat ekonomi utamanya mencakup beberapa sektor sekaligus, dari peningkatan pendapatan langsung hingga pengembangan pariwisata. 

Detilnya sebagai berikut:

· Peningkatan Pendapatan Langsung Warga: Budidaya markisa memberikan pemasukan berkelanjutan melalui beberapa jalur seperti penjualan buah segar, bibit , atau produk turunannya. 

Contoh nyata: seorang petani di Wagir, Malang, dengan lahan 100 m² dapat memanen 20 kg markisa dua kali seminggu . 

· Pengembangan Usaha Produk Olahan: Produk olahan seperti sirup, selai, manisan, bahkan eco-enzym  dan pupuk kompos  memiliki nilai jual lebih tinggi dan masa simpan lebih panjang, sekaligus membuka peluang kerja bagi ibu rumah tangga.

Di Wagir, Malang, inovasi ini mampu memproduksi hingga 5.000 botol minuman markisa per bulan.

· Potensi Agrowisata Kampung: Rangkaian tanaman yang artistik bisa menjadi identitas visual dan destinasi wisata.

Keindahan gang hijau ini  dapat menarik wisatawan yang ingin menikmati suasana dan belajar budidaya. 

Sebagaimana program "Kampung Asri" di Sidoarjo dan "Kampung Markisa" di Yogyakarta, ini bisa menjadi mesin ekonomi baru bagi warganya.

· Peningkatan Nilai Properti dan Estetika Lingkungan: Lingkungan yang asri dan terawat akan meningkatkan kenyamanan serta rasa bangga warga, yang secara otomatis dapat meningkatkan nilai properti.

· Optimalisasi Lahan Sempit: Konsep rambatan melengkung membuktikan bahwa lahan terbatas non-produktif sekalipun bisa diubah menjadi aset ekonomi bernilai tinggi.

SEBAGAI KAWASAN WISATA KOTA
Sebagai kawasan wisata kota Syrabaya sangat mungkin. Bahkan, ini adalah dampak logis dari estetika dan ekologi yang telah terpapar sebelumnya. 

Ini bukan sekadar teori, konsep serupa di beberapa daerah sudah membuktikan ketertarikan pasar, bahkan ada kampung yang dikunjungi langsung wisatawan asal Inggris yang merasakan suasana sejuknya.

Fakta Daya Tarik di Kampung Markisa
· Kampung Markisa (Tangerang): Berhasil menarik turis mancanegara dari Inggris.

· Kampung Markisa Karangwaru (Yogyakarta): Transisi sukses dari lahan kumuh menjadi destinasi agrowisata dengan spot selfie dan kuliner baru.

Faktor Pendorong Daya Tarik Pengunjung
· Daya Tarik Spot "Instagramable": Perpaduan rambatan markisa, mural, dan cat warna-warni menciptakan latar foto yang unik dan estetik.

· Segarnya Wisata Edukasi dan Kuliner (Edutainment): Pengunjung bisa belajar sambil menikmati olahan markisa langsung dari sumbernya, jenis wisata yang sedang naik daun.

· Menurunnya Stigma Negatif dan Fungsi Restoratif: Ruang hijau mengubah daerah kumuh menjadi destinasi positif yang menurunkan tingkat stres dan memberikan efek menenangkan (biophilia).

Dengan daya tarik yang kuat untuk berbagai kalangan—keluarga, anak muda, komunitas, hingga wisatawan asing—potensi untuk menarik minat berkunjung sangat besar.

Semakin menarik pula bila di kawasan kampung Markisa bisa ditawarkan (misalnya, membuat sirup markisa sendiri), semakin besar pula minat orang untuk datang. 


NILAI KERUKUNAN WARGA KIAN KUAT
Tanaman markisa yang merambat di gang sempit dengan penyangga bersama dipastikan memberikan beberapa manfaat sosial penting bagi warga:

1. Mempererat interaksi warga: Perawatan tanaman bersama (menyiram, memangkas, memupuk) menjadi kegiatan rutin yang mendorong komunikasi dan gotong royong antar tetangga.

2. Menciptakan rasa kepemilikan bersama: Tanaman yang melintasi batas properti menumbuhkan tanggung jawab kolektif, mengurangi ego sektoral di ruang terbatas.

3. Menyediakan area teduh alami: Kanopi daun dan buah markisa membuat gang terasa lebih sejuk, nyaman untuk bersantai atau anak bermain, sehingga meningkatkan interaksi sosial spontan.

4. Mengurangi potensi konflik: Penyangga bersama menjadi kesepakatan visual tentang pemanfaatan ruang sempit, mencegah sengketa batas lahan yang sering terjadi di gang.

5. Sumber kebanggaan bersama: Hasil panen markisa bisa dibagi rata atau dijual untuk kas RT/RW, menciptakan identitas kolektif dan rasa sukses mengelola lahan terbatas.

6. Media edukasi informal: Anak-anak belajar tentang bercocok tanam, kesabaran, dan nilai berbagi melalui pengamatan langsung aktivitas warga di gang.

