Jumat, 11 September 2026

Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (5)

Ilustrasi

Bab 7: Refleksi—Musala sebagai Simbol Perjuangan dan Kontinuitas
Dari rentetan fakta terbatas namun saling menguatkan, dapat ditarik benang merah yang kuat.

Pertama, Makam Pahlawan di sisi utara—yang telah ada sebelum musala berdiri—adalah faktor penentu bagi pengurusan izin resmi pendirian musala di masa kolonial. 

Keberadaannya menjadi syarat administratif yang dipenuhi Sayyid Zein saat mengajukan izin. Makam Islam RW02 di selatan belum ada pada masa itu, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.

Kedua, Makam Islam RW02 di selatan adalah makam keluarga Sayyid Zein, yang baru ada setelah ia wafat pada 1889. Keberadaannya kemudian menjadi kompleks pemakaman keluarga pendiri—bukan faktor penentu izin pendirian musala.

Ketiga, Musala Imaduddin didirikan Sayyid Zein sebelum 1889, kemungkinan dekade 1870-an–1880-an, saat putranya masih bocah. 

Itu menjadikannya salah satu tempat ibadah tertua di Surabaya Timur, yang berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun sebelum akhirnya menjadi masjid pada 1962.

Keempat, perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang dijodohkan untuk menyatukan putra dan putri mereka—menunjukkan bahwa perjuangan dan dakwah di kawasan ini tidak hanya dilakukan secara individu, melainkan melalui strategi keluarga dan jaringan ulama yang saling mendukung.

Kelima, pemugaran musala menjadi masjid oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 menandai babak baru dalam sejarah Imaduddin. 

Dari rintisan Sayyid Zein yang sederhana, tempat ibadah ini tumbuh menjadi masjid yang kokoh—monumen hidup yang menghubungkan masyarakat Medokan Ayu dengan ingatan kolektif tentang perjuangan tiga ulama di utara, peran sentral Sayyid Zein di selatan sebagai pendiri, serta kontinuitas perjuangan dari generasi ke generasi melalui jaringan keluarga yang diperkuat oleh perbesanan antarulama.

Kesimpulan Historis: Kapan Musala Berdiri, Kapan Menjadi Masjid?
Meskipun tahun pasti berdirinya musala belum terungkap, kombinasi tahun wafat Sayyid Zein (1889) sebagai batas akhir, kelahiran KH. Yusuf Manan (1940), masa agresi Belanda, dan isyarat para pahlawan gugur sebelum 1940, memberi petunjuk kuat bahwa musala berdiri pada akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, sekitar 1870-an–1880-an.

Tempat ibadah ini berbentuk musala selama kurang lebih 70–80 tahun, hingga akhirnya pada 1962 berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein.

Keberadaan dua makam di dua sisi berbeda—Makam Pahlawan di utara sebagai faktor administratif izin pendirian, dan Makam Islam RW02 di selatan sebagai makam keluarga pendiri—semakin memperkuat narasi bahwa musala ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial sejak akhir abad ke-19, jauh sebelum berubah menjadi masjid pada 1962.

Penelusuran lebih lanjut masih dibutuhkan melalui arsip kolonial Belanda, catatan lisan sesepuh kampung, serta dokumen keluarga—terutama untuk memastikan angka tahun pasti pendirian musala dan detail proses pemugaran 1962.