Minggu, 27 September 2026

Mengenal "Kampung Nelayan" Medokan Ayu: Bukan Pemukiman, Melainkan Denyut Nadi Para Nelayan

Dengan adanya PJU, malah hari perahu yang sedang ditambatkanpun terlihat jelas. Foto: Wasis

InfoMedokanAyu – Sebutan "Kampung Nelayan" di Medokan Ayu mungkin sering terdengar. Namun, tahukah bahwa istilah ini memiliki makna yang jauh berbeda dari yang dibayangkan banyak orang?

Kampung Nelayan Medokan Ayu bukanlah kawasan pemukiman tempat para nelayan bertempat tinggal. Lebih tepatnya, adalah sebuah tempat berkumpul yang hidup selama 24 jam, mengikuti irama pasang surut air laut.

Di depan Gubug Istirahat, selalu ada nelayan. Foto: Wasis.

Di lokasi inilah para nelayan bertemu, beristirahat, dan bersiap—baik sebelum berangkat maupun sesudah kembali dari melaut. 

Tak heran jika kawasan ini juga menjadi lokasi strategis untuk menambatkan perahu-perahu mereka.

Gubug Istirahat di siang hari

Dari Gubug Istirahat hingga Musala: Jejak Perkembangan Sejak 2020
Eksistensi Kampung Nelayan Medokan Ayu semakin terasa sejak tahun 2020. 

Saat itu, bertepatan dengan awal pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) membangun "gubug istirahat" bagi para nelayan.

Bangunan semi permanen ini menjadi tempat singgah yang nyaman bagi mereka yang hendak berangkat atau baru saja kembali dari laut.

Perkembangan tak berhenti di situ. Pada tahun 2023, sebuah musala berdiri, diinisiasi oleh tokoh Medokan Ayu, Arif Fathoni. 

Kelengkapan tempat wudhu dan tandon air pun turut dibantu oleh Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, setelah beliau meninjau langsung kondisi Kampung Nelayan.

Paling ujung Barat Warkop

Semangat Baru: Warung Kopi, Penerangan, dan Senyum Para Nelayan
Tahun 2023 menjadi titik balik yang membahagiakan bagi para nelayan. 

Pada tahun itu sebuah warung kopi didirikan atas inisiatif seorang nelayan, menjadi tempat ngobrol santai sambil menikmati aneka makanan dan minuman. Suasana pun semakin hidup.

Yang lebih menggembirakan, penerangan listrik dari PLN mulai menyala. 

Jika dulu kawasan ini gelap, kini berubah terang. 

Bahkan saat ini, kehadiran Penerangan Jalan Umum (PJU) membuat Kampung Nelayan terang benderang. 

Senyum para nelayan pun tak bisa disembunyikan.

Harapan dan Tantangan yang Masih Membentang
Atas kemajuan ini para nelayan bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Namun, mereka juga menyadari masih ada beberapa kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi.

Kebutuhan air bersih dari PDAM, misalnya, masih harus dibeli dari mobil tangki. 

Selain itu, akses jalan utama menuju Kampung Nelayan masih berupa tanah—sangat kontras dengan kondisi jalan di sisi selatan sungai yang sudah berpaving.

Pada jembatan akhir Medokan Sawah Timur, lurus 100M (tampak mobil) disitulah Kampung Nelayan. Bila belok kanan melintasi jembatan, itu arah ke Ekowisata Mangrove.

Regenerasi dan Dinamika Kelompok Usaha Bersama
Satu hal yang membanggakan, Kampung Nelayan kini didominasi oleh generasi muda. Mayoritas berusia di bawah 40 tahun, membawa semangat dan ide-ide baru.

Sebelumnya, di kawasan ini hanya ada satu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan bernama "Sumber Rejeki" dengan anggota maksimal 25 orang, yang diketuai oleh Sumardi. 

Kini, telah terbentuk pula KUB serupa dengan nama "Pinggir Karang", diketuai oleh Mochamad Acep Bahrudin, dengan 13 anggota. KUB baru ini sedang dalam proses pengurusan badan hukum.

Simbol Perjuangan dan Kolaborasi
Dengan segala dinamika dan perkembangannya, Kampung Nelayan Medokan Ayu bukan sekadar tempat berkumpul. 

Kampung Nelayan ini adalah simbol perjuangan, kolaborasi, dan harapan baru bagi para nelayan di kawasan ini.

Mari kita dukung terus kemajuan nelayan!





Waspada Ancaman Banjir: Nelayan Medokan Ayu Desak Penanganan Pohon Liar di Sungai Kebon Agung

Ilustrasi

InfoMedokanAyu – Nelayan Medokan Ayu, Surabaya, mendesak pemerintah kota dan instansi berwenang segera melakukan perampingan terhadap ranting pohon yang menjuntai ke Sungai Kebon Agung serta menebang pohon liar yang kini miring ke arah sungai, yang berisiko roboh ketika hujan atau banjir rob. 

Langkah itu dinilai mendesak untuk mencegah banjir di Surabaya Selatan, termasuk Medokan Ayu dan Penjaringan Sari menjelang musim hujan November 2026.

Menurut Sumardi Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki", sepanjang sekitar 1 kilometer dari Kampung Nelayan hingga kawasan mangrove terdapat lebih dari 100 pohon yang perlu dirampingkan.

Sementara jumlah pohon yang layak tebang belum dapat ditentukan nelayan karena harus menunggu keputusan pihak berwenang. "Itu bergantung yang berwenang," ujarnya.