PERENCANAAN
Ini mewujudkkan kawasan keren! Memaksimalkan gang sempit antar rumah dengan tanaman markisa yang saling bertemu di penyangga melengkung sungguh cerdas dan estetik. 

Konsep ini membutuhkan perencanaan matang, terutama pada dua hal utama: penyangga melengkung itu sendiri dan tanaman markisa di sisi yang berlawanan.

1. Membuat Penyangga Melengkung (Arbor atau Pergola Mini)
Penyangga berfungsi sebagai jalur bagi markisa untuk merambat dan bertemu. 

Ini butuh struktur kokoh, bisa setinggi 2-2,5 meter, membentang di atas gang. 

Bahan sederhana seperti bambu, pipa PVC, atau besi. Kuncinya, membentuk rangka menjadi setengah lingkaran yang menghubungkan kedua sisi tembok rumah.

Pastikan untuk mengisi celah dengan jaring kawat atau tali agar tanaman mudah merambat.

2. Menanam Markisa di Kedua Sisi
Pada setiap sisi gang, siapkan pot atau lahan tanam kecil yang subur dengan drainase baik. 

Tanam bibit markisa tepat di pangkal penyangga. Setelah tumbuh, pandu sulur-sulurnya untuk memanjat dan menjalar mengikuti bentuk lengkung penyangga sampai akhirnya bertemu di bagian atas.

Varietas yang cocok untuk proyek seperti ini adalah Markisa Madu dan Markisa Ungu.

3. Hasil yang Bisa Didapatkan
Selain mengubah gang sempit menjadi terowongan hijau yang asri dan teduh, daun rimbunnya juga membantu menjernihkan udara dari polusi. 

Yang terbaik, bisa memanen buahnya sendiri. Jika hasilnya melimpah, buah segar atau olahan sirupnya bahkan bisa dijual untuk menambah penghasilan warga.

💡 Contoh Inspirasi: Kampung Markisa
Konsep serupa sudah diterapkan di Kampung Markisa, Tangerang

Di sana, markisa yang ditanam di gang sempit tidak hanya menyegarkan suasana, tetapi juga meningkatkan ekonomi warga melalui produk olahan dan jasa.

Tentu jenis tanaman tidak harus Markisa. Bergantung keputusan bersama, setidaknya bila Markisa, selengkapnya klik manfaaf Markisa.

Markisa: Si Asam Manis Kaya Nutrisi Penjaga Jantung, Pencernaan & Kulit Awet Muda


InfoMedokanAyu - Buah markisa adalah buah tropis yang menyegarkan dengan segudang manfaat untuk kesehatan tubuh. 

Di balik rasanya yang asam manis, markisa kaya akan berbagai nutrisi penting seperti antioksidan, serat, vitamin C, vitamin A, magnesium, dan kalium. 

Untuk merasakan manfaatnya, bisa langsung menyantap daging dan bijinya yang renyah setelah membelah buah, atau mengolahnya menjadi jus segar, sirup, campuran es buah, hingga salad.

Berikut adalah berbagai manfaat utama dari buah markisa:

Menjaga Kesehatan Jantung: Kandungan kalium dan seratnya membantu mengontrol tekanan darah serta menurunkan kolesterol jahat (LDL), sehingga baik untuk mencegah penyakit jantung.

Melancarkan Pencernaan: Tinggi serat sehingga mencegah sembelit (sembelit) dan menjaga kesehatan usus. Dua buah markisa dapat memenuhi sekitar 30% kebutuhan serat harian Anda.

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh: Vitamin C yang tinggi berperan sebagai antioksidan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh serta membantu tubuh melawan infeksi dan penyakit seperti flu dan pilek.

Mengontrol Gula Darah: Memiliki indeks glikemik rendah dengan kandungan serat dan senyawa piceatannol yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin, cocok untuk penderita diabetes.

: Kandungan magnesium dan alkaloid alami membantu efek menenangkan saraf, meredakan stres dan kecemasan ringan, serta mengatasi insomnia.

Kulit Cerah dan Awet Muda: Antioksidan (vitamin C) berperan penting untuk produksi kolagen, meningkatkan elastisitas, mencerahkan dan melembapkan kulit. Vitamin A membantu meregenerasi sel kulit sehingga mencegah penuaan dini (kerutan dan garis halus).

Kesehatan Mata dan Tulang: Vitamin A-nya mendukung kesehatan mata, sementara kandungan kalsium, magnesium, dan fosfornya membantu menjaga kekuatan dan kepadatan tulang.

Selain itu, berbagai sumber juga menyebut manfaat lain seperti membantu menurunkan berat badan karena rendah kalori namun mengenyangkan, serta berpotensi meredakan gejala asma dan infeksi tenggorokan.

Meskipun kaya akan manfaat, penting untuk mengonsumsinya secara bijak sebagai bagian dari pola makan sehat dan bervariasi. 

