![]() |
| Hendro Fridiyanto dari TNI dan Sofian Maulana, S.H., dari Kepolisian mewakili kesatuannya hadir pada acara. |
InfoMedokanAyu — Sebuah acara "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lengkap telah berlangsung di Langgar Besar Miftahul Huda, Jl. Wonoayu, RT03/RW03, Medokan Ayu, Surabaya, pada Sabtu, 17 Oktober 2026, usai Maghrib.
Acara ini diperkirakan dihadiri 750 orang. Namun, panitia menyiapkan konsumsi hingga 4 kali lipat, mengingat pengalaman acara serupa di tempat lain yang pesertanya membengkak.
![]() |
| Ketua RW08 Khusen (kiri) turut menyambut dan membagikan konsumsi untuk para hadirin. |
Hadirin mulai berdatangan
Pada acara semalam, peserta yang hadir sebelum Maghrib masih sedikit, sekitar 300 orang. Namun, pada pukul 19.30, jumlah peserta yang hadir mengalir deras. Hingga acara berakhir pukul 22.00, diperkirakan yang hadir sekitar 2.500 orang.
Malam itu, peserta yang hadir dengan rombongan menggunakan angkutan kota relatif banyak.
Bahkan, ada pula rombongan yang hadir dengan menggunakan mobil pickup. Salah satunya mobil pickup "koperasi desa" yang bak belakangnya berisikan ibu-ibu jamaah, antara lain datang dari Kecamatan Krembangan.
Menurut ketua pelaksana acara, H. Nawawi Ahmad, yang juga mantan ketua LPMK 2010-2016, 2019-2022 acara ini sengaja dibuat lengkap. "Ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sarana pendidikan spiritual bagi jamaah untuk mencintai Nabi dan para wali," katanya.
![]() |
| Berjejal angkutan kota pengantar jamaah dari berbagai kecamatan. |
Ia menambahkan, acara ini sekaligus memperkuat ikatan sosial keagamaan di lingkungan Medokan Ayu, Surabaya. Disadari, dukungan masyarakat sejak persiapan sangat berarti. Tanpa dukungan warga, kegiatan ini tak berarti apa pun.
Acara "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lengkap itu terlihat dari susunan acaranya secara detail:
- Tawasulan (Sesuai Baku Bahasa Indonesia)
- Pembacaan Surat Yasin
- Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Mahallul Qiyam
- Sambutan-sambutan
- Ceramah Agama oleh KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag.
- Doa
Bertolak dari susunan acara itu, ini adalah rangkaian ibadah tradisional Islam yang khas dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan komunitas Islam tradisional di Jawa, dengan makna inti untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara (tawasul), memuliakan Nabi Muhammad SAW, serta meneladani para wali Allah.
![]() |
| Di antara peserta hadir dengan mobil bak terbuka, dengan penumpang penuh. |
Secara keseluruhan, acara ini menggabungkan tiga dimensi: memohon berkah, mengenang dan merenung, serta mempererat silaturahmi.
Makna Spesifik dari Setiap Bagian Acara
1. Tawasulan (Tawasul)
Ini adalah pembuka seluruh acara. Tawasul berarti "mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara."
Dalam tradisi ini, jamaah menyebutkan nama-nama Nabi, para wali, atau ulama saleh (seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani), dengan keyakinan bahwa melalui kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Allah, doa akan lebih mudah dikabulkan.
Tujuannya bukan menyembah perantara, melainkan menjadikan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
![]() |
| Sesi pembacaan Yasin |
Saat pembacaan Yasin, jamaah hadir mulai mengalir
![]() |
| Diatas jalanan lebar 6M, jamaah putri berlesehan panjang di selatan Panggung |
2. Pembacaan Surat Yasin
Dalam tradisi Islam Nusantara, Surat Yasin disebut sebagai "jantung Al-Qur'an." Membacanya pada acara seperti ini dimaksudkan untuk mengharap berkah dan ampunan, mendoakan arwah (jika dikaitkan dengan haul), serta memohon ketenangan hati dan kemudahan urusan bagi jamaah yang masih hidup.
