Jumat, 25 September 2026

Turut Berduka: Innalillahi, Bapak H. Rochmad Efendi, Warga RT03 RW02, Berpulang Hari Ini

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak:

H. ROCHMAD EFENDI

Usia: 79 tahun


Alamat: Jl. Rojo Mino RT 03 RW 02, Medokan Kampung - Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya

Waktu: Jumat pagi, pukul 09.30 WIB

Almarhum meninggal dunia dalam keadaan tanpa proses sakit yang berarti. 

Subuh pagi tadi, beliau masih salat berjamaah di Masjid Imaduddin, sekitar 100 meter dari rumahnya. 

Beliau berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, sebagaimana orang yang sehat.

Sebelum dimakamkan di Makam Islam RW 02, jenazah  disalatkan di Masjid Imaduddin, dihadiri oleh warga dan jamaah masjid.

Kami, keluarga besar warga RW 02, jamaah Masjid Imaduddin, dan seluruh warga Medokan Ayu menyampaikan duka cita yang mendalam. 

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. 

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Disalatkan di Masjid Imaduddin 

Memasuki Masjid Imaduddin 

Keluar dari Masjid Imaduddin menuju Makam 

Memasuki area makam


Renungan

Kepergian H. Rochmad Efendi membawa banyak pelajaran bagi kita yang masih hidup. 

Beliau wafat pada hari Jumat, setelah sebelumnya masih salat Subuh berjamaah di masjid, berjalan kaki, dan tanpa keluhan sakit. 

Dalam pandangan Islam, ini adalah tanda-tanda yang memberi harapan besar sebagai husnul khatimah, akhir hidup yang baik.

Beberapa makna yang bisa kita renungkan:

Wafat di hari Jumat
Dalam hadis disebutkan bahwa seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat akan dilindungi dari fitnah kubur. Ini adalah keutamaan dan harapan baik.

Masih salat Subuh berjamaah
Orang yang salat Subuh berjamaah berada dalam jaminan Allah. Beliau menutup hidupnya dengan ibadah yang sangat utama.

Rajin salat berjamaah di masjid
Kebiasaan beliau menunjukkan hati yang terikat pada masjid. Ini termasuk amal yang Allah janjikan pahala besar.

Wafat tanpa sakit
Kematian yang tenang tanpa proses sakit panjang adalah bentuk kasih sayang Allah. Bagi orang saleh, ini menjadi tanda rahmat.

Disalatkan oleh jamaah
Salat jenazah adalah doa dan syafaat. Semakin banyak orang saleh yang mendoakan, semakin besar harapan ampunan Allah.

Hanya Allah yang mengetahui akhir setiap hamba. 

Tanda-tanda ini cukup menjadi renungan bagi kita untuk memperbaiki diri, menjaga salat berjamaah, menghidupkan masjid, dan tidak menunda tobat.

Semoga kita semua dapat meneladani ketekunan almarhum dalam beribadah. 

Mari kita doakan almarhum, dan jadikan kepergiannya sebagai pengingat bahwa ajal bisa datang kapan saja, bahkan tanpa sakit.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menempatkan beliau di surga-Nya. Aamiin.

Billahittaufiq wal hidayah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


--- Salam takziah dari keluarga besar Medokan Ayu ---

Kamis, 24 September 2026

Dukung Nelayan Medokan Ayu, Rawat Sungai Kebon Agung – Antisipasi Banjir Surabaya Selatan

Salah satu pohon tumbang di sungai Kebon Agung, menimpa perahu nelayan. Ini resiko menghambat aliran sungai. Nelayan hanya bisa membersihkan ranting. Berbuat lebih, harus dihindarkan agar tidak berbenturan dengan aturan pemotongan pohon.

InfoMedokanAyu - Sungai Kebon Agung bukan sekadar garis batas wilayah di sisi selatan. Ia adalah nadi kehidupan. 

Dari sungai itu, dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan, bangkit: KUB Nelayan “Sumber Rejeki” dikomandani oleh Sumardi dan KUB Nelayan “Karang Pinggir".

KUB Nelayan Karang Pinggir ini organisasi baru. Masih proses pengurusan badan hukum. Menampung anggota susulan. KUB Nelayan Sumber Rejeki, keanggotaannya sudah maksimal, sesuai aturan.

Kehadiran mereka menciptakan kelompok pengguna harian yang paling merasakan langsung sehat atau tidaknya sungai. 

Inilah kekuatan pengawasan informal yang berharga—sebuah mekanisme yang lahir bukan dari proyek seremonial, melainkan dari kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Itulah simpulan InfoMedokanAyu-Weblog Lingkungan Medokan Ayu setelah melihat kondisi riil Sungai Kebon Agung saat ini. 

Sungai ini berfungsi mengatasi luapan banjir dari beberapa kawasan di Surabaya, terutama wilayah selatan: Kawasan Ketintang dan Margorejo, Kawasan Karah, Kawasan Jambangan, serta Kawasan Ahmad Yani.

Sungai kebon agung ini juga sarana pembuangan air dari YKP Medokan Asri dan Penjaringan Sari melalui Rumah Pompa Pandugo di Jl. Medokan Asri, yang kini dilakukan pelebaran sungai.

