Sabtu, 27 Juni 2026

Bukan Solusi, Menaikkan Jalan Malah Perparah Risiko Banjir di Medokan Ayu


InfoMedokanAyu – Kebijakan menaikkan jalan untuk mengatasi banjir di kawasan Medokan Ayu dinilai kontraproduktif dan justru merugikan warga. Pasalnya, peninggian jalan tanpa solusi terpadu hanya akan memindahkan risiko banjir ke pemukiman warga.

Berita ini terkait menyoroti kebijaksanaan kontraproduktif dalam mengatasi banjir, sebagaimana kejadian Selasa, 23 Juni dan 16 Mei lalu.

Ketua RW 08 Medokan Asri Utara, Dodik Widodo, yang alumni ITS, mengungkapkan keprihatinannya. 

Menurutnya, jika jalan ditinggikan sementara permukaan tanah terus menurun, maka selisih ketinggian antara jalan dan rumah akan semakin besar. 

Hal itu mengakibatkan air hujan akan mengalir dari jalan masuk ke halaman dan rumah warga, bukannya mengalir ke saluran drainase. 

Bahkan jika rumah ditinggikan sekarang, beberapa tahun kemudian posisinya akan kembali lebih rendah dari jalan karena tanah terus mengalami penurunan.

Fakta penurunan muka tanah (land subsidence) di Surabaya memang tidak bisa diabaikan. Media massa telah berulang mengingatkannya, dengan melansir hasil riset.

Data terbaru dari riset tahun 2023 menunjukkan bahwa penurunan tanah di wilayah pesisir utara dan timur Surabaya mencapai angka 0,2 hingga 83,3 milimeter per tahun. 

Kawasan Rungkut, yang mencakup Medokan Ayu, pada titik tertentu, tercatat mengalami penurunan hingga 28 sentimeter per tahun. Sumber Jawa Pos, Sabtu, 31 Mei 2025.

Sebagai perbandingan, hasil penelitian pakar Geomatika ITS, Teguh Hariyanto, pada 2011 menunjukkan angka yang berbeda. 

Penelitian yang dilakukan pada Februari–September 2011 itu, yang juga dirilis Kompas mencatat penurunan tanah di Surabaya bagian timur sekitar 3–5 mm per tahun, timur laut 5–8 mm per tahun, dan utara 8–14 mm per tahun. 

Namun, hasil ini masih bersifat relatif karena merupakan penelitian pertama dan membutuhkan waktu minimal 5 tahun untuk mencapai hasil absolut.

EKSTRAKSI TANAH
Dua penyebab utama amblesnya tanah adalah ekstraksi air tanah yang berlebihan dan beban pembangunan infrastruktur yang masif. 

Hal itu ditekan lagi oleh kombinasi tekanan dari bawah (penyedotan air tanah) dan dari atas (beban pembangunan) yang membuat kondisi tanah semakin tidak stabil. 

Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase yang tidak optimal dan sedimentasi di sepanjang pesisir yang mengurangi kapasitas aliran air.

H. Nawawi Ahmad tokoh Medokan Ayu, dalam postingannya di WA Grup Warga Medokan Ayu mengatakan, terjadinya banjir di wilayah ini secara masif dimulai sejak tahun 2005 hingga sekarang. 

Apalagi lima tahun terakhir, ini yang paling parah. Padahal sebelumnya tidak pernah banjir sama sekali.

Jadi kesimpulannya," tegasnya yang ditemui terkait postingan itu, "normalisasi saluran, idealnya baik primer (pemukiman) maupun sekunder (Sungai Avur), minimal dalam satu tahun sekali harus diadakan".

Nawawi juga menggarisbawahi terkait normalisasi yang dilihatnya. Malah ada pemukiman yang tragis dan miris. Selama lima tahun tidak ada kegiatan pengerukan, dan selokan itu tertutup. "Karena tidak menampung, air 'memilih' mengalir lewat jalanan. Surutnya pun lama", tandanya.


Sementara itu, Ali Yusa, Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, pernah menekankan perlunya pendekatan terpadu untuk mengatasi krisis ini. 

Langkah-langkah yang harus diambil antara lain pengendalian ekstraksi air tanah, perbaikan sistem drainase, penanganan sedimentasi, serta pengawasan berbasis teknologi seperti GPS dan InSAR.

Berdasarkan data citra satelit tahun 2009, total luas kawasan bakau di Surabaya mencapai 577.455 hektare, dengan rincian 466.965 hektare masih baik, 72.929 hektare rusak, dan 37.562 hektare rusak berat. 

Hutan bakau di kawasan ini terbukti mampu menahan intrusi air laut dan mencegah abrasi.

Sementara itu, terkait mangrove, InfoMedokanAyu merilis berita dengan judul "Petani Mangrove: Diberi Kesempatan, Bukan Kepastian" (silahkan klik judulnya).

Dengan kompleksitas permasalahan ini, kebijakan menaikkan jalan bukanlah solusi akar masalah. 

Solusi yang tepat harus menyentuh penyebab utama, yaitu penurunan muka tanah, perbaikan drainase, serta pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

H. Nawawi Ahmad, tokoh Medokan Ayu, menegaskan, keputusan teknis seperti peninggian jalan juga harus didasarkan pada standar ukur yang akurat dan dilakukan oleh ahlinya, bukan sekadar perkiraan, serta hanya diterapkan di kawasan tertentu yang membutuhkan.

Menanggapi pendapat bahwa mengatasi banjir perlunya pengelolaan yang terpadu, Lurah Medokan Ayu Zainul Abidin, S.Sos., tidak menampik. "Memang dibutuhkan pengertian bersama," katanya. (red)