InfoMedokanAyu - Meskipun ular piton (sanca batik) berulang kali muncul di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, masyarakat setempat tidak panik. Mereka memahami bahwa ular ini tidak akan menyerang manusia kecuali diganggu.
Pun demikian bila ada peristiwa ulang, yang perlu digaris bawahi "Bukan Panik, Tepat Lapor: Rahasia Warga Medokan Ayu Menghadapi Ular Piton"
Sebagaimana peristiwa pernah terjadi, dan ada warga setempat yang digigit ular piton. Berita itu dirilis dengan judul "Waspada Tanpa Panik: Menyikapi Kemunculan Ular Piton di Sekitar Kita"
Bahkan, di Pulau Jawa belum pernah tercatat manusia menjadi korban fatal akibat serangan ular piton.
Kondisi ini tidak terlepas dari kombinasi tiga faktor utama: sistem penanganan profesional yang terstruktur, kesadaran masyarakat yang tinggi, serta faktor biologis ular itu sendiri.
Saat dievakuasi, ular piton umumnya ditemukan dalam keadaan perut kenyang, berisi hewan peliharaan seperti ayam.
Sistem Penanganan Satwa Liar yang Terintegrasi
Surabaya memiliki sistem Emergency Handling for Wildlife yang terintegrasi.
Damkar bertindak sebagai eksekutor cepat, sementara edukasi yang berkelanjutan membuat warga tidak panik dan tidak main hakim sendiri.
Hal ini berbeda dengan daerah terpencil di luar Jawa. Akses ke layanan darurat sulit, sehingga konflik antara manusia dan ular kerap berakhir tragis.
Berikut adalah penyebab utama mengapa Surabaya aman dari serangan hewan liar:
Garda Terdepan: Pasukan Damkar Super Cepat
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya bertindak layaknya layanan darurat 24 jam untuk satwa liar.
· Kecepatan respons ekstrem: Dalam satu kejadian, laporan ular di Rungkut diterima pukul 00.45 WIB, dan petugas tiba hanya 6 menit kemudian.
Evakuasi ular di Manyar hanya memakan waktu 7 menit dari laporan. Kecepatan ini mencegah potensi konflik berkepanjangan antara warga dan ular.
· Nomor darurat khusus: Warga cukup menghubungi Call Center 112 tanpa perlu mencari nomor instansi lain.
· Kesiapan penuh: Petugas selalu siang dan malam, siap menangani ular yang bersembunyi di mesin mobil maupun kandang ayam.
Jaring Pengaman: Kolaborasi Lintas Instansi
Penanganan ular di Surabaya tidak dilakukan sendiri oleh Damkar. Ada sistem ekosistem yang solid:
· Koordinasi rutin: Pemerintah kota secara resmi menggandeng Balai Besar KSDA Jawa Timur, BPBD, Satpol PP, hingga dokter hewan dari Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk membahas strategi penanganan satwa liar.
· Standar operasi (SOP): Ada mekanisme baku mulai dari evakuasi oleh Damkar, penyerahan resmi ke KSDA, hingga pelepasliaran ke habitat aman.
Kedewasaan Masyarakat: Tidak Bertindak Ceroboh
Masyarakat Surabaya, termasuk Medokan Ayu dan Rungkut, telah memahami bahwa melawan piton sendiri sangat berbahaya.
· Sadar bahaya: Warga tahu bahwa piton sepanjang 3 meter tidak bisa ditangkap oleh satu orang, bahkan oleh pegiat reptil sekalipun.
· Lapor, bukan lawan: Alih-alih memancing ular, warga segera mengisolasi area dan menghubungi Damkar.
Berdasarkan berbagai referensi, piton sebenarnya tidak menjadikan manusia sebagai target mangsa utama. Jika dibiarkan dan tidak diganggu, piton cenderung tidak akan menyerang.
Faktor Ekstra: "Selera Makan" Ular Piton
Dari sisi alamiah, piton yang dievakuasi Damkar umumnya masih dalam keadaan kenyang.
· Prioritas hewan peliharaan: Mayoritas laporan menyebut piton sedang memangsa ayam atau bersarang di tumpukan sampah.
· Butuh waktu lama: Piton memerlukan waktu sekitar satu bulan untuk mencerna mangsa besar.
Saat ditemukan Damkar, piton cenderung dalam kondisi perut buncit, energi terkuras untuk mencerna, sehingga ia tidak agresif terhadap manusia di sekitarnya.
HANYA DI LUAR JAWA DITEMUKAN KORBAN FATAL
Menelusuri data yang tersedia, tidak ditemukan kasus korban jiwa akibat serangan ular piton di Pulau Jawa.
Publikasi mengenai insiden dengan korban luka parah (misalnya gigitan) di Tuban dan Pekalongan memang tercatat, namun kasus fatal yang dilaporkan semuanya terjadi di luar Jawa.
Kasus fatal yang tercatat di Indonesia umumnya menimpa transmigran asal Jawa di luar Pulau Jawa:
· Rasmin (63 tahun), asal Jawa Tengah – Dimangsa ular piton sepanjang 7 meter di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (2023). Saat ditemukan, kepala korban sudah hampir tertelan.
· Akbar (25 tahun) – Ditemukan tewas di dalam perut ular piton 7 meter di Mamuju, Sulawesi Barat (2017).
· Odjo Buka (transmigran asal Jawa) – Ditelan ular piton 6 meter di Sulawesi Tengah (1978). Jenazahnya ditemukan utuh di dalam perut ular yang dibelah warga.
· La Dusu (52 tahun) & Nurdin (57 tahun) – Meninggal akibat lilitan ular piton di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (2025).
Kesimpulan:
Dengan sistem penanganan yang cepat, kolaborasi lintas instansi, kesadaran masyarakat yang matang, serta karakteristik alami ular piton yang tidak agresif terhadap manusia, wilayah Surabaya—termasuk Medokan Ayu—terbukti aman.
Kuncinya: tidak panik, tidak mengganggu, dan segera melapor ke pihak berwenang call center 112. (red)
