Tampilkan postingan dengan label Kriminalitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kriminalitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2026

Fenomena Raibnya Fasilitas Kota: Korelasi antara Maraknya Pencurian Logam (Rayap Besi) dan Lemahnya Kesadaran Internal Masyarakat


InfoMedokanAyu - Raibnya fasilitas kota seperti pagar, tiang listrik, dan kursi taman umumnya bukan karena penyederhanaan, melainkan karena pencurian logam oleh "rayap besi". 

Fenomena ini sering mewarnai pemberitaan, bahwa hal itu merugikan dan mengurangi kenyamanan warga secara umum. Hal itu bisa terjadi di sekitar kita.

Makna di balik peristiwa ini lebih dalam dari sekadar hilangnya benda:

· Kerugian Finansial & Sosial: Fasilitas dibangun dari uang pajak. 

Hilangnya kursi taman membuat warga kehilangan tempat istirahat.

Raibnya tiang lampu meningkatkan risiko kecelakaan dan kejahatan. 

Pemerintah juga harus menguras anggaran untuk perbaikan yang seharusnya bisa dialokasikan ke pembangunan lain.

· Krisis Kesadaran Kolektif: Hal ini mengindikasikan masih ada sebagian masyarakat yang memandang fasilitas umum sebagai "milik pemerintah", sehingga merasa tidak merugikan saat mengambilnya. 

Wakil Walikota Surabaya Armudji ketika melihat pagar, tiang lampu plus lampu yang raib.

Hal itu, menunjukkan kurangnya rasa kepemilikan bersama atas ruang publik.

· Maraknya "Rayap Besi": Istilah ini merujuk pada pelaku pencurian yang mengincar logam besi atau tembaga untuk dijual sebagai barang rongsokan karena nilai ekonomisnya. 

Aksi ini marak terjadi di berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Tasikmalaya, dan Pekanbaru .

Sebagai langkah antisipasi, beberapa pemerintah kota mulai mengganti material besi dengan bahan yang nilai jualnya lebih rendah dan memasang CCTV di titik rawan .

Pagar oleh Pemerintah Kota yang raib

Kesadaran Internal plus Kondisi Ekonomi

Kesadaran internal rendah, ditekan lagi oleh kondisi ekonomi. Tak dipungkiri, keduanya saling berkaitan erat, tapi inti masalahnya tetap pada kesadaran internal yang rendah.

· Kondisi Ekonomi sebagai "Pemicu" (Faktor Eksternal): Harga besi dan tembaga yang tinggi di pasar rongsokan jelas jadi daya tarik. 

Dalam situasi ekonomi sulit, menjual besi curian jadi cara instan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Namun, persoalan ekonomi bukan pembenar. Banyak orang dalam kesulitan tetap memilih bekerja halal, bukan mencuri.

· Kesadaran Internal sebagai "Akar" (Faktor Utama): Ini yang lebih dominan. Seseorang mengambil fasilitas umum karena:

  · Menganggapnya "milik tidak bertuan" (pemerintah punya, bukan "milik pribadi").

  · Merasa tidak melihat dampaknya (kursi hilang, mereka tidak merasakan langsung rugi).

  · Normalisasi pelanggaran ("orang lain juga ambil, kok").

Pesan Utama
Ekonomi sulit mempercepat dan memperbanyak aksi, tetapi jika kesadaran internalnya kuat, setinggi apa pun harga besi, fasilitas kota akan tetap aman. 

Jadi, solusi jangka pendeknya perkuat pengamanan, tapi solusi jangka panjangnya tumbuhkan rasa memiliki dan malu terhadap tindakan merusak fasilitas bersama.

Oleh : Priono Subardan