Pohon-pohon liar yang miring ke arah sungai dikhawatirkan roboh saat musim hujan tiba. Pohon yang buahnya diolah jadi sirup ini, memang gampang roboh.

Jika itu terjadi, aliran Sungai Kebon Agung akan terhambat dan risiko banjir di Surabaya Selatan tak dapat dihindari.

Antara lain pohon yang roboh ke sungai dan menimpa perahu. Ini lokasi di kampung nelayan.

Kondisi ini juga sudah mengganggu aktivitas nelayan. Perahu pengantar pemancing terpaksa kini melaju zig-zag, dan anak buah kapal (ABK) harus sering merundukkan badan agar tidak tersangkut ranting.

Nelayan mengaku tidak berani melakukan penebangan sendiri karena ada aturan yang melarang. 

Mereka berharap pemerintah segera turun tangan. "Kami tidak berani menebang. Itu ada aturannya," katanya.

Keluhan Air Bersih PDAM
Selain masalah pohon, nelayan kini juga mengelus dada pasokan air bersih PDAM sampai saat ini tertunda. 


Kawasan Rendah Medokan Ayu Terancam Banjir
Di samping itu, empat sungai besar yang mengarah dari Tambak Medokan Ayu mengalir ke Sungai Kebon Agung kini mengalami pendangkalan yang semakin parah. 

Akibatnya, perahu nelayan pencari kepiting tidak lagi bisa masuk ke sungai tersebut karena terlalu dangkal. 

Pendangkalan ini juga membuat tambak saat panen tidak bisa membuang air secara manual, tetapi harus menggunakan mesin pompa.

Sementara itu, pengerukan/ normalisasi Sungai Kebon Agung sisi timur terakhir dilakukan sekitar enam tahun silam, ketika Lurah Medokan Ayu dijabat Ahmad Yardo Wifaqo, S.A.P., M.A.P.

Nelayan Medokan Ayu berharap segala penghambat aliran sungai itu segera dijauhkan agar musim hujan tidak membawa bencana banjir. (Red)



3 Tahun Musala Berdiri, Warga Kampung Nelayan Medokan Ayu Masih Beli Air Pakai Mobil Tangki


InfoMedokanAyu — Sudah sekitar tiga tahun Musala  di Kampung Nelayan Medokan Ayu, Surabaya, berdiri. Namun hingga hari ini, kebutuhan air untuk wudhu dan keperluan lainnya masih harus dipenuhi dengan cara membeli air dari mobil tangki.

Penulisan Musala - adalah versi baku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yakni (tanpa huruf 'h' dan hanya menggunakan satu huruf 's'). Mushola versi tidak baku.

Kondisi ini menjadi beban yang terus dirasakan warga Kampung Nelayan Medokan Ayu. 

Pasalnya, setelah turun melaut, para nelayan tidak bisa langsung mandi atau membersihkan diri. Mereka harus benar-benar berhemat air.

Minimal dalam 10 hari, tandon air di kawasan tersebut harus diisi sebanyak 2 kubik atau senilai Rp150 ribu. Artinya, dalam sebulan warga harus mengeluarkan minimal Rp450 ribu hanya untuk kebutuhan air bersih.

Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan setempat sebenarnya sudah pernah mengajukan penyambungan aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Musala di Kampung Nelayan

Pengajuan itu didasari fakta bahwa keberadaan kampung nelayan, masuk administratif kota Surabaya.

Selain itu, di jalanan Kampung Nelayan sudah tertanam pipa besar PDAM.

"Tapi jawaban dari petugas PDAM, di sana belum ada jaringan," kata seorang anggota nelayan yang diserahi mengurus penyambungan PDAM.

Para nelayan memahami bahwa air bersih adalah hak dasar yang dijamin negara. Jika pipa sudah tersedia dan warga telah mengajukan secara resmi, seharusnya ada penjelasan transparan dan jadwal pasti kapan jaringan akan dibangun.

Namun bagi para nelayan, pilihan mengalah seolah menjadi pegangan wajib.

Mengalah ini tak dapat dipungkiri bagi nelayan, yang tanpa kejelasan hanya akan memperpanjang ketidakadilan. 

Ini secara tidak langsung mencerminkan "kultur menerima" atau learned helplessness — sikap yang melekat pada nelayan akibat terlalu sering dikecewakan.

Meski berada di wilayah Surabaya yang merupakan kota metropolitan, warga nelayan masih sangat percaya dan menerima bila PDAM menilai Kampung Nelayan sebagai kawasan pinggiran atau marjinal dalam perencanaan pembangunan.

Entah sampai kapan warga Kampung Nelayan harus menunggu untuk bisa menikmati harga air bersih yang layak, sebagaimana warga Surabaya lainnya.

Sarana Ibadah ini sejak 2023 sudah tersedia. Atas bantuan Tokoh di Medokan Ayu, Arif Fathoni, para nelayan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. 

Sementara perlengkapan tempat wudhu dan tandon air dibantu oleh Walikota Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T.,setelah berkunjung melihat dari dekat kondisi kampung nelayan. 

 Oleh : Priono Subardan

Halaman terkait tambak:


Sabtu, 26 September 2026

Dukungan Berkelanjutan untuk Nelayan Medokan Ayu: Dari Perahu hingga Pavingisasi oleh Camat Rungkut

Tambatan Perahu di kampung Nelayan, yang sudah pavingisasi oleh Camat Rungkut pada 2025.

InfoMedokanAyu – Keberadaan nelayan di Medokan Ayu terbukti memberikan kemanfaatan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan hadirnya berbagai bentuk bantuan dari pemerintah dan masyarakat peduli yang terus mengalir untuk mendukung aktivitas mereka. 