Namun, manfaat keberadaan nelayan Medokan Ayu hanya terwujud jika pemerintah secara konsisten merawat sungai. Tanpa perawatan, kebangkitan nelayan tidak akan bertahan lama.

Pengawasan Harian yang Lahir dari Ketergantungan Mata Pencaharian
Kedua KUB di Medokan Ayu sama-sama bergantung langsung pada badan air dan kesehatan ekosistem sungai.

KUB “Sumber Rejeki” bergantung pada kualitas perairan estuari dan kawasan mangrove. 

Sungai Kebon Agung merupakan koridor penghubung ke Mangrove Kebon Agung. 

Tumpukan sampah atau penurunan kualitas air akan merusak habitat kepiting dan langsung menurunkan hasil tangkapan.

KUB “Karang Pinggiran” mengantar pemancing ke laut. Perahu mereka harus melintasi Sungai Kebon Agung untuk mencapai muara dan laut. 

Jika aliran tersumbat sampah atau mengalami pendangkalan, akses menuju fishing ground terputus, dan mata pencaharian mereka langsung terancam.

Dengan demikian, menjaga kebersihan aliran sungai bukan sekadar wacana lingkungan. Bagi kedua KUB ini, sungai yang sehat adalah kebutuhan ekonomi yang nyata.

Kontribusi Tidak Langsung dari Peningkatan Kapasitas Ekonomi
Bantuan pemerintah kepada nelayan Medokan Ayu—mesin baru, paket perahu, pasokan bahan bakar resmi yang lebih murah—memperbaiki kondisi operasional mereka. 


Perbaikan ekonomi ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan dan kemauan kelompok untuk terlibat dalam urusan lingkungan komunitas, misalnya kerja bakti atau melaporkan titik sumbatan.

Namun, belum ditemukan bukti bahwa kedua kelompok ini menjalankan aksi pembersihan sungai secara terorganisir. 

Kontribusi mereka lebih bersifat hasil pasif dari menjaga wilayah operasi sendiri, bukan layanan publik yang aktif. 

Karena itu, jangan menuntut nelayan menjadi pembersih sungai. Dukung mereka sebagai mitra pengawasan, sementara pemerintah menjalankan kewajibannya.

Ilustrasi 

Keterbatasan Nyata: Mata Pencaharian Individu Tidak Menggantikan Tata Kelola Sistemik
Persoalan utama Sungai Kebon Agung adalah tekanan sistem drainase kota dan pembuangan dari hulu, bukan sekadar sampah permukaan.

· Pendangkalan dan penyempitan serius: Lebar sungai pernah menyusut dari sekitar 30 meter menjadi 20 meter, menyebabkan genangan saat musim hujan.

· Pencemaran: Penelitian mendeteksi banyak partikel mikroplastik yang bersumber dari aktivitas industri dan perkotaan di sekitarnya.

· Aktor utama: Pengerukan dan normalisasi adalah kewenangan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya.

Jadi, peran nelayan dalam menjaga kebersihan lebih terbatas pada tidak membuang limbah ke sungai dan melaporkan titik sumbatan parah. 

Mereka tidak mampu membalikkan pendangkalan secara makro. Namun, justru karena keterbatasan itulah dukungan publik dan pemerintah menjadi kunci.

Dukung Nelayan, Rawat Sungai, Lindungi Kota
Mendukung keberadaan nelayan Sungai Kebon Agung bukan berarti memberi mereka beban sebagai penjaga tunggal sungai. 

Mendukung mereka berarti:
· Menuntut pengerukan dan normalisasi rutin oleh DSDABM Kota Surabaya.

· Menjaga hulu sungai dari pembuangan sampah dan limbah industri.

· Melaporkan titik sumbatan, pendangkalan, atau pencemaran.

· Menghargai hasil tangkapan dan jasa mereka, misalnya dengan membeli kepiting dari KUB “Sumber Rejeki” atau menggunakan jasa KUB “Karang Pinggiran”.

· Melibatkan mereka dalam musyawarah pengelolaan drainase dan lingkungan Medokan Ayu.

Kebangkitan nelayan Medokan Ayu adalah kesempatan. Jika sungai dirawat, mereka produktif. 

Jika mereka produktif, sungai terpantau. Jika sungai terpantau, kota terlindungi dari banjir dan ekosistem mangrove tetap hidup.

Maka, dukunglah KUB Nelayan "Sumber Rejeki" dan KUB Nelayan "Karang Pinggir"—bukan karena belas kasihan, tetapi karena kepentingan bersama: 

Sungai Kebon Agung yang bersih, dan aman, bukan hanya menghidupi warga Medokan Ayu. Sungai ini juga punya andil besar dalam menyelamatkan dari ancaman banjir—aliran dan daerah resapannya turut menampung serta mengalirkan air, sehingga ketika sungai ini terawat, risiko banjir pun ikut berkurang.


Rabu, 23 September 2026

Nelayan Medokan Ayu Inisiatif Sendiri: Minta Pos Pantau dan Perahu Patroli ke Dirpolairud Polda Jatim

Kiri: Tito Warsito-wakil ketua; Kanan: Ketua KUB Nelayan Medokan Ayu "Sumber Rejeki"

Bergerak Mandiri demi Keselamatan Perairan

InfoMedokanAyu — Nelayan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, yang tergabung dalam KUB Nelayan Sumber Rezeki dan KUB Nelayan Karang Pinggiran, secara mandiri mengajukan permohonan bantuan Pos Pantau dan perahu bot operasional/patroli kepada Dirpolairud Polda Jatim pada 22 September 2026.

