InfoMedokanAyu — Sudah sekitar tiga tahun Musala di Kampung Nelayan Medokan Ayu, Surabaya, berdiri. Namun hingga hari ini, kebutuhan air untuk wudhu dan keperluan lainnya masih harus dipenuhi dengan cara membeli air dari mobil tangki.
Penulisan Musala - adalah versi baku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yakni (tanpa huruf 'h' dan hanya menggunakan satu huruf 's'). Mushola versi tidak baku.
Kondisi ini menjadi beban yang terus dirasakan warga Kampung Nelayan Medokan Ayu.
Pasalnya, setelah turun melaut, para nelayan tidak bisa langsung mandi atau membersihkan diri. Mereka harus benar-benar berhemat air.
Minimal dalam 10 hari, tandon air di kawasan tersebut harus diisi sebanyak 2 kubik atau senilai Rp150 ribu. Artinya, dalam sebulan warga harus mengeluarkan minimal Rp450 ribu hanya untuk kebutuhan air bersih.
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan setempat sebenarnya sudah pernah mengajukan penyambungan aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
![]() |
| Musala di Kampung Nelayan |
Pengajuan itu didasari fakta bahwa keberadaan kampung nelayan, masuk administratif kota Surabaya.
Selain itu, di jalanan Kampung Nelayan sudah tertanam pipa besar PDAM.
"Tapi jawaban dari petugas PDAM, di sana belum ada jaringan," kata seorang anggota nelayan yang diserahi mengurus penyambungan PDAM.
Para nelayan memahami bahwa air bersih adalah hak dasar yang dijamin negara. Jika pipa sudah tersedia dan warga telah mengajukan secara resmi, seharusnya ada penjelasan transparan dan jadwal pasti kapan jaringan akan dibangun.
Namun bagi para nelayan, pilihan mengalah seolah menjadi pegangan wajib.
Mengalah ini tak dapat dipungkiri bagi nelayan, yang tanpa kejelasan hanya akan memperpanjang ketidakadilan.
Ini secara tidak langsung mencerminkan "kultur menerima" atau learned helplessness — sikap yang melekat pada nelayan akibat terlalu sering dikecewakan.
Meski berada di wilayah Surabaya yang merupakan kota metropolitan, warga nelayan masih sangat percaya dan menerima bila PDAM menilai Kampung Nelayan sebagai kawasan pinggiran atau marjinal dalam perencanaan pembangunan.
Entah sampai kapan warga Kampung Nelayan harus menunggu untuk bisa menikmati harga air bersih yang layak, sebagaimana warga Surabaya lainnya.
Sarana Ibadah ini sejak 2023 sudah tersedia. Atas bantuan Tokoh di Medokan Ayu, Arif Fathoni, para nelayan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Sementara perlengkapan tempat wudhu dan tandon air dibantu oleh Walikota Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T.,setelah berkunjung melihat dari dekat kondisi kampung nelayan.

