Selasa, 09 Juni 2026

Pengunjung Soroti Kekurangan Ekowisata Mangrove Surabaya: Medsos Kurang Kekinian hingga Beragam Harga Terlalu Mahal


InfoMedokanAyu – Ekowisata Mangrove Surabaya, salah satu destinasi wisata alam andalan Kota Pahlawan, masih menyisakan sejumlah catatan penting dari para pengunjung.


Usai membaca berita itu seorang pengunjung, yang warga Medokan Asri Utara, Yeremia Santoso yang kerap datang ke lokasi, menyampaikan berbagai usulan perbaikan agar tempat wisata ini mampu menjawab kebutuhan wisatawan masa kini.

Dua anak dari Bapak Yeremia Santoso menyempatkan mencari buku bacaan ketika Perpustakaan Keliling mampir ke Ekowisata Mangrove Surabaya.

Pasangan Yeremia dan Nyonya, yang sesama aktif di dunia Pendidikan ini, menyayangkan bila Ekowisata Mangrove Surabaya, pengelolanya kurang mumpuni. Padahal menarik dari sisi edukasi.

"Minimal 3 bulan, anak-anak ngajak kesana. Anak2 ku suka banget itu spot ATV, spot kolam bebek, Spot playground pasir dan spot doctor fish", kata Yeremia, yang anak pertama putra 7 tahun dan kedua putri usia 5 tahun.

Beliau antara lain menyoroti:
Pertama, dari sisi promosi, akun media sosial Ekowisata Mangrove Sutabaya dinilai kurang relevan dengan tren kekinian. 

Warga tersebut menyarankan pengelola untuk mulai menggandeng selebgram lokal guna memperluas jangkauan pemasaran dan menarik minat generasi muda.

Bapak Yeremia Santoso mendampingi si kecil membaca buku milik Perpustakaan Keliling.

Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola dinilai belum profesional. 

Warga ini mengusulkan agar para petugas mengenakan seragam yang lebih otentik—menyerupai konsep di Taman Safari—serta lebih ramah dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berkomunikasi dengan pengunjung.

Ketiga, fasilitas keamanan di kawasan tersebut dirasa masih kurang, terutama jika dibandingkan dengan destinasi wisata alam di luar kota seperti Trawas, Pacet, atau Batu.

Pengunjung mengharapkan adanya petugas yang siaga di titik-titik rawan, termasuk di kawasan jembatan kayu yang tidak berpagar.

"Dengan begitu, jika ada pengunjung yang terpeleset atau jatuh—apalagi anak-anak— bisa segera mendapatkan pertolongan," ujar warga tersebut.

Dua putra Bapak Yeremia Santoso usai baca buku, kembali ke keinginan awal datang ke Ekowisata Mangrove, bermain di kolam bebek.

Keempat, dari sisi kuliner, jenis makanan yang tersedia di foodcourt dinilai kurang otentik dan kurang variatif. 

Warga berharap tersedia lebih banyak pilihan makanan khas atau unik yang bisa menjadi daya tarik tersendiri, dengan harga dan menu yang dapat menyesuaikan dengan referensi di luar kawasan.

Kelima, masalah yang paling krusial menurut warga adalah harga sewa sarana transportasi di dalam kawasan, seperti sepeda listrik dan mobil listrik, yang dinilai terlalu mahal. 

"Ini cukup krusial jika mau menyasar anak muda masa kini yang malas berjalan kaki, juga para lansia," ujarnya. 

Harga yang terlalu tinggi dinilai dapat menghalangi minat wisatawan untuk menikmati kawasan secara maksimal.

Para pengunjung berharap pengelola Ekowisata Mangrove Surabaya segera menindaklanjuti masukan ini demi meningkatkan kualitas layanan dan daya saing destinasi wisata alam kebanggaan Surabaya. (red)