Permohonan dan Pengesahan
Permohonan bernomor 09/KUB/SR/IX/2026 itu ditandatangani Sumardi, Ketua KUB (Kelompok Usaha Bersama) Nelayan Sumber Rezeki, Medokan Ayu.

Surat tersebut diketahui Ketua RW 01 Medokan Ayu, Supangin, dan Mariyono, Ketua RT 12 RW 01, yang menjadi lokasi Kampung Nelayan.

Pengajuan itu diperkuat Zainul Abidin, S.Sos., Lurah Medokan Ayu, yang turut membubuhkan tanda tangan atas upaya warganya.

Langkah ini murni inisiatif kelompok nelayan.

Pujiono - Sekretaris KUB Nelayan Medokan Ayu "Sumber Rejeki"

Tujuan dan Urgensi
Permohonan bertujuan meningkatkan keamanan, ketertiban, keselamatan, serta pemantauan aktivitas masyarakat di wilayah perairan Kota Surabaya, khususnya perairan sungai dan laut kawasan Medokan Ayu, Rungkut.

Pengajuan ini sekaligus mendukung operasional UP Polairud Surabaya.

Wilayah perairan Surabaya memiliki aktivitas masyarakat dan pelayaran cukup tinggi.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, diperlukan sarana pemantauan dan patroli yang memadai.

Keberadaan perahu operasional diharapkan menunjang patroli perairan, pemantauan aktivitas masyarakat, penanganan kejadian darurat, serta pencarian dan pertolongan jika terjadi kecelakaan di wilayah perairan.

Sementara pos pantau diperlukan sebagai tempat pemantauan keamanan dan keselamatan perairan, pusat koordinasi petugas di lapangan, serta sarana pelayanan dan komunikasi dengan masyarakat pesisir.

Sekretariat dan Kampung Nelayan. Tambatan perahu berada di sebrangnya.

Rincian Bantuan yang Dimohonkan
Adapun bantuan yang dimohonkan meliputi: 
(1) satu unit pos pantau beserta sarana pendukungnya; 
(2) satu unit perahu bot operasional/patroli perairan, lengkap dengan perlengkapan keselamatan dan perlengkapan pendukung operasional; 
(3) perlengkapan komunikasi dan keselamatan untuk menunjang operasional; dan 
(4) sarana pendukung lain sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

Bantuan itu diharapkan meningkatkan efektivitas patroli dan pemantauan wilayah perairan Medokan Ayu, mencegah gangguan keamanan dan ketertiban, serta mempercepat respons terhadap kejadian yang membutuhkan penanganan.

Kisah Musibah Nelayan
Sumardi menceritakan, salah satu anggota nelayan pernah mengalami musibah. Perahunya terbalik saat hujan lebat dan berada di laut. Ketika memasang perangkap kepiting bubu naga, hujan lebat mendadak turun disertai angin kencang.

“Perahu kecil itu diterpa angin dan ombak hingga terbalik. Korban tidak panik. Ia sempat menyelam untuk mengambil ponsel di perahu yang terbalik,” kata Sumardi.

“Kebetulan ponsel dimasukkan ke dalam timba plastik yang tertutup rapat. Ponsel itu diambil, lalu ia mengirim pesan minta bantuan,” imbuhnya.

Dengan perahu lebih besar, teman-temannya datang dan berhasil mengevakuasi korban. Namun, perahu tak tertolong, hanyut dan hilang.

Mochammad Arifin - Wakil Ketua KUB Nelayan Medokan Ayu "Karang Pinggiran.

Keputusan Bersama dan Perkembangan KUB
Pengajuan ini merupakan keputusan bersama para nelayan, baik yang tergabung dalam KUB Nelayan Sumber Rezeki maupun KUB Nelayan Karang Pinggiran.

KUB Nelayan Sumber Rezeki sudah berbadan hukum dan menaungi maksimal 25 nelayan sesuai ketentuan batas jumlah anggota.

Realitasnya, jumlah anggota terus bertambah. Kini ada anggota baru dan sudah ada 13 nelayan yang memiliki perahu.

Karena itu, dibuatkan wadah lain, yakni KUB Karang Pinggiran, yang saat ini masih dalam proses pengurusan badan hukum.

KUB Nelayan Karang Pinggiran diketuai Mochammad Arifin, 41 tahun, dengan mayoritas anggota berusia muda, di bawah 40 tahun.

Harapan
Inisiatif ini menegaskan kelompok nelayan terus bergerak mandiri demi keselamatan dan kesejahteraan warga pesisir.

Para nelayan berharap permohonan ini mendapat respons positif dari Dirpolairud Polda Jatim serta dukungan lintas lembaga, agar kebutuhan sarana pemantauan dan patroli perairan di Medokan Ayu dapat segera terwujud. (Red)




Selasa, 22 September 2026

Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 2. Habis)

Ilustrasi 

Hidup Mengikuti Irama Air

InfoMedokanAyu - Dalam keseharian, sebagian warga Medokan Ayu hidup mengikuti irama air.

Pagi bisa dimulai dengan memeriksa tambak, memberi pakan, atau menyiapkan bandeng untuk diasap. 

