Jumat, 11 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (2a)

Alias KH. Hamzah Murtadho, ulama karismatik dari Kendalsari.

InfoMedokanAyu - akam ini menjadi saksi perlawanan rakyat Surabaya terhadap agresi Belanda. Keberadaannya yang sudah ada sejak sebelum musala berdiri menjadikannya faktor penentu bagi izin pendirian musala di masa kolonial. 

Pemerintah Hindia Belanda menerapkan regulasi ketat terhadap pendirian rumah ibadah. Salah satu syaratnya adalah adanya makam di dekat lokasi yang akan dijadikan tempat ibadah. 

Makam Pahlawan di sisi utara inilah yang menjadi pintu masuk administratif bagi Sayyid Zein untuk mengajukan izin pendirian musala.

Makam Islam RW02 terletak di sisi selatan musala, sekitar tiga ratus meter jaraknya. Di kompleks inilah Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya dimakamkan. 

Makam ini baru ada setelah Sayyid Zein wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga yang dihormati hingga kini. Kawasan ini juga sebagai pemakaman umum.

Makam istri dari KH. Hamzah Murtadho di pesarean umum Kendalsari.

Karena baru ada setelah wafatnya Sayyid Zein, makam ini tidak mungkin menjadi faktor penentu izin pendirian musala yang dirintis saat Sayyid Zein masih hidup.

Dua makam yang berbeda lokasi ini, utara dan selatan musala, menyimpan narasi yang saling melengkapi tentang perjalanan panjang perjuangan dan dakwah di Medokan Ayu.

Bab 2: Sayyid Zein—Sosok Sentral di Balik Musala
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun adalah tokoh berdarah Arab yang tidak hanya dikenal sebagai hartawan, tetapi juga santri dan tokoh masyarakat yang disegani. 

Pada zamannya, ia adalah figur berpengaruh—baik karena garis keturunan, kharisma pribadi, maupun posisi ekonomi yang mapan. 

Makam KH. Abdullah Manan, yang olehNYA diberikan umur panjang, lebih dari 100 tahun.

Kharisma dan pengaruhnya menjadikannya motor penggerak utama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk pendirian sarana ibadah.

Sayyid Zein memiliki putra bernama KH. Abdullah Manan. Dalam rangka memperkuat jaringan keluarga dan dakwah, Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho—seorang ulama terpandang dari Kendalsari—dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo yang bernama Salamah binti Hamzah Murtadho. 

Dari situ, terjalinlah hubungan perbesanan yang erat antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho. 

Makam istri KH. Abdullah Manan, di pesarean keluarga di makam Islam RW02 Medokan Kampung.

Jaringan itu menjadi fondasi sosial yang kuat bagi kegiatan keagamaan dan perjuangan di Mjedokan Ayu.