InfoMedokanAyu - Yarno, nama yang singkat. Itu sesuai KTP-nya, yang tercatat lahir 30 Juni 1961, sosok yang tampak tidak pernah terlihat terburu-buru.
Setiap subuh, saat ayam-ayam di Medokan Ayu masih setengah sadar, ia sudah mendorong gerobak sampahnya menyusuri RT01 RW08.
Langkahnya pelan, matanya menunduk, dan sapaan "Pak Yarno, pagi!" dari warga sering kali hanya dibalas dengan anggukan samar.
Banyak yang menganggapnya dingin, bahkan cuek atas Pak Yarno yang belum genap setahun menarik gerobaknya dengan Honda.
Namun, di balik senyum yang jarang tersungging itu, ada sosok bershio Kerbau yang berjalan tenang dengan mata yang sangat jeli, menjalani tugasnya.
Suatu sore, hujan deras mengguyur. Pak Yarno yang kelahiran Tuban itu sedang berteduh di bawah emperan warung, melihat seorang ibu dan beberapa tetangga kebingungan di depan rumah.
Mereka baru saja memangkas ranting pepohonan. Tumpukan kayu dan daun basah itu menumpuk dekat tempat buang sampah depan rumah.
"Nanti saya panggil tukang sampah khusus," kata ibu itu sambil menggeser-geser tumpukan ranting.
![]() |
| Pak Yarno menjelang berangkat dinas, di rumahnya yang ukuran 5x9M |
Pak Yarno yang berputra 3 (satu lelaki, 2 perempuan) itu, muncul dari balik tiang warung.
Tanpa banyak bicara, ia memunguti satu per satu kayu ranting yang panjang, lalu mulai merapikannya.
Warga terkejut. "Pak Yarno, itu bukan sampah dapur, Pak. Nanti repot," kata salah satu dari mereka.
Dengan suara parau namun tenang, Pak Yarno menjawab, "Pokoknya kalau sudah diikat, pasti akan turut aku ambil, Bu."
Ibu itu buru-buru mencari tali tambang, tetapi Pak Yarno mengangkat tangannya. "Saya tidak bawa tali, Bu. Kalau saya yang harus mengikat, ya saya ikat dengan caranya saya."
Ia lalu menyusun ranting-ranting itu secara bersilangan, lalu mengaitkan ujung-ujungnya ke sekeliling bak sampah besar.
Ia membuat semacam sangkar kayu yang melingkari bak, sehingga sampah dapur yang basah tetap bisa masuk, sementara ranting-ranting kering menempel di luar tanpa jatuh. Kreatif, sederhana, dan efektif.
Sejak saat itu, warga mulai menyadari sesuatu. Mereka sering melihat Pak Yarno, yang mendukung kebersihan RT01 sejak sekitar 26 tahun silam berhenti lebih lama di depan rumah lansia yang kesulitan mengangkat kantong sampah.
Tanpa diminta, ia turun dari gerobak, mengangkat sendiri kantong-kantong itu, lalu melanjutkan perjalanan.
Ketika ada anak kecil yang menangis karena mainannya jatuh ke selokan sampah, Pak Yarno adalah orang pertama yang menyisir selokan dengan tangannya, tanpa ragu.
Matahari beranjak naik, dan Pak Yarno yang Istrinya dipanggil olehNYA lebih dulu, mendorong gerobaknya pelan. Di bawah terik, ia menyusuri jalanan yang sama setiap hari.
Ada yang tahu, Pak Yarno adalah warga RW02 jl. Medokan Sawah No. 161, seorang duda. Setiap pagi, ia disambut kantong plastik, kaleng bekas, dan dedaunan kering—yang setia menunggunya.
Suatu hari, warga RT01 RW08 mengadakan kerja bakti. Tanpa diminta, Pak Yarno datang. Bukan untuk menyapu atau memotong rumput, tapi ia berdiri di dekat tempat pembuangan sementara.
Ketika warga membawa karung-karung sampah, ia menata semuanya di atas gerobaknya dengan sangat rapi.
Bahkan ketika ada warga yang sibuk mengikat sampah kebun dengan tali tambang, Pak Yarno menghampiri.
"Pak, nanti kalau rantingnya sudah diikat, saya ambil" katanya
Warga itu terperangah. "Lho, Pak Yarno, ini bukan tugas bapak, ini kerja bakti bareng."
Pak Yarno tersenyum kecil—senyum yang jarang terlihat. "Saya ini kerjanya sampah, Pak. Kalau sampahnya sudah rapi, saya ikhlas ngambil."
Ia lalu menunduk kembali, mengikat plastik yang lepas, dan melanjutkan tugasnya tanpa suara.
Di sore itu, ketika gerobaknya penuh dan warga mulai pulang, seorang ibu tua mendekati Pak Yarno. "Pak, ini ada sedikit rejeki buat bapak." Diberikan amplop itu.
Pak Yarno matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu. Saya sudah biasa."
"Kami baru sadar, bapak ini orang yang paling peduli di kampung ini, cuma diam saja."
Sejak sekitar tahun 2009, ia ditugasi mengangkut sampah dapur. Namun, ia mengangkut lebih dari itu.
Ia mengangkut ranting, puing, dan kelelahan warga. Dan dengan caranya yang sunyi, ia membuat beban-beban itu menjadi ringan.
Di sudut jalan, Pak Yarno akhirnya meneguk air minum bekal yang dibawa. Segarnya menyebar di dadanya.
Kini ada sekitar 125 warga RT01 selalu menunggu kehadiran nya—Risiko bila pak Yarno tidak bisa hadir. Sampah bakal bertumpuk.
"Kebaikan yang paling tulus adalah yang tidak butuh balasan, bahkan tak butuh dilihat." Itulah Pak Yarno.
Kini jadwal pengambilan sampah bergeser. Truk pengangkut sampah mulai datang jam 14.00 dan pada jam itu, petugas mulai diijinkan bongkar muatan di baknya.
Makanya, sering kali malam hari pun "jam dinasnya" berlaku. Ini mengingat truk masuk depo 3 kali, sejak jam 14.00.
Pengambilan awal sampah yang terbungkus. Pengambilan sampah lain, pada jam selanjutnya. Kadang jam 23.00.
Pak Yarno memiliki 3 gerobak sampah. Ini sekaligus cadangan. Sekaligus untuk aktivitas membersihkan sampah di RT03, RW yang sama RW08.
Petugas sampah ini, juga Satpam di RW02. Malah sebagai Satpam di RW02 Medokan Asri Tengah ini lebih dahulu, ketika warga disana masih 8 KK.
- Redaksi

