Selasa, 08 September 2026

Masjid Imaduddin: Fondasi Kerukunan dan Gotong Royong Masyarakat Medokan Ayu


InfoMedokanAyu - Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan Surabaya, terdapat sebuah kawasan yang tetap memelihara budaya langka yang tak banyak ditemui di wilayah lain. 

Medokan Ayu—meskipun secara administratif merupakan bagian dari kawasan perkotaan—masih mempertahankan suasana pedesaan yang kental: keramahan, tegur sapa yang akrab, serta semangat kerukunan dan gotong royong yang menjadi ciri khas keseharian warganya.

Tak dapat dipungkiri, keberadaan Masjid Imaduddin sebagai pusat kegiatan keagamaan sejak sebelum kemerdekaan telah menjadi fondasi terkuat bagi budaya gotong royong dan kerukunan di Medokan Ayu hingga saat ini. 

Itulah kesimpulan InfoMedokanAyu yang mengemuka dari penelusuran rekam jejak keunggulan masyarakat setempat. 

Sebelum menyelami lebih jauh, pembaca dapat menyimak tulisan sebelumnya berjudul "Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir" sebagai pengantar kontekstual.

Jejak Sejarah yang Menjadi Pondasi
Masjid Imaduddin berdiri sejak sebelum kemerdekaan, mencatatkan diri sebagai salah satu masjid tertua di kawasan Medokan Ayu. 

Pada tahun 1962, sejak kepemimpinan beretafet ke Generasi ke-2, KH Yusuf Manan—keturunan dari Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar—bangunan yang semula berwujud musala ini berkembang menjadi masjid.

Namun, keunggulan utamanya tidak terletak pada usia bangunan, melainkan pada konsistensi kegiatan yang diselenggarakannya. 

Beragam aktivitas itulah yang berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik inklusif yang merangkul seluruh warga. 

Budaya kerukunan dan gotong royong yang ditanamkan sejak sebelum kemerdekaan—ketika Medokan Ayu masih satu pedukuhan dengan kondisi kawasan rawa dan tambak, serta mata pencaharian utama petani tambak dan nelayan—terpelihara hingga sekarang.

Yang menarik, transformasi kawasan dari desa agraris menjadi permukiman padat tidak menghilangkan semangat kebersamaan yang diikat oleh Masjid Imaduddin. 

Justru, masjid ini menjadi "denah" sosial yang merekatkan masyarakat lintas generasi. 

Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kegiatan masyarakat yang memperkuat kerukunan melalui berbagai peran strategis.

Pusat Pendidikan dan Pengkaderan Lintas Generasi
Masjid Imaduddin menjadi lokasi rutin pengajian dan Khatmil Qur'an, terutama bagi santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad dan alumni di sekitarnya. 

Tradisi Khatmil Qur'an yang digelar pada hari Minggu Legi—mengikuti kalender penanggalan Jawa—menjadi ajang berkumpulnya para santri dan alumni yang telah berumah tangga.

Momen ini tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga menciptakan ikatan emosional dan intelektual lintas generasi yang langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota. 

Para orang tua, pemuda, hingga anak-anak duduk bersama dalam lingkaran kebersamaan, menyemarakkan tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini. 

Di sinilah nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Perekat Sosial dan Tradisi Kolektif yang Hidup
Berbagai kegiatan tahunan, seperti Takbir Keliling, melibatkan warga, santri TPQ, dan remaja masjid secara aktif. 

Proses persiapan dan pelaksanaannya secara otomatis membangun kerja sama dan gotong royong yang erat di antara warga. 

Masjid juga menjadi tuan rumah peringatan hari besar Islam—Maulid Nabi, Isra Mi'raj, hingga kegiatan rutin NU seperti Lailatul Ijtima—yang menjadi "titik temu" rutin memperkuat toleransi dan kebersamaan.

Tak hanya itu, masjid juga menjadi pusat koordinasi saat warga menggelar acara hajatan, musyawarah desa, hingga penyelesaian masalah sosial secara kekeluargaan. 

Semua kegiatan ini menjadi pengingat kolektif bahwa kebersamaan adalah kekayaan bersama yang harus dijaga. 

Dalam setiap helaan napas kehidupan bermasyarakat, Masjid Imaduddin hadir sebagai ruang konsultasi, persaudaraan, dan pemecahan masalah yang mengedepankan musyawarah.

Pusat Pemberdayaan dan Jaring Pengaman Sosial
Fungsi masjid terus berkembang seiring zaman. Pada bulan Ramadan, Masjid Imaduddin menyelenggarakan Gerakan Berbagi Takjil yang melibatkan sinergi antara panitia relawan, mahasiswa KKN Universitas Sunan Giri Surabaya, donatur, dan tokoh masyarakat. 

