Sabtu, 01 Agustus 2026

Medokan Ayu Sambut 17-an: Ada yang Berhenti, Ada yang Tetap Bergeliat, Semua Tetap Hormat

Ilustrasi

InfoMedokanAyu – Menjelang peringatan HUT RI ke-81, suasana di kawasan Medokan Ayu terbilang beragam. Belum dapat dipastikan apakah perayaan tahun ini akan lebih semarak atau justru menurun dibanding tahun lalu. Informasi yang berkembang di tingkat warga masih terbatas, utamanya seputar aturan iuran untuk kegiatan Agustusan.

Demikian pengamatan InfoMedokanAyu-Weblog lingkungan pada akhir Juli 2026. 

Saat memasang telinga di sejumlah tempat nongkrong warga maupun warung kopi, nyaris tidak terdengar obrolan hangat terkait rencana perayaan kemerdekaan.

Suasana cenderung datar, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang sudah ramai sejak pekan ketiga Juli.

Yang cukup mencolok, RW XI menyatakan tidak menyelenggarakan kegiatan 17-an tahun ini. 

Keputusan ini menjadikan RW tersebut sebagai salah satu titik hening di tengah kawasan yang biasanya cukup aktif. 

"RW XI tidak menyelenggarakan kegiatan, mengingat dananya tidak mendukung. Apalagi iuran ke warga sekarang ada pembatasan dan larangan sesuai edaran Wali Kota," jelas Ketua RW XI, Bapak Kasban.

RW X Griya Pesona Asri
Namun, di sisi lain, semangat tetap terpelihara di sejumlah lingkungan lain. RW X Griya Pesona Asri, misalnya, memilih tetap menyelenggarakan acara meskipun dalam skala lebih sederhana. 

Malam tirakatan dan kegiatan bernilai silaturahmi seperti jalan sehat tetap diadakan. 

Yang menarik, RW X tidak melakukan pungutan kepada warga. 

Ketua RW X, Bapak Okky Widya Prananta—yang dikenal sebagai ketua RW termuda di Medokan Ayu—mengungkapkan, "Kami sudah melakukan saving dari tahun lalu dan setiap tahun telah mengalokasikan anggaran khusus, sehingga tidak ada pungutan kepada warga."

Dimaklumi
Keputusan RW untuk tidak mengadakan kegiatan fisik dapat dimaklumi dengan sejumlah pertimbangan. 

Isu iuran yang dinilai memberatkan warga sempat menjadi polemik di Surabaya dan berpotensi memengaruhi semangat serta kemampuan masing-masing RW. 

Selain itu, kondisi ekonomi yang masih terasa berat turut mengalihkan fokus dan anggaran rumah tangga dari kegiatan perayaan. 

Namun, keputusan untuk berhenti atau tetap bergeliat tampaknya lebih bersifat spesifik per wilayah, dipicu oleh faktor lokal seperti keterbatasan dana, kesibukan panitia, atau dinamika internal warga setempat.

Satu hal yang menyatukan seluruh RW di Medokan Ayu adalah hiasan lingkungan. Meskipun ada yang tidak mengadakan acara, semua RW tetap memasang umbul-umbul sebagai bentuk partisipasi simbolis dalam menyemarakkan kemerdekaan.

Dengan demikian, tidak diadakannya kegiatan fisik bukan berarti mengurangi rasa hormat terhadap momen kemerdekaan. 

Semangat kebangsaan tetap hidup, diwujudkan dengan cara dan skala masing-masing—sesuai kemampuan dan kondisi setiap lingkungan. (red)