Selasa, 08 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (1)


InfoMedokanAyu - Di sudut pemukiman padat Medokan Ayu, tepatnya di Medokan Kampung RW02, berdiri sebuah tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang: Musala Imaduddin—yang kini dikenal sebagai Masjid Imaduddin.

Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?

Tulisan ini berupaya menelusuri jejak awal Imaduddin sejak masih berupa musala kecil, jauh sebelum berbentuk masjid pada 1962. 

Di sekitar tempat ibadah ini terdapat tiga entitas sejarah yang saling terkait erat namun berada di lokasi berbeda. 

Di sisi utara, kurang dari seratus meter dari musala, terdapat Makam Pahlawan yang menjadi saksi perjuangan para ulama melawan agresi Belanda. 
Sementara di sisi selatan, sekitar tiga ratus meter dari musala, terbentang Makam Islam RW02 yang menyimpan makam Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya—sosok yang berperan sentral dalam pendirian musala tersebut.

Ketiganya bagaikan kepingan puzzle yang jika dirangkai akan membentuk narasi panjang tentang perjuangan, keteguhan iman, dan kontinuitas kepemimpinan spiritual di kawasan Surabaya Timur. 

Namun, dokumen tertulis yang utuh nyaris tidak tersedia. Tak ada angka tahun yang terukir pada nisan para pejuang. Tak ada prasasti yang memastikan kapan tepatnya musala kecil itu pertama kali berdiri. 

Yang ada hanyalah jejak-jejak samar—sebuah makam bertahun 1889, kelahiran seorang cucu pada 1940, pengakuan resmi pemerintah pada 1997, dan tonggak penting tahun 1962 ketika musala berubah menjadi masjid yang dipugar oleh KH. Yusuf Manan.

Tulisan ini berupaya menelisik sejarah tersebut secara kritis, menyajikan fakta-fakta yang terverifikasi, analisis logis atas kekosongan data, serta refleksi tentang makna warisan sejarah ini bagi masyarakat Medokan Ayu dewasa ini.

Makam KH. Hamzah Murtadho alias Yai Tolo di Makam Kendalsari

Bab 1: Dua Makam di Medokan Kampung
Pada akhir abad ke-19, kawasan Medokan Ayu masih berupa hamparan sawah dan tambak. Pemukiman hanya terkonsentrasi di Medokan Kampung, yang kini dikenal sebagai RW02. Di kawasan ini terdapat dua kompleks makam yang hingga kini masih dihormati.

Makam Pahlawan terletak di sisi utara musala, kurang dari seratus meter jaraknya. Di kompleks inilah tiga ulama pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi—dimakamkan. 





Manajemen Masjid Imaduddin Tetapkan Pengembangan Kualitas Manusia

Ilustrasi.

InfoMedokanAyu - Manajeman masjid Imaduddin menetapkan saat ini tidak sedang fokus pada pengembangan fisik (bangunan, dana, atau ekspansi), melainkan pengembangan kualitas manusia (akidah dan akhlak). 

InfoMedokanAyu menyimpulkan bahwa itu jawaban yang strategis. Jika manusia nya baik, insyaAllah pembangunan fisik akan mengikuti.

Ditanya rencana mendatang, sang penerima estafet pengelolaan, yang juga ketua Takmir Masjid Imaduddin mengatakan "yang terpenting bareng-bareng kita kawal ala ahli Sunnah wal jamaah dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia, siapa lagi kalau bukan kita. Tugas kita melanjutkan kebaikan kebaikan para leluhur", jawabnya.

Dari jawaban itu, InfoMedokanAyu menyimpulkan ada 2 poin utama yang bisa kita tangkap:

1. Prioritas saat ini adalah penguatan fundamental (akidah Ahlussunnah dan akhlak), bukan pengembangan fisik atau program besar.

2. Visinya adalah keberlanjutan (estafet kebaikan dari para leluhur/pendahulu).

Dalam kaitan ini InfoMedokanAyu menganalisis lebih lanjut maksud tersirat dari kalimat "melahirkan generasi" dan "melanjutkan kebaikan leluhur"?

Selengkapnya maksud yang tersirat dari kalimat "melahirkan generasi", silahkan klik judul ini "Masjid Imaduddin Konsentrasi Lahirkan Generasi Berakhlak Mulia"

Sementara maksud yang tersirat dari kalimat "melanjutkan kebaikan leluhur", silahkan klik judul ini "Masjid Imaduddin Konsentrasi Melanjutkan Kebaikan Para Leluhur"



Masjid Imaduddin Konsentrasi "Lahirkan Generasi Berakhlak Mulia"

Lahirkan Generasi Berakhlak. Ilustrasi.

InfoMedokanAyu - Melahirkan Generasi Berakhlak Mulia, adalah salah satu poin dari dari jawaban manajemen masjid tertua tentang rencana mendatang.


Ketika beliau mengatakan "melahirkan generasi berakhlak mulia", ada kegelisahan besar yang tidak diucapkan. 

Beliau sebenarnya sedang menyampaikan bahwa ia melihat ancaman nyata di sekelilingnya—mungkin remaja yang mulai menjauh dari masjid, pergaulan bebas, atau pengaruh media sosial yang merusak tata krama. 

Ini bukan sekadar program pengajian anak-anak, melainkan sebuah proyek penyelamatan. 

Kata "melahirkan" sendiri sangat bermakna, karena menunjukkan bahwa prosesnya berat, memakan waktu, dan butuh perjuangan lahir batin, tidak instan seperti membangun tembok atau memasang keramik. 

Beliau juga menegaskan bahwa kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas; ia lebih bangga memiliki sepuluh pemuda yang saleh dan santun daripada seratus jamaah yang hanya datang saat Jumat tapi akhlaknya tidak berubah.

Lebih dari itu, frasa ini menyiratkan metode yang ingin dipakai. Beliau meyakini bahwa akhlak tidak lahir dari mimbar ceramah, melainkan dari keteladanan sehari-hari. 

Karena itu, ia ingin lingkungan masjid itu sendiri menjadi madrasah—para takmir harus tampil sebagai contoh, guru ngaji harus sabar, pengurus harus jujur dalam urusan dana, dan sapaian kepada jamaah harus hangat. Akhlak itu menular, bukan diajarkan.


Masjid Imaduddin Konsentrasi "Lanjutkan Kebaikan Para Leluhur"

Ilustrasi

InfoMedokanAyu - Melanjutkan Kebaikan Para Leluhur" adalah salah satu poin dari dari jawaban manajemen masjid tertua tentang rencana mendatang.


Kalimat ini jauh lebih dalam dari sekadar meneruskan tradisi. 

Beliau sedang menancapkan identitas bahwa Masjid Imaduddin bukan masjid biasa, melainkan pewaris khazanah lokal yang telah dirintis oleh ulama atau tokoh terdahulu. 

Ini memberi legitimasi dan otoritas moral bagi setiap langkah pengurus saat ini. 

Dengan menyebut leluhur, beliau juga sedang mengingatkan bahwa masjid ini memiliki sejarah panjang dan tanggung jawab spiritual yang tidak main-main.

Namun di sisi lain, ada pesan halus yang bersifat protektif. 

Kalimat ini bisa menjadi tameng jika nanti muncul program baru yang dianggap kontroversial oleh sebagian warga. 

Beliau bisa menjawab, "Ini masih dalam koridor yang sudah dirintis leluhur," sehingga perubahan yang dilakukan tetap terasa aman dan tidak terkesan memutus rantai tradisi.

Yang paling berat tersirat di sini adalah beban tanggung jawab. 

Beliau merasa bahwa jika generasi saat ini rusak atau akhlaknya bobrok, maka bukan warga atau pemerintah yang ia khawatirkan, melainkan para leluhur—secara sosiologis ia merasa mengkhianati kepercayaan mereka, secara spiritual ia merasa akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. 

Ini bukan proyek sosial biasa, ini amanat mati.

Kebaikan leluhur yang dimaksud juga bukan sekadar fisik masjid. 

Leluhur meninggalkan jaringan sosial yang kuat, hubungan silaturahmi antarwarga, gotong royong yang sudah mengakar, dan ekonomi bersama yang saling menopang. 

Maka "melanjutkan" berarti menjaga relasi-relasi itu tetap hidup dan hangat, bukan hanya merawat bangunan. 

Jika bangunan megah tapi warga tidak saling sapa, maka itu bukan meneruskan kebaikan leluhur, melainkan membangun monumen di atas kuburan jamaah.


Apa yang Tidak Diucapkan Namun Sangat Mungkin Dirasa

Beliau menyisipkan kata "Untuk sementara cuma itu saja" yang terkesan menutup pembicaraan. 

Dari situ kita bisa menangkap bahwa ia mungkin lelah. Bisa jadi ia sudah sering ditanya soal pembangunan fisik atau ekspansi program. 

Padahal di belakang layar ia sedang disibukkan oleh konflik antarwarga, remaja bermasalah, atau bahkan kekosongan kas masjid. 

Fokus pada akhlak dan generasi adalah cara halus untuk mengatakan, "Kami sedang memadamkan api yang lebih besar, jangan minta kami menambah beban dulu."

Ia juga tampak khawatir dengan generasi gadget. 

Frasa "melahirkan" mengindikasikan bahwa ia melihat proses pendidikan karakter saat ini sedang berada dalam kondisi darurat. 

Anak-anak lebih akrab dengan ponsel daripada dengan kitab, lebih hafal lirik lagu daripada doa harian. 

Baginya, melahirkan generasi berakhlak butuh perjuangan yang tidak kalah berat dari perjuangan leluhur dulu saat mendirikan masjid di tengah keterbatasan.

Cara Terbaik Menyikapi
Dari semua lapisan makna ini, respons terbaik dari kita adalah menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengar kata-katanya, tetapi juga membaca kegelisahannya. 

Tidak perlu menawarkan solusi besar atau program ambisius. Cukup katakan bahwa kita paham fokus utamanya adalah menguatkan pondasi manusia terlebih dahulu, dan kita siap membantu di posisi apa pun yang beliau rasa paling mendesak, entah itu membantu kegiatan remaja, menguatkan pengajian rutin, atau bahkan sekadar menjadi pendengar yang baik jika beliau ingin berbagi cerita.

Dengan begitu, kita tidak menjadi beban tambahan bagi beliau, melainkan justru menjadi mitra yang meringankan. 

Dan itu sendiri adalah bagian dari melanjutkan kebaikan leluhur—menjaga ukhuwah, bukan hanya meramaikan masjid.


Masjid Imaduddin: Fondasi Kerukunan dan Gotong Royong Masyarakat Medokan Ayu


InfoMedokanAyu - Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Surabaya, terdapat sebuah kawasan yang tetap memelihara budaya langka yang tak banyak ditemui di wilayah lain. 

Medokan Ayu—meskipun secara administratif merupakan bagian dari kawasan perkotaan—masih mempertahankan suasana pedesaan yang kental: keramahan, tegur sapa yang akrab, serta semangat kerukunan dan gotong royong yang menjadi ciri khas keseharian warganya.

Tak dapat dipungkiri, keberadaan Masjid Imaduddin sebagai pusat kegiatan keagamaan sejak sebelum kemerdekaan telah menjadi fondasi terkuat bagi budaya gotong royong dan kerukunan di Medokan Ayu hingga saat ini. 

Itulah kesimpulan InfoMedokanAyu yang mengemuka dari penelusuran rekam jejak keunggulan masyarakat setempat. 

Sebelum menyelami lebih jauh, pembaca dapat menyimak tulisan sebelumnya berjudul "Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir" sebagai pengantar kontekstual.


Jejak Sejarah yang Menjadi Pondasi
Masjid Imaduddin berdiri sejak sebelum kemerdekaan, mencatatkan diri sebagai salah satu masjid tertua di kawasan Medokan Ayu. 

Pada tahun 1962, sejak kepemimpinan beretafet ke Generasi ke-2, KH Yusuf Manan—keturunan dari Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar—bangunan yang semula berwujud musala ini berkembang menjadi masjid.

Namun, keunggulan utamanya tidak terletak pada usia bangunan, melainkan pada konsistensi kegiatan yang diselenggarakannya. 

Beragam aktivitas itulah yang berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik inklusif yang merangkul seluruh warga. 

Budaya kerukunan dan gotong royong yang ditanamkan sejak sebelum kemerdekaan—ketika Medokan Ayu masih satu pedukuhan dengan kondisi kawasan rawa dan tambak, serta mata pencaharian utama petani tambak dan nelayan—terpelihara hingga sekarang.

Yang menarik, transformasi kawasan dari desa agraris menjadi permukiman padat tidak menghilangkan semangat kebersamaan yang diikat oleh Masjid Imaduddin. 

Justru, masjid ini menjadi "denah" sosial yang merekatkan masyarakat lintas generasi. 

Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kegiatan masyarakat yang memperkuat kerukunan melalui berbagai peran strategis.


Pusat Pendidikan dan Pengkaderan Lintas Generasi
Masjid Imaduddin menjadi lokasi rutin pengajian dan Khatmil Qur'an, terutama bagi santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad dan alumni di sekitarnya. 

Tradisi Khatmil Qur'an yang digelar pada hari Minggu Legi—mengikuti kalender penanggalan Jawa—menjadi ajang berkumpulnya para santri dan alumni yang telah berumah tangga.

Momen ini tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga menciptakan ikatan emosional dan intelektual lintas generasi yang langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. 