Atas semua dukungan yang tak pernah putus ini, para nelayan Medokan Ayu menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.


Sumardi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu, memaparkan ragam bantuan yang telah diterima kelompoknya sejak ia menjabat pada tahun 2018. 

Dengan penuh rasa syukur, ia mengenang setiap bantuan yang datang silih berganti.

Bantuan tersebut meliputi 3 unit perahu beserta alat tangkapnya, 13 unit mesin motor tempel berukuran 6,5 PK, 2 unit mesin motor tempel 13 PK, 2 unit pompa air merek Alkon, 9 as balik-baling perahu, serta 2 unit freezer box.

Bantuan-bantuan yang tidak bernilai pokok juga banyak, seperti Paranet untuk atap perahu, ada juga yang memberikan sumbangan lampu baterai. "Ragamnya banyak", tuturnya.

Selain itu, nelayan juga pernah menerima bantuan terkait usaha sampingan, di kala paceklik. Antara budidaya kepiting berupa apartemen kepiting dengan 25 rak, 20 ekor ayam petelur beserta kandangnya, kolam lele dan pakannya, bibit bandeng berikut pakannya, dan 11 ekor kambing.

"Bantuan-bantuan itu diterima pada masa pemerintahan sebelum Pak Prabowo," ujar Sumardi. 

Meski demikian, ia tetap menyampaikan terima kasih yang tulus atas semua perhatian yang telah diberikan, karena bantuan-bantuan tersebut hingga kini masih dirasakan manfaatnya.

Tambatan perahu yang belum berpaving

CAMAT RUNGKUT
Tidak hanya dari pemerintah pusat, dukungan juga datang dari pemerintah kota. 

Setahun yang lalu, Camat Rungkut, Surabaya, Maskur, S.H., M.H., memberikan perhatian khusus setelah mengunjungi kampung nelayan tersebut. 

Atas kepeduliannya ini, para nelayan mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam.

"Bantuan itu diberikan setelah Pak Camat melihat kondisi bibir sungai tempat tambatan perahu yang memprihatinkan saat hujan," kenang Sumardi. 

Terima kasih, Pak Camat, atas respons cepat dan nyata yang telah mengubah wajah tambatan perahu kami.

Sejak kunjungan itu, sebanyak 70 meter bibir sungai telah dipavingisasi oleh Camat Rungkut. 

Kini nelayan merenungi keinginan untuk memperpanjang pavingisasi 100 meter, menyambung yang telah dipasang oleh Camat Rungkut. 

Riilnya, tambatan perahu sisi timur, pinggir sungai belum berpaving.

Tempat ibadah sudah tersedia disana

Sarana Ibadah Musala sejak 2023 sudah tersedia. Atas bantuan Tokoh di Medokan Ayu, Arif Fathoni, para nelayan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. 

Sementara perlengkapan tempat wudhu dan tandon air dibantu oleh Walikota Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T.,setelah berkunjung melihat dari dekat kondisi kampung nelayan. 

Terima kasih, Pak Walikota, atas perhatian dan bantuan yang sangat berarti bagi kami.

Sementara "Gubug istirahat" para nelayan yang hendak atau usai melaut telah disediakan Pemkot melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), masa kepala dinas Erna Purnawati yang dibangun di awal pandemi Covid 2020. 

Disebut "gubug" bertolah kondisi bangunan yang semi permanen dan besar sekali manfaatnya.

"Terima kasih atas fasilitas yang membuat kami dapat beristirahat dengan layak", kata ketua dan wakil ketua KUB Nelayan "Sumber Rejeki" Sumarlin dan Titok Warsito.

Di sana pada 2023 juga telah tersedia lokasi ngobrol dengan aneka makanan dan minuman yang diusahakan oleh seorang anggota nelayan, Sunyoto. 

Kehadiran tempat ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terus hidup di Medokan Ayu.

Kini nelayan juga mengajukan pengadaan perahu bot dan pos pantau — selengkapnya klik "Nelayan Medokan Ayu Inisiatif Sendiri: Minta Pos Pantau dan Perahu Patroli ke Dirpolairud Polda Jatim".

Langkah itu tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga meningkatkan keamanan dan kenyamanan para nelayan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Lokasi kampung nelayan 100M dari jembatan puri indah, jembatan para wisata yang ingin melihat taman wisata Mangrove, gunung anyar.

Semua ini adalah buah dari dukungan yang terus mengalir — dan untuk itu, para nelayan Medokan Ayu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. 

Semoga kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.


Halaman terkait tambak:

Jumat, 25 September 2026

Turut Berduka: Innalillahi, Bapak H. Rochmad Efendi, Warga RT03 RW02, Berpulang Hari Ini

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak:

H. ROCHMAD EFENDI

Usia: 79 tahun


Alamat: Jl. Rojo Mino RT 03 RW 02, Medokan Kampung - Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya

Waktu: Jumat pagi, pukul 09.30 WIB

Almarhum meninggal dunia dalam keadaan tanpa proses sakit yang berarti. 

Subuh pagi tadi, beliau masih salat berjamaah di Masjid Imaduddin, sekitar 100 meter dari rumahnya. 

Beliau berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, sebagaimana orang yang sehat.

Sebelum dimakamkan di Makam Islam RW 02, jenazah  disalatkan di Masjid Imaduddin, dihadiri oleh warga dan jamaah masjid.

Kami, keluarga besar warga RW 02, jamaah Masjid Imaduddin, dan seluruh warga Medokan Ayu menyampaikan duka cita yang mendalam. 

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. 