Siang dipakai untuk memperbaiki jaring, bubu, atau perahu. 

Sore hingga malam, sebagian nelayan turun ke lumpur mencari kepiting.

Perempuan dan keluarga sering terlibat dalam pengolahan hasil—mulai dari membersihkan ikan, mengasap bandeng, hingga memasarkan produk. 

Anak-anak tumbuh melihat bagaimana air, lumpur, dan asap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah identitas Medokan Ayu terbentuk: kampung pesisir yang sebagian warganya sampai kini hidup dari tambak, mangrove, bandeng, dan kepiting.

Perahu-perahu nelayan

Tantangan yang Tak Pernah Surut
Meski begitu, kehidupan nelayan bandeng dan kepiting tidak selalu mudah.

Harga yang berfluktuasi, musim yang tidak menentu, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

"Kini perahu nelayan sebanyak 23 buah sudah saatnya diremajakan", kata Bapak Pujiono sekretaris Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu.

Bagi pembudidaya bandeng, tantangannya menyangkut kualitas air, pakan, dan penyakit ikan. 

Bagi penangkap kepiting, tantangannya menyangkut pasang surut, cuaca, dan berkurangnya area mangrove.

Akses pasar yang lebih luas juga masih menjadi pekerjaan rumah. Di sisi lain, pembangunan kawasan pesisir dan perubahan tata guna lahan bisa mengancam ruang hidup tambak dan mangrove.

Semua itu membuat warga dituntut adaptif: mengatur waktu tangkap, mencari pasar alternatif, atau mengembangkan budidaya dan olahan agar penghasilan tetap berjalan.


Potensi Menanti Dikembangkan
Namun justru di situlah potensi Medokan Ayu terletak.

Kampung ini bisa dikembangkan sebagai pusat kuliner dan edukasi pesisir. Bandeng asap dan kepiting bakau dapat menjadi ikon yang saling melengkapi.

Wisatawan bisa diajak melihat tambak, mengenal budidaya bandeng, menyusuri mangrove, dan memahami cara nelayan menangkap kepiting. 

Produk olahan seperti bandeng asap, abon bandeng, kerupuk, hingga olahan kepiting bisa memperkuat ekonomi.

Dengan pendampingan, digital marketing, dan dukungan kebijakan—Medokan Ayu tidak hanya dikenal sebagai kampung bandeng, tetapi juga kampung kepiting.


Pesan Utama: Denyut yang Tak Boleh Berhenti
Medokan Ayu adalah pengingat bahwa Surabaya masih menyimpan denyut kehidupan pesisir.

Di tengah pertumbuhan warga yang kian membengkak, kampung ini berdiri sebagai bukti bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan. 

Bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas—mereka adalah simbol kerja, ketekunan, dan harapan.

Selama asap masih mengepul dari dapur-dapur warga, selama lumpur masih melekat di kaki para nelayan—selama itu pula Medokan Ayu akan terus hidup, bernapas, dan menginspirasi.

Medokan Ayu: Kampung Bandeng dan Kepiting di Pesisir Timur Surabaya—sebuah kisah tentang alam, kerja, dan identitas yang tak pernah kehilangan arah.  

Halaman sebelumnya.




Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 1, dari 2)


InfoMedokanAyu - Di tengah gemuruh metropolis Surabaya yang tak pernah tidur, sebuah kampung di sisi timur masih menjaga ritme kehidupan yang berbeda. Ia mengikuti pasang surut, bukan jam kantor. Ia berbicara tentang lumpur dan asap, bukan beton dan kaca.

Di sana, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas; di sana tersimpan potensi ekonomi yang menanti untuk digeluti.

Medokan Ayu—sebuah nama yang kini kian sering disebut, seiring pertumbuhan warganya yang terus membengkak dan kisahnya yang semakin menginspirasi.


Ketika Kota Bertemu Pesisir
Surabaya sering dibayangkan sebagai kota metropolitan yang penuh gedung pencakar langit, pelabuhan sibuk, dan kendaraan yang tak henti berlalu. 

Namun di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, ada dunia lain yang masih bernapas dengan tenang.

Di sini, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas dagang. Keduanya adalah dua nama yang menyimpan cerita tentang kerja keras, rasa, dan identitas warga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


Bandeng: Asap yang Mengepul, Harapan yang Terus Membara
Medokan Ayu dikenal luas karena bandengnya—terutama bandeng tambak dan olahan bandeng asap yang telah menjadi ikon kuliner.

Berbeda dengan kepiting, bandeng di sini merupakan hasil budidaya. Mulai dari benih atau nener, pembesaran di kolam tambak, hingga panen—semuanya melibatkan tangan-tangan warga sendiri.

Aroma asap yang khas dari dapur-dapur warga sudah lama menjadi penanda kampung ini. Bandeng kemudian dijual segar ke pasar, diolah menjadi bandeng asap yang menggoda, atau diubah menjadi aneka makanan olahan yang memperkaya cita rasa Nusantara.

Bagi banyak keluarga, bandeng bukan sekadar ikan dagangan. Ia adalah sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi—sebuah warisan yang terus dijaga dan dikembangkan seiring bertambahnya warga yang menggantungkan hidup dari tambak.
 

Kepiting: Keberanian di Balik Lumpur
Namun Medokan Ayu tidak berhenti pada bandeng. Di balik tambak dan lumpur, ada wajah lain yang sama pentingnya: kepiting bakau.

