Kamis, 16 April 2026

Ketika Bangau "Beralih Profesi" Menjadi Pemburu Ikan Hias di Kolam Warga Medokan Ayu

Dengan kolam berpengaman kawat ayam, si kecil pun saban hari bisa bertemu ikan hiasnya dan memberikan makan sang ikan.

InfoMedokanAyu - Kolam hias, kolam dekoratif, atau water feature—seperti kolam taman yang dilengkapi air mancur—di kawasan Medokan Ayu ternyata kini membutuhkan perlindungan ekstra. Pasalnya, keindahan kolam tersebut kerap terganggu oleh predator alami: bangau. Tanpa pengaman, ikan-ikan hias di dalamnya berisiko habis disantap burung pemakan ikan ini.

Penemuan Tak Sengaja
Warga RW 08 Medokan Asri Utara mendapati bahwa pelaku di balik lenyapnya ikan dari dua kolam hias di lingkungan mereka adalah bangau. Lokasi kolam berada di salah satu rumah pojok dengan luas lebih dari 200 meter persegi.

Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja. Setelah berkali-kali menebar ulang ikan hias karena terus menghilang, warga akhirnya melihat langsung aksi bangau yang menceburkan diri ke kolam dan menyantap ikan tersebut. 

Sebagai langkah antisipasi, warga pun memasang kawat ayam di sekitar kolam untuk mengamankan ikan dari serangan bangau.


Konfirmasi Ketua RW
Ketua RW 08 Medokan Asri Utara, Dodik Widodo, membenarkan kejadian tersebut. Saat diberi informasi mengenai temuan bangau di wilayahnya, beliau mengaku kerap melihat seekor bangau dengan bulu hitam putih—meski tidak mengetahui nama spesiesnya—berada di sekitar rumahnya.

"Bahkan si blekok (sebutan bangau dalam bahasa Jawa) dengan warna itu sering datang ke rumah saya juga. Tapi bukan untuk mengambil ikan, kebetulan saya tidak punya kolam hias," ujar Dodik sambil tersenyum.

Menurutnya, burung tersebut lebih sering terlihat bertengger di saluran drainase depan rumahnya. "Drainase di depan rumah saya cukup bersih. Ikan sekecil apa pun yang berenang di sana terlihat jelas, dan bangau itu kadang turun untuk mengambil ikan," jelasnya.

Alih-alih mengusir, Dodik justru berusaha tidak mengejutkan burung tersebut. "Saat melihat bangau di depan rumah, saya berusaha agar dia kerasan. Dia tidak lari meskipun mobil saya datang. Tapi dia tidak datang setiap hari—saya tidak tahu jadwal  kunjungannya ke rumah saya diatur setiap hari atau tidak," katanya sambil tertawa.

Kawat pengaman lebih tampak

Burung pun Bersaing 
Kemunculan burung tambak seperti bangau di permukiman sebenarnya wajar. Kawasan Medokan Ayu dahulu merupakan areal tambak yang luas. Namun kini, bangau justru kesulitan mencari makan karena perubahan fungsi lahan yang besar-besaran.

Di Pantai Timur Surabaya, termasuk Medokan Ayu, terjadi perubahan signifikan dari lahan basah tambak menjadi pemukiman padat. Kondisi ini sangat memengaruhi struktur komunitas burung air. Beberapa perubahan yang terjadi antara lain:
· Tambak tidak produktif: Sejak 2017, banyak lahan tambak di Medokan Ayu ditetapkan sebagai kawasan konservasi sehingga tidak bisa dikelola optimal untuk bisnis perikanan. Akibatnya, banyak tambak dibiarkan kosong atau hanya berisi ikan kecil karena tidak terawat.

· Beralih fungsi jadi pemukiman: Lahan tambak kini banyak berubah menjadi kawasan perumahan dan fasilitas umum. Saat kolam atau rawa berubah menjadi bangunan, habitat alami bangau otomatis hilang.

· Persaingan lebih ketat: Studi pada 2012–2013 di Medokan Ayu Tambak mencatat ada 10 spesies burung air yang hidup berdampingan. Dengan semakin sempitnya lahan basah, persaingan antarburung untuk mencari ikan pun pasti lebih sengit.


Alih Profesi: ke Kolam Rumah
Karena sumber makanan alami di tambak semakin sulit didapat, bangau pun "beralih profesi" mencari mangsa di lingkungan pemukiman warga. 

Kolam ikan hias atau kolam lele di belakang rumah menjadi semacam "restoran darurat" yang mudah dijangkau.

