Halaman Lain

Kamis, 10 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (3)

Makam KH. Abdullah Manan, yang olehNYA diberikan umur lebih dari 100 tahun.

InfoMedokanAyu - Berdasarkan data makam, Sayyid Zein wafat pada hari Selasa, 19 Maret 1889, bertepatan dengan 17 Rajab 1306 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Makam Islam RW02, sekitar tiga ratus meter di sisi selatan Musala Imaduddin. Di lokasi yang sama, juga dimakamkan keluarganya.

Dengan tanggal wafat Sayyid Zein yang jelas, kita dapat menarik batas maksimal pendirian musala: harus terjadi sebelum 1889. 

Untuk mempersempit rentang waktu, kita merujuk pada putra tunggalnya, KH. Abdullah Manan, yang wafat pada 1999. Jika ia lahir sekitar 1880-an, maka pada masa pendirian musala ia masih bocah dan mungkin menyaksikan perjuangan ayahnya.

Dua skenario logis muncul:
Skenario pertama, yang paling kuat secara historis, adalah musala didirikan oleh Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan besar akhir 1870-an hingga pertengahan 1880-an. 

Pada masa itu, Sayyid Zein masih hidup, dan Makam Pahlawan di sisi utara telah ada sebagai syarat administratif izin pendirian. 

Skenario kedua, yang kurang didukung bukti, adalah musala didirikan oleh generasi penerus setelah Sayyid Zein wafat sebagai amal jariyah. 

Pendirian musala sebelum 1889 oleh Sayyid Zein adalah skenario yang paling dapat dipertanggungjawabkan.

Makam istri KH. Abdullah Manan, di pesarean keluarga di makam Islam RW02 Medokan Kampung.

Bab 3: Peran Jaringan Keluarga dalam Pemakaman Tiga Pejuang
Di Makam Pahlawan sisi utara, terdapat tiga nisan berjajar rapat. Ketiganya adalah ulama sekaligus pejuang yang gugur dalam perlawanan terhadap agresi Belanda. 

Keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—menunjukkan bahwa kompleks pemakaman ini telah menjadi bagian penting dari lanskap Medokan Kampung sejak awal. 

Makam inilah yang kemudian menjadi syarat administratif bagi Sayyid Zein saat mengajukan izin pendirian musala di masa kolonial.

Sangat dimungkinkan bahwa generasi penerus Sayyid Zein—KH. Abdullah Manan dan mertuanya KH. Hamzah Murtadho—berperan penting dalam merawat dan menjaga kompleks Makam Pahlawan di sisi utara musala. 

Hal ini memperkuat dugaan bahwa jaringan keluarga yang terbentuk melalui perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho tidak hanya berperan dalam pendirian sarana ibadah, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom tradisi pemakaman para pejuang di kawasan tersebut.

Hubungan perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menjadi bukti nyata bagaimana ikatan keluarga diperkuat demi kelangsungan dakwah dan perjuangan. 

Perjodohan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan strategi sosial untuk membangun jaringan ulama yang solid di kawasan Surabaya Timur.
Bab 4: Jejak Generasi Kedua dan Isyarat Tahun
KH. Yusuf Manan, generasi kedua dari perintis musala, adalah putra KH. Abdullah Manan dan cucu Sayyid Zein. Ia lahir pada 1940, saat gelora kemerdekaan mulai bergema—lima tahun kemudian Indonesia merdeka.

Fakta kelahiran ini memberi isyarat penting: para pahlawan di sisi utara telah gugur sebelum 1940. 

Musala Imaduddin yang berdiri sejak akhir abad ke-19 berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan.

Bab 5: Tiga Nisan Berjajar di Sisi Utara
Di Makam Pahlawan sisi utara, tiga nisan berjajar sangat rapat. KH. Asmadi adalah guru atau ulama senior dengan peran sentral dalam bimbingan spiritual dan kepemimpinan perjuangan. 

KH. Hardjo, muridnya, turut serta dalam perlawanan fisik dan dimakamkan di sisi guru. KH. Kunawi, juga murid, berjuang bersama di Tambak Oso dan Medokan Ayu.

Sayangnya, pada nisan tidak ada tulisan selain nama. Tak tercantum tahun kelahiran atau wafat. Ketiadaan data ini menyulitkan penelusuran kronologi. 

Namun dari berbagai isyarat—kelahiran KH. Yusuf Manan pada 1940 dan fakta mereka gugur dalam agresi Belanda—dapat dipastikan mereka gugur sebelum kemerdekaan.

Silsilah KH. Hamzah Murtadho

Pemerintah Kota Surabaya memberikan pengakuan resmi terhadap makam ini. Peresmian Makam Pahlawan menjadi bukti bahwa perjuangan ketiga tokoh diakui negara. 

Ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Medokan Ayu, bahwa sejarah perjuangan di kampung mereka bukan sekadar cerita lisan, melainkan bagian dari sejarah resmi bangsa.