Minggu, 05 Juli 2026

Menekan Populasi Kucing: Pendekatan Gabungan Pasif dan Aktif adalah Solusi Paling Ideal

Ilustrasi menekan populasi kucing dengan dua pendekatan. Aktif dan pasif.

Oleh: Priono Subardan - Pemerhati Masalah Hewan

InfoMedokanAyu - Populasi kucing, terutama kucing liar, telah menjadi perhatian serius di berbagai daerah.

Kegelisahan warga terhadap keberadaan kucing tak bertuan yang berkeliaran bukan tanpa alasan, mengingat dampaknya terhadap kesehatan dan kenyamanan lingkungan. 

Namun, solusi yang ditawarkan tidak boleh sekadar represif, melainkan harus humanis dan berkelanjutan.

Berdasarkan pengamatan dan praktik di lapangan, kebijakan yang paling ideal untuk menekan populasi kucing adalah gabungan antara pendekatan pasif dan pendekatan aktif. Bukan memilih salah satu secara eksklusif. 

Kombinasi ini terbukti lebih efektif, menjangkau lebih banyak sasaran, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesejahteraan hewan.

Pemerintah, dalam hal ini, dituntut untuk berperan ganda: menyediakan fasilitas publik yang mudah diakses sekaligus terjun langsung ke lapangan. 

Urgensi kebijakan ini pernah diulas dalam tulisan berjudul "Warga Resah Kucing Tak Bertuan Berkeliaran, Ini Ancaman Kesehatan dan Solusi Humanis yang Ditawarkan", yang dimuat oleh InfoMedokanAyu.blogspot.com pada 5 Juli 2026.

Berikut adalah perbandingan kedua pendekatan berdasarkan implementasi di sejumlah kota.

Pendekatan Pasif (Menunggu Warga Membawa Kucing)

· Bentuk Kebijakan: Pemerintah membuka pendaftaran dan menyediakan layanan sterilisasi gratis atau bersubsidi di pusat kesehatan hewan (Puskeswan) pada periode tertentu.

· Keunggulan: Memberikan kemudahan akses dan meringankan biaya bagi pemilik kucing peliharaan.

Hal ini mendorong partisipasi aktif warga dalam mengendalikan populasi hewan peliharaannya.

· Kelemahan: Kurang efektif untuk menangani kucing liar. Hewan ini tidak memiliki pemilik yang secara sukarela akan membawanya ke klinik.

Kota Surabaya telah menjalankan pendekatan ini secara terjadwal, dan menjadi salah satu contoh layanan publik yang patut diapresiasi.

PENDEKATAN AKTIF (Pemerintah Menjangkau Lapangan)

· Bentuk Kebijakan: Menggunakan metode Trap-Neuter-Return (TNR), di mana tim gabungan yang terdiri atas dokter hewan, komunitas pecinta hewan, dan relawan menangkap, mensterilkan, lalu mengembalikan kucing liar ke habitat asalnya.

· Keunggulan: Ini merupakan solusi paling efektif dan manusiawi untuk menangani populasi kucing liar secara langsung. 

Pelaksanaannya dapat didasarkan pada laporan warga atau penjangkauan rutin ke pasar dan permukiman padat.

· Kelemahan: Membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks serta keterlibatan berbagai pihak, sehingga menuntut sumber daya dan perencanaan yang matang.

SURABAYA BERGERAK AKTIF
Pemerintah Kota Surabaya telah menunjukkan komitmennya melalui program TNR yang terstruktur dan kolaboratif.

Meskipun begitu, program ini masih tergolong baru dan kapasitasnya terbatas. 

Oleh karena itu, kesan "kurang" kerap muncul jika dibandingkan dengan konsistensi komunitas swasta atau kota lain yang memiliki program lebih masif. 

Namun, langkah ini tetaplah kemajuan positif yang patut didukung, dan ke depan diharapkan kuota serta frekuensi kegiatannya dapat ditingkatkan.

PENDEKATAN GABUNGAN: Praktik Terbaik Terbukti Berhasil

Perpaduan antara pendekatan pasif dan aktif bukanlah sekadar teori.

Praktik terbaik ini telah berhasil diterapkan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta. 

Pada tahun 2025, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan sterilisasi hingga 21.000 ekor kucing melalui strategi berikut:

1. Menyediakan layanan sterilisasi gratis di puskeswan.

2. Melakukan penjangkauan aktif dengan metode TNR di lokasi-lokasi rawan kucing liar.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan penuh dari pemerintah daerah, komunitas pencinta hewan, dan para dokter hewan.

Sinergi ketiga pilar inilah yang menjadi kunci utama.

 "Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui kanal-kanal resmi pemerintah daerah atau komunitas pegiat hewan setempat."

BILA HARUS MEMILIH, Mana yang Lebih Prioritas?

Jika dipaksa untuk memilih di antara keduanya, pendekatan aktif (TNR) memiliki urgensi yang lebih tinggi dalam menekan populasi secara signifikan, dengan alasan:

· Kucing liar merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan populasi.

· Tanpa penangkapan dan sterilisasi langsung, program pasif hanya akan menjangkau sebagian kecil populasi (terutama kucing peliharaan).

Namun perlu diingat, program TNR tanpa didukung fasilitas sterilisasi gratis untuk warga akan berjalan lambat, karena kapasitas tim di lapangan terbatas.

Sebaliknya, layanan gratis tanpa jangkauan aktif hanya akan menyelesaikan separuh masalah.

Inti dari kebijakan yang ideal adalah keseimbangan: Pemerintah harus menyediakan fasilitas yang mudah diakses, sekaligus hadir secara langsung di tengah masyarakat. 

Satu tanpa yang lain tidak akan menghasilkan dampak maksimal. 

Hanya dengan pendekatan gabungan yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan, kita dapat mengelola populasi kucing secara manusiawi dan efektif demi kesehatan serta kenyamanan bersama.