![]() |
| Basori ketua kelompok Tani Bakau Gunung Anyar menunjukan bibit bakau yang telah berusia 7 bulan. |
InfoMedokanAyu - Kelompok Tani Bakau di Surabaya saat ini menghadapi prospek yang spekulatif dan berisiko tinggi. Mereka hanya mengandalkan "pemberian kesempatan" tanpa adanya komitmen pembelian yang pasti. Padahal, risiko kerugian sangat besar jika bibit tidak laku hingga melewati usia 7 bulan.
Demikian disampaikan oleh Basori, Ketua Kelompok Tani Bakau Gunung Anyar, Surabaya. Sementara itu, di Medokan Ayu, belum terdapat kelompok tani bakau.
KETERBATASAN KEPASTIAN PASAR
Basori menceritakan, kelompoknya hanya diberi kesempatan untuk melakukan pembibitan dan penanaman. Pendapatan mereka berasal dari penjualan bibit dan jasa penanaman, yang biasanya dibeli oleh perusahaan yang peduli pada pelestarian mangrove.
Beberapa tahun lalu, usaha ini sempat lancar. Permintaan bibit bakau cukup tinggi untuk keperluan restorasi, reboisasi, atau program CSR perusahaan.
Kelompok yang beranggotakan 13 orang itu juga siap menanamkan bibit, sehingga risiko kematian akibat kesalahan tanam dapat dihindari. Harga bibit siap tanam berikut penanaman sekitar Rp8.000 per pohon.
RISIKO STUNTING SETELAH 7 BULAN
Kondisi saat ini sangat berbeda. Pembelian bibit sangat terbatas, bahkan hingga usia 7 bulan. Padahal, petani telah menanggung biaya produksi seperti media tanam, polibag, dan perawatan selama 7 bulan.
Bibit bakau tidak tahan lama jika sudah siap tanam. Akar dapat keluar dari polibag dan mengalami stunting, yang ditandai dengan:
· Tanaman tidak dapat berkembang optimal
· Batang menjadi pendek dan kecil
· Daun menguning atau rontok
Akibatnya, bibit menjadi kurang sehat dan tingkat keberhasilan tanam rendah. Tanpa pembeli yang jelas setelah 7 bulan, risiko bibit mengalami stunting sangat tinggi sehingga nilainya menurun drastis.
KEPRIHATINAN PETANI & KEBUTUHAN POHON
Basori mengaku prihatin dengan kondisi pembibitan saat ini.
"Kadang bibit masih usia 5 bulan, keluarga petani sudah menjerit butuh uang belanja. Terpaksa saya harus berupaya mencarikan," tuturnya.
Padahal, luas area tanam mangrove yang perlu disentuh masih besar. Kawasan Gunung Anyar yang sudah banyak ditanami masih membutuhkan sekitar 7.000 pohon. Sementara Medokan Ayu memiliki kebutuhan lebih besar lagi.
Sejak ekowisata mangrove berdiri, hanya pada tahun 2024 Medokan Ayu ditanami dua kali dengan total 1.500 pohon, itupun banyak yang mati. Diperkirakan kawasan Medokan Ayu masih membutuhkan 100.000 pohon.
Secara keseluruhan, ruang ekowisata Mangrove Medokan Ayu paling luas.
Berdasarkan data Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, luas area mangrove Medokan Ayu mencapai 16 hektare (Ha) dan Gunung Anyar 11 hektare (Ha).
Sebagai informasi tambahan, luas total KRM Surabaya yang merupakan gabungan mangrove Gunung Anyar, Medokan Ayu, dan Wonorejo adalah 34 hektare.
KESIMPULAN
Kelompok tani bakau di Gunung Anyar dan kebutuhan area tanam di Medokan Ayu (total sekitar 107.000 pohon) menunjukkan potensi besar, namun tanpa kepastian pasar dan komitmen pembelian, usaha pembibitan bakau tetap berisiko tinggi dan spekulatif. (red)

