Jumat, 27 Maret 2026

Akar Sejarah: Perbedaan Bermaaf-maafan di Hari Lebaran dan Halalbihalal

PERBEDAAN utama antara acara bermaaf-maafan yang dilakukan pada hari Lebaran dengan acara halalbihalal yang berlangsung beberapa hari setelahnya terletak pada sifat, penutup, dan akar sejarahnya.

Secara sederhana, acara bermaaf-maafan di hari Lebaran bersifat privat untuk membersihkan diri dalam lingkup keluarga, sedangkan halalbihalal yang diadakan setelahnya, merupakan ajang memperkuat ikatan sosial dalam lingkup yang lebih luas, seperti kantor, organisasi, dan masyarakat di lingkungan.

Bermaaf-maafan di Hari Lebaran
Acara ini merujuk pada tradisi sungkem dan silaturahmi keluarga yang dilakukan segera setelah Salat Idulfitri.
· Sifat dan Suasana: Privat, informal, dan sakral. Berfokus pada hubungan vertikal (kepada Tuhan) dan horizontal dalam lingkup terdekat.

- Lokasi : Rumah pribadi, terutama rumah orang tua atau sesepuh keluarga.

· Praktik Utama : Sungkem—bersimpuh atau mencium tangan orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf yang bersifat pribadi.

· Akar Sejarah : Berasal dari budaya Keraton Jawa (Solo) sejak masa KGPAA Mangkunegara I. Beliau mengadakan pertemuan keluarga kerajaan untuk saling bermaafan setelah salat Id.

· Tujuan Utama : Mensucikan diri (kembali ke fitrah) dalam lingkup keluarga inti dan kerabat dekat.

Halalbihalal (Beberapa Hari Setelah Lebaran
Ini adalah tradisi yang secara resmi mengadopsi istilah “halalbihalal” dan mencakup lebih banyak hal.
· Sifat dan Suasana : Formal, massal, dan terbuka. Bersifat umum untuk mengakomodasi banyak orang yang tidak sempat bertemu pada hari H.

· Lokasi : Tempat umum atau institusional, seperti aula kantor, balai pertemuan, gedung serbaguna, atau istana negara.

· Praktik Utama : Saling bersalaman (jabatan tangan) secara bergantian, sering kali diatur dalam formasi. Lebih menekankan silaturahmi antarkolega, rekan kerja, dan masyarakat luas.

· Akar Sejarah : Istilah dan formatnya dipopulerkan secara nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1948 atas saran KH. Wahab Chasbullah (Pendiri NU).

Saat itu, Bung Karno menggunakannya sebagai strategi untuk menyatukan para pemimpin politik yang sedang berselisih pascakemerdekaan.

· Tujuan Utama : Sebagai perekat sosial dan persatuan bangsa. Acara ini dirancang untuk menjembatani perbedaan, membangun kebersamaan di lingkungan kerja atau organisasi, serta menjaga kerukunan nasional.

- InfoMedokanAyu