InfoMedokanAyu - Ada dua lapis masalah yang sering tertukar saat kita membahas maraknya pencurian fasilitas umum, seperti besi dan tembaga: tekanan ekonomi dan kesadaran internal. Keduanya saling terkait, namun bobotnya tidak seimbang.
Artikel ini melengkapi berita sebelumnya "Raibnya Fasilitas Kota: Maraknya pencurian logam oleh Rayap Besi dan Rendahnya Kesadaran Internal"
Ekonomi sulit adalah pemicu eksternal—ia mempercepat dan memperbanyak aksi.
Tapi kesadaran internal yang rendah adalah akar masalah.
Ibarat api, ekonomi adalah angin yang membuat kobaran membesar, tetapi kesadaran adalah bahan bakarnya.
Tanpa bahan bakar (rendahnya rasa memiliki), angin sekencang apa pun tak akan menghasilkan kebakaran.
Ekonomi sebagai Pemicu, Bukan Pembenar
Tingginya harga besi dan tembaga di pasar rongsokan jelas menjadi daya tarik luar biasa.
Dalam himpitan ekonomi, menjual barang curian terasa seperti solusi instan untuk kebutuhan harian.
Namun, penting untuk dicatat: ekonomi bukan pembenar. Realitas menunjukkan bahwa banyak keluarga prasejahtera tetap memilih kerja halal—memulung, mengupah, atau berdagang kecil—daripada merusak milik bersama.
Jadi, faktor ekonomi hanya memperlemah pertahanan, tetapi tidak menciptakan niat jahat dari nol.
Kesadaran Internal sebagai Akar Dominan
Mengapa seseorang tega mengambil kursi taman atau mencuri kabel lampu jalan?
Karena tiga pola pikir yang mengakar:
· "Milik Tidak Bertuan" – Fasilitas publik dianggap milik "pemerintah" atau "orang lain", bukan "milik saya". Padahal, pajak dan kepentingan bersama adalah milik kita semua.
· "Dampak Tidak Terasa" – Ketika satu kursi hilang, mereka tidak langsung merasakan ketidaknyamanannya. Efeknya abstrak, sehingga rasa bersalah pun minim.
· "Normalisasi Pelanggaran" – Melihat orang lain melakukannya dengan bebas menciptakan ilusi bahwa "ini hal biasa" dan "saya juga boleh".
Pesan Utama
Ekonomi sulit mempercepat aksi, tetapi kesadaran internal yang kuat adalah benteng terakhir.
Setinggi apa pun harga besi, jika rasa memiliki dan rasa malu tertanam kuat, fasilitas kota akan tetap aman.
Maka, solusi tidak bisa tunggal: jangka pendek perkuat pengamanan dan penegakan hukum, jangka panjang tanamkan kesadaran kolektif melalui pendidikan, teladan publik, dan penguatan sanksi sosial (bukan sekadar sanksi hukum).
Pertanyaan Butuh Jawaban
Ya, menumbuhkan kesadaran kolektif adalah kunci. Caranya bukan hanya dengan ceramah moral, melainkan dengan:
· Membuat dampak menjadi nyata (misal, kampanye "Satu Kursi Hilang, Satu Warga Kehilangan Tempat Beristirahat").
· Memperkuat sanksi sosial (memalukan pelaku di lingkungannya, bukan hanya di pengadilan).
· Menghadirkan tokoh lokal yang menjadi panutan dalam menjaga fasilitas umum.
Oleh : Priono Subardan - Admin
