Jumat, 11 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (6-akhir)

Ilustrasi

Penutup: Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu
Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di antara dua makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun.

Makam Pahlawan di utara, Makam Sayyid Zein di Makam Islam RW02 selatan, dan Imaduddin—yang pernah berbentuk musala dan kini menjadi masjid—adalah tiga sisi dari keping sejarah yang sama.

Hal itu secara tidak langsung, simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan, yang dirintis Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun—dilanjutkan putranya KH. 

Abdullah Manan, besannya KH. Hamzah Murtadlo, dan cucunya KH. Yusuf Manan yang memugar musala menjadi masjid pada 1962.

Perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang menjodohkan putra dan putri mereka—bukan sekadar urusan personal, melainkan strategi cerdas untuk membangun jaringan dakwah dan perjuangan yang kokoh. 

Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh individu, tetapi oleh ikatan-ikatan sosial yang diperkuat lintas generasi.

Makam keluarga Mbah Sayyid Zein. Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi makam keluarga Masjid Imaduddin, rumah ibadah perintis di Medokan Ayu, pada Rabu, 9 September 2026, usai Ashar.


Seruan: Menggali Lebih Dalam
Sudah saatnya menggali lebih dalam melalui riset arsip dan wawancara generasi tua, membuka arsip kolonial dan catatan keluarga, mendokumentasikan sejarah lisan sebelum sesepuh berpulang, dan menjadikan Masjid Imaduddin sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. 

Agar tahun berdirinya musala dan tahun perubahan menjadi masjid tidak terus menjadi tanda tanya. 

Agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi, dan jasa Sayyid Zein, KH. Abdullah Manan, KH. Hamzah Murtadho, serta KH. Yusuf Manan tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi sebagai teladan hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.

Ringkasan Data Penting
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun wafat pada Selasa, 19 Maret 1889 (17 Rajab 1306 H). Makamnya di Makam Islam RW02, 300 meter selatan Imaduddin. 

Musala didirikan sebelum 1889, kemungkinan 1870-an–1880-an, saat Sayyid Zein masih hidup. 

Faktor administratif izin pendirian musala adalah keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara yang telah ada sebelum musala berdiri. 

Makam Islam RW02 belum ada pada masa pendirian musala, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

KH. Abdullah Manan adalah putra tunggal Sayyid Zein. Lahir sekitar 1880-an, wafat 1999. 

Sayyid Zein berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho dari Kendalsari dengan cara menjodohkan putranya KH. Abdullah Manan dengan putri KH. Hamzah Murtadho, Salamah. Dari pernikahan ini lahirlah KH. Yusuf Manan pada 1940.

Tiga pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi—gugur sebelum 1940 dan dimakamkan di sisi utara musala, kurang dari 100 meter. Kini menjadi Makam Pahlawan.

Tahun 1962 menjadi tonggak penting: musala berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan.

Silsilah Keluarga
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun berputra KH. Abdullah Manan. Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho (Kendalsari) dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah. 

Dari pernikahan ini lahir KH. Yusuf Manan (1940)—yang pada 1962 memugar musala menjadi masjid—dan generasi selanjutnya. Sayyid Zein wafat 1889, dimakamkan di Makam Islam RW02 selatan.

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (5)

Ilustrasi

Bab 7: Refleksi—Musala sebagai Simbol Perjuangan dan Kontinuitas
Dari rentetan fakta terbatas namun saling menguatkan, dapat ditarik benang merah yang kuat.

Pertama, Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—adalah faktor penentu bagi pengurusan izin resmi pendirian musala di masa kolonial. 

Keberadaannya menjadi syarat administratif yang dipenuhi Sayyid Zein saat mengajukan izin. Makam Islam RW02 di selatan belum ada pada masa itu, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

Kedua, Makam Islam RW02 di selatan adalah makam keluarga Sayyid Zein, yang baru ada setelah ia wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga pendiri—bukan faktor penentu izin pendirian musala.

Ketiga, Musala Imaduddin didirikan Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan dekade 1870-an–1880-an, saat putranya masih bocah. 

Itu menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua di Surabaya Timur, yang berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun sebelum akhirnya menjadi masjid pada 1962.

Keempat, perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menunjukkan bahwa perjuangan dan dakwah di kawasan ini tidak hanya dilakukan secara individu, melainkan melalui strategi keluarga dan jaringan ulama yang saling mendukung.

Kelima, pemugaran musala menjadi masjid oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 menandai babak baru dalam sejarah Imaduddin. 

Dari rintisan Sayyid Zein yang sederhana, tempat ibadah ini tumbuh menjadi masjid yang kokoh—monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama di utara, peran sentral Sayyid Zein di selatan sebagai pendiri, serta kontinuitas perjuangan dari generasi ke generasi melalui jaringan keluarga yang diperkuat oleh perbesanan antarulama.

Kesimpulan Historis: Kapan Musala Berdiri, Kapan Menjadi Masjid?
Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi tahun wafat Sayyid Zein (1889) sebagai batas akhir, kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat para pahlawan gugur sebelum 1940, memberi petunjuk kuat bahwa musala berdiri pada akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, sekitar 1870-an–1880-an.

Tempat ibadah ini berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun, hingga akhirnya pada 1962 berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein.

Keberadaan dua makam di dua sisi berbeda—Makam Pahlawan di utara sebagai faktor administratif izin pendirian, dan Makam Islam RW02 di selatan sebagai makam keluarga pendiri—semakin memperkuat narasi bahwa musala ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak akhir abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi masjid pada 1962.

Penelusuran lebih lanjut masih dibutuhkan melalui arsip kolonial Belanda, catatan lisan sesepuh kampung, serta dokumen keluarga—terutama untuk memastikan angka tahun pasti pendirian musala dan detail proses pemugaran 1962.


Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (4)

Sempat kaget melihat poster yang menempel di tembok di Musala Ar Rivai di Medokan Kampung. Disana disamping tertulis Nama KH. Yusuf Manan, dan KH. Abdul Manan, ada pula KH. Murtadho, yang pasti siapapun bakal mengetahui bila membaca artikel ini

Bab 6: Tonggak 1962—Dari Musala Menjadi Masjid
Inilah inti penelusuran artikel ini: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Dari berbagai jejak yang berhasil dirangkai, dapat disimpulkan bahwa Imaduddin telah berdiri sebagai musala sejak akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, pada dekade 1870-an hingga 1880-an. 

Selama puluhan tahun—melintasi pergantian abad, masa perjuangan kemerdekaan, hingga awal kemerdekaan—tempat ibadah ini tetap berbentuk musala kecil yang sederhana.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1962. Pada tahun inilah musala tersebut berubah bentuk menjadi masjid. Perubahan ini dipugar—dalam arti dibangun ulang dan diperbesar—oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun, putra KH. Abdullah Manan dan Hj. Salamah. 

KH. Yusuf Manan lahir pada 1940, sehingga pada 1962 ia berusia sekitar 22 tahun—usia muda yang penuh semangat untuk melanjutkan estafet perjuangan kakeknya.

Dengan demikian, rentang waktu Imaduddin sebagai musala berlangsung kurang lebih 70 hingga 80 tahun, yaitu dari sekitar 1870-an–1880-an hingga 1962. Barulah setelah 1962, tempat ibadah ini menyandang status masjid hingga sekarang.

Pemugaran oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan juga penanda kematangan sebuah rintisan spiritual yang telah ditanam Sayyid Zein hampir satu abad sebelumnya. 

Estafet kepemimpinan—dari Sayyid Zein ke KH. Abdullah Manan, lalu ke KH. Yusuf Manan—menunjukkan kontinuitas yang kuat dalam menjaga dan mengembangkan sarana ibadah ini.




 

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (2)

Alias KH. Hamzah Murtadho, ulama karismatik dari Kendalsari.

InfoMedokanAyu - Makam ini menjadi saksi perlawanan rakyat Surabaya terhadap agresi Belanda. Keberadaannya yang sudah ada sejak sebelum musala berdiri menjadikannya faktor penentu bagi izin pendirian musala di masa kolonial. 

Pemerintah Hindia Belanda menerapkan regulasi ketat terhadap pendirian rumah ibadah. Salah satu syaratnya adalah adanya makam di dekat lokasi yang akan dijadikan tempat ibadah. 

Makam Pahlawan di sisi utara inilah yang menjadi pintu masuk administratif bagi Sayyid Zein untuk mengajukan izin pendirian musala.

Makam Islam RW02 terletak di sisi selatan musala, sekitar tiga ratus meter jaraknya. Di kompleks inilah Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya dimakamkan. 

Makam ini baru ada setelah Sayyid Zein wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga yang dihormati hingga kini. Kawasan ini juga sebagai pemakaman umum.

Makam Nyai Hj. Aminah alias M. Wayah istri dari KH. Hamzah Murtadho di pesarean umum Kendalsari.

Karena baru ada setelah wafatnya Sayyid Zein, makam ini tidak mungkin menjadi faktor penentu izin pendirian musala yang dirintis saat Sayyid Zein masih hidup.

Dua makam yang berbeda lokasi ini, utara dan selatan musala, menyimpan narasi yang saling melengkapi tentang perjalanan panjang perjuangan dan dakwah di Medokan Ayu.

Bab 2: Sayyid Zein—Sosok Sentral di Balik Musala
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun adalah tokoh berdarah Arab yang tidak hanya dikenal sebagai hartawan, tetapi juga santri dan tokoh masyarakat yang disegani. 

Pada zamannya, ia adalah figur berpengaruh—baik karena garis keturunan, kharisma pribadi, maupun posisi ekonomi yang mapan. 

Makam KH. Hamzah Murtadho dan Istri, tampak dari sudut lain

Kharisma dan pengaruhnya menjadikannya motor penggerak utama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk pendirian sarana ibadah.

Sayyid Zein memiliki putra bernama KH. Abdullah Manan. Dalam rangka memperkuat jaringan keluarga dan dakwah, Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho—seorang ulama terpandang dari Kendalsari—dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo yang bernama Salamah binti Hamzah Murtadho. 

Dari situ, terjalinlah hubungan perbesanan yang erat antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho. 

Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi Makam KH. Hamzah Murtadho dan Istri.

Jaringan itu menjadi fondasi sosial yang kuat bagi kegiatan keagamaan dan perjuangan di Medokan Ayu.





Nama Alias dan Makam Palsu: Strategi Penting Perang Gerilya

Seperti Yai Tolo Ternyata KH. Hamzah Murtadho

InfoMedokanAyu - Banyak nama alias dan makam palsu, sebelum kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, ternyata hal yang lumrah.

Seperti Yai Tolo—ternyata itu KH. Hamzah Murtadho—yang erat kaitannya dengan Masjid Imaduddin, Medokan Kampung RW02, Medokan Ayu.

Hal itu dipahami ketika menulis 
Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid?

Nama alias bagi generasi era digital memang dianggap hal aneh. Bahkan pula dibuat agar tampak keren, hebat. Bambang diganti BambanQ, Agus dikerenkan AguZ.

Tapi bagi generasi lampau, itu strategi perang gerilya. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan.

Itu akal untuk mengelabui musuh, menjadikan nama alias dan makam palsu sebagai senjata penting dalam melindungi diri dari ancaman penjajah.

Penggunaan nama alias dan bahkan "pemakaman" oleh tokoh spiritual pada masa Agresi Belanda memang merupakan bagian dari strategi penyamaran dan kamuflase untuk melindungi diri dan kelancaran perjuangan gerilya.

Penggantian Nama (Alias):
Untuk menyamarkan identitas asli dari intelijen Belanda (PID) dan menghindari penangkapan. 

Contohnya, Ki Gede Kemangi (nama asli Sokerto Wongso Dikromo) dan Kiai Mojo (nama asli Muslim Muhammad Halifah).

