Senin, 07 September 2026

Masjid Imaduddin dan Medokan Ayu: Saksi Bisu Perubahan Kawasan Pesisir

InfoMedokanAyu - Medokan Ayu—sebuah kawasan yang dulunya adalah hamparan rawa-rawa dan tambak yang luas. Di sanalah, tepatnya di pesisir timur Surabaya, berdiri sebuah masjid yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama lebih dari enam dekade. 

Itulah Masjid Imaduddin, tempat ibadah Islam tertua di wilayah Medokan Ayu.

Medokan Ayu: Dari Rawa Menjadi Permukiman
Nama "Medokan Ayu" sendiri menyimpan cerita tentang masa lalu kawasan ini. 

Secara etimologi, kata "Medokan" diduga berasal dari kata "medok" yang berarti tempat yang agak dalam, cekungan, atau kawasan yang dulunya berupa rawa dan lahan rendah. Sementara "Ayu" berarti indah atau baik. 

Jadi, Medokan Ayu dapat dimaknai sebagai daerah cekungan atau rawa yang indah dan subur—sebuah penamaan yang sangat tepat. 

Pada masa lalu, wilayah ini memang berupa rawa-rawa, tambak, dan lahan basah di kawasan pesisir timur Surabaya.

Di tengah lanskap tambak yang hijau itulah, jauh sebelum hiruk-pikuk kemerdekaan bergema, berdiri sebuah tempat ibadah sederhana. 

Awalnya berwujud musala yang dirintis oleh Sayyid Zen. Perjuangan spiritual itu kemudian dilanjutkan oleh putranya, KH. Abdul Manan, sebagai generasi pertama.

Jejak Sejarah yang Terekam dari Generasi ke Generasi
Dimaklumi pada masa itu tidak ada catatan resmi mengenai awal berdiri musala. Yang ada hanyalah catatan kelahiran generasi kedua—KH. Yusuf Manan—pada tahun 1940, yang lima tahun kemudian bertepatan dengan berkumandangnya Kemerdekaan Indonesia. 

Berikutnya, tampuk perjuangan dipegang oleh KH. Yusuf Manan, yang pada tahun 1962 merombak musala menjadi Masjid Imaduddin.

KH. Yusuf Manan adalah seorang ulama kharismatis keturunan Mbah Ali Ashar Sidosermo bin Ali Akbar. 

Beliau wafat ketika usianya mendekati 80 tahun, pada tahun 2019. Kini, sang istri dari KH. Yusuf Manan (almarhum), Hajjah Nur Kholilah, bertempat tinggal bersama putranya, H. Machrus, yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Imaduddin.

Kisah di Balik Pernikahan yang Menyatukan Dua Silsilah
Menurut beberapa narasumber, ibunda dari H. Machrus ini berdarah Madura, putri dari d Mbah Sarimen bin Abbas. 

Menariknya, beberapa meter di sisi utara masjid—yang masih berbentuk musala—terdapat pelabuhan kapal rakyat, termasuk kapal-kapal dari Madura. 

Kini kawasan itu dikenal sebagai Sungai Avoer, lokasinya berhimpitan dengan kawasan Wonoayu, sisi selatan dari areal yang kini makam Islam RW 03.

Keberadaan pelabuhan itu juga dibenarkan oleh ketua RW 02 saat ini Ahmad Ro'in. Namun diakui, hal itu juga diperoleh dari cerita orang tua dan saudara. "Karena kakak saya dulu rumahnya di pinggir sungai itu", katanya.

Mbah Sarimen sendiri, yang merupakan kepercayaan Mbah Kholil Bangkalan, ketika perahunya berlabuh di sana, rajin bersalat di Musala Imaduddin. 

Dari situlah KH. Abdul Manan mengenal dekat Mbah Sarimen. Selanjutnya, keduanya sepakat untuk menjodohkan putra dan putri mereka.

"Makanya, ibu saya dimenantu oleh KH. Abdul Manan," ujar pewaris perjuangan spiritual sekaligus generasi ketiga, H. Machrus.

Generasi Muda di Era Digital
Kini Masjid Imaduddin dikendalikan oleh Ustadz Muda H. Machrus, S.Pd.I (47 tahun), sebagai generasi ketiga. 

Ustadz muda ini juga aktif mengikuti perubahan zaman, termasuk di era digital. 

