Senin, 30 Maret 2026

Lewat Halalbihalal, Medokan Ayu Menjadi Perekat Sosial, Inovatif Menjaga Tradisi, dan Berkapasitas Organisasi Unggul di Lingkungan Rungkut

Dari kiri menghadap pembaca : dr Dini Octavia Sitaresmi (Kepala Puskesmas Medokan Ayu), Ny. Nur Anisah, S.Pd. (Ketua TP PKK Medokan Ayu), Zainul Abidin, S.Sos (Lurah Medokan Ayu), Maskur, S.H., M.H. (Camat Rungkut), Rudi J (Ketua LPMK Medokan Ayu), H. Ainul (penyampai Tausiah), H. Nawawi Ahmad (Tokoh Masyarakat/ pendoa). (Foto: Didik Tri Winarno)
.
SEBAGAI pernyataan budaya dan politik lokal: Medokan Ayu motor perekat sosial, inovatif dalam menjaga tradisi, dan memiliki kapasitas organisasi yang unggul di lingkungan Rungkut.

Demikian kesimpulan InfoMedokanAyu, yang hadir melihat kegiatan yang digelar, sebagai yang paling awal di kawasan kelurahan terbesar di Rungkut, di pendopo kelurahan Medokan Ayu, Senin, 30 Maret, Pukul 15.00 WIB.

Antusiasme para undangan yang terlihat akrab dan penuh nuansa kerukunan begitu nyata dari gestur mereka dalam foto dan video berita ini.

Sebelum ramah tamah semua hadirin bergiliran tatap muka dan berjabat tangan. (Video: Rendra dan Nurdin)

Seputar halalbihahal sebelumnya juga dirilis InfoMedokanAyu, yang antara lain berjudul "Jabat Tangan sebagai Pendapat Umum: Cara Praktis Menjaga Kerukunan dan Membersihkan Kesalahan"



Sebagai paling awal kegiatan diprakarsai ini adalah bentuk kepeloporan, inisiatif, dan kepedulian sosial yang tinggi.

H. Nawawi Ahmad memimpin doa, kemudian dilanjut saling jabat tangan-bersalaman, dan ramah tamah. (video: Didik Tri Winarno)

Dengan menggelar acara pertama, kelurahan menunjukkan:
Keinginan kuat untuk memulai tali silaturahmi lebih dulu – sebagai wujud penyegaran hubungan sosial-keagamaan pasca Idulfitri, tanpa menunggu acara resmi dari level atas (kecamatan atau kota).

Sambil berdiri, kepiawaian Pak Camat dalam mencairkan suasana kian memperkuat nilai keguyuban di antara para hadirin." (Foto: Lia Puspa Dewi).

Strategi membangun harmoni vertikal dan horizontal
InfoMedokanAyu melihat daftar undangan mencakup semua pemangku kepentingan: Camat (vertikal), Puskesmas (kesehatan), Babinsa, Babinkamtibmas (keamanan), hingga LPMK, PKK, kelompok masyarakat, RT/RW, karang taruna, tokoh masyarakat.

Dari undangan yang hadir itu menunjukkan acara dirancang sebagai forum stakeholder mapping yang inklusif.

Dari kiri: Lia Puspa Dewi (Koordinator KSH RW 08), Ny. Rita (Anggota TP PKK RW 07), Ny. Nur Anisah (Ketua TP PKK Medokan Ayu), Ny. Suryaning Tyas (koordinator KSH Kelurahan}, Ny.  Mimi (Anggota TP PKK RW 07) dan Ny. Ana (Kelompok Kerja 4 kelurahan dari RW 14) (Foto: Lia Puspa Dewi)

Legitimasi dan sinergi lokal
Dengan mengundang camat dan tokoh masyarakat sekaligus, kelurahan ingin memperkuat posisi Medokan Ayu sebagai penggerak utama kerukunan di kawasan tersebut.

Menjadi yang pertama juga memberi kesan bahwa kelurahan ini dinamis dan responsif terhadap kebutuhan kebersamaan.

Di antara menu sajian yang disiapkan

Simbol kelimpahan dan keramahan
Sajian lontong kikil dan bakso yang berlebih serta es teh tidak sekadar hidangan, tetapi pesan bahwa kelurahan siap melayani dengan sukacita, tanpa kesan kikir.

Kelebihan makanan melambangkan keberkahan dan semangat berbagi, sekaligus menghindari kegagapan jika ada tamu tak terduga.

Mendayagunakan foto bareng. Di antaranya setahun tidak pernah tatap muka, hanya gabung dalam WA Grup.

Memperkuat modal sosial
Undangan yang terstruktur hingga level RT dan koordinator KSH menunjukkan bahwa acara ini bukan seremoni formal belaka, melainkan medium konsolidasi warga dari tingkat paling bawah.

Halal bihalal yang awal membantu mencairkan potensi ketegangan atau sekat-sekat sosial setelah Ramadhan.

Secara keseluruhan, tindakan menjadi yang pertama di kawasan itu merupakan pernyataan budaya dan politik lokal: Medokan Ayu berjuang sebagai motor perekat sosial, inovatif dalam menjaga tradisi, dan memiliki kapasitas organisasi yang unggul di lingkungan Rungkut.

-InfoMedokanAyu