Halaman Lain

▼

Minggu, 27 September 2026

Waspada Banjir Surabaya Selatan: Nelayan Medokan Ayu Desak Penanganan Pohon Liar di Sungai Kebon Agung

Ilustrasi

InfoMedokanAyu – Nelayan Medokan Ayu, Surabaya, mendesak pemerintah kota dan instansi berwenang segera melakukan perampingan terhadap ranting pohon yang menjuntai ke Sungai Kebon Agung serta menebang pohon liar yang miring ke arah sungai. 

Langkah itu dinilai mendesak untuk mencegah banjir di Surabaya Selatan, termasuk Medokan Ayu menjelang musim hujan November 2026.

Menurut Sumardi Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki", sepanjang sekitar 1 kilometer dari Kampung Nelayan hingga kawasan mangrove terdapat lebih dari 100 pohon yang perlu dirampingkan.

Sementara jumlah pohon yang layak tebang belum dapat ditentukan nelayan karena harus menunggu keputusan pihak berwenang. "Itu bergantung yang berwenang," ujarnya.

Pohon-pohon liar yang miring ke arah sungai dikhawatirkan roboh saat musim hujan tiba. 

Jika itu terjadi, aliran Sungai Kebon Agung akan terhambat dan risiko banjir di Surabaya Selatan tak dapat dihindari.

Antara lain pohon yang roboh ke sungai dan menimpa perahu. Ini lokasi di kampung nelayan.

Kondisi ini juga sudah mengganggu aktivitas nelayan. Perahu pengantar pemancing terpaksa melaju zig-zag, dan anak buah kapal (ABK) harus sering merundukkan badan agar tidak tersangkut ranting.

Nelayan mengaku tidak berani melakukan penebangan sendiri karena ada aturan yang melarang. 

Mereka berharap pemerintah segera turun tangan. "Kami tidak berani menebang. Itu ada aturannya," katanya.

Keluhan Air Bersih PDAM
Selain masalah pohon, nelayan kini juga mengelus dada pasokan air bersih PDAM sampai saat ini tertunda. 


Kawasan Rendah Medokan Ayu Terancam Banjir
Di samping itu, empat sungai besar yang mengarah dari Tambak Medokan Ayu mengalir ke Sungai Kebon Agung kini mengalami pendangkalan yang semakin parah. 

Akibatnya, perahu nelayan pencari kepiting tidak lagi bisa masuk ke sungai tersebut karena terlalu dangkal. 

Pendangkalan ini juga membuat tambak saat panen tidak bisa membuang air secara manual, tetapi harus menggunakan mesin pompa.

Sementara itu, pengerukan/ normalisasi Sungai Kebon Agung sisi timur terakhir dilakukan sekitar enam tahun silam, ketika Lurah Medokan Ayu dijabat Ahmad Yardo Wifaqo, S.A.P., M.A.P.

Nelayan Medokan Ayu berharap segala penghambat aliran sungai itu segera dijauhkan agar musim hujan tidak membawa bencana banjir. (Red)