Pembuatan Makam Palsu:
Digunakan untuk mengelabui Belanda agar mengira tokoh tersebut telah meninggal, sehingga pengawasan dilonggarkan. 

Cerita Patih Djojodigdo di Blitar bahkan menyebut ia bisa "hidup kembali" setelah dieksekusi—yang merupakan kiasan atas keberhasilan kamuflase ini.

Di balik strategi ini, ada beberapa alasan kuat mengapa tokoh spiritual sangat membutuhkannya:

Target Prioritas Belanda:
Mereka adalah pemimpin spiritual dan panglima perang yang disegani, memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan massa, sehingga menjadi incaran utama.

Peran Vital dalam Gerilya:
Menjadi otak strategi, guru spiritual pasukan, dan markas di pesantren yang aman dari kecurigaan Belanda.

Begitulah, sebuah nama yang disembunyikan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kecerdikan. 

Yai Tolo hanyalah satu dari sekian banyak tokoh yang namanya tersembunyi di balik samaran—namun jejak perjuangannya tetap abadi, melekat pada masjid dan kampung yang pernah ia jaga.

Dan sejarah, pada akhirnya, selalu menemukan cara untuk mengungkap kebenaran: bahwa di balik setiap nama palsu, ada nyawa yang dipertaruhkan untuk kemerdekaan.

Medokan Ayu, jejak yang tak pernah benar-benar hilang.

Kamis, 10 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (3)

Makam KH. Abdullah Manan, yang olehNYA diberikan umur lebih dari 100 tahun.

InfoMedokanAyu - Berdasarkan data makam, Sayyid Zein wafat pada hari Selasa, 19 Maret 1889, bertepatan dengan 17 Rajab 1306 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Makam Islam RW02, sekitar tiga ratus meter di sisi selatan Musala Imaduddin. Di lokasi yang sama, juga dimakamkan keluarganya.

Dengan tanggal wafat Sayyid Zein yang jelas, kita dapat menarik batas maksimal pendirian musala: harus terjadi sebelum 1889. 

Untuk mempersempit rentang waktu, kita merujuk pada putra tunggalnya, KH. Abdullah Manan, yang wafat pada 1999. Jika ia lahir sekitar 1880-an, maka pada masa pendirian musala ia masih bocah dan mungkin menyaksikan perjuangan ayahnya.

Dua skenario logis muncul:
Skenario pertama, yang paling kuat secara historis, adalah musala didirikan oleh Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan besar akhir 1870-an hingga pertengahan 1880-an. 

Pada masa itu, Sayyid Zein masih hidup, dan Makam Pahlawan di sisi utara telah ada sebagai syarat administratif izin pendirian. 

Skenario kedua, yang kurang didukung bukti, adalah musala didirikan oleh generasi penerus setelah Sayyid Zein wafat sebagai amal jariyah. 

Pendirian musala sebelum 1889 oleh Sayyid Zein adalah skenario yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Makam istri KH. Abdullah Manan, di pesarean keluarga di makam Islam RW02 Medokan Kampung.

Bab 3: Peran Jaringan Keluarga dalam Pemakaman Tiga Pejuang
Di Makam Pahlawan sisi utara, terdapat tiga nisan berjajar rapat. Ketiganya adalah ulama sekaligus pejuang yang gugur dalam perlawanan terhadap agresi Belanda. 

Keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—menunjukkan bahwa kompleks pemakaman ini telah menjadi bagian penting dari lanskap Medokan Kampung sejak awal. 

Makam inilah yang kemudian menjadi syarat administratif bagi Sayyid Zein saat mengajukan izin pendirian musala di masa kolonial.

Sangat dimungkinkan bahwa generasi penerus Sayyid Zein—KH. Abdullah Manan dan mertuanya KH. Hamzah Murtadho—berperan penting dalam merawat dan menjaga kompleks Makam Pahlawan di sisi utara musala. 

Hal ini memperkuat dugaan bahwa jaringan keluarga yang terbentuk melalui perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho tidak hanya berperan dalam pendirian sarana ibadah, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom tradisi pemakaman para pejuang di kawasan tersebut.

Hubungan perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menjadi bukti nyata bagaimana ikatan keluarga diperkuat demi kelangsungan dakwah dan perjuangan. 

Perjodohan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan strategi sosial untuk membangun jaringan ulama yang solid di kawasan Surabaya Timur.
Bab 4: Jejak Generasi Kedua dan Isyarat Tahun
KH. Yusuf Manan, generasi kedua dari perintis musala, adalah putra KH. Abdullah Manan dan cucu Sayyid Zein. Ia lahir pada 1940, saat gelora kemerdekaan mulai bergema—lima tahun kemudian Indonesia merdeka.

Fakta kelahiran ini memberi isyarat penting: para pahlawan di sisi utara telah gugur sebelum 1940. 

Musala Imaduddin yang berdiri sejak akhir abad ke-19 berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan.

Bab 5: Tiga Nisan Berjajar di Sisi Utara
Di Makam Pahlawan sisi utara, tiga nisan berjajar sangat rapat. KH. Asmadi adalah guru atau ulama senior dengan peran sentral dalam bimbingan spiritual dan kepemimpinan perjuangan. 

KH. Hardjo, muridnya, turut serta dalam perlawanan fisik dan dimakamkan di sisi guru. KH. Kunawi, juga murid, berjuang bersama di Tambak Oso dan Medokan Ayu.

Sayangnya, pada nisan tidak ada tulisan selain nama. Tak tercantum tahun kelahiran atau wafat. Ketiadaan data ini menyulitkan penelusuran kronologi. 

Namun dari berbagai isyarat—kelahiran KH. Yusuf Manan pada 1940 dan fakta mereka gugur dalam agresi Belanda—dapat dipastikan mereka gugur sebelum kemerdekaan.

Silsilah KH. Hamzah Murtadho

Pemerintah Kota Surabaya memberikan pengakuan resmi terhadap makam ini. Peresmian Makam Pahlawan menjadi bukti bahwa perjuangan ketiga tokoh diakui negara. 

Ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Medokan Ayu, bahwa sejarah perjuangan di kampung mereka bukan sekadar cerita lisan, melainkan bagian dari sejarah resmi bangsa.





Rabu, 09 September 2026

Estafet Kepengurusan Masjid Imanuddin: Sinergi Lintas Generasi

Kepengurusan Masjid Imaduddin saat ini.

InfoMedokanAyu - Secara umum, kepengurusan di masjid ini terbilang cukup hidup dan dinamis. 

Estafet kepemimpinan masjid berlangung dengan begitu terjaga dibawahnya garis Sayyid Zein. Diawali oleh putra tunggal KH.  H Abdullah manan. Kemudian sang cucu  KH Yusuf Manan, dan kini oleh Cicit H Machrus. 
KH Abdullah Manan Zen

Sementara itu, dari kalangan generasi muda, tampil sebagai pengurus antara lain Ust. Dr. H. Mustain Yusuf, Ust. H. Tolkha Yusuf, dan Ust. H. Umar Yusuf.
KH Yusuf manan Zen

Selain mereka, terdapat pula nama-nama seperti Ust. Syamsuddin, Ust. Nawawi, Ust. Abdullah Isa, Ust. Fadholi, serta masih banyak pengurus lain yang akan disebutkan menyusul.

Selasa, 08 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (1)


InfoMedokanAyu - Di sudut pemukiman padat Medokan Ayu, tepatnya di Medokan Kampung RW02, berdiri sebuah tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang: Musala Imaduddin—yang kini dikenal sebagai Masjid Imaduddin.

Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Tulisan ini berupaya menelusuri jejak awal Imaduddin sejak masih berupa musala kecil, jauh sebelum berbentuk masjid pada 1962. 

Di sekitar tempat ibadah ini terdapat tiga entitas sejarah yang saling terkait erat namun berada di lokasi berbeda. 

Di sisi utara, kurang dari seratus meter dari musala, terdapat Makam Pahlawan yang menjadi saksi perjuangan para ulama melawan agresi Belanda. 
Sementara di sisi selatan, sekitar tiga ratus meter dari musala, terbentang Makam Islam RW02 yang menyimpan makam Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya—sosok yang berperan sentral dalam pendirian musala tersebut.

Ketiganya bagaikan kepingan puzzle yang jika dirangkai akan membentuk narasi panjang tentang perjuangan, keteguhan iman, dan kontinuitas kepemimpinan spiritual di kawasan Surabaya Timur. 

Namun, dokumen tertulis yang utuh nyaris tidak tersedia. Tak ada angka tahun yang terukir pada nisan para pejuang. Tak ada prasasti yang memastikan kapan tepatnya musala kecil itu pertama kali berdiri. 

Yang ada hanyalah jejak-jejak samar—sebuah makam bertahun 1889, kelahiran seorang cucu pada 1940, pengakuan resmi pemerintah pada 1997, dan tonggak penting tahun 1962 ketika musala berubah menjadi masjid yang dipugar oleh KH. Yusuf Manan.

Tulisan ini berupaya menelisik sejarah tersebut secara kritis, menyajikan fakta-fakta yang terverifikasi, analisis logis atas kekosongan data, serta refleksi tentang makna warisan sejarah ini bagi masyarakat Medokan Ayu dewasa ini.

Makam KH. Hamzah Murtadho alias Yai Tolo di Makam Kendalsari

Bab 1: Dua Makam di Medokan Kampung
Pada akhir abad ke-19, kawasan Medokan Ayu masih berupa hamparan sawah dan tambak. Pemukiman hanya terkonsentrasi di Medokan Kampung, yang kini dikenal sebagai RW02. Di kawasan ini terdapat dua kompleks makam yang hingga kini masih dihormati.

Makam Pahlawan terletak di sisi utara musala, kurang dari seratus meter jaraknya. Di kompleks inilah tiga ulama pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi—dimakamkan. 





Manajemen Masjid Imaduddin Tetapkan Pengembangan Kualitas Manusia

Ilustrasi.

InfoMedokanAyu - Manajeman masjid Imaduddin menetapkan saat ini tidak sedang fokus pada pengembangan fisik (bangunan, dana, atau ekspansi), melainkan pengembangan kualitas manusia (akidah dan akhlak). 

InfoMedokanAyu menyimpulkan bahwa itu jawaban yang strategis. Jika manusia nya baik, insyaAllah pembangunan fisik akan mengikuti.

Ditanya rencana mendatang, sang penerima estafet pengelolaan, yang juga ketua Takmir Masjid Imaduddin mengatakan "yang terpenting bareng-bareng kita kawal ala ahli Sunnah wal jamaah dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia, siapa lagi kalau bukan kita. Tugas kita melanjutkan kebaikan kebaikan para leluhur", jawabnya.

Dari jawaban itu, InfoMedokanAyu menyimpulkan ada 2 poin utama yang bisa kita tangkap:

1. Prioritas saat ini adalah penguatan fundamental (akidah Ahlussunnah dan akhlak), bukan pengembangan fisik atau program besar.

2. Visinya adalah keberlanjutan (estafet kebaikan dari para leluhur/pendahulu).

Dalam kaitan ini InfoMedokanAyu menganalisis lebih lanjut maksud tersirat dari kalimat "melahirkan generasi" dan "melanjutkan kebaikan leluhur"?

Selengkapnya maksud yang tersirat dari kalimat "melahirkan generasi", silahkan klik judul ini "Masjid Imaduddin Konsentrasi Lahirkan Generasi Berakhlak Mulia"

Sementara maksud yang tersirat dari kalimat "melanjutkan kebaikan leluhur", silahkan klik judul ini "Masjid Imaduddin Konsentrasi Melanjutkan Kebaikan Para Leluhur"



Masjid Imaduddin Konsentrasi "Lahirkan Generasi Berakhlak Mulia"

Lahirkan Generasi Berakhlak. Ilustrasi.