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Disalatkan di Masjid Imaduddin 

Memasuki Masjid Imaduddin 

Keluar dari Masjid Imaduddin menuju Makam 

Memasuki area makam


Renungan

Kepergian H. Rochmad Efendi membawa banyak pelajaran bagi kita yang masih hidup. 

Beliau wafat pada hari Jumat, setelah sebelumnya masih salat Subuh berjamaah di masjid, berjalan kaki, dan tanpa keluhan sakit. 

Dalam pandangan Islam, ini adalah tanda-tanda yang memberi harapan besar sebagai husnul khatimah, akhir hidup yang baik.

Beberapa makna yang bisa kita renungkan:

Wafat di hari Jumat
Dalam hadis disebutkan bahwa seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat akan dilindungi dari fitnah kubur. Ini adalah keutamaan dan harapan baik.

Masih salat Subuh berjamaah
Orang yang salat Subuh berjamaah berada dalam jaminan Allah. Beliau menutup hidupnya dengan ibadah yang sangat utama.

Rajin salat berjamaah di masjid
Kebiasaan beliau menunjukkan hati yang terikat pada masjid. Ini termasuk amal yang Allah janjikan pahala besar.

Wafat tanpa sakit
Kematian yang tenang tanpa proses sakit panjang adalah bentuk kasih sayang Allah. Bagi orang saleh, ini menjadi tanda rahmat.

Disalatkan oleh jamaah
Salat jenazah adalah doa dan syafaat. Semakin banyak orang saleh yang mendoakan, semakin besar harapan ampunan Allah.

Hanya Allah yang mengetahui akhir setiap hamba. 

Tanda-tanda ini cukup menjadi renungan bagi kita untuk memperbaiki diri, menjaga salat berjamaah, menghidupkan masjid, dan tidak menunda tobat.

Semoga kita semua dapat meneladani ketekunan almarhum dalam beribadah. 

Mari kita doakan almarhum, dan jadikan kepergiannya sebagai pengingat bahwa ajal bisa datang kapan saja, bahkan tanpa sakit.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menempatkan beliau di surga-Nya. Aamiin.

Billahittaufiq wal hidayah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


--- Salam takziah dari keluarga besar Medokan Ayu ---

Kamis, 24 September 2026

Dukung Nelayan Medokan Ayu, Rawat Sungai Kebon Agung – Antisipasi Banjir Surabaya Selatan

Salah satu pohon tumbang di sungai Kebon Agung, menimpa perahu nelayan. Ini resiko menghambat aliran sungai. Nelayan hanya bisa membersihkan ranting. Berbuat lebih, harus dihindarkan agar tidak berbenturan dengan aturan pemotongan pohon.

InfoMedokanAyu - Sungai Kebon Agung bukan sekadar garis batas wilayah di sisi selatan. Ia adalah nadi kehidupan. 

Dari sungai itu, dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan, bangkit: KUB Nelayan “Sumber Rejeki” dikomandani oleh Sumardi dan KUB Nelayan “Karang Pinggir".

KUB Nelayan Karang Pinggir ini organisasi baru. Masih proses pengurusan badan hukum. Menampung anggota susulan. KUB Nelayan Sumber Rejeki, keanggotaannya sudah maksimal, sesuai aturan.

Kehadiran mereka menciptakan kelompok pengguna harian yang paling merasakan langsung sehat atau tidaknya sungai. 

Inilah kekuatan pengawasan informal yang berharga—sebuah mekanisme yang lahir bukan dari proyek seremonial, melainkan dari kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Itulah simpulan InfoMedokanAyu-Weblog Lingkungan Medokan Ayu setelah melihat kondisi riil Sungai Kebon Agung saat ini. 

Sungai ini berfungsi mengatasi luapan banjir dari beberapa kawasan di Surabaya, terutama wilayah selatan: Kawasan Ketintang dan Margorejo, Kawasan Karah, Kawasan Jambangan, serta Kawasan Ahmad Yani.

Sungai kebon agung ini juga sarana pembuangan air dari YKP Medokan Asri dan Penjaringan Sari melalui Rumah Pompa Pandugo di Jl. Medokan Asri, yang kini dilakukan pelebaran sungai.

Namun, manfaat keberadaan nelayan Medokan Ayu hanya terwujud jika pemerintah secara konsisten merawat sungai. Tanpa perawatan, kebangkitan nelayan tidak akan bertahan lama.

Pengawasan Harian yang Lahir dari Ketergantungan Mata Pencaharian
Kedua KUB di Medokan Ayu sama-sama bergantung langsung pada badan air dan kesehatan ekosistem sungai.

KUB “Sumber Rejeki” bergantung pada kualitas perairan estuari dan kawasan mangrove. 

Sungai Kebon Agung merupakan koridor penghubung ke Mangrove Kebon Agung. 

Tumpukan sampah atau penurunan kualitas air akan merusak habitat kepiting dan langsung menurunkan hasil tangkapan.

KUB “Karang Pinggiran” mengantar pemancing ke laut. Perahu mereka harus melintasi Sungai Kebon Agung untuk mencapai muara dan laut. 

Jika aliran tersumbat sampah atau mengalami pendangkalan, akses menuju fishing ground terputus, dan mata pencaharian mereka langsung terancam.

Dengan demikian, menjaga kebersihan aliran sungai bukan sekadar wacana lingkungan. Bagi kedua KUB ini, sungai yang sehat adalah kebutuhan ekonomi yang nyata.

Kontribusi Tidak Langsung dari Peningkatan Kapasitas Ekonomi
Bantuan pemerintah kepada nelayan Medokan Ayu—mesin baru, paket perahu, pasokan bahan bakar resmi yang lebih murah—memperbaiki kondisi operasional mereka. 


