HALALBIHALAL kerap identik dengan maaf-maafan, makan bersama, dan sayangnya, juga membuahkan gunungan sampah. Tapi tidak di RW05 Medokan Asri Barat.
Sebagaimana berlangsung sore tadi (11/4), acara silaturahmi pasca-Ramadan ini disajikan dengan konsep nol sampah yang telah menjadi budaya, bukan sekadar gimmick.
Perlu diketahui, RW05 merupakan salah satu RW berprestasi di lingkungan Medokan Ayu.
Seperti dirilis InfoMedokanAyu pada 16 Agustus 2024 dalam artikel "RW05 Medokan Ayu Terima Penghargaan ProKlim Utama Tingkat Nasional", capaian ini membuktikan konsistensi dalam pengelolaan lingkungan.
Dalam acara halalbihalal sore itu, RW05 menyajikan menu lontong kikil, lontong sate, hingga lontong cap gomek yang inklusif secara budaya.
Menu itu masih ditambahkan aneka snack dan minuman segar seperti es kuwut serta buah jeruk bali. Warga menikmati kebersamaan tanpa meninggalkan kotoran.
Lebih istimewa lagi, seluruh biaya ditanggung dari kas RT dan RW, tanpa iuran warga.
Itulah halalbihalal yang bersih dari awal hingga akhir: bersih hati, bersih lingkungan, dan bersih dari beban ekonomi.
Lebih dari Sekadar Acara Tahunan
Halalbihalal di RW05 Medokan Asri Barat bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah pernyataan budaya, komitmen lingkungan, dan model kepemimpinan yang melayani.
Setiap menu yang dihadirkan—lontong kikil, lontong sate, hingga lontong cap gomek yang merepresentasikan toleransi budaya Tionghoa—bukan pilihan acak.
Semua adalah makanan lokal, merakyat, dan sarat identitas Surabaya.
Snack risol mayo, roti sus eclaire, roti cokelat, serta minuman air putih, teh, kopi, dan es kuwut melengkapi sajian.
Menu spesial buah jeruk bali menjadi penutup yang segar.
Dari semua kegiatah yang paling membedakan adalah prinsip nol sampah yang selalu diterapkan. Bukan sekali, tapi rutin.
Itu sebuah komitmen. Artinya, warga RW05 telah membangun sistem: takaran pas, wadah ramah lingkungan, dan kesadaran kolektif bahwa acara ramai tidak boleh meninggalkan residu.
Sumber dana dari RT dan RW sendiri menegaskan kemandirian. Tidak ada iuran khusus, tidak ada warga yang merasa terbebani.
Pengurus RT/RW mengelola kas dengan baik, lalu mengembalikannya untuk kemaslahatan bersama.
Hasilnya? Sebuah halalbihalal yang benar-benar bersih: hati dibersihkan dengan saling memaafkan, lingkungan bersih tanpa sampah, dan hubungan sosial bersih dari utang-piutang biaya acara.
RW05 membuktikan bahwa kebersamaan yang sederhana, lokal, dan mandiri justru paling kaya makna.
Niat Baik, Hasil Luar Biasa
RW05 Medokan Asri Barat dalam berhalalbihalal secara tak langsung mengajarkan satu hal: acara tidak perlu mewah, tidak perlu menyisakan sampah, dan tidak perlu merepotkan warga.
Adalah cukup niat baik, menu lokal, dana sehat, dan komitmen pada kebersihan.
Itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan maaf dan kebersamaan.(red)