Mohon tidak dilalaikan, untuk menikmati manfaat maksimalnya. Mengkonsumsi markisa beserta bijinya, adalah terbaik. Biji markisa juga merupakan sumber serat dan nutrisi yang baik.

Diolah dari beragam sumber. (Red)

Sabtu, 02 Mei 2026

Akung Rudi, Tahu, dan MC Basa Jawa: Menjaga Memori Medokan Ayu di Usia Senja

Akung Rudi usai berjualan menghibur diri memancing di sungai Avour dekat rumahnya, sambil menunggu adzan Dhuhur.

Oleh: Priono Subardan

InfoMedokanAyu- Sembilan pagi, Rudiono (62) sudah merapikan setir sepeda motornya. Dua keranjang berisi tahu putih di bagian belakang mulai menipis, pertanda hari itu ia boleh segera beristirahat.

Sejak subuh, ia sudah berkeliling melewati gang-gang sempit Medokan Ayu, menawarkan dagangan yang tak pernah bosan ia emban setiap hari. 

Menyendiri menunggu panggilan adzan dhuhur

"Hanya sampai jam sembilan. Selepas itu, istirahat. Sudah tidak kuat seperti dulu," ujarnya dengan logat Jawa yang kental.

Pria tamatan Sekolah Dasar di Blitar ini memang memilih untuk tidak berhenti. Bukan karena desakan ekonomi semata, melainkan karena baginya berjualan tahu adalah ritme hidup yang membuatnya terus bergerak. Juga bisa berjumpa dengan para sahabat.

Sosok suka guyon, yang ketika diajak ngobrol tentang hidup, langsung serius. Lama sekolah di jalanan membuahkan dirinya semakin matang.

Amanat sederhana ini bahkan ia jalani meski putri satu-satunya berkali-kali melarang. "Anak saya bilang, 'Pak, sudah berhenti jualan,' tapi saya belum mau. Biar tetap sehat, tetap ada kegiatan," kata Rudiono, tersenyum tipis.

Seniman
Dan di balik rutinitas hariannya sebagai penjual tahu keliling, tersembunyi sosok lain dari Rudiono: seorang seniman, pamong budaya Jawa, sekaligus perekat sosial yang nama dan dedikasinya tak terpisahkan dari sejarah Medokan Ayu. 

Warga Medokan Ayu lebih akrab memanggilnya "Akung Rudi" – sebuah panggilan populer yang melekat erat. 

Ketika berhajat sunatan cucu pertama, para seniman penyanyi campursari hadir menyumbangkan suaranya. Rudiono (kanan) bangga teman-teman seniman hadir, termasuk generasi usia muda.

Nama aslinya sebenarnya Rusdiono, namun karena lidah dan kehangatan warga setempat, ia disapa Akung Rudi. 

Profil WhatsApp Rudiono. Sebagai Master of Ceremony (MC) Jawa bersama generasi muda.

Bahkan dalam setiap kegiatan LPMK atau Pokdarwis, hingga 2022 selalu muncul ungkapan “Ono Rudi” – plesetan dari nama yang terbalik (Rudiono – Ono Rudi), yang dalam bahasa Jawa berarti “ada Rudi”.

Itulah penanda kehadirannya yang dinanti: ketika Rudi ada, acara terasa hidup.

Ketika menelusuri koleksi foto lama. "Sulit menemukanny. Di LPMK maupun Pokdarwis, saya yang mengambil gambar", katanya. 

Istri Sebagai Pintu Keberkahan
Perjalanan Rudiono menjejakkan kaki di Surabaya dimulai pada 1983. Hijrah dari Blitar, kota kelahirannya, ia memilih merantau. Empat tahun kemudian, pada 1987, ia menikahi seorang perempuan dari Wonogiri, Jawa Tengah yang kelak ia sebut sebagai "pintu keberkahan". 

Tahun 1991, berkat keuletan sang istri, mereka memiliki rumah sendiri di Jalan Medayu Utara XXX/43, RT06 RW14 dengan luas tanah 5x20. 

Saat itu, kawasan tanahnya masih bernama kavlingan, hanya dihuni tujuh rumah, dan bergabung dengan RW 03.

Awalnya, Rudiono berjualan jamu keliling. Namun seiring waktu, ia beralih menjadi penjual Tahu di awal tahun 2000-an. 

"Jualan tahu ini tidak terikat waktu. Saya punya waktu untuk kegiatan lain," ujarnya.


Meski tanpa gamelan srempek songo,  kini langsung bisa memperagakan sebagai MC Jawa.

Kegiatan lain itulah yang perlahan mengubah hidupnya. Di Medokan Ayu, ia menemukan komunitas seni budaya yang dipimpin oleh sosok bernama Pak Martin (yang kini telah kembali ke Blitar). Pak Martin, yang juga memiliki grup karawitan dan campursari, melihat bakat alami Rudiono. 

"Saya lalu diarahkan menjadi MC. Pertama kali saya menjadi MC Jawa, teman-teman bilang cocok dan bagus," kenangnya.

