InfoMedokanAyu - Sungai Kebon Agung bukan sekadar garis batas wilayah di sisi selatan. Ia adalah nadi kehidupan.
Dari sungai itu, dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan bangkit: KUB “Sumber Rejeki”, penangkap kepiting, dan KUB “Karang Pinggiran”, pengantar pemancing ke laut.
Kehadiran mereka menciptakan kelompok pengguna harian yang paling merasakan langsung sehat atau tidaknya sungai.
Inilah kekuatan pengawasan informal yang berharga—sebuah mekanisme yang lahir bukan dari proyek seremonial, melainkan dari kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Itulah simpulan InfoMedokanAyu-Weblog Lingkungan Medokan Ayu setelah melihat kondisi riil Sungai Kebon Agung saat ini.
Sungai ini berfungsi mengatasi luapan banjir dari beberapa kawasan di Surabaya, terutama wilayah selatan: Kawasan Ketintang dan Margorejo, Kawasan Karah, Kawasan Jambangan, serta Kawasan Ahmad Yani dan Mang Kabayan.
Namun, manfaat keberadaan nelayan Medokan Ayu hanya terwujud jika pemerintah secara konsisten merawat sungai. Tanpa perawatan, kebangkitan nelayan tidak akan bertahan lama.
Pengawasan Harian yang Lahir dari Ketergantungan Mata Pencaharian
Kedua KUB di Medokan Ayu sama-sama bergantung langsung pada badan air dan kesehatan ekosistem sungai.
KUB “Sumber Rejeki” bergantung pada kualitas perairan estuari dan kawasan mangrove.
Sungai Kebon Agung merupakan koridor penghubung ke Mangrove Kebon Agung.
Tumpukan sampah atau penurunan kualitas air akan merusak habitat kepiting dan langsung menurunkan hasil tangkapan.
KUB “Karang Pinggiran” mengantar pemancing ke laut. Perahu mereka harus melintasi Sungai Kebon Agung untuk mencapai muara dan laut.
Jika aliran tersumbat sampah atau mengalami pendangkalan, akses menuju fishing ground terputus, dan mata pencaharian mereka langsung terancam.
Dengan demikian, menjaga kebersihan aliran sungai bukan sekadar wacana lingkungan. Bagi kedua KUB ini, sungai yang sehat adalah kebutuhan ekonomi yang nyata.
Kontribusi Tidak Langsung dari Peningkatan Kapasitas Ekonomi
Bantuan pemerintah kepada nelayan Medokan Ayu—mesin baru, paket perahu, pasokan bahan bakar resmi yang lebih murah—memperbaiki kondisi operasional mereka.
Perbaikan ekonomi ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan dan kemauan kelompok untuk terlibat dalam urusan lingkungan komunitas, misalnya kerja bakti atau melaporkan titik sumbatan.
Namun, belum ditemukan bukti bahwa kedua kelompok ini menjalankan aksi pembersihan sungai secara terorganisir.
Kontribusi mereka lebih bersifat hasil pasif dari menjaga wilayah operasi sendiri, bukan layanan publik yang aktif.
Karena itu, jangan menuntut nelayan menjadi pembersih sungai. Dukung mereka sebagai mitra pengawasan, sementara pemerintah menjalankan kewajibannya.
![]() |
| Ilustrasi |
Keterbatasan Nyata: Mata Pencaharian Individu Tidak Menggantikan Tata Kelola Sistemik
Persoalan utama Sungai Kebon Agung adalah tekanan sistem drainase kota dan pembuangan dari hulu, bukan sekadar sampah permukaan.
· Pendangkalan dan penyempitan serius: Lebar sungai pernah menyusut dari sekitar 30 meter menjadi 20 meter, menyebabkan genangan saat musim hujan.
· Pencemaran: Penelitian mendeteksi banyak partikel mikroplastik yang bersumber dari aktivitas industri dan perkotaan di sekitarnya.
· Aktor utama: Pengerukan dan normalisasi adalah kewenangan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya.
Jadi, peran nelayan dalam menjaga kebersihan lebih terbatas pada tidak membuang limbah ke sungai dan melaporkan titik sumbatan parah.
Mereka tidak mampu membalikkan pendangkalan secara makro. Namun, justru karena keterbatasan itulah dukungan publik dan pemerintah menjadi kunci.
Dukung Nelayan, Rawat Sungai, Lindungi Kota
Mendukung keberadaan nelayan Sungai Kebon Agung bukan berarti memberi mereka beban sebagai penjaga tunggal sungai.
Mendukung mereka berarti:
· Menuntut pengerukan dan normalisasi rutin oleh DSDABM Kota Surabaya.
· Menjaga hulu sungai dari pembuangan sampah dan limbah industri.
· Melaporkan titik sumbatan, pendangkalan, atau pencemaran.
· Menghargai hasil tangkapan dan jasa mereka, misalnya dengan membeli kepiting dari KUB “Sumber Rejeki” atau menggunakan jasa KUB “Karang Pinggiran”.
· Melibatkan mereka dalam musyawarah pengelolaan drainase dan lingkungan Medokan Ayu.
Kebangkitan nelayan Medokan Ayu adalah kesempatan. Jika sungai dirawat, mereka produktif.
Jika mereka produktif, sungai terpantau. Jika sungai terpantau, kota terlindungi dari banjir dan ekosistem mangrove tetap hidup.
Maka, dukunglah KUB “Sumber Rejeki” dan KUB “Karang Pinggiran”—bukan karena belas kasihan, tetapi karena kepentingan bersama: Sungai Kebon Agung yang bersih, aman, dan menghidupi warga Medokan Ayu.
Oleh : Priono Subardan

.jpg)