InfoMedokanAyu - Di lingkungan pemukiman, selokan yang tidak terawat dapat menjadi sumber berbagai masalah kesehatan dan lingkungan. Kewaspadaan dini sangat penting.
Demikian pengamatan langsung di sejumlah kawasan di Medokan Ayu pada Sabtu 16 Mei 2026, antara pukul 08.00-10.00 WIB atas dampak hujan lebat semalam Jumat 15 Mei antara Pukul 21.00- 23.00WIB dan ditambah hujan susulan pada dini hari sekitar 02.30 WIB.
Beberapa rumah di Kawasan RW08 masih ada genangan air, yang nyerobot masuk rumah melalui saluran buangan kamar mandi.
Di RW11 beberapa gang masih terdapat genangan Air hujan. Begitupun beberapa lokasi di RW02.
Bahkan ada ujung selatan sisi Timur, lokasi memancing tak terlihat. Terendam air, yang pagi itu air laut naik. Ketinggian air dari paving jalan mencapai setinggi 60Cm.
Seputar kawasan Mushola An Nur RT09 RW02. Video oleh Henry Eka Wardhana - Ketua RT09 RW02.
Tiga indikator awal kondisi selokan yang dimaksudkan perlu diwaspadai:
1. Air mengalir sangat lambat atau tergenang
2. Nyamuk atau kecoa terlihat jelas
3. Bau menyengat atau tikus berkeliaran
Rujukan sederhana:
· 1 indikator → tingkat waspada, segera bersihkan sebelum bertambah parah.
· 2 indikator atau lebih → kondisi kritis, bukan sekadar perlu normalisasi, melainkan harus dikeruk total.
.jpg) |
Hujan sekejap aja banjir sudah mengitari Mushola An Nur RT09 RW02. Apalagi hujan semalam yang relatif lama. Foto oleh Henry Eka Wardhana ketua RT09.
|
Deteksi Dini Berdasarkan Jenis Hewan
1. Nyamuk → Risiko Tinggi (Kesehatan)
· Culex (aktif malam) → Air tergenang kotor + ada jentik di permukaan.
· Mansonia/Anopheles (pagi/sore) → Selokan kotor dengan vegetasi atau genangan dangkal.
· Catatan: Aedes aegypti lebih suka air bersih di dalam rumah, bukan indikator utama selokan kotor.
Kesimpulan: Nyamuk di selokan = indikasi genangan kotor yang sudah menjadi habitat.
2. Kecoa & Lalat → Risiko Tinggi (Sanitasi)
· Lalat hijau → Indikasi tinja atau bangkai.
· Kecoa Amerika → Indikasi limbah dapur, fermentasi, dan sisa makanan.
· Catatan: Air sabun tidak menarik kecoa. Yang menarik adalah sisa makanan + kelembapan.
Kesimpulan: Kehadiran lalat hijau & kecoa Amerika = risiko sanitasi tinggi.
3. Tikus → Risiko Sedang (Struktur & Sanitasi)
· Tikus keluar-masuk lubang selokan (aktif malam, bisa siang jika populasi padat).
· Pertanda: Endapan lumpur kering + sampah organik jadi sarang.
· Lubang di dinding selokan berisiko merusak struktur.
Kesimpulan: Tikus + lubang = perlu pengurasan endapan segera.
4. Biawak → Risiko Sedang (Struktur & Sanitasi)
· Biawak mondar-mandir di selokan, menggali atau mengais sampah.
· Pertanda: Ada bangkai hewan (tikus, ayam) atau sisa makanan membusuk.
· Selokan terhubung ke sungai atau area alami yang tidak terawat.
Kesimpulan: Biawak = indikator ekosistem tidak sehat + aliran tidak normal.
5. Ular → Risiko Sedang (Rantai Ekosistem)
· Biasanya ular air atau ular tikus (bukan weling).
· Pertanda: Tikus/katak berlimpah + vegetasi tepi tidak terawat.
Kesimpulan: Ular kecil = indikator rantai makanan tidak seimbang.
6. Katak → Risiko Rendah, tapi Berpotensi Bahaya
· Bersuara ramai atau ada telur (buih) di genangan air.
· Pertanda: Air tergenang >3 hari, belum tercemar deterjen/minyak berat.
· Catatan: Katak bisa bertelur di air keruh asal tidak beracun.
Kesimpulan: Katak sendiri tidak berbahaya, tetapi genangan yang ditinggali akan menarik nyamuk berikutnya.
.jpg) |
| Salah satu sudut banjir di Medokan Sawah Timur. Foto oleh Supangin - ketua RW01 Medokan Sawah. |
Pesan Utama
Jangan tunggu sampai dua indikator muncul. Satu indikator saja sudah cukup untuk mulai bertindak. Jika sudah dua indikator atau lebih, selokan dalam kondisi kritis dan harus dikeruk total.
Selokan yang sehat adalah benteng pertama pemukiman dari wabah dan kerusakan lingkungan.
Tanggung Jawab Bersama, Porsi Berbeda
Kebersihan selokan di lingkungan pemukiman pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama antara warga dan pemerintah setempat (RT/RW, kelurahan/desa, atau dinas terkait), dengan porsi yang berbeda:
1. Warga/pemukim
Bertanggung jawab menjaga selokan di depan atau di sekitar rumahnya masing-masing, terutama dalam hal tidak membuang sampah, lumpur, atau limbah ke selokan.
Warga juga sebaiknya rutin membersihkan sedimen ringan agar aliran air lancar.
2. Pengurus lingkungan (RT/RW)
Bertugas mengoordinasikan kerja bakti berkala untuk membersihkan selokan bersama warga, serta memfasilitasi jika ada selokan yang tersumbat akibat sampah atau endapan berat.
Kerja bakti bisa menghadirkan pekerja khusus yang berbayar jika diperlukan.
3. Pemerintah daerah (dinas kebersihan/pekerjaan umum)
Bertanggung jawab atas selokan utama atau drainase besar yang berada di sepanjang jalan lingkungan/kelurahan, termasuk pengerukan lumpur secara berkala dengan peralatan besar serta perbaikan saluran yang rusak.
Kesadaran dan gotong royong menjadi kunci kebersihan selokan yang berkelanjutan. (red)