![]() |
| Sekitar jembatan sungai Avur Medokan Ayu, batas RW02 dan RW03 ini tahun 1980-an juga lokasi parkir sekitar 15 perahu nelayan. |
InfoMedokanAyu - Dulu, Sungai Avur adalah urat nadi. Di era 1980-an, perahu-perahu nelayan berlabuh di sekitar jembatan perbatasan RW02 dan RW03. Pak Kuwat, warga RW03, gang Musala masih ingat betul: ada sekitar lima belas perahu bersandar disana setiap hari.
Pak Kuwat sendiri kerap berperahu meniti arus untuk mencari kayu api-api di ujung Timur.
Kayu-kayu itu dibawanya ke Wonoayu dengan dihanyutkan ke sungai ketika arus laut pasang. Kayu diikat per sekitar dua ratus lima puluh batang.
![]() |
| Kondisi sungai Avur potret dari dekat arah ke Timur di atas jembatan perbatasan RW02 dan RW03. |
Selanjutnya, pak Kuwat yang telah pulih dari serangan stroke ini tinggal menunggu di tepi sungai dekat makam RW03. Kayu-kayu itu untuk tiang rambatan tanaman sayur kacang panjang.
Saat itu Sungai itu hidup, dalam, dan bisa diandalkan.
Namun waktu tak pernah berhenti. Pemukiman di wilayah timur merambat, rumah-rumah berdiri rapat, dan sungai perlahan kehilangan ruangnya.
Endapan tanah menumpuk, dasar sungai naik, dan perahu-perahu itu satu per satu tak bisa lagi melintas. Hingga akhirnya, lenyap. Tak ada lagi pangkalan. Tak ada lagi kayu api-api yang ditunggu. Yang tersisa hanya aliran yang terengah-engah.
![]() |
| Kondisi sungai Avur sisi Barat jembatan batas RW02 dan RW03 |
Kini, di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya, sungai itu lebih seperti parit panjang yang kehabisan napas.
Setiap kali hujan turun, air sangat lambat mengalir—malah meluap, menggenang, dan sungai pun tenggelam.
Menurut H. Nawawi Ahmad, tokoh masyarakat setempat, masalahnya bukan sekadar hujan.
"Sungai ini sudah dangkal. Normalisasi harus rutin, tapi pengerukan hanya aman di tengah. Pinggirnya? Terlalu dekat dengan tembok rumah warga. Kalau digali, bisa ambrol."
Banjir pun menghampiri rumah H. Nawawi Ahmad di jl. Wonoayu 127A.
Dan di hilir, persoalan menumpuk. Kali Kebon Agung yang membentang di depan UPN tak lebih baik—tersumbat eceng gondok dan sedimen tebal.
Di beberapa titik, saat banjir tiba, sungai tak terlihat lagi. Air menyatu dengan daratan, seolah batas antara saluran dan pemukiman telah hapus.
Itu tanda jelas: kapasitas tampung sudah berada di titik kritis.
Lahan terbuka yang dulu menyerap air kini berganti menjadi perumahan padat. Sementara itu, laut tetap pasang, setia menghambat aliran sejak puluhan tahun lalu. Tapi dulu, sungai masih kuat menahan. Kini, ia tak sanggup.
Banjir juga masuk rumah salah satu warga di RT06 RW02. Banjir datang bersama udang-udang yang berlarian.
Bukan air hujan yang bersalah. Tapi hilangnya kedalaman, hilangnya resapan, dan hilangnya konsistensi perawatan.
Sungai Avur tak lagi menampung—ia hanya menunggu, sampai banjir berikutnya datang lagi.
Avur: istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Belanda yaitu afvoer yang artinya pembuangan air atau saluran air.
Dalam konteks tata air wilayah Surabaya dan sekitarnya, avur merujuk pada saluran atau anak sungai yang berfungsi sebagai drainase pembuangan akhir untuk mengalirkan genangan air menuju ke hilir atau sungai utama. (red)