Bakat itu bukan serta-merta datang. Sejak kecil di Blitar, Rudiono telah aktif mengikuti keluarga besarnya yang berkecimpung dalam dunia karawitan. Hingga kini, ia masih hafal gending-gending Jawa. 

Bersama ketua LPMK H. Ahmad Nawawi (kiri), Rusdiono (kanan)

Ia juga penggemar ludruk. Maka ketika diminta membawakan acara dalam bahasa Jawa, ia mengalir begitu saja. "Di atas panggung, saat gamelan srempek songo mulai, kita lihat situasi dan kondisi. Tugas MC itu menghidupkan suasana," jelasnya.

Melalui dunia seni pula ia menjadi dekat dengan maestro seni Surabaya, seperti Cak Kartolo dan Cak Siddiq.

Sebagai anggota Pokdarwis ketika studi banding di kawasan wisata

Perekam dan Perekat Sosial Medokan Ayu
Kepiawaiannya berbahasa Jawa membuat Rudiono menjelma menjadi sosok yang selalu diikutsertakan dalam berbagai kepengurusan lembaga kemasyarakatan. 

Ia dipercaya bergabung dalam Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Medokan Ayu selama periode yang panjang, hingga tahun 2022. Tak berhenti di situ, Rudiono juga aktif menjadi anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrove Medokan Ayu.


Hasil video. Sebagai dokumentator acara di kawasan wisata, hanya bisa menampilkan suara Rudiono

DOKUMENTATOR 
Di sinilah sisi lain dari Rudiono nampak: ia bukan hanya pengurus, melainkan juga dokumentator andal. 

Dengan kamera yang ia pegang, Rudiono menjadi fotografer dan videografer setiap kegiatan. 

"Karena lama di kepengurusan, saya jadi banyak tahu tentang Medokan Ayu. Semua kegiatan saya foto dan video," ujarnya.

Ribuan memori warga terekam oleh lensanya, menjadikannya semacam "arsip berjalan" kawasan tersebut.

Akung Rudi, Tahu, dan MC Basa Jawa: Menjaga Memori Medokan Ayu di Usia Senja

Ia menyebut keterlibatan ini sebagai sebuah keberuntungan. Bukan karena materi, melainkan karena ia bisa memberikan manfaat. Dan semua itu, menurut Rudiono, tidak akan terwujud tanpa sosok di belakangnya.

"Istri Saya Sangat Suka Saya Berkegiatan"

Sembari tangannya merapikan pancingnya (siang itu ia sedang mengobrol sambil memancing di sungai Avour dekat rumahnya), mata Rudiono berkaca-kaca.

"Saya sangat beruntung diberikan oleh-Nya istri yang baik hati," katanya lirih. 

Aktivitas bersama Pokdarwis di Wisata Mangrove Medokan Ayu

Ia menegaskan, semua kegiatan sosial dan seninya itu berkat dukungan penuh sang istri. "Istri saya sangat suka saya berkegiatan, meski secara finansial tak diperolehnya," ujarnya menirukan ucapan istrinya.

Dari membeli rumah tahun 1991, hingga memberinya ruang untuk berkesenian dan berorganisasi, sang istri adalah pilar yang tak tergoyahkan. "Rumah ini pun berkat keuletan istri saya," akunya.

KEBERUNTUNGAN
Sejak lima tahun lalu ia terkena stroke ringan, istri yang membuka toko Pracangan di rumahnya tidak lagi mau diantar saat kulakan. 

Istrinya lebih pilih sendiri setiap dini hari pergi kulakan sayur mayur dan lainnya di pasar Mangga Dua, Jl. Jagir dengan mengendarai Daihatsu Xenia. Sebelumnya, Rudiono yang selalu mengantarnya.

Namun, ada satu lagi keberuntungan yang tak pernah luput ia syukuri: putri satu-satunya yang telah memberinya tiga cucu kini juga telah memiliki rumah yang sangat dekat dengannya. 

Hanya berjarak beberapa meter, sang anak dapat dengan mudah menjenguk kapan pun. Bagi Akung Rudi, kedekatan ini adalah anugerah terindah di usia senjanya – sebuah jaminan kasih sayang yang tak ternilai.

Peringatan di Usia Senja
Tahun 2021, kurang lebih lima tahun lalu itu, dunia seni yang begitu ia cintai harus ia tinggalkan. Gamelan, panggung, dan perannya sebagai MC Jawa kini hanya tinggal kenangan. 

"Sakit itu peringatan dari-Nya. Sekarang saya harus banyak di rumah, mendekatkan diri kepada-Nya," tuturnya. 

Baginya, sakit itu justru pertanda bahwa ia harus semakin dekat dengan-Nya – sebuah panggilan yang semakin terang seiring berdirinya Masjid Al-Hidayah yang tepat di depan rumahnya. 

Menariknya, ketika Rudiono dan istri membangun rumah mereka pada tahun 1994, lahan masjid itu masih merupakan area fasilitas umum (Fasum) yang belum diketahui peruntukannya. 

Kini, masjid itu menjadi saksi bisu sekaligus pengingat harian akan sebuah ketetapan Ilahi.

Kini, satu-satunya yang tersisa dari rutinitas masa lalunya adalah berjualan tahu. Dan di sinilah kebahagiaan kecil masih ia temui. Para pelanggannya tak lain adalah teman-teman lamanya, pengurus LPMK dan Pokdarwis yang masih setia menunggu teriakan "Ta-hu...." di pagi hari.

Sabtu, sebagaimana hari ini belajar mengaji bersama di RW14. Rudiono (kiri) dan Yurianto, ketua RT07 RW08 (kanan)

PENJAGA GENDING
Rudiono tak pernah merasa kecil karena hanya lulusan SD. "Ini semua sudah kehendak-Nya. Saya hanya menjalani," katanya merendah.

Di gang sempit Medokan Ayu itu, Rudiono berdiri tegak. Bukan sekadar penjual tahu, ia adalah penjaga gending, perekam sejarah, dan bukti bahwa seorang bocah dari Blitar pun bisa menjadi perekat budaya di tengah kota besar. 

Dan di usia senja, dengan motor Honda Supra 125 dan Tahu di keranjang, ia membuktikan bahwa yang paling sederhana dalam hidup—termasuk sebuah bahasa dan sepotong Tahu—justru paling berarti.

Catatan:
Istilah yang paling umum dan tepat untuk Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara dalam bahasa Jawa adalah pranatacara. 

Menurut adat Jawa, seorang pranatacara adalah "paraga utawa wong kang nduweni jejibahan nata lan nglantarake acara utawa adicara", atau orang yang bertugas untuk mengatur dan memandu jalannya sebuah acara.

Selain "pranatacara", dikenal pula dengan istilah, seperti: Pranata Acara / Pranata Adicara.

Malah, masyarakat ada yang menyebutnya sebagai: Pambiwara, yakni padanan kata lain untuk penyiar atau pembawa acara.

Catatan Redaksi:
Dari kisah hidup Akung Rudi, ada beberapa makna positif yang bisa dipetik pembaca:

1. Usia tak jadi penghalang berkarya – Meski hanya lulusan SD dan sudah berusia senja, Rudiono tetap produktif berjualan dan berkegiatan. Ini mengajarkan bahwa semangat bekerja tidak terbatas oleh latar belakang pendidikan atau umur.

2. Dukungan pasangan adalah fondasi kebahagiaan – Rudiono berkali-kali menyebut istrinya sebagai "pintu keberkahan". Dukungan penuh sang istri terhadap kegiatannya menunjukkan bahwa harmoni rumah tangga melahirkan ruang bagi seseorang untuk berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.

3. Keterlibatan sosial memberi nilai lebih dari materi – Menjadi pengurus LPMK, Pokdarwis, hingga dokumentator kegiatan tidak memberinya keuntungan finansial, namun ia merasa "beruntung bisa memberikan manfaat". Ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati sering datang dari memberi, bukan menerima.

4. Sakit bisa menjadi pintu mendekat kepada Tuhan – Stroke yang dideritanya tidak membuatnya putus asa. Justru ia memaknainya sebagai "peringatan dari-Nya" untuk lebih banyak di rumah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Apalagi ditandai dengan berdirinya Masjid Al-Hidayah di depan rumahnya—yang ketika ia membangun rumah tahun 1994 masih berupa lahan fasum tak jelas peruntukannya. 

Ini mengajarkan bahwa musibah sekalipun dapat menjadi berkah tersembunyi yang mengubah arah hidup menuju kebaikan.

5. Kesederhanaan adalah sumber makna – Berjualan tahu keliling dengan motor tua, tinggal di gang sempit, namun ia mampu menjadi "perekat budaya" dan "arsip berjalan" kampungnya.

Ini membuktikan bahwa hidup yang bermakna tidak selalu identik dengan harta mewah, melainkan dengan konsistensi dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati.

6. Menjaga tradisi dan budaya adalah bentuk cinta tanah air – Dengan menjadi MC basa Jawa, melestarikan gending, dan mendokumentasikan kegiatan warga, ia ikut menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Pembaca diajak untuk tidak malu melestarikan bahasa dan seni daerah.

Kamis, 30 April 2026

Suripto: Dari Pemborong Proyek Menjadi "Dokter Ban Bocor" di Seberang Depo Sampah Medokan Ayu

Menambah angin ban motor milik seorang ibu muda warga Medokan Ayu.

  • Lokasi pinggir TPA, usia senja—tak menyurutkan panggilan hati untuk terus menolong.

InfoMedokanAyu - Tambal ban bukan sekadar bisnis kecil. Ia adalah infrastruktur sosial darurat: menjaga roda ekonomi tetap berputar, mencegah kecelakaan, dan menjadi solusi murah saat kendala teknis muncul di jalan.