Ayah dari satu putri ini aktif mendokumentasikan beragam kegiatan masjid dan kehidupan Kampung Medokan Ayu melalui kanal YouTube, dengan tagar #SunanElektrik.

Sebagaimana sejarahnya, Masjid ini bukan sekadar bangunan tempat ibadah, melainkan kokoh pula sebagai pusat syiar Islam. 

Juga tak dapat dipungkiri, sebagai pondasi spiritual bagi masyarakat Medokan Ayu pada masa itu, ketika aktivitas utama penduduk masih sebagai petani tambak dan nelayan.

Perubahan Besar Kawasan Pesisir
Memasuki akhir tahun 1980-an hingga 2000-an, Medokan Ayu mengalami perubahan besar. 

Perluasan kota Surabaya ke arah timur. Pembangunan perumahan seperti Medokan Asri dan Kosagra, serta infrastruktur jalan seperti MERR (Middle East Ring Road) mengubah wajah kawasan ini secara drastis. 

Lahan tambak dan rawa perlahan beralih fungsi menjadi kawasan permukiman padat dan strategis.

Di tengah arus perubahan yang begitu deras, Masjid Imaduddin tetap kokoh berdiri. 

Masjid ini telah menjadi penanda sejarah yang tak tergantikan di tengah kawasan yang kini padat penduduk dan modern.

Tradisi yang Tetap Terawat
Berbagai tradisi keagamaan masih terawat di sini, seperti:

· Khotmil Qur'an pada hari Minggu Legi—tradisi turun-temurun masyarakat Medokan Ayu, khususnya di RW 02.

· Peringatan Maulid Nabi yang rutin digelar dengan penuh khidmat.

· Perayaan Iduladha dengan takbir keliling yang memperkuat kebersamaan warga.

Kegiatan-kegiatan ini memperkuat peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pemersatu masyarakat.

Data Geografis dan Demografis Medokan Ayu

Untuk melengkapi gambaran tentang kawasan ini, berikut data penting yang perlu diketahui:

Letak Geografis:
· Kecamatan: Rungkut
· Kota: Surabaya
· Provinsi: Jawa Timur
· Wilayah: Pesisir timur Surabaya

Demografi:
· Mayoritas penduduk: Suku Jawa dan Madura
· Mata pencaharian utama (dulu): Petani tambak dan nelayan
· Mata pencaharian sekarang: Beragam, dari sektor formal hingga informal

Perpaduan antara warga Jawa asli dan keturunan Madura ini menciptakan akulturasi budaya yang khas, tercermin dalam tradisi keagamaan dan keseharian masyarakat Medokan Ayu.

Aksesibilitas dan Transportasi
Medokan Ayu kini semakin mudah dijangkau berkat pembangunan infrastruktur:

· Jalan Tol: Tol Surabaya-Gresik dan tol Surabaya-Mojokerto (akses dekat)

· Jalan Arteri: Jalan Raya Medokan Ayu, MERR, dan akses ke Jalan Raya Gunung Anyar

· Transportasi Umum: Angkutan kota (bemo), ojek online, dan taksi

Potensi Wisata dan Kuliner
Meski dikenal sebagai kawasan permukiman padat, Medokan Ayu menyimpan potensi menarik:

Wisata Religi:
· Masjid Imaduddin sebagai situs sejarah dan spiritual

· Makam para sesepuh dan ulama pendahulu

Wisata Kuliner:
· Beragam warung makan dengan menu khas Surabaya

· Olahan hasil laut segar dari nelayan setempat

Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Masjid Imaduddin bukan hanya sekadar bangunan tua di tengah kawasan yang berubah. 

Lebih dari itu, masjid ini adalah bukti sejarah bahwa di tengah arus modernisasi dan perubahan lanskap yang begitu cepat, nilai-nilai keislaman dan tradisi yang diwariskan para pendahulu tetap dijaga dan dilestarikan.

Keberadaannya menegaskan bahwa identitas sebuah kawasan tidak semata-mata ditentukan oleh bangunan-bangunan modern, tetapi juga oleh akar sejarah dan spiritualitas yang telah lama mengakar di dalamnya.

Masjid Imaduddin—dari musala sederhana di tepi tambak, hingga menjadi benteng spiritual di tengah metropolis—tetap menjadi saksi bisu bahwa perubahan zaman tak pernah mampu menghapus jejak iman.