Perbaikan ekonomi ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan dan kemauan kelompok untuk terlibat dalam urusan lingkungan komunitas, misalnya kerja bakti atau melaporkan titik sumbatan.

Namun, belum ditemukan bukti bahwa kedua kelompok ini menjalankan aksi pembersihan sungai secara terorganisir. 

Kontribusi mereka lebih bersifat hasil pasif dari menjaga wilayah operasi sendiri, bukan layanan publik yang aktif. 

Karena itu, jangan menuntut nelayan menjadi pembersih sungai. Dukung mereka sebagai mitra pengawasan, sementara pemerintah menjalankan kewajibannya.

Ilustrasi 

Keterbatasan Nyata: Mata Pencaharian Individu Tidak Menggantikan Tata Kelola Sistemik
Persoalan utama Sungai Kebon Agung adalah tekanan sistem drainase kota dan pembuangan dari hulu, bukan sekadar sampah permukaan.

· Pendangkalan dan penyempitan serius: Lebar sungai pernah menyusut dari sekitar 30 meter menjadi 20 meter, menyebabkan genangan saat musim hujan.

· Pencemaran: Penelitian mendeteksi banyak partikel mikroplastik yang bersumber dari aktivitas industri dan perkotaan di sekitarnya.

· Aktor utama: Pengerukan dan normalisasi adalah kewenangan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya.

Jadi, peran nelayan dalam menjaga kebersihan lebih terbatas pada tidak membuang limbah ke sungai dan melaporkan titik sumbatan parah. 

Mereka tidak mampu membalikkan pendangkalan secara makro. Namun, justru karena keterbatasan itulah dukungan publik dan pemerintah menjadi kunci.

Dukung Nelayan, Rawat Sungai, Lindungi Kota
Mendukung keberadaan nelayan Sungai Kebon Agung bukan berarti memberi mereka beban sebagai penjaga tunggal sungai. 

Mendukung mereka berarti:
· Menuntut pengerukan dan normalisasi rutin oleh DSDABM Kota Surabaya.

· Menjaga hulu sungai dari pembuangan sampah dan limbah industri.

· Melaporkan titik sumbatan, pendangkalan, atau pencemaran.

· Menghargai hasil tangkapan dan jasa mereka, misalnya dengan membeli kepiting dari KUB “Sumber Rejeki” atau menggunakan jasa KUB “Karang Pinggiran”.

· Melibatkan mereka dalam musyawarah pengelolaan drainase dan lingkungan Medokan Ayu.

Kebangkitan nelayan Medokan Ayu adalah kesempatan. Jika sungai dirawat, mereka produktif. 

Jika mereka produktif, sungai terpantau. Jika sungai terpantau, kota terlindungi dari banjir dan ekosistem mangrove tetap hidup.

Maka, dukunglah KUB Nelayan "Sumber Rejeki" dan KUB Nelayan "Karang Pinggir"—bukan karena belas kasihan, tetapi karena kepentingan bersama: 

Sungai Kebon Agung yang bersih, dan aman, bukan hanya menghidupi warga Medokan Ayu. Sungai ini juga punya andil besar dalam menyelamatkan dari ancaman banjir—aliran dan daerah resapannya turut menampung serta mengalirkan air, sehingga ketika sungai ini terawat, risiko banjir pun ikut berkurang.


Rabu, 23 September 2026

Nelayan Medokan Ayu Inisiatif Sendiri: Minta Pos Pantau dan Perahu Patroli ke Dirpolairud Polda Jatim

Kiri: Tito Warsito-wakil ketua; Kanan: Ketua KUB Nelayan Medokan Ayu "Sumber Rejeki"

Bergerak Mandiri demi Keselamatan Perairan

InfoMedokanAyu — Nelayan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, yang tergabung dalam KUB Nelayan Sumber Rezeki dan KUB Nelayan Karang Pinggiran, secara mandiri mengajukan permohonan bantuan Pos Pantau dan perahu bot operasional/patroli kepada Dirpolairud Polda Jatim pada 22 September 2026.

Permohonan dan Pengesahan
Permohonan bernomor 09/KUB/SR/IX/2026 itu ditandatangani Sumardi, Ketua KUB (Kelompok Usaha Bersama) Nelayan Sumber Rezeki, Medokan Ayu.

Surat tersebut diketahui Ketua RW 01 Medokan Ayu, Supangin, dan Mariyono, Ketua RT 12 RW 01, yang menjadi lokasi Kampung Nelayan.

Pengajuan itu diperkuat Zainul Abidin, S.Sos., Lurah Medokan Ayu, yang turut membubuhkan tanda tangan atas upaya warganya.

Langkah ini murni inisiatif kelompok nelayan.

Pujiono - Sekretaris KUB Nelayan Medokan Ayu "Sumber Rejeki"

Tujuan dan Urgensi
Permohonan bertujuan meningkatkan keamanan, ketertiban, keselamatan, serta pemantauan aktivitas masyarakat di wilayah perairan Kota Surabaya, khususnya perairan sungai dan laut kawasan Medokan Ayu, Rungkut.

Pengajuan ini sekaligus mendukung operasional UP Polairud Surabaya.

Wilayah perairan Surabaya memiliki aktivitas masyarakat dan pelayaran cukup tinggi.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, diperlukan sarana pemantauan dan patroli yang memadai.

Keberadaan perahu operasional diharapkan menunjang patroli perairan, pemantauan aktivitas masyarakat, penanganan kejadian darurat, serta pencarian dan pertolongan jika terjadi kecelakaan di wilayah perairan.

