Selasa, 08 September 2026

Menelisik Tahun Berdiri Musala Imaduddin dan Makam Pahlawan di Medokan Ayu


InfoMedokanAyu - Sejarah Makam Pahlawan dan Masjid Imaduddin di Medokan Ayu menyimpan banyak misteri yang menarik untuk ditelisik. 

Info Masjid Imaduddin sendiri dilansir dengan judul berita "Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir"

Salah satu yang paling mengganjal adalah ketiadaan catatan pasti mengenai tahun gugurnya para pahlawan yang dimakamkan di sana. Tak ada angka tahun yang terukir pada batu nisan mereka. 

Hal itu sama halnya dengan tahun berdirinya musala yang kelak menjelma menjadi Masjid Imaduddin.

Namun, di balik kabutnya catatan waktu, ada jejak-jejak historis yang bisa ditelusuri untuk merangkai fragmen sejarah tempat ibadah yang sarat nilai perjuangan ini.

Makam di Tengah Kampung: Titik Awal Berdirinya Musala
Di tengah pemukiman Medokan Ayu Kampung—yang kini dikenal sebagai RW02—berdiri sebuah makam yang hingga kini masih dihormati warga setempat. 

Awalnya, Medokan Ayu memang hanya ada kawasan ini, yang kemudian dikenal dengan sebutan Medokan Kampung. Sekitarnya masih berupa sawah dan tambak.

Keberadaan makam ini ternyata memiliki pengaruh besar terhadap berdirinya Musala Imaduddin. 

Pada masa agresi militer Belanda, mendirikan rumah ibadah bukanlah perkara mudah. 

Pemerintah kolonial menerapkan aturan ketat; salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah keberadaan makam di dekat lokasi yang akan dijadikan tempat ibadah.

Kebetulan, lokasi Masjid Imaduddin hanya berjarak beberapa meter dari kompleks makam tersebut. 

Faktor inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi para perintis untuk mengajukan pendirian musala di kawasan itu.

Jejak Generasi Kedua dan Isyarat Tahun
KH. Yusuf Manan, generasi kedua dari perintis musala, lahir pada tahun 1940. Ia tumbuh di masa ketika gelora kemerdekaan mulai bergema—lima tahun kemudian, tepatnya pada 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Fakta kelahiran KH. Yusuf Manan ini secara tidak langsung memberi isyarat penting: para pahlawan yang dimakamkan di Medokan Ayu—yang berasal dari luar kampung tersebut—telah gugur sebelum tahun 1940. 

Dengan kata lain, masa perjuangan mereka berlangsung pada periode sebelumnya, dan Musala Imaduddin kemungkinan besar didirikan tak lama setelah wafatnya para tokoh tersebut, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pemenuhan syarat administratif di masa kolonial.

Tiga Nisan Berjajar: Siapa Mereka?
Di kompleks makam tersebut, terdapat tiga nisan yang berjajar "mepet" satu sama lain. 

Menurut sumber lokal, makam-makam itu adalah tempat peristirahatan terakhir tiga ulama sekaligus pejuang: KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi.

KH. Asmadi dikenal sebagai seorang guru, sementara KH. Hardjo dan KH. Kunawi adalah murid-muridnya. 

Mereka bertiga ikut berjuang melawan agresi Belanda di wilayah Surabaya Timur, khususnya di sekitar kawasan Tambak Oso dan Medokan Ayu. 

Perjuangan mereka mencerminkan semangat perlawanan rakyat Surabaya yang tidak hanya bertumpu pada senjata, tetapi juga pada nilai-nilai keagamaan dan kepemimpinan kiai.

Sayangnya, pada nisan makam tersebut tidak ada tulisan apa pun selain nama. Tak tercantum tahun kelahiran, apalagi tahun wafat. 

Ketiadaan data ini menyulitkan upaya penelusuran kronologi secara pasti. 

Namun, yang jelas, mereka gugur dalam masa agresi Belanda, sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Pengesahan sebagai Makam Pahlawan
Meskipun catatan tahun gugur tidak ada, pemerintah Kota Surabaya memberikan pengakuan resmi terhadap makam tersebut. 

Pada tanggal 19 Mei 1997, Wali Kota Surabaya saat itu, H. Sunarto Sumoprawiro, meresmikan kompleks makam ini sebagai Makam Pahlawan. 

Pengakuan ini menjadi bukti bahwa perjuangan ketiga tokoh tersebut diakui oleh negara, meskipun detail waktu perjuangan mereka tak terdokumentasi dengan baik.

Refleksi: Musala Imaduddin sebagai Simbol Perjuangan
Dari rentetan fakta yang terbatas ini, dapat ditarik benang merah bahwa Musala Imaduddin—yang kini menjadi Masjid Imaduddin—lahir dari konteks sejarah perlawanan terhadap penjajahan.

Keberadaannya tak dapat dilepaskan dari makam para pejuang yang menjadi "pintu izin" di masa sulit. 

Musala ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama.

Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi antara fakta kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat bahwa para pahlawan gugur sebelum tahun tersebut, memberi petunjuk bahwa musala kemungkinan besar berdiri pada akhir 1930-an atau awal 1940-an. 

Namun, tentu saja, ini masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut, terutama melalui arsip-arsip kolonial atau catatan lisan yang mungkin masih tersimpan di kalangan sesepuh kampung.

Penutup
Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal yang gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di dekat makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun. 

Makam Pahlawan Medokan Ayu dan Masjid Imaduddin adalah dua sisi dari keping sejarah yang sama: tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan.

Sudah saatnya kita menggali lebih dalam, mewawancarai para generasi tua, dan membuka arsip-arsip lama, agar tahun berdirinya musala ini tidak terus menjadi tanda tanya.

Pula agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi juga sebagai teladan yang hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.