Sesampainya di kawasan Mangrove Surabaya, tepatnya di Gunung Anyar dan Medokan Ayu, sebuah bangunan baru langsung menyambut.
Berada tak jauh dari area parkir, bangunan itu berfungsi sebagai loket tiket anyar, menggantikan posisi lama yang kini terletak sekitar seratus meter dari lokasi sebelumnya.
Di seberang bekas loket lama, pembangunan gedung pertemuan tengah berlangsung.
Tanpa terasa, perjalanan kami yang dimulai pukul sembilan pagi itu masih belum mengeluarkan keringat, tetapi azan zuhur sudah berkumandang.
Demikian perjalanan mengunjungi Ekowisata Mangrove Surabaya, khususnya di Gunung Anyar, yang wilayahnya berhimpitan dengan Medokan Ayu, yang lokasinya pesisir Timur Surabaya.
Nuansa hutan mangrove memang tidak tertandingi. Apalagi di kota, di mana terik matahari di ruang terbuka begitu menyengat. Kawasan mangrove lain.
Pepohonan bakau yang tinggi menetralkan panas pantai, menjadikannya teduh dan nyaman.
Berjalan menyusuri geladak berpapan pun terasa aman; jalan setapak itu bertumpu pada penyangga beton yang kokoh.
Di sepanjang geladak, tersedia pula tempat foto dengan pemandangan apik, lengkap dengan kursi-kursi yang disediakan pengelola.
BANGAU
Namun, ada yang menarik dari kesunyian siang itu. Karena kedatangan kami sekitar pukul sembilan, burung-burung kecil sudah memilih bersembunyi di balik rimbun dedaunan bakau.
Tak ada kicau riuh seperti kabar dari mereka yang datang lebih pagi. Yang tersisa hanyalah seekor bangau—atau mungkin kuntul—berdiri diam di dahan mangrove bagian timur.
Bulunya putih bersih, paruhnya runcing, matanya awas memandang ke arah air yang mulai surut.
Kadang ia mengepakkan sayap malas, lalu kembali diam. Sesekali, bangau lain terbang rendah melintasi atas geladak kami, tanpa suara, hanya bayangan putih yang meluncur pelan.
MENARA
Sebelum berjalan terlalu jauh menyusuri geladak, penulis sempat menaiki menara pandang.
Dari atas, pemandangan benar-benar berbeda. Hamparan ekowisata Mangrove Medokan Ayu terbentang dari ketinggian.
Sisi utara memperlihatkan panorama wisata air yang luas. Dari atas menara, mata penulis tertuju pada Busem.
 |
| Busem di Mangrove Medokan Ayu |
Busem tampak seperti pusat kegiatan ekowisata air di lokasi Mangrove Medokan Ayu. Namun riilnya, kawasan sekitar Busem tampak sepi. Tak terlihat orang hilir mudik, tiada anak-anak berlarian.
Saya agak bertanya-tanya. Tempatnya bagus, udaranya teduh, spot fotonya apik. Tapi mengapa sepi?
Lama-lama penulis menyadari: sepertinya ekowisata ini kurang promosi. Padahal, banyak papan petunjuk di jalan menuju lokasi. Hanya saja, masyarakat sekitar UPN—di jalanan menuju mangrove—banyak yang belum tahu tentang Mangrove Surabaya. Ini semacam ironi: potensi besar, namun tidak siap dikelola sebagai ekowisata.
Riilnya memang tidak ada warga lokasl yang dilibatkan pada pengelolaaan Mangrove ini.
Untuk Masayarakat Gunung Anyar, ada yang dilibatkan. Khususnya 13 orang, yang aktif pembibitan bakau, dibawah ketua kelompok Tani bakau.
Sementara di Medokan Ayu belum ada yang dilibatkan.
Penulis berdiri cukup lama di atas menara, menikmati angin yang lebih kencang dari bawah, tetapi juga merasakan semacam sayu. Tempat sebagus ini layak ramai.
Seusai menyusuri ketinggian menara pengamatan, penulis turun dan berjumpa dengan rombongan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.
Mereka adalah mahasiswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, yang tengah menggelar kegiatan penanaman mangrove di kawasan konservasi pesisir.
Mereka tidak sekadar menanam, tetapi melakukan penyulaman—mengganti tanaman mangrove yang mati agar ekosistem kembali pulih. Semangat mereka patut diacungi jempol.
HARGA MAKANAN DI ARIA TIDAK AKRAB KANTONG MAHASISWA
Namun, di sela-sela kegiatan, terlihat pemandangan yang cukup memprihatinkan.
