Minggu, 23 Agustus 2026

Dosen UPN Sulap Kelor Jadi Sorbet, Petani Hidroponik RW12 Medayu Utara, Surabaya Kini Incar Cuan


InfoMedokanAyu – Warga Kampung Hidroponik Surabaya kini punya cara baru yang unik dan lezat dalam mengolah hasil panen mereka.

Jika biasanya hasil kebun hanya dipetik lalu dijual segar dengan nilai tambah yang terbatas, kini tanaman tersebut disulap menjadi velva fruit and vegetable.

Sajian pencuci mulut dingin mirip sorbet atau es krim menyehatkan ini digemari anak-anak hingga dewasa.

Inovasi renyah ini lahir dari aksi pengabdian masyarakat yang digelar oleh tiga dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur.

Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Sri Winarti MP, Prof. Dr. Dwi Suhartini SE, dan Aulia Islamiyati Yusuf STP MSc pada Sabtu (22/8/2026).


Bertempat langsung di area kebun Kampung Hidroponik Surabaya, sebanyak 21 petani lokal berkumpul mengikuti sosialisasi hingga praktik pembuatan secara langsung.

Dalam sesi praktik, para petani diajak mengolah stroberi serta memanfaatkan kelimpahan daun kelor dan daun pandan yang tumbuh subur di kebun mereka.

Hasil racikan es krim segar ini terbukti sangat memuaskan, menghadirkan paduan rasa manis, segar, dan cita rasa unik yang memanjakan lidah.

Kelimpahan daun kelor dan pandan ini pun siap diproyeksikan menjadi varian rasa sorbet anyar yang belum pernah ada sebelumnya.

Semangat dengan peluang usaha baru

Prof. Sri Winarti menjelaskan bahwa pengolahan ini ditargetkan mampu menciptakan peluang usaha baru bagi para petani yang selama ini minim memproduksi barang olahan.

Agar produksi tidak terhenti pascapelatihan, tim dosen UPN Veteran Jatim turut memberikan bantuan alat berupa ice cream maker, blender, dan mixer.

"Kami harap ini bisa jadi inovasi baru yang mendatangkan daya tarik baru bagi warga maupun sekolah untuk studi banding ke kampung wisata ini," harap Prof Sri Winarti.

Tak hanya memberikan peralatan, tim dosen juga mengajari para anggota Kampung Hidroponik Surabaya cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).


Sebab selama ini banyak UMKM hanya menghitung biaya bahan-bahan tetapi lupa menghitung biaya tenaga kerja dan peralatan produksi mereka.

"Jadi ibu-ibu kalau jualan jangan lupa keringat ibu juga harus dihitung sebagai upah. Dan tentunya harus dimasukkan sebagai salah satu komponen menghitung HPP," tambah Prof Dwi Suhartini, saat memberikan pelatihan.

Ketua Kampung Hidroponik Surabaya, Renni Susilawati, menyampaikan apresiasi mendalam atas aksi para akademisi ini.

Menurutnya, inovasi mengolah daun kelor dan pandan menjadi velva atau es krim memberikan jawaban atas kesulitan warga selama ini dalam mencari produk turunan sayur.


Dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding sekadar sayur mentah, olahan ini diyakini mampu mendongkrak pendapatan petani lokal. (Red)