Sabtu, 24 Oktober 2026

Panas 32°C di Medokan Ayu, dan Hati yang Belajar Tidak Mengeluh


InfoMedokanAyu (Esai Inspiratif) - Siang itu, berdasarkan informasi cuaca suhu di Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya mencapai 32°C dengan kelembapan 57%. Angka itu mungkin terdengar biasa di layar ponsel. Tetapi bagi Rara, warga Medokan Ayu, angkanya terasa seperti undangan untuk mengeluh seharian.

“Panas sekali. 32 derajat, lembap pula. Kipas tidak membantu. Kenapa sih Surabaya harus sepanas ini?” keluhnya sambil membuka pintu rumah. Udara siang langsung menyambutnya seperti hawa dari oven.

Hari-hari berikutnya, keluhan Rara hampir tidak berubah. Ia mengeluh saat berangkat kerja, mengeluh saat listrik mati, mengeluh saat keringat membasahi baju, dan mengeluh lagi saat malam terasa gerah. 


Di media sosial, isinya tentang cuaca Medokan Ayu yang panas. Awalnya teman-teman menanggapi. Lama-lama mereka hanya membaca diam-diam. 

Rara sendiri merasa lelah, tetapi ia belum tahu harus berbuat apa selain mengeluh.

Suatu sore, saat suhu kembali terasa menyengat, Rara melihat Bu Salma, tetangganya, sedang menyiram tanaman di pot-pot kecil dengan air bekas cucian beras. 

Peluh di dahi Bu Salma juga mengalir. Namun tangannya tenang, dan wajahnya tidak menunjukkan rasa kesal.

“Bu, tidak panas? Saya sudah tidak tahan,” kata Rara.

Bu Salma tersenyum. “Panas, Nak. Saya juga kepanasan. Tapi kalau saya mengeluh seharian, tanaman tetap butuh air, dan hati saya justru tambah kering.”

Rara terdiam.

Bu Salma melanjutkan, “Cuaca di Medokan Ayu ini tidak bisa saya suruh berubah. Yang bisa saya lakukan adalah menyesuaikan diri. Saya bangun lebih pagi, menyiram tanaman sebelum matahari terik, memakai air seperlunya, dan berbagi air untuk tanaman kecil agar halaman tidak terlalu gersang. Sisanya saya pasrahkan.”


Malam itu, Rara tidak menulis keluhan baru di media sosial. Ia duduk di teras, menikmati angin malam yang akhirnya datang. 

Ia mulai sadar, seharian ia sibuk melawan panas dengan kata-kata. Tetapi panasnya tidak berkurang. Yang bertambah justru rasa kesal, lelah, dan tidak tenang.

Besoknya, Rara mencoba hal kecil. Ia bangun lebih pagi dan membuka jendela lebar-lebar sebelum matahari naik. Ia menyiapkan air minum untuk keluarganya. 

Saat siang terasa menyengat, ia tidak langsung mengeluh. Ia bertanya pada diri sendiri, “Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

Ia memindahkan tempat duduk ke bagian rumah yang lebih sejuk. Ia menutup gorden saat matahari tepat di atas kepala. Ia berbagi air minum dengan tukang bangunan di dekat rumah. Dan setiap malam, ia menulis tiga hal yang masih bisa disyukuri: angin yang datang, air yang masih tersedia, keluarga yang sehat, dan malam yang lebih dingin.

Perubahan itu tidak langsung membuat Medokan Ayu sejuk. Suhu 32°C dengan kelembapan 57% tetap terasa menyengat. Debu tetap beterbangan. Tetapi hati Rara perlahan berbeda. 

Ia mulai melihat bahwa di tengah panas, masih ada tetangga yang berbagi air, langit senja yang jingga, dan malam yang membawa kesejukan. 


Ia mulai memahami bahwa mengeluh memang melegakan sesaat, tetapi jika menjadi kebiasaan, ia justru menjauhkan diri dari syukur dan ketenangan.

Suatu siang, temannya bertanya, “Kamu tidak panas lagi?”

Rara menjawab, “Masih. Info cuaca di Medokan Ayu tetap menunjukkan 32°C dan kelembapan 57%. Tapi saya tidak mau menghabiskan energi hanya untuk mengeluh. Panasnya sama, tetapi hati saya bisa memilih untuk tetap tenang.”

Musim kemarau mengajarkan Rara satu hal: tidak semua yang tidak nyaman harus diselesaikan dengan keluhan. 

Kadang, yang perlu diubah bukan cuacanya, melainkan cara kita menyikapinya. Karena keluhan yang terus berulang bisa membuat kita buta pada hal-hal kecil yang masih layak disyukuri—dan menjauhkan kita dari ketenangan yang sebenarnya bisa kita rawat, bahkan di tengah panasnya Medokan Ayu.

Pesan cerita:

Mengeluh boleh, tetapi jangan biarkan ia menjadi kebiasaan. 

Saat menghadapi panasnya musim kemarau—atau masalah hidup lainnya—cobalah berhenti sejenak, cari satu hal yang bisa disyukuri, dan ambil satu langkah kecil yang bisa dilakukan. Karena ketenangan tidak selalu datang dari keadaan yang berubah, tetapi dari hati yang belajar bersyukur dan bertindak.

Semoga esai inspiratif ini menjadi pengingat kecil bagi warga Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya—dan siapa pun yang sedang belajar menjalani panas hidup dengan hati yang lebih tenang.

Salam hangat,