Para orang tua, pemuda, hingga anak-anak duduk bersama dalam lingkaran kebersamaan, menyemarakkan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini. 

Di sinilah nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis.


Perekat Sosial dan Tradisi Kolektif yang Hidup
Berbagai kegiatan tahunan, seperti Takbir Keliling, melibatkan warga, santri TPQ, dan remaja masjid secara aktif. 

Proses persiapan dan pelaksanaannya secara otomatis membangun kerja sama dan gotong royong yang erat di antara warga. 

Masjid juga menjadi tuan rumah peringatan hari besar Islam—Maulid Nabi, Isra Mi'raj, hingga kegiatan rutin NU seperti Lailatul Ijtima—yang menjadi "titik temu" rutin memperkuat toleransi dan kebersamaan.

Tak hanya itu, masjid juga menjadi pusat koordinasi saat warga menggelar acara hajatan, musyawarah desa, hingga penyelesaian masalah sosial secara kekeluargaan. 

Semua kegiatan ini menjadi pengingat kolektif bahwa kebersamaan adalah kekayaan bersama yang harus dijaga. 

Dalam setiap helaan napas kehidupan bermasyarakat, Masjid Imaduddin hadir sebagai ruang konsultasi, persaudaraan, dan pemecahan masalah yang mengedepankan musyawarah.


Pusat Pemberdayaan dan Jaring Pengaman Sosial
Fungsi masjid terus berkembang seiring zaman. Pada bulan Ramadan, Masjid Imaduddin menyelenggarakan Gerakan Berbagi Takjil yang melibatkan sinergi antara panitia relawan, mahasiswa KKN Universitas Sunan Giri Surabaya, donatur, dan tokoh masyarakat. 

Ratusan paket takjil berhasil didistribusikan tepat waktu kepada jemaah dan musafir, memperkuat kohesi sosial serta menegaskan fungsi strategis masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.

Aktivitas sosial-budaya pun turut bersemai dari masjid. Di aula remaja Masjid Imaduddin, digelar program pengenalan Teknik Sipil bagi Generasi Alpha, dipadukan dengan penanaman nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial selama Ramadan. 

Ini menunjukkan bahwa masjid tidak terjebak dalam rutinitas ibadah formal saja, tetapi juga menjadi ruang inovasi dan penguatan karakter generasi muda.

Tak heran jika masjid juga dijadikan pusat pengumpulan bantuan sosial saat terjadi musibah, titik kumpul relawan kebencanaan, hingga tempat konsultasi keluarga. 

Semua itu menegaskan bahwa Masjid Imaduddin adalah "rumah kedua" bagi seluruh warga Medokan Ayu.


Pengelolaan Lingkungan Berbasis Gotong Royong
Tradisi gotong royong ini bahkan merambat ke pengelolaan lingkungan: warga RW 12 Medokan Ayu mengelola lahan hidroponik dan kebun sayur yang menjadi pusat pembelajaran mahasiswa asing dari Australia. 

Mereka tertarik pada semangat gotong royong dan pengelolaan lingkungan masyarakat urban. 

Masjid, dalam hal ini, menjadi poros moral yang menginspirasi gerakan kolektif berbasis kemandirian dan keberlanjutan.

Masjid juga berperan sebagai katalisator gerakan kebersihan lingkungan, penanaman pohon, dan program bank sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. 

Ini membuktikan bahwa semangat berbagi dan peduli lingkungan dapat tumbuh subur di tengah padatnya permukiman urban, asalkan ada komitmen bersama yang ditanamkan oleh masjid.


Kearifan Lokal dalam Menjaga Harmoni
Masjid Imaduddin juga dikenal dengan pengaturan yang arif dalam menjaga keharmonisan. 

Jauh sebelum ada peraturan pemerintah tentang pengeras suara, Masjid Imaduddin sudah menerapkan aturan serupa demi mengharmoniskan hubungan dengan masyarakat yang mungkin terganggu oleh suara pengeras suara di malam hari. 

Volume pengeras suara diatur sedemikian rupa dan penggunaan di luar waktu salat dibatasi sesuai kebutuhan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kenyamanan semua pihak.

Ini adalah bukti nyata bahwa kerukunan dipraktikkan, bukan sekadar wacana. Sikap saling menghormati antarwarga, baik yang berasal dari latar belakang keagamaan maupun sosial yang berbeda, menjadi roh yang menghidupi keseharian Medokan Ayu. 

Bahkan, warga non-Muslim sekitar pun kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang diselenggarakan masjid, menciptakan iklim toleransi yang hangat dan autentik.


Penutup: Fondasi yang Tetap Kokoh di Tengah Zaman
Intinya, Masjid Imaduddin menjadi fondasi bukan karena bangunannya, melainkan karena kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya secara konsisten berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik yang merangkul semua warga. 

Dari pengajian rutin, tradisi khataman, takbir keliling, berbagi takjil, program edukasi generasi muda, hingga pengelolaan lingkungan berbasis gotong royong—semua berakar pada semangat kebersamaan yang dihidupkan oleh masjid tertua ini.

Di tengah arus modernisasi dan individualisme yang kerap menggerus nilai-nilai sosial, Masjid Imaduddin berdiri sebagai mercusuar yang mengingatkan bahwa kerukunan dan gotong royong bukanlah masa lalu, melainkan masa depan yang harus terus dirawat. 

Medokan Ayu membuktikan bahwa kota besar pun masih menyisakan ruang bagi kebersamaan—selama ada masjid yang menjadi jantungnya.

Kisah Masjid Imaduddin adalah cermin bahwa harmoni dapat terwujud ketika komunitas memiliki pusat yang mengikat—bukan sekadar fisik, tetapi nilai dan peran sosial yang terus diperbarui dari generasi ke generasi. 

Warisan ini layak dijaga, dirawat, dan diteruskan sebagai teladan bagi masyarakat urban lainnya bahwa di mana pun berada, kebersamaan selalu mungkin untuk dihidupkan.

Editor: Redaksi
Sumber: Wawancara dengan pengurus masjid, tokoh masyarakat, dan dokumentasi kegiatan Masjid Imaduddin Medokan Ayu.

Senin, 07 September 2026

Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir


InfoMedokanAyu - Medokan Ayu—sebuah kawasan yang dulunya adalah hamparan rawa-rawa dan tambak yang luas. 

Di sanalah, tepatnya di pesisir timur Surabaya, berdiri sebuah masjid yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama lebih dari enam dekade. 

Itulah Masjid Imaduddin, tempat ibadah Islam tertua di wilayah Medokan Ayu.

Ustadz H. Machrus, S.Pd Ketua Takmir Masjid Imaduddin.

Medokan Ayu: Dari Rawa Menjadi Permukiman
Nama "Medokan Ayu" sendiri menyimpan cerita tentang masa lalu kawasan ini. 