InfoMedokanAyu - Melahirkan Generasi Berakhlak Mulia, adalah salah satu poin dari dari jawaban manajemen masjid tertua tentang rencana mendatang.


Ketika beliau mengatakan "melahirkan generasi berakhlak mulia", ada kegelisahan besar yang tidak diucapkan. 

Beliau sebenarnya sedang menyampaikan bahwa ia melihat ancaman nyata di sekelilingnya—mungkin remaja yang mulai menjauh dari masjid, pergaulan bebas, atau pengaruh media sosial yang merusak tata krama. 

Ini bukan sekadar program pengajian anak-anak, melainkan sebuah proyek penyelamatan. 

Kata "melahirkan" sendiri sangat bermakna, karena menunjukkan bahwa prosesnya berat, memakan waktu, dan butuh perjuangan lahir batin, tidak instan seperti membangun tembok atau memasang keramik. 

Beliau juga menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas; ia lebih bangga memiliki sepuluh pemuda yang saleh dan santun daripada seratus jamaah yang hanya datang saat Jumat tapi akhlaknya tidak berubah.

Lebih dari itu, frasa ini menyiratkan metode yang ingin dipakai. Beliau meyakini bahwa akhlak tidak lahir dari mimbar ceramah, melainkan dari keteladanan sehari-hari. 

Karena itu, ia ingin lingkungan masjid itu sendiri menjadi madrasah—para takmir harus tampil sebagai contoh, guru ngaji harus sabar, pengurus harus jujur dalam urusan dana, dan sapaian kepada jamaah harus hangat. Akhlak itu menular, bukan diajarkan.


Masjid Imaduddin Konsentrasi "Lanjutkan Kebaikan Para Leluhur"

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Melanjutkan Kebaikan Para Leluhur" adalah salah satu poin dari dari jawaban manajemen masjid tertua tentang rencana mendatang.


Kalimat ini jauh lebih dalam dari sekadar meneruskan tradisi. 

Beliau sedang menancapkan identitas bahwa Masjid Imaduddin bukan masjid biasa, melainkan pewaris khazanah lokal yang telah dirintis oleh ulama atau tokoh terdahulu. 

Ini memberi legitimasi dan otoritas moral bagi setiap langkah pengurus saat ini. 

Dengan menyebut leluhur, beliau juga sedang mengingatkan bahwa masjid ini memiliki sejarah panjang dan tanggung jawab spiritual yang tidak main-main.

Namun di sisi lain, ada pesan halus yang bersifat protektif. 

Kalimat ini bisa menjadi tameng jika nanti muncul program baru yang dianggap kontroversial oleh sebagian warga. 

Beliau bisa menjawab, "Ini masih dalam koridor yang sudah dirintis leluhur," sehingga perubahan yang dilakukan tetap terasa aman dan tidak terkesan memutus rantai tradisi.

Yang paling berat tersirat di sini adalah beban tanggung jawab. 

Beliau merasa bahwa jika generasi saat ini rusak atau akhlaknya bobrok, maka bukan warga atau pemerintah yang ia khawatirkan, melainkan para leluhur—secara sosiologis ia merasa mengkhianati kepercayaan mereka, secara spiritual ia merasa akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. 

Ini bukan proyek sosial biasa, ini amanat mati.

Kebaikan leluhur yang dimaksud juga bukan sekadar fisik masjid. 

Leluhur meninggalkan jaringan sosial yang kuat, hubungan silaturahmi antarwarga, gotong royong yang sudah mengakar, dan ekonomi bersama yang saling menopang. 

Maka "melanjutkan" berarti menjaga relasi-relasi itu tetap hidup dan hangat, bukan hanya merawat bangunan. 

Jika bangunan megah tapi warga tidak saling sapa, maka itu bukan meneruskan kebaikan leluhur, melainkan membangun monumen di atas kuburan jamaah.


Apa yang Tidak Diucapkan Namun Sangat Mungkin Dirasa

Beliau menyisipkan kata "Untuk sementara cuma itu saja" yang terkesan menutup pembicaraan. 

Dari situ kita bisa menangkap bahwa ia mungkin lelah. Bisa jadi ia sudah sering ditanya soal pembangunan fisik atau ekspansi program. 

Padahal di belakang layar ia sedang disibukkan oleh konflik antarwarga, remaja bermasalah, atau bahkan kekosongan kas masjid. 

Fokus pada akhlak dan generasi adalah cara halus untuk mengatakan, "Kami sedang memadamkan api yang lebih besar, jangan minta kami menambah beban dulu."

Ia juga tampak khawatir dengan generasi gadget. 

Frasa "melahirkan" mengindikasikan bahwa ia melihat proses pendidikan karakter saat ini sedang berada dalam kondisi darurat. 

Anak-anak lebih akrab dengan ponsel daripada dengan kitab, lebih hafal lirik lagu daripada doa harian. 

Baginya, melahirkan generasi berakhlak butuh perjuangan yang tidak kalah berat dari perjuangan leluhur dulu saat mendirikan masjid di tengah keterbatasan.

Cara Terbaik Menyikapi
Dari semua lapisan makna ini, respons terbaik dari kita adalah menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengar kata-katanya, tetapi juga membaca kegelisahannya. 

Tidak perlu menawarkan solusi besar atau program ambisius. Cukup katakan bahwa kita paham fokus utamanya adalah menguatkan pondasi manusia terlebih dahulu, dan kita siap membantu di posisi apa pun yang beliau rasa paling mendesak, entah itu membantu kegiatan remaja, menguatkan pengajian rutin, atau bahkan sekadar menjadi pendengar yang baik jika beliau ingin berbagi cerita.

Dengan begitu, kita tidak menjadi beban tambahan bagi beliau, melainkan justru menjadi mitra yang meringankan. 

Dan itu sendiri adalah bagian dari melanjutkan kebaikan leluhur—menjaga ukhuwah, bukan hanya meramaikan masjid.