Umumnya nelayan di Medokan Ayu juga dikenal sebagai penangkap kepiting, terutama kepiting bakau yang hidup di area mangrove. 

Berbeda dengan bandeng yang dibudidayakan, kepiting diperoleh dari tangkapan alam—dari mangrove, saluran air, dan area tambak.

Aktivitas ini mengikuti irama pasang surut. Saat air surut, nelayan menyusuri tambak, saluran, atau area mangrove. 

Ada yang memasang bubu-perangkap kepiting, ada yang menggunakan jaring, dan tidak sedikit yang mencari langsung ke lubang-lubang lumpur.

Kadang mereka berangkat pagi, sore, bahkan malam hari. Hasil tangkapan lalu dijual ke pengepul atau langsung ke pembeli. 

Kepiting adalah lumpur yang melekat di kaki, hasil keberanian menanti pasang surut.


Dua Jalur, Satu Ekosistem
Bandeng dan kepiting sama-sama berasal dari alam pesisir Medokan Ayu, tetapi melalui jalur yang berbeda.

Bandeng dikelola lewat budidaya tambak, sedangkan kepiting diambil dari alam sebagai hasil tangkapan. Keduanya bertemu pada ekosistem yang sama: tambak, saluran air, dan mangrove.

Karena itu, kehidupan sebagian warga Medokan Ayu sangat bergantung pada kondisi lingkungan. 

Jika air bersih, mangrove terjaga, dan tambak terawat—bandeng tumbuh baik dan kepiting pun melimpah.

Sebaliknya, jika perairan tercemar, alih fungsi lahan terus terjadi, atau mangrove berkurang—hasil budidaya dan tangkapan ikut terancam.

Inilah yang membuat kampung ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal menjaga keseimbangan alam.

Halaman selanjutnya.


Terkait link Bandeng:

Kepiting Bakau Medokan Ayu: Komoditas Emas Warga Pesisir Menjelang Imlek 2026

Tren harga kepiting bakau.

K9DeWa - Kepiting bakau memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Permintaan pasar, baik dari restoran seafood, pengepul, maupun konsumen langsung, membuat kepiting menjadi komoditas yang menjanjikan bagi warga pesisir.

Harga kepiting saat ini sekitar Rp50 ribu per kilogram. "Kebetulan pula, bulan Agustus–September dikenal sebagai masa pertumbuhan bagi kepiting. Jadi ukuran kepiting masih kecil-kecil," kata Bapak Sumardi, ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", ketika ditemui di kampung nelayan Medokan Ayu, berdekatan kawasan Mangrove Gunung Anyar.

Kepiting Bakau. Foto: wikipedia

"Memasuki bulan Oktober dan seterusnya, ukuran kepiting sudah pada besar," lanjut ketua KUB "Sumber Rejeki", yang aktif menekuni penangkapan kepiting dengan perahu.

Bulan-bulan tersebut dikenal sebagai Bulan Kepiting Emas, yakni saat harga mencapai puncaknya, yaitu sekitar Januari–Februari.

Pada 2026, harga puncak diprediksi terjadi saat Imlek 2026, yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.

Pada puncak harga itu, 3 ekor kepiting bertelur dihargai sekitar Rp500 ribu. Untuk kepiting jantan kelas super, 3 ekor mencapai Rp400–450 ribu.

Bertumpuk "Badong" perangkap kepiting di mangrove pada Agustus-September di Kampung Nelayan, Medokan Ayu

Oleh sebab itu, para pengepul banyak melakukan penggemukan selama 15 hari sebelum Imlek.

Kini, katanya, kepiting kecil bisa terjual dengan harga Rp50–80 ribu per kilogram.

Cara penggunaan "Badong" di sekitar Mangrove. Pada bagian tengah, ada bambu untuk menggantungkan "Badong" sekaligus menancapkannya.


Lihat halaman terkait:


Kepiting Bakau Medokan Ayu: Antara Komoditas, Identitas, dan Harapan Kampung Pesisir Surabaya

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Surabaya seringkali dipandang sebagai kota metropolitan yang identik dengan gedung-gedung tinggi, pelabuhan sibuk, dan aktivitas industri yang tak pernah tidur. 

Namun, di sisi timur kota, tepatnya di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, masih tersimpan kehidupan pesisir yang lekat dengan tambak, mangrove, dan hasil laut. 

Kondisi geografis inilah yang membentuk mata pencaharian sebagian warganya sebagai nelayan, petambak, dan pencari hasil laut sejak silam.

Salah satu aktivitas yang menonjol dan menjadi fokus dalam berita ini adalah penangkapan kepiting bakau. 

Bagi sebagian warga, kepiting bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga penanda identitas dan sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun.

Bapak Sumardi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", menyatakan bahwa terdapat 25 nelayan kepiting di Medokan Ayu yang tergabung dalam wadah yang ia kendalikan sejak tahun 2018. 

Bapak Sumardi ketua KUB Sumber Rejeki

Dari jumlah tersebut, 23 anggota telah memiliki perahu sebagai prasarana menangkap kepiting.

Sementara 2 anggota lainnya belum memilikinya dan aktif sebagai nelayan darat—pencari kepiting di kawasan tambak.

