![]() |
| Saat reuni angkatan Tamtama TNI-AU 2021, Mayor TNI-AU (Purn) R. Eddy Agus subekti mengenakan kostum awal di militer pangkat Prada (Ke-2 dari kiri) |
InfoMedokanAyu - Pengabdian yang lahir dari ketulusan tanpa pamrih nyatanya menghadirkan hikmah luar biasa. Hikmah terbesar bukanlah jabatan atau materi, melainkan kedamaian batin dan keridhaan Allah—yang nilainya melampaui segala imbalan dunia.
Itulah catatan positif perjalanan hidup R. Eddy Agus Subekti, warga Medokan Ayu, yang dipercaya sebagai Ketua RT11 RW02 Medokan Ayu untuk masa bakti 2023–2027.
Perjalanan Hidup yang Luar Biasa
Perjalanan hidup Eddy bisa dibilang tak biasa. Ia berkarir di TNI AU, masuk dari level terendah sebagai Tamtama, dan pensiun sebagai Perwira. Loncatan-loncatan pangkat yang ia raih diakuinya sebagai hikmah dari-Nya.
Dengan tinggi 175 Cm—dengan semangatnya luar biasa—pria kelahiran Surabaya ini adalah alumnus SMA Negeri 3.
Keputusannya untuk berkarier di militer berawal dari rasa tanggung jawab kepada sang ibu, seorang janda yang berjuang sendirian.
Ayahnya, anggota TNI AL asal Subang, Jawa Barat, meninggal pada tahun 1970-an. Saat ayahnya tiada, hilang pula berkas-berkas kedinasan, sehingga keluarga tak langsung menerima uang pensiun.
Sang ibu, seorang janda marinir yang tangguh, lalu berjualan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menu Kolak, bakso, dan gorengan adalah menu andalan yang ia jajakan di rumahnya kawasan Juwingan, tak jauh dari Pasar Pucang Anom. Baru beberapa tahun kemudian, pensiun ayahnya bisa diterima.
![]() |
| Kenangan awal bergabung di TNI-AU dengan pangkat Prada. Yang bersangkutan jongkok ke-3 dari kiri. |
Anak Sulung yang Tak Pilih-Pilih Kerja
Bertolak dari kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara (dua adiknya perempuan dan laki-laki), Eddy tak memilih-milih pekerjaan yang sesuai ijazah.
Ketika lowongan masuk TNI AU untuk Tamtama dibuka, ia langsung mendaftar.
Baginya, yang penting bisa meringankan beban orang tua. Apalagi, menjadi anggota TNI adalah keinginan terkuatnya.
Niat ingin meringankan beban orang tua itu sudah tertanam sejak ia duduk di bangku SD. Waktu itu, anak laki-laki kelahiran Surabaya ini bersekolah di SD Mariam Manyar Sabongan yang bernuansa Islami.
Kebetulan, ada tetangganya yang menjadi loper koran. Saat memasuki SMP di Muhammadiyah V Pucang, Eddy ikut belajar menjadi loper koran dari temannya, hingga akhirnya ia menjalani sendiri.
Dari hasil meloper, biaya sekolahnya mampu ia penuhi sendiri. Juga selalu berbagi dengan dua adiknya.
Pekerjaan sampingan ini terus ia jalani hingga kelas 1 SMA. Sejak kelas 2 SMA, sang ayah dari satu putri ini memperoleh beasiswa, sehingga kegiatan loper pun ia tinggalkan.
![]() |
| R. Eddy Agus Subekti (kiri) berfoto kenangan dengan dosen (tengah) dan kerabat se-angkatannya. |
Keberuntungan dari Sebuah Mobil VW Kodok
Ketika melepas kegiatan loper, keberuntungan lain menghampiri. Sejak kelas 2 SMA, berangkat sekolah tak perlu repot lagi. Setiap pagi, ia cukup berdiri di pinggir Jalan Ngagel Jaya, lalu sebuah mobil VW Kodok menghampiri dan mengantarkannya hingga ke sekolah di Kenjeran.
Di dalam mobil itu ada teman laki-lakinya, yang diantar mobil dinas oleh sopir—ayah dari temannya itu. Namun, untuk pulang sekolah mereka berdua harus berusaha sendiri. "Cari tumpangan agar bisa jajan di sekolah," kenangnya.
Hidup di jalanan sebagai loper, yang ia jalani bukan karena pamrih untuk kepentingan sendiri, justru membuahkan pelajaran hidup yang membekali setiap langkahnya kini.
Begitupun yang ia praktikkan selama di militer: semua dijalani dengan tulus demi negara. Perjalanan dinasnya pun lancar, bahkan bisa dibilang luar biasa.
Loncatan Karir yang Tak Terduga
Pada 1983, Eddy masuk TNI AU lewat jalur Tamtama dengan pangkat Prajurit Dua (Prada).
Setahun kemudian, ia terpilih mengikuti pendidikan teknik radar di beberapa kota, antara lain Bandung, Solo, dan Madiun.