Secara etimologi, kata "Medokan" diduga berasal dari kata "medok" yang berarti tempat yang agak dalam, cekungan, atau kawasan yang dulunya berupa rawa dan lahan rendah. Sementara "Ayu" berarti indah atau baik. 

Jadi, Medokan Ayu dapat dimaknai sebagai daerah cekungan atau rawa yang indah dan subur—sebuah penamaan yang sangat tepat. 

Pada masa lalu, wilayah ini memang berupa rawa-rawa, tambak, dan lahan basah di kawasan pesisir timur Surabaya.

Di tengah lanskap tambak yang hijau itulah, jauh sebelum hiruk-pikuk kemerdekaan bergema, berdiri sebuah tempat ibadah sederhana. 

Pembangunan masjid 1998. Perluasan tahap ke-3, untuk pondok putri sekarang menjadi serambi putri masjid Imaduddin.

Awalnya berwujud musala (ejaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dirintis oleh Sayyid Zen. Perjuangan spiritual itu kemudian dilanjutkan oleh putranya, KH. Abdul Manan, sebagai generasi pertama.

Jejak Sejarah yang Terekam dari Generasi ke Generasi
Dimaklumi pada masa itu tidak ada catatan resmi mengenai awal berdiri musala. Yang ada hanyalah catatan kelahiran generasi kedua—KH. Yusuf Manan—pada tahun 1940, yang lima tahun kemudian bertepatan dengan berkumandangnya Kemerdekaan Indonesia. 

Berikutnya, tampuk perjuangan dipegang oleh KH. Yusuf Manan, yang pada tahun 1962 merombak musala menjadi Masjid Imaduddin.

KH. Yusuf Manan adalah seorang ulama kharismatis keturunan Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar. 

Beliau wafat ketika usianya mendekati 80 tahun, pada tahun 2019. Kini, sang istri dari KH. Yusuf Manan (almarhum), Hajjah Nur Kholilah, bertempat tinggal bersama putranya, H. Machrus, yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Imaduddin.

Kisah di Balik Pernikahan yang Menyatukan Dua Silsilah
Menurut beberapa narasumber, ibundpa dari H. Machrus ini berdarah Madura, putri dari d Mbah Sarimen bin Abbas. 

Menariknya, beberapa meter di sisi utara masjid—yang masih berbentuk musala—terdapat pelabuhan kapal rakyat, termasuk kapal-kapal dari Madura. 

Kini kawasan itu dikenal sebagai Sungai Avoer, lokasinya berhimpitan dengan kawasan Wonoayu, sisi selatan dari areal yang kini makam Islam RW 03.

Keberadaan pelabuhan itu juga dibenarkan oleh ketua RW 02 saat ini Ahmad Ro'in. Namun diakui, hal itu juga diperoleh dari cerita orang tua dan saudara. "Karena kakak saya dulu rumahnya di pinggir sungai itu", katanya.

Ayo ke Masjid Imaduddin

Mbah Sarimen sendiri, yang merupakan kepercayaan Mbah Kholil Bangkalan, ketika perahunya berlabuh di sana, rajin bersalat di Musala Imaduddin. 

Dari situlah KH. Abdul Manan mengenal dekat Mbah Sarimen. Selanjutnya, keduanya sepakat untuk menjodohkan putra dan putri mereka.

"Makanya, ibu saya dimenantu oleh KH. Abdul Manan," ujar pewaris perjuangan spiritual sekaligus generasi ketiga, H. Machrus.

Generasi Muda di Era Digital
Kini Masjid Imaduddin dikendalikan oleh Ustadz Muda H. Machrus, S.Pd.I (47 tahun), sebagai generasi ketiga. 

Ustadz muda ini juga aktif mengikuti perubahan zaman, termasuk di era digital. 

Ayah dari satu putri ini aktif mendokumentasikan beragam kegiatan masjid dan kehidupan Kampung Medokan Ayu melalui kanal YouTube, dengan tagar #SunanElektrik.

Sebagaimana sejarahnya, Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat ibadah, melainkan kokoh pula sebagai pusat syiar Islam. 

Juga tak dapat dipungkiri, sebagai pondasi spiritual bagi masyarakat Medokan Ayu pada masa itu, ketika aktivitas utama penduduk masih sebagai petani tambak dan nelayan.


Perubahan Besar Kawasan Pesisir
Memasuki akhir tahun 1980-an hingga 2000-an, Medokan Ayu mengalami perubahan besar. 

Perluasan kota Surabaya ke arah timur. Pembangunan perumahan seperti Medokan Asri dan Kosagra, serta infrastruktur jalan seperti MERR (Middle East Ring Road) mengubah wajah kawasan ini secara drastis. 

Lahan tambak dan rawa perlahan beralih fungsi menjadi kawasan permukiman padat dan strategis.

Di tengah arus perubahan yang begitu deras, Masjid Imaduddin tetap kokoh berdiri. 

Masjid ini telah menjadi penanda sejarah yang tak tergantikan di tengah kawasan yang kini padat penduduk dan modern.

Tradisi yang Tetap Terawat
Berbagai tradisi keagamaan masih terawat di sini, seperti:

· Khotmil Qur'an pada hari Minggu Legi—tradisi turun-temurun masyarakat Medokan Ayu, khususnya di RW 02.

· Peringatan Maulid Nabi yang rutin digelar dengan penuh khidmat.

· Perayaan Iduladha dengan takbir keliling yang memperkuat kebersamaan warga.

Kegiatan-kegiatan ini memperkuat peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pemersatu masyarakat.


Data Geografis dan Demografis Medokan Ayu

Untuk melengkapi gambaran tentang kawasan ini, berikut data penting yang perlu diketahui:

Letak Geografis:
· Kecamatan: Rungkut
· Kota: Surabaya
· Provinsi: Jawa Timur
· Wilayah: Pesisir timur Surabaya

Demografi:
· Mayoritas penduduk: Suku Jawa dan Madura
· Mata pencaharian utama (dulu): Petani tambak dan nelayan
· Mata pencaharian sekarang: Beragam, dari sektor formal hingga informal

Perpaduan antara warga Jawa asli dan keturunan Madura ini menciptakan akulturasi budaya yang khas, tercermin dalam tradisi keagamaan dan keseharian masyarakat Medokan Ayu.

Aksesibilitas dan Transportasi
Medokan Ayu kini semakin mudah dijangkau berkat pembangunan infrastruktur:

· Jalan Tol: Tol Surabaya-Gresik dan tol Surabaya-Mojokerto (akses dekat)

· Jalan Arteri: Jalan Raya Medokan Ayu, MERR, dan akses ke Jalan Raya Gunung Anyar

· Transportasi Umum: Angkutan kota (bemo), ojek online, dan taksi.