Masjid Imaduddin: Fondasi Kerukunan dan Gotong Royong Masyarakat Medokan Ayu


InfoMedokanAyu - Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Surabaya, terdapat sebuah kawasan yang tetap memelihara budaya langka yang tak banyak ditemui di wilayah lain. 

Medokan Ayu—meskipun secara administratif merupakan bagian dari kawasan perkotaan—masih mempertahankan suasana pedesaan yang kental: keramahan, tegur sapa yang akrab, serta semangat kerukunan dan gotong royong yang menjadi ciri khas keseharian warganya.

Tak dapat dipungkiri, keberadaan Masjid Imaduddin sebagai pusat kegiatan keagamaan sejak sebelum kemerdekaan telah menjadi fondasi terkuat bagi budaya gotong royong dan kerukunan di Medokan Ayu hingga saat ini. 

Itulah kesimpulan InfoMedokanAyu yang mengemuka dari penelusuran rekam jejak keunggulan masyarakat setempat. 

Sebelum menyelami lebih jauh, pembaca dapat menyimak tulisan sebelumnya berjudul "Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir" sebagai pengantar kontekstual.

Jejak Sejarah yang Menjadi Pondasi
Masjid Imaduddin berdiri sejak sebelum kemerdekaan, mencatatkan diri sebagai salah satu masjid tertua di kawasan Medokan Ayu. 

Pada tahun 1962, sejak kepemimpinan beretafet ke Generasi ke-2, KH Yusuf Manan—keturunan dari Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar—bangunan yang semula berwujud musala ini berkembang menjadi masjid.

Namun, keunggulan utamanya tidak terletak pada usia bangunan, melainkan pada konsistensi kegiatan yang diselenggarakannya. 

Beragam aktivitas itulah yang berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik inklusif yang merangkul seluruh warga. 

Budaya kerukunan dan gotong royong yang ditanamkan sejak sebelum kemerdekaan—ketika Medokan Ayu masih satu pedukuhan dengan kondisi kawasan rawa dan tambak, serta mata pencaharian utama petani tambak dan nelayan—terpelihara hingga sekarang.

Yang menarik, transformasi kawasan dari desa agraris menjadi permukiman padat tidak menghilangkan semangat kebersamaan yang diikat oleh Masjid Imaduddin. 

Justru, masjid ini menjadi "denah" sosial yang merekatkan masyarakat lintas generasi. 

Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kegiatan masyarakat yang memperkuat kerukunan melalui berbagai peran strategis.

Pusat Pendidikan dan Pengkaderan Lintas Generasi
Masjid Imaduddin menjadi lokasi rutin pengajian dan Khatmil Qur'an, terutama bagi santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad dan alumni di sekitarnya. 

Tradisi Khatmil Qur'an yang digelar pada hari Minggu Legi—mengikuti kalender penanggalan Jawa—menjadi ajang berkumpulnya para santri dan alumni yang telah berumah tangga.

Momen ini tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga menciptakan ikatan emosional dan intelektual lintas generasi yang langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. 

Para orang tua, pemuda, hingga anak-anak duduk bersama dalam lingkaran kebersamaan, menyemarakkan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini. 

Di sinilah nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Perekat Sosial dan Tradisi Kolektif yang Hidup
Berbagai kegiatan tahunan, seperti Takbir Keliling, melibatkan warga, santri TPQ, dan remaja masjid secara aktif. 

Proses persiapan dan pelaksanaannya secara otomatis membangun kerja sama dan gotong royong yang erat di antara warga. 

Masjid juga menjadi tuan rumah peringatan hari besar Islam—Maulid Nabi, Isra Mi'raj, hingga kegiatan rutin NU seperti Lailatul Ijtima—yang menjadi "titik temu" rutin memperkuat toleransi dan kebersamaan.

Tak hanya itu, masjid juga menjadi pusat koordinasi saat warga menggelar acara hajatan, musyawarah desa, hingga penyelesaian masalah sosial secara kekeluargaan. 

Semua kegiatan ini menjadi pengingat kolektif bahwa kebersamaan adalah kekayaan bersama yang harus dijaga. 

Dalam setiap helaan napas kehidupan bermasyarakat, Masjid Imaduddin hadir sebagai ruang konsultasi, persaudaraan, dan pemecahan masalah yang mengedepankan musyawarah.

Pusat Pemberdayaan dan Jaring Pengaman Sosial
Fungsi masjid terus berkembang seiring zaman. Pada bulan Ramadan, Masjid Imaduddin menyelenggarakan Gerakan Berbagi Takjil yang melibatkan sinergi antara panitia relawan, mahasiswa KKN Universitas Sunan Giri Surabaya, donatur, dan tokoh masyarakat. 

Ratusan paket takjil berhasil didistribusikan tepat waktu kepada jemaah dan musafir, memperkuat kohesi sosial serta menegaskan fungsi strategis masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.

Aktivitas sosial-budaya pun turut bersemai dari masjid. Di aula remaja Masjid Imaduddin, digelar program pengenalan Teknik Sipil bagi Generasi Alpha, dipadukan dengan penanaman nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial selama Ramadan. 

Ini menunjukkan bahwa masjid tidak terjebak dalam rutinitas ibadah formal saja, tetapi juga menjadi ruang inovasi dan penguatan karakter generasi muda.

Tak heran jika masjid juga dijadikan pusat pengumpulan bantuan sosial saat terjadi musibah, titik kumpul relawan kebencanaan, hingga tempat konsultasi keluarga. 

Semua itu menegaskan bahwa Masjid Imaduddin adalah "rumah kedua" bagi seluruh warga Medokan Ayu.

Pengelolaan Lingkungan Berbasis Gotong Royong
Tradisi gotong royong ini bahkan merambat ke pengelolaan lingkungan: warga RW 12 Medokan Ayu mengelola lahan hidroponik dan kebun sayur yang menjadi pusat pembelajaran mahasiswa asing dari Australia. 