Itulah yang diyakini Suripto (67), warga Medokan Ayu yang sejak pandemi 2020 memutuskan menggeluti usaha tambal ban, yang memberikan manfaat kepada banyak orang. 

Suripto yang suka guyon

Bukan tanpa alasan. Pria yang dulu aktif sebagai pemborong proyek perumahan dan renovasi itu di usia 60 tahun beralih usaha. Bukan berhenti. Ini karena satu keyakinan: emoh diam.

“Diam justru bikin kesehatan melemah. Saya ingin terus berbuat manfaat", katanya seraya menambahkan bahwa tambal ban bukan sekadar bisnis, ada nuansa membantu.

Maka tambal ban pun dipilih. Dan untuk itu, Suripto tak perlu belajar dari awal. Lulusan SMK jurusan mesin ini, semasa sekolah tahun 1975, pernah merintis usaha tambal ban di sisi kiri Swalayan Bilka, Ngagel Jaya Selatan—tepat di Jembatan Kalisumo.

Sering juga lokasinya sebagai "ampiran" Susilo (kiri) seksi kebersihan RW2

“Dulu saya merasakan hal membahagiakan: melihat seseorang tersenyum, setelah motor atau sepedanya bisa dipakai lagi meneruskan perjalanan.”

Kini, setelah mantap meninggalkan profesi sebagai pemborong, Suripto setiap hari bisa ditemukan di bengkel tambalnya yang sederhana. 


Lokasinya persis berseberangan dengan pintu depo sampah satu-satunya di Medokan Ayu—di sisi kiri (tampak luar) pintu gerbang belakang kawasan perumahan MA2 atau Medokan Asri Tengah.

Mengapa Usaha Tambal Ban Itu Seperti "Penyelamat"?

Solusi darurat di jalan – Ban bocor bisa terjadi kapan saja. Keberadaan tukang tambal ban mencegah pengendara terdampar.

Mencegah kecelakaan – Tambal yang benar (vulkanisir dingin/panas) mengembalikan fungsi ban dengan aman.

Biaya terjangkau – Cukup Rp15.000 untuk motor, jauh lebih murah daripada ganti ban baru.

Warga Medokan Ayu (kanan) menunggu saat mengganti ban.

Memberdayakan ekonomi kecil – Modal kecil, hasil harian stabil.

Lokasi fleksibel & strategis – Bisa di pinggir jalan, dekat pasar, sekolah, atau permukiman padat.

Menopang mobilitas kelas pekerja – Motor adalah tulang punggung ojek, buruh, dan usaha kecil. Tambal ban cepat menjadi penyelamat produktivitas mereka.

Menambal ban motor warga Griya Pedona Asri, yang setiap hari dipakai transpotasi kuliah.

Tak Hanya Ban: Jago Gulung Dinamo Juga
Berbicara dengan Suripto, ternyata ia juga menguasai soal dinamo mobil. 

Pada tahun 1970, keluarganya pindah dari Ngagel Tama Tengah ke kawasan Baratajaya, dia akrab dengan pusat reparasi dinamo di sana. 

Salah satu teman sekolahnya—putra pemilik usaha gulung dinamo. Dia pun sambil sekolah bergabung kerja disana.

Tapi di usia lansia, Suripto lebih memilih "menyulam ban"—katanya—karena kebutuhan warga paling tinggi untuk tambal ban motor dan sepeda anak sekolah.

Di bengkelnya, anak-anak sekolah sering mampir sekadar tambah angin ban. Ini bukan termasuk tambahan pendapatan. Riilnya Suripto sering membebaskan biayanya.

Warga Tetap Medokan Ayu Sejak 1998
Suripto, ayah dari 6 anak dan 9 cucu ini,  warga tetap Medokan Ayu sejak 1998. Tercatat sebagai warga RW 13, tepatnya di Jalan Medayu Utara XVIII-2, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. (red)

Kamis, 23 April 2026

Dari Loper Koran hingga Perwira TNI AU: Ketulusan yang Membawa Kedamaian dari Ketua RT11 RW02 Medokan Ayu

Saat reuni angkatan Tamtama TNI-AU 2021, Mayor TNI-AU (Purn) R. Eddy Agus subekti mengenakan kostum awal di militer pangkat Prada (Ke-2 dari kiri)

InfoMedokanAyu - Pengabdian yang lahir dari ketulusan tanpa pamrih nyatanya menghadirkan hikmah luar biasa. Hikmah terbesar bukanlah jabatan atau materi, melainkan kedamaian batin dan keridhaan Allah—yang nilainya melampaui segala imbalan dunia. 

Itulah catatan positif perjalanan hidup R. Eddy Agus Subekti, warga Medokan Ayu, yang dipercaya sebagai Ketua RT11 RW02 Medokan Ayu untuk masa bakti 2023–2027.

