InfoMedokanAyu - Di tengah hiruk-pikuk Surabaya yang serba cepat dan berbiaya tinggi, ada satu cerita "lokal" yang jarang terjadi.
Bukan soal mall atau kafe kekinian, melainkan soal sebuah ambulans berwarna putih yang selalu setia parkir di area makam RW02, Medokan Ayu.
Itu bukan sekadar mobil jenazah biasa. Ini adalah kisah ekonomi kerakyatan berbasis kepercayaan, tolong-menolong, dan keyakinan bahwa urip iku urup (hidup itu saling menghidupi).
![]() |
| Parkir sejenak usai antar jenazah dan cek ambulans sebelum masuk "garasi" |
Sosok di Balik Setir
Ambulans Suzuki APV putih itu adalah milik Ah. Khusnul Hadi (54). Sosok ini kelahiran Jember dan pernah mengabdi sebagai mantan sopir pribadi Ketua DPW PKB Jatim, almarhum Cak Anam era Presiden Gus Dur.
Pak Hadi panggilannya, kini adalah "warga asli" Medokan Ayu. Ia pindah dan menikah dengan Ida Khaidaroh, seorang guru MIN setempat, pada tahun 2000.
Pasangan ini tinggal di Jl. Putra Bangsa III Blok A No.3B, RT09 RW02, bersama dua putri cemerlang: satu sedang S2 Pendidikan, satu lagi semester 3 Kebidanan di Unair.
Usai cek tuntas, ambulans bergeser ke "garasinya".
Berawal dari Rumput di Makam
Awal kegigihan Pak Hadi justru lahir dari aktivitas merawat makam mertua di makam Islam RW02 Medokan Kampung.
Makam ini peruntukannya seluruh warga YKP Rungkut, RW04 Koshagra, dan RW01 Medokan Sawah.
Karena rajin menanam rumput dan membersihkan makam hingga terlihat asri, warga lain mulai meminta bantuannya, merawat makam keluarga mereka.
Dari sinilah Pak Hadi akrab dengan duka. Ia sering mendengar keluhan warga: "Pak, cari ambulans susah, apalagi malam hari."
Kepedihan itu sangat dipahami oleh Sosok Hadi - kedua orang tuanya telah dipanggil olehNYA.
Ambulans masuk "garasi" menunggu permintaan layanan
Mimpi VS Realita (Kijang Short yang Tak Terduga)
Berbekal niat mulia, Pak Hadi ingin punya ambulans. Namun, dana Rp15 juta yang dipinjamkan ke temannya tak kunjung kembali. Hingga di tahun 2023, temannya menawarkan opsi: "Bayar pakai Kijang Short '92 saja, Pak."
![]() |
| Kijang 1992 yang semula hendak digunakan sebagai ambulans |
Dengan cat mengelupas dan pajak mati 3 tahun, Pak Hadi menerimanya. Ia habiskan uang untuk menghidupkankan pajak, memodifikasi kabin (ditambah panjang kepentingan keranda 40 cm), dan mengecat ulang menjadi putih layaknya ambulans. Nasib baik pun mulai menghampiri.
"Keajaiban" Pinjaman Tanpa Bunga
Saat Kijang itu sedang dimodif, seorang warga Medokan Ayu (yang tidak disebut namanya) datang memberi saran:
"Pak, mending beli yang lebih muda. Biar tidak repot perawatan."
Tak hanya saran, warga tersebut memberikan pinjaman tanpa bunga. Bahkan dipersilakan menggesek kartu kredit sesuai kebutuhan.
Kijang yang telah dimodifikasi menjadi mobil keluarga, ketika Takbir keliling mampu mengangkut 20 anak dan sound system diatasnya.
Pun demikian, Pak Hadi berkomitmen mengembalikan dengan cara diangsur. Tidak boleh lengah.
Ia pun mencari mobil. Hingga akhirnya ditemukan Suzuki APV 2013 dengan kilometer rendah. Mobil itulah yang menjadi ambulans andalan Medokan Ayu hingga kini.
(Catatan: Kijang short yang sudah dimodif tetap dipakai keluarga dan untuk kegiatan takbir keliling. Hemat biaya!)
Makna "Ambulans Rakyat"
Apa bedanya dengan ambulans RS atau Dinas? Pak Hadi tidak pernah memasang tarif untuk warga Medokan Ayu.
Meskipun ambulans rumah sakit memasang harga Rp350 ribu untuk dalam kota, Pak Hadi hanya mematok "seikhlasnya".
Alasannya sederhana: "Namanya orang berduka, kemampuan ekonominya berbeda-beda."
Manfaat Luar Biasa bagi Medokan Ayu:
Siaga 24 Jam (Termasuk Tengah Malam): Pernah ada yang telepon jam 02.00 WIB? Langsung diantar ke RS.
Bisa Antar Jenazah ke Luar Kota: Karena mobilnya APV yang mesinnya sehat, warga tak perlu cari ambulans antar kota, mahal.
Penyeimbang Harga Pasar: Keberadaan ambulans ini mencegah pihak luar mematok tarif tinggi karena warga punya alternatif.
Bukan Hanya Jenazah: Dalam kondisi darurat (sakit keras tapi tak ada transportasi), ambulans ini siap mengantar ke rumah sakit.
Modal Sosial, Bukan Kapitalis: Ini adalah bisnis sosial murni. Lahir dari pinjaman tanpa bunga (bebas riba), sehingga warga meyakini usahanya membawa berkah.
Mata Air Segar
Cerita ini seperti mata air segar di tengah persaingan ekonomi yang kerap kering akan nilai tolong-menolong.
Ini bukan soal Pak Hadi, tapi bagaimana seorang mantan sopir, seorang tetangga dermawan yang meminjamkan uang tanpa bunga, dan warga yang percaya, menciptakan sebuah ekosistem kemanusiaan.
Ini sekaligus tolok ukur. Masyarakat Medokan Ayu memiliki "cerita baik" yang layak menjadi contoh:
"bahwa gotong royong tidak harus melalui lembaga formal, cukup dimulai dari parkiran makam dan hati yang ikhlas."
Informasi Kontak (untuk warga yang membutuhkan):
📞 Pak Hadi / Ida Khaidaroh
📍 Jl. Putra Bangsa III Blok A No.3B, RT09 RW02, Medokan Ayu
📱 WA: 0851-0362-1894
(Red)