Usai acara, beberapa mahasiswa melahap jatah nasi kotak di luar area, seperti di lokasi parkir yang terbuka.
Bahkan, sebagian lain memilih membawa pulang makanannya tanpa sempat menyantapnya di tempat, terutama para mahasiswi.
Ketika saya tanyakan mengapa mereka tidak makan di dalam area yang sudah tersedia tempat cukup layak, seorang mahasiswa menjawab dengan nada kecewa, "Tidak enak, Pak. Soalnya di sini pengunjung dilarang membawa bekal dan melahapnya di dalam area."
Benar saja. Bapak Arif, warga Medokan Ayu yang kebetulan sedang berjalan-jalan, membenarkan aturan tersebut.
Menurutnya, sejak beberapa waktu lalu, pihak pengelola memang melarang pengunjung menyantap bekal bawaan dari rumah. Jika lapar, pengunjung diwajibkan membeli makanan yang dijual di dalam area.
"Masalahnya, harga makanan di dalam area jauh lebih mahal dibanding makanan yang sama di luar," ujar pengunjung lain.
Lalu dibandingkan dengan kawasan lain. "Beda dengan Taman Harmoni Sukolilo. Di sana, lebih baik tidak usah bawa bekal karena harga makanan di dalam area relatif murah, seimbang dengan yang dijual pedagang kaki lima di luar. Ragamnya juga banyak," jelasnya.
Perbedaan kebijakan antara dua kawasan wisata alam ini menarik dicermati.
Di satu sisi, larangan membawa bekal mungkin diterapkan untuk mendukung omzet pelaku UMKM di dalam area.
Namun di sisi lain, jika harga jual tidak bersaing dan ketersediaan pangan terbatas, pengunjung—termasuk mahasiswa yang sedang berkegiatan konservasi—justru merasa dirugikan.
PERMATA TERPENDAM
Setelah berbincang dengan mahasiswa dan Bapak Arif, penulis kembali menyusuri geladak seorang diri.
Suasana terasa lebih sunyi dari yang kubayangkan—bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena minimnya pengunjung. Namun justru di situlah keistimewaan sekaligus kesedihannya.
Tidak ada ramai suara, tiada hiruk-pikuk. Hanya debur air surut, gesekan daun bakau, dan sesekali suara kepiting kecil yang berlarian di antara
akar-akar napas yang menjulang.
Kami duduk di salah satu kursi kayu dekat gardu pandang. Angin laut bertiup tipis, membawa bau tanah basah dan garam.
Waktu terasa lambat. Mungkin jika datang lebih pagi—pukul enam atau tujuh—suasana akan berbeda. Atau mungkin jika promosinya gencar, tempat ini tak akan sesepi ini.
Tapi untuk hari itu, pukul sembilan sudah cukup. Sepi pun jadi saksi: kawasan Mangrove Gunung Anyar dan Medokan Ayu adalah permata yang masih terpendam.
Ia tidak perlu ramai untuk terasa hidup. Namun alangkah sayangnya jika keindahan seperti ini hanya dinikmati oleh segelintir orang—dan bangau-bangau yang setia menunggu.
Semoga pengelola kawasan mangrove ini dapat mengevaluasi kebijakan tersebut. Sebab, kenyamanan pengunjung dan keterjangkauan harga adalah bagian penting dari keberlanjutan wisata edukatif seperti ini.
Terlebih ketika yang datang adalah generasi muda yang peduli lingkungan, sudah sepantasnya mereka mendapat pelayanan yang mendukung, bukan justru menyulitkan.
HALUAN BARU: Dari WiSATA KE RISET
Namun, catatan dan masukan ini kiranya lebih cocok untuk periode sebelum tahun 2026. Kini, fokus telah berubah.
Sejak Januari 2026, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) resmi menjadi pengelola utama sekaligus pengubah haluan strategis kawasan ini.
Jika sebelumnya Mangrove Surabaya berfungsi sebagai destinasi ekowisata dan rekreasi, kini beralih menjadi pusat riset dan konservasi berstandar internasional.
Keberadaan Mangrove Surabaya memang sempat membingungkan, terutama terkait fungsi dan pengelolaannya.
Kini, kawasan ini tidak lagi berada di bawah kelola masyarakat atau kemudian pemerintah kota secara langsung. Mulai Januari 2026, ia berada di bawah naungan BRIDA.
Selengkapnya tentang pengelolaan Mangrove silahkan klik :
Sebuah babak baru. Semoga arah yang lebih terukur membawa kebaikan bagi ekosistem, riset, dan masyarakat sekitarnya.