Senin, 28 September 2026

Dari Setir ke Jaring: Ketika Satu Pintu Tertutup, Laut Membuka Jalan Rezeki Baru

Ilustrasi

Kisah nyata dari Medokan Ayu, Surabaya—tentang keberanian berpindah jalur dan membuktikan bahwa rezeki tidak pernah benar-benar hilang

InfoMedokanAyu - Di Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, pagi tidak lagi selalu dimulai dengan suara klakson angkot. Di tepi air, beberapa pria sibuk menyiapkan perahu dan jaring.

Salah satu di antara mereka dulu adalah pengemudi angkutan kota. Yakni sosok Sumardi (51). Sejak 2018, ia dipercaya menjadi Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan "Sumber Rejeki" Medokan Ayu.

Wakilnya, Titok Warsito (45) pun bukan orang sembarangan. Warga RT02/RW01 ini pernah bekerja di pabrik selama tujuh tahun.

Tahun ini, KUB itu kembali kedatangan 13 anggota baru, rata-rata berusia di bawah 40 tahun. Para nelayan muda ini, konsentrasi utama sebagai pendamping wisatawan yang berhobi memancing di laut. Hari-hari khusus mereka menangkap ikan dan kepiting.

Para anggota baru ini bergabung dengan KUB Nelayan "Karang Pinggir", yang diketuai generasi muda Mochamad Acep Bahrudin, dengan wakil ketua mochammad arifin

Pemandangan itu bukan sekadar cerita perubahan pekerjaan. Hal ini adalah bukti bahwa ketika satu pintu ekonomi menutup, selalu ada pintu lain yang bisa dibuka.

Ketika Jalan Raya Tak Lagi Menjanjikan
Sejak sekitar 2016, Sumardi turun dari sopir angkot, trayek JTK. Pekerjaan ini telah ditekuninya sekitar 20 tahun, sejak 1994.

Ia beralih setelah melihat sang mertua, Mbah Djaimin—yang nelayan—justru memperoleh hasil jauh lebih baik dibanding pengemudi angkot. Mbah Djaimin, yang di komunitasnya dikenal sebagai Raja Kepiting, adalah salah satu anggota nelayan senior.

Pada 2016 itu, Sumardi mulai ikut ber-nelayan. SIM A sebagai pengemudi pun ditanggalkan di rumah.

Ternyata hasilnya mengagetkan. Maka ditekuninya sampai kini. Malah pada 2010, Sumardi—yang putra satu-satunya pegawai PLN ini—dari nelayan bisa membeli tanah di RT12 RW01, yang kemudian dibangun dan ditempati sekarang.

Pada 2016, usaha angkot di Surabaya memang kian tidak menarik. Data Dinas Perhubungan Kota Surabaya menunjukkan jumlah angkutan darat terus merosot:

· 10.202 kendaraan pada 2016
· 1.999 kendaraan pada 2020
· Sekitar 500 angkot tersisa pada 2023, tersebar di 58 trayek—dan banyak di antaranya tidak lagi aktif

Penumpang berpindah ke transportasi online, Suroboyo Bus, dan Trans Semanggi Suroboyo. Armada angkot pun menua, izin dan KIR bermasalah, sementara pendapatan sopir semakin tipis.

Bagi banyak pengemudi, bertahan di angkot terasa seperti menahan perahu bocor di tengah arus.

Namun, di tengah kesulitan itu, sebagian orang memilih tidak menyerah. Mereka mencari jalan baru. Dan laut, bagi warga Medokan Ayu, menjadi jawaban.

Komunitas yang Menguatkan, Bukan Sekadar Pelarian
Peralihan itu tidak berjalan sendiri. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memberikan bantuan berupa mesin perahu, paket perahu, dan jaring gillnet. Ada pula rencana pembangunan SPBU khusus nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Dukungan itu membuat profesi nelayan bukan lagi sekadar pelarian, melainkan alternatif yang tumbuh dan membuktikan diri.

Mereka tidak hanya berganti pekerjaan. Mereka membangun komunitas. KUB "Sumber Rejeki" menjadi wadah untuk saling menguatkan, berbagi hasil, dan menatap masa depan.

Mantan sopir angkot, mantan pekerja pabrik, dan anak-anak muda di bawah 40 tahun kini berdiri di garis yang sama: mencari rezeki di laut.

Tentu, menjadi nelayan tidak selalu mudah. Ada gelombang, cuaca, dan harga ikan yang naik-turun. 

Tetapi di situ ada harapan. Di situ ada keberanian. Di situ ada bukti bahwa ketika angkot surut, bukan berarti kehidupan ikut berhenti.

Pelajaran dari Medokan Ayu: Rezeki Hanya Berpindah Jalur
Kisah Medokan Ayu mengajarkan satu hal: ekonomi boleh sulit, satu usaha boleh redup, tetapi rezeki tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah jalur:
Dari setir ke jaring.
Dari jalan raya ke laut.
Dari angkot ke perahu.
Dari pekerja pabrik menjadi nelayan.

Maka, jika hari ini merasa usaha sedang terhimpit, jangan cepat putus asa. Belajarlah dari mereka yang berani beralih. 

Beranilah mencari jalan baru, bergabung dengan komunitas, dan memanfaatkan dukungan yang ada.

Ingat! Ketika satu pintu tertutup, pintu lain bisa terbuka—asalkan kita mau melangkah dan tidak berhenti percaya pada kebesaran-Nya bahwa selalu ada pengganti.

Pesan Utama:
Adalah telah terbukti. Di setiap kesulitan, selalu ada jalan yang menanti untuk ditemukan.