Mereka tertarik pada semangat gotong royong dan pengelolaan lingkungan masyarakat urban. 

Masjid, dalam hal ini, menjadi poros moral yang menginspirasi gerakan kolektif berbasis kemandirian dan keberlanjutan.

Masjid juga berperan sebagai katalisator gerakan kebersihan lingkungan, penanaman pohon, dan program bank sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. 

Ini membuktikan bahwa semangat berbagi dan peduli lingkungan dapat tumbuh subur di tengah padatnya permukiman urban, asalkan ada komitmen bersama yang ditanamkan oleh masjid.

Kearifan Lokal dalam Menjaga Harmoni

Masjid Imaduddin juga dikenal dengan pengaturan yang arif dalam menjaga keharmonisan. 

Jauh sebelum ada peraturan pemerintah tentang pengeras suara, Masjid Imaduddin sudah menerapkan aturan serupa demi mengharmoniskan hubungan dengan masyarakat yang mungkin terganggu oleh suara pengeras suara di malam hari. 

Volume pengeras suara diatur sedemikian rupa dan penggunaan di luar waktu salat dibatasi sesuai kebutuhan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kenyamanan semua pihak.

Ini adalah bukti nyata bahwa kerukunan dipraktikkan, bukan sekadar wacana. Sikap saling menghormati antarwarga, baik yang berasal dari latar belakang keagamaan maupun sosial yang berbeda, menjadi roh yang menghidupi keseharian Medokan Ayu. 

Bahkan, warga non-Muslim sekitar pun kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang diselenggarakan masjid, menciptakan iklim toleransi yang hangat dan autentik.

Penutup: Fondasi yang Tetap Kokoh di Tengah Zaman
Intinya, Masjid Imaduddin menjadi fondasi bukan karena bangunannya, melainkan karena kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya secara konsisten berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik yang merangkul semua warga. 

Dari pengajian rutin, tradisi khataman, takbir keliling, berbagi takjil, program edukasi generasi muda, hingga pengelolaan lingkungan berbasis gotong royong—semua berakar pada semangat kebersamaan yang dihidupkan oleh masjid tertua ini.

Di tengah arus modernisasi dan individualisme yang kerap menggerus nilai-nilai sosial, Masjid Imaduddin berdiri sebagai mercusuar yang mengingatkan bahwa kerukunan dan gotong royong bukanlah masa lalu, melainkan masa depan yang harus terus dirawat. 

Medokan Ayu membuktikan bahwa kota besar pun masih menyisakan ruang bagi kebersamaan—selama ada masjid yang menjadi jantungnya.

Kisah Masjid Imaduddin adalah cermin bahwa harmoni dapat terwujud ketika komunitas memiliki pusat yang mengikat—bukan sekadar fisik, tetapi nilai dan peran sosial yang terus diperbarui dari generasi ke generasi. 

Warisan ini layak dijaga, dirawat, dan diteruskan sebagai teladan bagi masyarakat urban lainnya bahwa di mana pun berada, kebersamaan selalu mungkin untuk dihidupkan.

Editor: Redaksi
Sumber: Wawancara dengan pengurus masjid, tokoh masyarakat, dan dokumentasi kegiatan Masjid Imaduddin Medokan Ayu.

Senin, 07 September 2026

Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir


InfoMedokanAyu - Medokan Ayu—sebuah kawasan yang dulunya adalah hamparan rawa-rawa dan tambak yang luas. 

Di sanalah, tepatnya di pesisir timur Surabaya, berdiri sebuah masjid yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama lebih dari enam dekade. 

Itulah Masjid Imaduddin, tempat ibadah Islam tertua di wilayah Medokan Ayu.

Ustadz H. Machrus, S.Pd Ketua Takmir Masjid Imaduddin.

Medokan Ayu: Dari Rawa Menjadi Permukiman
Nama "Medokan Ayu" sendiri menyimpan cerita tentang masa lalu kawasan ini. 

Secara etimologi, kata "Medokan" diduga berasal dari kata "medok" yang berarti tempat yang agak dalam, cekungan, atau kawasan yang dulunya berupa rawa dan lahan rendah. Sementara "Ayu" berarti indah atau baik. 

Jadi, Medokan Ayu dapat dimaknai sebagai daerah cekungan atau rawa yang indah dan subur—sebuah penamaan yang sangat tepat. 

Pada masa lalu, wilayah ini memang berupa rawa-rawa, tambak, dan lahan basah di kawasan pesisir timur Surabaya.

Di tengah lanskap tambak yang hijau itulah, jauh sebelum hiruk-pikuk kemerdekaan bergema, berdiri sebuah tempat ibadah sederhana. 

Pembangunan masjid 1998. Perluasan tahap ke-3, untuk pondok putri sekarang menjadi serambi putri masjid Imaduddin.

Awalnya berwujud musala (ejaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dirintis oleh Sayyid Zen. Perjuangan spiritual itu kemudian dilanjutkan oleh putranya, KH. Abdul Manan, sebagai generasi pertama.

Jejak Sejarah yang Terekam dari Generasi ke Generasi
Dimaklumi pada masa itu tidak ada catatan resmi mengenai awal berdiri musala. Yang ada hanyalah catatan kelahiran generasi kedua—KH. Yusuf Manan—pada tahun 1940, yang lima tahun kemudian bertepatan dengan berkumandangnya Kemerdekaan Indonesia. 

Berikutnya, tampuk perjuangan dipegang oleh KH. Yusuf Manan, yang pada tahun 1962 merombak musala menjadi Masjid Imaduddin.

KH. Yusuf Manan adalah seorang ulama kharismatis keturunan Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar. 

Beliau wafat ketika usianya mendekati 80 tahun, pada tahun 2019. Kini, sang istri dari KH. Yusuf Manan (almarhum), Hajjah Nur Kholilah, bertempat tinggal bersama putranya, H. Machrus, yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Imaduddin.

