Selasa, 29 September 2026

Bukan Cari Proyek, Tapi Berkah: Kisah Pak Sudharma, Ketua RT06/RW12 yang Menabung untuk Warga

Acara leadership dan outbond minggu lalu.

InfoMedokanAyu - Kisah Pak Sudharma Wahyu Adiwijaya ini dapat dimaknai sebagai pengabdian total dalam beberapa dimensi. Beliau adalah sosok bapak berputra dua, dengan anak sulung yang masih duduk di kelas 2 MTsN 3 Surabaya.

Dalam pendekatan shio, Pak Sudharma yang bershio Kambing memang memiliki apresiasi estetika dan kreativitas yang kuat, serta sering kali sukses dalam pelayanan sosial. 

Karakter itu tampak pada cara ia menata program RT, membangun balai, dan merawat kebersamaan warga.

Info dan data terkait kiprah Ketua RT06/RW12 ini bukan diperoleh langsung dari yang bersangkutan. InfoMedokanAyu memperolehnya dari masyarakat dan lingkungan, yang ditandai oleh aktivitas warga di lingkungan RT ini yang begitu menonjol

Karena itu, berita ini tidak dibangun dari klaim pribadi, melainkan dari pantulan kehidupan sosial yang tampak sehari-hari. 

Acara leadership dan outbond minggu lalu.

Warga menyaksikan sendiri bagaimana Pak Sudharma hadir dalam kegiatan RT, menampung keluhan, dan mencari solusi bersama. 

Dari sanalah kesan sebagai ketua RT yang mengabdi, bukan mencari proyek, tumbuh secara alami.

Dari beragam info dan data tersebut, InfoMedokanAyu kemudian memilah dan merajutnya menjadi berita yang memaknai pengabdian total dalam kisah Pak Sudharma.

Dalam proses kurasi itu, InfoMedokanAyu berusaha menempatkan kisah Pak Sudharma dalam konteks yang lebih luas: sebagai contoh kepemimpinan lingkungan yang berbasis gotong royong, literasi, dan pemberdayaan. 

Acara outbond dan off-road minggu lalu

Rangkaian informasi yang berserak dari warga kemudian dirajut menjadi narasi yang tidak hanya menonjolkan sosoknya, tetapi juga semangat kolektif yang ia hidupkan.

Yang menjadi pijakan awal dari berita ini adalah bahwa di tengah kebutuhan keluarga yang tentu tidak sedikit, beliau justru memilih untuk menyisihkan separuh gajinya bagi warga.

Menariknya, beliau ternyata berlatar belakang sebagai seorang jurnalis. 

Sang istri, Renny, juga seorang jurnalis yang kini sedang menempuh pendidikan S3 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) dan aktif menggiatkan pengelolaan hidroponik serta Bank Sampah.

Jadi, semangat pelayanan dan literasi sudah menjadi napas keluarga ini.


Pengabdian Tanpa Pamrih (Altruisme Murni)
Sebagai bapak dua anak yang masih kecil, seharusnya gaji itu bisa sepenuhnya dialokasikan untuk keluarga. Namun, beliau menyisihkan 50 persen gajinya selama hampir 4 tahun untuk kepentingan warga.

Tidak mengambil sepeser pun uang kas RT untuk membangun balai. Tidak meminta sumbangan ke warga. Ini adalah bentuk kesukarelaan tanpa ekspektasi imbalan, esensi dari pelayanan publik sejati.

Bagi seorang jurnalis yang terbiasa melihat dan menuliskan ketimpangan, beliau memilih tidak sekadar melaporkan, tetapi turun tangan langsung menjadi solusi.

Pengorbanan Finansial Nyata
Bukan sekadar retorika, gajinya benar-benar dipotong setengah. Uang itu ditabung, lalu dikembalikan ke warga dalam bentuk fasilitas dan program.