Menariknya, di antara para anggota terdapat dua sosok senior berusia sekitar 70 tahun, yaitu Bapak Djaimin dan Bapak Slamet, yang telah menekuni usaha ini sejak masa bujang. 

Bapak Djaimin bahkan dikenal sebagai "raja kepiting" berkat hasil tangkapannya yang melimpah.

Aktivitas menangkap kepiting biasanya mengikuti irama pasang surut air laut. 

Saat air surut, para nelayan menyusuri lumpur, mencari kepiting di lubang-lubang, memasang bubu (perangkap), atau menggunakan jaring. 

Perangkap kepiting "bubu naga" yang banyak dijual di pasar online

Ada yang melakukannya pada pagi hari, sore, bahkan malam hari. 

Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul atau langsung kepada pembeli. 

Bagi sebagian warga, kepiting menjadi sumber penghasilan utama; bagi sebagian lain, menjadi penghasilan tambahan di samping mengantar wisatawan memancing dengan perahu.

Meski demikian, kehidupan nelayan kepiting tidak lepas dari berbagai tantangan. 

Perubahan cuaca, pencemaran perairan, alih fungsi lahan, berkurangnya area mangrove, serta pembangunan kawasan pesisir dapat memengaruhi hasil tangkapan. 

Harga yang tidak stabil, keterbatasan modal, dan akses pasar juga menjadi persoalan tersendiri yang harus dihadapi para nelayan.

Perahu untuk pencari Kepiting.

Tulisan ini merupakan langkah awal untuk mengenal Medokan Ayu dan kepiting, sekaligus bekal untuk menelusuri lebih dalam: 
- bagaimana nelayan kepiting di Medokan Ayu menjalani pekerjaannya, 
- bagaimana strategi mereka menghadapi tantangan, 
- serta potensi apa yang dapat dikembangkan. 

Tulisan bernuansa kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan pesisir, dan perumusan kebijakan yang berpihak pada warga nelayan.

Dengan memahami kehidupan mereka, berarti pula tidak hanya melihat kepiting sebagai komoditas, tetapi juga sebagai penanda identitas dan sumber penghidupan kampung pesisir kawasan Medokan Ayu.


Halaman terkait:

Minggu, 13 September 2026

Haul Sesepuh Ponpes Tarbiyatul Aulad, Warisan Tradisi yang Terus Dijaga

Ust. H. Machrus Yusuf Manan menyampaikan sambutan penuh hikmah pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pondok pesantren yang diasuhnya.

InfoMedokanAyu — Di balik semaraknya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad Medokan Ayu, tersimpan makna mendalam yang jarang diketahui banyak orang. 

Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga menjelang pukul 11.00 WIB itu sekaligus menjadi momen haul para sesepuh pondok.

Haul tersebut mengenang jasa para sesepuh, antara lain Ustadz KH. Hamzah Murtadho, KH. Abdullah Manan, dan Ustadz Yusuf Manan. 

Mereka adalah tokoh-tokoh yang meletakkan fondasi pendidikan dan keagamaan di pondok yang kini diasuh oleh Ust. H. M. Machrus itu.

Ziarah kubur sebagai rangkaian menjelang Peringatan Haul KH. Yusuf Manan, KH. Abdullah Manan, dan KH. Hamzah Murtado

Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad berlokasi di Jalan Medokan Ayu gang masjid, tepatnya di RW 02, Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya. 

Pondok ini memiliki sekitar 500 santri aktif dengan sistem pendidikan diniyah klasikal (setara Ula, Wustho, Ulya) yang berfokus pada kitab kuning, Al-Qur'an, dan gramatika Arab.

Tradisi yang diwariskan para sesepuh masih terus dijaga hingga kini. 

Ziarah kubur sebagai rangkaian menjelang Peringatan Haul KH. Yusuf Manan, KH. Abdullah Manan, dan KH. Hamzah Murtado

Beberapa kegiatan rutinnya meliputi Majelis Ilmu yang dilaksanakan setiap hari, Jam'iyyatul Muta'allimin (majelis pembacaan Maulid Dibaiyah dari rumah ke rumah), Jamaah Istighosah & Nariyah setiap Rabu malam ba'da Maghrib, serta ekstrakurikuler seperti Banjari Gestra/Geswa Nada dan HITTA (Himpunan Teater PPTA).

Yang menarik, pondok ini sangat lekat dengan masyarakat sekitar Medokan Ayu. Banyak alumninya aktif menjadi pengurus masjid, remaja masjid, hingga terlibat dalam komunitas suporter BOMS (Bonek Medokan Ayu Soerabadja). 

Para anggota komunitas tersebut turut serta dalam kepanitiaan acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) di pondok dan Masjid Imaduddin, serta terlibat dalam kegiatan sosial seperti berbagi zakat dan qurban.

Pondok ini juga berperan dalam melestarikan tradisi keagamaan setempat, seperti perayaan Suroan yang diisi dengan doa bersama, tahlil, dan sedekah makanan untuk warga Medokan Ayu. 

Kebersamaan para santriwati usai merias diri, bersiap menampilkan yang terbaik pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pengasuhnya diketahui merupakan alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.

Haul ini menjadi pengingat bahwa apa yang dinikmati warga Medokan Ayu hari ini adalah buah dari perjuangan para sesepuh. 

Di antara para peserta yang mengikuti gladi bersih menyambut Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu sore, 12 September 2026.

Semoga tradisi ini terus terjaga dan menjadi berkah bagi seluruh masyarakat. (Red)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Tarbiyatul Aulad, Santri Jadi Pelaksana Utama

Burhanudin Habibi, santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad, diberi kepercayaan menjadi Ketua Pelaksana Utama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga menjadi ladang amal dan pembelajaran kepemimpinan.

InfoMedokanAyu — Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad yang menyatu dengan Masjid Imaduddin, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh semarak, Minggu pagi. Acara berlangsung sejak pukul 07.00 hingga menjelang pukul 11.00 WIB.

Yang istimewa, seluruh rangkaian acara dijalani dan dikelola oleh para santri. Mulai dari laporan ketua panitia, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, hingga penampilan musik shalawat, semuanya digarap oleh para santri pondok.

Sejak pagi, para santri telah mengawali kegiatan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. 

Suara merdu yang mengademkan di tengah cuaca panas itu menandai dimulainya acara, sekaligus mengingatkan warga sekitar untuk segera hadir. 


Pembacaan ayat suci Al-Qur'an ini murni tanpa iringan musik apa pun. Intonasi yang ditandai dengan tajwid begitu menggugah hati para hadirin.

Gema musik di babak selanjutnya pun menghibur, mengiringi shalawatan. 



Ketika hadirin mulai mengikuti dengan berdiri - Mahallul Qiyam sangat terasa nilai kerukunan begitu terjaga di Medokan Ayu.



Shalawatan adalah kegiatan melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggunakan rebana, dan sangat menghibur. 


Musiknya rancak, enak didengarkan meski dari dekat. Panggung musik yang dimainkan para santri tertata rapi, persis di depan panggung utama, dengan perangkat musik era kini, elektrik, termasuk kendangnya.


Acara kemudian diwarnai dengan pemberian tali asih kepada para santri berprestasi dari berbagai tingkatan oleh Ust. H. Moch. Umar, S. Ag., M. Pd


Memasuki babak selanjutnya, ditandai dengan sambutan dari pengasuh pondok, H. Machrus Yusuf Manan. 

Waktu menunjukkan pukul 10.00 saat ustadz pemberi tausiah pun hadir. Beberapa saat kemudian, beliau tampil memberikan tausiah yang menekankan nilai-nilai kerukunan dengan gaya kocaknya. Acara ditutup dengan doa bersama.

KH. Syahroni Fadlan, kiai kharismatik asal Sidoarjo, yang akrab dikenal dengan sebutan "Kyai Gendeng".

Semoga peringatan Maulid Nabi ini semakin mempererat kebersamaan seluruh warga pondok dan masyarakat Medokan Ayu, serta meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. 


(Red)



  .

Jumat, 11 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (6-akhir)

Ilustrasi

Penutup: Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu
Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di antara dua makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun.

Makam Pahlawan di utara, Makam Sayyid Zein di Makam Islam RW02 selatan, dan Imaduddin—yang pernah berbentuk musala dan kini menjadi masjid—adalah tiga sisi dari keping sejarah yang sama.

Hal itu secara tidak langsung, simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan, yang dirintis Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun—dilanjutkan putranya KH. 

Abdullah Manan, besannya KH. Hamzah Murtadlo, dan cucunya KH. Yusuf Manan yang memugar musala menjadi masjid pada 1962.

Perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang menjodohkan putra dan putri mereka—bukan sekadar urusan personal, melainkan strategi cerdas untuk membangun jaringan dakwah dan perjuangan yang kokoh. 

Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh individu, tetapi oleh ikatan-ikatan sosial yang diperkuat lintas generasi.

Makam keluarga Mbah Sayyid Zein. Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi makam keluarga Masjid Imaduddin, rumah ibadah perintis di Medokan Ayu, pada Rabu, 9 September 2026, usai Ashar.


Seruan: Menggali Lebih Dalam
Sudah saatnya menggali lebih dalam melalui riset arsip dan wawancara generasi tua, membuka arsip kolonial dan catatan keluarga, mendokumentasikan sejarah lisan sebelum sesepuh berpulang, dan menjadikan Masjid Imaduddin sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. 

Agar tahun berdirinya musala dan tahun perubahan menjadi masjid tidak terus menjadi tanda tanya. 

Agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi, dan jasa Sayyid Zein, KH. Abdullah Manan, KH. Hamzah Murtadho, serta KH. Yusuf Manan tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi sebagai teladan hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.

Ringkasan Data Penting
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun wafat pada Selasa, 19 Maret 1889 (17 Rajab 1306 H). Makamnya di Makam Islam RW02, 300 meter selatan Imaduddin. 

Musala didirikan sebelum 1889, kemungkinan 1870-an–1880-an, saat Sayyid Zein masih hidup. 

Faktor administratif izin pendirian musala adalah keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara yang telah ada sebelum musala berdiri. 

Makam Islam RW02 belum ada pada masa pendirian musala, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

KH. Abdullah Manan adalah putra tunggal Sayyid Zein. Lahir sekitar 1880-an, wafat 1999. 

Sayyid Zein berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho dari Kendalsari dengan cara menjodohkan putranya KH. Abdullah Manan dengan putri KH. Hamzah Murtadho, Salamah. Dari pernikahan ini lahirlah KH. Yusuf Manan pada 1940.