Potensi Wisata dan Kuliner
Meski dikenal sebagai kawasan permukiman padat, Medokan Ayu menyimpan potensi menarik:

Wisata Religi:
· Masjid Imaduddin sebagai situs sejarah dan spiritual

· Makam para sesepuh dan ulama pendahulu

Wisata Kuliner:
· Beragam warung makan dengan menu khas Surabaya

· Olahan hasil laut segar dari nelayan setempat

Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Masjid Imaduddin bukan hanya sekadar bangunan tua di tengah kawasan yang berubah. 

Lebih dari itu, masjid ini adalah bukti sejarah bahwa di tengah arus modernisasi dan perubahan lanskap yang begitu cepat, nilai-nilai keislaman dan tradisi yang diwariskan para pendahulu tetap dijaga dan dilestarikan.

Keberadaannya menegaskan bahwa identitas sebuah kawasan tidak semata-mata ditentukan oleh bangunan-bangunan modern, tetapi juga oleh akar sejarah dan spiritualitas yang telah lama mengakar di dalamnya.

Masjid Imaduddin—dari musala sederhana di tepi tambak, hingga menjadi benteng spiritual di tengah metropolis—tetap menjadi saksi bisu bahwa perubahan zaman tak pernah mampu menghapus jejak iman.


Sabtu, 29 Agustus 2026

Blok E Juara 1: Lomba Mendukung RT 09/RW 02 sebagai Kampung Pancasila

Ketua RT 09/RW 02 Bapak Henry Eka Wardhana (kanan) menyerahkan piala juara 1 kepada wakil warga Blok E. Foto: Panitia

InfoMedokanAyu — Semangat gotong royong dan kebersamaan warga RT 09 RW02 Perumahan Putra Bangsa III kembali teruji melalui lomba blok antarwarga dalam rangka mendukung terwujudnya Kampung Pancasila. 

Lomba yang digelar pada Jumat, 28 Agustus 2026 ini sekaligus menjadi rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Dalam kompetisi yang berlangsung meriah tersebut, Blok E berhasil meraih juara 1, disusul Blok Raya sebagai juara 2, dan Blok C sebagai juara 3. 


Lomba ini diikuti oleh seluruh blok di lingkungan RT 09 RW02 sebagai bentuk partisipasi aktif dalam mewujudkan kampung Pancasila.

Kampung Pancasila: Laboratorium Nilai-Nilai Luhur Bangsa
Kampung Pancasila sendiri merupakan program yang bertujuan menciptakan laboratorium nyata bagi masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 

Program ini menjadi wujud nyata bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi, melainkan pedoman hidup yang "membumi" dan dapat diterapkan dalam keseharian.


Tujuan utamanya adalah memperkuat persatuan di tengah keberagaman serta meningkatkan kesejahteraan bersama melalui berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh elemen warga.

Empat Pilar Penilaian
Penilaian lomba blok ini mencakup empat pilar utama, yakni:

🌿 Pilar Lingkungan
· Kebersihan lingkungan
· Pengelolaan sampah, termasuk pilah sampah dan bank sampah
· Inovasi lingkungan

📈 Pilar Ekonomi
· UMKM aktif
· Produk unggulan UMKM

🤝 Pilar Kemasyarakatan
· Gotong royong warga
· Partisipasi warga dalam kegiatan

🎭 Pilar Sosial Budaya
· Pelestarian budaya lokal
· Kegiatan edukasi wawasan kebangsaan dan nasionalisme.

"Monggo" warga menyambut kehadiran dewan juri.

Semangat Kebersamaan Sejak Awal
Sebelum acara berlangsung, panitia telah menyebarkan pengumuman yang mengajak seluruh warga untuk mempersiapkan lingkungan dan menunjukkan semangat kebersamaan.

"Kami mengajak seluruh warga untuk bersama-sama mempersiapkan lingkungan dan menunjukkan semangat kebersamaan warga Putra Bangsa III," ujar Ketua RT 09 RW02, Bapak Henry Eka Wardhana.

Semangat sebagai kampung Pancasila.

Slogan-slogan pun disebarkan melalui grup WhatsApp warga sebagai bentuk adaptasi di era digital, di antaranya:

· Tunjukkan Kampung Terbaik Kita!
· Jadilah Teladan, Raih Kemenangan!

Juri Independen untuk Penilaian Objektif
Untuk menjaga kemurnian dan objektivitas penilaian, panitia menghadirkan juri dari luar lingkungan RT 09, yaitu:

· Bapak Hermawan — LPMK Kelurahan Medokan Ayu
· Ibu Endang — Ketua RT 05 RW 02
· Bapak R. Eddy Agus Subekti — Ketua RT 11 RW 02

Kehadiran juri eksternal ini diharapkan dapat memberikan penilaian yang adil dan transparan bagi seluruh peserta lomba.

Tim Juri. Ketua RT 09/RW 02 Bapak Henry Eka Wardhana (ke-2 dari Kiri), Ketua RT 11/ RW02-Bapak R. Eddy Agus Subekti, Ketua RT05/RW02-Ibu Endang, dan dari LPMK Kel. Medokan Ayu-Bapak Hermawan.

Apresiasi dan Evaluasi
Mengakhiri rangkaian kegiatan, Ketua RT 09 RW02 menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama pengurus RT dan panitia HUT Kemerdekaan RI ke-81 kepada seluruh warga RT 09 atas kerjasama dan partisipasinya.

Evaluasi di akhir acara.

"Kami mohon maaf jika ada hal-hal yang masih kurang sempurna. Kekurangan akan selalu kami perbaiki pada masa mendatang," tutupnya.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari semangat yang telah diberitakan sebelumnya dalam judul "Warga RT 09 Medokan Kampung Buktikan Kemerdekaan dengan Guyub dan Silaturahmi" yang terbit pada 2 Agustus lalu. 

Lomba blok ini membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (Red)


Selasa, 25 Agustus 2026

Warga Kristiani Enam RW Gotong Royong Bersihkan Makam Medayu Utara, Tanam Palem Pinang untuk "Rumah Masa Depan"

Foto bersama usai kerja bhakti. Foto: Harsono PG

InfoMedokanAyu – Puluhan warga Kristiani dari enam Rukun Warga (RW) di kawasan Medayu Utara kompak turun ke makam umum setempat. Bukan untuk ziarah, melainkan kerja bakti membersihkan lingkungan pemakaman blok Kristiani, hari ini Selasa (25/8).

Enam RW Bersatu, 28 Relawan Turun Tangan
Aksi sosial ini melibatkan warga dari RW 9, RW 11, RW 12, RW 13, RW 14, dan RW 15. Sebanyak 28 pria dan wanita terlihat antusias mencabuti rumput liar yang tumbuh subur di antara nisan-nisan.