Bagi seorang ayah dengan dua putra yang masih dalam masa pertumbuhan, dan istri yang sedang menempuh S3, keputusan ini bukan perkara mudah. Ini adalah transfer kesejahteraan dari pribadi ke kolektif.

Visi Pembangunan Berkelanjutan
Setiap tahun ada capaian berbeda. Tahun pertama membangun balai RT sebagai infrastruktur dasar.

Tahun kedua membelikan jilbab untuk ibu-ibu PKK dan baju batik untuk bapak-bapak, membangun identitas dan kebersamaan.

Tahun ketiga membelikan seragam gamis sebagai baju wajib PKK, menjaga konsistensi program.

Tahun keempat mengadakan training leadership ke Kebun Teh Wonosari, Lawang, dengan fasilitator outbond dan off-road ke Bukit Si Kuneer, sebuah investasi pada pengembangan sumber daya manusia. 

Pada tahun keempat itu pula, rombongan sebanyak 13 orang pengurus berangkat menggunakan Hiace. Antara lain pengurus RT, pengurus PKK, pengurus Bank Sampah, pengurus hidroponik, dan KSH.

Acara leadership dan outbond minggu lalu

Kepemimpinan yang Memberdayakan
Beliau tidak sekadar memberi barang. Di tahun keempat, beliau berinvestasi pada kapasitas warga melalui pelatihan leadership dan outbond. Ini membangun modal sosial dan kemandirian warga.

Semangat ini sejalan dengan apa yang dilakukan istrinya, Renny, yang aktif menggiatkan hidroponik dan Bank Sampah di lingkungan sekitar.

Keduanya adalah bentuk pemberdayaan berbasis pengetahuan dan keterampilan.

Makna Sosial-Politik
Di tengah stigma bahwa ketua RT mencari proyek, kisah ini menjadi kontra-narasi.

Beliau menunjukkan bahwa jabatan RT bisa dijalankan sebagai ibadah sosial.

Ini menantang paradigma bahwa pengabdian harus dibayar.

Sebagai jurnalis, Pak Sudharma paham betul bagaimana citra publik terbentuk, dan ia memilih membangun citra itu lewat tindakan nyata, bukan pencitraan.

Nilai Filosofis
Gaji bukan hak untuk dinikmati, tapi amanah untuk dikelola. Ini mirip dengan konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani, gotong royong dalam bentuk modern, dan sedekah produktif yang tidak konsumtif.

Bagi seorang bapak berputra dua, ini juga menjadi warisan nilai yang tak ternilai bagi anak-anaknya.

Terlebih dengan latar keluarga jurnalis dan akademisi, nilai-nilai integritas, literasi, dan keberpihakan pada masyarakat menjadi fondasi yang kokoh.

Dampak Jangka Panjang
Warga merasa dihargai sehingga partisipasi meningkat. Tercipta kepercayaan pada pemimpin. Kisah ini sekurang-kurangnya bisa menjadi role model bagi RT lain.

Dan bagi anak sulungnya yang masih kelas 2 MTsN 3 Surabaya, kelak ia akan tumbuh dengan teladan bahwa seorang pemimpin adalah pelayan, bukan pencari penghidupan dari jabatannya.

Sementara sang istri, Renny, terus menempuh pendidikan tertinggi sambil mengembangkan hidroponik, menunjukkan bahwa keluarga ini memang keluarga yang tumbuh bersama masyarakat.

Lebih Baik Ber-Manfaat
Pengabdian total seperti ini bermakna pengorbanan diri secara sadar dan konsisten untuk kesejahteraan kolektif, tanpa menuntut balasan, dengan visi pemberdayaan yang terencana.

Di tengah tanggung jawab sebagai bapak dua putra, suami dari seorang akademisi dan jurnalis, serta dirinya sendiri seorang jurnalis, Pak Sudharma memilih jalan pelayanan yang jarang ditempuh orang.

Ini adalah bentuk nyata dari "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain", bukan sekadar slogan, tapi praktik selama 4 tahun.