Jumat, 03 April 2026

Bukan Sekadar Opname: Makna Kebersamaan dan Resiliensi di Balik Kunjungan Anggota KSH RW02

Teman-teman KSH mengunjungi Ny. Erna Christina yang terbaring sakit. Sang putri yang kelas 2 SMA, yang merawatnya bahagia dengan kebersamaan ini.

SEORANG anggota KSH RW02 Medokan Ayu - Ny. Erna Christina - sedang menjalani opname di Rumah Sakit (RS) Eka Candra Rini, Rungkut, Surabaya, sejak Rabu.

Sebanyak 7 anggota lain telah mengunjunginya di RS, pada Kamis sore kemarin.


InfoMedokanAyu memaknai kunjungan tersebut sebagai hal penting bagi KSH secara umum, terutama dalam konteks kebersamaan sosial dan ketahanan keluarga.


Kunjungan ini bukan sekadar karena ada anggota yang opname, melainkan memiliki makna lebih dalam.


Berdua dengan sang putri Ny. Erna Cristina di RS.


SOLIDARITAS WARGA YANG KUAT

Teman-teman KSH yang menjenguk menunjukkan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan benar-benar wadah gotong royong.


Mereka hadir memberikan dukungan moral dan sosial yang sangat berarti bagi pasien yang sedang dalam kondisi lemah.


BEBAN GANDA YANG DIHADAPI PASIEN

Sebagaimana diketahui, ibu (pasien) - beralamatkan Jl. Putra Bangsa III blok C No. 48, RT09 RW02 ini adalah seorang janda.


Suaminya meninggal dunia saat pandemi Covid-19.


Ia kemudian harus membesarkan dua orang anak sendirian.


Meluangkan waktu mengunjungi teman sakit sebagai upaya yang bermakna.

Kini, saat sakit, anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA terpaksa merawatnya, sementara anak laki-lakinya bekerja jauh di Jakarta.


Kondisi ini dengan keluhan utama Vertigo menunjukkan adanya resiliensi sekaligus kerentanan: keluarganya berjuang keras, namun dukungan yang tersedia terbatas.


MAKNA PENDAMPINGAN ANAK

Putri kelas 2 SMA yang menemani ibunya di rumah sakit mengajarkan kedewasaan dini.


Di sisi lain, hal ini juga menjadi sinyal bahwa sistem dukungan keluarga inti sangat minim—tanpa kehadiran suami, dan tanpa anak laki-laki yang bisa segera pulang.


PENGINGAT DAMPAK PANDEMI

Kasus ini adalah salah satu dari banyak “luka tak terlihat” pascapandemi: kehilangan tulang punggung keluarga, dampak ekonomi, dan kini munculnya masalah kesehatan di kemudian hari.


Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa program KSH perlu lebih dari sekadar kunjungan.


Idealnya ada tindak lanjut, seperti membantu biaya opname (melalui iuran warga atau usulan bantuan sosial).


Perlu solusi pula, mencari tugas sang putri secara bergilir agar ia tetap bisa bersekolah.


Tak berlebihan pula, bila menghubungkan anak sulung di Jakarta untuk koordinasi jarak jauh (misalnya, bantuan finansial).


InfoMedokanAyu belum mengetahui kepastian atas tindak lanjut itu.


Yang terpenting, kehadiran teman-teman KSH saat menjenguk sudah menjadi makna pertama yang sangat berharga: bahwa pasien tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan.


MAKNA RESILIENSI

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali, bertahan, dan beradaptasi secara positif saat menghadapi kesulitan, trauma, atau tekanan berat.


Ini terkait dalam konteks ibu (pasien) anggota KSH tersebut:


· Kehilangan suami akibat Covid-19.

· Harus membesarkan dua anak sendirian.

· Kini jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit.


Namun ia tetap bertahan. Anak-anaknya tetap berusaha—si sulung bekerja di Jakarta, si bungsu merawat ibunya. Ada pula teman-teman KSH yang mendukung.


Itulah wujud resiliensi: tidak menyerah meskipun hidup bertubi-tubi diuji, serta mampu mencari dan menerima dukungan sosial.


Resiliensi bukan berarti tidak pernah sedih atau lemah, tetapi bangkit lagi setelah jatuh dan belajar beradaptasi dengan keadaan baru yang sulit.


- InfoMedokanAyu