Tanam Palem Pinang Sepuluh, Hiasi Area Pemakaman
Tak hanya membersihkan, mereka juga menanam pohon palem pinang sepuluh (Areca catechu) di sejumlah titik. 

Jenis palem yang dikenal dengan nama latin Areca catechu ini sengaja dipilih untuk memperindah sekaligus memberi kesan asri pada area makam.


"Ini Rumah Masa Depan Kita Semua"
Fredi dan Clora, pasangan suami istri dari RW 13, tampak tak kenal lelah memotong ranting kering. 

"Kebersihan ini untuk rumah masa depan kita semua," ujar Fredi sambil tersenyum. 

Pernyataan itu langsung diamini Nailiu dan Damianus dari RW 11.

Warga Silih Berganti, Semangat Tak Pernah Padam
Di sudut lain, Nathanael, Yulianus, dan Teguh asyik menyiangi rumput yang tumbuh lebat. 


Mereka bergantian bertugas agar semua area terjangkau. Suasana kekeluargaan sangat terasa di antara para relawan.

Ditutup dengan Foto Bersama
Setelah tiga jam bekerja, acara ditutup dengan foto bersama di bawah koordinasi Gandung Cornelius dan L. Novi selaku ketua pelaksana. Wajah-wajah lelah namun puas terpancar dalam jepretan kamera.


Harapan Baru untuk Makam yang Lebih Indah
Kerja bakti ini diharapkan menjadi agenda rutin. Dengan perawatan bersama, makam umum Medayu Utara tak lagi seram, melainkan tempat yang indah dan layak untuk mengenang orang-orang tercinta. 
(Novi)




Minggu, 23 Agustus 2026

InfoMedokanAyu: Berita yang Layak Terbit, Kegiatan yang Terbuka untuk Warga


InfoMedokanAyu hadir sebagai ruang publikasi warga yang kredibel. Karena itu, kami hanya mendokumentasikan dan memberitakan kegiatan yang bersifat terbuka untuk umum, baik yang digagas oleh RT, RW, LPMK, maupun organisasi sosial seperti masjid dan karang taruna.

Kebijakan ini sejalan dengan asas transparansi dalam tata kelola lingkungan. Kami tidak mempublikasikan kegiatan yang bersifat tertutup atau terbatas untuk kalangan tertentu.

InfoMedokanAyu masih dibaca oleh 54.201 pembaca dengan Hp yang berlainan.

Indikator Kegiatan yang "Layak Berita" bagi InfoMedokanAyu
Agar sebuah kegiatan dapat diangkat oleh redaksi, perlu memenuhi variabel keterbukaan berikut:

1. Nomor WhatsApp (WA) Umum Tersedia
Setiap kegiatan wajib memiliki nomor WhatsApp umum. Keberadaan kontak WA resmi untuk publik adalah tolok ukur utama keterbukaan digital.

· Akses Cepat: Warga dapat menyampaikan aspirasi atau pertanyaan tanpa prosedur birokrasi yang rumit.

· Transparansi Proses: Setiap percakapan terekam sebagai arsip digital yang dapat dipertanggungjawabkan, berbeda dengan komunikasi lisan yang rentan kabur.

· Partisipasi Aktif: Tingginya interaksi di WA menandakan warga merasa aman dan percaya untuk terlibat.

Catatan Penting:

· Tetapkan jam operasional tanggapan (misal: 08.00 – 20.00 WIB) agar pengurus tidak kewalahan.

· Publikasi nomor pribadi Ketua RT/RW harus seizin yang bersangkutan.
· Gunakan WA khusus untuk urusan publik (informasi, keluhan, usulan), bukan untuk persoalan pribadi.

2. Daftar Nama Panitia
Pencantuman susunan panitia adalah bentuk pertanggungjawaban moral dan struktural. Nama wajib sesuai KTP. Nama panggilan bisa ditambahkan dalam kurung.

· Jelas Penanggung Jawab: Warga tahu siapa yang memegang uang (bendahara) dan siapa pengambil keputusan teknis (ketua).

· Kontrol Sosial: Jika terjadi ketidakjelasan anggaran, warga tahu ke mana harus bertanya.

· Profesionalisme: Nama yang terbuka membuat panitia bekerja lebih hati-hati dan akuntabel.

Syarat Pencantuman:

· Tulis Nama dan Jabatan (misal: Ketua, Sekretaris, Bendahara).
· Tak perlu mencantumkan seluruh nomor HP panitia; cukup nomor ketua atau bendahara untuk menghindari penyalahgunaan.

· Sertakan periode masa bakti (misal: Panitia HUT RI 2026) agar kedudukan jelas sifatnya sementara.

3. Transparansi Keuangan dan Administrasi
Pengelolaan dana operasional (iuran, sumbangan, bantuan) merupakan ranah publik yang wajib diinformasikan.

· Laporan keuangan dapat diakses oleh warga, baik melalui papan pengumuman maupun platform digital seperti sistem Trans RT/RW yang memantau realisasi anggaran.

· Anggaran yang jelas menghindari prasangka dan memperkuat kepercayaan antarwarga.

4. Kegiatan Program dan Sosial
InfoMedokanAyu mempublikasikan program kegiatan yang melibatkan warga secara langsung, seperti:

· Pengajian dan peringatan hari besar Islam
· Lomba 17-an dan kegiatan kemasyarakatan lainnya
· Gotong royong dan bakti sosial

5. Informasi Deteksi Dini dan Keamanan Lingkungan

InfoMedokanAyu wajib menyiarkan data atau laporan mengenai:

· Kerawanan sosial
· Potensi bencana alam
· Keamanan lingkungan

Informasi ini penting untuk dikomunikasikan secara terbuka demi keselamatan bersama.

PESAN UTAMA
Segala hal yang berkaitan dengan uang warga dan kepentingan bersama adalah informasi publik yang wajib terbuka.

Namun, data pribadi warga tetap dilindungi sesuai dengan etika jurnalistik dan peraturan perlindungan data.

Dengan standar ini, InfoMedokanAyu berkomitmen menjadi media lingkungan yang tidak hanya informatif, tetapi juga bertanggung jawab dan berpihak pada nilai-nilai kebersamaan. (Red)


Dosen UPN Sulap Kelor Jadi Sorbet, Petani Hidroponik RW12 Medayu Utara, Surabaya Kini Incar Cuan


InfoMedokanAyu – Warga Kampung Hidroponik Surabaya kini punya cara baru yang unik dan lezat dalam mengolah hasil panen mereka.

Jika biasanya hasil kebun hanya dipetik lalu dijual segar dengan nilai tambah yang terbatas, kini tanaman tersebut disulap menjadi velva fruit and vegetable.

Sajian pencuci mulut dingin mirip sorbet atau es krim menyehatkan ini digemari anak-anak hingga dewasa.

Inovasi renyah ini lahir dari aksi pengabdian masyarakat yang digelar oleh tiga dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.

Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Sri Winarti MP, Prof. Dr. Dwi Suhartini SE, dan Aulia Islamiyati Yusuf STP MSc pada Sabtu (22/8/2026).


Bertempat langsung di area kebun Kampung Hidroponik Surabaya, sebanyak 21 petani lokal berkumpul mengikuti sosialisasi hingga praktik pembuatan secara langsung.

Dalam sesi praktik, para petani diajak mengolah stroberi serta memanfaatkan kelimpahan daun kelor dan daun pandan yang tumbuh subur di kebun mereka.

Hasil racikan es krim segar ini terbukti sangat memuaskan, menghadirkan paduan rasa manis, segar, dan cita rasa unik yang memanjakan lidah.

Kelimpahan daun kelor dan pandan ini pun siap diproyeksikan menjadi varian rasa sorbet anyar yang belum pernah ada sebelumnya.

Semangat dengan peluang usaha baru

Prof. Sri Winarti menjelaskan bahwa pengolahan ini ditargetkan mampu menciptakan peluang usaha baru bagi para petani yang selama ini minim memproduksi barang olahan.

Agar produksi tidak terhenti pascapelatihan, tim dosen UPN Veteran Jatim turut memberikan bantuan alat berupa ice cream maker, blender, dan mixer.

"Kami harap ini bisa jadi inovasi baru yang mendatangkan daya tarik baru bagi warga maupun sekolah untuk studi banding ke kampung wisata ini," harap Prof Sri Winarti.

Tak hanya memberikan peralatan, tim dosen juga mengajari para anggota Kampung Hidroponik Surabaya cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).


Sebab selama ini banyak UMKM hanya menghitung biaya bahan-bahan tetapi lupa menghitung biaya tenaga kerja dan peralatan produksi mereka.

"Jadi ibu-ibu kalau jualan jangan lupa keringat ibu juga harus dihitung sebagai upah. Dan tentunya harus dimasukkan sebagai salah satu komponen menghitung HPP," tambah Prof Dwi Suhartini, saat memberikan pelatihan.

Ketua Kampung Hidroponik Surabaya, Renni Susilawati, menyampaikan apresiasi mendalam atas aksi para akademisi ini.

Menurutnya, inovasi mengolah daun kelor dan pandan menjadi velva atau es krim memberikan jawaban atas kesulitan warga selama ini dalam mencari produk turunan sayur.


Dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding sekadar sayur mentah, olahan ini diyakini mampu mendongkrak pendapatan petani lokal. (Red)

Rabu, 12 Agustus 2026

Waktu adalah Bumbu Paling Setia

Ilustrasi 

Hidup Bukan Perlombaan, Melainkan Perebusan


InfoMedokanAyu - Pernahkah merasa tertinggal? Melihat teman seangkatan sudah naik jabatan, bisnis orang lain melesat, sementara kita masih di titik yang sama—lalu panik, lalu memacu diri terlalu keras, lalu kelelahan?

Malam itu, di sebuah hotel bintang lima di Surabaya, saya - Priono bertemu dan mendengar sebuah pepatah dari seorang koki besar hotel itu, yang mengubah cara pandang saya tentang waktu:

"Masak dengan api besar tak selalu mempercepat."

Kalimat sederhana, tapi menusuk sadar. Sang koki—yang meminta namanya tidak disebutkan—mengajak saya merenung: bahwa hidup bukan perlombaan, melainkan perebusan. 

Dikatakannya, yang matang sempurna adalah yang berani mengecilkan api, menikmati gelembung-gelembung kecil perubahan, dan percaya bahwa waktu adalah bumbu paling setia.

Kedalaman vs Kecepatan
"Api besar membuat luar matang, dalam mentah," ujar sang koki.

Ia memberi analogi menggugah: daging yang dimasak dengan suhu terlalu tinggi akan hangus di luar, tapi tetap merah dan keras di dalam. 

Begitu pula hidup. Karier yang instan, hubungan yang kilat, atau kesuksesan yang dipaksakan seringkali rapuh di fondasinya.

Pertumbuhan sejati butuh "panas yang merata"—waktu untuk meresapi pelajaran, membangun karakter, dan menyatu dengan nilai-nilai diri. Tidak ada jalan pintas menuju kedalaman.

Kesabaran sebagai Kekuatan
"Masakan terlezat biasanya pakai api kecil dan waktu lama," tegasnya lagi.

Siapa yang tidak kenal rawon atau rendang yang dimasak berjam-jam? Rasanya meresap hingga ke serat. 

Hidup juga demikian. Kesuksesan berkelanjutan lahir dari konsistensi pelan tapi pasti, bukan dari sprint yang menguras habis energi.

Api besar memang cepat, tapi ia juga cepat menghanguskan semangat. Sebaliknya, api kecil yang stabil justru menjaga semangat tetap menyala dalam jangka panjang.

Kendali atas Diri
Api besar mudah meluap dan gosong. Itulah simbol dari ambisi berlebihan yang merusak keseimbangan hidup.

Filosofi mengecilkan api mengajarkan kita satu hal penting: kecepatan tanpa kendali adalah bentuk kekacauan. 

Belajar mengecilkan api adalah belajar mengatur nafsu, mengelola ego, dan meluruskan ekspektasi agar tidak terlalu tinggi hingga membakar diri sendiri.

Penerimaan pada Waktu Alami
Setiap bahan makanan memiliki titik matangnya sendiri. Tidak semua sayur harus direbus sebagaimana daging. Pun tidak semua impian harus tercapai di usia yang sama.

Dalam hidup, ada musim tumbuh, ada musim menunggu, dan ada musim panen

Memaksa percepatan hanya akan membuat kita kehilangan kelezatan momen—seperti hubungan yang dipaksakan serius, atau karier yang dipaksakan naik, yang akhirnya terasa hambar karena dilewati dengan tergesa-gesa.

Menjadi Matang Sempurna
Pada akhir perbincangan, sang koki tersenyum dan mengucapkan kembali pesan yang menggema di kepala saya hingga sekarang:

"Hidup bukan perlombaan, melainkan perebusan. Yang matang sempurna adalah yang berani kecilkan api, nikmati gelembung-gelembung kecil perubahan, dan percaya bahwa waktu adalah bumbu paling setia."

Maka, jika hari ini merasa lambat, ingatlah: kita sedang dimasak dengan sempurna. Bukan terlambat, hanya sedang meresap. Biarkan waktu bekerja. Waktu adalah bumbu yang tidak pernah mengkhianati proses.

Oleh : Priono - Admin

Selasa, 11 Agustus 2026

Besi Tembaga Menggoda, tapi Akar Masalahnya Ada di Hati: Mengapa Kesadaran Internal Lebih Penting Daripada Harga Rongsokan?