Dari sinilah awal loncatan terjadi. Ia langsung mengikuti pendidikan Bintara—hanya satu bulan! Setelah itu, ia langsung ditugaskan di Pulau Natuna selama empat tahun.
Di Natuna, pada tahun 1988, ia menikah dengan belahan hatinya yang tak lain adalah tetangganya sendiri di Surabaya. Allah SWT mengaruniai mereka seorang putri—satu-satunya—yang kini bekerja di sebuah rumah sakit Surabaya, sesuai dengan pendidikan keperawatannya.
Bertugas di Timur Indonesia, Bernostalgia di Surabaya
Kemudian, dinas memutasi Eddy ke Solo, di Lanud Adi Soemarmo. Sepuluh tahun di Solo, hingga tahun 2000 ia masuk Setukpa (Sekolah Pembentukan Perwira) di Solo selama 11 bulan.
Pangkatnya naik menjadi Letnan Dua. Tugas baru pun diembannya: kembali ke Indonesia Timur, tepatnya Biak, Papua, hingga 2016.
Di akhir masa tugasnya, ia bergeser lagi ke Surabaya, bertugas di Pusat Pendidikan dan Latihan Pertahanan Udara Nasional (Pusdiklat Hanudnas) TNI-AU.
Di Pusdiklat ini, ia menempati rumah dinas sekaligus bernostalgia dengan masa SMA-nya. Lokasinya di Kenjeran, sekawasan dengan SMA Negeri 3.
"Setiap pagi ketika jalan-jalan, saya selalu mengarah ke sekolah SMA yang menyimpan banyak kenangan itu," ujarnya.
Pensiun, Namun Hikmah Tak Pernah Berakhir
Menurut ayah yang kini memiliki tiga cucu dengan menantu juga dari TNI AU ini, hikmah terbesar adalah kedamaian batin dan keridhaan Allah yang nilainya melampaui segala imbalan materi.
Ia pensiun pada 2019 sebagai purnawirawan TNI AU dengan pangkat terakhir Mayor (Elektronika). Namun, ketulusannya terus ia praktikkan sebagai Ketua RT, melayani warganya tanpa pamrih.
Setidaknya, ada 10 hikmah yang ia rasakan dari perjalanan hidup yang penuh loncatan dan ketulusan:
Ketenangan batin dan kebahagiaan sejati – Tidak mengharap imbalan membuat hati terasa ringan, jauh dari kecewa, dan merasakan kebahagiaan yang tidak tergantung pada faktor luar.
Keikhlasan yang memperkuat spiritualitas – Ibadah atau pengabdian menjadi lebih murni, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta meningkatkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah amanah.
Dipercaya dan dihormati orang lain – Orang yang tulus tanpa pamrih akan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat yang tulus dari sesama, tanpa perlu meminta.
Merasa hidup bermakna (meaningful life) – Pengabdian yang tulus memberikan rasa bahwa hidup berguna bagi orang lain, sehingga mengurangi rasa hampa atau egoisme.
Memperkuat hubungan sosial dan ukhuwah – Kebaikan tanpa pamrih menciptakan ikatan batin yang kuat, karena orang merasakan ketulusan, bukan transaksi.
Menarik pertolongan dan kemudahan dari Allah – Dalam pandangan Islam, siapa yang memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.
Melatih kesabaran dan ketangguhan mental – Tanpa pamrih, seseorang tidak mudah kecewa saat hasil tak sesuai harapan, justru belajar ikhlas dan tabah.
Menjadi teladan (uswah hasanah) – Sikap tulus menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, sehingga kebaikan menyebar tanpa dipaksakan.
Terhindar dari penyakit hati (riya', sombong, iri) – Ketulusan membersihkan niat, sehingga hati menjadi lebih bersih dan damai.
Mendapatkan balasan yang berlipat ganda di akhirat – Amal yang ikhlas karena Allah akan dibalas dengan pahala tak terkira; bahkan di dunia pun sering datang rezeki tak terduga.
Keluarga R. Eddy Agus Subekti ini menempati rumah sekarang, ketika berlangsung nya Pandemi Covid pada 2021.
Baginya memiliki rumah di Surabaya ini, juga sebuah keberuntungan dariNYA. Diberikan harga super murah.
Awalnya ia ingin hidup di kawasan Krian, Sidoarjo. Harga lahannya jauh lebih murah ketimbang Surabaya.
Dirintisnya rumah di Krian, yang kini sebagai rumah kos. Pilih menempati Surabaya, demi anak dan sekolah cucu-cucunya.
Penutup:
Dari seorang anak sulung yang meloper koran, menjadi Tamtama, lalu melompat menjadi Perwira, hingga kini mengabdi sebagai ketua RT—R. Eddy Agus Subekti membuktikan bahwa ketulusan tanpa pamrih bukanlah jalan yang merugi. Justru di sanalah letak hikmah dan kedamaian sejati. (red)


