Seperti Yai Tolo Ternyata KH. Hamzah Murtadho
InfoMedokanAyu - Banyak nama alias dan makam palsu, sebelum kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, ternyata hal yang lumrah.
Seperti Yai Tolo—ternyata itu KH. Hamzah Murtadho—yang erat kaitannya dengan Masjid Imaduddin, Medokan Kampung RW02, Medokan Ayu.
Hal itu dipahami ketika menulis
Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid?Nama alias bagi generasi era digital memang dianggap hal aneh. Bahkan pula dibuat agar tampak keren, hebat. Bambang diganti BambanQ, Agus dikerenkan AguZ.
Tapi bagi generasi lampau, itu strategi perang gerilya. Tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan.
Itu akal untuk mengelabui musuh, menjadikan nama alias dan makam palsu sebagai senjata penting dalam melindungi diri dari ancaman penjajah.
Penggunaan nama alias dan bahkan "pemakaman" oleh tokoh spiritual pada masa Agresi Belanda memang merupakan bagian dari strategi penyamaran dan kamuflase untuk melindungi diri dan kelancaran perjuangan gerilya.
Penggantian Nama (Alias):
Untuk menyamarkan identitas asli dari intelijen Belanda (PID) dan menghindari penangkapan.
Contohnya, Ki Gede Kemangi (nama asli Sokerto Wongso Dikromo) dan Kiai Mojo (nama asli Muslim Muhammad Halifah).
Pembuatan Makam Palsu:
Digunakan untuk mengelabui Belanda agar mengira tokoh tersebut telah meninggal, sehingga pengawasan dilonggarkan.
Cerita Patih Djojodigdo di Blitar bahkan menyebut ia bisa "hidup kembali" setelah dieksekusi—yang merupakan kiasan atas keberhasilan kamuflase ini.
Di balik strategi ini, ada beberapa alasan kuat mengapa tokoh spiritual sangat membutuhkannya:
Target Prioritas Belanda:
Mereka adalah pemimpin spiritual dan panglima perang yang disegani, memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan massa, sehingga menjadi incaran utama.
Peran Vital dalam Gerilya:
Menjadi otak strategi, guru spiritual pasukan, dan markas di pesantren yang aman dari kecurigaan Belanda.
Begitulah, sebuah nama yang disembunyikan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kecerdikan.
Yai Tolo hanyalah satu dari sekian banyak tokoh yang namanya tersembunyi di balik samaran—namun jejak perjuangannya tetap abadi, melekat pada masjid dan kampung yang pernah ia jaga.
Dan sejarah, pada akhirnya, selalu menemukan cara untuk mengungkap kebenaran: bahwa di balik setiap nama palsu, ada nyawa yang dipertaruhkan untuk kemerdekaan.
Medokan Ayu, jejak yang tak pernah benar-benar hilang.
Oleh : Priono Subardan
