Ilustrasi obrolan yang selalu memancing tawa
InfoMedokanAyu — Umur kepala enam. Kata orang, itu usia emas. Kata badan, itu usia "emas-emosan". Setiap habis cek up, dokter selalu punya cara kreatif bikin hati dag dig dug.
Itu kesimpulan obrolan tak bertopik dan memancing tawa di lingkungan Medokan Ayu, usai bezok salah satu warga sekaligus pengurus lingkungan RW02 Medokan Kampung, Didik Tri Winarno yang dikenal pula Pak Geslok (Geser Lokasi).
![]() |
| Didik Tri Winarno di RSUD Eka Candrarini |
Ragam peringatan kesehatan diuraikan pada obrol itu, antara lain;
"Darahnya agak tinggi, Pak. Kurangi garam."
"Gulanya naik sedikit. Kurangi manis."
"Kolesterolnya ngeyel. Kurangi gorengan."
"Matanya mulai plus. Kurangi baca sambil rebahan."
"Lututnya mulai aus. Kurangi naik tangga."
Pokoknya, tiap hasil lab, selalu ada saja "kurangi" yang baru. Rasanya hidup ini tinggal "kurangi" doang.
Bahkan mungkin nanti hasil rontgen bakal bilang, "Kurangi napas, Pak, jangan terlalu dalam. Nanti paru-paru cepat aus."
Tapi ada satu hal yang aneh. Aneh banget. Begitu konsisten, tapi tak pernah disinggung.
Rambut
Setiap tahun, rambut ini makin pintar berubah warna. Dulu hitam legam, sekarang perlahan jadi putih.
Mulai dari yang namanya "uban" satu-dua helai, sampai sekarang kayak salju abadi di puncak gunung.
Tapi tidak ada satu pun dokter yang bilang, "Rambut Bapak putihnya nambah. Tolong kurangi mikir."
Padahal itu kan sinyal juga. Masa iya rambut memutih itu cuma efek samping lihat cicilan rumah?
Coba pikir. Kalau gula darah naik, ada alarm. Kalau kolesterol naik, ada alarm.
Kalau rambut memutih, alarmnya apa?
Alarmnya justru orang-orang di sekitar yang tiba-tiba manggil, "Om!" atau "Pak!" Malah "Mbah", "Oma", "Opa". Padahal dulu dipanggil "Mas". Itu alarm paling menyakitkan.
Mungkin para dokter punya kesepakatan rahasia. Rambut putih itu bukan penyakit. Itu bonus. Tanda kehormatan. Tanda bahwa kita sudah selamat dari masa muda yang penuh drama. Sudah lulus dari ujian kehidupan yang bikin stres.
Tapi kenapa tetap saja tidak pernah dibahas di ruang periksa?
Mungkin karena rambut putih itu satu-satunya hal yang tidak bisa diobati dengan resep. Tidak ada obat "uban".
Yang ada cuma obat "pewarna rambut". Dan itu pun, setelah diwarnai, beberapa minggu kemudian, muncul lagi. Seperti musuh yang gigih. Seperti mantan yang datang lagi pas kita lagi bahagia.
Atau mungkin, para dokter itu sengaja. Mereka tahu, rambut putih itu hal paling jujur dari tubuh ini. Dia tidak bisa bohong. Kalau umur bertambah, dia akan putih.
Mau olahraga tiap hari? Tetap putih. Mau makan sayur sepanjang hidup? Tetap putih. Mau minum air putih 8 gelas sehari? Dia tetap putih. Cuma mungkin air seninya yang jadi lebih sering.
Jadi mari kita terima kenyataan. Rambut putih adalah satu-satunya bagian dari proses penuaan yang tidak perlu diwaspadai, tidak perlu diet, tidak perlu olahraga, dan tidak perlu minum obat. Dia cuma perlu satu hal: diterima.
Ya sudah, terima saja. Toh, kalau Tuhan mau rambut ini putih semua, mungkin karena Dia tahu, kita sudah cukup berjuang. Sekarang saatnya bersinar... dalam warna yang lebih terang.
Dan kalau ada dokter yang tiba-tiba bilang, "Pak, rambutnya putih, ya. Tolong kurangi...", saya akan jawab dengan tegas:
"Kurangi apa, Dok? Ini bukan penyakit. Ini achievement."
Oleh : Priono Subardan