Sementara pos pantau diperlukan sebagai tempat pemantauan keamanan dan keselamatan perairan, pusat koordinasi petugas di lapangan, serta sarana pelayanan dan komunikasi dengan masyarakat pesisir.

Sekretariat dan Kampung Nelayan. Tambatan perahu berada di sebrangnya.

Rincian Bantuan yang Dimohonkan
Adapun bantuan yang dimohonkan meliputi: 
(1) satu unit pos pantau beserta sarana pendukungnya; 
(2) satu unit perahu bot operasional/patroli perairan, lengkap dengan perlengkapan keselamatan dan perlengkapan pendukung operasional; 
(3) perlengkapan komunikasi dan keselamatan untuk menunjang operasional; dan 
(4) sarana pendukung lain sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

Bantuan itu diharapkan meningkatkan efektivitas patroli dan pemantauan wilayah perairan Medokan Ayu, mencegah gangguan keamanan dan ketertiban, serta mempercepat respons terhadap kejadian yang membutuhkan penanganan.

Kisah Musibah Nelayan
Sumardi menceritakan, salah satu anggota nelayan pernah mengalami musibah. Perahunya terbalik saat hujan lebat dan berada di laut. Ketika memasang perangkap kepiting bubu naga, hujan lebat mendadak turun disertai angin kencang.

“Perahu kecil itu diterpa angin dan ombak hingga terbalik. Korban tidak panik. Ia sempat menyelam untuk mengambil ponsel di perahu yang terbalik,” kata Sumardi.

“Kebetulan ponsel dimasukkan ke dalam timba plastik yang tertutup rapat. Ponsel itu diambil, lalu ia mengirim pesan minta bantuan,” imbuhnya.

Dengan perahu lebih besar, teman-temannya datang dan berhasil mengevakuasi korban. Namun, perahu tak tertolong, hanyut dan hilang.

Mochammad Arifin - Wakil Ketua KUB Nelayan Medokan Ayu "Karang Pinggiran.

Keputusan Bersama dan Perkembangan KUB
Pengajuan ini merupakan keputusan bersama para nelayan, baik yang tergabung dalam KUB Nelayan Sumber Rezeki maupun KUB Nelayan Karang Pinggiran.

KUB Nelayan Sumber Rezeki sudah berbadan hukum dan menaungi maksimal 25 nelayan sesuai ketentuan batas jumlah anggota.

Realitasnya, jumlah anggota terus bertambah. Kini ada anggota baru dan sudah ada 13 nelayan yang memiliki perahu.

Karena itu, dibuatkan wadah lain, yakni KUB Karang Pinggiran, yang saat ini masih dalam proses pengurusan badan hukum.

KUB Nelayan Karang Pinggiran diketuai Mochammad Arifin, 41 tahun, dengan mayoritas anggota berusia muda, di bawah 40 tahun.

Harapan
Inisiatif ini menegaskan kelompok nelayan terus bergerak mandiri demi keselamatan dan kesejahteraan warga pesisir.

Para nelayan berharap permohonan ini mendapat respons positif dari Dirpolairud Polda Jatim serta dukungan lintas lembaga, agar kebutuhan sarana pemantauan dan patroli perairan di Medokan Ayu dapat segera terwujud. (Red)




Selasa, 22 September 2026

Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 2. Habis)

Ilustrasi 

Hidup Mengikuti Irama Air

InfoMedokanAyu - Dalam keseharian, sebagian warga Medokan Ayu hidup mengikuti irama air.

Pagi bisa dimulai dengan memeriksa tambak, memberi pakan, atau menyiapkan bandeng untuk diasap. 

Siang dipakai untuk memperbaiki jaring, bubu, atau perahu. 

Sore hingga malam, sebagian nelayan turun ke lumpur mencari kepiting.

Perempuan dan keluarga sering terlibat dalam pengolahan hasil—mulai dari membersihkan ikan, mengasap bandeng, hingga memasarkan produk. 

Anak-anak tumbuh melihat bagaimana air, lumpur, dan asap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah identitas Medokan Ayu terbentuk: kampung pesisir yang sebagian warganya sampai kini hidup dari tambak, mangrove, bandeng, dan kepiting.

Perahu-perahu nelayan

Tantangan yang Tak Pernah Surut
Meski begitu, kehidupan nelayan bandeng dan kepiting tidak selalu mudah.

Harga yang berfluktuasi, musim yang tidak menentu, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

"Kini perahu nelayan sebanyak 23 buah sudah saatnya diremajakan", kata Bapak Pujiono sekretaris Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu.

Bagi pembudidaya bandeng, tantangannya menyangkut kualitas air, pakan, dan penyakit ikan. 

Bagi penangkap kepiting, tantangannya menyangkut pasang surut, cuaca, dan berkurangnya area mangrove.

Akses pasar yang lebih luas juga masih menjadi pekerjaan rumah. Di sisi lain, pembangunan kawasan pesisir dan perubahan tata guna lahan bisa mengancam ruang hidup tambak dan mangrove.

Semua itu membuat warga dituntut adaptif: mengatur waktu tangkap, mencari pasar alternatif, atau mengembangkan budidaya dan olahan agar penghasilan tetap berjalan.


Potensi Menanti Dikembangkan
Namun justru di situlah potensi Medokan Ayu terletak.

Kampung ini bisa dikembangkan sebagai pusat kuliner dan edukasi pesisir. Bandeng asap dan kepiting bakau dapat menjadi ikon yang saling melengkapi.