InfoMedokanAyu - Ada dua lapis masalah yang sering tertukar saat kita membahas maraknya pencurian fasilitas umum, seperti besi dan tembaga: tekanan ekonomi dan kesadaran internal. Keduanya saling terkait, namun bobotnya tidak seimbang.


Ekonomi sulit adalah pemicu eksternal—ia mempercepat dan memperbanyak aksi. 

Tapi kesadaran internal yang rendah adalah akar masalah. 

Ibarat api, ekonomi adalah angin yang membuat kobaran membesar, tetapi kesadaran adalah bahan bakarnya. 

Tanpa bahan bakar (rendahnya rasa memiliki), angin sekencang apa pun tak akan menghasilkan kebakaran.

Ekonomi sebagai Pemicu, Bukan Pembenar
Tingginya harga besi dan tembaga di pasar rongsokan jelas menjadi daya tarik luar biasa. 

Dalam himpitan ekonomi, menjual barang curian terasa seperti solusi instan untuk kebutuhan harian. 

Namun, penting untuk dicatat: ekonomi bukan pembenar. Realitas menunjukkan bahwa banyak keluarga prasejahtera tetap memilih kerja halal—memulung, mengupah, atau berdagang kecil—daripada merusak milik bersama. 

Jadi, faktor ekonomi hanya memperlemah pertahanan, tetapi tidak menciptakan niat jahat dari nol.

Kesadaran Internal sebagai Akar Dominan
Mengapa seseorang tega mengambil kursi taman atau mencuri kabel lampu jalan?

Karena tiga pola pikir yang mengakar:

· "Milik Tidak Bertuan" – Fasilitas publik dianggap milik "pemerintah" atau "orang lain", bukan "milik saya". Padahal, pajak dan kepentingan bersama adalah milik kita semua.

· "Dampak Tidak Terasa" – Ketika satu kursi hilang, mereka tidak langsung merasakan ketidaknyamanannya. Efeknya abstrak, sehingga rasa bersalah pun minim.

· "Normalisasi Pelanggaran" – Melihat orang lain melakukannya dengan bebas menciptakan ilusi bahwa "ini hal biasa" dan "saya juga boleh".

Pesan Utama
Ekonomi sulit mempercepat aksi, tetapi kesadaran internal yang kuat adalah benteng terakhir. 

Setinggi apa pun harga besi, jika rasa memiliki dan rasa malu tertanam kuat, fasilitas kota akan tetap aman. 

Maka, solusi tidak bisa tunggal: jangka pendek perkuat pengamanan dan penegakan hukum, jangka panjang tanamkan kesadaran kolektif melalui pendidikan, teladan publik, dan penguatan sanksi sosial (bukan sekadar sanksi hukum).

Pertanyaan Butuh Jawaban
Ya, menumbuhkan kesadaran kolektif adalah kunci. Caranya bukan hanya dengan ceramah moral, melainkan dengan:

· Membuat dampak menjadi nyata (misal, kampanye "Satu Kursi Hilang, Satu Warga Kehilangan Tempat Beristirahat").

· Memperkuat sanksi sosial (memalukan pelaku di lingkungannya, bukan hanya di pengadilan).

· Menghadirkan tokoh lokal yang menjadi panutan dalam menjaga fasilitas umum.

Oleh : Priono Subardan - Admin

Fenomena Raibnya Fasilitas Kota: Korelasi antara Maraknya Pencurian Logam (Rayap Besi) dan Lemahnya Kesadaran Internal Masyarakat


InfoMedokanAyu - Raibnya fasilitas kota seperti pagar, tiang listrik, dan kursi taman umumnya bukan karena penyederhanaan, melainkan karena pencurian logam oleh "rayap besi". 

Fenomena ini sering mewarnai pemberitaan, bahwa hal itu merugikan dan mengurangi kenyamanan warga secara umum. Hal itu bisa terjadi di sekitar kita.

Makna di balik peristiwa ini lebih dalam dari sekadar hilangnya benda:

· Kerugian Finansial & Sosial: Fasilitas dibangun dari uang pajak. 

Hilangnya kursi taman membuat warga kehilangan tempat istirahat.

Raibnya tiang lampu meningkatkan risiko kecelakaan dan kejahatan. 

Pemerintah juga harus menguras anggaran untuk perbaikan yang seharusnya bisa dialokasikan ke pembangunan lain.

· Krisis Kesadaran Kolektif: Hal ini mengindikasikan masih ada sebagian masyarakat yang memandang fasilitas umum sebagai "milik pemerintah", sehingga merasa tidak merugikan saat mengambilnya. 

Wakil Walikota Surabaya Armudji ketika melihat pagar, tiang lampu plus lampu yang raib.

Hal itu, menunjukkan kurangnya rasa kepemilikan bersama atas ruang publik.

· Maraknya "Rayap Besi": Istilah ini merujuk pada pelaku pencurian yang mengincar logam besi atau tembaga untuk dijual sebagai barang rongsokan karena nilai ekonomisnya. 

Aksi ini marak terjadi di berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Tasikmalaya, dan Pekanbaru .

Sebagai langkah antisipasi, beberapa pemerintah kota mulai mengganti material besi dengan bahan yang nilai jualnya lebih rendah dan memasang CCTV di titik rawan .

Pagar oleh Pemerintah Kota yang raib

Kesadaran Internal plus Kondisi Ekonomi

Kesadaran internal rendah, ditekan lagi oleh kondisi ekonomi. Tak dipungkiri, keduanya saling berkaitan erat, tapi inti masalahnya tetap pada kesadaran internal yang rendah.

· Kondisi Ekonomi sebagai "Pemicu" (Faktor Eksternal): Harga besi dan tembaga yang tinggi di pasar rongsokan jelas jadi daya tarik. 

Dalam situasi ekonomi sulit, menjual besi curian jadi cara instan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Namun, persoalan ekonomi bukan pembenar. Banyak orang dalam kesulitan tetap memilih bekerja halal, bukan mencuri.

· Kesadaran Internal sebagai "Akar" (Faktor Utama): Ini yang lebih dominan. Seseorang mengambil fasilitas umum karena:

  · Menganggapnya "milik tidak bertuan" (pemerintah punya, bukan "milik pribadi").

  · Merasa tidak melihat dampaknya (kursi hilang, mereka tidak merasakan langsung rugi).

  · Normalisasi pelanggaran ("orang lain juga ambil, kok").

Pesan Utama
Ekonomi sulit mempercepat dan memperbanyak aksi, tetapi jika kesadaran internalnya kuat, setinggi apa pun harga besi, fasilitas kota akan tetap aman. 

Jadi, solusi jangka pendeknya perkuat pengamanan, tapi solusi jangka panjangnya tumbuhkan rasa memiliki dan malu terhadap tindakan merusak fasilitas bersama.

Oleh : Priono Subardan