![]() |
| Menambah angin ban motor milik seorang ibu muda warga Medokan Ayu. |
- Lokasi pinggir TPA, usia senja—tak menyurutkan panggilan hati untuk terus menolong.
InfoMedokanAyu - Tambal ban bukan sekadar bisnis kecil. Ia adalah infrastruktur sosial darurat: menjaga roda ekonomi tetap berputar, mencegah kecelakaan, dan menjadi solusi murah saat kendala teknis muncul di jalan.
Itulah yang diyakini Suripto (67), warga Medokan Ayu yang sejak pandemi 2020 memutuskan menggeluti usaha tambal ban, yang memberikan manfaat kepada banyak orang.
![]() |
| Suripto yang suka guyon |
Bukan tanpa alasan. Pria yang dulu aktif sebagai pemborong proyek perumahan dan renovasi itu di usia 60 tahun beralih usaha. Bukan berhenti. Ini karena satu keyakinan: emoh diam.
“Diam justru bikin kesehatan melemah. Saya ingin terus berbuat manfaat", katanya seraya menambahkan bahwa tambal ban bukan sekadar bisnis, ada nuansa membantu.
Maka tambal ban pun dipilih. Dan untuk itu, Suripto tak perlu belajar dari awal. Lulusan SMK jurusan mesin ini, semasa sekolah tahun 1975, pernah merintis usaha tambal ban di sisi kiri Swalayan Bilka, Ngagel Jaya Selatan—tepat di Jembatan Kalisumo.
![]() |
| Sering juga lokasinya sebagai "ampiran" Susilo (kiri) seksi kebersihan RW2 |
“Dulu saya merasakan hal membahagiakan: melihat seseorang tersenyum, setelah motor atau sepedanya bisa dipakai lagi meneruskan perjalanan.”
Kini, setelah mantap meninggalkan profesi sebagai pemborong, Suripto setiap hari bisa ditemukan di bengkel tambalnya yang sederhana.
Lokasinya persis berseberangan dengan pintu depo sampah satu-satunya di Medokan Ayu—di sisi kiri (tampak luar) pintu gerbang belakang kawasan perumahan MA2 atau Medokan Asri Tengah.
Mengapa Usaha Tambal Ban Itu Seperti "Penyelamat"?
Solusi darurat di jalan – Ban bocor bisa terjadi kapan saja. Keberadaan tukang tambal ban mencegah pengendara terdampar.
Mencegah kecelakaan – Tambal yang benar (vulkanisir dingin/panas) mengembalikan fungsi ban dengan aman.
Biaya terjangkau – Cukup Rp15.000 untuk motor, jauh lebih murah daripada ganti ban baru.
![]() |
| Warga Medokan Ayu (kanan) menunggu saat mengganti ban. |
Memberdayakan ekonomi kecil – Modal kecil, hasil harian stabil.
Lokasi fleksibel & strategis – Bisa di pinggir jalan, dekat pasar, sekolah, atau permukiman padat.
Menopang mobilitas kelas pekerja – Motor adalah tulang punggung ojek, buruh, dan usaha kecil. Tambal ban cepat menjadi penyelamat produktivitas mereka.
![]() |
| Menambal ban motor warga Griya Pedona Asri, yang setiap hari dipakai transpotasi kuliah. |
Tak Hanya Ban: Jago Gulung Dinamo Juga
Berbicara dengan Suripto, ternyata ia juga menguasai soal dinamo mobil.
Pada tahun 1970, keluarganya pindah dari Ngagel Tama Tengah ke kawasan Baratajaya, dia akrab dengan pusat reparasi dinamo di sana.
Salah satu teman sekolahnya—putra pemilik usaha gulung dinamo. Dia pun sambil sekolah bergabung kerja disana.
Tapi di usia lansia, Suripto lebih memilih "menyulam ban"—katanya—karena kebutuhan warga paling tinggi untuk tambal ban motor dan sepeda anak sekolah.
Di bengkelnya, anak-anak sekolah sering mampir sekadar tambah angin ban. Ini bukan termasuk tambahan pendapatan. Riilnya Suripto sering membebaskan biayanya.
Warga Tetap Medokan Ayu Sejak 1998
Suripto, ayah dari 6 anak dan 9 cucu ini, warga tetap Medokan Ayu sejak 1998. Tercatat sebagai warga RW 13, tepatnya di Jalan Medayu Utara XVIII-2, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. (red)





