InfoMedokanAyu - Di sudut pemukiman padat Medokan Ayu, tepatnya di Medokan Kampung RW02, berdiri sebuah tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang: Musala Imaduddin—yang kini dikenal sebagai Masjid Imaduddin.
Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah: kapan rintisan Imaduddin masih berbentuk musala, dan kapan berubah menjadi masjid?
Tulisan ini berupaya menelusuri jejak awal Imaduddin sejak masih berupa musala kecil, jauh sebelum berbentuk masjid pada 1962.
Di sekitar tempat ibadah ini terdapat tiga entitas sejarah yang saling terkait erat namun berada di lokasi berbeda.
Di sisi utara, kurang dari seratus meter dari musala, terdapat Makam Pahlawan yang menjadi saksi perjuangan para ulama melawan agresi Belanda.
Sementara di sisi selatan, sekitar tiga ratus meter dari musala, terbentang Makam Islam RW02 yang menyimpan makam Sayyid Zein bin Abdullah Dzikrun beserta keluarganya—sosok yang berperan sentral dalam pendirian musala tersebut.
Ketiganya bagaikan kepingan puzzle yang jika dirangkai akan membentuk narasi panjang tentang perjuangan, keteguhan iman, dan kontinuitas kepemimpinan spiritual di kawasan Surabaya Timur.
Namun, dokumen tertulis yang utuh nyaris tidak tersedia. Tak ada angka tahun yang terukir pada nisan para pejuang. Tak ada prasasti yang memastikan kapan tepatnya musala kecil itu pertama kali berdiri.
Yang ada hanyalah jejak-jejak samar—sebuah makam bertahun 1889, kelahiran seorang cucu pada 1940, pengakuan resmi pemerintah pada 1997, dan tonggak penting tahun 1962 ketika musala berubah menjadi masjid yang dipugar oleh KH. Yusuf Manan.
Tulisan ini berupaya menelisik sejarah tersebut secara kritis, menyajikan fakta-fakta yang terverifikasi, analisis logis atas kekosongan data, serta refleksi tentang makna warisan sejarah ini bagi masyarakat Medokan Ayu dewasa ini.
Pada akhir abad ke-19, kawasan Medokan Ayu masih berupa hamparan sawah dan tambak. Pemukiman hanya terkonsentrasi di Medokan Kampung, yang kini dikenal sebagai RW02. Di kawasan ini terdapat dua kompleks makam yang hingga kini masih dihormati.
Makam Pahlawan terletak di sisi utara musala, kurang dari seratus meter jaraknya. Di kompleks inilah tiga ulama pejuang—KH. Asmadi, KH. Hardjo, dan KH. Kunawi—dimakamkan.
Bersambung bagian 2, klik ; "Menelusuri Jejak Awal Imaduddin: Kapan Masih Musala, Kapan Menjadi Masjid? (2)"
Oleh : Priono Subardan
Link terkait berita masjid Imaduddin, silahkan klik dibawah ini:


