![]() |
| Sempat kaget melihat poster yang menempel di tembok di Musala Ar Rivai di Medokan Kampung. Disana disamping tertulis Nama KH. Yusuf Manan, dan KH. Abdul Manan, ada pula KH. Murtadho, yang pasti siapapun bakal mengetahui bila membaca artikel ini |
Bab 6: Tonggak 1962—Dari Musala Menjadi Masjid
Inilah inti penelusuran artikel ini: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?
Dari berbagai jejak yang berhasil dirangkai, dapat disimpulkan bahwa Imaduddin telah berdiri sebagai musala sejak akhir abad ke-19, tepatnya sebelum 1889, pada dekade 1870-an hingga 1880-an.
Selama puluhan tahun—melintasi pergantian abad, masa perjuangan kemerdekaan, hingga awal kemerdekaan—tempat ibadah ini tetap berbentuk musala kecil yang sederhana.
Tonggak penting terjadi pada tahun 1962. Pada tahun inilah musala tersebut berubah bentuk menjadi masjid. Perubahan ini dipugar—dalam arti dibangun ulang dan diperbesar—oleh KH. Yusuf Manan, cucu Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun, putra KH. Abdullah Manan dan Hj. Salamah.
KH. Yusuf Manan lahir pada 1940, sehingga pada 1962 ia berusia sekitar 22 tahun—usia muda yang penuh semangat untuk melanjutkan estafet perjuangan kakeknya.
Dengan demikian, rentang waktu Imaduddin sebagai musala berlangsung kurang lebih 70 hingga 80 tahun, yaitu dari sekitar 1870-an–1880-an hingga 1962. Barulah setelah 1962, tempat ibadah ini menyandang status masjid hingga sekarang.
Pemugaran oleh KH. Yusuf Manan pada 1962 ini bukan sekadar perubahan fisik bangunan, melainkan juga penanda kematangan sebuah rintisan spiritual yang telah ditanam Sayyid Zein hampir satu abad sebelumnya.
Estafet kepemimpinan—dari Sayyid Zein ke KH. Abdullah Manan, lalu ke KH. Yusuf Manan—menunjukkan kontinuitas yang kuat dalam menjaga dan mengembangkan sarana ibadah ini.
Bersambung ke bagian 5, silahkan klik : "Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (5)"
Oleh : Priono Subardan
Link terkait berita masjid Imaduddin, silahkan klik dibawah ini:
