![]() |
| Slamet sosok sederhana berangkat sebagai petani di Kediri hingga kini tak merasa dirinya seorang maestro bekled di Surabaya |
InfoMedokanAyu - Usaha bekled—lapis jok (seat cover) dan interior (kendaraan maupun furniture rumah) —mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi Slamet, warga Jalan Medokan Tambak Kavling 6A RW02 Medokan Ayu, ini adalah panggilan jiwa.
Sejak menikah pada tahun 1975, ia merantau ke Surabaya. Pada 1983, ia mulai mandiri membuka usaha sendiri. Lebih dari empat dekade kemudian, ia masih setia menekuninya. Ia membuktikan: keahlian tangan yang tulus tak pernah lekang oleh waktu.
Sekolah Sejati Bernama Jalanan
Sosok Slamet percaya, keahlian bekled tak diajarkan di bangku formal. "Sekolahnya ya di bengkel, di jalanan," ujarnya.
Bergelut langsung dengan jok, plafon, interior kendaraan hingga furnitur adalah proses belajar sejati.
Pasar usaha ini tak pernah sepi. Selama masih ada mobil, motor, dan kursi rumah, pesanan akan selalu datang.
![]() |
| Dalam bekerja, kini cukup dibantu satu orang |
Ketika Anak Melarang, Hati Tetap Berkata Teruslah
Putra sulungnya kini sudah 50 tahun dan berprofesi sebagai PNS. Sang anak sempat melarang ayahnya terus bekerja. Tapi Slamet bersikeras.
Bukan karena ekonomi—kedua putranya sudah sukses menjadi PNS, dan dari lima orang cucu, salah satunya sudah kuliah. Beban ekonomi telah menurun, tetapi semangat berkarya tak pernah surut.
Sejak 2012, ia menempati rumah di Jalan Tambak Medokan yang sekaligus menjadi kantor dan bengkel.
Sebelumnya ia tinggal di Ngagel Dadi—rumah yang kini diberikan kepada putra keduanya.
Ia memilih hijrah ke pinggiran Surabaya Timur, dekat dengan putra sulungnya di kawasan Putra Bangsa.
"Pindah ke pinggiran tidak masalah. Bekled justru cocok di lingkungan padat. Pasti warga butuh," tegasnya optimis.
![]() |
| Sosok sederhana ini selalu siap membantu |
Dipercaya Karoseri Besar, Karena Kerja Tak Pernah Khianati
Keyakinannya bukan isapan jempol. Slamet telah menjadi langganan tetap para pelaku jual beli mobil bekas hingga karoseri besar.
Membuktikan sebagai ahli bekled di karoseri itu, InfoMedokanAyu menghubungi General Manajer Ngagel Tama Karoseri.
Henry Cornelis Kamoera, membenarkan reputasinya. "Benar, Pak Slamet itu sosok yang dipercaya untuk urusan bekled mobil. Kami kenal beliau sebagai 'Pak Slamet Bekled'," ujar Henry.
Pada 1992, usahanya sempat tergusur pelebaran jalan di Ngagel Jaya Selatan. Tak surut, ia pindah ke Jalan Bung Tomo dan tetap dipercaya.
Belajar dari Nol, Hingga Jadi Kepala Tukang
Lahir dan besar dari keluarga petani di Kediri, Slamet kecil tak bercita-cita jadi tukang bekled. Namun setelah menikah dengan putri Kediri pada 1975, istrinya mengajaknya merantau ke Surabaya.
Ia mulai bekerja di bengkel bekled di Jalan Ngagel. Hasilnya jauh lebih besar daripada di desa. Ia kian rajin belajar, dari nol hingga dipercaya menjadi kepala tukang.
"Delapan tahun kerja sama orang itu (1975–1983) benar-benar sekolah buat saya. Pengalaman jadi petani di Kediri sama sekali tak berlaku di Surabaya. Tapi saya senang, dan pemilik usaha percaya saya mewakili urusan keluar - mendatangi pesanan sekaligus mengkalkulasi kebutuhan bahan."
Sejak 1983 hingga kini, ia mandiri dengan usahanya sendiri.
![]() |
| Berbicara dengan sosok Slamet yang adalah biasa bermotor ke Citraland ini harus bervolume lebih keras. |
Tren Modifikasi dan Repeat Order: Peluang Tak Terbatas
Slamet optimis. Jumlah motor dan mobil terus meningkat. Selain perbaikan, banyak pemilik kendaraan mengganti jok karena tren modifikasi yang cepat berubah. Ini menjadikan peluang repeat order sangat terbuka.
Namun kini, di usia senja, ia tak lagi bekerja ekstra keras. Apalagi setelah sang istri dipanggil Yang Maha Kuasa pada masa pandemi Covid-19 tahun 2021. Kepergian itu justru membuatnya makin dekat dengan Tuhan.
Keahlian untuk Ibadah, Bukan Sekadar Ongkos
Menjelang puasa, ketika masjid Asasul Amal membutuhkan perbaikan terpal tenda, Slamet menolak diberi upah. "Cukup ganti materialnya saja," katanya ringan.
Warga RW10 pun sudah merasakan keahliannya—membekled meja, kursi, hingga mobil. Baginya, berkarya adalah bentuk ibadah.
Masih Tangguh, Masih Berani Jauh
Jangan kira usianya yang tak muda lagi membuatnya lemah. Slamet masih sanggup bepergian jauh sendirian dengan Yamaha N-Max.
Saat "nyekar" orang tua di Kediri menjelang puasa, ia melaju dengan kecepatan 80 km per jam. Tubuhnya mungkin tak lagi prima, tapi semangatnya masih menyala seperti 40 tahun lalu.
![]() |
| Rumah malam hari, sekaligus workshop. Tidak ada papan nama. Kendati demikian pelanggan lama dari luar Medokan Ayu sudah hafal. |
Pesan untuk Kita
Kisah Slamet menginspirasi: memulai usaha tak harus muda. Ia baru mandiri pada 1983, setelah delapan tahun berguru di bengkel orang lain.
Semangat berkarya tak mengenal kata pensiun. Keahlian sejati lahir dari ketekunan, bukan dari gelar. Dan saat hati tulus berkarya, rezeki serta kepercayaan akan datang dengan sendirinya.
Sudahkah kita menemukan "bekled" dalam hidup kita—sesuatu yang kita cintai dan tak pernah bosan kita tekuni, meski dunia berkata "cukup"?
Slamet Bekled via WA: 0877-7726-5540. (red)
#UsahaBekled
#SlametBekled
#PengusahaSurabaya
#InspirasiUsaha
#MaestroBekled
#TakMauPensiun
#SemangatBerkarya #KetekunanMembuahkanHasil #DariPetaniJadiPengusaha
#BelajarDariJalanan