Ratusan paket takjil berhasil didistribusikan tepat waktu kepada jemaah dan musafir, memperkuat kohesi sosial serta menegaskan fungsi strategis masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.

Aktivitas sosial-budaya pun turut bersemai dari masjid. Di aula remaja Masjid Imaduddin, digelar program pengenalan Teknik Sipil bagi Generasi Alpha, dipadukan dengan penanaman nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial selama Ramadan. 

Ini menunjukkan bahwa masjid tidak terjebak dalam rutinitas ibadah formal saja, tetapi juga menjadi ruang inovasi dan penguatan karakter generasi muda.

Tak heran jika masjid juga dijadikan pusat pengumpulan bantuan sosial saat terjadi musibah, titik kumpul relawan kebencanaan, hingga tempat konsultasi keluarga. 

Semua itu menegaskan bahwa Masjid Imaduddin adalah "rumah kedua" bagi seluruh warga Medokan Ayu.

Pengelolaan Lingkungan Berbasis Gotong Royong
Tradisi gotong royong ini bahkan merambat ke pengelolaan lingkungan: warga RW 12 Medokan Ayu mengelola lahan hidroponik dan kebun sayur yang menjadi pusat pembelajaran mahasiswa asing dari Australia. 

Mereka tertarik pada semangat gotong royong dan pengelolaan lingkungan masyarakat urban. 

Masjid, dalam hal ini, menjadi poros moral yang menginspirasi gerakan kolektif berbasis kemandirian dan keberlanjutan.

Masjid juga berperan sebagai katalisator gerakan kebersihan lingkungan, penanaman pohon, dan program bank sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. 

Ini membuktikan bahwa semangat berbagi dan peduli lingkungan dapat tumbuh subur di tengah padatnya permukiman urban, asalkan ada komitmen bersama yang ditanamkan oleh masjid.

Kearifan Lokal dalam Menjaga Harmoni

Masjid Imaduddin juga dikenal dengan pengaturan yang arif dalam menjaga keharmonisan. 

Jauh sebelum ada peraturan pemerintah tentang pengeras suara, Masjid Imaduddin sudah menerapkan aturan serupa demi mengharmoniskan hubungan dengan masyarakat yang mungkin terganggu oleh suara pengeras suara di malam hari. 

Volume pengeras suara diatur sedemikian rupa dan penggunaan di luar waktu salat dibatasi sesuai kebutuhan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kenyamanan semua pihak.

Ini adalah bukti nyata bahwa kerukunan dipraktikkan, bukan sekadar wacana. Sikap saling menghormati antarwarga, baik yang berasal dari latar belakang keagamaan maupun sosial yang berbeda, menjadi roh yang menghidupi keseharian Medokan Ayu. 

Bahkan, warga non-Muslim sekitar pun kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang diselenggarakan masjid, menciptakan iklim toleransi yang hangat dan autentik.

Penutup: Fondasi yang Tetap Kokoh di Tengah Zaman
Intinya, Masjid Imaduddin menjadi fondasi bukan karena bangunannya, melainkan karena kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya secara konsisten berhasil mengubah masjid menjadi ruang publik yang merangkul semua warga. 

Dari pengajian rutin, tradisi khataman, takbir keliling, berbagi takjil, program edukasi generasi muda, hingga pengelolaan lingkungan berbasis gotong royong—semua berakar pada semangat kebersamaan yang dihidupkan oleh masjid tertua ini.

Di tengah arus modernisasi dan individualisme yang kerap menggerus nilai-nilai sosial, Masjid Imaduddin berdiri sebagai mercusuar yang mengingatkan bahwa kerukunan dan gotong royong bukanlah masa lalu, melainkan masa depan yang harus terus dirawat. 

Medokan Ayu membuktikan bahwa kota besar pun masih menyisakan ruang bagi kebersamaan—selama ada masjid yang menjadi jantungnya.

Kisah Masjid Imaduddin adalah cermin bahwa harmoni dapat terwujud ketika komunitas memiliki pusat yang mengikat—bukan sekadar fisik, tetapi nilai dan peran sosial yang terus diperbarui dari generasi ke generasi. 

Warisan ini layak dijaga, dirawat, dan diteruskan sebagai teladan bagi masyarakat urban lainnya bahwa di mana pun berada, kebersamaan selalu mungkin untuk dihidupkan.

Editor: Redaksi
Sumber: Wawancara dengan pengurus masjid, tokoh masyarakat, dan dokumentasi kegiatan Masjid Imaduddin Medokan Ayu.