Hal itu mengingat, masih banyak ditemukan orang-orang yang menghargai kita dan tidak terus-menerus merendahkan.
Kecenderungan teman yang menggerogoti rasa percaya diri itu, seseorang yang merasa paling sempurna dan paling benar. Ini tantangan tersendiri.
Beberapa risiko jika terus menjalin pertemanan dengan sosok yang ingin menang sendiri, antara lain:
Kesehatan Mental Terganggu
· Merasa Tidak Pernah Cukup : Karena ia selalu merasa benar. Siapapun akan sering disalahkan atau dikoreksi. Lambat laun, siapa pun bisa merasa bahwa pendapat, perasaan, atau cara Anda melakukan sesuatu selalu salah dan tidak pernah cukup baik.
· Stres dan Frustrasi : Berdebat dengan seseorang yang merasa sempurna sangat melelahkan karena mereka cenderung tidak mau mendengarkan sudut pandang orang lain. Ini bisa memicu stres dan mengecewakan.
Relasi yang Tidak Seimbang (Toxic)
· Komunikasi Satu Arah : Persahabatan seharusnya tentang saling bertukar pikiran.
Dengan gambar ini, komunikasi cenderung menjadi satu arah. Ia hanya ingin mendengarkan, bukan mendengarkan.
· Selalu Menang Sendiri : Dinamika pertemanan menjadi tidak adil.
Keputusan, tempat nongkrong, atau topik pembicaraan akan selalu didominasi oleh keinginannya.
· Ego yang Merusak : Pertengkaran kecil bisa menjadi besar karena ia akan mengakui kesalahan atau meminta maaf.
Ego yang tinggi adalah fondasi yang rapuh untuk sebuah pertemanan.
Menghambat Pertumbuhan Pribadi Anda
· Sulit Berkembang : Lingkungan pertemanan yang sehat adalah tempat kita bisa belajar dari kesalahan dan menerima masukan.
Jika teman selalu merasa benar, tidak ada yang kehilangan ruang untuk mendapatkan refleksi yang jujur.
· Kritik yang Membangun Berubah jadi Menjatuhkan : Alih-alih memberikan saran yang membangun, kritiknya cenderung terasa seperti serangan pribadi karena ia merasa cara siapa pun yang salah dan cara dialah yang paling benar.
Ikut Tertutup dengan Masukan
· Takut Pendapat Berbeda : Karena siapapun mengetahui konsekuensinya jika pendapatnya berbeda (didebat, disalahkan, atau diabaikan), siapapun lebih jadi memilih diam.
Hal ini membuat siapapun terbiasa untuk tidak mengutarakan isi hati, yang juga tidak sehat.
Membuang Energi secara Percuma
· Energi Terkuras untuk Hal Negatif : Alih-alih menggunakan energi untuk hal-hal positif bersama teman, siapa pun justru menghabiskannya untuk menjaga perasaan, memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak memicu konflik, atau memulihkan diri setelah berinteraksi dengannya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Jika ada yang masih ingin mempertahankan pertemanan ini, siapa pun perlu:
1. Dimasukkannya Batasan (Batas): Tegaslah. Anda tidak harus selalu setuju dengannya. Katakan dengan sopan, "Aku mengerti sudut pandangmu, tapi menurutku begini..."
2. Pilih Pertempuran: Tidak semua hal perlu diperdebatkan. Jika itu hanya masalah sepele, terkadang lebih baik diabaikan demi menjaga energi Anda.
3. Evaluasi Nilai Persahabatan: Tanyakan pada diri sendiri, "Apa yang saya dapatkan dari teman ini? Apakah kebahagiaan yang saya peroleh sebanding dengan risiko stres yang saya alami?"