Ini juga merupakan bentuk interaksi langsung dengan Al-Qur'an sebagai media ibadah.
![]() |
| Jamaah berlesehan di utara panggung. |
3. Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Ini adalah kegiatan membaca riwayat hidup (biografi), akhlak mulia, dan karamah (keajaiban) seorang wali besar dalam Islam, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Maknanya bukan sekadar membaca cerita, tetapi mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam, memohon berkah dan syafaat melalui beliau (sebagai bagian dari tawasul), serta meneladani kesalehan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mahallul Qiyam (Berdiri)
Ini momen paling khidmat dalam acara Maulid. Ketika pembacaan riwayat sampai pada kelahiran Nabi Muhammad SAW, seluruh jamaah berdiri sambil melantunkan shalawat.
Berdiri ini bukanlah rukun ibadah yang wajib, melainkan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi.
Diyakini bahwa pada saat itu Nabi Muhammad SAW "hadir" secara spiritual dalam majelis tersebut, sehingga berdiri adalah wujud penyambutan dan penghormatan kepada beliau.
Pada momen Mahallul Qiyam ini, seluruh peserta dzikir di depan panggung memperoleh percikan minyak wangi.
![]() |
| H. Nawawi Ahmad, Ketua Pelaksana Acara menyampaikan sambutan ucapan terima kasih. |
5. Sambutan-sambutan
Bagian ini bersifat sosial dan organisasi. Di antara tokoh yang memberikan sambutan adalah ketua pelaksana acara, H. Nawawi Ahmad, sekaligus pengurus langgar.
Makna dari sambutan H. Nawawi Ahmad adalah menyampaikan rasa terima kasih kepada jamaah, serta menjelaskan pentingnya acara ini bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat di lingkungan Medokan Ayu tersebut.
![]() |
| KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag., memberikan pencerahan |
6. Ceramah Agama
Ini adalah inti penyampaian ilmu. KH. Muhammad Husni Mubarok, M.Ag., yang merupakan Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, hadir sebagai penceramah. Sosok Mubarok ini juga sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fitrah Kedinding, Surabaya.
Dalam ceramahnya, Ustadz Mubarok memfokuskan uraiannya secara singkat tentang majelis dzikir, mengingat waktu yang terbatas.
Ustadz Mubarok menekankan, majelis dzikir bukan alat untuk sukses dunia (karier, harta, jabatan), melainkan jalan pembinaan spiritual agar umat Muslim mencapai tujuan hakiki mereka, yaitu kebahagiaan di akhirat dan kedekatan dengan Allah.
Dengan demikian, majelis dzikir membantu masyarakat Muslim berhasil memenuhi cita-citanya yang bukan duniawi, yakni bahwa majelis dzikir berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan ukhrawi (akhirat), bukan tujuan materiil atau keduniaan.
7. Doa Penutup
Acara ditutup dengan doa bersama. Ini adalah puncak dari semua rangkaian: memohon kepada Allah agar berkah dari bacaan Yasin, Manaqib, dan shalawat yang telah dilantunkan dapat memberikan manfaat (seperti kesehatan, rezeki, keselamatan, dan ampunan), serta mendoakan para ulama, leluhur, dan seluruh jamaah yang hadir.
![]() |
| Anggota pengamanan Banser Putri turut menyukseskan acara. |
Kesimpulan
Acara pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026 di Langgar Besar Miftahul Huda ini adalah sebuah "Majelis Dzikir dan Maulid" yang lengkap. Ini bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sarana pendidikan spiritual bagi jamaah untuk mencintai Nabi dan para wali, serta memperkuat ikatan sosial keagamaan di lingkungan Medokan Ayu, Surabaya.
Antusiasme jamaah yang membengkak dari perkiraan awal 750 orang menjadi sekitar 2.500 orang—bahkan panitia menyiapkan konsumsi 4 kali lipat—menjadi bukti kuatnya ikatan sosial keagamaan warga.
Oleh : Priono Subardan


.jpg)
.jpg)

.jpg)