Wisatawan bisa diajak melihat tambak, mengenal budidaya bandeng, menyusuri mangrove, dan memahami cara nelayan menangkap kepiting. 

Produk olahan seperti bandeng asap, abon bandeng, kerupuk, hingga olahan kepiting bisa memperkuat ekonomi.

Dengan pendampingan, digital marketing, dan dukungan kebijakan—Medokan Ayu tidak hanya dikenal sebagai kampung bandeng, tetapi juga kampung kepiting.


Pesan Utama: Denyut yang Tak Boleh Berhenti
Medokan Ayu adalah pengingat bahwa Surabaya masih menyimpan denyut kehidupan pesisir.

Di tengah pertumbuhan warga yang kian membengkak, kampung ini berdiri sebagai bukti bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan. 

Bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas—mereka adalah simbol kerja, ketekunan, dan harapan.

Selama asap masih mengepul dari dapur-dapur warga, selama lumpur masih melekat di kaki para nelayan—selama itu pula Medokan Ayu akan terus hidup, bernapas, dan menginspirasi.

Medokan Ayu: Kampung Bandeng dan Kepiting di Pesisir Timur Surabaya—sebuah kisah tentang alam, kerja, dan identitas yang tak pernah kehilangan arah.  

Halaman sebelumnya.




Medokan Ayu: Ketika Bandeng dan Kepiting Menjadi Denyut Nadi Kampung Pesisir Surabaya (Bagian 1, dari 2)


InfoMedokanAyu - Di tengah gemuruh metropolis Surabaya yang tak pernah tidur, sebuah kampung di sisi timur masih menjaga ritme kehidupan yang berbeda. Ia mengikuti pasang surut, bukan jam kantor. Ia berbicara tentang lumpur dan asap, bukan beton dan kaca.

Di sana, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas; di sana tersimpan potensi ekonomi yang menanti untuk digeluti.

Medokan Ayu—sebuah nama yang kini kian sering disebut, seiring pertumbuhan warganya yang terus membengkak dan kisahnya yang semakin menginspirasi.


Ketika Kota Bertemu Pesisir
Surabaya sering dibayangkan sebagai kota metropolitan yang penuh gedung pencakar langit, pelabuhan sibuk, dan kendaraan yang tak henti berlalu. 

Namun di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, ada dunia lain yang masih bernapas dengan tenang.

Di sini, bandeng dan kepiting bukan sekadar komoditas dagang. Keduanya adalah dua nama yang menyimpan cerita tentang kerja keras, rasa, dan identitas warga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


Bandeng: Asap yang Mengepul, Harapan yang Terus Membara
Medokan Ayu dikenal luas karena bandengnya—terutama bandeng tambak dan olahan bandeng asap yang telah menjadi ikon kuliner.

Berbeda dengan kepiting, bandeng di sini merupakan hasil budidaya. Mulai dari benih atau nener, pembesaran di kolam tambak, hingga panen—semuanya melibatkan tangan-tangan warga sendiri.

Aroma asap yang khas dari dapur-dapur warga sudah lama menjadi penanda kampung ini. Bandeng kemudian dijual segar ke pasar, diolah menjadi bandeng asap yang menggoda, atau diubah menjadi aneka makanan olahan yang memperkaya cita rasa Nusantara.

Bagi banyak keluarga, bandeng bukan sekadar ikan dagangan. Ia adalah sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi—sebuah warisan yang terus dijaga dan dikembangkan seiring bertambahnya warga yang menggantungkan hidup dari tambak.
 

Kepiting: Keberanian di Balik Lumpur
Namun Medokan Ayu tidak berhenti pada bandeng. Di balik tambak dan lumpur, ada wajah lain yang sama pentingnya: kepiting bakau.

Umumnya nelayan di Medokan Ayu juga dikenal sebagai penangkap kepiting, terutama kepiting bakau yang hidup di area mangrove. 

Berbeda dengan bandeng yang dibudidayakan, kepiting diperoleh dari tangkapan alam—dari mangrove, saluran air, dan area tambak.

Aktivitas ini mengikuti irama pasang surut. Saat air surut, nelayan menyusuri tambak, saluran, atau area mangrove. 

Ada yang memasang bubu-perangkap kepiting, ada yang menggunakan jaring, dan tidak sedikit yang mencari langsung ke lubang-lubang lumpur.

Kadang mereka berangkat pagi, sore, bahkan malam hari. Hasil tangkapan lalu dijual ke pengepul atau langsung ke pembeli. 

Kepiting adalah lumpur yang melekat di kaki, hasil keberanian menanti pasang surut.


Dua Jalur, Satu Ekosistem
Bandeng dan kepiting sama-sama berasal dari alam pesisir Medokan Ayu, tetapi melalui jalur yang berbeda.

Bandeng dikelola lewat budidaya tambak, sedangkan kepiting diambil dari alam sebagai hasil tangkapan. Keduanya bertemu pada ekosistem yang sama: tambak, saluran air, dan mangrove.

Karena itu, kehidupan sebagian warga Medokan Ayu sangat bergantung pada kondisi lingkungan. 

Jika air bersih, mangrove terjaga, dan tambak terawat—bandeng tumbuh baik dan kepiting pun melimpah.

Sebaliknya, jika perairan tercemar, alih fungsi lahan terus terjadi, atau mangrove berkurang—hasil budidaya dan tangkapan ikut terancam.

Inilah yang membuat kampung ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal menjaga keseimbangan alam.

Halaman selanjutnya.


Terkait link Bandeng:

Kepiting Bakau Medokan Ayu: Komoditas Emas Warga Pesisir Menjelang Imlek 2026

Tren harga kepiting bakau.