Perjalanan Hidup yang Luar Biasa
Perjalanan hidup Eddy bisa dibilang tak biasa. Ia berkarir di TNI AU, masuk dari level terendah sebagai Tamtama, dan pensiun sebagai Perwira. Loncatan-loncatan pangkat yang ia raih diakuinya sebagai hikmah dari-Nya.

Dengan tinggi 175 Cm—semangatnya luar biasa—pria sederhana kelahiran Surabaya ini adalah alumnus SMA Negeri 3. 

Keputusannya untuk berkarier di militer berawal dari rasa tanggung jawab kepada sang ibu, seorang janda yang berjuang sendirian. 

Ayahnya, anggota TNI AL asal Subang, Jawa Barat, meninggal pada tahun 1970-an. Saat ayahnya tiada, hilang pula berkas-berkas kedinasan, sehingga keluarga tak langsung menerima uang pensiun.

Sang ibu, seorang janda marinir yang tangguh, lalu berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Menu Kolak, bakso, dan gorengan adalah menu andalan yang ia jajakan di rumahnya kawasan Juwingan, tak jauh dari Pasar Pucang Anom. Baru beberapa tahun kemudian, pensiun ayahnya bisa diterima.

Kenangan awal bergabung di TNI-AU dengan pangkat Prada. Yang bersangkutan jongkok ke-3 dari kiri.

Anak Sulung yang Tak Pilih-Pilih Kerja
Bertolak dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara (dua adiknya perempuan dan laki-laki), Eddy tak memilih-milih pekerjaan yang sesuai ijazah. 

Ketika lowongan masuk TNI AU untuk Tamtama dibuka, ia langsung mendaftar. 

Baginya, yang penting bisa meringankan beban orang tua. Apalagi, menjadi anggota TNI adalah keinginan terkuatnya.

Niat ingin meringankan beban orang tua itu sudah tertanam sejak ia duduk di bangku SD. Waktu itu, anak laki-laki kelahiran Surabaya ini bersekolah di SD Mariam Manyar Sabongan yang bernuansa Islami. 

Kebetulan, ada tetangganya yang menjadi loper koran. Saat memasuki SMP di Muhammadiyah V Pucang, Eddy ikut belajar menjadi loper koran dari temannya, hingga akhirnya ia menjalani sendiri.

Dari hasil meloper, biaya sekolahnya mampu ia penuhi sendiri. Juga selalu berbagi dengan dua adiknya.

Pekerjaan sampingan ini terus ia jalani hingga kelas 1 SMA. Sejak kelas 2 SMA, sang ayah dari satu putri ini memperoleh beasiswa, sehingga kegiatan loper pun ia tinggalkan.

R. Eddy Agus Subekti (kiri) berfoto kenangan dengan dosen (tengah) dan kerabat se-angkatannya.

Keberuntungan dari Sebuah Mobil VW Kodok
Ketika melepas kegiatan loper, keberuntungan lain menghampiri. Sejak kelas 2 SMA, berangkat sekolah tak perlu repot lagi. Setiap pagi, ia cukup berdiri di pinggir Jalan Ngagel Jaya, lalu sebuah mobil VW Kodok menghampiri dan mengantarkannya hingga ke sekolah di Kenjeran. 

Di dalam mobil itu ada teman laki-lakinya, yang diantar mobil dinas oleh sopir—ayah dari temannya itu. Namun, untuk pulang sekolah mereka berdua harus berusaha sendiri. "Cari tumpangan agar bisa jajan di sekolah," kenangnya.

Hidup di jalanan sebagai loper, yang ia jalani bukan karena pamrih untuk kepentingan sendiri, justru membuahkan pelajaran hidup yang membekali setiap langkahnya kini. 

Begitupun yang ia praktikkan selama di militer: semua dijalani dengan tulus demi negara. Perjalanan dinasnya pun lancar, bahkan bisa dibilang luar biasa.

Loncatan Karir yang Tak Terduga
Pada 1983, Eddy masuk TNI AU lewat jalur Tamtama dengan pangkat Prajurit Dua (Prada). 

Setahun kemudian, ia terpilih mengikuti pendidikan teknik radar di beberapa kota, antara lain Bandung, Solo, dan Madiun. 

Dari sinilah awal loncatan terjadi. Ia langsung mengikuti pendidikan Bintara—hanya satu bulan! Setelah itu, ia langsung ditugaskan di Pulau Natuna selama empat tahun.

Di Natuna, pada tahun 1988, ia menikah dengan belahan hatinya yang tak lain adalah tetangganya sendiri di Surabaya. Allah SWT mengaruniai mereka seorang putri—satu-satunya—yang kini bekerja di sebuah rumah sakit Surabaya, sesuai dengan pendidikan keperawatannya.

Bertugas di Timur Indonesia, Bernostalgia di Surabaya
Kemudian, dinas memutasi Eddy ke Solo, di Lanud Adi Soemarmo. Sepuluh tahun di Solo, hingga tahun 2000 ia masuk Setukpa (Sekolah Pembentukan Perwira) di Solo selama 11 bulan. 