Tiga pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi—gugur sebelum 1940 dan dimakamkan di sisi utara musala, kurang dari 100 meter. Kini menjadi Makam Pahlawan.

Tahun 1962 menjadi tonggak penting: musala berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan.

Silsilah Keluarga
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun berputra KH. Abdullah Manan. Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho (Kendalsari) dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah. 

Dari pernikahan ini lahir KH. Yusuf Manan (1940)—yang pada 1962 memugar musala menjadi masjid—dan generasi selanjutnya. Sayyid Zein wafat 1889, dimakamkan di Makam Islam RW02 selatan.

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (5)

Ilustrasi

Bab 7: Refleksi—Musala sebagai Simbol Perjuangan dan Kontinuitas
Dari rentetan fakta terbatas namun saling menguatkan, dapat ditarik benang merah yang kuat.

Pertama, Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—adalah faktor penentu bagi pengurusan izin resmi pendirian musala di masa kolonial. 

Keberadaannya menjadi syarat administratif yang dipenuhi Sayyid Zein saat mengajukan izin. Makam Islam RW02 di selatan belum ada pada masa itu, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

Kedua, Makam Islam RW02 di selatan adalah makam keluarga Sayyid Zein, yang baru ada setelah ia wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga pendiri—bukan faktor penentu izin pendirian musala.

Ketiga, Musala Imaduddin didirikan Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan dekade 1870-an–1880-an, saat putranya masih bocah. 

Itu menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua di Surabaya Timur, yang berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun sebelum akhirnya menjadi masjid pada 1962.

Keempat, perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menunjukkan bahwa perjuangan dan dakwah di kawasan ini tidak hanya dilakukan secara individu, melainkan melalui strategi keluarga dan jaringan ulama yang saling mendukung.

Kelima, pemugaran musala menjadi masjid oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 menandai babak baru dalam sejarah Imaduddin. 

Dari rintisan Sayyid Zein yang sederhana, tempat ibadah ini tumbuh menjadi masjid yang kokoh—monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama di utara, peran sentral Sayyid Zein di selatan sebagai pendiri, serta kontinuitas perjuangan dari generasi ke generasi melalui jaringan keluarga yang diperkuat oleh perbesanan antarulama.

Kesimpulan Historis: Kapan Musala Berdiri, Kapan Menjadi Masjid?
Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi tahun wafat Sayyid Zein (1889) sebagai batas akhir, kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat para pahlawan gugur sebelum 1940, memberi petunjuk kuat bahwa musala berdiri pada akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, sekitar 1870-an–1880-an.

Tempat ibadah ini berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun, hingga akhirnya pada 1962 berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein.

Keberadaan dua makam di dua sisi berbeda—Makam Pahlawan di utara sebagai faktor administratif izin pendirian, dan Makam Islam RW02 di selatan sebagai makam keluarga pendiri—semakin memperkuat narasi bahwa musala ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak akhir abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi masjid pada 1962.

Penelusuran lebih lanjut masih dibutuhkan melalui arsip kolonial Belanda, catatan lisan sesepuh kampung, serta dokumen keluarga—terutama untuk memastikan angka tahun pasti pendirian musala dan detail proses pemugaran 1962.


Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (4)

Sempat kaget melihat poster yang menempel di tembok di Musala Ar Rivai di Medokan Kampung. Disana disamping tertulis Nama KH. Yusuf Manan, dan KH. Abdul Manan, ada pula KH. Murtadho, yang pasti siapapun bakal mengetahui bila membaca artikel ini

Bab 6: Tonggak 1962—Dari Musala Menjadi Masjid
Inilah inti penelusuran artikel ini: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Dari berbagai jejak yang berhasil dirangkai, dapat disimpulkan bahwa Imaduddin telah berdiri sebagai musala sejak akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, pada dekade 1870-an hingga 1880-an. 

Selama puluhan tahun—melintasi pergantian abad, masa perjuangan kemerdekaan, hingga awal kemerdekaan—tempat ibadah ini tetap berbentuk musala kecil yang sederhana.

Tonggak penting terjadi pada tahun 1962. Pada tahun inilah musala tersebut berubah bentuk menjadi masjid. Perubahan ini dipugar—dalam arti dibangun ulang dan diperbesar—oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun, putra KH. Abdullah Manan dan Hj. Salamah. 

KH. Yusuf Manan lahir pada 1940, sehingga pada 1962 ia berusia sekitar 22 tahun—usia muda yang penuh semangat untuk melanjutkan estafet perjuangan kakeknya.

Dengan demikian, rentang waktu Imaduddin sebagai musala berlangsung kurang lebih 70 hingga 80 tahun, yaitu dari sekitar 1870-an–1880-an hingga 1962. Barulah setelah 1962, tempat ibadah ini menyandang status masjid hingga sekarang.

Pemugaran oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan juga penanda kematangan sebuah rintisan spiritual yang telah ditanam Sayyid Zein hampir satu abad sebelumnya. 

Estafet kepemimpinan—dari Sayyid Zein ke KH. Abdullah Manan, lalu ke KH. Yusuf Manan—menunjukkan kontinuitas yang kuat dalam menjaga dan mengembangkan sarana ibadah ini.