InfoMedokanAyu - Abdul Ghofur (57), warga RW 13 Medayu Utara, di kalangan nelayan Medokan Ayu populer dengan sebutan “sosok bernyawa rangkap”. Pria yang memiliki putri tunggal ini masih aktif melaut hingga hari ini.
Hampir setahun lalu, ia mengalami kecelakaan di laut. Ketika itu, ia mengangkat hasil tangkapan serta alat tangkap ikan “bubu naga” sekitar 1 km di sisi timur mercusuar, yang menjadi batas pantai.
Sekitar pukul 16.00, hasilnya luar biasa: sekitar 50 kg udang berhasil dimasukkan ke perahunya yang berukuran sekitar 80 cm x 12 meter.
Tiba-tiba angin gelonggong (istilah nelayan) dari arah selatan bertiup. Seperti biasa, angin yang sering muncul bersama hujan itu diikuti gelombang yang terus datang.
![]() |
| Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan |
Gelombang pun masuk ke perahu tiga kali. Kemalangan tak terhindarkan. Perahu kemasukan air hingga penuh, lalu tenggelam dan terbalik.
Ketika itu, ia tidak panik. Ia menyelam untuk mengambil ponsel yang berada di dalam timba berukuran 5 kg tertutup rapat, di bawah perahu yang terapung dalam posisi terbalik.
Dalam situasi kalut dan terus mengingat keluarga, ia menaiki perahu terbalik itu—menurut perhitungannya, cara aman untuk menelepon bantuan ke kampung nelayan.
Timba dibuka, ponsel diambil. Timba tidak dibuang; tetap digunakan untuk melindungi ponsel, apalagi langit mulai meredup, mendung.
Permintaan bantuan ke kampung nelayan diterima oleh teman yang biasa bercanda dengannya, yakni Ketua Kelompok Usaha (KUB) Nelayan “Sumber Rejeki” Medokan Ayu, Sumardi.
Ia merasa lega. Apalagi teman bercandanya ini dikenal sebagai sosok peduli. Ia percaya sepenuhnya bantuan pasti datang.
Usai menelepon, ponsel dimasukkan lagi ke dalam timba, dan hujan pun turun.
Sambil menunggu bantuan, perahu yang ditumpanginya terdorong angin ke timur, makin menjauh dari pantai. Saat itu, ia terjatuh dua kali lagi dari perahu karena desakan ombak.
Sementara itu, kampung nelayan sedang ramai. Para nelayan menyelamatkan perahu masing-masing dari guyuran hujan lebat; jika dibiarkan, perahu bisa tenggelam karena penuh air hujan.
Ketua KUB, Sumardi, yang menerima permintaan bantuan, tergopoh-gopoh karena perahunya sendiri perlu diamankan dari air hujan.
Setelah memastikan sejenak bahwa di lokasi korban belum hujan dan korban aman—duduk di atas perahu terbalik—Sumardi melanjutkan pengamanan perahunya, lalu berangkat mengevakuasi.
![]() |
| Abdul Ghofur, usai memasang "Bubu Naga" perangkap hewan lain di muara, rehat sejenak di kampung nelayan |
“Saat itu hujan lebat. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Begitu juga ketika di laut,” katanya.
Ia menambahkan, saat evakuasi ia membawa perahu lebih besar yang biasa digunakan untuk mengantar pemancing.
Setibanya di lokasi, Sumardi bertemu Abdul Ghofur—pria yang menempuh masa SMP dan SMA di Bangil, Pasuruan. Saat itu, Abdul Ghofur telah diselamatkan nelayan lain. Belum lama berada di perahu penolong awal, ia berpindah ke perahu Sumardi.
Namun, yang berpindah hanya dirinya dan ponsel. Hasil tangkapan sudah ambyar di laut karena perahu terbalik.
Perahu itu pun ditinggalkan dan dipasangi jangkar pinjaman dari perahu penolong pertama.
Saat itu perahu tidak bisa ditarik karena cuaca buruk dan posisinya terbalik. Lebih baik ditinggalkan; besoknya diambil lagi.
“Saya lihat Pak Ghofur gemetar kedinginan. Maklum, basah kuyup. Lalu saya beri rokok untuk menghangatkan. Gitu, lalu ya tersenyum,” kata Sumardi, mengomentari teman bercandanya.
Namun, Sumardi mengakui ketenangan yang melekat pada sosok Abdul Ghofur saat itu luar biasa.
“Ketenangan dalam musibah perahu terbalik, saat sendirian dan dihempas angin gelonggong dari arah selatan, itulah yang menyelamatkannya,” katanya.
Dalam gelap seusai Magrib, Sumardi dan Abdul Ghofur tiba di kampung nelayan.
Kini perahunya berganti agak besar menjadi 800Cm x 160Cm. Sebelumnya 1200 Cm x 80 Cm.
![]() |
| Abdul Ghofur menunggu air sungai naik, untuk mengambil perangkap "Bubu Naga" dan Hasilnya. |
PARALAYANG
Minggu lalu, Abdul Ghofur kembali bernasib sial. Saat air surut, ia hendak mengangkat badong—perangkap kepiting yang telah dipasang—di muara.
Pengambilan itu wajib. Bila tidak, ikan atau kepiting yang terperangkap berisiko mati atau dimasuki binatang lain karena air surut.
Karena perahu tidak bisa menepi, Abdul Ghofur turun dan langsung ambles terbenam hingga setinggi dada.
Di situ ia tidak bisa bergerak dan meminta bantuan lagi. Lagi-lagi Ketua KUB membantunya.
“Saya tertawa melihatnya. Pak Ghofur melihat saya datang, masih bisa tersenyum,” katanya.
Caranya, ia dievakuasi dengan ditarik perahu.
“Saya lemparkan tali untuk dipegangnya. Jadi seperti paralayang. Pak Ghofur memegang tali, lalu ditarik perahu. Tampak seperti terbang, tengkurap di atas lumpur,” katanya.
Di lingkungan nelayan ini, Abdul Ghofur—yang lahir di Undaan, Surabaya, dan lulus SD di Surabaya—tergolong anggota pra-lansia.
Ia menetap di RT 01 RW 13 Medayu Utara sejak 2008 dan bergabung sebagai nelayan sejak tiga tahun silam, yakni setelah pensiun sebagai pegawai Es Krim Campina.
Semoga evakuasi musibah di laut segera ditangani dengan seksama, terutama setelah bantuan perahu bot dari Polairud hadir.