Pangkatnya naik menjadi Letnan Dua. Tugas baru pun diembannya: kembali ke Indonesia Timur, tepatnya Biak, Papua, hingga 2016. 

Di akhir masa tugasnya, ia bergeser lagi ke Surabaya, bertugas di Pusat Pendidikan dan Latihan Pertahanan Udara Nasional (Pusdiklat Hanudnas) TNI-AU.

Di Pusdiklat ini, ia menempati rumah dinas sekaligus bernostalgia dengan masa SMA-nya. Lokasinya di Kenjeran, sekawasan dengan SMA Negeri 3. 

"Setiap pagi ketika jalan-jalan, saya selalu mengarah ke sekolah SMA yang menyimpan banyak kenangan itu," ujarnya.

Pensiun, Namun Hikmah Tak Pernah Berakhir
Menurut ayah yang kini memiliki tiga cucu dengan menantu juga dari TNI AU ini, hikmah terbesar adalah kedamaian batin dan keridhaan Allah yang nilainya melampaui segala imbalan materi. 

Ia pensiun pada 2019 sebagai purnawirawan TNI AU dengan pangkat terakhir Mayor (Elektronika). Namun, ketulusannya terus ia praktikkan sebagai Ketua RT, melayani warganya tanpa pamrih.

Setidaknya, ada 10 hikmah yang ia rasakan dari perjalanan hidup yang penuh loncatan dan ketulusan:

Ketenangan batin dan kebahagiaan sejati – Tidak mengharap imbalan membuat hati terasa ringan, jauh dari kecewa, dan merasakan kebahagiaan yang tidak tergantung pada faktor luar.

Keikhlasan yang memperkuat spiritualitas – Ibadah atau pengabdian menjadi lebih murni, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta meningkatkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah amanah.

Dipercaya dan dihormati orang lain – Orang yang tulus tanpa pamrih akan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat yang tulus dari sesama, tanpa perlu meminta.

Merasa hidup bermakna (meaningful life) – Pengabdian yang tulus memberikan rasa bahwa hidup berguna bagi orang lain, sehingga mengurangi rasa hampa atau egoisme.

Memperkuat hubungan sosial dan ukhuwah – Kebaikan tanpa pamrih menciptakan ikatan batin yang kuat, karena orang merasakan ketulusan, bukan transaksi.

Menarik pertolongan dan kemudahan dari Allah – Dalam pandangan Islam, siapa yang memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Melatih kesabaran dan ketangguhan mental – Tanpa pamrih, seseorang tidak mudah kecewa saat hasil tak sesuai harapan, justru belajar ikhlas dan tabah.

Menjadi teladan (uswah hasanah) – Sikap tulus menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, sehingga kebaikan menyebar tanpa dipaksakan.

Terhindar dari penyakit hati (riya', sombong, iri) – Ketulusan membersihkan niat, sehingga hati menjadi lebih bersih dan damai.

Mendapatkan balasan yang berlipat ganda di akhirat – Amal yang ikhlas karena Allah akan dibalas dengan pahala tak terkira; bahkan di dunia pun sering datang rezeki tak terduga.

Keluarga R. Eddy Agus Subekti ini menempati rumah sekarang, ketika berlangsung nya Pandemi Covid pada 2021.

Baginya memiliki rumah di Surabaya ini, juga sebuah keberuntungan dariNYA. Diberikan harga super murah.

Awalnya ia ingin hidup di kawasan Krian, Sidoarjo. Harga lahannya jauh lebih murah ketimbang Surabaya.

Dirintisnya rumah di Krian, yang kini sebagai rumah kos. Pilih menempati Surabaya, demi anak dan sekolah cucu-cucunya.

Penutup:
Dari seorang anak sulung yang meloper koran, menjadi Tamtama, lalu melompat menjadi Perwira, hingga kini mengabdi sebagai ketua RT—R. Eddy Agus Subekti membuktikan bahwa ketulusan tanpa pamrih bukanlah jalan yang merugi. Justru di sanalah letak hikmah dan kedamaian sejati. (red)

#KetulusanTanpaPamrih #HikmahKehidupan #KedamaianBatin #KeridhaanAllah #PengabdianSejati

#DariLoperKoran #DariTamtamaKePerwira #LoncatanKarir #InspirasiHidup #AnakSulungTangguh #PerjuanganIbuJanda

#R.EddyAgusSubekti #KetuaRTMedokanAyu #PurnawirawanTNI #MayorElektronika #AlumniSMAN3Surabaya

#TNI #TNIAU #Tamtama #Perwira #Setukpa #TeknikRadar #LanudAdiSoemarmo #BiakPapua #Natuna

#MedokanAyu #Surabaya #Juwingan #PucangAnom #Kenjeran

#Ikhlas #Bermakna #UswahHasanah #Ukhuwah #SabarDanTangguh #TerhindarDariPenyakitHati #PahalaBerlipat


#HidupAdalahPengabdian #RezekiTakTerduga 
#Keteladanan