K9DeWa - Kepiting bakau memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Permintaan pasar, baik dari restoran seafood, pengepul, maupun konsumen langsung, membuat kepiting menjadi komoditas yang menjanjikan bagi warga pesisir.

Harga kepiting saat ini sekitar Rp50 ribu per kilogram. "Kebetulan pula, bulan Agustus–September dikenal sebagai masa pertumbuhan bagi kepiting. Jadi ukuran kepiting masih kecil-kecil," kata Bapak Sumardi, ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", ketika ditemui di kampung nelayan Medokan Ayu, berdekatan kawasan Mangrove Gunung Anyar.

Kepiting Bakau. Foto: wikipedia

"Memasuki bulan Oktober dan seterusnya, ukuran kepiting sudah pada besar," lanjut ketua KUB "Sumber Rejeki", yang aktif menekuni penangkapan kepiting dengan perahu.

Bulan-bulan tersebut dikenal sebagai Bulan Kepiting Emas, yakni saat harga mencapai puncaknya, yaitu sekitar Januari–Februari.

Pada 2026, harga puncak diprediksi terjadi saat Imlek 2026, yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.

Pada puncak harga itu, 3 ekor kepiting bertelur dihargai sekitar Rp500 ribu. Untuk kepiting jantan kelas super, 3 ekor mencapai Rp400–450 ribu.

Bertumpuk "Badong" perangkap kepiting di mangrove pada Agustus-September di Kampung Nelayan, Medokan Ayu

Oleh sebab itu, para pengepul banyak melakukan penggemukan selama 15 hari sebelum Imlek.

Kini, katanya, kepiting kecil bisa terjual dengan harga Rp50–80 ribu per kilogram.

Cara penggunaan "Badong" di sekitar Mangrove. Pada bagian tengah, ada bambu untuk menggantungkan "Badong" sekaligus menancapkannya.


Lihat halaman terkait:


Kepiting Bakau Medokan Ayu: Antara Komoditas, Identitas, dan Harapan Kampung Pesisir Surabaya

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Surabaya seringkali dipandang sebagai kota metropolitan yang identik dengan gedung-gedung tinggi, pelabuhan sibuk, dan aktivitas industri yang tak pernah tidur. 

Namun, di sisi timur kota, tepatnya di Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, masih tersimpan kehidupan pesisir yang lekat dengan tambak, mangrove, dan hasil laut. 

Kondisi geografis inilah yang membentuk mata pencaharian sebagian warganya sebagai nelayan, petambak, dan pencari hasil laut sejak silam.

Salah satu aktivitas yang menonjol dan menjadi fokus dalam berita ini adalah penangkapan kepiting bakau. 

Bagi sebagian warga, kepiting bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga penanda identitas dan sumber penghidupan yang telah diwariskan turun-temurun.

Bapak Sumardi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Sumber Rejeki", menyatakan bahwa terdapat 25 nelayan kepiting di Medokan Ayu yang tergabung dalam wadah yang ia kendalikan sejak tahun 2018. 

Bapak Sumardi ketua KUB Sumber Rejeki

Dari jumlah tersebut, 23 anggota telah memiliki perahu sebagai prasarana menangkap kepiting.

Sementara 2 anggota lainnya belum memilikinya dan aktif sebagai nelayan darat—pencari kepiting di kawasan tambak.

Menariknya, di antara para anggota terdapat dua sosok senior berusia sekitar 70 tahun, yaitu Bapak Djaimin dan Bapak Slamet, yang telah menekuni usaha ini sejak masa bujang. 

Bapak Djaimin bahkan dikenal sebagai "raja kepiting" berkat hasil tangkapannya yang melimpah.

Aktivitas menangkap kepiting biasanya mengikuti irama pasang surut air laut. 

Saat air surut, para nelayan menyusuri lumpur, mencari kepiting di lubang-lubang, memasang bubu (perangkap), atau menggunakan jaring. 

Perangkap kepiting "bubu naga" yang banyak dijual di pasar online

Ada yang melakukannya pada pagi hari, sore, bahkan malam hari. 

Hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul atau langsung kepada pembeli. 

Bagi sebagian warga, kepiting menjadi sumber penghasilan utama; bagi sebagian lain, menjadi penghasilan tambahan di samping mengantar wisatawan memancing dengan perahu.

Meski demikian, kehidupan nelayan kepiting tidak lepas dari berbagai tantangan. 

Perubahan cuaca, pencemaran perairan, alih fungsi lahan, berkurangnya area mangrove, serta pembangunan kawasan pesisir dapat memengaruhi hasil tangkapan. 

Harga yang tidak stabil, keterbatasan modal, dan akses pasar juga menjadi persoalan tersendiri yang harus dihadapi para nelayan.

Perahu untuk pencari Kepiting.

Tulisan ini merupakan langkah awal untuk mengenal Medokan Ayu dan kepiting, sekaligus bekal untuk menelusuri lebih dalam: 
- bagaimana nelayan kepiting di Medokan Ayu menjalani pekerjaannya, 
- bagaimana strategi mereka menghadapi tantangan, 
- serta potensi apa yang dapat dikembangkan. 

Tulisan bernuansa kajian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan pesisir, dan perumusan kebijakan yang berpihak pada warga nelayan.

Dengan memahami kehidupan mereka, berarti pula tidak hanya melihat kepiting sebagai komoditas, tetapi juga sebagai penanda identitas dan sumber penghidupan kampung pesisir kawasan Medokan Ayu.


Halaman terkait: