Penutup: Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu
Sejarah tidak selalu hadir dalam angka dan tanggal gamblang. Kadang ia tertulis dalam nisan tanpa tahun, dalam musala yang berdiri di antara dua makam, dan dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun.
Makam Pahlawan di utara, Makam Sayyid Zein di Makam Islam RW02 selatan, dan Imaduddin—yang pernah berbentuk musala dan kini menjadi masjid—adalah tiga sisi dari keping sejarah yang sama.
Hal itu secara tidak langsung, simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman di tengah tekanan penjajahan, yang dirintis Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun—dilanjutkan putranya KH.
Abdullah Manan, besannya KH. Hamzah Murtadlo, dan cucunya KH. Yusuf Manan yang memugar musala menjadi masjid pada 1962.
Perbesanan antara Sayyid Zein dan KH. Hamzah Murtadho—yang menjodohkan putra dan putri mereka—bukan sekadar urusan personal, melainkan strategi cerdas untuk membangun jaringan dakwah dan perjuangan yang kokoh.
Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh individu, tetapi oleh ikatan-ikatan sosial yang diperkuat lintas generasi.
![]() |
| Makam keluarga Mbah Sayyid Zein. Priono Subardan dari InfoMedokanAyu mengunjungi makam keluarga Masjid Imaduddin, rumah ibadah perintis di Medokan Ayu, pada Rabu, 9 September 2026, usai Ashar. |
Seruan: Menggali Lebih Dalam
Sudah saatnya menggali lebih dalam melalui riset arsip dan wawancara generasi tua, membuka arsip kolonial dan catatan keluarga, mendokumentasikan sejarah lisan sebelum sesepuh berpulang, dan menjadikan Masjid Imaduddin sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda.
Agar tahun berdirinya musala dan tahun perubahan menjadi masjid tidak terus menjadi tanda tanya.
Agar perjuangan KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi, dan jasa Sayyid Zein, KH. Abdullah Manan, KH. Hamzah Murtadho, serta KH. Yusuf Manan tidak hanya dikenang sebagai nama di atas batu, tetapi sebagai teladan hidup dalam denyut nadi masyarakat Medokan Ayu hingga kini.
Ringkasan Data Penting
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun wafat pada Selasa, 19 Maret 1889 (17 Rajab 1306 H). Makamnya di Makam Islam RW02, 300 meter selatan Imaduddin.
Musala didirikan sebelum 1889, kemungkinan 1870-an–1880-an, saat Sayyid Zein masih hidup.
Faktor administratif izin pendirian musala adalah keberadaan Makam Pahlawan di sisi utara yang telah ada sebelum musala berdiri.
Makam Islam RW02 belum ada pada masa pendirian musala, karena baru muncul setelah Sayyid Zein wafat pada 1889.
KH. Abdullah Manan adalah putra tunggal Sayyid Zein. Lahir sekitar 1880-an, wafat 1999.
Sayyid Zein berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho dari Kendalsari dengan cara menjodohkan putranya KH. Abdullah Manan dengan putri KH. Hamzah Murtadho, Salamah. Dari pernikahan ini lahirlah KH. Yusuf Manan pada 1940.
Tiga pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, KH. Kunawi—gugur sebelum 1940 dan dimakamkan di sisi utara musala, kurang dari 100 meter. Kini menjadi Makam Pahlawan.
Tahun 1962 menjadi tonggak penting: musala berubah menjadi masjid melalui pemugaran yang dilakukan oleh KH. Yusuf Manan.
Silsilah Keluarga
Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun berputra KH. Abdullah Manan. Sayyid Zein kemudian berbesan dengan KH. Hamzah Murtadho (Kendalsari) dengan cara menjodohkan putranya, KH. Abdullah Manan, dengan putri KH. Hamzah Murtadlo, Salamah.
Dari pernikahan ini lahir KH. Yusuf Manan (1940)—yang pada 1962 memugar musala menjadi masjid—dan generasi selanjutnya. Sayyid Zein wafat 1889, dimakamkan di Makam Islam RW02 selatan.
Oleh : Priono Subardan
Link terkait berita masjid Imaduddin, silahkan klik dibawah ini:
- Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (1)

