Sabtu, 05 April 2025

Rachman SE (82) Eks Ketua RW08 Medokan Ayu 2007-2010, Berhasil Pulih dari Stroke dan Jalan-jalan ke Malaysia

Bapak Rachman SE., dan Istri, Ibu Lies Wahyu Sayekti

SIAPAPUN pasti tak percaya, rambut Rachman SE., (82 tahun) eks ketua RW08 Medokan Ayu periode 2007-2010 itu, masih hitam kelam, adalah warna asli. 

Hal itu salah satu yang dicatat Priono Subardan ketika berlebaran dengan "pak Rachman dan Ibu" di rumahnya RT04 RW08, suatu siang.

Tokoh ini kehidupannya begitu menginspirasi. Sempat stroke pada tahun kedua sebagai ketua RW, pertengahan 2008. Kini sehat. Juga aktif jalan kaki setiap sholat Jumat, di masjid Asasul A'mal.

Ketika ber-sholat pun belum membutuhkan kursi bantu. Layaknya bak masih usia remaja, dan tetap murah senyum. 

Mengagetkan pula mendengar jawaban Ratri, putri keduanya. "Bapak kondisinya jauh lebih sehat dari Saya. Malah Sekarang lagi pergi jalan-jalan sekaligus tengok saudara yang di Malaysia, dengan Ibu", jawab sang putri sambil bercanda ketika ditanya tentang Ayahnya.  

Heru Permana, tetangga depan rumahnya, mengatakan mantan ketua RW08 kelahiran Bahjambi P. Siantar tgl 17 September 1943 itu masih aktif jalan-jalan pagi. 

"Itu sebelum Ramadan. Tapi ketika Ramadan, kayaknya istirahat", katanya.

Sosok yang berkomitmen senantiasa menjaga  kesehatan ini, juga berdisiplin seputar ibadah. 

Ketika ditemui dirumahnya saat itu, beliau tidak minum atau nyamil, tapi tetap mempersilahkan tamunya. "Saya lagi puasa syawal", katanya sembari senyum.

Ketika ditanya seputar rambut kepala dan kumis, yang berbeda warna, beliau yang bertempat tinggal di MA3 YKP sejak 2004 ini tertawa. 

Semua masih asli. Rambut kepala berwarna hitam. Rambut kumis berwarna putih.

"Saya bilangi, karena beda warna, baiknya rambut kumis dicukur aja, agar rambut kepala tidak dikira semiran", Ibu Lies.

Bu Lies, tidak lain panggilan akrab dari Bu Rachman, yang putri ketua Veteran Trenggalek.

Dalam bincang santai itu Bu Lies menyahuti, sambil menambahkan soal rambut, sangat kalah dengan sang suami. "Rambut Saya sudah putih", katanya. 

Kisah sosok yang pulih dari stroke ini sesungguhnya secara tidak langsung juga mengajarkan bahwa hidup adalah tentang bagaimana kita bangkit, bukan sekadar bertahan

Kala ditanya resep nya, beliau membenarkan bahwa dirinya telah melepas atribut sosial, yang membelenggu kebebasannya.

Dengan melepas atribut sosial itu, beliau merasa sebagai sosok yang bebas. "Bukankah dihadapanNYA, kita semua sama", itu menjadi pegangannya.

Oleh sebab itu, nama eks Ketua RW ini, tenggelam lama. Bahkan di antara warga ada yang tak mengenali. 

Di antara warga yang ditemui dan ditanya oleh Priono Subarda malah menduga, sosok energik ini sudah almarhum.

Mendengar cerita itu, beliau yang masa remajanya boleh disebut anak kebun itu tersenyum.

Sebagai anak kebun, yang ayahnya dipanggil yang maha esa ketika usia 5 tahun itu, memang hidup dari perkebunan satu ke perkebunan lainnya di perkebunan teh karet dan kelapa sawit bersama warga transmigram asal Jawa.

Dengan melepas atribut sosial itu, hampir semua warga baru tak mengenalinya. Kalaupun berpapasan dan menghormati, itu karena sosok Rachman lebih sepuh dan menghormati siapapun.

Eks ketua RW08 ini tak pernah menunjukan latarnya sebagai sosok pensiunan perwira angkatan laut. 

Selama 29 tahun, antara 1975-2004 beiau bersama keluarga tinggal di komplek AL di Kenjeran, Surabaya.

Beliau tercatat di Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan XV tahun 1965. Pensiun dengan pangkat terakhir Kolonel.

Kesederhanaan senantiasa dipegangnya. Ketika kontrol kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut pun, Bapak berputra tiga itu selalu naik angkutan kota.

Berjalan kaki ke lokasi yang di lewati angkutan kota. Dekat rumah pompa Medokan Asri.  

"Saya biasa naik bemo, nunggu dekat jembatan", begitulah sosok inspirator ini.

Malah ketika mulai pulih dari stroke beberapa tahun lalu, tak segan-segan mengayuh becak milik RW untuk berlatih. 

"Kalau becak dengan roda tiga, lebih aman. Olahraga berkendara dan tidak roboh", katanya.  

Saat pemulihan beberapa tahun lalu, sosok ini memang sering terlihat jalan-jalan pagi dengan sandal dijinjing. 

Melihat pemandangan yang tak biasa itu, Para Satpam pun berkomentar, "Pak Rahman luar bisa. Bisa menjalani seperti itu. Ketika pulang ditawari diantar bonceng motor pun lebih sering menolaknya. Padahal tampak kelelahan, dan sering Istirahat".

Melepas atribut sosial, diakui sudah terbiasa sejak aktif di militer. Dia juga sempat memotivasi stafnya yang Tamtama dan Bintara, jika umur masih memungkinkan masuk tes Akabri untuk mencoba dan memfasilitasinya, dan gol. Bahkan diataranya berpangkat sama dengan nya.

Kelemahannya, hanya satu. Percaya diri. Selalu sehat. Tak pernah kontrol kesehatan. 

Menyadari periksa kesehatan adalah perlu, ketika usai jatuh dari motor. 

"Saya naik motor, terasa setir selalu hendak belok kekiri. Pun akhirnya nabrak trotoar. Di sini diperiksa tensi saya atas 197, dan bawah 100", katanya.

Memang, sosok Rachman dikenal kukuh perihal prinsip. Seperti ketika masih sebagai ketua RW08, dan melihat Fasum RW08 hendak dicaplok pihak luar, beliau berjuang mematahkannya.

Atas kegigihannya itu, Imam Mahdi eks Ketua RT05 RW08, menilai sosok Rachman sosok yang baik. "Tapi juga temperamen", katanya.

Temperamen itu, antara lain yang membuat tensinya naik. Semoga kini bisa mengiklaskan segala hal. 

"Ya saya kini lebih menerima. Apapun itu kehendakNYA", demikian Rachman mengakhiri percakapan siang yang berselimutkan Mendung.


(Priono Subardan)