Oleh: Priono Subardan
InfoMedokanAyu- Sembilan pagi, Rudiono (62) sudah merapikan setir sepeda motornya. Dua keranjang berisi tahu putih di bagian belakang mulai menipis, pertanda hari itu ia boleh segera beristirahat.
Sejak subuh, ia sudah berkeliling melewati gang-gang sempit Medokan Ayu, menawarkan dagangan yang tak pernah bosan ia emban setiap hari.
"Hanya sampai jam sembilan. Selepas itu, istirahat. Sudah tidak kuat seperti dulu," ujarnya dengan logat Jawa yang kental.
Pria tamatan Sekolah Dasar di Blitar ini memang memilih untuk tidak berhenti. Bukan karena desakan ekonomi semata, melainkan karena baginya berjualan tahu adalah ritme hidup yang membuatnya terus bergerak. Juga bisa berjumpa dengan para sahabat.
Amanat sederhana ini bahkan ia jalani meski putri satu-satunya berkali-kali melarang. "Anak saya bilang, 'Pak, sudah berhenti jualan,' tapi saya belum mau. Biar tetap sehat, tetap ada kegiatan," kata Rudiono, tersenyum tipis.
Seniman
Dan di balik rutinitas hariannya sebagai penjual tahu keliling, tersembunyi sosok lain dari Rudiono: seorang seniman, pamong budaya Jawa, sekaligus perekat sosial yang nama dan dedikasinya tak terpisahkan dari sejarah Medokan Ayu.
Warga Medokan Ayu lebih akrab memanggilnya "Akung Rudi" – sebuah panggilan populer yang melekat erat.
Nama aslinya sebenarnya Rusdiono, namun karena lidah dan kehangatan warga setempat, ia disapa Akung Rudi.
Bahkan dalam setiap kegiatan LPMK atau Pokdarwis, hingga 2022 selalu muncul ungkapan “Ono Rudi” – plesetan dari nama yang terbalik (Rudiono – Ono Rudi), yang dalam bahasa Jawa berarti “ada Rudi”.
Itulah penanda kehadirannya yang dinanti: ketika Rudi ada, acara terasa hidup.
Dari Jamu Becak hingga Rumah di Kavlingan/ Pintu Keberkahan
Perjalanan Rudiono menjejakkan kaki di Surabaya dimulai pada 1983. Hijrah dari Blitar, kota kelahirannya, ia memilih merantau. Empat tahun kemudian, pada 1987, ia menikahi seorang perempuan dari Wonogiri, Jawa Tengah yang kelak ia sebut sebagai "pintu keberkahan".
Tahun 1991, berkat keuletan sang istri, mereka memiliki rumah sendiri di Jalan Medayu Utara Gang 30/46, dengan luas tanah 5x20.
Saat itu, kawasan tanahnya masih bernama kavlingan, hanya dihuni tujuh rumah, dan bergabung dengan RW 03.
Awalnya, Rudiono berjualan jamu keliling. Namun seiring waktu, ia beralih menjadi penjual Tahu di awal tahun 2000-an.
"Jualan tahu ini tidak terikat waktu. Saya punya waktu untuk kegiatan lain," ujarnya.
Kegiatan lain itulah yang perlahan mengubah hidupnya. Di Medokan Ayu, ia menemukan komunitas seni budaya yang dipimpin oleh sosok bernama Pak Martin (yang kini telah kembali ke Blitar). Pak Martin, yang juga memiliki grup karawitan dan campursari, melihat bakat alami Rudiono.
"Saya lalu diarahkan menjadi MC. Pertama kali saya menjadi MC Jawa, teman-teman bilang cocok dan bagus," kenangnya.
Bakat itu bukan serta-merta datang. Sejak kecil di Blitar, Rudiono telah aktif mengikuti keluarga besarnya yang berkecimpung dalam dunia karawitan. Hingga kini, ia masih hafal gending-gending Jawa.
Ia juga penggemar ludruk. Maka ketika diminta membawakan acara dalam bahasa Jawa, ia mengalir begitu saja. "Di atas panggung, saat gamelan srempek songo mulai, kita lihat situasi dan kondisi. Tugas MC itu menghidupkan suasana," jelasnya.
Melalui dunia seni pula ia menjadi dekat dengan maestro seni Surabaya, seperti Cak Kartolo dan Cak Siddiq.
Perekam dan Perekat Sosial Medokan Ayu
Kepiawaiannya berbahasa Jawa membuat Rudiono menjelma menjadi sosok yang selalu diikutsertakan dalam berbagai kepengurusan lembaga kemasyarakatan.
Ia dipercaya bergabung dalam Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Medokan Ayu selama periode yang panjang, hingga tahun 2022. Tak berhenti di situ, Rudiono juga aktif menjadi anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrove Medokan Ayu.
DOKUMENTATOR
Di sinilah sisi lain dari Rudiono nampak: ia bukan hanya pengurus, melainkan juga dokumentator andal.
Dengan kamera yang ia pegang, Rudiono menjadi fotografer dan videografer setiap kegiatan.
"Karena lama di kepengurusan, saya jadi banyak tahu tentang Medokan Ayu. Semua kegiatan saya foto dan video," ujarnya.
Ribuan memori warga terekam oleh lensanya, menjadikannya semacam "arsip berjalan" kawasan tersebut.
KEBERUNTUNGAN
Ia menyebut keterlibatan ini sebagai sebuah keberuntungan. Bukan karena materi, melainkan karena ia bisa memberikan manfaat. Dan semua itu, menurut Rudiono, tidak akan terwujud tanpa sosok di belakangnya.
"Istri Saya Sangat Suka Saya Berkegiatan"
Sembari tangannya merapikan pancingnya (siang itu ia sedang mengobrol sambil memancing di sungai Avour dekat rumahnya), mata Rudiono berkaca-kaca.
"Saya sangat beruntung diberikan oleh-Nya istri yang baik hati," katanya lirih.
Ia menegaskan, semua kegiatan sosial dan seninya itu berkat dukungan penuh sang istri. "Istri saya sangat suka saya berkegiatan, meski secara finansial tak diperolehnya," ujarnya menirukan ucapan istrinya.
Dari membeli rumah tahun 1991, hingga memberinya ruang untuk berkesenian dan berorganisasi, sang istri adalah pilar yang tak tergoyahkan. "Rumah ini pun berkat keuletan istri saya," akunya.
KEBERUNTUNGAN
Sejak lima tahun lalu ia terkena stroke ringan, istri yang membuka toko Pracangan di rumahnya tidak lagi mau diantar saat kulakan.
Istrinya lebih pilih sendiri setiap dini hari pergi kulakan sayur mayur dan lainnya di pasar Mangga Dua, Jl. Jagir dengan mengendarai Daihatsu Xenia. Sebelumnya, Rudiono yang selalu mengantarnya.
Namun, ada satu lagi keberuntungan yang tak pernah luput ia syukuri: putri satu-satunya yang telah memberinya tiga cucu kini juga telah memiliki rumah yang sangat dekat dengannya.
Hanya berjarak beberapa meter, sang anak dapat dengan mudah menjenguk kapan pun. Bagi Akung Rudi, kedekatan ini adalah anugerah terindah di usia senjanya – sebuah jaminan kasih sayang yang tak ternilai.
Peringatan di Usia Senja
Tahun 2021, kurang lebih lima tahun lalu itu, dunia seni yang begitu ia cintai harus ia tinggalkan. Gamelan, panggung, dan perannya sebagai MC Jawa kini hanya tinggal kenangan.
"Sakit itu peringatan dari-Nya. Sekarang saya harus banyak di rumah, mendekatkan diri kepada-Nya," tuturnya.
Baginya, sakit itu justru pertanda bahwa ia harus semakin dekat dengan-Nya – sebuah panggilan yang semakin terang seiring berdirinya Masjid Al-Hidayah yang tepat di depan rumahnya.
Menariknya, ketika Rudiono dan istri membangun rumah mereka pada tahun 1994, lahan masjid itu masih merupakan area fasilitas umum (Fasum) yang belum diketahui peruntukannya.
Kini, masjid itu menjadi saksi bisu sekaligus pengingat harian akan sebuah ketetapan Ilahi.
Kini, satu-satunya yang tersisa dari rutinitas masa lalunya adalah berjualan tahu. Dan di sinilah kebahagiaan kecil masih ia temui. Para pelanggannya tak lain adalah teman-teman lamanya, pengurus LPMK dan Pokdarwis yang masih setia menunggu teriakan "Ta-hu...." di pagi hari.
PENJAGA GENDING
Rudiono tak pernah merasa kecil karena hanya lulusan SD. "Ini semua sudah kehendak-Nya. Saya hanya menjalani," katanya merendah.
Di gang sempit Medokan Ayu itu, Rudiono berdiri tegak. Bukan sekadar penjual tahu, ia adalah penjaga gending, perekam sejarah, dan bukti bahwa seorang bocah dari Blitar pun bisa menjadi perekat budaya di tengah kota besar.
Dan di usia senja, dengan motor Honda Supra 125 dan Tahu di keranjang, ia membuktikan bahwa yang paling sederhana dalam hidup—termasuk sebuah bahasa dan sepotong Tahu—justru paling berarti.