Kisah di Balik Pernikahan yang Menyatukan Dua Silsilah
Menurut beberapa narasumber, ibundpa dari H. Machrus ini berdarah Madura, putri dari d Mbah Sarimen bin Abbas. 

Menariknya, beberapa meter di sisi utara masjid—yang masih berbentuk musala—terdapat pelabuhan kapal rakyat, termasuk kapal-kapal dari Madura. 

Kini kawasan itu dikenal sebagai Sungai Avoer, lokasinya berhimpitan dengan kawasan Wonoayu, sisi selatan dari areal yang kini makam Islam RW 03.

Keberadaan pelabuhan itu juga dibenarkan oleh ketua RW 02 saat ini Ahmad Ro'in. Namun diakui, hal itu juga diperoleh dari cerita orang tua dan saudara. "Karena kakak saya dulu rumahnya di pinggir sungai itu", katanya.

Ayo ke Masjid Imaduddin

Mbah Sarimen sendiri, yang merupakan kepercayaan Mbah Kholil Bangkalan, ketika perahunya berlabuh di sana, rajin bersalat di Musala Imaduddin. 

Dari situlah KH. Abdul Manan mengenal dekat Mbah Sarimen. Selanjutnya, keduanya sepakat untuk menjodohkan putra dan putri mereka.

"Makanya, ibu saya dimenantu oleh KH. Abdul Manan," ujar pewaris perjuangan spiritual sekaligus generasi ketiga, H. Machrus.

Generasi Muda di Era Digital
Kini Masjid Imaduddin dikendalikan oleh Ustadz Muda H. Machrus, S.Pd.I (47 tahun), sebagai generasi ketiga. 

Ustadz muda ini juga aktif mengikuti perubahan zaman, termasuk di era digital. 

Ayah dari satu putri ini aktif mendokumentasikan beragam kegiatan masjid dan kehidupan Kampung Medokan Ayu melalui kanal YouTube, dengan tagar #SunanElektrik.

Sebagaimana sejarahnya, Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat ibadah, melainkan kokoh pula sebagai pusat syiar Islam. 

Juga tak dapat dipungkiri, sebagai pondasi spiritual bagi masyarakat Medokan Ayu pada masa itu, ketika aktivitas utama penduduk masih sebagai petani tambak dan nelayan.


Perubahan Besar Kawasan Pesisir
Memasuki akhir tahun 1980-an hingga 2000-an, Medokan Ayu mengalami perubahan besar. 

Perluasan kota Surabaya ke arah timur. Pembangunan perumahan seperti Medokan Asri dan Kosagra, serta infrastruktur jalan seperti MERR (Middle East Ring Road) mengubah wajah kawasan ini secara drastis. 

Lahan tambak dan rawa perlahan beralih fungsi menjadi kawasan permukiman padat dan strategis.

Di tengah arus perubahan yang begitu deras, Masjid Imaduddin tetap kokoh berdiri. 

Masjid ini telah menjadi penanda sejarah yang tak tergantikan di tengah kawasan yang kini padat penduduk dan modern.

Tradisi yang Tetap Terawat
Berbagai tradisi keagamaan masih terawat di sini, seperti:

· Khotmil Qur'an pada hari Minggu Legi—tradisi turun-temurun masyarakat Medokan Ayu, khususnya di RW 02.

· Peringatan Maulid Nabi yang rutin digelar dengan penuh khidmat.

· Perayaan Iduladha dengan takbir keliling yang memperkuat kebersamaan warga.

Kegiatan-kegiatan ini memperkuat peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pemersatu masyarakat.


Data Geografis dan Demografis Medokan Ayu

Untuk melengkapi gambaran tentang kawasan ini, berikut data penting yang perlu diketahui:

Letak Geografis:
· Kecamatan: Rungkut
· Kota: Surabaya
· Provinsi: Jawa Timur
· Wilayah: Pesisir timur Surabaya

Demografi:
· Mayoritas penduduk: Suku Jawa dan Madura
· Mata pencaharian utama (dulu): Petani tambak dan nelayan
· Mata pencaharian sekarang: Beragam, dari sektor formal hingga informal

Perpaduan antara warga Jawa asli dan keturunan Madura ini menciptakan akulturasi budaya yang khas, tercermin dalam tradisi keagamaan dan keseharian masyarakat Medokan Ayu.

Aksesibilitas dan Transportasi
Medokan Ayu kini semakin mudah dijangkau berkat pembangunan infrastruktur:

· Jalan Tol: Tol Surabaya-Gresik dan tol Surabaya-Mojokerto (akses dekat)

· Jalan Arteri: Jalan Raya Medokan Ayu, MERR, dan akses ke Jalan Raya Gunung Anyar

· Transportasi Umum: Angkutan kota (bemo), ojek online, dan taksi.


Potensi Wisata dan Kuliner
Meski dikenal sebagai kawasan permukiman padat, Medokan Ayu menyimpan potensi menarik:

Wisata Religi:
· Masjid Imaduddin sebagai situs sejarah dan spiritual

· Makam para sesepuh dan ulama pendahulu

Wisata Kuliner:
· Beragam warung makan dengan menu khas Surabaya

· Olahan hasil laut segar dari nelayan setempat

Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Masjid Imaduddin bukan hanya sekadar bangunan tua di tengah kawasan yang berubah. 

Lebih dari itu, masjid ini adalah bukti sejarah bahwa di tengah arus modernisasi dan perubahan lanskap yang begitu cepat, nilai-nilai keislaman dan tradisi yang diwariskan para pendahulu tetap dijaga dan dilestarikan.

Keberadaannya menegaskan bahwa identitas sebuah kawasan tidak semata-mata ditentukan oleh bangunan-bangunan modern, tetapi juga oleh akar sejarah dan spiritualitas yang telah lama mengakar di dalamnya.

Masjid Imaduddin—dari musala sederhana di tepi tambak, hingga menjadi benteng spiritual di tengah metropolis—tetap menjadi saksi bisu bahwa perubahan zaman tak pernah mampu menghapus jejak iman.