Sabtu, 28 Februari 2026

Perdebatan Chat atau Telepon

Ilustrasi Coppilot

TAk DAPAT DIHINDARI, perdebatan antara chat dan telepon sering menguat di pikiran siapapun. Ada analisis menganggap chat sering lebih bernilai dan telepon bisa terasa merepotkan, terutama dari sudut pandang penerima yang sibuk.

Demikian kesimpulan yang dapat dituliskan setelah melewati beberapa pertemuan informal bersama warga di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.

Dalam pertemuan itu, beberapa warga menerima telepon namun diabaikan. Merasa terganggu atau alasan lain.

Dalampada itu, Chat dianggap lebih bernilai antara lain dipengaruhi :

Asinkronus (Tidak Perlu Respons Langsung):

Ini adalah keunggulan utama chat. Pengirim bisa menyampaikan pesan tanpa perlu penerima merespons saat itu juga.

Penerima memiliki kendali penuh untuk membaca dan membalas di waktu luangnya, setelah menyelesaikan rapat, tugas, atau saat sedang tidak fokus pada hal lain.

Telepon bersifat sinkronus dan memaksa terjadinya interaksi langsung, yang bisa menginterupsi aliran kerja atau waktu istirahat.

Tinggalkan Jejak Digital (Catatan Otomatis):

Chat secara otomatis mendokumentasikan seluruh percakapan. Ini sangat berharga untuk informasi penting seperti detail pesanan, alamat, nomor resi, atau instruksi tugas. 

Pengguna bisa dengan mudah mencari dan menelusuri kembali informasi tersebut kapan saja tanpa harus mengingat-ingat atau mencatat ulang. 

Dengan telepon, informasi hanya mengandalkan ingatan atau kewajiban untuk mencatat manual, yang rawan salah atau hilang.

Kurangi Beban Kognitif dan Gangguan:

Mendapatkan notifikasi chat terasa kurang "mengganggu" dibandingkan dering telepon yang membutuhkan perhatian segera. 

Chat memungkinkan seseorang untuk tetap fokus pada pekerjaan utama dan memproses informasi masuk secara berkelompok di waktu-waktu tertentu.

Telepon yang tiba-tiba bisa memecah konsentrasi secara paksa.

Multitasking Lebih Mudah:

Seseorang bisa membaca chat sambil melakukan pekerjaan lain, seperti mengetik laporan, mengemudi (dengan fitur baca pesan), atau bahkan sambil mengobrol dengan orang di dekatnya. 

Bercakap di telepon, terutama untuk urusan formal atau bisnis, biasanya membutuhkan fokus penuh sehingga aktivitas lain harus dihentikan.

 Akurasi dan Kejelasan Informasi yang Lebih Tinggi:

   Untuk informasi yang kompleks atau detail (seperti daftar belanja, alamat lengkap, instruksi teknis), chat lebih unggul. 

Penerima bisa membaca berulang kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat. 

Jika ada yang kurang jelas, bisa langsung ditanyakan dalam bentuk teks. 

Dalam telepon, risiko salah dengar, salah paham, atau lupa detail sangat besar.

Mengapa Telepon Sering Dianggap Lebih Merepotkan bagi Penerima yang Sibuk?

 Mengganggu dan Memaksa (Intrusif):

Telepon yang masuk secara tiba-tiba memotong apa pun yang sedang dilakukan penerima. 

Ini menciptakan tekanan untuk segera merespons, padahal mungkin penerima sedang berada dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bicara (rapat, di tempat umum, sedang butuh ketenangan).

 Tidak Ada Konteks Awal:

Saat telepon berdering, penerima tidak tahu apa topiknya, seberapa urgent, atau siapa sebenarnya yang menelepon (meski nomor tersimpan, tetap tidak tahu urusannya). 

Ini bisa menimbulkan kecemasan atau antisipasi. 

Chat biasanya menampilkan cuplikan pesan, sehingga penerima bisa menilai urgensi dan konteksnya sebelum memutuskan untuk membuka dan membalas.

Efisiensi Waktu:

Panggilan telepon, meski hanya untuk menyampaikan satu informasi singkat, seringkali harus diawali dengan basa-basi (sapa, kabar) dan diakhiri dengan penutup.

Ini bisa memakan waktu 2-5 menit hanya untuk menyampaikan pesan yang sebenarnya bisa dibaca dalam 10 detik lewat chat. 

Bagi orang sibuk, efisiensi waktu ini sangat berharga.

Kesulitan Catat Informasi:

Saat menerima telepon yang berisi informasi penting, penerima terpaksa harus mencari pulpen dan kertas atau mengandalkan ingatan jangka pendeknya, sambil tetap harus mendengarkan lawan bicara. 

Ini sangat tidak praktis dan rawan kesalahan dibandingkan dengan informasi yang tertulis rapi di chat.

 Kapan Telepon Justru Lebih Baik?

Meskipun demikian, telepon tetap memiliki tempatnya yang tak tergantikan, terutama untuk:

· Urusan yang Sangat Sensitif atau Emosional: 
Nada bicara dan empati sulit tersampaikan lewat teks. 

Telepon atau video call jauh lebih baik untuk menyampaikan belasungkawa, meminta maaf dengan tulus, atau membahas konflik.

· Situasi Darurat dan Sangat Mendesak: Ketika waktu sangat kritis dan respons instan mutlak diperlukan.

· Membangun Hubungan yang Lebih Personal: Percakapan suara bisa menciptakan koneksi yang lebih hangat dan personal dibandingkan teks.

· Diskusi Kompleks yang Membutuhkan Brainstorming Cepat: Kadang berdiskusi lewat telepon lebih cepat untuk menghasilkan ide daripada harus menunggu balasan chat satu per satu.

Kesimpulannya, di era yang menuntut efisiensi, fleksibilitas, dan dokumentasi yang rapi, chat unggul sebagai alat komunikasi untuk pertukaran informasi sehari-hari, terutama yang bersifat detail seperti pesanan. 

Telepon, dengan sifatnya yang langsung dan personal, kini lebih tepat digunakan untuk situasi-situasi spesifik yang memang membutuhkan sentuhan manusiawi dan kecepatan respons instan, bukan untuk sekadar menyampaikan informasi faktual.

 (Priono Subardan)