Menjaga Keseimbangan, Bukan Mengusir
Meskipun kehadiran bangau bisa dianggap mengganggu saat mengambil ikan dari kolam pemukiman, sebenarnya burung ini "bekerja gratis" menjaga keseimbangan alam. 

Bangau memiliki banyak manfaat ekologis dan ekonomis bagi manusia, antara lain:

Pengendali hama alami – Bangau memangsa ikan-ikan kecil, serangga air, kodok, hingga tikus sawah. Di area persawahan, kehadirannya membantu mengurangi hama tanpa pestisida kimia.

Indikator kesehatan lingkungan – Bangau hanya hidup di ekosistem perairan yang bersih dan kaya mangsa. Populasi yang menurun bisa menjadi pertanda pencemaran air atau kerusakan habitat.


Menjaga keseimbangan rantai makanan – Dengan memakan ikan kecil atau lemah, bangau mencegah ledakan populasi ikan yang bisa merusak ekosistem.

Nilai ekonomi dan wisata – Di beberapa daerah, bangau menjadi daya tarik ekowisata, fotografi, dan budaya lokal.

Pupuk alami – Kotoran bangau (guano) yang kaya nitrogen dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dalam skala terbatas.

PARA BOCAH HERAN DAB SENANG
Dengan adanya bangau itu membuat heboh sebagian bocah yang heran sekaligus senang melihatnya di kabel listrik:

"Wah, lihat tuh, bangau! Kok bisa ya dia duduk di kabeh listrik sendirian, gak jatuh? Keren banget, kayak lagi naik tali sirkus!"

"Asyik, ada bangau! Tapi heran, sendiri gitu di kabel, teman-temannya mana ya? Hebat juga sih, seimbang banget, aku jadi senang lihatnya!"

Ada pula yang memberi saran kepada si bangau :
"Hah? Bangau? Di kabel listrik? Kok gak kesetrum? ... Tapi bagus banget liatnya, kayak patung hidup, aku jadi seneng!"

"Wah, keren! Bangaunya sendirian kayak lagi joget di atas tali. Heran aku, kok dia bisa diam gitu ya? Awas jatuh lho, eh tapi dia hebat!", komentar teman yang lain

"Huwaa, ada bangau putih! Kok cuma satu sih? Sedih ya sendirian ... eh tapi lucu juga dia kayak lagi pura-pura jadi tukang listrik. Aku jadi gemas!"

Ada pula yang malah memanggil Sang Mama:
"Wah, lihat tuh! Bangau nangkring di kabel kayak bebek di pagar. Heran, kok kabelnya gak melendot? Seneng deh, jadi pengen gambar!"

"Lho, kok bangau bisa ya? Aku kira cuma burung gereja. Keren banget, sendiri pula. Kayak lagi konser sendirian. Asyik banget lihatnya!"

Ungkapan bocah itu makin menarik untuk disimak, di antaranya malah mengira ayam aneh, lalu heran dan senang setelah menyadari itu bangau:

"Lho, kok ada ayam putih kurus banget di kabel? Aneh banget, ayam kok bisa terbang dan duduk di kabel? ... Eh, bukan ayam, itu bangau! Wah keren, aku seneng lihatnya!"

"Ma, lihat tuh! Ayam apaan sih kakinya panjang kayak stik? Kok di kabel listrik? Heran, ayam kok gak jatuh? ... Ooh itu bangau, bukan ayam. Bagus banget, jadi suka!"

"Hah? Ayam aneh warnanya putih hitam, lehernya panjang lagi. Kok bisa sih naik kabel? Ayam mah di kandang ... Eh, ternyata bangau! Asyik, baru pertama kali liat!"

"Weh, ada ayam kesasar! ... Eh bentar, ayam kok di kabel? Ayam kok sendirian? Aneh banget, kayaknya bukan ayam deh. Ih, itu bangau! Seneng aku, jadi pingin kasih makan ikan!"

"Maafkan aku, aku kira tadi ayam kampung aneh yang bisa terbang. Ternyata bangau, hebat banget dia seimbang di kabel sendiri. Keren, aku jadi heran sekaligus senang!"


Kesimpulan
Jika ingin kolam tetap aman, cukup lindungi dengan jaring atau tanaman air, bukan dengan mengusir atau membunuh bangau. 

Dengan cara itu, kita tetap bisa menikmati manfaat ekologis dari kehadiran bangau tanpa dirugikan. (red)