Sabtu, 04 April 2026

KSH RW02 Refleksikan Halalbihalal Lewat Menu Dinikmati Bersama

Halalbihalal tim KSH RW02 Medokan Kampung - Medokan Ayu. 
Foto/Video oleh Ny. Miftachul Jannah - KSH RT03 RW02 - Istri dari ketua RT03 RW02-Teguh Santoso

MENU dalam acara Halalbihalal tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan sarat makna simbolik yang merefleksikan akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam, terutama tentang silaturahmi, pengampunan, dan kebersamaan.

Demikian Halalbihalal komunitas KSH RW02  berlangsung pagi tadi di Balai RW setempat dan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB.

Foto/Video oleh Ny. Miftachul Jannah

Secara keseluruhan, acara itu dapat dimaknai melalui tiga menu utama yang mengajak hadirin untuk:

1. Mengupas kesalahan (lontong kikil),
2. Membulatkan niat memperbaiki silaturahmi (bakso dan lontong sayur),
3. Menyegarkan kembali hubungan persaudaraan (es Manado).

Hal ini sejalan dengan esensi halalbihalal sebagai tradisi khas Jawa-Islam untuk merayakan Idul Fitri sebagai momentum fitrah (kembali suci).

Ibu wakil ketua RW02 Ny. Munirtim membuka acara. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

LONTONG 
Istilah dan filosofi "Lontong (Olone Wes Ontong)" merupakan tradisi budaya Jawa yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi dakwah Islam melalui pendekatan simbolik.

· Istilah ini muncul sejak abad ke-15 dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari strategi dakwah Wali Songo di Pulau Jawa.

· "Olone Wes Ontong" atau variannya seperti "Olone dadi kotong" secara harfiah berarti "kejelekannya sudah tidak ada atau hilang".

Ini melambangkan proses penyucian diri di mana segala dosa, kesalahan, dan sifat buruk telah terhapus, serta menjadi simbol permohonan maaf di hari kemenangan.

Ramah tamah. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

KIKIL
· Budaya Jawa: Kikil (kulit sapi) melambangkan kata “kikil” yang berarti ‘dikupas’ atau ‘dibersihkan dari lapisan luar’. 

Dalam filosofi Jawa, ini mengajak untuk mengupas ego dan kesalahan lahiriah.

Lontong yang padat melambangkan keteguhan hati setelah dibersihkan.

· Islam: Mengajarkan pentingnya penyucian jiwa dan saling memaafkan (mohon maaf lahir batin), seperti mengupas “kulit” dosa yang tampak.

Halalbihalal sekaligus evaluasi dan persiapan Posga pada 06 April 2026. Video oleh Ny. Miftachul Jannah

BAKSO & LONTONG SAYUR
· Budaya Jawa: Bakso yang bulat melambangkan kebulatan tekad untuk memperbaiki hubungan. 

Lontong sayur dengan kuah santan menggambarkan kerukunan yang “lembut” dan menyatu dalam keberagaman (sayur campur).

· Islam: Kebersamaan dalam halalbihalal mencerminkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman). 

Santan dalam sayur dimaknai sebagai rahmat yang melumerkan hati, sementara bakso menjadi simbol keikhlasan karena bentuknya yang sederhana dan tanpa sudut.

Rangkaian acara oleh Didik Tri Winarno

ES MANADO
· Budaya Jawa: Meski bernama “Manado”, minuman segar berisi campuran buah dan cendol ini melambangkan keragaman yang tetap dingin, manis, dan menyegarkan—seperti masyarakat RW02 yang heterogen namun rukun setelah bersalaman. 

Nama “Manado” dapat menjadi pengingat akan persaudaraan lintas suku (Jawa dan Manado) di lingkungan tersebut.

· Islam: Kesegaran es melambangkan segarnya hati setelah saling memaafkan, sebagaimana sabda Nabi bahwa orang yang memaafkan akan dimuliakan Allah.

Campuran bahan (kelapa muda, alpukat, kolang-kaling) juga mengisyaratkan keberkahan dari keberagaman yang halal dan baik (thayyib).

Acara pagi itu juga dihadiri tamu undangan ibu Muniroh - ibu Ketua PKK RW02 dan Ibu Tri Nurjanah koordinator Lapangan KSH wilayah timur.

- InfoMedokanAyu